Chanyeol/Baekhyun
Genderswitch
.
"Baekhyun hamil. Dan Chanyeol berharap, semuanya akan baik-baik saja. Segera."
Chapter 12
.
Begitu Yoora keluar dari kamarnya setelah setengah jam menunggu yang menyiksa, dan berjalan ke ruang makan dalam balutan dress ringan berwarna biru malam yang melekat pas di tubuh, rambut yang tertata dan make up sempurna di wajah, acara makan bersama itu baru dapat dimulai. Chanyeol sempat mengernyit, dalam hati mempertanyakan kenapa untuk sebuah cara makan malam ia perlu berdandan habis-habisan namun urung ia lakukan. Melirik pria yang duduk di sampingnya, Chanyeol tahu alasannya.
Setelah Ayah mereka, mengatakan 'Ayo makan', barulah, mereka semua mulai makan. Memang agak resmi, karena seluruh keluarga Park hari itu dikumpulkan, termasuk Park Chanyeol di antara sibuknya kegiatan sebagai bintang idol hallyu yang memiliki setumpuk jadwal, menyanyi di sana menyanyi di sini, syuting reality show dan menjadi peran penudukung dalam sebuah drama terbaru. Park Yoora, sebenarnya, juga tidak kalah sibuknya, mengingat karirnya sebagai penyiar berita di TV, dan pernikahan yang perlu ia siapkan. Belum lagi jadwal tamu mereka yang tergolong padat. Siapa yang tidak kenal Jo In Suk? Yeah, aktor populer itu.
Jauh-jauh hari sudah, mereka berdua diwajibkan untuk meluangkan waktu malam ini. Demi sebuah makan malam keluarga yang belakangan sudah jarang sekali—mengingat sibuknya jadwal anak-anak—dengan agenda utama membahas soal rencana pernikahan anak tertua di keluarga itu, Park Yoora.
Segera, Chanyeol menyumpit lebih dulu satu udang paling besar yang dari tadi ia incar, sebelum diambil lebih dulu oleh orang lain.
"Apa kalian berdua sudah memiliki pilihan tanggalnya?" tanya Kim Hana, ibu Chanyeol, memulai pembicaraan.
Yoora yang duduk di seberang Chanyeol, di antara ayahnya dan In Suk, berdeham. Ia menyelesaikan kunyahannya yang memang sedikit dan meneguk air putih.
"Ne, Eomma. Kami ingin pernikahan di bulan Mei atau Juni, akhir musim semi atau awal musim panas, jadi bunga-bunga masih mekar dan cuacanya hangat. Jadi itu sekitar tiga atau empat bulan lagi."
"Lama sekali?!" Chanyeol menyela, dan terkejut sendiri atas apa yang ia komentarkan.
"Tentu saja seperti itu, Chanyeol-ah," Yoora menaikkan nada suaranya demi membela diri. "Kalau menikah dadakan, orang-orang akan berpikir bahwa aku sudah hamil lebih dulu!"
Chanyeol tersedak. Ia terbatuk dan menekan-nekan dadanya, sebelum ibunya segera menyodorkan pada anak itu segelas air putih.
"Kau ini," Yoora menatap prihatin adiknya satu-satunya. "Sudah besar tapi makan masih tidak hati-hati sekali."
Sementara Chanyeol hanya sibuk menenangkan diri sebelum memprotes kembali, menyuarakan apa yang membuatnya gelisah. "Memangnya kenapa kalau hamil? Bukankah itu satu hal yang bagus? Kenapa orang-orang suka ribut sendiri mengurusi orang lain yang jelas-jelas bukan urusan mereka?!"
Mungkin Chanyeol bisa protes lebih banyak, seandainya Yoora tidak keburu menggeplak kepalanya.
"Apa yang bagus dari hamil di luar nikah?! Itu memalukan, kau tahu?! Kalau aku mengalaminya, aku mungkin depresi, dan jika pacarku tidak mau bertanggung jawab, aku mungkin sudah bunuh diri. Kau bukan wanita jadi kau tidak akan mengerti."
Chanyeol pasti sudah tersedak jika saja saat ini ia mengunyah sesuatu. Sayangnya, semua makanan sudah habis ia telan, hingga ia tidak punya alasan untuk tersedak meski ia merasa begitu.
"Semengerikan itu, Noona?"
"Lebih mengerikan dari yang kau bayangkan."
Tapi gadis itu terlihat kuat. Ataukah... ia hanya berpura-pura kuat? Sama seperti kebanyakan bunga, mereka rapuh. Snowdrop sekalipun, jika diinjak... ia akan hancur. Dan Chanyeol bahkan mungkin sudah menjatuhkannya hingga ke dasar. Gadis itu terlihat masih bersinar, tapi cahaya matahari pagi pun... bisa saja tidak dapat muncul jika mendung terus-menerus menghalanginya.
Baekhyun... bisa bertahan sampai kapan?
"Omong-omong, Eomma mengikuti beritanya," ibunya Chanyeol tiba-tiba berkata antusias. "Gadis itu, yang menyanyi berkelompok sepertimu! Siapa namanya? Byun- Byun... Byun Baekhyun! Ya! Aku dengar dia hamil? Bukankah dia masih sangat muda?"
Bahkan Yoora pun tercekat, dan selama sesaat ia tidak tahu harus berkata apa.
"Ah, itu hanya gosip, Eomma. Aku sendiri pernah membacakan beritanya. Tapi, tidak ada bukti konkrit atau konfirmasi apapun soal itu."
"Benarkah? Memang sayang sekali jika dia seperti itu. Awalnya Eomma sangat menyukainya karena wajahnya sangat manis. Tapi sekarang... entahlah. Dan Chanyeol-ah, kau kan syuting bersamanya, mungkin dari sekarang kau tidak usah terlalu banyak bergaul dengannya."
"T-tapi, Eomma. Kita syuting bersama, dan... dan dia sangat baik—"
"Kalau dia gadis baik kenapa dia sampai punya skandal sebesar itu?! Kenapa dia sampai hamil dan tidak diketahui siapa ayah bayinya?! Eomma hanya tidak ingin kau terlibat gosip aneh-aneh, itu saja."
"Oh, ya," ujar ibunya lagi, tidak menunggu respon Chanyeol untuk segera mengalihkan pandang dan topik kembali pada Yoora dan Insuk yang sedari tadi hanya terdiam kikuk. "Apa kau sudah memesan gaun pengantin?"
"Belum. Tapi Oppa dan aku berencana—"
Chanyeol tidak mendengar(kan) lagi lanjutannya. Pikirannya sibuk berpetualang. Kusut. Kacau. Yang membayangi otaknya hanya gadis itu, serta rasa bersalahnya yang berkembang cepat.
Maaf, aku tidak tahu kau sesulit ini.
"Eomma," sela Chanyeol tiba-tiba, menginterupsi obrolan ibunya dengan Yoora soal pesta, atau pembicaraan pelan Insuk dan calon ayah mertua yang justru membahas soal pertandingan bola semalam. Semua orang sekarang menatap Chanyeol dengan tanda tanya, menunggu kalimat selanjutnya. Wajah pria itu serius sekali. "Bagaimana... bagaimana jika aku menikah juga?"
Berganti, seluruh anggota keluarga selain Chanyeol yang tersedak. Ayah Chanyeol, adalah orang pertama yang menormalkan diri dan menatap Chanyeol lekat.
"Kau... sudah punya pacar?"
"Ada seorang gadis. Dan... aku ingin menikahinya."
"Siapa?"
Ada jeda. Dan Chanyeol tahu mengapa. Semua orang menunggu. Ingin tahu siapa. Dan ia sendiripun penasaran, bagaimana cara ia mengucapkannya, bagaimana akan terdengarnya, bagaimana... reaksi orang-orang. Namun di atas segalanya, ia bertanya-tanya, bisakah ia sekedar mengucapkan namanya?
"Dia... ah, kalian akan mengetahuinya segera."
'ㅅ'
Baekhyun muntah-muntah lagi pagi itu sesaat setelah ia menyendok menu sarapannya untuk kali kedua. Kali ini, ia mengambil waktu lebih lama di kamar mandi, terdengar menderita oleh muntahannya itu sehingga Junmyeon harus menyusul ke kamar mandi untuk memastikannya baik-baik saja. Dengan telaten, gadis paling senior di kelompoknya itu memijat tengkuknya dan menepuk-nepuk punggungnya. Ia menemani gadis itu hingga Baekhyun mengeluarkan segala yang tersisa di perutnya dan tidak punya kekuatan lagi.
Baekhyun tersandar membelakangi wastafel.
"Itu...," tatapannya mengarah ke perut Baekhyun, "usianya sudah menginjak tiga bulan, kan? Kau tidak bisa seperti ini selamanya, Baek. Perutmu sudah mulai terlihat buncit dan akan semakin terlihat jelas nanti. Kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk menutupinya, Baek."
Baekhyun tahu ia tidak merasa nyaman sama sekali atas topik pembicaraan ini. Selalu. Ia menduga pasti suatu saat Junmyeon akan mengoreknya lagi, namun ia selalu merasa tidak siap, terutama ketika kedua mata sang leader menatap tajam dan lurus kepadanya.
"Benar kau tidak tahu siapa ayahnya? Baekhyun, aku ini eonnimu. Kau harus jujur padaku."
Dan dari semuanya, pertanyaan inilah yang paling ia benci. Bagaimana ia akan menjawabnya? Haruskah ia mengatakannya? Bahwa pria itu adalah Chanyeol. Bahkan Chanyeollah yang melakukannya.
Gadis itu menggeleng. "Aku tidak tahu, Eonni."
"Kau bohong, kan?
Junmyeon menelitinya, dan Baekhyun yakin Junmyeon dapat mengetahuinya dengan jelas ketika ia sedang berbohong atau tidak. Ia menundukkan pandang hingga Junmyeon menghembuskan napas berat, menyerah.
"Aku yakin kau punya alasan sendiri kenapa kau menutupinya. Tapi, dengarkan aku, Baek. Kau tidak bisa menyimpannya selamanya. Perutmu akan terus membesar seperti bebanmu. Kau tidak bisa menanggung semuanya sendiri. Kau. Harus. Meminta. Pertanggung. Jawaban. Pria. Itu."
Tidak ada sanggahan jenis apapun yang meluncur dari mulut Baekhyun. Ia tahu Junmyeon benar. Tapi di lain pihak ia tahu itu juga sulit untuk Chanyeol. Semuanya akan berdampak bukan hanya untuk diri Chanyeol saja, tapi juga para anggota Sixey lainnya, dan para penggemar yang telah setia mengikuti grup itu dalam jangka waktu yang tidak sebentar. Haruskah ia begitu egois? Demi dirinya sendiri ia ingin mengorbankan semua orang?
Melihat kebimbangan di mata gadis itu, Junmyeon menepuk pundaknya.
"Pasti ini pilihan sulit bagimu. Pasti ada pihak yang dikorbankan. Tapi menutupi kebenaran hanya akan memperburuk masalah. Pikirkan dengan hati-hati, Baekhyun-ah, kau tahu kami menyayangimu, kan?"
Gadis itu hanya mengangguk dan dengan matanya, mengiringi kepergian Junmyeon yang mulai beranjak keluar dari kamar mandi.
Mual sudah mulai meninggalkannya. Tapi ada tohokan yang masih bersemayam. Ia tahu Junmyeon benar. Ia tahu ia tidak bisa menyembunyikan bayinya selamanya, perutnya bahkan sudah mulai membesar. Ia mungkin... harus bicara dengan Chanyeol.
Gadis itu menggigit bibir.
'ㅅ'
"Ponselmu terus bergetar dari tadi, mau kuangkatkan?" Yixing menegur Chanyeol yang baru kembali dari toilet, dengan matanya masih belum mau lepas dari layar ipadnya sendiri.
Chanyeol melongokkan kepala melewati Yixing, melihat kepada layar ponselnya yang masih menyala dan bergetar. Sesaat kemudian, ia nyaris saja tersandung kaki Yixing karena terburu-buru ingin menggapai ponselnya. Hal yang justru menarik perhatian Yixing melebihi ponsel dan akun instagramnya.
"Tidak, Hyung! Tidak perlu," kata Chanyeol sambil nyengir aneh dan segera membawa ponselnya ke tempat yang lebih sepi, di luar gedung. Udara dingin di luar gedung rasanya jauh-jauh lebih aman ketimbang terpergok Yixing siapa yang sedang menelponnya. Dan untunglah, hanya ada Yixing di sana, tanpa ada member lain yang biasanya jauh lebih usil, seperti duo kembar sial, Jongin-Sehun. Hanya ada mereka berdua, Yixing dan Chanyeol, yang melakukan kegiatan mereka sebagai host dalam sebuah acara penghargaan musik yang disiarkan live oleh salah satu stasiun televisi.
"Hm.. Hai?" sapanya senormal mungkin setelah membersihkan tenggorokannya dan menekan tombol jawab. Otomatis, layar ponselnya memampangkan figur seorang gadis dengan rambut basah habis mandi, handuk masih menggantung di lehernya. Sesaat, Chanyeol mencuri kesempatan untuk meneguk salivanya.
"Oppa," sahut suara di seberang sana. Suara yang ia sudah mulai terbiasa dengannya. Suara yang otomatis membuat Chanyeol tersenyum.
"Ne, ini aku. Apa kau makan dengan baik?"
"Tentu saja." Chanyeol bisa melihat gadis itu tersenyum, memenuhi layar ponselnya. Senyumnya menyilaukan hingga sesaat Chanyeol merasa pandangannya kabur. Aura cerah mengelilinginya.
"P-perutmu?"
Baekhyun tersenyum lagi, meski tidak terlalu lebar. "Dia juga baik."
Ada hening sesaat sementara Baekhyun sibuk menatap lantai di bawah kakinya sebelum mengibaskan rambut dan menatap Chanyeol kembali. Wajahnya serius dan cenderung pias. Chanyeol jadi bertanya-tanya, apa gadis itu benar sudah makan? Apa dia sakit? Yang Chanyeol tahu dari hasil penjelajahan tengah malam di internet, wanita hamil cenderung susah makan. Sama sekali bukan kabar yang menyenangkan.
Chanyeol ingin menanyakannya sekali lagi, tapi gadis itu lebih dulu bicara.
"Oppa, ada sesuatu yang ingin kubicarakan."
Jeda. Cara gadis itu menyampaikan, dengan suaranya yang bergetar gugup dan matanya yang menghindari tatapan Chanyeol, ada sesuatu yang menahan Chanyeol. Memintanya untuk sama seriusnya.
"Ya? Apa itu... penting?"
Hanya anggukan sebagai jawaban. Tampang bodoh di wajah Chanyeol bertambah.
"Baekhyun. A-aku sebentar lagi harus membawakan acara live." Dia tahu pembicaraan ini akan makan waktu. Entah bagaimana, ia merasa bisa menebaknya. "Setelah itu kita bicara, hm? Ada satu hal juga yang ingin kukatakan padamu. Nanti."
"Hm," Baekhyun mengangguk, lalu tersenyum. "Aku akan menunggu. Kututup dulu, ya?"
"Tunggu!"
Baekhyun tidak jadi menjauhkan ponsel dari jarak yang bisa menangkap wajahnya.
"Ya?"
"Sore ini siarannya live. Kau bisa... menontonnya?"
Gadis itu mengangguk, hampir seperti ingin tertawa geli. "Hm. Aku akan menontonmu."
Sambungan itu terputus tak lama setelahnya, dengan masih meninggalkan sisa-sisa senyum yang tak mau luntur di bibir Chanyeol, setelah permintaannya tadi. Hanya pikiran tentang pembicaraan serius yang akan mereka lakukan setelah ini yang menghapus senyum itu.
Ia sudah memutuskan. Mereka tidak bisa selamanya seperti ini. Ia ingin mengakuinya, pada publik. Agar mereka berhenti menyalahkan dan menghujat gadisnya, agar semua kesalahan ditimpakan padanya saja. Agar... beban itu rontok, beban menyembunyikan segalanya.
Ia masih tidak dapat berpikir bagaimana reaksi managernya, Kim Minseok, bagaimana reaksi CEO agensinya, bagaimana reaksi anggota Sixey yang lain, dan bagaimana... tanggapan orang tuanya. Hal paling buruk mungkin saja terjadi. Tapi mungkin lebih baik, daripada hal itu terungkap oleh orang lain. Redaksinya mungkin akan berbeda, dan Chanyeol tidak punya kesempatan untuk menjelaskan. Ia hanya harus berani, karena cepat atau lambat, bau busuk pasti akan tercium juga, kan?
Untuk itu, ia perlu mendiskusikannya dengan Baekhyun dulu, kemudian bicara dengan managernya, mungkin. Entahlah.
Sebentar lagi. Ia akan melakukannya sebentar lagi.
'ㅅ'
"Kau tampak senang?" tegur Junmyeon. Gadis itu sesaat mengalihkan perhatiannya dari Baekhyun ke isi kulkas dan mengambil sekotak susu, menuangnya ke dua buah gelas dan berjalan ke arah Baekhyun.
Ia menyerahkan satu gelas susu untuk Baekhyun dan satu lagi untuknya sendiri setelah duduk di sofa di sisi gadis itu.
"Gomawo, Eonni," jawab Baekhyun tanpa melepaskan tatapannya dari televisi. Membuat Junmyeon turut menonton dengan penasaran.
"Apa ada drama Seo In Guk?!"
"Issh, Eonni. Kenapa di kepalamu hanya ada Seo In Guk?"
"Karena dia tampan," jawab Junmyeon nyengir, ia barusaja menyandarkan punggungnya ke sofa sebelum akhirnya terduduk tegak lagi begitu melihat Chanyeol.
"Oh, itu Yixing! Dan Chanyeol!"
"Mana? Oh, iya, benar, itu mereka." Baekhyun menyahut dan pura-pura terkejut. Akan aneh kan jika Junmyeon tahu daritadi Baekhyun menonton Chanyeol. Sekarang ia juga harus pura-pura penasaran.
Hanya saja, itu tidak bertahan lama. Junmyeon yang memegang remote tivi segera memindah channel tidak sampai lima menit kemudian.
"Waeyo, Eonni? Kenapa dipindah?" tanya Baekhyun, berusaha terdengar penasaran biasa, bukannya penasaran dan merasa sebal.
"Aku ingin melihat apakah ada drama Seo In Guk di saluran lain."
Baekhyun memutar bolamata tak kentara, tentu saja, tanpa berharap ketahuan wanita paling cerewet yang pernah ia kenal selain ibunya itu. Rasanya, ia ingin mencekik sesuatu sekarang karena kesal. Dan setelah tiga kali mengulangi saluran-saluran televisi yang sama dan Junmyeon belum menghentikannya pada satu saluran tertentu, Baekhyun menyerah. Ia sudah berdiri, bermaksud tidur atau melakukan apapun di kamarnya ketika Junmyeon kedengarannya seperti menonton berita.
Sambil meminum susunya, gadis itu berjalan pelan, tersaruk-saruk menuju kamar yang ia tempati bersama Junmyeon.
"... dan kali ini media kembali berhasil menguak satu skandal di kalangan selebriti."
Deg. Langkah Baekhyun otomatis terhenti. Entah dengan perintah siapa, jantungnya tiba-tiba berdegup cepat. Tubuhnya membeku detik itu, tidak memberinya kesempatan untuk menoleh.
"Dan selebriti, yang kali ini kedapatan sedang berkencan, melalui foto-foto yang berhasil didapatkan, kali ini adalah salah satu personil dari kelompok yang eksistensinya sudah mendunia, Sixey."
Entah dengan dorongan apa, Baekhyun berhasil menoleh bahkan tanpa menyadari usahanya. Di sana, di layar televisi, ia melihat foto Chanyeol.
'ㅅ'
A/N: Uwoo fast update again! Thank you for all the reviews! Seneng kalian menikmatinya.
