Chanyeol/Baekhyun
Genderswitch
.
WARNING: Nggak suka, nggak usah baca, sesimpel itu.
Chapter 14
.
"Hey, lihat, lihat, hyung!" Zitao mendudukkan diri di celah sempit antara Jongin dan Sehun, membuat kedua orang itu menggerutu karena kenyamanan mereka yang tergusur.
"Lihat, ini saat kita baru debut. Kau jelek sekali ya waktu itu."
"Yah! Kau tidak melihat wajahmu sendiri? Kau terlihat seperti karakter di Dragon Balls hahahaha!"
"Lihat wajahmu sendiri! Kau seperti om-om mesum!"
Dengan singkat, terjadi baku hantam di antara Jongin dan Zitao, bersama Sehun di antara mereka. Chanyeol menoleh pada keributan itu dan menggeleng pelan, tersenyum.
"Lihat-lihat!" Zitao berseru lagi, membalik halaman di album foto yang ia bawa. "Ini award pertama kita!"
"Dan ini Daesang pertama," Jongin menimpali, bibirnya mengulas senyum lebar.
Ada banyak kenangan yang ditukar kemudian. Chanyeol mendengarkan, dan mengingat semuanya seperti hal itu baru terjadi kemarin. Tahun-tahun sulit saat trainee bersama anggota lainnya. Panggung debut pertama mereka... ia ingat semua orang menangis di backstage. Kemenangan pertama... jumpa fans, konser... momen-momen mereka dan penggemar... momen-momen semua anggota...
Ia ingat, Jongin terlahir untuk menjadi seorang penari, ia bercerita bahwa panggung dan tarian adalah impiannya, adalah hidupnya, dan ia tidak akan bisa membayangkan kehidupan lain yang tidak melibatkan dirinya menari di atas panggung.
Zitao pernah dibully. Ia tidak pernah benar-benar punya seorang teman, hingga ia bergabung menjadi trainee dan debut. Ia mendapat banyak cinta dan dukungan dari semua orang. Dan Chanyeol tahu, panggung ini, dan Sixey, adalah rumah bagi Zitao.
Sehun memulai trainee dari usia yang sangat muda. Ia tumbuh di sini, hidup di sini. Ia tidak tahu banyak soal kehidupan luar. Hyungnya di Sixey adalah keluarganya, tumpuannya.
Kris melewati masa trainee yang paling lama. Ia pergi dari China, jauh dari keluarganya. Masa debut mereka bahkan belum mencapai separuh dari masa traineenya. Ia belum dapat menebus semua pengorbanan itu. Ia telah berjuang sangat keras untuk semua orang... lebih kerasa dari semua orang.
Begitupun dengan Lay yang mengatakan, selalu mengatakan, bahwa Sixey dan Sexypie adalah hidupnya, dan dia ingin semuanya seperti itu sampai akhir.
Ia sendiri punya impian, dan ini adalah impiannya. Tapi ia tidak ingin, tidak pernah ingin egois menghancurkan mimpi semua orang demi kepentingannya sendiri. Ia punya impian lain sekarang... untuk hidup bahagia, bersama seorang gadis. Byun Baekhyun.
Tapi... sanggupkah ia menghancurkan mimpi teman-temannya? Mematahkan hati para penggemarnya?
Ia bejad, ia tahu. Dan ia akan dengan sukarela segera mengakuinya. Tapi... apa yang akan terjadi dengan Sixey berikutnya, kalau begitu?
'ㅅ'
Lepas dari segala rumor yang menerpa para pemainnya, syuting Home Sweet Home esok harinya tetap dilaksanakan seperti biasa. Awalnya Chanyeol berpikir bahwa ia bisa menggunakan kesempatan ini setidaknya untuk bicara dengan Baekhyun, meskipun akan banyak orang... yeah, ia akan mencari kesempatan untuk dapat bicara dengannya. Itu satu-satunya cara, satu-satunya kesempatan yang ia punya. Namun kenyataannya berbeda.
"Joesonghamnida," Baekhyun masuk dan menyela, tepat setelah semua orang menunggu lima belas menit dan akhirnya memutuskan untuk memulai syuting tanpa gadis itu. Jaesuk yang baru akan membuka mulutnya, akhirnya terpaksa menelan kembali seluruh kata-kata pembuka yang ia susun di otak.
"Maaf aku terlambat, ada sesuatu yang harus kukerjakan jadi aku pergi lebih dulu dan ban mobilku terkena paku saat dalam perjalanan ke sini. Sekali lagi, maafkan aku." Gadis itu membungkuk berkali-kali pada hampir setiap orang.
Kecuali pada Chanyeol.
Chanyeol tahu ban mobil bermasalah atau apalah itu bukan alasan sebenarnya. Karena gadis itu menghindari tatapannya meski Chanyeol tidak memindahkan tatapannya sesenti pun dari gadis itu, yang artinya ada yang gadis itu sembunyikan; gadis itu ingin menghindarinya.
"Bertemu kembali bersama kami dalam acara Home Sweet Home!" Dia memulai dengan antusias, dengan segera memperbaiki suasana bersama partner in crime-nya, Lee Seunggi.
"Tamu kali ini," Jaesuk kembai berbicara, "aku memastikan, akan mampu membuat hidung para wanita di seluruh Korea ini berdarah-darah," katanya bersemangat.
"Mereka akan menonjokmu?" Seunggi menyahut.
"Yah! Tentu saja bukan itu maksudku! Maksudku, mereka ini sangat-sangat tampan dan merupakan idola para wanita di seluruh Korea!"
"Sungguh?" Junmyeon yang berdiri agak kebelakang memajukan kepalanya, berusaha menengok pada pembawa acara, sekalian mencari-cari siapa kira-kira bintang tamu yang dimaksud. "Aku juga?"
"Aku hampir dapat memastikannya!"
"Benar!" Seunggi ikut ambil bagian. "Ah hyung. Tidakkah menurutmu PD-nim sedikit kejam? Maksudku, mereka seharusnya memasukkanku juga sebagai daftar bintang tamu kali ini, aku kan juga sudah membintangi banyak drama, hyung."
"Tutup mulutmu dan lakukan saja tugasmu sebagai MC kalau kau masih ingin dibayar sehabis acara ini!"
Lalu ada tawa sejenak dari semua orang—ralat, hampir semua orang.
"Nah, kalian sudah penasaran kan siapa bintang tamunya? Mari kita sambut saja. Bintang tamu, silahkan masuk!"
Lalu, seperti ada bunga-bunga berterbaran di bawah sinar neon yang terang saat orang-orang itu masuk satu persatu. Kamera menyorot dari ujung sepatu mereka yang modis dan manly, lalu ke kaki mereka yang panjang namun berisi, ke tubuh mereka yang tegap, dan terakhir, wajah tampan bersinar yang sedang tersenyum. Hampir dapat dipastikan, hidung setiap wanita yang menonton sedang berdarah-darah. Ada tiga tamu hari itu. Yang pertama masuk adalah aktor dengan senyum sangat memikat, Seo In Guk. Junmyeon hampir pingsan detik itu juga. Kemudian ada aktor muda tampan yang sedang naik daun, Cha Eun Woo, ini semakin membuat Junmyeon kehabisan napas. Dan terakhir, orang yang Chanyeol kenal lebih dari sekedar sesama pelakon dunia seni. Itu calon kakak iparnya sendiri, Jo In Suk.
"Halo~ Selamat datang. Aku penggemar kalian!" sapa Junmyeon tanpa tahu malu, menyalami mereka dan mulai kehilangan akal sehat, ia mendadak menjadi seperti bocah labil. Gadis itu tidak peduli, dan bahkan tidak menyadari pelototan Lay dan Kris yang memelototinya sampai mata mereka setengah keluar dari kantungnya.
"In Guk-ssi! In Suk-ssi! Dan Eunwoo-ya~ Bisakah kita foto bersama? Oh, aku ingin foto berdua bersama In Guk dulu~" rengeknya, tahu-tahu sudah menempel ketat pada lengan berotot Seo In Guk.
"Padahal dia kan aktris juga. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika suatu hari dia ditawari sebuah drama dengan Seo In Guk sebagai pemeran utamanya,"decak Luhan pelan. "Dia mungkin gila segera setelah menandatangani kontrak."
Sementara, sama seperti Baekhyun yang diam tanpa mengatakan apa-apa kecuali saat ditanya, dan sesekali tersenyum palsu ke kamera atau pada lelucon yang ia untuk saat ini tidak bisa menangkap dimana letak lucunya, Chanyeol melakukannya juga. Hanya beberapa kali ia mencoba mencuri kesempatan untuk berada di dekat gadis itu, memojokkannya, dan bertanya padanya. Kesempatan itu tidak pernah ada karena Baekhyun juga selalu mencari cara untuk kabur darinya.
Gadis itu menganggapnya hanya udara, bersikap seolah-olah Chanyeol tidak ada. Yang Chanyeol baru tahu, wajah manis itu, wajah yang membuatnya jatuh cinta saat pertama kali menatapnya itu, nyatanya dapat mempertahankan wajah dingin tanpa ekspresi pada Chanyeol untuk waktu yang lama, tanpa terpengaruh apa-apa, bahkan saat mereka harus kembali bekerja sama sebagai satu tim.
"Baekhyun, ayo kita bicara. Sekali saja." Chanyeol menggunakan kesempatan terakhirnya. Ia diam-diam merapat ke belakang Baekhyun pada misi tim terakhir dan berbisik sambil membelakangi gadis itu.
Ia tidak bisa menatap wajahnya, dan gadis itu diam saja, tidak mengatakan apa-apa.
"Baekhyun..."
Ketika Chanyeol berbalik, gadis itu sudah kembali meninggalkannya. Membuat frustasi.
Maafkan aku. Chanyeol mengukir nyaris tanpa sadar di lobak yang mereka gunakan dalam permainan sementara tak seorang pun mengajaknya bicara, Baekhyun sibuk bekerja bersama rekan timnya yang lain, Seo In Guk. Dan sekali lagi, ia, Park Chanyeol, hanyalah udara di sekitar gadis itu.
Rasanya aneh. Meskipun gadis itu berada di sekitarnya, dalam jarak yang bisa tangannya capai, ia tetap tidak bisa menjangkaunya, tidak dapat mengunci tatapannya. Meskipun ia tahu gadis itu dapat mendengarnya, tapi ia juga tahu gadis itu sedang menutup kedua telinganya rapat-rapat untuk Chanyeol. Dan ia mulai kehabisan akal harus melakukan apa. Kenyataan itu membuat gumpalan rasa bersalah di perut Chanyeol semakin membengkak.
'ㅅ'
Hingga syuting berakhir, Chanyeol tidak menemukan cara agar bisa bicara dengannya. Sekarang, ia harus dikejutkan lagi dengan sosok Ibunya yang segera memunculkan wajah hanya beberapa saat setelah syuting selesai, tepatnya, saat Chanyeol barusaja keluar dari kamar mandi yang digunakannya untuk mencuci wajah.
"Chanyeol-ah, kau sudah selesai?" tanya Hana dengan sumringah.
"Eomma. Apa yang kau lakukan di sini?" memilih untuk tidak menjawab, Chanyeol justru melempar pertanyaan lain yang lebih mendesak seraya menarik Ibunya ke sudut. Dan saat itulah ia menyadarinya. Seseorang mengikuti mereka. Seseorang yang dari tadi berdiri di sisi Ibunya. Seseorang yang ia kenal, namun tidak ia harapkan.
"Kyungsoo, kau sedang apa?" tanyanya, beralih pada gadis itu. Gadis itu hanya memutar bolamata dan menatapnya skeptis, sama dinginnya dengan cara Chanyeol menatapnya.
Hanya ibunya yang kemudian menyela dengan bersemangat dan mata berbinar.
"Chanyeol-ah! Eomma sudah menonton beritanya. Jadi ini, gadis yang ingin kau kenalkan waktu itu? Kenapa kau tidak bilang sebelumnya, huh? Kau tahu? Ayahnya Kyungsoo ini teman dekat sekaligus rekan bisnis Ayahmu. Ayah dan Ibu sangat setuju sekali jika kalian nanti menikah!"
"Bibi!"
"Eomma!"
Chanyeol menatap Kyungsoo dan ibunya bergantian, lalu menatap sekelilingnya. Mendadak, ia merasakan pening menusuk kepalanya. Bagaimana mungkin situasi semacam ini dapat terjadi di kehidupannya? Ada terlalu banyak benang kusut yang melilitnya, dan terasa semakin sulit untuk dilepas.
"Pokoknya Ibu tidak mau tahu. Kalian tidak boleh sampai berpisah. Mengerti?"
Ini tidak seperti itu! Chanyeol ingin meneriakkannya, alih-alih hanya menatap putus asa pada ibunya. Ada terlalu banyak orang di ruangan itu dan ia tidak mau membuat masalah besar tanpa berpikir yang akan disesalinya nanti. Chanyeol memijat keningnya, pusing semakin menjadi-jadi di kepala.
"Eomma, bisa aku bicara dengan Kyungsoo sebentar?"
Wanita itu mengangguk dan tersenyum antusias, namun tidak bergerak kemana-mana.
"Maksudku, berdua saja."
"O-oh. Baiklah," angguk Hana, mengerling sesaat sebelum benar-benar meninggalkan Chanyeol berdua saja dengan gadis berambut panjang lurus itu, seperti permintaannya.
Sebentar setelah ibunya pergi, Chanyeol menarik Kyungsoo ke sudut yang lebih tidak ramai, hanya ada beberapa sound sistem yang teronggok di sudut, dan sesekali beberapa orang yang berseliweran di kejauhan.
"Apa maksudmu melakukan semua ini?!" seru Chanyeol seketika. Amarahnya sudah naik hingga ke kepala. Ia menghempaskan pergelangan gadis itu yang tadi ia tarik dengan agak terlalu keras hingga terdengar erang kesakitan dari bibir Kyungsoo. Sedikit menyesal, namun ia tidak berminat meminta maaf.
Kali ini, gadis di depannya ini sudah benar-benar keterlaluan.
Kyungsoo memutar bolamata, mendengus, untuk kemudian melipat tangan di dada dengan sama marahnya.
"Melakukan apa? Aku tidak melakukan apapun!"
"Berita itu. Kau yang melakukannya, kan?"
Sekali lagi, Kyungsoo mendengus yang dibarengi dengan sebuah seringai tidak percaya. Ia memejamkan mata, menarik napas kuat-kuat lalu menghembuskannya sepelan mungkin, memilih berusaha menenangkan dirinya dibanding bertindak ceroboh dan meneriaki pria di depannya itu.
"Dengar," Kyungsoo mendesisi dibalik geraman gigi-gigi yang ia rapatkan, baru saja ia membuka matanya. Setelah merasa bisa mengontrol diri, ia melanjutkan dengan suara rendah penuh tekanan. "Aku memang menyukaimu. Tapi aku bukan gadis seperti itu!"
"Apa maksudmu?"
"Berita itu... Aku juga tidak tahu sampai ibumu datang padaku dengan wajah sumringah, oke!"
"Lalu siapa?"
"Mana aku tahu?! Lagipula, aku juga salah satu korban di sini. Kenapa kau menyalahkanku?!"
Chanyeol membuang napasnya. Ia ingat, hidupnya sebelum ini hampir selalu monoton. Selain debut waktu itu, tidak ada hal yang terlalu penting dalam hidupnya. Waktu debut pun, ia tidak memerlukan waktu lama seperti yang lain untuk menjalani masa pelatihan, tidak seperti para idola lainnya yang harus menunggu bertahun-tahun hingga putus asa. Bisa dibilang, semuanya terbiasa berjalan mudah untuknya. Sampai skandal itu datang, terus menerus, begitu rumit dan pelik, menjungkirbalikkan dunianya seketika.
"Kita adakan konferensi pers segera," putus Chanyeol, setelah berpikir selama beberapa saat.
"Kau pikir semudah itu?! Orang akan berpikir kita mempermainkan mereka, kita penipu. Dan pengiklan akan menghapus kontrakku. Manajemen mungkin juga akan marah dan mengeluarkan sangsi berat! Kau tidak memikirkannya?!"
"Apa kau hanya memikirkan dirimu sendiri?" Nada Chanyeol meninggi, membuat Kyungsoo terlonjak kebelakang. "Kenapa kau egois sekali?! Kau tidak memikirkan perasaan Baekhyun?!"
Sedikit terkejut dengan ucapan pria itu, Kyungsoo menatapnya tajam, penuh selidik.
"Kenapa perasaannya sangat penting? Apa hubungannya dengan semua ini, memang?"
Chanyeol kehilangan kata-kata. Selama sesaat, ia kesulitan memilah kata-kata untuk bicara, bahkan kesulitan untuk menemukan alasan.
"Tunggu," Kyungsoo mengangkat satu alisnya. Menatap Chanyeol berbahaya. Satu-persatu, benang kusut yang terjadi mulai terurai di kepalanya. "Aku tahu kau dekat dengan Baekhyun eonni, aku tahu kau menyukainya. Tapi setelah kupikir lagi... hubungan kalian tidak sesederhana itu, kan? Oppa, kau... apa kau ternyata Ayah dari janin itu? Kau pria brengsek yang menghancurkan masa depan Baekhyun eonni?!"
Tidak ada respon suara. Ia ingin menjawab pertanyaan itu dengan bangga, tapi menemukan lidahnya mendadak kelu. Chanyeol seolah mati rasa dan membeku di tempat.
"Jadi benar?"
"Tidak! Bukan! Maksudku—" Chanyeol tercekat. Tidak tahu harus mengatakan apa. Setengah menyesal dengan sanggahan yang ia ucapkan, tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghapusnya.
Kemudian, seolah semua kejutan ini belum cukup. Ia melihat Baekhyun, berdiri tidak begitu jauh dari tempatnya. Yang membuatnya segera limbung adalah... tatap terluka gadis itu.
'ㅅ'
"Sekali lagi!"
Choi Ji Kwon, seorang koreografer yang terkenal di bidang industri musik Korea karena kreatifitasnya yang patut diacungi sepuluh jempol dan ketegasannya yang tidak main-main, berteriak di depan anak-anak bimbingannya. Tidak peduli bahwa mereka adalah gadis-gadis cantik yang meluluhkan hati para pria di luar sana. Juga tidak peduli dengan fakta bahwa mereka sudah menjalani latihan berat ini, terus menerus melakukan koreografi yang sama selama dua setengah jam tanpa henti. Semua orang sudah bermandi keringat. Namun, Ji Kwon belum puas karena masih selalu ada kesalahan-kesalahan kecil yang tertangkap matanya. Entah itu ketidak seiramaan gerakan, gerakan yang kurang lugas seperti yang diharapkan, dan hal-hal kecil lainnya.
Dan yang paling banyak melakukan kesalahan itu adalah Baekhyun, yang otomatis membuatnya mendapat pelototan paling tajam.
"Byun Baekhyun! Gerakanmu terlambat. Ulang sekali lagi!"
Serentak, semua orang mengeluh. Bahkan Baekhyun hanya bisa menunduk dan tidak berani menatap yang lain, ia sudah merasa bersalah dan tidak ingin lagi disalahkan meskipun hanya lewat tatapan mata. Gara-gara dia, mereka harus mengulangi lagi gerakan tarian itu dan tidak tahu kapan dapat berhenti.
"Pelatih, ijinkan kami istrahat sebentar," rengek Luhan, meskipun gerakan dancenya selalu mengesankan dan ia memiliki vocal yang stabil, soal stamina ia adalah yang paling payah. Gadis itu segera terduduk di lantai dan tidak berniat bangkit.
Namun Choi Ji Kwon juga sama keras kepalanya. Ia melirik arlojinya dan menggeleng.
"Kalau begitu lakukan sekali lagi jika ingin istirahat. Kita tidak punya banyak waktu. Dua hari lagi kalian akan ada konser lagi di Seoul dan Jepang."
Ada gumaman-gumaman tidak jelas serta tidak menyenangkan mengiringi. Tapi pelatih Choi tidak melonggarkan peraturannya sama sekali.
Musik kembali mengalun, para member FSGarden kembali ke posisi mereka masing-masing dan menari dengan segenap kemampuan mereka seiring musik yang menghentak, berharap kali ini gerakan mereka sudah benar sehingga mereka bisa bebas.
Baekhyun berkonsentrasi pada gerakan kakinya yang dari tadi selalu salah. Ia berusaha menepis jauh-jauh pikirannya yang lain. Masalah hebat yang selama ini merubungnya, ancaman tentang masa depannya sendiri. Soal Chanyeol... ia tidak ingin membawa-bawa pria itu dan menghancurkan karirnya, tapi entah bagaimana... rasanya begitu sakit harus menderita sendirian, harus memikul semuanya sendirian.
"Aargh!"
Otomatis, gadis itu menghentikan setiap geerakannya begitu merasakan nyeri kram yang hebat. Baekhyun terjatuh duduk sambil memegangi bagian samping perutnya, tempat dimana nyeri itu berasal, sementara yang lain segera mengerubunginya dengan panik.
"Baekhyun-ya! Kau kenapa?!" Junmyeon dengan cekatan memegangi pundak gadis itu, siap menyokongnya untuk berdiri.
Baekhyun menggeleng. "Aku tidak apa-apa."
"Kau pucat. Apa kau sakit?" bahkan pelatih Choi yang tadi memasang tampak kejam padanya sekarang luluh, pria itu menyapukan punggung tangan di kening Baekhyun yang penuh keringat. "Kita ke dokter, ya?"
"Anni.. mungkin... aku hanya perlu istirahat."
"Baiklah. Kalian harus istirahat. Latihannya kita lanjutkan besok. Pastikan kalian makan dengan teratur dan istirahat dengan benar."
'ㅅ'
"Kau sudah baikan?"
Seperti biasa, Junmyeon yang bersikap keibuan—atau mirip ibu-ibu—masuk ke kamar yang ia bagi bersama Baekhyun dengan baki berisi setangkup roti dan segelas susu di tangannya. Setelah menghabiskan waktu dari sore kemarin hingga malamnya untuk istirahat, Junmyeon masih tidak membiarkan gadis itu beranjak dari kasurnya pagi ini.
"Aku sudah tidak apa-apa, Eonni," jawab Baekhyun, menyibakkan selimut yang tadi menutupi kakinya, lalu mengubah posisi duduk ke tepian. Junmyeon segera menegurnya dengan pelototan, sebelum ia menyodorkan gelas susu dan piring roti yang ia bawa.
"Makanlah. Kau tidak boleh sampai telat makan. Kau harus jaga kesehatan, huh? Aku khawatir sekali dengan bayimu."
"Hm. Gomawo, Eonni."
Gadis itu hanya menunduk menatap perutnya. Kemarin, perutnya sakit sekali, dan ia sempat takut. Mungkin Junmyeon benar, ia mungkin perlu memeriksakannya ke dokter. Yeah, ia harus mencari waktu, mungkin setelah semua latihan dan konser itu, ia harus segera memeriksakannya setelah itu.
"Eonni! Eonni!"
Luhan merangsek masuk ke dalam kamar, tidak merasa perlu untuk mengetuknya lebih dulu.
"Ya? Kenapa kau lari-lari? Apa kau menemukan Seo In Guk?" tanya Junmyeon, menatap Luhan yang tersengal, hampir seperti habis berlari jauh.
"Seo In Guk pantatku," dengusnya. "Aku tadi dari kantor CEO, hanya untuk mencari Manager Kim. Tapi CEO sepertinya... CEO berpesan padaku untuk memanggilmu, Eonni." Tatapannya tidak tertuju pada Junmyeon, tapi mengarah tepat pada Baekhyun yang segera menunjukkan tampang bingung.
"Aku?"
"Hm. CEO bilang ingin bicara padamu."
'ㅅ'
Baekhyun mendorong pintu besar itu pelan setelah mengetuknya sebanyak dua kali dan mendengar seseorang menggumamkan "masuklah" dari dalam.
Sepanjang perjalanan ke tempat itu, ia sudah menautkan jari-jarinya dengan cemas. Perasaannya mengatakan hal buruk akan terjadi. Sejak kemarin, ia selalu merasakannya. Sekarang, setelah berdiri di depan kantor CEO SM danberhasil membuka pintunya sedikit, ia dihantui kecemasan yang luar biasa, yang mengharuskan jantungnya bekerja keras dan cepat, keringat bermnculan di keningnya sementara kakinya lemas.
Gadis itu melongokkan kepalanya lebih dulu, mencari di ruangan yang luas itu sampai akhirnya ia menemukan sosok CEO mereka sedang menatap padanya.
"Oh, kau. Baekhyun. Masuklah."
Bahkan udara terasa tidak nyaman saat Baekhyun berhati-hati meletakkan pantatnya di kursi. Kursi itu serasa menelannya di bawah tatapan CEO mereka yang terkenal cukup keras. Yah, dunio industri Kpop memang selalu keras, kan?
"A-anda memanggil saya? Ada... apa, Sajang-nim?"
Kim Yoo Hwan, selaku CEO SM Entertainment menutup dan membereskan beberapa dokumen yang berserak di mejanya. Ia menyingkirkannya ke tepi meja untuk kemudian meletakkan kedua tangannya dengan bebas di meja itu. Perhatiannya sekarang terfokus pada Baekhyun. Pria berusia sekitar akhir empat puluhan itu berdeham sebentar, dan berikutnya Baekhyun tahu ini adalah pembicaraan yang serius. Benar-benar serius.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmuu."
"Ya?
"Ini soal kehamilanmu itu."
Otomatis, Baekhyun menunduk melihat perutnya, tiba-tiba saja merasa benar-benar khawatir.
"Begini. Semua orang di seluruh negri ini sepertinya sudah tahu soal skandal kehamilanmu yang tidak terduga itu. Dan akan sangat sulit untuk menyangkalnya, masyarakat tidak akan begitu saja percaya."
Yoo Hwan sekarang berdiri dari kursinya. Pria itu menatap jendela dan mulai berjalan bolak-balik, terlihat jelas bahwa ia sedang berusaha mempertimbangkan sesuatu. Ia tampak begitu hati-hati dalam memilih kalimat yang akan ia sampaikan.
"Beberapa waktu lalu, aku sudah berunding dengan manager kalian. Kami sudah... mencoba berbagai upaya, termasuk pengalihan issue untuk menenggelamkan masalah ini. Tapi, tentu saja itu akan sulit mengingat kehamilanmu yang akan semakin membesar. Managermu, Jongdae terus mencoba meyakinkanku bahwa kehamilanmu itu tidak akan merugikan perusahaan. Malah, akan berdampak pada semakin populernya kalian dan melonjaknya pembelian album FSGarden jika kita menanganinya dengan cara yang tepat, dengan lebih bebas dan terbuka seperti artis internasional lainnya."
Sesaat, Baekhyun merasa ia bisa bernapas. Meskipun kata-kata itu terdengar tidak adil dan menyakitinya, ia merasa... hal seperti itu akan lebih baik. Jauh lebih baik dari apa yang bisa ia bayangkan beberapa waktu ini.
"Tapi...," dan kata laknat tapi itu muncul. Membuat jantung Baekhyun berdetak dua kali—tidak, empat kali lebih cepat dari sebelumnya.
"Tapi aku sudah berpikir banyak dan hal itu akan sulit. Kau tahu bagaimana sempitnya pemikiran masyarakat kita. Dan kau tahu sendiri bahwa FSGarden akan meluncurkan album baru lagi akhir tahun ini. Dan image yang akan ditampilkan adalah malaikat suci, seperti embun pada bunga-bunga taman di pagi hari yang berkabut. Untuk itu kau membutuhkan image polos, dan bersih dari skandal. Dan skandal yang kau timbulkan kali ini... jelas tidak bisa ditolerir."
Tes. Bahkan tanpa menyadarinya, tahu-tahu setetes airmata menuruni pipi gadis itu, jatuh begitu saja ke pipinya. Ia tidak mengatakan apa-apa, tidak berani, bahkan... ia merasa tidak ingin memikirkannya. Ini seperti... pukulan keras bertubi-tubi.
"Kau... mengerti maksudku?" Kim Yoo Hwan duduk kembali ke kursinya, menatap Baekhyun dengan tatapan yang sulit dibaca.
Baekhyun mengangguk pelan, nyaris tidak kuasa melakukannya. Ia merasakan suaranya bergetar ketika ia akhirnya membuka mulut. "Aku... harus keluar dari kelompok ini, kan?"
"Benar. Sebelum album berikutnya diproduksi, SM akan memutuskan kontrak denganmu."
Tertawa saja sulit, namun untuk menangis rasanya konyol, dan ia tidak ingin melakukannya. Tapi yang terjadi adalah ia memaksakan senyum, namun airmata justru kian tumpah di pipinya. Gadis itu buru-buru mengusapnya. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan.
"B-baiklah. Saya mengerti. Kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, saya akan pamit keluar."
Dengan terus menunduk, menyembunyikan airmatanya, Baekhyun membungkuk. Ia ingin segera keluar dari kantor itu dan menghirup udara. Namun ssebelum mencapai pintu, ia menoleh, mengangkat wajahnya demi menatap Kim Yoo Hwan. Sekali lagi, gadis itu membungkuk.
"Ijinkan saya mengucapkan terimakasih, karena sudah diberi kesempatan untuk bersama FSGarden selama ini."
Yoo Hwan membalas tatapannya lama. Ada sepercik simpati dan tidak rela.
"Kau tahu, kau adalah salah satu idola paling berbakat dan terbaik yang pernah kami miliki, Baekhyun-ah."
A/N: Sorry tadinya mau post lebih cepet tapi tiba-tiba kerjaan numpuk. Dan jujur, upset banget sama beberapa komen. Gini, kalau kalian nggak suka cerita saya, oke, wajar. Kalau kalian mau marah, boleh. Tapi tolong, jangan pake topeng 'Guest'
Itu bikin saya parno jangan-jangan mereka ngomong baik-baik di depan tapi menghujat atas nama Guest. Kalau mau hujat, tunjukin diri, at least. Kalo gini saya kan jadi mikir lagi yang tadinya mau terus publish FF di FFN, tapi sering banget diginiin.
Dan ini nggak bakal sad ending, cuma banyak konflik dan angst.
