Chanyeol/Baekhyun

Genderswitch

.

"Baekhyun hamil. Dan Chanyeol berharap, semuanya akan baik-baik saja. Segera."


Chapter 15


.

"Akui sekarang..."

"Jangan."

"Akui sekarang..."

"Jangan..."

Chanyeol sedang sibuk meletakkan wajahnya di atas meja, sambil tangannya menimang-nimang gelas di atas meja yang sama. Memutar-mutarnya ke kiri dan kanan, menciptakan sedikit gelombang pada air putih di dalamnya.

Beberapa saat, pria itu mengangkat wajahnya. Masih menatap gelombang dalam gelas, dan masih tampak sama kacaunya dengan sebelumnya. Ia sedang berada di rumah ibunya sekarang, dan bahkan beberapa wartawan sempat mengejar sampai ke sini. Mau tak mau, ia harus menemui mereka sebentar lagi. Yang artinya, ia harus segera membuat keputusan. Itu membuatnya sakit kepala hebat.

Antara ia harus mengambil tindakan, mengakuinya sekarang juga, membersihkan semuanya dengan resiko apapun, atau... menundanya lagi, berpikir lagi, mencari jalan yang tidak kunjung ditemukan itu lagi. Ia tidak ingin Baekhyun menderita lebih lama. Tapi ia tahu, akan banyak orang harus menderita karenanya jika ia mengungkapkannya, ibunya, kakaknya, Kyungsoo, Sixey... bahkan dirinya dan Baekhyun sendiri. Entah bagaimana masyarakat akan memperlakukan keduanya setelah ini. Mungkin mereka akan dibuang dari pergaulan?

"Akui sekarang... Jangan... Akui sekarang..."

"Chanyeol-ah, wartawan-wartawan itu sudah menunggu di luar. Kenapa kau masih di sini?" Chanyeol nyaris melempar gelas di tangannya mendengar seruan ibunya. Mendadak, rasanya gugupnya bertambah seribu kali lipat.

"Mereka sudah masuk?"

"Hm. Eomma menyuruh mereka masuk," jawab ibunya dengan tampang cerah, seperti biasa, meski tidak bisa secerah kemarin karena wajah wanita itu sedikit agak pucat sekarang. "Omong-omong, wawancara apa memangnya? Kau mau mengumumkan secara publik hubunganmu dengan Kyungsoo, ya?" tanyanya jahil.

"Eomma~" Chanyeol merengek. Kenapa ibunya mendukung sekali, sih, dengan perempuan itu? Bukannya ia membenci Kyungsoo, tapi... ia hanya tidak menginginkannya. Tidak ada lagi perempuan yang bisa ia sebut cantik setelah ia bertemu Baekhyun. Dan lagi, ini bukan sekedar soal ingin dan tidak ingin, ada tanggung jawab besar yang ia pikul.

"Eomma, kau sakit?" Setengah mengalihkan pembicaraan, setengahnya Chanyeol bertanya sungguh-sungguh.

"Tidak. Hanya... biasalah, darah tinggi kumat."

"Eomma harus istirahat, huh? Aku akan menemui mereka."

Chanyeol bangkit, mendudukkan ibunya di kursi yang tadi ia tempat sementara ia sendiri berjalan memutari meja dan terus meninggalkan dapur. Menuju ruang tamu. Tempat wartawan yang katanya ingin melakukan wawancara eksklusif dengannya.

"Maaf membuat kalian menunggu. Bisa kita mulai sekarang?"

"Ya," wartawan wanita itu menyiapkan catatan kecil di tangannya, sementara yang lain, sibuk merekam.

"Sebelumnya kami sangat senang sekali anda bersedia untuk diwawancarai ekslusif—"

"Sebenarnya ada yang ingin kukatakan."

"Ya? Apa itu?" tanyanya, tampak tertarik.

"Apa ini mengenai hubunganmu dengan FSGarden Kyungsoo?" tanyanya lagi setelah bermenit berlalu dan Chanyeol tidak kunjung mengatakan apa-apa.

"Hmm, yeah," gumam Chanyeol serak, hampir tidak dapat mengatakan suaranya. "Kami... tidak memiliki hubungan apa-apa."

Wanita itu menaikkan alisnya, jelas merasa tidak puas. Chanyeol seolah... menahan sesuatu di mulutnya.

"Ada lagi yang ingin kau katakan?"

Ada. Jelas ada. Ia harus mengatakannya, lalu Eomma,, Hyungdeul, Zitao, Jongin, Sehun... Kyungsoo... bagaimana dengan orang-orang itu? Semuanya berkelebat di pikiran Chanyeol.

"Tidak ada." Kata itu mengejutkannya.

"Baiklah. Tapi bagaimana dengan bukti foto yang didapatkan? Kalian seperti akan berciuman dalam foto itu," wartawan itu berusaha mengorek lagi, kembali pada gosip semula.

Namun Chanyeol tidak menjawab.

"Bagaimana cara kau menyangkalnya? Apakah ini hanya karena kalian ingin menutupi? Bagaimana pendapat orang tuamu? Yang kudengar orangtuamu dan orang tua Kyungsoo bersahabat—"

Dan serentetan pertanyaan lain. Chanyeol tidak mendengarnya. Apalagi menjawab. Ia berdiri dengan tiba-tiba, kemudian berbalik tanpa aba-aba, meninggalkan para wartawan itu dalam keterpanaan.

'ㅅ'

Luhan menatap layar ponselnya dengan begitu fokus. Terlalu fokus hingga matanya tampak seolah mau keluar dari tempatnya, dan hingga ia tidak menyadari mata lain yang sedang ikut mengintip dari belakang bahunya.

Dalam sekali sentakan, Kyungsoo merebut ponsel itu, yang mengakibatkan pada hampir ikut tercabutnya roh Luhan dari raganya.

"Ketahuan!" seru Kyungsoo.

"A-Apa? Kembalikan!"

"Apa maksudnya semua ini? Bisa jelaskan padaku?" Kyungsoo mengangkat alisnya menggoda sambil mengetuk-ngetukkan ujung sepatu. Ia memampangkan pada gadis itu apa yang mengisi layar ponselnya. Foto seorang pria, tersenyum lebar, memperlihatkan rahang tegas yang sempurna, yang entah bagaimana... berhasil menjatuhkannya. Pria yang ia kagumi setengah mati. Yang membuatnya kesulitan bernapas setiap kali pria itu berada dalam jarak terlalu dekat.

"Kenapa kau menyimpan foto Oh Sehun di ponselmu?" tanyanya lebih jelas.

"A-apa maksudmu?! A-aku menyimpan foto semua pria di ponselku!"

Dengan kegugupan yang berusaha ia atasi, Luhan tampak alami saat merebut kembali ponselnya dan menunjukkan pada Kyungsoo foto-foto berbagai jenis pria terkenal dari industri hiburan Korea, dari idol hingga aktor. Dari Park Jung Soo, Lee Chun Ji, Byun Baek Hyun, Park Chan Yeol, Kim Myung Soo, Lee Jong Hyun, Kang Min Hyuk, Kim Jae Joong, Seo In Guk—

"Ya! Ya! Ya! Kenapa foto calon suamiku ada di situ?!" Junmyeon, tahu-tahu ikut bicara—berteriak, tepatnya. Ia menunjuk-nunjuk Seo In Guk seolah baru diberitahu, seseorang telah membunuhnya.

"Aku juga menyukainya. Relakan saja, pelit sekali."

"Tidak mau! Jangan dia! Kenapa kau tidak mengidolakan eonni-mu ini saja?!"

"Pffft Dibayarpun aku tidak mau!"

Nyaris tawuran, lagi. Kalau saja mereka tidak segera sadar ada seseorang yang menonton, dengan tatapan yang terasa tidak biasa.

"Baekhyunnie, kenapa melihatku seperti itu?" Luhan buka suara, menatap Baekhyun yang tampaknya sedari tadi hanya memperhatikan tanpa mengatakan apa-apa.

"Ah, anniya," jawab gadis itu serak, setelah susah payah membawa suaranya naik ke permukaan, seolah... sesuatu telah mengubur kemampuan verbalnya dalam-dalam.

Rasanya berat, karena Baekhyun harus memberitahu sendiri pada teman-temannya bahwa ia akan segera meninggalkan kelompok dimana mereka sudah nyaris empat tahun bersama-sama, lima tahun dan lebih jika dihitung bersama trainee, saling mendukung satu sama lain. Ia tidak akan melupakan satu detil kecil pun.

Dan tiba-tiba ia harus pergi. Akan seperti apa pendapat mereka? Sedih kah? Atau... marah? Karena ini kesalahan yang ia buat, yang seberapa banyak pun ia menyesalinya, ia tidak akan mampu mengembalikannya.

Meskipun sebenarnya, ia sama sekali tidak merasa menyesal. Memiliki bayi itu—Baekhyun tanpa sadar mengelus perutnya—awalnya ia merasa benci dan tidak tahu harus berbuat apa. Tapi ia sudah melihatnya lewat USG meski hanya satu kali, bayi itu sangat kecil, kecil sekali, hanya sebesar ibu jari, dan tampak rapuh. Ia tumbuh bersamanya, ia sudah menjadi bagian dari diri Baekhyun dan ia tidak berniat lagi melepaskan. Ia ingin menjaganya, apapun resikonya.

"Aku hanya...," Baekhyun bicara kembali, "bersyukur sekali memiliki kalian."

"Issh, kau bicara apa. Seperti kau akan mati esok," komentar Junmyeon sambil tertawa. "Dengar, tapi kau tidak boleh mati besok karena sebentar lagi kita akan merilis album baru, dan aku... akan segera memiliki keponakan."

"Keponakan apanya?" Baekhyun bersemu merah.

Hanya Luhan yang tampak ribut. "Dan aku akan jadi ahjumma?! TIDAAAAKKKK! Aku masih terlalu imut untuk dipanggil ahjumma!"

"Imut bokongmu!"

Hingga akhirnya tawa mereka harus diputus dengan persiapan konser, mungkin hanya Kyungsoo, yang tidak bisa mengalihkan tatapannya dari gadis itu. Seolah ia baru pertama kali melihatnya... atau terakhir.

'ㅅ'

Niga neomu joheun namja-ya ja ja ja ja-ya!

Saranghae saranghae-ya~

Yeongweonhie saranghandago~ Oh baby-ya![1]

Lagu itu dinyanyikan dengan irama yang menghentak, diringi instrument yang sempurna, riuh tepuk tangan, dan sorak sorai penonton. Siapa yang tidak tahu lagu Joheun Namja atau Good Boy di Korea bahkan Asia hingga seluruh dunia? Sama halnya seperti Sorry-Sorry milik Super Junior, Gee milik Girl's Generaation atau That Girl-nya Sixey, Good Boy adalah hits yang membawa nama FSGarden melambung tinggi setelah menduduki posisi pertama di chart-chart musik Korea Selatan dan Jepang selama lebih dari lima minggu berturut turut dan berhasil memenangkan salah satu penghargaan dalam Daesang Music Awards tahun 2016 lalu, atau sekitar dua tahun setelah debut awal mereka.

Lagu wajib yang akan dinyanyikan di luar kepala oleh setiap Gardenia.

Tidak mengherankan jika lagu ini merupakan salah satu lagu paling di nanti di setiap konser, dan ditaruh di belakang, sebagai penutup yang mengesankan. Lagu up-beat yang menuntut semangat penuh tak peduli meski kau sudah bermandi keringat bercampur darah sekalipun.

Sama seperti yang lainnya, dan sama seperti latihan keras mereka sebelumnya, Baekhyun berusaha bergerak dengan tepat, bersemangat, dan lincah meskipun mereka sudah hampir membawakan dua album penuh lagu, sudah dua jam mereka menyanyi dan menari seperti ini. Semuanya hanyalah soal stamina. Dan biasanya, Baekhyun selalu berhasil. Ia biasanya adalah anggota yang dapat menyimpan stamina paling baik. Ia biasanya dapat selalu tersenyum ceria meski sudah kelelahan dan yang lain siap pingsan. Biasanya. Namun kali ini sepertinya tidak. Gadis itu mengikuti gerakan, namun jelas tidak fokus. Hanya karena ia harus menahan mati-matian sakit perut yang mendadak menyerangnya. Ia harus tetap tersenyum. Ia harus bertahan baik-baik saja, atau setidaknya tampak begitu sampai lagu berakhir. Karena begitulah seorang idola di atas panggung. Ia tidak boleh membuat para pendukungnya cemas dan kecewa.

Sampai akhirnya, ia berada di batas maksimal. Sakit itu ternyata tak tertahankan olehnya.

Seluruh penonton terkesiap, beberapa menjerit. Anggota FSGarden yang lain sama terkejutnya, sementara musik masih menghentak selama beberapa waktu saat Baekhyun tiba-tiba jatuh pingsan di atas panggung.

'ㅅ'

Ia tidak tahu secara langsung. Ia bukan orang yang pertama diberitahu. Kenyataan bahwa ia mengetahui kabar Baekhyun yang berada di rumah sakit setelah melihat kepanikan Yixing, fakta bahwa tidak ada orang lain yang tahu bagaimana hubungan mereka, membuat Chanyeol kesal pada dirinya sendiri. Terlebih dengan kenyataan yang baru ia sadari, bahwa ia tidak bisa melindungi gadis itu. ternyata ia masih pria brengsek yang sama. Yang berjanji namun tidak melakukan apa-apa.

"Hyung, apa kau akan ke rumah sakit sekarang?" tanyanya, berusaha menekan rasa paniknya namun gagal.

Dan Yixing sudah terlalu panik untuk menyadari apapun.

"Hm. Kudengar kondisinya tidak cukup baik. aku harus ke sana sekarang."

"Kalau begitu aku ikut denganmu!"

"Aku juga."

"Aku juga," timpal beberapa yang lain.

Tidak ada yang terlalu waspada untuk mempetanyakan kenapa Chanyeol sefrustasi itu selama perjalanan bermobil mereka menuju rumah sakit. Dan Chanyeol pun sama sekali tidak peduli. Ia hanya ingin gadis itu dan bayinya baik-baik saja, setelahnya, masalah lain apapun tidak akan lagi berarti. Ia tahu gadis itu kuat, tapi mengapa... perasaannya benar-benar tidak nyaman?

Ia yang pertama melompat turun begitu sampai di parkiran rumah sakit, berlari panik mencoba menemukan ruangan tempat gadis itu dirawat, di susul Yixing, Jongin, Zitao, Kris dan Sehun yang saat itu ikut. Ia berhenti beberapa meter sebelum mencapai ruang Emergency. Seorang wanita duduk di bangku tunggu dan sedang menangis sementara seorang remaja laki-laki berusaha menenangkan wanita yang sepertinya ibunya laki-laki, tampak berusia sekitar akhir empat puluh atau awal lima puluhan berbicara pada seorang dokter.

"Anda keluarga dari pasien bernama Byun Baekhyun?"

"Hm. Saya ayahnya. Bagaimana keadaannya?"

"Dia baik-baik saja, tapi... bayinya tidak berhasil diselamatkan."

Lalu Chanyeol tidak lagi dapat mendengar apa-apa. Rasanya seperti hantaman godam besar tepat di kepalanya. Membuat kakinya lemas seketika dan napasnya sesak.

Telinganya... bercanda, kan? Apa dokter tadi bilang? Bayinya... bayi gadis itu dan bayi Chanyeol... meninggal? Ia sudah kehilangan bayinya?

Ini tidak mungkin...

"Chanyeol-ah?" Kris menangkap lengan Chanyeol yang hampir jatuh, ia tampak cemas sekaligus heran, begitupun yang lain.

"Tidak, hyung," bisiknya pelan. Terlalu pelan. "Bayiku... tidak mungkin..."


A/N: 2 atau 3 chap lagi tamat. Dan aku mau post FF baru yay! HunHan, fantasy, dan ChanBaek, tapi aku pengen settingnya tetep Norwegia seperti original storynya. Genrenya masih romance dan masih ada angst-nya, kalau mau baca pantengin deh, kalo nggak juga nggak papa sih daripada kalian makan hati bacanya.

Dan yang mau nyinyir, go suck a dick!