Chanyeol/Baekhyun
Genderswitch
.
"Dan skandal itu, adalah satu-satunya benang merah di antara kita."
Chapter 16
.
Tidak ada yang bicara selama beberapa saat. Semua orang seolah sibuk dengan pikiran masing-masing, dengan ucapan belasungkawa yang tidak mereka sampaikan secara verbal, dengan kesedihan yang menggantung di udara.
"Dia pasti kelelahan karena terlalu banyak latihan," lirih Junmyeon pada akhirnya. Suara serak karena menangis miliknya menjadi yang pertama memecahkan kebekuan yang tidak nyaman di antara mereka. Ia menggigit bibirnya dan mendudukkan diri di salah satu bangku tunggu. Yixing duduk di sampingnya bersama Luhan, sementara yang lain berdiri mengelilingi mereka. Keluarga Baekhyun sedang berada di dalam, di ruangan Baekhyun dirawat, dan mereka harus menunggu karena jumlah pengunjung yang dibatasi.
"Aku bodoh sekali. Sebagai leader seharusnya aku lebih memperhatikan dan menjaganya." Airmata dengan cepat mengalir dari pipi gadis itu, yang berusaha ia sergah dengah lengan , berdiri di sampingnya, dengan segera memberikannya sapu tangan yang diambil gadis itu tanpa penolakan.
"Pasti berat jadi Baekhyun. Dia harus kehilangan bayinya. Dan bahkan... bahkan kita masih belum tahu siapa ayahnya," isaknya, tidak berusaha menahan diri. "Aku tidak tahu bagaimana dia akan bertahan. Aku membenci manajemenku sendiri untuk ini, tapi aku lebih benci pria berengsek -ku terlalu baik untuk menghadapi masalah semengerikan ini!"
Semua orang—hampir semua—saling pandang dalam diam. Diam-diam menyetujui ucapan Junmyeon, yang meskipun terdengar kejam, mereka tahu ia benar. Tidak ada seorang pun yang dapat membayangkan jika hal serupa terjadi pada mereka. Industri musik, terutama Kpop itu tidak mudah, mereka tahu itu dengan pasti. Buatlah kesalahan sedikit saja, dan kau akan hancur lunak sampai ke tulang-tulang.
"Mungkin ada hal positif dari semua ini," Yixing bergumam pelan setelah lagi, kesunyian yang tidak menyenangkan mengisi jeda di antara pembicaraan mereka.
Semua orang berganti menatap pria itu sekarang. Yixing tahu kenapa, dan sebagian dirinya pun terasa ingin memukulkan kepalanya sendiri ke dinding karena telah mengucapkan hal semacam itu. Ia sayang Baekhyun. Gadis itu sudah seperti adik baginya. Hal positif, ia bilang? Ia hampir tidak bisa menyebutkan apapun hal mengerikan yang berhubungan dengan gadis kesayangannya itu adalah sesuatu yang positif. Tapi ia punya alasan, tentu saja.
"Setidaknya dia mungkin saja tidak jadi dikeluarkan dari kelompok," ujarnya, telah mendengar semua cerita soal rencana keluarnya Baekhyun dari kelompok yang dikatakan oleh Manager Kim beberapa saat lalu. Manager Kim mendongak dan menatap Yixing lebih lekat dari sebelumnya, mengerti maksud Yixing, dan hampir bisa menebak apa yang akan dikatakan pria berambut cokelat terang itu selanjutnya. "Dan publik yang tadi mencaci-makinya mungkin akan berhenti dan menjadi bersimpati. Tapi tetap saja ini adalah hal berat."
Lalu, semua orang seolah larut dalam keheningan. Seolah keheningan dan mereka tidak isa dipisahkan. Tidak ada lagi yang bicara, masing-masing menyadari bahwa diam saja cukup untuk menujukkan perasaan mereka.
Chanyeol berdiri di tempatnya, di pojokan, di belakang yang lain. Cukup dekat untuk dijangkau, namun cukup jauh sekedar untuk mengasingkan diri. Mengepalkan tangan, ia merasakan keinginan kuat di seluruh sendi tubuhnya untuk kabur sejenak, lalu menghempaskan kepalanya ke rel kereta, atau berteriak dan menangis kencang. Rasanya itu lebih baik ketimbang ditenggelamkan oleh rasa bersalah seperti sekarang. Dan ia masih tidak tahu harus bagaimana. Bahkan jika ia menangis dan bersujud pada semua orang... bayi itu tak akan kemali. Bayinya tak akan pernah kembali.
Fakta yang membuat sebagian besar dirinya mati rasa. Lumpuh.
Derit pelan pintu kamar di samping mereka yang tiba-tiba memenuhi pendengaran menjadi berkali lipat terdengar leih keras. Orang tua Baekhyun dan seorang pemuda seumuran mereka, Byun Baekbeom memaksakan diri tersenyum pada semua orang. Terlihat canggung dengan bagaimana sembabnya wajah mereka.
"Kurasa... kalian juga perlu melihatnya. Noona sudah sadar."
Gilanya, Chanyeol harus berpura-pura tetap waras saat semua alasan agar ia masih waras itu satu persatu meninggalkannya. Chanyeol masih diam di tempatnya saat semua orang beralih ke pintu, beberapa masuk lebih dulu. Ia diam, melalui kaca sempit yang membatasi ruangan, ia dapat melihat Baekhyun terbaring di dalam sana. Mengingatkannya pada Baekhyun saat ia pertama melihatnya, begitu ceria, begitu polos, begitu bersinar... Dan hari ini semua itu lenyap. Hanya ada gadis itu yang tampak begitu rapuh dan pucat. Dan semua itu salahnya.
Chanyeol menggeleng. Tidak... tentu saja tidak bisa. Ia tidak bia menemuinya lagi. Ia tidak pantas menemuinya. Ia... tidak akan pernah bisa menampakkan dirinya di depan gadis itu lagi.
'ㅅ'
Baekhyun melihat sekelilingnya. Orang-orang terus berdatangan, dan gerombolan yang terakhir barusaja keluar. Baekbeom, kakaknya, dan orang tuanya mungkin akan kembali segera. Namun saat ini ia sendirian. Dan tubuhnya terasa kebas.
Satu kenyataan memukulnya telak di kepala beberapa saat lalu. Ketika ia sadar dan pikiran tentang bayinya adalah yang pertama kali memenuhi benaknya. Bercampur dengan satu perasaan gelisah yang ia tidak tahu darimana asalnya. Seolah... sesuatu yang buruk telah terjadi, hanya tinggal menunggu waktu sampai ia tahu.
Dan ia mengetahuinya lebih cepat dari yang dirinya atau siapapun duga.
"Ae...gi[1]?" Karena kata itu yang pertama kali ia ucapkan, dengan suara serak yang tidak ia kenali.
Lalu serta merta, airmata di pipi Ibunya yang sempat mengering, kembali mengucur. Deras. Detik itu, bahkan sebelum siapapun memberitahunya. Ia sudah mengetahui kebenarannya. Bayi itu sudah tidak bersamanya.
Awalnya tidak terasa apa-apa. Ia pikir akan sakit. Tapi yang terasa justru kebas. Menyadari bayi yang sudah bersamanya selama hampir tiga bulan, sekarang tidak ada. Rasanya paling tidak sama seperti—kalau tidak lebih mengerikan dari seseorang mengatakan bahwa hidupnya akan berakhir bersebentar lagi. Kemudian mengetahui bahwa... ayah bayi itu bahkan tidak datang. Chanyeol tidak datang. Tidak pernah, meskipun Baekhyun menunggu. Pria itu... tidak peduli untuk sekedar datang.
Ia berharap ia dapat merasakan sakit. Karena tidak merasakan apa-apa... terdengar lebih menyedihkan untuknya. Ia ingin sakit yang parah. Ia ingin... bisa menangis.
Tapi Chanyeol sudah membuat keputusan yang benar, Baekhyun tahu itu. Ia meyakinkan diri sebaik mungkin bahwa itu yang terbaik bagi mereka berdua. Kembali seperti semula. Bersikap saling tidak mengenal. Karena... sudah tidak ada lagi penghubung di antara mereka. Keduanya bebas sekarang. Semuanya akan kembali sama saja dengan beberapa bulan lalu, sebelum ia bertemu Chanyeol. Semua orang meyakinkannya begitu. Bahwa ia masih dapat menyanyi, bahwa ia masih dapat berdiri bersama anggota lainnya. Bukti itu telah menghilang, skandal itu lenyap begitu saja. Agensi dapat membersihkan namanya, dan semuanya akan kembali seperti semula.
Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Mungkin.
Kecuali... ada perasaan sakit yang muncul pelan-pelan dan mendadak berubah tidak tertahankan di dalam hatinya yang tidak bisa ia bohongi. Dan airmata yang detik itu mulai menuruni wajahnya, tidak bisa ia hentikan. Itu, adalah hal yang membedakan dulu dan sekarang.
'ㅅ'
Kim Jongdae hampir saja terlompat dari kursinya dan memuntahkan roti isi yang ia makan begitu pintu apartemen kecilnya dibuka dengan tingkat energi berlebihan. Ia yakin tadi ia ingat untuk mengunci pintu setelah menaruh sepatu di rak dan menggantung mantelnya—sebelum akhirnya beranjak ke dapur dan memutuskan memakan apa yang ada di kulkas sambil menonton televisi di ruang tengah—ia orang yang cukup teratur untuk melakukan hal-hal seperti itu.
Lagipula jika itu pencuri, suara berisik yang ditimbulkan terlalu mencolok. Namun Jongdae tetap berusaha waspada. Meskipun kemudian pikirannya berakhir pada satu kemungkinan: hanya ada satu orang di dunia ini yang memegang kunci apartemennya selain dirinya sendiri.
Dan sebelum Jongdae menyebutkan namanya dalam hati, orang yang dimaksud sudah tahu-tahu muncul di depannya. Langkahnya terburu-buru, napasnya sedikit tersengal dan matanya melebar dengan sorot mematikan. Ia berdiri di depan Jongdae dan menahan napas pria itu. Kadang, Jongdae merasa lebih baik jika ia tidak pernah tahu bagaimana jika Kyungsoo sedang marah, sehingga ia tidak perlu merasa se-terancam seperti saat ini.
"Kyung? Ada apa malam-malam kau ke sini?" tanyanya, memalsukan sebuah tawa garing dengan percobaan yang payah. Itu tidak membantu sama sekali.
Sebagai balasan, Kyungsoo hanya menatapnya dengan lebih mengerikan. Sambil menghela napas cepat dan menyedekapkan tangan,ia berkata dengan tidak sabar. "Beritahu aku dengan jujur." Gadis itu menyipitkan mata dan menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya. "Kau, kan, yang melakukannya?"
"Apa yang kau bicarakan?" Jongdae menaikkan alis dan meletakkan kembali roti di tangannya ke atas meja.
"Kau tahu apa."
"Jangan bertele-tele, Kyungsoo. Apa maksudmu?"
"Kau yang bertele-tele." Kyungsoo menurunkan tangannya yang bersidekap dan menghela napas. Astaga, ini menguras energinya. Ia menatap Jongdae dalam-dalam dengan kedua matanya yang tajam. Sesaat setelahnya, tatapan itu beralih pada tumpukan majalah di bawah meja. Ia membongkarnya asal-asalan, mengeluarkan salah satu yang ia cari dan mengacungkannya di depan hidung Jongdae. "Gosip antara Chanyeol dan aku. Foto kami berdua. Dispatch. Ini hasil perbuatanmu, kan?"
Tatapan Jongdae menggelap. Untuk sesaat, ia terpaku pada tatapan gadis itu, mengabaikan nama Chanyeol dan Kyungsoo yang menjadi headline di sampul majalah. Ia membuka mulut dan menutupnya kembali tanpa mengatakan apa-apa, sampai akhirnya berdecak dan menurunkan pandangannya. Namun, ia tidak menyangkal.
"Kupikir itu yang kau inginkan."
"Apa?" Kyungsoo menatap tak percaya, sebelum menggeleng, menyembunyikan rasa terhinanya. "Well, ia tidak menyukainya. Ia mendampratku dan mengatakan ia sangat terganggu dengan berita itu. Seolah... seolah aku ini gadis jalang yang mati-matian menginginkannya! Yang benar saja! Aku tidak seperti itu! Bahkan ketika di Home Sweet Home, aku tidak meminta bertukar posisi dengan Baekhyun eonni padahal aku melihat mereka dekat, aku hanya bertukar dengan Lay Oppa supaya aku juga bisa dekat dengan Chanyeol. Aissh."
"Karena itu, aku melakukan hal benar, kan? Ia sekarang dikejar-kejar wartawan dan tidak bisa begitu saja mengabaikannmu, ia pantas mendapatkannya."
"Manager Kim!"
"Kusarankan mulai sekarang kau berhenti saja menyukainya—"
"Jangan coba-coba mencampuri urusan pribadiku—"
"—karena menurutku dia bukan pria yang layak—"
"Oppa!"
Jongdae menelan kembali setiap kata yang hampir keluar. Ia berdiri, menatap Kyungsoo dengan tatapan hampir tidak percaya, namun kesulitan untuk tidak menunjukkan rasa senangnya. "Apa kau bilang tadi?"
"Oppa...," ulang Kyungsoo parau dan lirih, bibirnya menipis. Ekspresinya menunjukkan seakan-akan kata itu sangat janggal untuk keluar dari bibirnya, dan memang kenyataannya begitu. Ia selalu beranggapan panggilan Oppa itu menjijikkan, jadi ia tidak mau repot-repot menyebut kata terlarang itu meski demi kesopanan.
Ia tidak pernah memanggil Jongdae dengan sebutan Oppa kecuali dulu, itupun terpaksa karena ada sesuatu yang sangat penting yang ia minta. Jadi, satu kata itu berhasil mengejutkan Jongdae dan dirinya sekaligus. Terutama dengan tambahan nada putus asa yang terkandung di dalamnya.
"Oppa, kau membuatku jadi orang paling kejam sedunia." Kyungsoo mendongak demi mempertemukan tatapannya dengan Jongdae. Tatapan itu leih mengejutkan Jongdae dari apapun, bahkan dari sekedar ia yang tahu-tahu mendobrak masuk. Karena Jongdae menemukan luka di sana. Kyungsoo adalah gadis yang tomboy, kuat, keras kepala, dan benci dengan hal-hal berbau cengeng. Mata yang terluka dan seorang Kyungsoo benar-benar bukan pasangan serasi, dan Jongdae benar-benar tidak ingat melihatnya.
"Baekhyun eonni mengandung anaknya," lanjutnya pelan, kesulitan memilah kata-kata. Nadanya rendah, lalu pelan-pelan meninggi. "Anak yang ada di perut Baekhyun eonni itu anak pria brengsek itu, kau tahu? Dan aku dikabarkan berkencan dengannya. Bisa kau bayangkan perasaan Eonni? Sekarang ia bahkan keguguran. Aku harus bagaimana, Oppa? Aku tidak bisa mengembalikan bayinya. Aku bahkan... aku bahkan tidak bisa sekedar mengatakan apa-apa. Mengatakan bahwa ini salahku. Mengatakan kebenarannya! Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku terlalu pengecut, Oppa. Aku jahat. Aku—" Airmata mulai mengalir di pipi Kyungsoo saat ia memukul dada Jongdae, melimpahkan segala perasaan marahnya pada pria itu, seperti yang selalu ia lakukan sejak kecil. Dan seperti selalu, pria itu hanya diam merasakannya. Ia menatap langit-langit dan menolak untuk menatap Kyungsoo. Bahkan melihat saja Kyungsoo yang dalam keadaan sekarang saja ia hampir tidak bisa. Ia ingat gadis itu tidak pernah menangis. Ia tidak menangis saat jatuh dari sepeda atau jatuh saat memanjat pohon di depan rumahnya. Ia hanya menangis saat ibunya meninggal, dan saat ini.
Kyungsoo yang sekarang tampak begitu lemah. Tidak seperti Kyungsoonya.
Dan salah satu yang menyebabkan gadis itu menangis adalah... dirinya. Ia pantas dipukul. Jadi ia diam saja dan merasakannya. Tapi gadis itu terus menangis dan Jongdae tidak dapat lagi menahan diri untuk tidak memeluknya.
"Maaf, Oppa memang Kakak Sepupu yang buruk, kan? Oppa hanya tidak ingin kau diperlakukan tidak adil. Oppa akan menebus kesalahan Oppa, huh? Oppa akan melakukan segalanya. Apa saja. Biar Oppa yang melakukannya untukmu. Oppa berjanji."
'ㅅ'
A/N: Pasti makin sebel ya sama Chanyeol- anyway jika berkenan, cek ff baru aku, The Dawn.
