Chanyeol/Baekhyun
Genderswitch
.
"Bayi itu, ada tidaknya... akan selalu menjadi benang merah di antara kita."
Chapter 18
.
Hanya memerlukan waktu dua hari untuk mengundang seluruh wartawan dalam sebuah konferensi pers dan apa yang mereka perintahkan pada Chanyeol untuk 'menyiapkan diri'. Seluruh pertanyaan sudah dikronologiskan dan jawabannya telah diaturkan untuk membersihkan nama sang rapper dari skandal. Chanyeol hanya perlu menghafalnya, dan menjawab senatural mungkin.
Dan Chanyeol melakukannya.
Ia tidak tahu kenapa ia mempersiapkan diri atau kenapa ia, pada hari ini, hanya beberapa menit sebelum konferensi di mulai, berdiri di sini. Di depan ruang konferensi sambil memegangi handle pintu. Selama dua hari, ia melakukannya seperti robot. Hatinya terus berteriak bahwa bukan ini yang ia inginkan atau yang harus ia lakukan, tapi ia hampir tidak mendengarnya, ia hanya melakukannya.
"Kau pasti takut." Seseorang bergumam di sampingnya. Chanyeol menoleh, mendapati Kyungsoo, gadis yang direncanakan akan bekerja sama dengannya dalam semua ketidak-masuk-akalan ini, tengah menatapnya dengan pandangan mencemooh.
"Huh?"
"Aku bisa melihat tanganmu gemetar."
Mengikuti komando tidak langsung Kyungsoo, Chanyeol menatap tangannya sendiri, dan segera menariknya ke sisi tubuh sebelum bisa memastikan apakah ia benar gemetar atau hanya olok-olok Kyungsoo saja. Ia tahu Kyungsoo benar: ia takut. Takut sekali.
"Lalu kenapa kau di sini?" Chanyeol balik bertanya. Ia memutar tubuhnya, sekiranya dapat berhadapan langsung dengan tubuh ramping Kyungsoo.
"Huh?" Kyungsoo membeo kebingungan pertama Chanyeol.
"Kenapa kau mau mendukung semua omong kosong ini?"
Tidak ada jawaban langsung dari Kyungsoo, karena Manager Chanyeol telah masuk di antara mereka, mendorong pintu dan bertanya, "kenapa kalian masih belum masuk? Acara segera dimulai!" yang membuat keduanya tidak bisa apa-apa selain mengekor masuk untuk menempati tempat duduk yang telah di sediakan. Ketika Chanyeol mendudukkan diri di salah satu kursi dingin dari barisan empat buah kursi yang ada, ia menyadari ada terlalu banyak kursi di depannya untuk ditempati para wartawan nanti. Terlalu banyak rasanya untuk bisa ia tangani dengan benar.
"Aku... mungkin tidak akan bekerja sama denganmu, Chanyeol-ssi."
Chanyeol menoleh pada Kyungsoo. Gadis itu menyambung pembicaraan mereka yang tadi. Dan anehnya, kalimat gadis itu tidak mengejutkannya sama sekali.
"Aku tidak peduli lagi dengan karirmu, nama ayahmu atau apapun itu," lanjut Kyungsoo. "Aku mungkin akan mengatakan kebenarannya. Jadi bersiaplah."
"Yah, kumohon lakukan," Kyungsoo terkejut pada tanggapan Chanyeol. Manik matanya bergegas mencari tatapan Chanyeol, dan yang ia temukan hanya sepasang mata sayu berkantung yang menatap tanpa harapan meja di depannya. Tidak seperti Chanyeol yang dulu-dulu. "Karena selama ini aku tak pernah bisa mengatakannya. Aku terlalu takut. Jadi kumohon... bantu aku."
Ada nada putus asa dalam suara Chanyeol yang membuat Kyungsoo ingin menamparnya, sekaligus memeluknya. Pria manja berbadan raksasa ini. Seolah... ia hampir kehabisan napas untuk hidup, dan harus bergantung pada orang lain—dalam kasus ini, pada Kyungsoo—agar bernapas untuknya. Agar menyokongnya.
Kyungsoo membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, yang segera ia lupakan tepat ketika kerumunan wartawan telah dipersilahkan masuk, menduduki jajaran bangku kosong di depan ia dan Chanyeol. Ada banyak sekali wartawan yang datang hingga tidak menyisakan kursi kosong. Sebagian malah, terpaksa berdiri di belakang. Mereka semua menatap dua idol itu seolah mereka adalah orang paling berdosa sedunia, atau hanya perasaannya saja. Yang jelas, ia di sini, hanya bersana si pengecut payah Park Chanyeol. Hanya berdua. Tanpa managernya yang biasanya selalu ada. Mendadak Kyungsoo merasakan rasa gugup mencengkeram paru-parunya hingga menyulitkannya untuk menghirup udara.
"Baiklah. Langsung kita mulai saja," kata Manager Chanyeol, Kim Jongdae yang berdiri di depan, menghadap semua hadirin. "Tujuan para rekan wartawan dikumpulkan di tempat ini adalah untuk konferensi pers. Dimana pihak yang terlibat, Chanyeol, Kyungsoo, dan dalam hal ini Baekhyun tidak dapat berhadir karena masih dirawat di rumah sakit. Saya kira dua orang ini akan mampu memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kalian skealigus memberikan klarifikasi tentang apa yang sebenarnya terjadi. Baiklah, silahkan kepada yang ingin bertanya lebih dahulu."
Ada beberapa tangan berlomba untuk bertanya. Kyungsoo menatap Chanyeol di sisinya, yang berpura-pura memasang wajah tanpa ekspresi. Sementara tangannya gemetar hebat. Hampir sama seperti tangannya. Ugh, berengsek! Ia tidak suka situasi ini. Bahkan ia bukan pemain utama, tapi situasi ini benar-benar... berlebihan. Mungkin dengan cara ini ia bisa mengerti bagaimana seandainya berada di posisi Chanyeol?
"Saudara Park Chanyeol. Apakah anda cukup dekat dengan Byun Baekhyun."
Chanyeol diam menatap mereka. Tampak seperti... kehilangan akal, kehilangan bagian dari dirinya. Ia menatap para wartawan seperti orang idiot.
"Apakah anda berkencan dengan Byun Baekhyun sebelumnya?"
"Park Chanyeol. Sebenarnya kau berkencan dengan Byun Baekhyun, Kyungsoo, atau keduanya?"
"Park Chanyeol, tolong jawab kami."
Suara mereka ribut, berdengung di telinga Chanyeol. Namun hampir tak satupun bisa otaknya proses.
"Kyungsoo-ssi. Apa benar kau berkencan dengan Park Chanyeol?"
"Huh?" Kyungsoo ikut tergagap hampir sama bodohnya dengan Chanyeol. Para wartawan itu sekarang beralih menatap antusias padanya. Mereka mengincarnya seperti komplotan hyena kelaparan.
"Apakah terjadi cinta segitiga di antara kalian?"
"Uh? Itu... tidak. Bukan seperti itu."
"Lalu bagaimana? Bisa anda jelaskan? Apakah anda memang berkencan dengan Park Chanyeol, atau itu Byun Baekhyun?"
Kyungsoo melirik Chanyeol. Pria itu tampak bisa lumpuh kapan saja. Dan semarah-marahnya ia pada kepengecutannya, ia tidak bisa untuk tidak mengasihani pria itu, entah bagaimana. Setidaknya ia harus berbicara lancar, menuruti skenario ini.
Berkali-kali meminta maaf pada Baekhyun dalam hatinya sebelum membuka mulut, Kyungsoo membuka bibirnya yang gemetar.
"Yeah. Itu aku. Aku yang berkencan dengan—"
"Aku yang menghamilinya."
Serentak, dengungan itu berhenti mendadak. Meninggalkan suasana yang teramat sunyi di ruangan luas itu. semua orang menatap Chanyeol, meragukan apa yang barusan mereka dengan karena suara Chanyeol tercampur dengan suara riuh lainnya.
"Byun Baekhyun..., "Chanyeol mengulang, memperjelas. "Benar aku pernah berkencan dengannya. Dan benar, aku yang menghamilinya. Aku... aku adalah ayah dari bayi itu, dan bayi itu adalah darah dagingku."
Sunyi itu kian menjadi-jadi, sebelum bisik-bisik amat pelan mulai terdengar. Semua orang masih mengantisipasi kalimat selanjutnya. Sementara Kyungsoo menatap Chanyeol dengan mata melotot tak percaya. Apalagi managernya, dan semua orang di belakang layar. Ini jelas berbanding terbalik dengan skenario yang mereka buat.
"Semua ini salahku. Semuanya. Jika saja malam itu aku tidak mabuk, dan kebetulan bertemu dengannya... Byun Baekhyun pasti masih baik-baik saja sampai sekarang. Seandainya saja aku tidak pernah masuk ke hidupnya dengan cara yang seperti ini, ia tidak perlu menderita seperti sekarang. Kami... awalnya hanyalah dua orang yang tidak saling mengenal. Kemudian bayi itu hadir begitu saja. Bayi itu... yang membuatku mulai mengenalnya. Bayi itu yang mendekatkan kami. Bayi itu juga yang... membuatku jatuh cinta padanya, Byun Baekhyun. Tapi aku hanyalah pria berengsek yang tidak pantas bahkan untuk meminta maaf padanya. Aku memberikan semua beban ini untuk ia tanggung sendiri. Dan kemudian, karena kesalahanku... bayi itu lepas dari genggaman kami."
Sebulir airmata mengalih dari pelupuk mata Chanyeol. Ia bahkan mungkin tidak menyadarinya. Ia meneruskan dengan suara gemetar. Menatap kamera yang saat itu meliputnya dalam sebuah siaran langsung.
"Baekhyun. Apa yang harus kukatakan? Aku ingin minta maaf... tapi aku tahu aku sudah tidak termaafkan."
Dua bulir airmata. Chanyeol mulai merasakan gangguan pada pernapasannya.
"Aku berjanji, dan selalu berjanji untuk bertanggung jawab, kan? Aku ingin menepatinya, Baekhyun. Aku pasti akan menepatinya. Ada.. atau tidaknya bayi itu. Bagiku, bayi itu—bayi... kita, akan selalu ada, dia akan selalu hidup dan menjadi benang merah kita berdua.
"Baekhyun... Aku ingin menikahimu. Apapun keadaannya. Aku ingin menjadi ayah yang baik, suami yang baik. Dan itu denganmu."
Ia menyeka airmata dan mungkin cairan di hidungnya dengan tidak tahu malu. Lalu tertawa sendiri, menyadari betapa konyolnya ia—ucapannya tadi.
"Aku tahu, aku benar-benar tidak tahu diri. Tapi aku benar-benar ingin menikahimu dan menjadi ayah yang legal untuk bayi kita. Aku benar-benar minta maaf. Aku... aku mencintaimu."
'ㅅ'
"Berengsek!"
Yixing meninju Chanyeol tepat di wajah tepat setelah pria itu—sebagai orang terakhir yang meninggalkan ruangan—keluar dan menampakkan dirinya di balik pintu ruang konferensi. Tindakan itu membuat kaget semua orang di sekitar, termasuk manager mereka, dan anggota Sixey yang lain, beruntung, tidak ada wartawan yang masih tinggal yang dapat menjadikan hal ini bulan-bulanan gosip mereka berminggu-minggu.
Chanyeol terjatuh, segera setelah pukulan keras itu bersarang di rahang kirinya, membuatnya terhuyung ke belakang dan tidak sempat berpegangan pada apapun. Rasa sakit yang parah di wajah menyusul kemudian.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Baekhyunku huh?!" Yixing membabi buta ke arah Chanyeol, menarik kerah bajunya. Dan selanjutnya, satu pukulan yang sama di tulang pipi kanannya.
Beberapa orang berusaha menjauhkan Yixing dari usahanya terus memukul Chanyeol. Setidaknya ada dua orang, Kris dan Sehun yang memeganginya erat, mencegah Yixing memukul Chanyeol lebih jauh. Bagaimanapun, pria itu sudah terkapar di lantai tanpa bisa bangkit.
Jongin yang kemudian membantunya bangkit duduk. Chanyeol hanya diam pasrah, mengelap darah di sudut bibirnya yang pecah dan tidak menujukkan tanda-tanda untuk melawan.
"Dia itu gadis yang sangat manis!" Satu pukulan di hidung.
"Dia juga sangat rajin dan bekerja keras!" Satu pukulan kembali di rahang kanan.
"Dia sangat ceria!" Kali ini mata kanan.
"Dia polos!" Mata kiri, hampir. Kris memegangi lengan Yixing dengan kuat, memaksanya berdiri dan menjauh dari Chanyeol yang hampir tidak sadarkan diri.
Hal itu memberi waktu bagi Chanyeol untuk memulihkan diri barang sebentar. Ia berusaha duduk semampunya, dengan dadanya yang terasa terbakar, ia masih membuat semua orang terkejut dengan ucapannya.
"Biarkan saja, hyung,"gumamnya pada Kris dan yang lain. "Lepaskan Yixing hyung, aku memang pantas dipukul. Aku pantas menerimanya."
Semua orang, tentu saja, tersentak dengan kalimat itu. Kris mengendorkan pegangannya, yang berarti kesempatan lolos bagi Yixing yang segera menyerang Chanyeol kembali dengan pukulan-pukulan di wajahnya. Kali ini, tidak ada seorang pun yang menghentikannya. Tidak juga Chanyeol. Atau Kyungsoo yang diam saja di sisi Chanyeol, bahkan setelah Yixing bosan dan meninggalkannya, diikuti yang lain.
Kyungsoo mendecih, tidak tahu harus merasa marah atau kasihan. "Tsk. Kau memang pantas mendapatkannya, Chanyeol-ssi," gumamnya lirih pada akhirnya sambil mengulurkan sapu tangannya untuk menyeka darah di wajah Chanyeol.
'ㅅ'
A/N: Hmm jadi iya, sih, Chanyeol itu memang karakternya pengecut. Karena masuk akal aja menurutku, dan cocok aja sama Chanyeol. Menurut aku itu realistis di dunia per-idolan. Tapi, moga abis ini nggak benci Chanyeol lagi ya.
