Welcome back, savage family!
Gak tau kenapa gak tega ngasih adegan NC :(
Mengotori kesucian keluarga bejat ini :(
.
.
.
eh, alasan pake nama korea dari Jackson soalnya aneh aja kalo tiba-tiba ada nama Jackson disaat lainnya korean dan calon adiknya aja Jiwon namanya. nyahaaa~
aku tau ffn lagi gabisa baca review, tapi tetep review ya guys :3
ENJOY!
.
.
.
"MAMAAAA!"
Baekhyun menoleh ketika Dokjun berlari ke arah dengan wajah memerah dan menangis. Di belakangnya muncul seorang remaja laki-laki yang tertawa terbahak-bahak. Seperti biasa, Taehyung menggoda adik lelakinya hingga menangis. Jika sudah begini, Baekhyun tidak tahu harus berbuat apa. Disisi lain, dia terbantu dengan adanya Taehyung di rumah, tapi sebaliknya, jika sudah muncul sikap jahil dari anak sulungnya itu, maka Dokjun akan mengadu padanya dan membuat pekerjaannya terbengkalai begitu saja.
"Taehyung-ah, astaga! Jangan mengganggu adikmu!" seru Baekhyun yang menjadi tempat berlindung Dokjun—anak itu bersembunyi di sela-sela paha Baekhyun.
Taehyung terkekeh, "Maaf, Ma," dia berjongkok dan menyejajarkan dirinya dengan Dokjun, "Dokjunnie, Hyung is sorry." Ucapnya.
Taehyung berusaha membujuk adiknya dengan memegang pundaknya. Tapi, mungkin, karena Dokjun masih merasa kesal dengan kakak lelakinya, maka dia menangkis tangan Taehyung. Melihat adiknya yang masih merajuk, Taehyung hanya tertawa dan merasa lebih gemas lagi.
"Dokjunnie, jangan begitu," Baekhyun menarik Dokjun dan membuat anak kecil itu menatap dirinya, "Hyung sudah meminta maaf. Dokjun harus bisa memaafkan Taehyungie Hyung." Ucapnya.
"Tapi Taehyungie Hyung menakut-nakutiku, Ma…" ujar Dokjun di jeda tangisannya.
Baekhyun melirik sinis pada Taehyung yang terkikik di sampingnya, "Sehabis ini tidak, Sayang."
Dokjun menoleh. Dia mendapati kakak lelakinya, yang sekarang duduk di samping ibunya itu tersenyum dengan wajah tidak berdosa. Mungkin untuk orang dewasa, wajah itu benar-benar menyebalkan, tapi bagi anak kecil seperti dirinya, mungkin akan berbeda.
"Janji, Hyung?"
Taehyung mengangguk, "Janji."
Dan dengan ucapan itu, acara rekonsiliasi antara Taehyung beserta adiknya selesai. Baekhyun terkadang tidak mengerti dengan kedua anaknya itu. Mereka akur, bahkan terlampau akur jika merencanakan sesuatu—terutama untuk mengacak-acak rumah dan itu membuat Baekhyun menyerah. Tapi mereka sering bertengkar. Bukan bertengkar karena Taehyung risih jika Dokjun terlalu banyak bertanya atau semacamnya, tapi lebih sering karena Taehyung yang ingin menjahili adik lelakinya.
Terkadang Baekhyun merasa bersyukur dengan sikap Taehyung yang seperti itu. Bukan jahilnya, tapi sifat dimana Taehyung yang selalu protektif pada adiknya. Padahal, jika dipikir-pikir lagi, Dokjun juga seorang anak laki-laki. Tidak bisa dibayangkan jika anak itu punya adik perempuan. Bisa-bisa, jika adiknya terjatuh dan terdapat luka di lututnya, Taehyung mungkin akan melarang adiknya untuk bermain selama-lamanya.
Esok hari, mereka berempat akan benar-benar bertolak ke Jeju. Sejenak Baekhyun menyesali ucapannya, karena sebelumnya, dia mengatakan jika mereka bisa berlibur ketika Taehyung sedang di skors begini. Tapi kegilaan Chanyeol sepertinya didukung oleh alam semesta, hingga Baekhyun sekarang sibuk untuk memasukkan semua pakaian mereka yang akan digunakan berlibur.
"Taehyung-ah!" panggil Baekhyun yang sekarang memasukkan pakaian renang milik Taehyung.
"Iya, Ma?" Taehyung berlari dari dalam kamarnya—karena dia dan Dokjun bergegas kembali ke kamar setelah akur, "Ada yang bisa aku bantu?" tanyanya.
"Bisakah kau membeli sunscreen di supermarket?" tanya Baekhyun.
Taehyung mengangguk, "Aku mengganti bajuku dulu!" serunya yang berlari kembali.
Tak lama kemudian Taehyung kembali dengan sebuah hoodie bergambar gitar dan celana jeansnya yang berwarna hitam. Cara berpakaian dari Taehyung sangat mirip dengan Chanyeol. Bahkan Baekhyun tidak perlu repot untuk membelikan mereka hadiah ulang tahun—karena tidak akan jauh dari jaket ataupun sneakers baru.
"Uangnya, Ma?" tanya Taehyung.
Baekhyun mengacungkan sebuah kartu pada Taehyung, "Beli yang berukuran sedang saja. Seperti yang kau tumpahkan dulu."
Taehyung memicingkan kedua matanya, "Selalu membahas itu."
"YA! Kau pikir sunscreen berharga murah? Dan ketika Mama baru—"
"—baru memakainya dua kali dan kau sudah menumpahkan semua isinya," Taehyung memutar kedua bola matanya, "see? Bahkan aku sudah hafal dengan kalimat apa yang akan Mama ucapkan karena Mama selalu mengatakan hal itu."
Baekhyun mendesis, "Sudah pergi sana!"
Taehyung mengangguk sebelum berbalik. Dan ketika anak lelaki itu sudah bersiap, dia dihadang oleh adik lelakinya yang dengan mata berkaca-kaca untuk mencegahnya pergi. Ketika mendapati adiknya yang ingin mengikutinya, Taehyung hanya bisa menoleh ke arah ibunya.
"Dokjunnie, di rumah saja."
"Tidak mau! Dokjunnie ingin pergi bersama Taehyungie Hyung!"
Taehyung terkekeh, "Biarkan saja, Ma," dia membungkuk dan mengacak-acak rambut adik lelakinya, "Ayo ganti bajumu. Lalu kita pergi!"
Dengan sebuah teriakan, Dokjun berlari kembali ke kamarnya. Taehyung hanya bisa terkekeh ketika melihat tingkah adik lelakinya itu. Dia tidak pernah kerepotan untuk mengasuh sang adik, karena dia tahu, Dokjun selalu menuruti apa yang ia katakan. Bahkan lebih menurut dengan ucapannya daripada ucapan Baekhyun—terkadang.
Baekhyun menghentikan aktivitasnya dan berjalan menuju arah Taehyung yang sekarang menunggu adiknya berganti pakaian. Taehyung tidak membantu adiknya, dia berkata itu akan membuat Dokjun menjadi lebih mandiri—padahal ketika Taehyung berusia sama dengan adiknya, Taehyung tidak pernah mau memakai baju jika tidak disiapkan terlebih dahulu.
"Jangan membelikan Dokjun makanan yang macam-macam." Ucap Baekhyun sembari membetulkan hoodie Taehyung yang terselip pada bagian punggungnya.
"Iya, Ma. Aku mengerti."
"Jika dia meminta makanan, belikan saja susu atau roti. Kau tahu sendiri, tenggorokannya akan cepat gatal jika makan makanan ringan."
"Iya, Ma. Aku tahu," Taehyung tersenyum dan membalikkan badannya, "Mama tidak perlu khawatir. Aku bisa mengatasinya sendiri."
Baekhyun mengangguk dan mengacak-acak rambut anak lelakinya itu. Tanpa dia sadari, tinggi dari Taehyung sudah hampir sama dengan dirinya. Padahal, seingat Baekhyun, Taehyung adalah anak kecil yang selalu meminta untuk digendong olehnya. Sekarang, Taehyung malah bisa membantunya untuk mengasuh Dokjun, yang saat ini sudah siap dengan hoodie bergambar tokoh animasi kesayangannya.
Taehyung melihat adik lelakinya yang berlari ke arahnya tersebut, "Siap?" Dokjun mengangguk, "Let's go!" seru Taehyung sembari menggandeng tangan kiri dari adik lelakinya.
"Hati-hati! Langsung pulang kalau sudah selesai!" teriak Baekhyun yang bersandar pada bingkai pintu rumahnya.
"Siap, Ma!" balas Taehyung dan Dokjun secara bersamaan.
.
.
.
Chanyeol mengunyah camilannya sembari menunggu pertandingan sepak bola kesayangannya. Dia menunggu Baekhyun yang sedang sibuk di dapur hanya untuk membuat es cokelat—padahal Chanyeol sudah mengatakan tidak perlu membuat minuman tersebut. Mereka berdua akan melakukan ritual mereka sejak dulu, menonton pertandingan sepak bola ketika dini hari tiba. Mereka bahkan rela untuk menyalakan alarm agar terbangun. Apalagi pertandingan final begini, tentu mereka berdua tidak melewatkannya sama sekali.
Lelaki itu melihat Baekhyun yang membawa dua gelas es cokelat dan meletakkannya di meja. Setelah itu, Baekhyun mendudukkan dirinya di samping Chanyeol yang sedari tadi tidak mengalihkan perhatian darinya tersebut. Merasa diamati sedari tadi, Baekhyun menoleh dan mengerutkan alisnya.
"Ada apa?" tanya Baekhyun dengan nada ketus.
Chanyeol mengangkat jari telunjuk dan memutarnya, "Putar badanmu. Hadapkan punggungmu padaku."
Walaupun tidak mengerti, Baekhyun menurut dan memutar badannya, "Apa yang akan kau lakukan, Park?" tanyanya.
"Hish, cerewet! Diam saja!" Chanyeol meraih ikat rambut yang ada di rambut Baekhyun dan melepaskannya, "Begini lebih baik." ucapnya.
Baekhyun mengembalikan dirinya pada posisi semula, "Kenapa kau melepaskan ikatan rambutku?"
"Because… this is better. Aku lebih suka jika kau menggerai rambutmu."
Baekhyun terkekeh, "Kenapa begitu?" ucapnya dengan harapan Chanyeol akan memujinya.
"Kalau kau mengikat rambutmu, kau terlihat jantan."
Senyum Baekhyun memudar dan berubah dengan mata yang mendelik. Suaminya selalu begitu, mengatakan hal yang nonsense dan bahkan dengan bangganya. Seperti sekarang, Baekhyun yang menampakkan wajah kesal itu dibalas dengan tawa tanpa dosa dari Chanyeol. Baekhyun tidak bereaksi, dan membiarkan Chanyeol malu dengan sikapnya. Atau mungkin sebaliknya.
"Jangan marah begitu." Ujar Chanyeol yang kemudian mengecup pipi Baekhyun.
"Kalau kau bukan suamiku, kau mungkin sudah mati di tanganku."
Chanyeol terkekeh, "Aku hanya bercanda, Baek. Aku memang menyukai rambutmu yang tergerai. Karena kau terlihat lebih cantik jika begini."
"Kau berbohong."
"Iya, memang sih aku berbohong. Tapi bukan berarti—"
"Chanyeol!"
"Apa, Cantik?"
Baekhyun melirik dengan tatapan ganasnya, "Aku ingin membunuhmu, sungguh."
"Kalau kau membunuhku, bagaimana dengan nasib anak-anak kita?"
"Terserah kau saja."
Chanyeol tersenyum sebelum mengangkat lengan kanannya dan melingkarkannya di pundak Baekhyun. Dia mendorong tubuh perempuan itu agar lebih dekat dengannya. Jika sudah begini, mereka akan diam dan menikmati pertandingan sepak bola—dalam keadaan damai, tentram, aman. Mereka juga berusaha untuk tidak gaduh, selain agar kedua anaknya yang sedang tidur tidak terganggu, tapi agar tidak ditegur tetangga mereka—yang pernah terjadi ketika keluarga itu baru pindah kesana.
15 menit kemudian, Baekhyun menemukan dirinya menyandarkan kepala di pundak Chanyeol. Lelaki itu menyisir rambutnya perlahan—karena sudah menjadi kebiasaannya. Sesekali mereka mengumpat ketika striker Real Madrid itu tidak melakukan penyelesaian dengan benar. Mereka masih mempunyai kebiasaan itu, sebuah kebiasaan yang entah bagaimana cara menghilangkannya. Saat ini tangan Chanyeol berpindah obyek. Tangan raksasa itu mencubit pipi Baekhyun berkali-kali hingga akhirnya menghasilkan sebuah pukulan di perutnya. Baekhyun selalu begitu, jika Chanyeol dirasa sudah berlebihan, maka hukuman fisik akan menyerang.
Pertandingan menyisakan lima menit sebelum turun minum. Baekhyun yang sekarang sudah menegakkan badannya itu sibuk menyesap es cokelat yang ia buat sebelumnya. Sedangkan Chanyeol sendiri masih menyisir helai rambut Baekhyun. Chanyeol mengaku itu menjadi kebiasaannya setelah menikah dan cenderung parah. Jika dulu dia mengendus rambut Baekhyun, sekarang dia menyisir. Maka dari itu, dia sama sekali tidak menyukai rambut Baekhyun yang terikat. Walaupun Baekhyun sering mengeluh dengan alasan udara yang panas, Chanyeol akan bersikukuh untuk melepas ikat rambut Baekhyun. Bahkan dulu, pernah, Chanyeol menyembunyikan semua ikat rambut Baekhyun hanya karena dia tidak suka melihat istrinya beraktivitas dengan rambut yang terikat.
"Tak kukira pemain baru bermain itu bagus." Ucap Chanyeol ketika istirahat turun minum berlangsung.
Baekhyun mengangguk, "Dia masih sangat muda. Masih banyak waktu untuk berlatih dan berkembang."
"Yup. Aku setuju," Chanyeol menoleh dan menyangga kepalanya dengan tangan sehingga menghadap ke arah Baekhyun, "Baek."
"Hm?"
"Apa anak-anak tidak pernah mengeluh kesepian?"
Baekhyun meletakkan gelas minumannya ke meja dan mendelik ke arah Chanyeol, "Bisakah kau menggunakan alibi lain untuk keinginan itu?"
"YA! Percuma! Aku menggunakan alasan lain pun kau pasti tahu apa latar belakangnya."
Baekhyun menghela nafasnya sebelum menyudutkan perhatian pada suaminya, "Apa kau tidak memikirkan Dokjun? Bukankah dia terlalu kecil untuk mendapatkan adik?"
"Begitukah? Hm…" Chanyeol berusaha menimang jawaban selanjutnya, "Tapi Baek, jika dia punya adik, dia akan lebih bertanggung jawab. Kau melihat sendiri perubahan dari Taehyung sebelum dan sesudah Dokjun lahir, bukan?"
"Tapi… Taehyung lebih dewasa saat itu!"
"Benar juga…"
Baekhyun menatap Chanyeol lekat-lekat, "Kau benar-benar menginginkan anak perempuan?"
Chanyeol mengangguk, "Bukankah akan sangat lucu? Dua anak laki-laki yang siap melindungi putri kecil di rumahnya—"
"Too much drama. Kau terlalu mendalami peranmu sebagai drama queen."
"Itu dirimu, Baek."
"Aku? Drama queen? Bagaimana bisa—"
Chanyeol tertawa dengan lepasnya, "Kau bukan drama queen. But you are my queen."
Jika biasanya seorang wanita akan tersipu dengan kalimat bualan seperti yang dilontarkan Chanyeol, maka Baekhyun sebaliknya. Setelah Chanyeol mengutarakan kalimat tersebut, dia menampakkan sebuah wajah penuh rasa jijik dan bahkan tidak bergerak dari ekspresi sebelumnya. Ia merasa lelaki yang di hadapannya itu patut dibuang di laut dan ditelan oleh ombak.
"I hate you." Ucap Baekhyun dengan lirikan mautnya.
"Kau membenciku tapi kau punya anak dariku." Jawab Chanyeol dibarengi dengan wajah tidak berdosa.
"Terkadang wajahmu itu membuatku muak dan aku ingin memukulnya hingga—"
Smooch.
"Cerewet." Ucap Chanyeol setelah mencium Baekhyun hanya untuk menghentikan ucapannya.
Wanita itu menghela nafasnya ketika melihat Chanyeol yang tersenyum dengan puas. Chanyeol selalu begitu, dan tidak berubah. Bahkan setelah menikah dia malah lebih parah. Bagaimana tidak, lelaki itu selalu membalikkan keadaan hatinya yang semula kesal menjadi seperti seorang siswa SMA yang jatuh cinta. Baekhyun bisa menyembunyikan ekspresi senangnya, tapi dia tidak pernah memungkiri ucapan dan perilaku Chanyeol yang mengejutkan itu membuat hatinya girang bukan main.
Chanyeol terkekeh melihat ekspresi Baekhyun yang merasa kalah dari sebuah pertempuran. Dia sangat menyukai itu. Menyukai bagaimana Baekhyun berwajah kesal tapi tidak bisa membalikkan keadaan hingga berpihak padanya. Karena baginya, Baekhyun yang kesal adalah sebuah kebahagiaan. Bukan berarti Baekhyun marah, hanya saja, terlihat jengah karena lagi-lagi, Chanyeol memenangkan perdebatan di antara mereka.
"Aku akan memikirkannya." Ujar Baekhyun yang mengembalikan pandangan matanya pada televisi yang masih menyala.
Seperti mendapatkan sebuah lotere, wajah Chanyeol langsung berbinar, "Benarkah?" dia memeluk Baekhyun—dan bahkan bisa dibilang meremas badan wanita itu, "I love you, Bee!" serunya.
Baekhyun terkekeh. Dia tidak pernah bosan dengan reaksi Chanyeol yang seperti ini. Dia masih ingat ketika dia memberitahu lelaki itu tentang kehamilannya. Pada awalnya, Chanyeol hanya terdiam dengan wajah bodohnya—seperti biasa. Hingga sekitar sepuluh detik kemudian dia memeluk Baekhyun dengan ganas dan akhirnya menangis seraya berkata terima kasih Tuhan ternyata aku tidak mandul. Terkadang Baekhyun mempertanyakan akal logis Chanyeol yang seorang dokter cekatan di rumah sakit—karena lelaki itu selalu bertindak bodoh.
Chanyeol menangkup wajah kecil Baekhyun dan mencium bibir tipis itu berkali-kali. Entah mengapa, kali ini dia benar-benar senang. Walaupun Baekhyun berkata bahwa dia masih akan memikirkannya, tapi Chanyeol tahu jika wanita itu tidak bisa menolak permintaannya.
Disaat Chanyeol masih berkutat dengan wajah Baekhyun, tiba-tiba ada yang datang dan memisahkan mereka berdua. Taehyung.
"Apa adegan ini termasuk 17 tahun keatas?" tanyanya sembari mendudukkan diri di antara orang tuanya—dengan paksa.
"Untuk pertama kalinya Papa kesal padamu, Taehyung-ah," Chanyeol mendelik ke arah anak lelakinya, "kenapa kau terbangun disaat seperti ini, astaga—"
"Aku haus, Papa. Dan aku melihat kalian seperti itu—serasa rasa hausku hilang dan berubah menjadi rasa mual." Jawab Taehyung sembari melingkarkan kedua lengannya di pinggang Baekhyun dan memejamkan matanya.
Baekhyun terkekeh, "Minum saja es cokelat itu." Ujarnya sembari menepuk pundak Taehyung perlahan.
Dengan wajah mengantuk, Taehyung menegakkan badannya, "Hng?" dia meraih gelas itu dan menenggak minuman itu dengan mata terpejam. Setelah selesai, dia mengembalikkan dirinya pada mode sloth dan menghambur ke arah ibunya.
Chanyeol menyela, "Kau harus tidur, Taehyung-ah. Jika tidak kami akan meninggalkanmu—"
"Sssh!" Taehyung mendesis sembari mengacungkan jari telunjuknya pada Chanyeol, "Aku tahu Papa sedang tidak bisa diganggu. Tapi," dia meringkuk ke arah Baekhyun lebih dekat, "biarkan aku begini sebentar." Ucapnya.
"Kenapa kau tiba-tiba begini, Taehyung-ah?" tanya Baekhyun yang heran dengan sikap anak sulungnya yang manja secara tiba-tiba.
Taehyung mendongak dengan mata yang memerah itu, "Aku mendengar percakapan kalian tadi," dia mengeratkan pelukannya pada Baekhyun, "jika aku punya adik lagi, Papa dan Mama tetap memperlakukan aku seperti sekarang, 'kan?"
Mendengar ucapan itu, Chanyeol terkekeh dan mengacak-acak rambut Taehyung yang sudah berantakan itu, "Kau mengkhawatirkan itu?" anak itu menoleh dan mengangguk, "We will be the same, Taehyung-ah." Kata Chanyeol yang meyakinkan anak lelakinya.
"Tapi Papa dan Mama juga harus memperhatikan Dokjun. Dia pasti belum tentu bisa menerima keputusan itu."
"Kau memikirkan Dokjun juga?" tanya Baekhyun.
"Tentu. He is my little brother, Mom."
Baekhyun tertawa kecil sebelum membalas pelukan Taehyung—yang sekarang benar-benar meringkuk padanya. Dia tidak menyangka jika Taehyung bisa berubah sangat dewasa, seperti sekarang. Padahal dia masih ingat Taehyung yang dulu selalu semena-mena jika menginginkan sesuatu. Tidak bisa dipungkiri, Taehyung benar-benar merasakan menjadi anak tunggal dulu.
"Ma."
"Hm?"
Taehyung merebahkan badannya dan menaruh kepalanya di pangkuan Baekhyun—dan kakinya mendarat di pangkuan Chanyeol yang sibuk dengan pertandingan sepak bola yang sudah dimulai lagi, "Sebelum aku di skors, sekitar dua hari sebelumnya, guru olahragaku di sekolah mengatakan sesuatu padaku."
"Hm? Apa?"
"Ada pertandingan Taekwondo berskala nasional sekitar empat bulan lagi. Aku… aku ditunjuk sebagai perwakilan sekolah. Tapi karena aku masih ragu-ragu apakah harus mengikutinya atau tidak, maka aku menggantungkan permintaan guru olahragaku. Sebaiknya bagaimana, Ma?"
"Kau meminta izin pada Mama, begitu?" ucap Baekhyun menanggapi.
Taehyung mengangguk, "Jika Mama melarangku, maka aku akan berkata tidak. Tapi jika boleh, aku akan mengikutinya."
Chanyeol menyela, "Kau ingin ikut atau tidak?"
"Hm… itu… sebenarnya aku ingin mengikutinya, Pa. Tapi jika Papa dan Mama tidak mengizinkan aku untuk mengikutinya, maka aku tidak akan ikut."
"Siapa bilang kami akan melarangmu mengikutinya?" tanya Chanyeol.
Taehyung menegakkan badannya. Wajahnya benar-benar berbinar seketika, "Benarkah?"
"Kau harus tahu konsekuensinya, Taehyung-ah." Jawab Baekhyun.
"Tidak akan ada nilai turun selama aku mengikuti kompetisi. I'll do it, Mom."
"Good."
Chanyeol tertawa dan mengusap rambut anak lelakinya itu, "Be the winner, Champ. Kau harus berusaha memenangkan pertandingannya. Ah, tapi yang lebih penting, nilaimu harus tetap sama."
"Beres, Pa! Bisa diatasi!"
Taehyung memang anak pintar. Walaupun tidak sepintar Jimin yang berhasil menjadi peringkat pertama di sekolahnya, paling tidak Taehyung berhasil menjadi peringkat tujuh. Jika bisa dilihat, entah bagaimana itu bisa terjadi, Taehyung memiliki cara berpikir yang sama dengan Chanyeol. Tidak perlu belajar banyak, tapi bisa menangkap semua materi yang diberikan. Tidak mungkin secara genetis, karena Taehyung bukan anak kandung mereka. Tapi kebiasaan dan cara belajar mereka, sama persis. Mereka hanya butuh membaca materi—dan memahaminya—mungkin tiga sampai empat kali saja dengan santai. Bahkan Taehyung biasanya belajar sembari menunggu Dokjun bermain dan akan tidur pulas jika malam hari tiba—tanpa belajar lagi.
Setelah dia selama beberapa saat, secara tiba-tiba, Chanyeol mengangkat suaranya, "By the way, Taehyung-ah, Jungkook… apa kabarnya?"
"Ehm… itu, Pa. Aku…"
Dan Chanyeol merasa anak lelakinya menjadi pengecut jika sudah menyangkut nama Jeon Jungkook.
.
.
.
Baekhyun benar-benar menyesali ucapannya. Karena saat ini, mereka sudah mendarat di Jeju dan berada di sebuah hotel—milik keluarga Chanyeol. Baekhyun memperhatikan Chanyeol yang sudah dengan semangat membongkar tas berisi kamera miliknya. Hal yang sedikit mengganggu Baekhyun adalah, tidak adanya ekspresi bersalah dari suaminya bahkan kedua anaknya—dimana Taehyung sedang menjalani masa skorsing dan Dokjun yang membolos.
Chanyeol sendiri sedang memainkan kameranya untuk sekadar mengambil gambar kedua anaknya yang duduk di balkon hotel sembari memperhatikan pantai yang benar-benar ada di hadapan mereka. Lelaki itu merasa pemandangan antara Taehyung dan Dokjun adalah hal yang lucu, apalagi ketika Dokjun melontarkan banyak pertanyaan dan Taehyung menjawabnya dengan sabar.
"Hari masih siang. Tidak ke pantai?" tanya Baekhyun yang mendudukkan dirinya di samping Chanyeol sembari mengunyah biscuit kesukaannya.
"Haruskah?" jawab Chanyeol yang masih membidik kamera kesayangannya.
"Ajak mereka berdua juga."
Chanyeol terkekeh, "Little brats!" Taehyung dan Dokjun menoleh, "Mau ke pantai?"
Dokjun, dengan teriakannya yang memekakkan telinga itu segera berlari menuju arah Baekhyun, "Mama! Baju renangku, Ma!" serunya dengan lompatan-lompatan kecil tanda dia bersemangat.
Chanyeol hanya bisa tertawa ketika Dokjun menyeret ibunya pergi hanya untuk mengambil baju renangnya. Kemudian dia mengalihkan perhatiannya pada Taehyung yang berjalan dengan santai dan menghampiri Chanyeol.
"Papa ikut turun juga?"
Chanyeol mengangguk, "Papa harus mengawasi kalian, tentu."
"Mama?"
"Mama mungkin akan ikut juga."
"Oh… baiklah. Aku akan mengganti bajukku dulu," dia mulai bergerak, namun menghentikan langkahnya lagi, "Pa, apa Mama akan memakai baju seperti orang-orang di pantai?" tanya Taehyung dengan wajah jahil dan kemudian melarikan diri.
Chanyeol awalnya tidak mengerti dengan ucapan anak sulungnya itu. Ketika apa yang dimaksudkan sudah masuk ke dalam otaknya, Chanyeol terperanjat dan langsung menemui Baekhyun yang sedang berusaha memakaikan pakaian renang milik Dokjun.
"Baek." Sapa Chanyeol yang duduk di samping Baekhyun.
"Sudah, Sayang. Cari Hyung dulu. Tunggu Mama dan Papa di ruang tengah." Baekhyun mencubit pipi merah Dokjun sebentar dan kemudian mengalihkan perhatiannya pada Chanyeol, "Apa, Chan?"
"Pakaian apa yang akan kau kenakan ketika di pantai nanti?"
"Kaos? Aku akan keluar dengan keadaan seperti ini mungkin?"
Chanyeol meneliti pakaian yang Baekhyun kenakan sekarang. Sebuah kaos berukuran besar dan celana jeans yang berada jauh di atas lututnya. Memang tidak seperti ekspektasi Chanyeol yang mengenakan bikini atau semacamnya, tapi tetap saja, kaki Baekhyun terlihat dan itu membuat Chanyeol ingin membungkus wanita itu dengan selimut tebal.
Entah seharusnya Chanyeol merasa beruntung atau sial. Baekhyun, yang sudah pernah melahirkan itu punya badan yang masih sangat kecil—bahkan bisa dibilang hampir tidak ada perubahan dari pertama kali Chanyeol bertemu dengannya. Badannya masih sama, bahkan tingginya juga—ini sudah tidak bisa berubah sebenarnya. Jika sudah begitu, banyak orang pasti mengira Baekhyun belum menikah—padahal sudah punya anak sebesar Taehyung dan Dokjun.
"Ganti celananya." Tukas Chanyeol memerintah.
"EH? Apa salahnya?"
"YA! Akan banyak orang di bawah sana! Pasti akan ada banyak juga yang melihat dirimu—kakimu!"
Baekhyun memutar bola matanya, "Jangan memulai lagi, Chanyeol-ah. Banyak orang disana. Bahkan yang memakai bikini berceceran. Bagaimana bisa ada orang melihatku? Lagipula aku membawa dua manusia hiperaktif nanti."
"Mereka tidak akan tahu jika kau sudah menikah! Aku berani menjamin itu!"
"Jangan bilang kau akan mengekor kemana pun aku pergi—"
"Pasti!"
"Don't be silly." Baekhyun terkekeh dan beranjak dari tempat duduknya, "Ayo. Anak-anak sudah menunggu." Ucapnya pada Chanyeol yang masih tidak mau mengalah itu.
Pada akhirnya, setelah dua jam di pantai, Chanyeol mengikuti kemana pun Dokjun dan Taehyung pergi. Lebih tepatnya mengambil gambar mereka berdua. Sedangkan Baekhyun hanya duduk dan menertawakan tingkah Chanyeol yang ceroboh dan panik ketika Dokjun terjatuh ataupun diterpa ombak. Dokjun masih sangat kecil untuk bermain di laut sebenarnya, tapi karena ombak yang tidak terlalu besar dan pasti anak itu akan keras kepala, maka mereka membiarkannya. Taehyung sendiri juga mengawasi Dokjun, lebih tepatnya memegang Dokjun kemana pun anak kecil itu berlari.
Ketika Baekhyun sedang duduk sendirian, Dokjun yang sudah basah itu berlari ke arahnya, "Mama, haus." Ucapnya.
"EH? Mama tidak membawa minum, Sayang. Tunggu disini bersama Papa dan Hyung, hm? Mama akan membeli dulu disana." Jawab Baekhyun sembari menunjuk sebuah bar kecil yang buka di dekat hotel yang mereka tinggali.
Ketika Dokjun mengangguk, Baekhyun, dengan sisa-sisa uang yang terselip di saku celananya, beranjak dan menuju bar itu hanya untuk membeli air mineral—karena uangnya mungkin hanya cukup untuk itu. Dia datang kesana dan mendapati seorang pria menjual minumannya. Pria itu mungkin seumuran dengan Chanyeol, atau bahkan lebih tua. Dia terlihat sedang sibuk melayani permintaan dari seorang pembeli yang juga ada disana.
Ketika si pria itu selesai memberikan minuman kepada pembelinya, Baekhyun mengangkat suaranya, "Hm, aku ingin membeli air mineralnya. Yang dingin." Ucapnya.
Si pria itu tersenyum, "Satu? Atau dua?"
"Satu botol saja. Yang besar."
Pria itu mengangguk dan mengambil sebotol air mineral yang berembun pada bagian luarnya. Setelah mendapatkan apa yang dia maksud, Baekhyun menyerahkan uang yang ada di sakunya dan menunggu kembalian yang dia sendiri tidak menyangka bahwa uangnya masih bersisa.
"Kau datang sendirian saja?" tanya pria itu pada Baekhyun yang menunggu kembalian uangnya.
"Oh, tidak. Aku… bersama keluargaku." Ucapnya.
Pria itu mengangguk, "Siapa namamu? Namaku Kim Gisoo, by the way."
"Namaku?" Baekhyun sudah mencium gelagat tidak baik karena ini. Selain pria itu menahan uang kembaliannya, dia juga menanyakan siapa nama Baekhyun. Ingin Baekhyun menjawab dengan sebuah nama pria, tapi dia tidak bisa memikirkan apa nama yang tepat.
Ketika dia masih memutar otaknya, tiba-tiba ada yang datang dan menarik ujung kaosnya, "Mama! Haus!"
Mungkin Dokjun adalah penyelamat hidup Baekhyun, karena anak kecil itu datang disaat yang tepat. Apalagi ketika Baekhyun benar-benar tidak tahu harus menjawab apa dan tidak memiliki alasan untuk menghajar pria itu—dia harus berpikir dua kali untuk melakukan itu karena dia sedang bersama anak-anaknya.
"Ah, ini, Sayang." Ucap Baekhyun yang kemudian membuka tutup botol itu dan berjongkok agar bisa memegang botolnya disaat Dokjun minum.
Ketika Dokjun sudah mengakhiri acara minumnya, Baekhyun menarik botol itu dan membiarkan anak lelakinya berlari ke arah Chanyeol yang sudah menunggu di kejauhan, "Namaku Baekhyun. Bisa aku minta kembalianku?"
"Itu tadi anakmu?"
Baekhyun mengangguk, "Itu anak bungsuku, terus terang."
Pria itu menyerahkan uang kembalian milik Baekhyun, "Bungsu?"
"Yup."
Tiba-tiba, Baekhyun mendapati Taehyung berjalan ke arahnya, "Ma, kata Papa kita harus kembali ke penginapan." Ucap Taehyung yang dengan santainya menyambar botol minuman yang dibawa Baekhyun.
"Dia anak sulungku. Ah, aku pergi dulu, senang berkenalan denganmu, Gisoo-ssi." Ucap Baekhyun dengan senyum puas.
Baekhyun merasa lega karena kedua anaknya kebetulan datang disaat yang tepat. Dia mungkin berpikir itu sebuah kebetulan, walaupun sebenarnya separuh hatinya, dia yakin jika Chanyeol yang menyuruh mereka—karena sedari tadi Chanyeol mengawasi Baekhyun dengan mata elangnya.
.
.
.
Malam harinya Baekhyun sempat memarahi Dokjun yang tidak mau tidur lebih awal. Baekhyun khawatir anak itu akan tidak bisa tidur nyenyak jika tidak segera pergi ke kamar—karena anak itu lebih memilih untuk berlarian di dalam ruang tengah dimana mereka menginap. Ketika sudah selesai dengan urusannya pada Dokjun, dia segera kembali ke kamarnya dan mendapati Chanyeol sedang menyandarkan punggungnya pada headboard ranjang dan dengan tangan yang sibuk dengan ponsel—yang mungkin sedang bermain game disana.
"Astaga, aku lelah." Gumam Baekhyun yang sekarang merebahkan badannya di samping Chanyeol.
"Mereka sudah tidur?"
"Dokjun mungkin sudah. Tapi Taehyung sepertinya belum. Dia berniat untuk melihat pertandingan sepak bola dulu nanti."
Chanyeol mengangguk dan mematikan layar ponselnya, "Kau punya rencana untuk besok? Kemana kita akan pergi mungkin?" tanyanya.
Baekhyun menggeleng, "Aku mengikuti semua rencanamu saja."
"Baiklah… kita bisa memikirkan itu besok. Itu pun kalau anak-anak bisa bangun lebih awal. Walaupun aku yakin Taehyung akan dalam mode malas karena dia akan bangun dini hari nanti hanya untuk menonton pertandingan sepak bola. Anak itu, benar-benar."
"Dia mirip denganmu. Hampir semua hal yang ia lakukan. Caranya berbicara, caranya berpakaian, bahkan caranya untuk membullyku benar-benar sama. Persis. Identik. Dan itu membuatku kesal. Karena kalau kau yang melakukan itu, aku masih bisa membentakmu atau memukulmu. Taehyung?"
Chanyeol tertawa terbahak-bahak, "Kalau begitu aku akan mencetak Dokjun dengan cara yang sama."
"YA! Kalian benar-benar ingin menyudutkan aku, ha?"
"Tidak, Baek. Justru aku merasa ini sangat lucu. Bayangkan saja, kita saling membully satu sama lain. Itu tanda kedekatan keluarga kita, Baek. Lagipula, Taehyung, meskipun dia sudah sebesar itu, dia masih suka memelukmu dan bersikap manja."
Baekhyun mengerucutkan bibirnya, "He's still my baby, though."
"Kau bisa membayangkan, jika mungkin enam atau tujuh tahun lagi, Taehyung pulang ke rumah dan mengenalkan gadis yang dikencaninya. Lima atau enam tahun setelahnya dia akan meminta izin padamu untuk menikah—"
"Hentikan. Aku belum mau membayangkan itu." ucap Baekhyun dengan nada yang kesal.
"Begitu juga Dokjun. Dia akan pulang ke rumah dengan gadis yang ia kencani, meminta izin untuk menikahinya, dan pergi dari rumah—"
"Chanyeol!"
Chanyeol terkikik dan bergerak memeluk Baekhyun, "Aigoo… mengapa kau selalu sensitif jika aku mengatakan hal itu?"
"They are my babies! Somehow, aku ingin mereka berhenti tumbuh agar aku bisa mengawasi mereka setiap saat—bahkan aku merasa Taehyung sudah dewasa saat ini dan itu membuatku sedih. Terkadang aku juga merasa takut jika mereka sudah mandiri dan tidak membutuhkanku—aku tahu ini konyol! Jangan tertawa!" seru Baekhyun sembari menutup wajahnya yang memerah karena menahan tangis itu.
"Mereka pasti akan dewasa, Baek…"
"Tapi jangan mengatakan hal itu sekarang. Aku masih tidak mau membayangkan mereka berkencan atau bahkan meminta izin padaku untuk menikahi gadisnya—jangan! Itu menyakitkan. Apalagi membayangkan mereka akan tinggal terpisah dari kita suatu saat nanti—"
Chanyeol terkikik sembari menyisir rambut Baekhyun yang sudah terisak itu, "Tak kukira kau akan menangis jika sudah membicarakan hal ini."
"Aku hanya—kau tahu, itu hal yang menakutkan bagiku. Melihat mereka tumbuh besar dan tidak membutuhkanku lagi hingga semuanya merenggang, itu menyakitkan, Chan."
"Itu masih lama, Baek. Masih sangat lama."
Sejenak Chanyeol merasa bersalah karena sudah menggoda Baekhyun dengan ucapannya. Dia tahu Baekhyun sangat sensitif dengan topik ini. Topik dimana dia mengatakan bahwa kedua anak mereka suatu saat akan tumbuh dewasa, bersikap mandiri, dan bahkan ada pada titik dimana kedua anak mereka menyimpan rahasia yang bahkan orang tuanya pun tidak boleh tahu. Itu yang selalu Baekhyun takutkan dan menjadi hal yang mengganggunya. Dia takut suatu saat nanti, Taehyung dan Dokjun akan mengalami itu—walaupun sudah pasti akan mengalaminya.
Melihat Baekhyun yang mulai memikirkan kata-katanya, Chanyeol berusaha mengalihkan perhatian, "By the way, Baek."
"Hm?"
"Lelaki siang tadi mengajakmu berkenalan?"
"Tadi? Ah… penjual minuman itu? Namanya Kim Gisoo."
Chanyeol menjauhkan kepalanya dan membelalakkan mata, "Kau tahu namanya?"
Baekhyun mengangguk, "Dia mengatakan namanya padaku."
"Kau memberitahu namamu juga?" Baekhyun mengangguk, "Kau tidak boleh keluar besok."
"Apa maksudnya?" tanya Baekhyun dengan nada yang naik.
"YA! Sudah kubilang pasti ada yang berpikir bahwa kau belum menikah. And see? Apa yang ku katakan benar, bukan?"
Baekhyun memutar kedua bola matanya, "Hanya berkanalan, Chan. Apa masalahnya?"
"Tidak boleh. Tetap tidak boleh," Chanyeol menghadapkan wajah Baekhyun ke arahnya dengan cara menangkup kedua pipi wanita itu, "kalau kau besok keluar, pakai baju yang panjang."
"Kau gila? Ini musim panas!"
"I don't care. Aku bilang tidak boleh, ya tidak boleh."
"Chan! Jangan berlebihan!"
Chanyeol mengecup bibir Baekhyun yang sudah siap untuk mengumpat itu, "Diam, atau kau tidak akan tidur malam ini."
"Chan—"
"Kau benar-benar ingin tidak tidur?" ancam Chanyeol yang secara tiba-tiba bersiap membuka kaosnya.
"Okay, okay. Let's sleep." Jawab Baekhyun yang langsung memejamkan matanya.
Mereka terdiam. Sektar hampir dua menit. Sebelum tiba-tiba, Baekhyun mendengar Chanyeol berbicara, "Tiba-tiba aku tidak ingin tidur, Baek."
Dan malam itu Baekhyun benar-benar tidak tidur karena Chanyeol yang tiba-tiba menindihnya.
.
.
.
TBC.
Baekhyun membuka pintu kamarnya dengan malas. Bahkan dia tidak tahu saat itu jam berapa. Dengan langkah kaki yang terseret, dia berjalan keluar dari kamar, dan mendapati kedua anaknya duduk di ruang tengah dengan wajah yang meringsut.
"Selamat siang, Mama." Sindir Taehyung.
"EH? Kalian sudah bangun?"
"Sudah mandi. Dan kelaparan."
Baekhyun melirik ke arah jam dinding yang ada di atas televisi yang menampilkan acara anak-anak kesukaan Dokjun itu, "Sudah jam sebelas? Astaga! Kalian ingin makan apa? Mama akan memesankannya sekarang." Ucapnya panik.
"Apa saja. Yang penting bisa dimakan, Ma. Sedari tadi kami hanya makan biscuit ini—karena kami juga tidak mungkin sarapan terlebih dulu sebelum Mama dan Papa. Aku mengetuk kamar Mama dan Papa tapi tidak ada yang menjawab. Bahkan kamar itu terkunci." Kata Taehyung menjelaskan.
"Maafkan kami… hmm…" Baekhyun bingung harus menjawab apa karena dia tidak mungkin menjelaskan apa yang dia lakukan bersama Chanyeol, karena mereka masih kecil, tentu, "Mama akan memesankan makanan, hm? Tunggu sebentar."
Seketika Baekhyun melarikan diri meninggalkan kedua anaknya dan bergegas menghubungi room service untuk memesan makanan. Walaupun dia tidak tahu apa yang sebaiknya mereka makan dan memesan dengan acak. Ketika dia sedang sibuk memesan, tiba-tiba ada sebuah lengan besar melingkar di pinggangnya.
"Ah, terima kasih." Ucap Baekhyun yang mengakhiri sambungannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Chanyeol dengan suara serak.
"Memesan makanan untuk makan. Aku bangun terlalu siang dan anak-anak belum makan. Aku merasa bersalah pada mereka—"
"Room service, huh?"
"EH? Iya, room service…"
Chanyeol terkekeh, "By the way," lelaki itu mencium bekas merah yang ada di tulang selangka Baekhyun, "thanks for your service. Last night."
Disaat itu Baekhyun merasa suaminya yang super besar itu gila. Benar-benar gila.
like usually, aku bakal bilang kalo ke depannya pasti jarang update.
masalah NC atau engga nya, aku gatau mau selipin disini atau di REQUEST nya. maybe flashback? ya nanti dipikirin lah yah~
btw makasih banget udah baca sama review ini :")
*big hug*
salam, DerpMyungsoo.
