Sepertinya ini kudu di posting.
Udah terlalu lama gaada lanjutannya kan ya? Ehe.
Happy reading!
.
.
.
"Mama! Dimana seragam Taekwondoku?"
Baekhyun memutar bola matanya sembari menghembuskan nafasnya kuat-kuat. Dia yang sedang sibuk menyiapkan sarapan itu langsung bersungut-sungut. Sudah dibuat repot dengan Dokjun yang merengek karena susu yang terlalu panas, sekarang Taehyung berteriak dari kamarnya hanya karena tidak bisa menemukan seragam Taekwondo miliknya.
"Di samping seragam sekolah, Taehyung-ah!" balas Baekhyun dengan teriakan dari dapurnya.
Suasana hening sejenak, sebelum terdengar sebuah teriakan lagi, "Tidak ada, Ma!"
"Astaga," Baekhyun yang sempat menggerutu itu segera bergegas menuju kamar anak sulungnya. Ketika sudah sampai, dia mendapati Taehyung berjongkok di depan almari yang terbuka. Dengan decakan lidahnya, Baekhyun menarik sebuah pakaian dari sana, "ini. Kau harus mencarinya dengan benar, Taehyung-ah."
Taehyung berdiri dan mendapati Mama-nya menenteng sebuah seragam. Dengan hati-hati—karena takut Mama-nya meledak—Taehyung mengambil seragam tersebut.
Dengan lirih, remaja laki-laki itu berkata, "Tapi tadi tidak ada, Ma…"
Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya heran dan berlalu. Dia kembali ke tempat dimana anak bungsunya sedang melahap makanan. Untung saja Dokjun bisa ditinggal seorang diri, kalau tidak mungkin Baekhyun meminta pada Tuhan untuk membelah dirinya menjadi tiga. Satu untuk Dokjun, satu untuk Taehyung, dan satu lagi untuk bayi raksasanya yang sebentar lagi pulang dari rumah sakit, yaitu Chanyeol.
"Dikunyah, Dokjunnie. Jangan hanya dikulum—" omel Baekhyun yang melihat makanan masih sangat banyak di piring anak bungsunya.
Dengan mulut yang penuh, Dokjun menjawab, "Iya, Mama." Ujarnya dengan kata-kata yang tidak jelas.
"Ini bekal makanannya—dimana tasmu, Sayang?" dia memasukkan sebuah kotak ke dalam tas Dokjun sebelum berteriak lagi, "Taehyung-ah! Sarapan!"
Langkah kaki yang tergesa-gesa pun terdengar sesaat setelahnya. Baekhyun pun melihat Taehyung segera duduk di kursi meja makan yang ada di hadapan Dokjun. Dia menghela nafasnya, menyadari jika anak sulungnya itu memakai dasi dengan arah yang salah. Bahkan pada bagian belakangnya sama sekali tidak masuk ke dalam kerah seragam sekolahnya.
"Hari ini sudah mulai latihan?" tanya Baekhyun yang sudah bergerak untuk membetulkan dasi Taehyung.
Taehyung mengangguk, "Aku sudah ketinggalan empat kali latihan, Ma. Kata Guru Jung, pelatih Taekwondoku sudah menungguku."
"Tapi ini baru hari ketiga kau masuk sekolah setelah kau di skors, Taehyung-ah—hey, hadapkan badanmu kemari."
Dengan patuh, Taehyung menghadap ke arah Baekhyun yang sekarang sibuk membetulkan posisi dasinya, "Justru itu, Ma. Ini masih hari ketiga, dan berarti aku punya banyak waktu untuk mengejar ketertinggalan latihanku. Tenang saja, Ma. Aku bisa mengatasi sekolah dan latihan secara bersamaan, kok."
Baekhyun tersenyum sembari menepuk pucuk kepala Taehyung perlahan, "I believe in you, Son," dia berdiri dan mengecek kedua anaknya, "cepat, kalian berdua. Mama tidak mau kalian terlambat hari ini."
Dengan sedikit gertakan, Baekhyun berhasil membujuk Dokjun agar makan lebih cepat. Sedangkan Taehyung memilih sarapan dengan beberapa buah toast dan selai cokelat—agar dia bisa menyatapnya saat perjalanan.
Selalu begitu, rumah tidak pernah damai ketika. Bukan hanya karena Taehyung yang selalu meminta Baekhyun untuk mencarikan ini itu, tapi juga karena Dokjun yang hanya mengulum makanannya tanpa dikunyah—dan hal ini terkadang membuat Baekhyun geram. Belum lagi jika Chanyeol ada di rumah. Lelaki itu tidak benar-benar membantu, terlebih jika dia mendapatkan shift pagi juga. Kalau sudah begitu, Baekhyun ingin badannya dibelah menjadi tiga, agar ketiga pembuat onar di rumah itu mendapatkan jatah yang adil.
Kedamaian biasanya didapatkan oleh Baekhyun jika ketiganya pergi dari rumah. Karena, dia bisa menonton televisi atau sekadar bermain game console—hey, Baekhyun masih melakukan kebiasannya memainkan game console tentu saja. Terkadang dia berkunjung ke restoran milik Kyungsoo yang tidak jauh dari rumah mereka sembari menunggu Dokjun pulang dari sekolahnya.
Seperti hari ini, setelah mengantarkan kedua anaknya, Baekhyun berkunjung ke restoran Kyungsoo. Selain mendapatkan makan siang gratis—Baekhyun menyukai hal ini—dia bisa menggosipkan hal-hal yang mengganggunya—termasuk suaminya sendiri. Ngomong-ngomong masalah Kyungsoo, dia sudah tidak selambat dulu. Semenjak anak lelakinya, Taeoh, yang juga seumuran dengan Dokjun, lahir. Entah, mungkin karena Taeoh juga otak Kyungsoo mulai berjalan. Lagipula, Taeoh sendiri memang cenderung pintar dan savage. Ucapannya sering membuat orang dewasa terdiam, ya begitulah.
"Kim Kyungsoo!" teriak Baekhyun yang masuk dengan rasa tanpa sungkannya.
Kyungsoo, yang sedang duduk di salah satu bangku itu mendelik ke arah Baekhyun dengan wajah yang bosan. Di pangkuannya duduk seorang bayi perempuan yang sangat mirip dengannya—bahkan seperti copy-paste. Baekhyun sendiri? Ya, Baekhyun malah heboh dengan kehadiran anak kecil itu.
"Kim Seola—Seola-ya…" senandung Baekhyun sembari meraih tangan bayi itu—yang sudah direntangkan olehnya.
"Aku tidak mengerti mengapa dia menyukaimu." Sindir Kyungsoo.
Baekhyun terkekeh sambil mengendus pipi gemuk dari bayi tersebut, "Anak kecil tidak mungkin berbohong. Imo benar bukan, Seola-ya?" ucap Baekhyun yang dijawab dengan tawa riang dari Seola.
"Buat sendiri! Jangan mengganggu anakku!" tukas Kyungsoo yang menodong anak perempuannya dengan sendok berisi bubur.
Baekhyun menggeram, "Kau sama saja dengan Chanyeol."
"EH? Kenapa kau menyamakan aku dengan dia?"
"Tentu sama saja! kalian berdua selalu mengatakan hal seperti itu."
"Astaga," Kyungsoo mendecakkan lidahnya, "Taehyung sudah cukup besar untuk menjaga dirinya sendiri. Kalau Dokjun… YA! Taeoh saja bisa menerima adiknya."
"Tapi Dokjun terbiasa menjadi anak bungsu—"
"Taeoh terbiasa menjadi anak tunggal."
Baekhyun mendelik ke arah sahabatnya, "Dokjun terbiasa dimanja oleh yang lainnya—"
"Apakah kau tidak bisa melihat bagaimana Jongin memanjakan Taeoh dulu? Bahkan Jongin membelikan Taeoh daging sapi mahal hanya karena Taeoh menunjuknya di supermarket padahal Taeoh belum punya gigi sama sekali?"
"Kenapa nadamu meninggi begitu?"
"Karena hampir setiap hari kau mengeluhkan hal yang sama, Baekhyunnie." Ucap Kyungsoo yang sukses membuat Baekhyun terdiam tanpa jawaban.
Anak kecil yang sekarang ada di pangkuan Baekhyun menatap kedua perempuan yang sedang berdebat itu secara bergantian. Bahkan matanya yang bulat itu mengerjap berkali-kali seakan-akan merasa takjub dengan suasana panas yang ada di antara ibu dan perusuh itu. Tapi beberapa detik kemudian, Seola, tertawa dan menepukkan tangannya.
"At least, ada yang menikmati perdebatan kita." Ucap Baekhyun yang gemas.
"Dia akan menjadi provokator jika sudah besar nanti. Astaga, anak perempuanku." Kyungsoo meletakkan mangkok yang berisi bubur itu ke meja, "Sampai mana perdebatan kita tadi?"
Meskipun otak lambat Kyungsoo sudah di-upgrade, tapi sifat pelupanya belum; bahkan lebih parah dari sebelumnya.
.
.
.
Baekhyun pulang ke rumah lebih cepat dan memutuskan untuk tidak menunggu kepulangan Dokjun di restoran Kyungsoo. Ada sebabnya, memang. Karena Chanyeol menelepon dan mengatakan bahwa dirinya kelaparan di rumah. Chanyeol sendiri pulang dari rumah sakit setelah sehari penuh berjaga disana tanpa tidur.
"Aku pulang." Ucap Baekhyun yang masuk ke dalam rumah dengan menenteng seplastik besar makanan yang ia beli dari Kyungsoo.
Baekhyun mendapati Chanyeol duduk di ruang tengah dan menonton televisi. Ketika lelaki itu menyadari Baekhyun pulang, dia hanya memutar kepalanya dan melihat Baekhyun dengan tatapan kosong. Sejenak Baekhyun bergidik—karena Chanyeol benar-benar seperti mayat hidup.
"Hmm… makan?" tanyanya kikuk sembari mengangkat plastik berisi makanan itu.
Chanyeol mengangguk, "I feel like… dying, Baek."
Baekhyun berjalan untuk menyiapkan makanan sembari terkekeh, "Why? Karena kau berjaga tanpa istirahat?"
"Iya," terdengar suara langkah kaki terseret yang mendekat ke arah Baekhyun, "aku bersumpah, dokter-dokter muda itu benar-benar tidak berguna. Bayangkan saja, aku menyuruh mereka untuk mengukur tekanan darah pasien saja tidak becus—apalagi pasien harus cepat-cepat di operasi."
Baekhyun meletakkan semua makanan dan duduk di depan Chanyeol yang sudah bersiap untuk menerkam benda-benda yang ada di hadapannya itu, "Sejak kapan mereka menjadi intern?"
"Hmm… empat hari?"
"YA!"
"Eh? Kenapa?"
Baekhyun mendecakkan lidahnya, "Mereka baru empat hari menjadi intern dan kau mengomel seperti mereka sudah menjadi intern selama berminggu-minggu."
"Tapi mengukur tekanan darah adalah pelajaran dasar—ah, ini enak." Ucap Chanyeol yang baru saja menyendokkan makanannya.
"Kau pernah mengalami fase seperti itu, bukan? Menjadi intern dan mendapatkan amarah dari dokter senior—" dia melihat Chanyeol mengangguk, "lalu mengapa kau tidak menempatkan dirimu seperti itu?"
Suara kunyahan makanan dari mulut Chanyeol berhenti. Dia menatap Baekhyun dengan mata bulatnya seakan baru menyadari sesuatu. Disaat itu Baekhyun bersumpah jika Dokjun benar-benar mirip dengan Chanyeo—karena saat ini Chanyeol berwajah seperti Dokjun ketika jam-jam sarapan tiba.
"Kau menyadari apa yang aku maksud, 'kan?" tanya Baekhyun yang bersikap layaknya baru memenangkan sesuatu.
"Tidak… tapi, bukannya kau akan bersikap seperti aku ketika kau mahasiswa dulu? Melakukan masa orientasi dan memarahi mahasiswa-mahasiswa baru yang tidak berdosa—"
"YA! Aku hanya mengajari mereka agar tidak bersikap manja! Itu saja—"
"Aku juga."
"Tapi—"
"Hm?"
"Terserah kau saja."
Chanyeol terkekeh dan kembali menggali makanannya. Rasanya menyenangkan jika memenangkan perdebatan dengan Baekhyun. Walaupun sebenarnya tidak jarang Baekhyun akan meledak karena tidak terima. Tapi selebihnya, Chanyeol bisa mengatasi sikap mudah meledak dari Baekhyun—wanita itu tsundere. Sama seperti dirinya.
"Apa itu enak?" tanya Baekhyun yang sedari tadi hanya memperhatikan Chanyeol makan.
"Enak."
Wanita itu membuka mulutnya, "Ha—"
"Apa yang kau lakukan?" tanya Chanyeol dengan alis yang berkerut.
Baekhyun segera menutup mulutnya dan menghela nafas, "Lupakan."
Chanyeol terkekeh dan meraih rahang Baekhyun—dan memaksanya untuk melahap satu sendokan makanan, "Ha!"
Chanyeol tergelak ketika melihat Baekhyun mengunyah makanannya dengan mulut yang penuh. Mata dari wanita itu mendelik ke arahnya dan itu membuat dirinya semakin merasa gemas. Menggoda Baekhyun memang menjadi kesenangannya tersendiri—apalagi jika wanita itu sudah merasa kesal.
"Puas?" sindir Baekhyun.
Chanyeol tersenyum dan mengangguk, "You've made my day, Baekhyunnie. Thank you."
Memang, Baekhyun terkadang tidak menyukai cara bercanda Chanyeol yang cenderung kasar. Tapi, ketika dia melihat suaminya tertawa lepas—apalagi ketika sedang lelah atau bermasalah—membuat rasa tidak sukanya menguap begitu saja. Seperti saat ini, Chanyeol yang semula ia lihat seperti mayat hidup, berubah ceria dalam sekejap. Istilahnya, saat ini, Baekhyun rela menjadi bulan-bulanan Chanyeol daripada menghadapi Chanyeol yang berwajah kusut. Begitulah, dan itu berlaku sebaliknya.
.
.
.
"Aku pergi." Ucap Baekhyun sembari mencari-cari kunci mobilnya.
Dengan suara yang serak, khas orang yang baru saja terbangun dari tidur, Chanyeol menjawab, "Kemana?"
"Menjemput anak bungsumu, Bodoh."
"Anak bungsuku? Bukankah dia belum lahir?"
"YA!" Baekhyun mendelik ke arah Chanyeol yang secara tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya, "Bisa-bisanya kau menyebut Dokjun dengan sebutan seperti itu?"
Chanyeol terkekeh, "Dia kan soon-to-be Oppa, Baek. Adik kecil bernama Jiwon akan segera lahir—"
"Bangun, Tikus Amazon. Jangan terlalu banyak bermimpi."
Chanyeol mengerucutkan bibirnya, "Tunggu aku di mobil. Aku ingin mencuci mukaku dulu."
Baekhyun memberikan tatapan mendakwanya dengan perasaan heran. Dia tidak mengerti mengapa Chanyeol benar-benar bersikeras dengan keinginannya. Sejujurnya. Baekhyun tidak begitu keberatan dengan permintaan suaminya itu, tapi, jika mengingat sikap Chanyeol yang suka berkhayal—seperti sekarang—membuatnya berpikir dua kali.
"Jiwon-ah! Papa pergi dulu!" teriak Chanyeol dari kamar mandi dan membuat Baekhyun segera melarikan kakinya menuju mobil.
Selama perjalanan, Chanyeol mengomentari siapa-siapa saja yang ia lewati, atau bahkan yang menyalip mobilnya. Baekhyun sudah hafal dengan kebiasaan lelaki itu; yang selalu mengeluarkan sifat temperamentalnya jika sedang berada di jalanan. Tak jarang, Chanyeol membentak orang-orang yang menghalangi jalannya; atau hanya sekadar menggerutu. Walaupun sebenarnya, jika sedang dalam keadaan kesal, Baekhyun juga ikut menimpali ucapan Chanyeol dengan umpatan—jika anak-anak sedang tidak bersama mereka.
Mereka sampai tak beberapa lama kemudian. Baekhyun, yang melihat Dokjun sedang bermain bersama Taeoh di salah satu sudut taman bermain langsung keluar dari mobil. Dan ketika Dokjun melihat Baekhyun berjalan mendekat, anak lelaki itu segera berlari ke arahnya, disusul Taeoh yang juga ikut berlari.
"Taeoh-ya, hari ini Imo yang akan menjemput—Eomma sedang repot di restoran. Tidak apa, 'kan?" tanya Baekhyun yang dijawab anggukan dari anak kecil itu.
Baekhyun menggandeng mereka berdua. Rasanya sudah berjalan sangat cepat. Beberapa tahun yang lalu dia melakukan hal yang sama, namun yang ia gandeng adalah Taehyung dan Jimin yang sekarang sudah sekolah menengah pertama. Dokjun dan Taeoh pun juga sama, mereka menceritakan bagaimana hari-hari mereka yang sebenarnya berpola persis setiap harinya. Meskipun begitu, Baekhyun tidak pernah bosan mendengarnya. Apalagi jika kedua anak itu tertawa, walaupun dengan keringat mereka yang mengucur kemana-mana.
"Papa!" teriak Dokjun ketika melihat Chanyeol duduk di belakang setir mobil.
"Aigoo, anak Papa—astaga kalian berdua bau keringat sekali. Kalian berlari-lari tadi?"
"Iya, Papa! Kami bermain perang-perangan dengan alien—"
Chanyeol terkekeh ketika mendengar Dokjun dan Taeoh mengoceh di kursi penumpang. Dan untuk kali ini, dia harus mengantarkan anak lelaki Jongin ke restorannya. Eh, anak lelaki Jongin. Sekarang mereka berteman sangat dekat. Sangat amat dekat. Chanyeol, Jongin, Sehun, dan Jongdae. Bahkan tak jarang mereka berempat berkumpul hanya untuk makan samgyeopsal dan minum soju. Lagipula, beberapa tahun belakangan, mereka juga merayakan natal bersama—dan berhasil mengacaukan tempat tuan rumahnya; yang kebetulan tahun kemarin adalah rumah Jongdae.
Sudah seperti yang diduga, ketika mereka sampai di tempat Taeoh seharusnya diantarkan, Dokjun juga berlari keluar. Dengan alasan, dia ingin minum bubble tea. Padahal, yang Baekhyun tahu, Dokjun memang masih ingin bermain dengan sahabatnya itu. Tetapi kali ini, bukan hanya Dokjun yang semangat, ayahnya juga. Karena… Baekhyun tahu… Chanyeol sedang tergila-gila dengan adik perempuan dari Taeoh.
"Seola-ya…" senandung Chanyeol sembari meraih anak perempuan itu.
"Eh, dia takut denganmu—" Baekhyun melihat anak kecil itu bergidik dan merentangkan tangannya pada Baekhyun, "dia jijik mungkin melihat telingamu."
"Baek… Kau ini…"
"Hmm, guys?" Kyungsoo berusaha menyela pasangan yang sudah bersiap untuk berdebat itu, "Terima kasih sudah menjemput Taeoh. Aku tidak mengira Seola akan sangat rewel tadi."
"It's okay, Soo. Lagipula tadi Taeoh bermain dengan Dokjun juga." Jawab Baekhyun.
Selama beberapa menit setelahnya, Baekhyun berbincang dengan Kyungsoo sembari mengawasi Dokjun dan Taeoh yang sedang minum bubble tea. Restoran sedang ramai dan membuat Seola sedikit tidak tenang. Melihat hal tersebut, Chanyeol berusaha meraih anak perempuan itu—dan berhasil. Seola hanya terdiam dan mendaratkan pipi gemuknya pada pundak Chanyeol. Dengan tenang, Chanyeol membawa bayi itu keluar dari hiruk pikuknya manusia di jam makan siang.
"Dia menjadi tenang setelah pergi keluar." Ucap Baekhyun dengan mata tertuju pada suaminya yang berdiri di luar restoran sembari menepuk-nepuk pundak Seola perlahan.
"Baek—"
"Hm?"
"Bukankah Chanyeol sangat pantas untuk menggendong bayi perempuan?"
Baekhyun mendelik ke arah Kyungsoo, "Jangan memulai lagi, Soo."
"Tapi lihat—dia sangat pantas menggendong bayi. Anak bungsumu sudah sebesar anak sulungku."
"Iya tapi aku punya Taehyung yang sudah sekolah menengah pertama. Akan sangat sulit untuk membandingkan situasi kita saat ini."
"Kau mempersulit keadaanmu sendiri."
Baekhyun mendecakkan lidahnya, "Kau jadi memiliki pola pikir seperti Jongdae sekarang. Eh, by the way, aku merindukannya. Sekarang dia sangat sulit ditemui jika siang hari tiba."
"Tempat latihan Taekwondonya benar-benar ramai memang."
Baekhyun mengangguk, "Tak kusangka dia menjadi atlet nasional semenjak kompetisi saat kuliah dulu."
"Padahal badannya kurus kering begitu—eh, tidak juga. Badan Jongdae bagus."
"Kenapa kau membahas badan Jongdae sekarang?"
"Memangnya kita harus membahas apa? Sebentar, dimana anakku—ah, iya bersama Chanyeol sekarang. Aku hampir lupa."
Baekhyun menghela nafasnya putus asa. Sahabatnya yang satu ini tidak benar-benar membantu. Dia selalu mengobarkan api agar semakin besar dengan mengatakan bahwa Chanyeol masih pantas menggendong bayi perempuan atau yang lainnya. Untung saja Chanyeol tidak mendengar ucapan Kyungsoo, jika dia mendengarnya, maka dia akan semakin semangat untuk mendesak Baekhyun agar memiliki anak perempuan.
"Dia tertidur."
Baekhyun mendongakkan kepalanya dan mendapati Chanyeol berdiri dengan Seola yang ada di dalam gendongannya. Rambut berwarna ash grey dengan poni yang turun itu membuat Chanyeol terlihat lebih muda dari usianya. Telapak tangannya terlihat memegang bagian belakang kepala Seola yang bersandar di pundaknya. Terlihat daddyable. Memang.
"Bukankah dia sangat lucu, Baek? Lihat, dia bahkan membuat pundakku basah karena air liurnya. Aigoo—"
Disaat itu, pikiran Baekhyun terbagi menjadi dua sisi. Satu, merasa gemas ketika melihat pipi Seola yang meluber dengan lucunya di pundak Chanyeol, dan dua, merasa panas ketika melihat Chanyeol menggendong bayi begitu.
God damn, even Baekhyun can't resist Park Chanyeol.
.
.
.
Taehyung berjalan gontai sembari menenteng tas ransel berisi baju buku-buku pelajarannya. Tangannya yang lain membawa sebuah tas yang berisi peralatan olahraganya. Seragam sekolahnya merembes karena keringat, bahkan poni rambutnya sudah lengket di dahinya sendiri. Sudah menjelang petang, ia tahu. Tapi latihan dan pelajaran benar-benar tidak bisa ditinggalkan—sama sekali.
Ia merasa sangat lelah. Baru latihan hari pertama dan energinya sudah terkuras. Mungkin badannya sudang mengeluh, tapi otaknya belum. Sedari tadi alisnya berkerut karena merasa kurang puas dengan sesi latihannya. Apalagi jika dibandingkan dengan yang lain, dia merasa tertinggal—meskipun sebenarnya tidak.
"Aku pulang!" serunya ketika membuka pintu rumah.
Dia mencium bau makanan. Perutnya yang kosong itu terasa bergejolak dan membuat langkah kakinya ringan—walaupun kelaparan. Dia mendapati ayahnya duduk di ruang tengah sembari menemani adik lelakinya yang mungkin sedang belajar. Tentu saja, ayahnya menunggu makan malam siap.
"Mama…" keluh Taehyung yang terhuyung menuju dapur.
"Hey, baru pulang, Anak Muda?" tanya Baekhyun.
Anak laki-laki yang sekarang menenggak air dingin dari lemari es itu mengangguk, "Mama, Jongdae Samchon melatihku di sekolah."
Baekhyun membelalakkan matanya, "Jongdae? Kim Jongdae?"
"Ada berapa Jongdae yang Mama kenal?"
"Satu, ya Jongdae si kepala kotak itu—tapi, bagaimana bisa?"
Taehyung mengangkat kedua bahunya, "Entah. Pantas saja guru olahragaku mengatakan bahwa pelatih Taekwondo untuk kompetisi kali ini sangat ingin bertemu denganku. Dan setelah aku melihat Jongdae Samchon tadi, aku mengerti mengapa."
"Apa dia mengajarimu dengan benar?"
"Dengan sangat benar. Mama tenang saja," Taehyung memutar haluannya sebelum berkata, "aku mandi dulu, Ma. Aku akan segera makan malam."
Baekhyun menghela nafasnya. Dia merasa iba ketika melihat Taehyung yang berbicara dengannya tanpa tenaga. Tapi mau bagaimana lagi, jika dilarang pun, Taehyung akan tetap mengikutinya. Sifat keras kepalanya diambil dari Chanyeol. Bisa dibilang, sifat yang dimiliki oleh Taehyung 80 persen didapatkan dari kepribadian Chanyeol. Mungkin karena sedari kecil suami Baekhyun itu dekat dengan sang anak, maka bukan sebuah hal yang tidak mungkin jika Taehyung, memiliki kepribadian yang sama dengan ayahnya.
Baekhyun sesekali mendengar rengekan Dokjun yang ada di ruang tengah bersama Chanyeol. Sepertinya anak lelakinya itu sedang membujuk Chanyeol—karena menginginkan sesuatu. Dia tahu Chanyeol akan berkata tidak pada awalnya, namun akan mengiyakan jika melihat anaknya memelas. Dan, apa yang dipikirkan Baekhyun sepertinya berujung benar. Karena sekarang, Chanyeol datang ke arah Baekhyun dengan Dokjun yang bersarang di gendongannya.
"Mama…" rengek Dokjun yang seakan meminta perlindungan pada Baekhyun.
"Ada apa?"
Dokjun hanya menundukkan kepalanya. Tidak berani berucap karena Chanyeol menatapnya dengan tatapan bosan—dia sedang marah sepertinya. Pemandangan itu membuat Baekhyun terkikik. Karena jika dengan wajah yang begitu, mereka berdua benar-benar mirip. Mirip dari segala aspek, mulai dari mata, hidung, hingga mungkin sifat kekanak-kanakan mereka.
"Ayo, katakan pada Mama." Kata Chanyeol.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Baekhyun tidak mengerti.
Dokjun menggeleng, "Maaf, Pa…" ucapnya sembari melingkarkan tangannya ke leher Chanyeol dan menyusupkan wajah ke leher sang ayah.
Chanyeol tersenyum kecil dan mengusap kepala anak lelakinya, "Lain kali meminta sesuatu harus dengan cara yang benar, Dokjun-ah. Papa akan membelikan dan memberikan apa yang kau mau tapi bukan begitu caranya. Mengerti?"
Baekhyun melihat anak lelakinya mengangguk kecil. Kemudian dia terkekeh, meskipun sebenarnya dia tidak tahu masalah apa yang sedang mereka perdebatkan—tapi dia tahu apa yang terjadi. Chanyeol mungkin hanya berusaha membuat Dokjun belajar meminta sesuatu dengan baik, karena seperti yang mereka tahu, Dokjun memang sangat manja dan sedikit whiny jika dibandingkan Taehyung ketika berusia sama dulu.
"Kalian bisa duduk disana. Makanan sudah hampir siap."
Chanyeol mengangguk, "Dimana Taehyung?"
"Mandi. Kasihan dia. Kelihatannya sangat lelah." Ucap Baekhyun sembari menyiapkan makan malam mereka.
"Dia baru pulang latihan, bukan?"
"Latihan dan belajar tambahan. Sebenarnya aku sudah melarangnya untuk mengikuti pelajaran tambahan—karena you know, otaknya benar-benar di atas rata-rata dan aku tahu dia bisa mendalami pelajarannya tanpa mengikuti itu. Tapi ya kau tahu sendiri dia mirip sepertimu."
"Aku?"
Baekhyun menata makanannya di atas meja sembari mengangguk jahil ke arah suaminya, "Sangat keras kepala dan tidak bisa diatur."
"Aku ingin marah tapi kau memang benar."
"Aha! Kau mengakuinya?"
Chanyeol mendelik ke arah Baekhyun, "Ya, bisa dibilang begitu. Karena aku seperti melihat diriku sendiri—diusia sama dengan Taehyung."
Baekhyun mengacak-acak rambut Chanyeol, "Yeah, like father like son, right?"
"I think so."
Tak lama setelahnya, Taehyung datang dengan wajah yang sudah lebih baik. Bau keringatnya yang semula sangat tercium sudah berganti dengan aroma sabun yang sama dengan milik ayahnya. Bahkan gurat lelah yang tadi terpasang di wajahnya sudah berubah ceria—mungkin karena dia melihat makanan sudah tertata rapi di meja makan.
"Dokjunnie…" Taehyung mengerutkan alis ketika melihat Dokjun menekuk wajahnya. Dia mengerling ke arah Chanyeol dan kemudian mengerti, "oh, wait!"
Anak lelaki itu berlari ke dalam kamarnya dan mengambil sesuatu. Hinga tak lama setelahnya, dia kembali dengan dua buah bungkusan yang berisi cupcake dengan gula berwarna-warni.
"Dokjunnie, hyung mendapatkan ini selesai latihan Taekwondo. Apa Dokjun mau?"
Adik lelakinya mengangkat kepalanya dan tersenyum, "Terima kasih, Hyung!"
"Sama-sama, Dokjunnie."
"Darimana?" tanya Chanyeol.
"Eh, apanya, Pa?" tanya Taehyung tidak mengerti.
"Cupcakenya."
"Hmm… itu… dari…" mata Taehyung berlarian, dan ragu untuk menjawab, "dari… Jungkook?"
Wajah Chanyeol berubah berbinar tiba-tiba—setelah mendengar jawaban dari anak lelakinya,
"Kemajuan! Akhirnya!"
"Pa… dia memberikan ini padaku karena… ya… dia tahu aku latihan Taekwondo dan ya…"
"It's okay. Tapi kau tidak boleh menjadi pengecut, Taehyung-ah."
"Papa dulu tidak seperti itu? Memangnya aku harus bagaimana, Pa?" tanya Taehyung penasaran.
Baekhyun duduk dan menimpali, "Jangan bertanya pada Papamu."
"Eh, kenapa begitu, Ma?"
"Karena Papamu juga seorang pengecut ketika—"
"Mari makan!" potong Chanyeol.
Baekhyun dan Taehyung tertawa bersamaan. Mereka mendapati Chanyeol terdiam dengan telinga—yang mencuat itu—berubah menjadi merah karena malu. Iya, karena memang Chanyeol juga seorang pengecut ketika berusia sama dengan Taehyung—bahkan ketika sudah sekolah menengah atas sekalipun.
.
.
.
Baekhyun mengerjapkan matanya. Dia mengerling ke arah jam yang ada di samping lampu tidurnya. Masih jam tiga pagi, dan entah mengapa dia terjaga. Ia memutar badannya dengan susah payah, karena Chanyeol yang melingkaran tangan di pinggangnya hingga Baekhyun merasa—awalnya—punggungnya menempel dengan dada suaminya yang raksasa itu.
Dia mendatarkan badannya, dan menoleh ke arah Chanyeol. Entah sudah beberapa hari ini dia tidak melihat Chanyeol tidur setenang itu—atau mungkin karena Chanyeol jarang pulang juga. Baekhyun merasa iba ketika melihat bagaimana bagian bawah mata suaminya mulai menghitam karena jam tidur yang tidak beraturan. Lelaki itu juga sedikit lebih kurus daripada sebelumnya. Chanyeol memang begitu, jika di rumah sakit, dia tidak begitu memperdulikan kesehatannya. Padahal dia sendiri seorang dokter—dan itu membuat Baekhyun sedikit tidak mengerti.
Setelah sekian tahun bersama, Baekhyun masih melihat Chanyeol yang dulu. Seorang Chanyeol yang bisa membuat dirinya terpesona walaupun hanya beberapa kali bertemu. Terdengar chessy, tapi Baekhyun benar-benar merasakannya. Meskipun hubungan mereka tidak seperti pasangan lainnya yang bersikap romantis satu sama lain, tapi Baekhyun menikmati semuanya. Dia berprinsip bahwa mereka punya cara sendiri untuk mengungkapkan perasaan mereka masing-masing. Hey, Chanyeol sebenarnya romantis. Romantis dengan caranya sendiri dan itu sudah cukup membuat Baekhyun menerima.
"Jangan memperhatikan aku begitu." Gumam Chanyeol dengan suara serak dan mata yang masih terpejam.
Baekhyun terkekeh dan memutar badannya hingga menghadap ke arah Chanyeol, "Apa hari ini begitu panas hingga kau berkeringat begini?" tanyanya sembari merapikan poni suaminya yang basah.
"Hmm," Chanyeol mengeratkan pelukannya, "memelukmu membuatku berkeringat."
Lelaki itu membuka matanya. Dia mendapati Baekhyun dengan wajah terjaganya dan itu membuatnya tersenyum. Dia selalu menyukai itu. Menyukai bagaimana Baekhyun menatapnya dengan tatapan mengantuk dan wajah yang terlihat baru saja tersadar dari mimpinya. Baginya, Baekhyun yang begini terlihat sangat polos, dan bukan Baekhyun yang galaknya bukan main itu.
"Kenapa kau tiba-tiba terbangun? Menginginkan sesuatu dariku?" tanya Chanyeol dengan wajah yang jahil.
"YA! Kau ini," Baekhyun tiba-tiba menarik pipi Chanyeol dan membuat pria itu mengernyit, "entah, tiba-tiba aku terbangun."
"Hanya untuk memperhatikan wajahku yang tampan?"
"Berhentilah membanggakan dirimu sendiri, Tikus Amazon. But, you know, I miss being like this."
"Me too."
Mereka berdua hanya terdiam dan menatap mata satu sama lain. Tidak berbicara sama sekali—sehingga mungkin terdengar suara helaan nafas di antara mereka. Iya, meskipun mereka sering mencela satu sama lain, tapi mereka juga merindukan suasana seperti ini.
Chanyeol menaikkan tangannya dan mengusap rambut Baekhyun perlahan. Kepala wanita itu terasa sangat kecil jika dibandingkan dengan tangannya yang sangat lebar. Ayolah, bagian tubuh mana dari Baekhyun yang tidak kecil jika dibandingkan dengan Chanyeol—yang raksasa? Terkadang Chanyeol lupa jika mereka sudah memiliki dua tanggung jawab besar, Taehyung dan Dokjun. Karena Baekhyun masih benar-benar sama seperti dulu. Masih sangat adorable, menurutnya. Meskipun Chanyeol tidak pernah mengatakan itu karena dia tidak mau Baekhyun merasa bangga—dia yang gengsi sebenarnya.
"Aku lapar." Gumam Baekhyun.
"Kau akan pergi mencari makanan di dapur sekarang?"
"Mungkin?"
"Ah, kau merusak suasana. Such a party pooper."
"You are the poop one."
Chanyeol mendesis, "Tidak biasanya kau lapar dini hari begini. Apa naga di dalam perutmu sedang hidup?"
"Bisa-bisanya kau berkata begitu," Baekhyun menyesuaikan badannya hingga lebih dekat dengan Chanyeol, "entah, aku sedang sangat lapar. Mungkin karena aku hanya makan sedikit tadi."
"Ada apa di ruang makan?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya, "Aku akan membuat ramyeon mungkin?"
"Buatkan untukku juga."
"Kenapa kau malah memintaku untuk membuatkannya juga?" tanya Baekhyun dengan mata sinisnya.
"Karena itu sepertinya akan sangat enak."
"Buat saja sendiri. Aku tidak mau."
"Kalau begitu," Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya dan membuat Baekhyun tidak bisa bergerak, "jangan kemana-mana. Kalau kau tidak membubatkan aku juga, maka kau tidak boleh pergi."
Baekhyun terkekeh. Terkadang dia merasa suaminya seperti anak kecil yang benar-benar tidak mau ditinggal ibunya pergi. Chanyeol memang clingy, bahkan sejak mereka masih berkencan dulu. Apalagi jika sedang tidur begini, Baekhyun merasa bahwa dia menjadi guling pribadi Chanyeol yang tidak pernah terlepas dari pelukannya.
"Baek."
"Hmm?"
"Sepertinya aku berencana keluar dari pekerjaanku."
Baekhyun mengerutkan alisnya, "Eh? Kenapa tiba-tiba begitu?"
"Aku hanya—" Chanyeol bergerak dan mendaratkan dagunya di pucuk kepala Baekhyun, "aku hanya merasa bahwa aku tidak punya cukup waktu untuk kalian. Memang sudah menjadi tanggung jawabku sebagai dokter untuk berjaga di rumah sakit, tapi kau tahu sendiri, Baek, ini bukan pekerjaan yang benar-benar aku cintai."
"Kami baik-baik saja sebenarnya. Kau bekerja untuk kami, dan kami mengerti itu."
"Aku tahu. Tapi aku lelah, Baek. Sangat amat lelah."
Baekhyun bergerak untuk sedikit merenggangkan pelukan Chanyeol dan menyejajarkan dirinya agar bisa melihat wajah lelaki itu, "Jika kau keluar dari pekerjaanmu, apa yang akan kau lakukan?"
"Membantu Appa? Kau tahu sendiri aku anak tunggal. Appa juga sudah cukup tua untuk mengurus semuanya. Aku akan membantu Appa mengurus semua usahanya."
Baekhyun menghela nafasnya. Dia tahu, jika Chanyeol sudah lelah dengan rutinitasnya sebagai dokter yang semakin lama semakin mencekiknya. Apalagi setelah dia ditunjuk sebagai salah satu general surgeon utama di rumah sakitnya, membuat dirinya tidak bisa mengistirahatkan badannya barang sebentar saja.
"Apa kau tahu bahwa mengurus sebuah perusahaan juga sama lelahnya?"
"Aku tahu, Baek. Sangat tahu. Mungkin juga aku akan tidak memiliki waktu sama seperti sekarang—tapi setidaknya, aku bisa mengatur kapan aku harus berkumpul dengan kalian dan kapan harus memikirkan pekerjaan. Jika seperti ini? Bayangkan saja jika saat kita berlibur tapi tiba-tiba aku harus ke rumah sakit dan meninggalkan kalian? Semuanya berbeda, Baek. Jika mengikuti jejak Appa aku bisa memilih waktu, tapi menjadi dokter tidak."
Baekhyun tahu, Chanyeol merasa jika banyak melewatkan banyak hal. Sangat amat banyak sehingga dia merasa jika jenuh dengan pekerjaannya dan ingin keluar saja. Bukan salah Chanyeol, tentu. Karena itu sudah menjadi kewajiban baginya. Tapi mungkin Chanyeol merasa tanggung jawabnya di rumah sakit membuat dirinya menjauh dari tanggung jawabnya di rumah. Dan mungkin, itu mengganggu pikirannya belakangan.
"Baek? Apakah kau menyutujuinya?"
Baekhyun tersenyum kecil, "Terserah, Chanyeol-ah. Kau sendiri yang tahu apa yang terbaik untukmu. Aku akan mendukung keputusanmu. Lagipula… aku merasa kesepian juga akhir-akhir ini."
"Karena aku tidur di rumah sakit?"
"Mungkin?"
Chanyeol terkekeh, "Aku tahu kau memang tidak bisa tidur jika tidak bersamaku. Astaga, mengapa kau sangat clingy, Baekhyunnie?"
"Apa itu tidak terbalik? Kau saja melarangku pergi padahal hanya membuat ramyeon di dapur."
"YA! Aku sudah bilang jika aku akan melepaskanmu jika kau membuatkan ramyeon juga untukku."
"Alasan."
"Tidak! Tidak ada alasan."
"Terserah kau saja."
"Kau akan membuatkannya untukku, tidak?"
"Tidak," Baekhyun bergerak memunggungi Chanyeol, "aku memilih untuk tidur saja."
"Sebenarnya kau malas untuk bergerak dari ranjang. Aku tahu itu."
Baekhyun terkekeh, "Aku benar-benar mengerti kali ini."
"Dan kau malas karena kau tidak mau jauh dariku."
"Kau memang sedikit gila, Tikus Amazon." Gerutu Baekhyun yang merasakan seseorang mengendus pucuk kepalanya kemudian.
.
.
.
TBC.
"KIM JONGDAE!" seru Baekhyun sembari melambai-lambaikan tangannya dari kejauhan.
"Astaga." Gumam Taehyung.
Entah bagaimana ceritanya, Taehyung melihat Mamanya datang bersama sang adik, Dokjun, di tempat latihannya. Mungkin untuk menjemput dirinya yang memang akan pulang sekitar 15 menit lagi. Tapi teriakan Mamanya baru saja membuat Taehyung malu. Malu sekaligus senang karena Baekhyun datang menjemputnya disaat dia sama sekali tidak meminta.
Taehyung yang duduk setelah mendapatkan pengarahan dari Jongdae itu akhirnya berdiri dan bergerak mendekat ke arah ibu dan adiknya, "Mama? Kenapa Mama ada disini?"
"Kami menjemputmu, Taehyung-ah," Baekhyun melirik ke salah satu sudut ruang latihan dan mendapati seorang gadis kecil yang memakai seragam sekolah—yang mirip dengan seragam Taehyung, "pacarmu menunggu?"
"Oh—bukan, Ma! Kami hanya berteman—"
"Aww, anak lelakiku sudah beranjak dewasa," Baekhyun terkekeh, "tidak, kau masih terlalu dini untuk begitu. Tunggu sampai sekolah akhir, Taehyungie."
"Aku tahu, Ma." Taehyung tersenyum kecil, "Tapi dia cantik." Ucapnya sembari melirik ke arah gadis itu.
Baekhyun tersenyum. Kemudian dia membisikkan sesuatu pada anak bungsunya. Tak lama, Dokjun berjalan menuju gadis itu dan berhasil menariknya ke arah dimana Baekhyun dan Taehyung berada. Baekhyun sempat melihat Taehyung sedikit panik, namun berhasil menenangkannya.
"Jungkook?" tanya Baekhyun.
Gadis kecil itu mengangguk, "I-iya."
Baekhyun tersenyum kecil, "Terima kasih, cupcakenya. Taehyung dan adiknya sangat menyukainya."
Gadis itu menatap Taehyung dan tersenyum hingga pipinya yang putih berubah merah. Dia segera menundukkan kepalanya karena malu. Dan itu sukses membuat Baekhyun gemas.
"Aku… membawa sesuatu lagi untukmu." Ucap gadis itu pada Taehyung.
"A-apa?"
"Ini," dia menyodorkan sebuah kotak makan pada Taehyung dan anak lelaki itu menerimanya, "hmm, aku harus pulang sekarang."
"Oh? Okay. Hati-hati."
Gadis itu mengangguk. Tak lupa dia berpamitan pada Baekhyun dan sempat mencubit pipi Dokjun gemas.
Setelah gadis itu pergi, Baekhyun berkata, "YA! Anak Muda, seharusnya kau mengantarkannya sampai keluar ruangan latihan!"
"Tapi, Ma. Aku… gugup—"
"Astaga, kau ini! Sudah sangat baik dia mengantarkan makanan untukmu—apa isinya?" tanya Baekhyun.
"Cheese cake. Ah, aku suka ini."
"Dan kau hanya berkata hati-hati padanya?"
"Ah… Mama. Aku menjadi merasa bersalah."
"Iya, kau harusnya begitu."
Disaat mereka masih berdebat, tiba-tiba ada orang mendekat. Kim Jongdae.
"Berisik sekali." Ucapnya yang segera duduk di samping Baekhyun dan mendudukkan Dokjun di pangkuannya.
"Hey! YA! Aku merindukanmu, astaga! Kemana saja kau—"
"Aku? Sibuk melatih anak lelakimu."
Baekhyun mendecakkan lidahnya, "Kau harus melatihnya dengan baik. Awas saja kau memperlakukan dia dengan tidak benar."
"Astaga, dia keponakanku! Bagaimana bisa aku memperlakukan dia dengan tidak baik?"
Taehyung menimpali, "Biarkan saja, Samchon. Mama memang sedang sensitif akhir-akhir ini."
Jongdae menyipitkan matanya, "Chanyeol sudah mencetak skor?"
"YA! KAU!"
Dan Baekhyun hampir mengeluarkan sungutnya setelah mendengar pertanyaan Jongdae.
I'm really sorry for being inactive, lately.
Many things happened dan aku butuh vakum dulu emang.
My heart has broken with a heart-breaking news, yeah, you know, i need some breaks to clean my brain from bad thoughts but i think that's hard. So... aku mencoba buat baik-baik saja dan nulis biar lupa. Hehe.
Yup, give me a support to start something new! EXO-L udah pernah ngalamin dan aku belum ada di fandom saat itu jadi... pas fandom pertamaku ngalamin itu rasanya sooooo hurt. Ya sudahlah~ ini curhatan yang unimportant tapi aku bakal berusaha sering update abis ini.
See you soon, Guys.
Nana.
