Hello :)

Long time no see!

Actually aku lupa di Request ada Yook Sungjae atau engga.

Kalo ada please kasih tau aku, aku ganti ntar namanya wqwq

.

.

.

Baekhyun sedang bersantai di ruang tengah sembari menemani Dokjun siang hari itu. Sedang menuju akhir pekan yang panjang—karena ada hari libur tambahan—namun mereka hanya berdua di rumah. Seperti biasa, Chanyeol berada di rumah sakit dan Taehyung sendiri berlatih untuk kompetisi Taekwondo-nya yang tinggal dua bulan lagi. Anak lelakinya itu sangat teguh dengan kemauannya untuk mengikuti kompetisi tersebut. Dan karena sifatnya yang keras kepala sama persis seperti Chanyeol, maka Baekhyun tidak bisa berbuat apa-apa.

Sebentar lagi orang tua Chanyeol akan datang ke rumahnya. Keduanya sedang berlibur di Korea dan meminta Baekhyun untuk meminjam kedua anaknya di akhir pekan. Mereka merindukan dua iblis kecil itu katanya—dan Baekhyun merasa akhir pekannya sedikit lebih baik tanpa teriakan dari mereka.

"Dokjun-ah, ambil tasnya. Halmeoni dan Harabeoji akan datang sebentar lagi."

Carbon copy dari Chanyeol itu berdiri dan berlari tanpa memberikan jawaban. Dia selalu antusias jika bertemu dengan kakek dan neneknya. Karena, jika dengan mereka berdua, Dokjun akan dimanja dan tidak akan dimarahi—tidak seperti Baekhyun yang marah hampir di setiap detiknya.

"Hyung?" tanya Dokjun yang sudah mengambil tas ransel berisi pakaiannya.

Baekhyun menoleh sembari menyisir rambut anak lelakinya dengan jari-jemarinya, "Hyung sebentar lagi akan pulang. Jadi mungkin… menunggu Hyung sebentar. Tidak apa, 'kan?"

"Tidak apa, Ma!"

Baekhyun tersenyum ketika melihat anak bungsunya itu. Dia tampak antusias. Wajar saja, cukup lama dia dan sang kakak tidak berlibur atau sekadar pergi bersama kakek-neneknya. Apalagi jika bersama mereka, anak-anak Baekhyun akan mendapatkan kebebasan. Tidak sama dengan di rumah yang hampir setiap detik mendapatkan amukan dari Baekhyun ataupun Chanyeol—90 persen dari Baekhyun sebenarnya.

Sesekali Baekhyun tertawa ketika anak lelakinya itu bernyanyi. Pelafalan anak itu masih banyak yang keliru, dan Baekhyun menganggap itu hal yang lucu. Tidak jarang ia mengajarkan Dokjun untuk mengucapkan kata per kata dengan benar; dan ketika Dokjun bisa mengucapkannya, ia merasa puas meskipun pada akhirnya tertawa dengan tingkahnya sendiri.

Ketika Baekhyun masih bercengkerama dengan Dokjun yang menceritakan bagaimana sekolahnya, monitor pintu rumah mereka berbunyi. Dan Dokjun, yang sudah tahu sosok yang saat ini berdiri di depan rumah mereka, segera berdiri dari tempatnya duduk dan meninggalkan Baekhyun yang sebenarnya sangat malas untuk beranjak. Anak lelaki itu terlihat sangat bersemangat, apalagi mungkin sudah beberapa bulan mereka tidak bertemu. Dua bulan? Atau mungkin hampir tiga bulan lamanya.

"Baekhyunie!" sapa ayah Chanyeol ketika pintu sudah terbuka.

Baekhyun tersenyum. Segera dia memeluk kedua mertuanya, walaupun beberapa detik setelahnya Baekhyun merasa tidak diperlukan karena mereka hanya sibuk dengan cucu kesayangan mereka. Dokjun sendiri sudah berada di gendongan ayah mertua Baekhyun, dan dengan cerianya menceritakan bagaimana rencana liburannya nanti.

"Taehyung di mana?" tanya ibu Chanyeol yang sekarang sudah duduk di ruang tengah.

Baekhyun, yang datang dari dapurnya sembari membawa dua buah gelas jus jeruk itu pun menyahut, "Latihan Taekwondo. Kompetisinya akan dimulai dua bulan lagi," ia menghela nafasnya sebentar sebelum akhirnya duduk di samping ibu mertuanya, "dia sama saja seperti ayahnya. Sangat sulit untuk diberitahu."

Ayah Chanyeol yang sedari tadi sibuk dengan Dokjun pun menimpali, "Chanyeol membesarkan dia dengan benar, hm?"

Baekhyun melirik lelaki yang terkekeh itu, "Ayah, cukup aku menghadapi Chanyeol. Sekarang Taehyung juga sudah menunjukkan sifat yang mungkin bisa dibilang duplikat dari Chanyeol," ia menghela nafasnya sesaat dan mengalihkan perhatian pada ibu mertuanya, "asal Ibu tahu, jika pagi hari tiba dan Chanyeol ada di rumah, serasa aku menghadapi tiga troublemaker yang memanggil namaku hingga aku ingin membelah diri saja. Mereka benar-benar tidak memberikan aku kesempatan untuk bernafas."

Mendengar keluhan itu, ayah Chanyeol tertawa terbahak-bahak. Ia merasa bisa membayangkan bagaimana repotnya Baekhyun jika pagi hari sudah datang dan ketiga orang itu mencari-cari dirinya hanya untuk hal yang sepele. Tawa ayah Chanyeol hanya berlangsung beberapa saat saja, karena istrinya yang mendelik dengan wajah yang kesal.

"Biarkan pria tua itu." kata ibu Chanyeol yang sebenarnya merasa mengerti dengan situasi Baekhyun saat ini.

"Chanyeol hanya bisa menurut jika ada anak kecil lagi di sini, Baekhyun-ah," ayah Chanyeol mengerling ke arah Dokjun yang ada di pangkuannya, "Dokjunie, bagaimana jika ada adik kecil perempuan di rumah?"

"Hng? Seperti Seola?" tanya Dokjun.

"Seola—" ayah Chanyeol melirik ke arah Baekhyun karena tidak tahu siapa Seola dan Baekhyun hanya berbisik dengan jawaban 'anak perempuan Kyungsoo yang bungsu', "iya, seperti Seola."

Sebenarnya Baekhyun merasa takut dengan reaksi Dokjun. Memang benar, salah satu hal yang dipikirkan oleh Baekhyun adalah respon Dokjun ketika membahas tentang adik perempuan. Belum pernah sekali pun ia dan Chanyeol membahas hal itu di depan Dokjun, karena takut jika anak lelakinya yang masih kecil itu tidak setuju dan menolak. Apalagi Dokjun masih cukup manja untuk anak seusianya karena Taehyung yang selalu membelanya.

"Mama akan memberikan Dokjunie adik seperti Seola?" tanya Dokjun pada ibunya.

"Oh—itu, ah—mungkin?"

Mendengar hal itu Dokjun tersenyum. Bahkan matanya yang bulat—yang sangat persis dengan Chanyeol—itu terlihat terpejam, "Berarti Dokjunie akan punya teman bermain di rumah?"

"Ah—itu, iya?" jawab Baekhyun terbata.

"Give me a little sister, Mama!"

Baekhyun menghela nafas. Sejenak ia merasa bodoh—ia lupa jika Dokjun sangat suka bermain dengan Seola jika berada di rumah sahabatnya, Kim Taeoh.

.

.

.

Sore itu Chanyeol pulang lebih awal. Ia mengambil cuti selama libur panjang tiba. Lagipula dokter bedah lain sudah mengambil cuti sebelumnya dan membuat shift Chanyeol bertambah. Jadi, baginya, mengambil cuti untuk libur panjang kali ini bukan hal yang berdosa. Meskipun ia tahu jika ia harus siap dipanggil jika ada keadaan darurat tiba.

Rumah terasa sepi. Tidak ada teriakan Dokjun yang melengking atau tawa Taehyung yang suaranya sudah mulai berubah karena pubertas—dan terkadang Chanyeol merindukan suara Taehyung yang masih seperti anak-anak. Ia menggantungkan jas putihnya, sembari meregangkan ototnya sesekali. Ia mencari Baekhyun, yang biasanya bersantai di depan televisi atau pun membersihkan rumah. Namun hari itu, mendapati rumah sangat sepi dan tidak terdengar kegaduhan seperti biasanya.

Ia menenggak segelas air dingin yang baru saja diambilnya dari dalam lemari es. Ia mengerutkan alis, merasa bahwa situasi ini sangatlah tidak biasa di rumahnya. Dengan badan yang lelah, Chanyeol menyeret langkah kakinya menuju tempat di mana ia akan menghabiskan harinya. Kamar tidur.

"Baek?" ucap Chanyeol.

Ia mendapati Baekhyun, yang memiliki badan kecil itu meringkuk dengan sebuah guling di pelukannya. Matanya terpejam, dengan bibir yang sesekali mengecap. Chanyeol sendiri menghela nafasnya dan tersenyum, menyadari bahwa kebiasaan tidur pasangannya itu tidak pernah berubah. Mengetahui bahwa Baekhyun tidak bergerak dari posisi awalnya, Chanyeol bergegas merebahkan badannya juga—setelah meletakkan segala macam bawaannya. Baju kerjanya masih melekat, dan dia tidak punya niat untuk menggantinya sama sekali.

Baekhyun bergerak, ketika merasakan ada seseorang yang menjatuhkan badan di belakang punggungnya. Dengan mata yang masih sulit untuk terbuka, ia membalikkan dirinya. Ia mendapati Chanyeol yang berbaring dengan lengan kanan yang menutupi kedua matanya yang terpejam.

"Kau sudah pulang?" tanya Baekhyun dengan suara serak sembari membalikkan badannya menghadap Chanyeol.

"Hmm," Chanyeol menurunkan lengannya dan menoleh, "anak-anak pergi hari ini?"

Baekhyun mengangguk malas, "Siang tadi Ayah dan Ibu menjemput mereka."

"Kau sendiri? Kenapa kau sudah tidur di sore hari begini?"

"Rumah sangat sepi," Baekhyun yang sudah tidak memeluk guling kesayangannya itu melemparkan lengan ke pinggang suaminya, "karena tidak ada yang perlu ku marahi, jadi aku tidur saja."

Chanyeol terkekeh, "Beberapa hari belakangan kau jadi mudah tidur dan cenderung malas, kau tahu."

"Benarkah?" Chanyeol mengangguk, "Aku sama sekali tidak menyadari itu."

"Kau sering tidur lebih awal saat malam dan rajin tidur siang. Ada apa denganmu? Apa kau sedang sakit?"

"Entah, mungkin tekanan darahku sedang turun—seperti biasanya."

Chanyeol mengerucutkan bibirnya gemas. Melihat Baekhyun yang masih belum terlalu sadar dari mimpinya itu—apalagi dengan tatapan yang masih kosong. Ia tertawa kecil sembari menarik pipi Baekhyun dan membuat wanita itu berteriak kesakitan—kejahatan fisik menjadi hal yang lumrah untuk keduanya.

"Apa kau lebih gemuk sekarang?" tanya Chanyeol dengan jari-jemari di pipi Baekhyun.

"Bagaimana bisa—YA! Jangan tertawa!" seru Baekhyun ketika melihat suaminya tersenyum jahil.

"Tapi pipimu terasa lebih chubby—seperti pipi Seola."

"Diam."

"Aku jujur, Baek!" Chanyeol melepaskan jari-jarinya dan bergerak mendekat. Dan tanpa Baekhyun duga, Chanyeol mengarahkan rahangnya ke arah pundaknya.

"PARK! CHANYEOL!" teriaknya ketika Chanyeol menggigit pundak kanannya.

Chanyeol tertawa terbahak-bahak dan menubruk badan Baekhyun yang kecil itu. Ia menumbukkan badannya di atas badan Baekhyun dan memejamkan matanya. Kepalanya berada di sela-sela pundak dan leher wanita itu—dan dengan hidung yang menempel di leher tersebut.

"Ada apa denganmu?" tanya Baekhyun yang tidak mengerti dengan tingkah suaminya.

"Tidak tahu," ia menghela nafasnya sesaat sebelum berucap lagi, "aku hanya ingin bertingkah begini saja. Karena di depan anak-anak aku tidak mungkin begitu."

Baekhyun terkekeh dan mengusap rambut Chanyeol yang tebal itu, "Hmm… Our Big Puppy…" gumamnya yang menyadari bahwa lelaki itu ingin dimanja juga.

"I'm not a puppy, though!" ia mendongakkan badannya dan mendelik ke arah Baekhyun, "I'm a wolf—"

Baekhyun tertawa terbahak-bahak, menyadari bahwa ia melihat Dokjun dengan ukuran yang lebih besar. Bukan, dengan ukuran yang sangat besar atau bisa dibilang dengan ukuran raksasa.

"Astaga, ada apa denganmu?" ucap Baekhyun di sela-sela tawanya.

Chanyeol menggelengkan kepalanya—dengan tingkah yang persis seperti anak kecil, "Tidak tahu, Baek. Aku juga merasa aneh dengan diriku belakangan—apa aku membuatmu risih?"

"Nope, tidak apa. Mungkin karena kau harus menjaga wibawamu ketika bekerja, jadi kau ingin bersikap seperti ini."

Baekhyun bisa memaklumi itu. Dengan jabatan Chanyeol sebagai salah satu orang penting di divisi bedah, tentu lelaki itu harus menjaga wibawanya di depan bawahannya. Jika di rumah, ia tidak bisa bertingkah semaunya karena Taehyung sudah siap untuk mengkritik dan dia juga tidak bisa lebih childish daripada Dokjun.

"Biarkan aku begini sebentar."

Baekhyun menggumam. Dengan segera ia mengusap perlahan rambut Chanyeol yang saat ini lagi-lagi mendarat di atas badannya. Kepala lelaki itu berada tepat di atas dada Baekhyun—dan sempat membuat Baekhyun protes. Chanyeol memejamkan matanya, dan sesekali menghela nafas lega ketika merasakan tangan Baekhyun yang mengusap kepalanya.

"Apa sebaiknya kita pergi hari ini?" tanya Chanyeol malas.

"Ke mana?"

"Makan dan menonton film? Ku dengar ada film action baru hari ini."

"Itu ide bagus! Sebaiknya kita mandi dan bersiap-siap dulu, Chan."

Chanyeol mendongakkan kepalanya dan tersenyum lebar, "Kita mandi bersama?"

"YA! Yang benar saja kau—tidak!"

"Ayolah! Ayolah!"

"Tidak!"

Chanyeol mendesis, "Lagipula kenapa kau tidak mau mandi bersamaku? Malu?" ia mendecakkan lidahnya sesaat, "Ayolah, nanti malam mungkin aku melihatmu telanjang juga di atas ranjang ini—"

"Astaga! Ucapanmu, Chan!" seru Baekhyun yang sudah bersemu.

"OH! Jika kau tidak mau melakukannya nanti malam, kita bisa melakukannya sembari mandi!" kata Chanyeol dengan wajah yang puas.

"Terkadang aku menyesal menikah denganmu karena kau jarang menggunakan otakmu, Chan," ia memukul kepala Chanyeol dengan kepalan tangannya, "ayolah berfungsi!" serunya yang disambut dengan teriakan suaminya yang mengaduh.

Meskipun begitu, beberapa menit kemudian, teriakan itu tergantikan dengan suara Baekhyun yang melenguh dan Chanyeol yang menggeram dari kamar mandi.

.

.

.

Mereka duduk di sebuah restoran dengan makanan yang sudah tersedia di hadapan mereka. Sesekali mereka tertawa karena cerita yang mereka tukar satu dengan yang lainnya. Terkadang, sang lelaki mengerutkan alis dan melemparkan amarahnya, amarah tentang bagaimana lingkungan kerja yang tidak mendukung. Si wanita itu hanya bisa tersenyum kecil, mengetahui bahwa tidak ada hal lain yang bisa dilakukan selain menjadi telinga untuk segala macam keluhan dari sang pria.

"—bahkan si dokter baru itu suka bergosip dengan yang lainnya! Geez, aku heran mengapa para perawat itu terpesona dengannya. Aku mengakui kerjanya cepat dan bagus, tapi tetap saja dia tukang gosip!"

Baekhyun terkekeh sembari meletakkan beberapa iris daging ke piring suaminya, "Siapa namanya?"

Mulut yang penuh itu berusaha menjawab, "Apanya?"

"Dokter baru itu, siapa namanya?"

"Sungjae."

Gadis itu mengerutkan alisnya sesaat, merasa familiar dengan nama tersebut, "Sungjae? Yook Sungjae?"

"Hmm, kenapa?"

"Dia temanku ketika masih berlatih Taekwondo di kampus dulu. Dia memang tampan, kau tahu."

Si lelaki, yang pada awalnya berkonsentrasi dengan makanannya itu pun mendongak. Alisnya berkerut, dan bahkan telinganya yang mencuat itu sudah berubah warna menjadi kemerahan, "Kau mengatakan dia tampan?"

Baekhyun mengangguk, "Dia terkenal tampan dan seorang social-butterfly. Temannya sangat banyak dan dia sangat ramah. Bahkan dulu aku pernah dekat dengannya—"

"Dekat? Maksudnya?" tanya Chanyeol dengan nafas yang sudah kasar.

"Dekat—ya… dekat! Ketika aku baru saja berpisah dengan Kris, aku sempat dekat dengannya. Meskipun pada akhirnya kami tidak berkencan karena dia pindah ke Jepang untuk menyelesaikan pendidikan medisnya."

Chanyeol tidak menjawab. Dia kembali menyibukkan dirinya dengan makan yang ada di hadapannya. Dia bahkan tidak melihat Baekhyun lagi, karena dia tahu jika wanita itu akan menertawakan tingkahnya saat ini. Yang jelas, dengan ucapan Baekhyun baru saja, dia akan menuliskan nama Yook Sungjae pada deretan nama-nama di daftar hitamnya.

"Chan?" Baekhyun terkekeh dan berusaha melihat wajah Chanyeol yang saat ini menunduk, "Ada apa denganmu?"

"Kau tahu betapa menyesalnya aku membicarakan hal ini tadi?" rengek Chanyeol.

Baekhyun tertawa terbahak-bahak, apalagi ketika melihat Chanyeol yang mendongak dengan bibir mengerucut, "Aku dan Sungjae tidak lebih dari sekadar teman. Astaga, tak ku kira kau mencemburui hal seperti ini, Chan. Kau sangat konyol."

"Tidak peduli. Yook Sungjae akan menjadi bulan-bulananku nanti."

"Jangan!"

"YA! Kau membelanya!"

Baekhyun mengetukkan sendoknya di pucuk kepala Chanyeol, "Bisa-bisanya kau—"

"Bisa-bisanya kau mengetuk kepala suamimu sendiri," ia mengusap kepalanya dan memutar kedua bola matanya, "dasar berandalan!" gumamnya sembari menyendokkan kepalanya lagi.

Wanita itu terkekeh, menyadari bahwa Chanyeol sangat bertingkah kekanak-kanakan hari itu, "Ada apa denganmu? Aku masih tidak mengerti mengapa kau bersikap begini hari ini."

Chanyeol menggelengkan kepalanya, "Karena merasa lega? Setelah bertahun-tahun kita jarang menghabiskan waktu berdua, Baek! Bahkan aku tidak pernah bersikap begini padamu."

"Aku bisa mengerti. Kau harus menjadi orang yang menjaga wibawamu sendiri entah di rumah maupun di tempat kerja. Melelahkan, hm?"

Chanyeol mengangguk, "Tapi itu sudah menjadi resiko."

Baekhyun hafal betul dengan sikap Chanyeol yang moody dan mudah terbawa suasana. Contohnya, jika sedang di rumah sakit, dia akan menjadi Chanyeol yang tegas dan sedikit emosional. Jika di rumah dan ada anak-anak, mau tidak mau dia menjadi Chanyeol yang bisa membagi perhatiannya dan sosok yang dewasa. Meskipun sebenarnya Taehyung sedikit banyak sudah mengetahui sifat ayahnya, namun bagi anak itu, Chanyeol tetaplah ayah yang menakutkan jika sudah meledak.

"Kau belum kenyang juga?" tanya Chanyeol pada Baekhyun yang saat ini mengunyah sepotong besar garlic bread.

Baekhyun menggeleng, "Bahkan semula aku ingin memesan mac 'n cheese." Ucapnya dengan bibir yang mengerucut.

"Serius, Baek. Kau berubah menjadi naga beberapa hari belakangan. Apa kau tidak ingat kemarin kau menghabiskan dua porsi bibimbap?"

"Tapi itu kemarin, Chan—"

"Ada apa denganmu? Kau makan dua kali lipat dari pada biasanya—wait!"

Wanita itu terkejut ketika melihat Chanyeol yang membelalakkan matanya. Sang suami dengan tiba-tiba menghentikan aktivitas makannya—seperti baru saja menyadari sesuatu yang terlupakan selama beberapa hari. Mata lelaki itu berbinar-binar, dan bahkan terlihat bersemangat layaknya akan mengikuti kompetisi marathon.

"Apa, Chan? Kau sangat random hari ini—"

"Sehabis ini kita ke rumah sakit, ya? Batalkan rencana menontonnya!"

"Untuk apa? Kau ada janji?" Chanyeol menggeleng dan membuat Baekhyun mengerutkan alisnya, "Lalu? Ada operasi mendadak? Atau yang lainnya?"

"Kau harus diperiksa, Baek!"

Wanita itu mengerutkan alisnya tidak mengerti, "Aku tidak sakit apa-apa, Chan. Yang benar saja—"

"Tapi aku sudah cukup lama berasumsi, Baek. Kali ini kau harus menurut padaku!"

"Apa maksudmu aku tidak mengerti—"

Chanyeol menggelengkan kepalanya dan menangkup wajah Baekhyun hingga bibir itu mengerucut, "Habiskan makananmu dulu—"

"Mac 'n cheese—"

"Okay, mac 'n cheese, atau apapun yang kau inginkan saat ini, aku akan menurutinya."

Sikap Chanyeol yang sangat random dan tidak jelas itu membuat Baekhyun tidak mengerti; sama sekali.

.

.

.

"Hish."

Chanyeol menggerutu setelah menyadari bahwa ia harus bertemu Yook Sungjae. Mereka berdua, Chanyeol dan Baekhyun, menginjakkan kaki di rumah sakit tempat Chanyeol bekerja. Lelaki itu menggandeng Baekhyun berjalan, dan membiarkan wanita itu sesekali menanyakan apa yang akan mereka lakukan di sana.

Chanyeol baru saja memeriksa siapa dokter yang sedang berjaga—beserta divisinya, dan ketika dia melihat nama Yook Sungjae di papan nama, semangat Chanyeol tiba-tiba hilang seketika. Sesekali ia mengecek Baekhyun yang dengan santai melihat-lihat bagian dari rumah sakit. Jika diperhatikan, Chanyeol hampir sama dengan membawa seorang anak kecil yang takjub dengan sebuah tempat baru, sebuah tempat yang belum dikunjungi sebelumnya.

"Kita akan pergi ke mana, Chan?" tanya Baekhyun.

"Kau tidak paham?"

Baekhyun menggeleng, "Kalau kau ingin mengecek tekanan darahku, bisa di rumah saja, bukan? Atau…" ia membelalakkan matanya, "aku sakit—"

"Tidak, kau lebih dari sehat. Hanya saja—"

Belum selesai Chanyeol berbicara, "Yook Sungjae!" teriak Baekhyun.

Wanita itu melepas tautan tangan suaminya dan bergegas menuju lelaki bernama Sungjae, yang saat itu sedang bercakap-cakap dengan beberapa perawat di sana. Sungjae sendiri, yang merasa namanya terpanggil, menoleh dan mengerutkan alisnya; berusaha mencari sumber suara. Ketika menemukan sosok yang memanggil namanya, wajah Sungjae terlihat berbinar dan senyumnya mengembang.

"Byun Baekhyun!"

"Oh, Sungjae-ya! Bagaimana kabarmu?" tanya Baekhyun.

"Baik. Sedang apa kau di sini?"

"Aku mengikuti suamiku kemari. Aku tidak tahu ke mana sebenarnya."

"Suamimu?" Baekhyun mengangguk, "Kau sudah menikah? Whoa, tak ku kira kau sudah menikah," Sungjae melihat Chanyeol berjalan dan berhenti di belakang Baekhyun, "Hyung! Bukankah kau tidak ada jadwal jaga malam ini?"

Chanyeol mendesis, "Memang."

"Lalu? Ada perlu? Aku bisa membantumu mungkin?"

"Aku benci mengatakan hal ini tapi—ya, aku butuh bantuanmu."

Sungjae yang ceria itu menepukkan kedua tangannya semangat, "Ah, Baekhyun-ah, sepertinya aku harus meninggalkanmu karena Our Big Hyung membutuhkan bantuanku—"

"Sungjae-ya."

"Ya, Hyung?"

"Bawa Baekhyun ke ruanganmu."

"Baekhyun—wait! Kalian saling mengenal? Hoa! Duniaku sangat sempit, astaga—TUNGGU SEBENTAR! Hyung! Kau suami dari Baekhyun?"

Ingin rasanya Chanyeol meremas muka Sungjae di saat itu juga. Lelaki yang seumuran dengan Baekhyun itu masih mengerjapkan mata, berusaha menerima kenyataan yang ia ketahui baru saja. Meskipun beberapa detik kemudian Sungjae tertawa terbahak-bahak dan—dalam sekejap pula—menampilkan wajah horor.

"Kalian menikah—wow, kalian pasangan yang menyeramkan, tentu saja."

"Yook Sungjae."

Sungjae menegakkan badannya dan mengangkat kedua ibu jarinya, "Siap laksanakan, Hyung!" ia mengamit lengan Baekhyun dan menggandengnya, "Ayo, Baekhyun-ah!"

Chanyeol, yang melihat Baekhyun digandeng begitu saja oleh Sungjae, langsung berwajah panik, "YA! YA! Tanganmu—"

Baekhyun menarik tangannya—dengan wajah yang masih tidak mengerti dan linglung, "Chan, please." Ucapnya yang disambut dengan ekspresi tidak setuju dari suaminya.

.

.

.

Chanyeol memainkan ponselnya di depan ruangan Sungjae. Dia sebenarnya bermaksud untuk masuk ke dalam, namun salah satu dokter bedah lain di sana membutuhkan Chanyeol hanya untuk menanyakan sedikit masalah. Lagipula, dia tidak secemburu itu. Dia percaya jika Baekhyun dan Sungjae sudah tidak ada apa-apa lagi. Dia hanya ingin melihat ekspresi Baekhyun yang kesal, itu saja. Karena wajah Baekhyun yang kesal sangat menggemaskan baginya.

Ia menggulirkan jemarinya pada galeri foto dan video yang ada di ponselnya. Ia mendapati sebuah foto ketika Taehyung memenangkan kompetisi Taekwondo pertamanya, dan bagaimana anak lelaki itu yang berada di gendongan Chanyeol layaknya menggantungkan hidupnya secara penuh. Chanyeol sendiri tidak pernah membedakan sikap antara Taehyung dan Dokjun. Baginya, mereka bedua sama saja—sama-sama iblisnya.

Orang tua kandung Taehyung masih menghubunginya, dan bahkan beberapa minggu yang lalu mereka berkunjung untuk sekadar menanyakan kabar anak mereka. Ibu kandung Taehyung sudah menikah lagi, sedangkan ayahnya masih sibuk dengan kehidupan bisnisnya. Pernah di suatu hari, ibu kandung Taehyung menawarkan sebuah opsi pada anak itu agar kembali hidup bersamanya. Namun, tanpa pikir panjang, Taehyung menolak tawaran tersebut. Karena bagi anak lelaki itu, masa kecil hingga masa beranjak remajanya sudah dilakukan dan dilalui bersama Baekhyun—dan Chanyeol yang datang kemudian.

Chanyeol terkekeh ketika melihat sebuah video di mana Dokjun marah kepada Taehyung yang tidak berhenti menggodanya. Dengan wajah kesal, carbon copy dari Chanyeol itu melemparkan sebuah bantal ke wajah kakak lelakinya hingga terdengar suara dari Baekhyun yang terbahak-bahak sebagai latar belakangnya. Pemandangan itu membuat senyum Chanyeol selalu mengembang, dan rasa lelahnya menguap begitu saja. Dan dia bersumpah sudah merindukan kedua anaknya pada saat itu.

Di dalam pikirannya, Chanyeol sedang menimbang apakah ia akan mendapatkan hasil yang ia harapkan atau tidak. Jika iya, maka ia akan sangat lega. Karena keinginannya untuk membuat mini Baekhyun terpenuhi. Namun jika tidak, ia tidak akan memaksa Baekhyun. Toh sebenarnya, dengan adanya Taehyung dan Dokjun, hidup mereka sudah sangat bahagia—sudah sangat berisik lebih tepatnya.

"Hei."

Baekhyun mendudukkan dirinya di samping Chanyeol. Bibirnya mengerucut, dan beberapa kali menghela nafas layaknya sedang menimang sesuatu untuk diungkapkan. Chanyeol sendiri segera memasukkan ponselnya ke saku jaket yang ia kenakan—dan merasa sedikit gugup untuk mendengar apa yang akan dikatakan oleh wanita tersebut.

"Ini anak pertama, Hyung?"

Chanyeol menoleh ke arah di mana Sungjae baru saja muncul dengan sebungkus keripik kentang—yang entah dari mana ia dapatkan. Ia mengerutkan alis, berusaha menerjemahkan apa yang baru saja Sungjae ucapkan padanya.

"Congrats, Hyung," Sungjae melangkahkan kakinya pergi—berusaha untuk tidak merusak momen dari mereka berdua—sebelum membalikkan badan, "ah, jaga kesehatanmu baik-baik, Baek. Satu bulan lagi kau bisa datang kemari. Aku akan menjadi dokter pendampingmu," ia mengedipkan sebelah matanya sebelum berseru pada salah satu perawat, "Park Sooyoung, Oppa datang membawakan keripik kentang untukmu—"

Chnanyeol yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Sungjae—dan sempat menggerutu karena sikap sok menggoda yang ditunjukkan oleh dokter tersebut—mengalihkan pandangannya pada Baekhyun yang saat ini tersenyum, dan bahkan menahan tawa. Karena sejujurnya wajah Chanyeol terlihat sangat bodoh saat itu.

"Congratulations, Papa." Ucap Baekhyun.

Lelaki itu segera melebarkan bibirnya, menampilkan deretan gigi-gigi yang sangat rapi. Kedua tangannya menggenggam tangan sang wanita dengan erat, dan berulang kali mengucapkan terima kasih. Ia tahu, dalam beberapa bulan ke depan dia kembali akan menghadapi Baekhyun yang super keras—bahkan lebih keras lagi daripada biasanya—dan Baekhyun yang sensitif. Ia juga tahu jika Baekhyun yang begini adalah Baekhyun yang menakutkan. Tapi, dengan bantuan dari kedua iblis kecilnya, mungkin beban Chanyeol akan sedikit lebih mudah. Oh, saat ini Chanyeol berhadap jika Taehyung dan Dokjun akan berubah menjadi dua malaikat penyelamatnya.

.

.

.

"Sejak kapan kau menduganya?" tanya Baekhyun.

"Dua minggu yang lalu?" Chanyeol menghentikan laju mobilnya di sebuah perempatan di mana lampu sedang menunjukkan warna merah, "Aku sudah curiga, namun aku tidak berani mendesakmu untuk sekadar melakukan tes. Karena aku pikir kau tidak akan percaya padaku. Lagipula, aku tidak punya waktu untuk pergi ke rumah sakit bersamamu karena kau sibuk dengan anak-anak."

Baekhyun terkekeh. Dia menepuk perutnya perlahan; perut yang masih datar dan belum berubah bentuk. Baru lima minggu kata Sungjae. Dan Baekhyun menduga liburan di Jeju membuahkan hasil juga. Meskipun sebenarnya dia ragu dan tidak tahu bagaimana cara menghitung usia calon anaknya yang ketiga.

"Misi Jeju-ku berhasil, huh?" goda Chanyeol yang menyeringai hingga lesung pipinya terlihat jelas.

"Belum tentu di Jeju, kau tahu."

Chanyeol, yang sudah menjalankan mobilnya itu mengerutkan alis, "Hm… jika dihitung harusnya dia tumbuh semenjak dari Jeju—kurang lebih begitu."

"YA! Sebelum dan sesudah dari Jeju kau selalu melakukan misimu—hingga aku pikir badanku lelah karena dirimu."

"Tapi aku berhasil."

Chanyeol terkekeh. Ia memindahkan tangannya dari setir ke perut Baekhyun, menepuknya perlahan. Rasanya sangat puas. Dulu, ketika dia tahu anak keduanya adalah laki-laki, sempat terbersit rasa kecewa; meskipun rasa senangnya lebih mendominasi. Apalagi, ketika melihat Dokjun lahir dengan berat badan yang cukup kecil, membuat rasa kecewa Chanyeol pergi dan digantikan oleh rasa khawatir.

"—donkatsu."

Lelaki yang sudah menyudutkan konsentrasinya pada jalanan itu menoleh, "Hm? Apa, Baek?"

"Di sudut jalanan ini ada donkatsu, Chan!" ia mengangguk; dan dengan pipinya yang sudah cukup chubby itu ia tersenyum—dengan wajah manis yang dibuat-buat.

"YA! Kau baru saja makan rice bowl, 2 porsi garlic bread, dan mac 'n cheese—donkatsu itu juga porsi besar, Baek!"

Baekhyun mendelik. Dengan penuh drama, ia memeluk perutnya sendiri dan merengek, "Papa tidak membelikan apa yang kau mau, Jiwon-ah. Tidak apa! Mama akan membelikannya untukmu besok!"

Chanyeol menghela nafasnya tidak percaya. Sepertinya dia menghadapi Baekhyun yang berbeda. Dulu, ketika sedang mengandung Dokjun, dia menghadapi Baekhyun yang berandalan—dan bahkan lebih pemarah daripada sebelumnya. Tapi sekarang, nampaknya Chanyeol akan bertemu dengan Baekhyun yang berubah menjadi seorang drama queen.

Baekhyun lebih memilih untuk diam dan tidak mengajak Chanyeol berbicara. Lagipula, kedai donkatsu yang ia inginkan sudah dilewati oleh mereka, dan butuh rute yang jauh untuk kembali kesana karena jalur yang hanya satu arah. Ia menatap kaca jendela mobil, dan berusaha untuk tidak memperdulikan Chanyeol—walaupun dalam hatinya dia tertawa terbahak-bahak karena ia tahu lelaki itu pasti mengira dia sedang marah atau pun merajuk.

"Baek?" panggil Chanyeol setelah lebih dari lima menit tidak terdengar sedikitpun kegaduhan di dalam mobil tersebut.

Baekhyun melirik, berusaha menampilkan wajah tidak suka pada suaminya. Ia sempat mendengar Chanyeol menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Ia juga melihat Chanyeol yang menggigit bibir bawahnya—dan membuat Baekhyun hampir luluh karena ketampanan suaminya sendiri.

"Astaga—baiklah."

Chanyeol memutar rute perjalanannya. Seharusnya, mungkin, 10 menit lagi dia sudah bisa sampai di rumah. Namun karena permintaan Baekhyun, maka dia harus memutar balik dan menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi.

Ketika tahu mobil sudah beralih jalur, Baekhyun tertawa kecil. Merasa sangat puas karena Chanyeol mengalah untuknya. Sebenarnya lelaki itu sering mengalah, tapi dengan caranya sendiri—dengan perdebatan terlebih dulu. Sekarang keadaan sepertinya akan berbalik. Baekhyun bisa dengan mudah meminta sesuatu pada Chanyeol tanpa harus berdebat dan marah besar.

Chanyeol melirik ke arah Baekhyun yang tersenyum padanya, "Apa maksudnya senyum itu?"

"Thank you!" seru Baekhyun ceria.

"Hish, diam."

"Hu, pemarah."

"Memang, kau baru tahu?"

Baekhyun terkekeh, "Jangan meniru Papa, Jiwon-ah. Papa memang pemarah."

Chanyeol mendecakkan lidahnya. Dia tidak menjawab, karena ia sibuk mencari tempat mobilnya untuk parkir. Iya, mereka sudah sampai setelah sekitar 15 menit berkeliling kota Seoul hanya untuk menuruti keinginan Baekhyun yang tiba-tiba tersebut.

Lelaki itu mematikan mesin mobilnya, dan memutar badan ke arah Baekhyun yang melihat Chanyeol dengan wajah yang kekanak-kanakan—oh, Chanyeol membenci ini, karena ia merasa gemas. Ia tidak berkata apa-apa, hanya memperhatikan Baekhyun dengan matanya yang bulat dan lebar itu. Tangan kirinya masih berada di setir mobil, dan badannya sudah menghadap di mana Baekhyun mendudukkan dirinya.

Ia menepuk perut Baekhyun perlahan, "Jiwon-ah, jangan meniru Mama. Dia seorang drama queen dan berandalan." Ucapnya yang kemudian diakhiri senyum jahil dan wajah yang menyebalkan.

"Park Chanyeol…" gerutu Baekhyun yang sudah ingin menampar wajah Chanyeol.

"Apa, Sayang?"

"Aku membencimu."

"Baiklah," ia menghadapkan dirinya ke arah setir mobil lagi, "donkatsu dibatalkan—atau kau turun dan membeli. Tapi aku pergi."

BUK!

"ACK! Sakit, Baekhyunie!" teriak Chanyeol yang baru saja mendapatkan sebuah pukulan di lengan kanannya.

"Bisakah kau berhenti menyebalkan sebentar saja?" seru Baekhyun.

Chanyeol menoleh. Ia tidak menjawab, tapi malah mengecup kening Baekhyun sebentar dan melepas sabuk pengamannya.

"Ayo."

Baekhyun tidak bergerak. Dia malah memperhatikan Chanyeol yang sudah keluar dari mobil. Dan tiba-tiba, pintu di sebelah kanannya terbuka, dan menampilkan Chanyeol—dengan keadaan seperti sugar daddy yang menyuruh bayinya keluar dari sana.

"Beli tidak?"

"Iya."

"Turun sekarang."

Baekhyun menghembuskan nafasnya kasar, "Kau tidak ingin membantuku turun?"

"Kau tidak turun dari ketinggian 100-meter jadi berhentilah bermain drama dan keluar."

"Lepaskan sabuk pengamannya." Rengek Baekhyun.

"Tanganmu masih berfungsi, Baek."

"Tidak perhatian sama sekali." Gerutu Baekhyun yang sekarang melepaskan sabuk pengamannya sendiri dan keluar dari mobil. Ia meninggalkan Chanyeol yang saat ini masih sudah mengekor di belakanganya.

Baekhyun duduk di salah satu ujung kedai tersebut. Sedang cukup ramai, dan ia mendapatkan tempat tepat di bawah pendingin ruangan. Chanyeol sendiri sedang sibuk memesankan makanan untuknya, dan Baekhyun sudah cukup bersyukur untuk itu. Ia memperhatikan suaminya, dan menyadari bahwa Chanyeol terlihat masih sangat muda untuk punya anak ketiga. Lagipula, pria itu terlihat jauh lebih muda dari usia yang sebenarnya.

Baekhyun melirik ke arah dua orang wanita yang duduk tidak jauh darinya. Wanita-wanita itu melihat ke arah Chanyeol—mungkin mereka tidak tahu jika lelaki itu datang bersama Baekhyun karena mereka berjalan terpisah. Kedua orang wanita itu terlihat terkikik, dengan mata yang tidak beralih dari Chanyeol. Ayolah, tentu wajar jika Chanyeol menjadi bahan pembicaraan seperti itu.

Keyakinan Baekhyun—atas topik pembicaraan kedua orang itu—semakin kuat, apalagi ketika Chanyeol berjalan ke arah Baekhyun dengan sebuah nampan berisi donkatsu dan minumannya. Benar, mata kedua orang itu mengikuti ke mana arah Chanyeol pergi. Sehingga Baekhyun, langsung menepikan badannya dan meminta Chanyeol untuk duduk di sebelahnya.

"Di sini? Tumben sekali. Kau tidak pernah suka jika aku duduk di sampingmu." Ujar Chanyeol yang menurut dengan permintaan Baekhyun.

"Mereka," Baekhyun meraih nampan itu dan mulai menyibukkan diri dengan makanannya, "wanita-wanita itu memperhatikanmu. Bahkan secara terang-terangan membicarakan dirimu."

"Oh, benarkah?"

Baekhyun melirik ke arah Chanyeol yang sekarang matanya tertuju ke wanita-wanita tersebut, "Jangan diperhatikan, Park!"

Chanyeol terkekeh, "Kau menyuruhku duduk di sampingmu agar mereka tahu bahwa aku datang bersamamu? Oh, that's so sweet, Bee." Ejeknya.

"Kau ingin kubunuh sekarang juga?"

"Bagaimana dengan anak-anak? Mereka tidak mungkin tumbuh tanpa ayah."

"YA! Bagaimana bisa kau menggunakan anak-anak sebagai senjata untuk perdebatan ini—licik sekali!"

Chanyeol mendelik dan meletakan soda yang baru saja ia tenggak, "Kau menggunakan senjata anak ini—" ia menunjuk perut Baekhyun, "untuk mendapatkan donkatsu. Kau tahu sendiri aku tidak bisa menolak permintaan dengan alasan seperti itu!"

Baekhyun meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Chanyeol; mengisyaratkan lelaki itu untuk diam, "Biarkan aku makan dengan tenang."

Chanyeol pun terdiam. Dia lebih memilih untuk memperhatikan Baekhyun yang makan dengan lahapnya. Hatinya terasa menghangat, apalagi ketika mendapati pipi Baekhyun menggembung karena makanan yang masuk ke ruang mulutnya. Sangat menggemaskan, dan Chanyeol merasa bahagia karena hal tersebut. Iya, kebahagiaannya sangat sepele.

Namun suasana hangat itu hanya berlangsung sebentar.

"YA! Berhenti melihat suamiku—"

"BAEK! Jangan—"

Sebuah sendok melayang ke arah salah satu dari dua wanita tersebut.

.

.

.

TBC.


"Tumben kau bangun pagi." Ucap Baekhyun yang duduk di sofa depan televisi pada Taehyung yang baru saja bangun.

"Aku baru saja dari kamar mandi dan tidak bisa tidur lagi," anak lelaki itu meletakkan kepalanya di pangkuan Baekhyun, "apa dia baik-baik saja?" tanyanya sembari menempelkan telinganya ke perut Baekhyun.

Wanita itu terkekeh, "Tentu saja dia baik-baik saja."

Dengan mata yang terpejam, Taehyung menggumam lirih. Ia membetulkan posisinya hingga lebih nyaman lagi. Tapi—ayolah—pangkuan Mamanya selalu nyaman. Terbukti dari kecil dia selalu suka berada di sana. Hanya saja, sekarang, dia terlalu besar untuk melakukan itu—dan mungkin cenderung tidak pantas untuk dilihat. Dia hanya bisa tidur di sana, dan menikmati tangan ibunya yang menyisir rambutnya perlahan.

"Ma."

"Hm?" ucap Baekhyun yang seketika menghentikan jari-jemarinya.

Taehyung mendongakkan kepalanya, "Jangan berhenti."

Baekhyun terkekeh, "Baiklah. Tapi ada apa?"

"Aku hanya—aku tidak sabar menunggu dia lahir meskipun itu masih lama. Hanya saja… rasanya aku ingin benar-benar lahir dari perut Mama sendiri. Apakah keinginanku aneh?" tanyanya dengan suara yang tiba-tiba tenggelam.

"Taehyung-ah," Baekhyun menarik Taehyung hingga duduk di hadapannya, "kenapa kau menangis begini astaga—" ia mengusap pipi anak itu dengan lengan pakaiannya, "dengar, tidak peduli kau benar-benar Mama lahirkan atau tidak, Mama tetap menyayangimu seperti anak yang Mama lahirkan sendiri."

"Tapi rasanya berbeda, Ma. Justru karena aku bukan anak kandung Mama aku menjadi merasa iri karena kalian menyayangiku seperti ini…"

Baekhyun terkekeh dan memeluk anak lelakinya, "Semuanya tidak bisa berubah, Taehyung-ah. Termasuk kasih sayang kami. Tapi bersyukurlah, karena kami bersamamu sekarang."

Taehyung mengangguk lemah, dan menyisakan sedikit isakan dari sana.


I'm really sorry because I've gone for a while. Huhu.

Janji buat update cepet keknya bakal susah sekarang.

Aku udah kerja dan sejujurnya aku gak tau mau bawa cerita ini ke mana heu.

Lagian aku ngerasa kehilangan touch di nulisku. Jadi, maklumin ya kalo jelek huhu.

Maybe aku bakal update cerita satunya atau yang OTP lain ya we will see lah.

Maaf ya udah lama gak update! Kalo sempet bakal aku update kok.

.

Hope you have a great day!

Nana.