Hello! Long time no see, Guys!

Hope you still remember this story! Hehe.

Enjoy!

.

.

.

"Dokjun-ah! Kemarikan!"

Chanyeol berbisik ke arah anak lelakinya yang duduk di atas troli itu. Anak lelaki itu mengangguk, sembari kemudian mengambil sebuah botol dengan isian berwarna merah dan kemudian menyerahkan kepada ayahnya. Sang ayah, kemudian mengembalikan botol itu ke tempat semula, di mana terdapat deretan benda yang sama di sana dan menggantinya dengan yang lain.

Dokjun terkikik melihat ayahnya yang dengan ceria mengembalikan beberapa barang yang ada di troli berlanjaan mereka. Sedangkan orang yang memasukkan barang itu sama sekali tidak tahu dan hanya berjalan ke depan sembari memilih barang dan memperhatikan daftar belanjaannya. Chanyeol sendiri mengacungkan jari telunjuknya di depan bibir, berkompromi dengan anak bungsunya yang sudah dijanjikan sekotak besar sereal jagung yang disukainya selama ini—tanpa sepengetahuan ibunya juga.

Lebih dari satu jam berbelanja, Baekhyun yang saat ini masih membaca daftar belanjaannya terlihat sedang berpikir, apakah semua belanjaannya sudah ada di dalam troli apa belum. Ketika melihat troli belanjaannya yang sudah penuh, dia mengangguk dan berjalan ke arah Chanyeol untuk meminta kartu suaminya—untuk membayar.

Dengan wajah panik, Chanyeol segera berkata, "Aku saja yang membayar, Bee. Kau dan Dokjun bisa menunggu di tempat duduk sana."

"Tidak apa-apa?" tanya Baekhyun.

"Semua akan beres." Jawab Chanyeol.

"Oke—" Baekhyun meraih Dokjun dan menurunkannya, "kami akan menunggu di depan tempat ddeokbokki."

Chanyeol mengangguk, "Mau beli juga?" Baekhyun menggeleng, "Oke."

Kepala Chanyeol sedikit mendongak, mengamati apakah Baekhyun dan Dokjun sudah berjalan cukup jauh. Di dalam hatinya dia berdoa agar Dokjun tidak membocorkan rahasia mereka. Meskipun dia benar-benar tahu jika anaknya tersebut sudah cukup iblis dan hampir sama dengan kakak lelakinya. Setelah Baekhyun tidak terlihat lagi, Chanyeol meneliti apa yang ada di sana. Jika ada barang yang ganjil, maka Chanyeol akan bergegas untuk menukarnya dengan yang lain. Ketika dirasa cukup, dia segera pergi ke arah kasir.

"Chanyeol Hyung." Ucap si penjaga mesin kasir yang Chanyeol bahkan sudah cukup kenal—karena lelaki itu mahasiswa kedokteran yang beralmamater sama dengan Chanyeol.

"Hei, Doyoung-ah. Sedang bertugas hari ini?"

Si penjaga kasir itu mengangguk, "Aku khusus bertugas di akhir pekan, Hyung."

"Bagaimana kuliahmu?"

Lelaki yang berbincang dengan Chanyeol itu menghela nafas, "Yang jelas aku berharap bisa seperti dirimu nanti, Hyung."

"Intern saja di rumah sakitku nanti."

"Ide bagus! Tapi itu masih lama."

Chanyeol terkekeh sembari memperhatikan belanjaan yang mulai dimasukkan ke dalam tas belanjaannya. Dia tertawa kecil ketika melihat sereal jagung milik Dokjun yang masuk ke dalam tas, karena itu benar-benar di luar skenario Baekhyun. Tapi, demi kehidupannya yang lebih tenang, Chanyeol harus melakukan itu. Lagipula dia sudah mendapatkan keluhan dari kedua anaknya, jadi mau tidak mau dia harus bertindak. Jika dia langsung mengatakannya pada Baekhyun, maka perang dunia akan terjadi. Kalau begini, meskipun dia tahu nanti Baekhyun akan lebih marah lagi, tapi barang-barang itu sudah terlanjur terbeli. Jadi mau tidak mau harus dipakai juga. Dan Baekhyun adalah orang yang cukup hemat, jadi tidak mungkin Baekhyun ingin membeli lagi seperti keinginannya.

Belanja bulanan begitu selalu menjadi agenda yang menyenangkan untuk Chanyeol sebenarnya. Karena dia keluar dari rumah dan terbebas dari rumah sakit yang pengap itu. Meskipun hanya sebulan sekali dan menguras kantongnya, tapi Chanyeol selalu bersemangat jika Baekhyun mengajaknya. Tapi, untuk bulan ini, Chanyeol benar-benar harus datang, untuk menyelamatkan kehidupannya—beserta kedua anaknya.

Masalahnya? Masalahnya adalah Baekhyun yang sedang hamil itu sedang kecanduan dengan strawberry. Buah di rumah yang biasanya bermacam-macam pun berubah menjadi hanya strawberry. Susu yang biasanya cokelat—karena ini kesukaan Dokjun dan Taehyung—berubah menjadi susu strawberry. Bukannya mereka berdua tidak suka, tapi masalahnya, makanan yang lain pun berbahan dasar strawberry juga.

Jika sarapan tiba, mereka akan mendapatkan pancake strawberry atau mungkin waffle strawberry. Kalau tidak, Baekhyun akan membuatkan toast dengan selai buah yang sama. Pada awalnya, Dokjun dan Taehyung merasa bahwa itu menyenangkan, karena sebelumnya mereka jarang mengkonsumsi buah tersebut. Tapi tiga minggu setelahnya, mereka ingin melancarkan protes, tapi mereka tahu sendiri bahwa ibunya jelmaan dari siluman singa.

Semalam, ketika Baekhyun mengatakan rencananya untuk berbelanja, Chanyeol sudah meningkatkan kewaspadaannya. Dan kecurigaannya terbukti benar ketika melihat istrinya menulis daftar belanja dan melihat buah yang saat ini dihindari kedua anaknya. Dan dirinya sendiri.

"Baekhyun Noona di mana?" tanya Doyoung.

Chanyeol melarikan matanya dan mendapati Baekhyun yang duduk dengan Dokjun di pangkuannya dan menyuapi Dokjun dengan ddeokbokki, "Di sana."

Doyoung tersenyum kecil, "Titipkan salamku padanya, Hyung."

"Dia pelatihmu, 'kan?"

Penjaga kasir itu mengangguk, "Sangat galak dulu. Apa sekarang masih sama?"

Chanyeol tertawa terbahak-bahak sembari menyerahkan kartu kreditnya, "Masih sama. Sangat amat sama."

"Kau tidak takut, Hyung?"

"Dia yang takut denganku—tanda tangan saja, Doyoung-ah."

"Benarkah? Tak ku kira—"

Chanyeol tersenyum kecil, sebelum merapikan semua belanjaannya dan mengambil kartu kreditnya, "Ingin titip salam pada Taehyung juga tidak?"

"Oh! Taehyung Bersama kalian?"

"Park Taehyung." Jawab Chanyeol yang menandakan bahwa Taehyung sudah mengganti marganya menjadi Park.

Doyoung tersenyum dengan lebarnya, "Katakan padanya kalau dia berhak bahagia, Hyung."

Chanyeol mengangguk, "Dia sudah cukup bahagia sekarang. By the way, thank you, Young-ah." Ucap Chanyeol yang kemudian beranjak ke arah di mana Baekhyun dan anak lelakinya sedang menunggu.

.

.

.

Chanyaol, yang sudah menurunkan semua kantong belanjaan itu segera berlari ke dalam kamar. Baekhyun sendiri sedang bersusah payah memindahkan Dokjun ke dalam kamar karena dia tertidur setelah selesai makan siang tadi—iya, mereka mampir untuk makan siang terlebih dulu. Chanyeol melarikan dirinya, karena dia tidak ingin menjadi korban amukan Baekhyun secara langsung. Jadi lebih baik, dia meninggalkan tempat kejadian perkara sebelum Baekhyun mengeluarkan belanjaannya yang akan tidak sesuai dengan ekspektasi itu.

Separuh dari dirinya ingin tertawa, karena dia bisa membayangkan bagaimana ekspresi istrinya yang sudah dibohongi habis-habisan. Sejenak ia merasa lega karena Dokjun tertidur, kalau tidak, anak bungsunya itu akan menjadi korban amukan Baekhyun juga. Karena sejujurnya Chanyeol tidak melakukan itu sendiri. Ide iblisnya itu sudah ia susun bersama Dokjun, yang sudah bisa dipastikan mendapatkan otak iblis juga darinya.

Dengan rasa penasaran, Chanyeol mengintip dari balik pintu kamarnya yang ia buka dengan ukuran minimal. Selama sepuluh menit dia menunggu, akhirnya dia mendapati raut wajah Baekhyun yang mulai berubah dan mengerut sedikit demi sedikit. Baekhyun yang mulai melihat keanehan dari barang-barangnya itu sesekali mendengus, bahkan mulai mengkroscek semua barang belanjaannya dengan kertas yang ada di dompetnya. Chanyeol terkikik dari balik pintu, karena dia bisa memastikan bahwa Baekhyun mendapatkan lengkap barang yang ia beli, tapi dengan varian yang berbeda. Misalnya saja, selai strawberry yang seharusnya ada di sana, berubah menjadi Nutella seperti yang mereka beli sebelumnya—sebelum Baekhyun memulai kebiasaan aneh dengan buah berwarna merah itu.

"Apa ini?" Seru Baekhyun yang mengangkat kotak sereal jagung milik Dokjun.

Chanyeol, yang sudah merasa pada posisi yang berbahaya, segera berlari menuju ranjang dan memposisikan dirinya dengan mata yang terpejam. Karena dia sangat amat tahu jika Baekhyun akan pergi ke kamar dan meneriakkan berbagai macam hewan yang ada di kebun binatang padanya. Lelaki itu sudah dalam posisi tidur, dan mungkin dia sudah sangat pandai berpura-pura sehingga sulit untuk mencurigai kepura-puraannya.

"YA!"

Chanyeol terkejut dan sejujurnya merasa sedikit kesakitan ketika sebuah kotak sereal mendarat tepat di mukanya—dan dilempar dari pintu yang berjarak empat meter dari ranjang.

"ACK! Bee?"

"Don't. Call. Me. Bee." Ucap Baekhyun yang sudah berdiri dengan tangan terlipat di depan dada dan wajah yang memerah.

Chanyeol mengangkat kotak sereal tersebut dan menghela nafasnya, "Ini milik Dokjun."

"Aku tahu."

"Lalu?"

"Get to the point, Mister Park. Sejak kapan itu ada di kantong belanja sedangkan aku tidak pernah memasukkannya sama sekali?"

"Hmm, itu—"

"Dan kau berhutang penjelasan padaku mengapa semua barang yang ku beli menjadi berbeda dari apa yang sudah ku ambil?" tanya Baekhyun dengan nada yang meninggi.

"Okay, okay." Ucap Chanyeol sembari menepukkan sisi sebelah kanan ranjangnya.

"Tidak! Aku tidak akan menurutimu kali ini."

Di dalam hatinya Chanyeol tertawa terbahak-bahak, karena demi Tuhan, dia mendapati Baekhyun yang marah dengan wajah yang lucu sekali. Mirip seperti anak kecil yang sudah dibohongi ayahnya untuk pergi ke dokter. Namun sejujurnya Chanyeol takut juga, karena dengan kejadian ini, dia bisa jadi tidur di sofa depan televisi dan tidak mendapatkan bonus lebih dari Baekhyun jika dia memintanya. Iya, resiko untuk kebahagiannya dipertaruhkan saat ini.

"Aku akan menjelaskannya. Jadi awalnya—"

"Ini bukan pidato, Chanyeol-ssi."

Demi Tuhan saat ini Chanyeol ingin tertawa dengan puasnya karena Baekhyun yang benar-benar marah.

"—okay, maafkan aku Baekhyun-ssi. Ini ideku."

"Sudah pasti! Tidak mungkin Dokjun beride seperti ini!"

"Tapi Dokjun membantuku—"

Baekhyun mengangguk dan memutar bola matanya, "Aku juga sudah tahu! Iblis junior itu—"

"Dia anakku—"

"Kau pikir aku membawanya ke mana-mana selama berbulan-bulan dan dia bukan anakku? Begitu?"

Chanyeol menjetikkan jarinya, "Berarti kau iblis seniornya—" lelaki itu sudah melihat istrinya menggulung lengan kemejanya, "maafkan hamba, Nyonya Park." Jawab Chanyeol sembari menggesek-gesekan kedua telapak tangannya.

"Cepat! Jelaskan!"

Chanyeol berdiri dan berjalan ke arah Baekhyun sebelum akhirnya berhenti karena Baekhyun berteriak stop dan Chanyeol harus berdiri dengan jarak dua meter darinya, "Anak-anak mengeluh padaku."

"Jangan menggunakan senjata anak-anak di sini—"

"YA! Kau mau dijelaskan apa tidak—memang kenyataannya begitu!"

Baekhyun mendengus dan berkata, "Cepat lanjutkan."

"Kau terlalu memaksa mereka makan buah merah laknat itu—maaf Nyonya Park, itu strawberry hamba tahu. Selama tiga minggu penuh kau membuat mereka makan itu. Iya, memang itu hal yang baik, tapi kasihan mereka juga, bukan?"

Baekhyun terdiam. Sebelum akhirnya melihat Chanyeol yang saat ini menggigit bibir bawahnya, layaknya sedang menunggu sesuatu.

"Lanjutkan." Pinta Baekhyun.

Lelaki itu menghela nafasnya panjang, "Anak-anak tidak berani mengatakan hal ini padamu dan mereka mengadu padaku. Mereka bosan dengan strawberry—bukan, mereka tidak bosan dengan makanan buatanmu! Mereka hanya bosan dengan rasa asam strawberry itu. Dan aku merasa tidak tega untuk mengatakannya padamu, karena aku tahu kau memang sangat menyukainya. Semalam, ketika kau menyusun belanjaannmu, aku tidak berani untuk mengatakannya. Iya, aku tahu ini benar-benar kekanak-kanakan, tapi aku tidak tahu harus berbuat apalagi kecuali melakukan ini—hehe. Maaf, Bee."

Alis Baekhyun berkerut dan bibirnya mengerucut. Sebelum akhirnya matanya mulai berair dan berlarian entah ke mana. Ini yang ditakutkan oleh Chanyeol. Akhir-akhir ini Baekhyun tidak menjadi biasanya yang selalu berteriak ini itu dan mendebatnya—meskipun masih tetap aja—tapi dia cenderung menjadi mudah sensitif terhadap sesuatu; apalagi kejadian seperti ini.

"Hei, sorry."

Baekhyun mengangguk dan Chanyeol, yang saat ini masih memgang kotak sereal itu bergerak mendekat. Sebelum akhirnya langkah Chanyeol terhenti ketika Baekhyun bertanya lagi padanya, "Lalu ini?" tanyanya sembari menunjuk kotak berwarna biru tersebut.

"Oh, ini—" Chanyeol dengan kikuknya mengangkat kotak sereal itu, "jadi tadi Dokjun yang mengambil barangnya dari troli dan aku menukarnya dengan yang lain. Ini… sereal ini—iya, aku tahu Dokjun mudah batuk jika mengonsumsi ini tanpa susu, tapi ini jadi upah untuknya agar tutup mulut? Bee, maaf—hehe." Ucap Chanyeol dengan sebuah senyuman yang kaku.

Baekhyun memejamkan matanya sesaat, seakan ingin meledak karena kelakuan suami dan anak iblisnya. Tapi dia tidak bisa memungkiri kesalahannya di sini. Jadi, impas. Karena dia bingung harus bertindak seperti apa karena dia terbelah pada dua kondisi saat ini.

Di saat dia masih menginterogasi Chanyeol dan berdiri di tengah pintu yang terbuka lebar, terdengar suara dari orang yang baru saja masuk ke dalam rumah.

"Aku pulang!" suara remaja yang baru saja pulang latihan itu tenggelam oleh langkah kakinya yang cepat menuju dapur dan membuka pintu lemari es rumahnya. Sebelum akhirnya dia berhenti dan mendapati belanjaan yang berserakan di atas meja makan—seraya berseru, "WOHOO! No more that damned strawberries. Welcome home, my Nutella—"

Remaja itu tertawa sembari memperhatikan semua belanjaannya sebelum akhirnya terhenti ketika sebuah suara berat memanggil namanya dari kejauhan, "Park Taehyung."

Taehyung yang masih merayakan kebahagiaannya itu mendongak. Mendapati ayahnya yang berdiri di depan ibunya sembari tersenyum kikuk. Ibunya sendiri sedang mendelik ke arah Taehyung—dan remaja itu mendapatkan sebuah kode dari ayahnya untuk segera mengebarkan bendera putih.

Taehyung mengangguk cepat—ketika melihat ayahnya sudah memberikan kode padanya, "Maafkan hamba, Mama Park. Maafkan hamba." Ucapnya yang kemudian segera berlutut di depan Baekhyun dengan kedua telapak tangan yang diusapkan dengan cepat.

Seperti itulah keadaannya. Sang Ratu Singa yang berhasil menaklukan iblis senior, iblis semi-senior, dan iblis junior yang saat ini dalam posisi aman karena sedang tertidur pulas.

.

.

.

Sore hari itu Baekhyun berada di restoran Kyungsoo sembari menunggu Taehyung selesai dari latihan Taekwondo-nya—yang kompetisinya dimulai satu setengah bulan lagi. Dia duduk di salah satu sudut ruangan itu dan berbincang dengan Jongin, yang saat ini menggendong anak perempuannya. Sedangkan Kyungsoo sendiri masih sibuk dengan pelanggannya yang tak kunjung berhenti datang. Anak bungsunya sedang berada di playroom bersama anak sulung Jongin—yang bisa dibilang carbon copy dari Jongin sendiri.

"YA! YA!" seru Jongin pada anak perempuannya yang secara tiba-tiba memasukkan mainannya ke dalam mulut.

"Sudah saatnya dia begitu, Jongin." Ucap Baekhyun yang sekarang sudah menanggalkan panggilan formalnya pada Jongin—hanya karena Jongin sering memberikan ide-ide tidak masuk akal pada suaminya.

Jongin mengangguk, "Dan dia malah tertawa jika aku melarangnya—" lelaki itu mendongakkan kepalanya, "sudah berapa minggu?"

"Sepuluh minggu. Baru sepuluh minggu dan masih ada minggu-minggu lainnya ke depan."

Lelaki berkulit tanned itu terkekeh, "Tapi kau tidak seperti orang hamil, Baek."

Baekhyun menepuk perut datarnya sesaat, "Dia cenderung kecil nampaknya. Tapi percayalah Jongin, aku sudah menimbun tiga kilo baru dalam tubuhku."

"Benarkah? Tapi kau tidak terlihat begitu—" ucapan Jongin terpotong karena anak perempuannya menengadahkan tangan ketika melihat Kyungsoo yang baru saja datang, "ibu peri datang dan ayahnya baru saja terlupakan." Ucapnya memelas dan membuat Kyungsoo terkikik.

"Wah, andai saja Chanyeol berkata begitu. Tapi yang ada dia selalu berkata bahwa aku sudah berubah menjadi Nyonya Puff saat ini." Keluh Baekhyun.

"Memangnya Jongin mengatakan apa?" tanya Kyungsoo ingin tahu.

Baekhyun menoleh ke arah sahabatnya, "Dia bilang aku tidak terlihat gemuk."

Wajah Kyungsoo berubah tidak percaya dan melirik ke arah Jongin dengan wajah yang menuduh, "Sedangkan Jongin mengatakan aku seperti tangki air dulu—"

"Itu dulu ketika kau bersama Taeoh."

"Waktu bersama Seola juga!"

"Okay, sorry."

"Apa semua ayah seperti itu?" tanya Baekhyun yang mengaduk minumannya sembari menatap Kyungsoo untuk mencari pembelaan.

"Mereka satu spesies jadi sama saja."

Baekhyun mengangguk setuju. Memang, Jongin ini satu spesies dengan Chanyeol. Jongdae juga. Hanya Sehun yang sedikit berbeda karena dia berada di bawah pengawasan Luhan sepenuhnya. Budak cinta? Iya, mirip-mirip seperti itu. Sedangkan Baekhyun 180 derajat berbeda. Rasanya Chanyeol sudah memberikan racun padanya. Jika Chanyeol marah, dia akan takut. Dan jika Chanyeol menyebalkan, maka lelaki itu akan bertindak yang entah bagaimana bisa membuat Baekhyun luluh dengan cepatnya.

"Chanyeol sedang shift pagi?" tanya Jongin.

"Iya. Mungkin shift-nya akan selesai sebentar lagi."

"Dia masih ada keinginan resign?" giliran Kyungsoo kali ini bertanya.

Baekhyun mengangguk, "Dia sepertinya akan mengelola rumah sakit. Kau ingat sendiri bukan kalau saham rumah sakit itu 80 persen milik ayahnya."

"Anak orang kaya memang."

"Dan sebelumnya aku tidak benar-benar tahu jika keluarganya sekaya itu."

"Lalu? Perusahaan ayahnya?" tanya Jongin.

Baekhyun menaikkan bahunya, menandakan dia tidak tahu menahu, "Untuk sementara sepertinya Lulu akan mengurusnya."

"Lulu?" tanya Kyungsoo tidak mengerti.

Baekhyun mendecakkan lidahnya kesal, "Oh Luhan, Kim Kyungsoo. Jongin, bisakah kau memberikan vitamin anakmu padanya?"

Kyungsoo mengedipkan matanya tidak mengerti, "Untuk apa?"

"Agar perkembangan otakmu berjalan lebih cepat."

Adik Baekhyun itu mengedipkan matanya dengan cepat. Sebelum akhirnya menoleh ke arah Jongin untuk mendapatkan jawaban dari apa yang baru saja dikatakan Baekhyun.

"Kau tidak mengerti juga?" tanya Jongin dan dibalas dengan gelengan kepala dari Kyungsoo.

Baekhyun mengusap perutnya perlahan, "Jangan begitu ya, Sayang. Mama mohon." Ucapnya yang disambut dengan Kyungsoo yang masih tidak mengerti.

Di saat mereka berbincang, seseorang tiba dan duduk di sebelah Baekhyun dengan tiba-tiba. Seseorang dengan kemeja berwarna merah maroon yang berbau rumah sakit yang sangat kentara.

"Bagaimana bisa kau tahu aku di sini—" ucap Baekhyun yang terkejut karena Chanyeol yang tiba-tiba datang.

Chanyeol membuka ponselnya dan melihat instastory dari Baekhyun setengah jam sebelumnya, "Dan mobilmu ada di depan. Aku melakukan hal yang tepat dengan meninggalkan mobil di rumah sakit dan naik bis kemari."

Baekhyun melirik dan memberikan sikutan ke perut Chanyeol dengan kesal, "Aku tidak akan menyetir."

"Pelit sekali."

"KAU! Kemarin lusa kau baru saja menukar belanjaanku—"

"YA! Jangan dibahas lagi!"

Baekhyun mendesis sebelum akhirnya menjetikkan jarinya di dahi Chanyeol dengan cukup keras hingga meninggalkan bekas merah di sana, "Rasakan."

"Anakmu akan menjadi seorang warrior, Chanyeol-ah." Ucap Jongin yang kemudian tertawa kecil.

Chanyeol mengangguk dan tertawa—dengan terpaksa, "Sudah terbiasa dengan yang seperti ini, Jongin—ACK! Sakit, Baek! Astaga!" serunya yang mendapatkan cubitan di perut dengan keras.

"Jangan begitu ya, Soo…" Jongin melirik ke arah Kyungsoo dengan nada yang memohon.

Kyungsoo mengerutkan alisnya, "Apanya?" tanyanya yang tidak mengerti dengan permohonan Jongin baru saja.

Jongin menghela nafasnya dan melihat ke arah Chanyeol dengan memelas, "Derita kita nampaknya berbeda, hm?" tanyanya yang kemudian diakhiri dengan tawa awkward dari keduanya.

.

.

.

Chanyeol memarkirkan mobilnya di sekolah Taehyung. Di sebuah gedung olahraga di mana Taehyung berlatih untuk kejuaraan Taekwondo-nya nanti. Ini baru pertama kalinya Chanyeol menjemput, karena biasanya Taehyung pulang dengan bis atau Baekhyun yang menjemput dengan Dokjun saja.

"Masuk?" tanya Chanyeol pada Baekhyun yang sedang mengunyah hotdog.

Wanita itu mengangguk, "Masih 15 menit lagi latihan akan selesai."

Chanyeol menoleh ke belakang, melihat Dokjun melakukan hal yang sama dengan ibunya, "Makan yang banyak ya, kalian."

Baekhyun menoleh ke arah Dokjun dan mendapati anak lelakinya itu tersenyum dengan saos yang meluber di samping pipinya, "Berantakan sekali, astaga." Gumamnya sembari tertawa.

Chanyeol melirik ke arah istrinya dan kemudian menurunkan kaca mobil yang berada di samping Baekhyun, "Kaca spion bisa digunakan untuk bercermin dan melihat wajahmu sendiri, Nyonya Park. Silakan dilakukan." Ucapnya dengan nada bosan.

Istri Chanyeol itu mendesis, sebelum akhirnya tersenyum dengan terpaksa, "Untung saja ada Dokjun di sini, jika tidak aku sudah melemparkan bungkusan tisu itu tepat di wajahmu, Tuan Park." Gumamnya dengan rahang yang ditekan.

"Aku patut bersyukur kalau begitu." Ujar Chanyeol dengan senyum yang lebar dan membuat Baekhyun muak setengah mati.

Mereka bertiga akhirnya keluar dari mobil. Dokjun sendiri segera berlari dengan tidak sabar—agar cepat bertemu dengan kakak lelakinya—dan menyebabkan Baekhyun berteriak agar anak itu tidak berlari. Walaupun ucapannya itu berakhir percuma. Di belakang anak itu Chanyeol dan Baekhyun masih mendebatkan hal-hal yang tidak penting—dan sempat Baekhyun mengusap perutnya agar anaknya tidak seperti Chanyeol yang menyebalkan itu. Perdebatan mereka akhirnya berakhir ketika Dokjun terjatuh saat berlari.

"MAMAAA!" teriak anak itu yang membuat Baekhyun bergegas ke mana anak itu terduduk.

"Sudah Mama bilang jangan berlarian—" Baekhyun menegakkan anaknya agar berdiri, "astaga lututmu—Dokjun-ah…"

Chanyeol yang beberapa langkah di belakang itu kemudian berjongkok dan menghela nafasnya, "Ayo ikut Papa." Ucapnya yang kemudian membawa Dokjun ke dalam gendongannya dan pergi menuju kamar mandi terdekat—yang membuat Chanyeol sedikit bingung karena tidak tahu tempat itu sama sekali.

Anak lelaki itu masih terisak dan Chanyeol menepuk punggungnya perlahan, "Sakit?"

Pertanyaan yang tidak perlu dijawab sebenarnya.

Dokjun mengangguk, "Sakit, Papa…" keluhnya dengan tangisan yang mulai mereda.

Chanyeol tersenyum dan kemudian mendudukkan anak lelakinya di samping wastafel, "Tapi Papa harus mencucinya. Akan sedikit sakit, tapi Papa yakin jagoan Papa tidak akan menangis lagi."

Dokjun, dengan alis yang berkerut mengangguk, menuruti segala macam ucapan ayahnya. Chanyeol sendiri membasahi kertas tisu yang baru saja ia ambil dan membasahinya dengan air. Dan kemudian, dengan sangat hati-hati dia menempelkan tisu yang sudah basah itu ke lutut anak lelakinya, yang saat ini berusaha keras untuk tidak menangis lagi.

Chanyeol tertawa kecil. Melihat bagaimana usaha Dokjun begitu besar agar tidak terlihat cengeng di depannya. Meskipun dia sendiri bisa melihat bagaimana matanya berair karena menahan sakit.

Ketika selesai, Chanyeol mengusap rambut Dokjun perlahan dan menyejajarkan dirinya, "Tahu kenapa Mama selalu mengatakan untuk tidak berlari?" anak lelaki itu mengangguk, "Bagus. Mama tidak ingin jagoannya menangis begini. Karena jika anak Mama menangis begini, Mama akan menangis juga. Dokjun mau?"

"Tidak…"

"Good. Mulai sekarang, jika Mama berkata seperti itu, harus diperhatikan. Mengerti?" Dokjun mengangguk dan membuat Chanyeol gemas sehingga ia mencubit pipi gemuk itu perlahan, "Tapi anak Papa sangat pintar, hm? Tidak menangis ketika Papa membersihkan ini."

Chanyeol kemudian tersenyum dan menggendong Dokjun lagi. Dengan hati-hati ia berusaha agar lutut anak lelakinya tidak bergesekan dengan pakaiannya. Mereka berdua berjalan menyusuri lorong gedung olahraga itu. Sesekali Dokjun menunjukkan jalan pada Chanyeol ke mana dan di mana kakak lelakinya berlatih.

Ketika sampai di dalam, Chanyeol mendapati anak sulungnya yang sudah duduk di samping Baekhyun. Dan ketika anak itu melihat dirinya datang bersama adiknya, dia langsung berdiri.

"Are you okay, Buddy?" tanya Taehyung pada Dokjun yang masih menggantung di badan Chanyeol seperti koala.

Anak kecil itu mengangguk, dan semakin menyusupkan dirinya pada sang ayah lebih dalam lagi—seakan malu dengan keadaannya saat ini. Sang kakak terlihat khawatir dan mengusapkan tangan di pipinya. Begitulah, Taehyung tidak pernah mau adik lelakinya terluka meskipun sebenarnya itu perlu agar Dokjun lebih tahan banting—kata Chanyeol begitu.

"Aku harus mengobatinya di rumah nanti." Ucap Chanyeol pada Baekhyun—yang kemudian menyerahkan Dokjun pada ibunya.

Baekhyun mengerucutkan bibirnya, "Jangan diulangi, ya?" ucapnya dengan nada lirih dan dibalas dengan anggukan kecil dari anak lelakinya.

Setelah berpamitan dengan Jongdae—yang sempat berteriak pada Baekhyun bahwa dia merindukannya dan membuat Baekhyun malu setengah mati—mereka berempat pergi dari tempat tersebut. Dokjun sendiri tidak mau melepaskan dirinya dari gendongan Baekhyun dan memilih untuk duduk di depan bersama ibunya. Sebelum akhirnya, di tengah perjalanan, anak kecil itu sudah tertidur karena kelelahan setelah bermain dengan Taeoh sepanjang sore.

"Ma, kemarin Dokjunnie menggumam padaku sebelum tidur."

"Apa?" tanya Baekhyun pada Taehyung yang duduk di belakang.

"Dia bilang dia akan jadi kakak yang baik—" Taehyung terkekeh sebentar sebelum melanjutkan ucapannya lagi, "dia tidak sabar sebenarnya. Bahkan sebelum itu dia bertanya apakah adiknya bisa datang lebih cepat."

"Kalau ada yang namanya hamil express mungkin dia akan lahir lebih cepat." Sela Chanyeol sambal menyetir.

"Pusatkan perhatianmu pada jalan raya daripada menyela dengan kata-kata nonsense, Chanyeol-ssi."

"Ah, baik, Nyonya. Maafkan hamba."

Baekhyun mendelik sebelum akhirnya tatapan jahat itu menjadi lembut ketika melihat Dokjun yang tertidur, "Dia sangat lucu, bukan?" gumamnya sembari mengangumi wajah polos anak lelakinya.

"Tapi kemarin Mama memanggil Dokjunnie iblis junior." Sela Taehyung.

"Bisakah kau tidak merusak momen baru saja, Park Taehyung?"

"Ah, maafkan hamba, Nyonya Park." Ujar Taehyung yang menirukan ayahnya.

"Aku bertaruh seminggu lagi Dokjun akan mengatakan hal yang sama." Kata Chanyeol yang membelokkan mobil ke kompleks rumah mereka.

"Maafkan hamba?" tanya Taehyung yang terkikik di belakang.

"Correct, Son!"

Baekhyun menghela nafas dengan kesal, "Bisakah kalian tidak mengganggu ketenanganku barang sebentar saja?"

"Maafkan kami, Nyonya." Ucap Taehyung yang kemudian diakhiri dengan tawa Chanyeol yang keras hingga mengagetkan Dokjun dari tidurnya.

.

.

.

Jika bisa dibilang, kehamilan Baekhyun kali ini membuat Chanyeol sedikit pusing. Bukan karena sifat Baekhyun yang lebih kasar—seperti ketika mengandung Dokjun dulu—tapi sifatnya sekarang menjadi berlebihan. Bahkan wanita itu mudah menangis pada hal sepele. Contohnya ketika ikan hias peliharaan Dokjun mati dua hari yang lalu. Dokjun, si pemilik ikan tersebut dengan santainya berkata bahwa ikannya mati dan berusia sudah tua—padahal baru seminggu di rumah mereka. Sedangkan Baekhyun menguburnya dengan isakan dan membuat Dokjun kebingungan mengapa ibunya menangis.

Seminggu yang lalu Taehyung dihadapkan dengan situasi yang sama saat menemani Baekhyun melihat drama yang ada di televisi. Dengan sabar, Taehyung mengulurkan lembar demi lembar tisu pada Baekhyun—sembari menggelengkan kepalanya sesekali. Bahkan remaja itu mengambilkan air minum pada ibunya dan mengusap punggungnya perlahan seakan sedang pada suasana berduka.

Chanyeol tahu perubahan mood Baekhyun sangat ekstrem untuk kehamilan kedua kali ini. Meskipun wanita itu masih banyak berteriak dan marah, tapi beberapa menit kemudian dia bisa mencebikkan bibirnya dengan mata yang berkaca-kaca. Tapi untungnya, Baekhyun tidak seemosional ketika mengandung Dokjun dulu. Karena saat bersama Dokjun, Baekhyun seakan-akan Hulk yang bisa berubah menjadi hijau dan besar ketika sedang emosi—dan Chanyeol bisa melihat sifat itu pada diri anak lelakinya saat ini.

Malam itu, Chanyeol menghadapi Baekhyun yang terisak hanya karena cake red velvet-nya dihabiskan—oleh Chanyeol. Lelaki itu lebih menyiapkan mentalnya pada Baekhyun yang brutal ketimbang Baekhyun yang drama queen begini. Karena Baekhyun yang begini membuatnya panik. Apalagi di tengah malam begitu, di saat kedua anaknya sudah tidur, dan Baekhyun hanya berdiri di depan lemari es yang terbuka sembari terisak—meratapi piring cake-nya yang kosong karena isinya sudah masuk ke dalam perut suaminya dan hanya menyisakan dua buah berwarna merah kesukaan Baekhyun di sana.

"Baek, sorry." Ucap Chanyeol yang saat ini berdiri di belakang Baekhyun dengan kikuknya.

Wanita itu menutup lemari es dan bersandar di sana. Ia menatap suaminya dengan mata yang basah dan bibir yang mengerucut, "Kenapa kau menghabiskannya?" tanyanya dengan nada yang 100 persen didramatisir.

"Karena aku lapar?"

"Tidak menjawab karena kau sudah makan nasi dengan porsi yang banyak." Sanggah Baekhyun.

Chanyeol menggaruk tengkuknya. Berusaha mencari solusi yang tepat agar pertanyaan itu terjawab.

"Jangan diam, Chanyeol-ssi."

"Okay, karena—" Chanyeol mendekat ke arah Baekhyun dan dengan tiba-tiba memeluk wanita itu, "sorry, Bee. Aku hanya berpikir bahwa kau sudah tidak menginginkan cake itu jadi aku memakannya ketika menonton televisi tadi—dan tadi kau sedang tidur."

"Apa kau tidak berpikir bahwa aku akan bangun dan mencarinya?" ucap Baekhyun yang suaranya terdengar tidak jelas karena wajahnya saat ini terantuk dengan badan Chanyeol yang besar itu.

"Tidak. Itu salahku." Jawab Chanyeol dengan suara penuh kekalahan.

Baekhyun melepaskan pelukan suaminya dan mendongak. Ia mendapati Chanyeol yang terlihat bersalah—dan membuatnya berpikir dua kali untuk marah pada suaminya.

"Kenapa? Kau ingin aku mencarikannya? Aku akan mencarinya jika kau mau." Ucap Chanyeol yang saat ini menyisir rambutnya perlahan.

Baekhyun menggeleng, "Aku tidak ingin makan itu lagi."

Lelaki itu mengangguk, "Lalu?" tanyanya dengan posisi jari-jemari yang masih berjalan-jalan di sela-sela rambut Baekhyun.

"Apa kau berpikir aku sedikit emosional akhir-akhir ini? Maksudku, aku jadi mudah menangis akan hal-hal kecil. Aku dulu tidak begini tapi entah mengapa aku jadi begini—astaga sekarang aku ingin menangis juga." Ucap Baekhyun yang kemudian menundukkan kepalanya.

Chanyeol terkekeh, "It's okay, Baek. Kau sedang pada fase itu. Hormonmu membuat emosimu berubah-ubah."

"Dan kau menghadapiku yang begini."

"Tapi aku yang membuatmu begini."

"Kau sendiri yang tidak bisa mengontrol diri."

Baekhyun terkejut ketika merasakan tangan Chanyeol yang tiba-tiba mendarat di bagian belakang tubuhnya, "Because I can't resist this ass."

Dengan keras, Baekhyun menepuk dada suaminya, "Kau merusak momennya!"

"Tapi aku berkata jujur."

"Tapi waktunya tidak tepat!"

Chanyeol membela dirinya sekali lagi, "Aku harus mencontohkan hal yang baik pada anakku!"

"Terserah kau saja."

Wajah lelaki itu berubah puas, karena Baekhyun sudah menyerah dengan segala macam omong kosongnya, "Semuanya akan baik-baik saja, Baek. Asalkan semua keinginanmu terpenuhi dan kalian sehat—aku akan melakukan apapun."

Baekhyun tersenyum dan sedikit tersipu, "Tumben kau mengatakan hal seperti itu padaku."

Chanyeol mengangguk, "Iya, agar mood-mu selalu bagus dan aku mendapatkan jatah lebih nanti." Ucapnya dengan bangga.

Senyum Baekhyun luntur seketika dan kakinya segera melangkah pergi. Meninggalkan Chanyeol yang saat ini sudah mengekor di belakangnya sembari memanggilnya dengan sebutan Nyonya Park berulang kali.

.

.

.

TBC.


Taehyung dijemput ayah dan ibunya sore itu. Latihan lebih intens lagi dan terkadang dia sudah tidak punya tenaga untuk pulang dengan bis. Lagipula ayahnya sudah pulang dari shift paginya, sehingga dia tidak perlu repot untuk menunggu bis disaat dia sudah lelah begitu.

Dengan langkah terseret dia menghampiri adik lelakinya yang duduk di pangkuan ayahnya. Anak kecil itu tersenyum dengan lebar dan menengadahkan tangannya meminta untuk dipeluk. Taehyung terkekeh melihat tingkah adiknya dan menurut: memeluk adiknya sebentar dan mencium pipi gemuknya berulang kali.

"Hyung bau keringat." Ucap Dokjun yang disambut dengan tawa Baekhyun.

"YA! Itu sudah pasti!" seru Taehyung yang membuat Dokjun terkikik.

"Kemarikan tasnya. Ayo pulang." Ucap Baekhyun yang kemudian berdiri.

Chanyeol yang berdiri setelah Dokjun turun dari pangkuannya itu pun berucap, "Kau harus makan banyak, Tae."

Taehyung mengangguk, "Akhir-akhir ini aku cepat Lelah, Pa. Tapi efek bagusnya aku jadi tidur lebih cepat." Ucapnya yang saat ini berjalan dan menggandeng Dokjun menuju ke arah mobil mereka berada.

"Iya, kau sekarang tidak punya waktu untuk bermain games jika malam tiba dan itu hal bagus." Sela Baekhyun.

Chanyeol tertawa kecil dengan ucapan Baekhyun baru saja, "Papa sudah membawakan vitamin dari rumah sakit. Kau bisa membawanya dan meminumnya."

"Siap, Dok!"

"Tapi kau harus makan banyak juga. Itu yang paling penting. Kurangi makanan keringnya."

"Tapi snack is life, Pa."

Baekhyun, yang saat ini sedang membetulkan posisi Dokjun di mobil itu mengutarakan ketidak setujuannya, "No. Kau harus mengurangi itu dan mulai makan buah. Mama sudah membelikannya—buah di lemari es belum kau sentuh sama sekali."

Taehyung yang saat ini sudah mendudukkan dirinya di samping sang adik itu mengerucutkan bibirnya, merasa terpojok dan menjawab, "Iya, Ma."

Chanyeol hanya tertawa kecil ketika mendengar Baekhyun yang mencecar Taehyung. Iya, Baekhyun memang sangat cerewet jika sudah menyangkut makanan. Apalagi untuk Taehyung yang sebentar lagi berkompetisi itu. Sesekali Chanyeol melirik ke arah Taehyung lewat kaca tengah mobilnya dan melihat anak pertamanya itu mengangguk dengan wajah yang sedikit takut. Iya, karena semua ucapan Baekhyun benar, maka Taehyung tidak punya alasan untuk tidak mengiyakannya.

"—kemarin lusa bekal makananmu juga tidak habis. Membeli camilan juga di sekolah?" tanya Baekhyun dengan nada yang menuduh.

"Hmm… membeli cake, Ma…" jawab Taehyung lirih.

Baekhyun menghela nafasnya, "Mama sudah bilang habiskan dulu makananmu. Jika masih belum kenyang baru membeli yang lainnya. Atau mau makan di sekolah saja?" cecarnya.

"Jangan, Ma…"

Wanita itu menghela nafasnya, "Padahal kau sendiri juga picky kalau soal makanan. Seperti ayahmu." Gumam Baekhyun yang disambut dengan anggukan kepala oleh Chanyeol—yang saat ini tidak membela Taehyung sama sekali karena ini memang kesalahannya.

Disaat Taehyung diam dan tidak memberikan jawaban, Dokjun pun menepuk tangan kakaknya perlahan, "Hyung, katakan."

"Apa?" bisik Taehyung yang menarik perhatian ayah dan ibunya di depan.

"Maafkan hamba, Mama Park. Begitu." Ucap Dokjun sembari memberikan kepalan tangan tanda memberikan semangat.

Mendengar itu, Taehyung menutup wajahnya karena menahan tawa, dan Chanyeol langsung tertawa terbahak-bahak hingga menangis. Baekhyun? Baekhyun hanya bisa mendengar ucapan itu dengan mulut yang terbuka karena terkejut.


Hmm, maaf ini udah lama banget keknya gak update karena ya karena adult life menyita semua waktuku huhu

Dan pasti udah banyak juga yang males nungguinnya. It's okay kok!

Sama kek apa yang dinyanyiin Kyungsoo, "People come; and people go." jadi ya sudah lah ya.

Yang penting ku masih melakukan hobiku yang ga jelas ini.

Kenapa jadi curhat, Bhambwank :(

Pokoknya aku bakal terus update kok kalo sempat! Dan aku bakal nyempatin!

.

Nana.