SELAMAT PAGI SEMUANYAAAAAAA!
Ku berusaha update secepatnya, Guys!
Seriusan ku akan menyempatkan waktu. Hehe.
I love you 3000. LMAO
.
.
.
"Kenapa tidak tidur?" tanya Baekhyun.
Taehyung menggaruk tengkuknya, mencari alasan yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan Mama-nya baru saja. Memang saat ini sudah jam dua pagi, dan untuk Taehyung yang punya jam tidur teratur tentu sangat aneh jika masih terjaga—atau sedang terjaga.
"Aku tidak bisa tidur, Ma." ucap remaja itu setelah menyesap teh panas yang baru saja ia buat.
Baekhyun menghampiri dan mengusak rambutnya. Sang Mama tertawa kecil melihat wajah kaku dari anak sulungnya.
"Nervous that much?"
Taehyung mengangguk, "Sejujurnya aku tidak tahu, Ma. Aku merasa persiapannya sudah sangat matang, tapi aku tidak bisa untuk tidak gugup—"
"Itu wajar! Mama juga merasakan itu dulu. Tapi kau juga harus istirahat, Tae. Itu yang paling penting."
Remaja itu mengangguk setuju. Selebihnya ia mengusapkan wajahnya ke perut sang Mama yang sudah mulai berbentuk. Ia terus melakukan itu hingga ibunya tertawa terbahak-bahak—menyadari bahwa anak sulungnya masih sama manjanya seperti dulu. Apalagi jika Dokjun tidak sedang bersama mereka, maka Taehyung kecil merasukinya lagi.
"Mama." Taehyung mendongak.
"Hm?"
"He or she?" tanyanya.
Baekhyun menimang sebentar, sebelum berucap, "Mama tidak peduli sejujurnya, Taehyung-ah. Asalkan dia sehat saja." jawabnya.
"Aku memikirkan hal yang sama, Mom. Tapi sejujurnya aku seperti Papa. 'She' is better."
Baekhyun tertawa, menyadari bahwa Taehyung dan Chanyeol tidak ada bedanya. Entah mengapa, sifat dan cara berbicara dari anak lelaki itu sangat mirip dengan Chanyeol. Jika saja orang tidak tahu bagaimana status Taehyung di keluarga mereka, maka mungkin orang-orang mengira bahwa Taehyung anak kandung dari mereka. Apalagi dengan wajah mirip Baekhyun dan sifat dan cara bertindak yang sangat mirip dengan Chanyeol. Walaupun memang, orang yang baru mengenal mereka akan mengira begitu.
"If this baby is a she, I will treat her like a princess. I have no princess in my life, Mom!"
Baekhyun mengerutkan alisnya. Ia berpikir bahwa Taehyung akan melemparkan gombalan-gombalan yang sangat Baekhyun benci—karena terkadang secara spontan Chanyeol melakukan hal yang sama.
Dengan wajah kesal, Baekhyun menggoda Taehyung, "Me? I'm not your princess?" tanyanya.
Taehyung membelalakkan matanya, "Ah, benar. Mama seorang putri juga."
Baekhyun terkekeh. Merasa bahwa Taehyung sudah mulai beranjak dewasa karena mulai tahu cara-cara mengatakan hal-hal menggelikan begitu. Ia sedikit tersipu. Meskipun demi Tuhan ia lebih banyak membencinya.
Taehyung berdiri dan memeluk Baekhyun, "Putri Fiona." ucapnya sebelum kemudian berlari meninggalkan Baekhyun yang sudah ingin melemparkan cangkir kosong ke kepala anak lelakinya.
Baekhyun membenci gombalan-gombalan itu memang, tapi sejujurnya dia tidak mengira akan mendapatkan ejekan dari anak lelakinya. Dengan metode yang sama persis seperti suaminya.
.
.
.
Baekhyun berjalan menyusuri lorong rumah sakit sembari menggandeng anak bungsunya—untuk sementara. Beberapa kali ia menyapa pegawai-pegawai rumah sakit yang ia kenal, dan bahkan ia sempat melihat Kyungri yang tersenyum padanya dengan wajah kikuk. Hey, meskipun mereka sudah dalam keadaan baik-baik saja, tapi suasana canggung tetap tidak bisa hilang. Dan Baekhyun sudah merasa bahwa tidak ada masalah di antara mereka. Sama sekali.
Ia melenggangkan kakinya ke arah di mana ruangan Chanyeol berada. Ia sengaja datang tanpa memberi tahu, kejutan katanya. Walaupun sebenarnya tidak direncanakan juga. Ia datang dan membawa baju ganti untuk suaminya. Dan setelah itu mereka bisa pergi ke tempat Taehyung melaksanakan pertandingan awal Taekwondonya. Masih pertandingan penyisihan, dan Baekhyun sangat yakin Taehyung bisa melewatinya. Lagipula anak itu menjadi unggulan kedua dari sekolahnya setelah Yoonsung—yang bisa jadi menjadi salah satu atlet remaja terbaik saat ini. Sejujurnya Baekhyun sudah sangat bangga dengan pencapaian anak lelakinya. Dengan menjadi perwakilan saja Baekhyun sudah sangat senang. Dia dan Chanyeol sebenarnya tidak menargetkan kemenangan untuk saat ini, namun ketika melihat kemampuan Taehyung yang di atas rata-rata, maka bukan sebuah kesalahan jika mereka menggantungkan asa.
Ketika Baekhyun masuk ke ruangan suaminya, ia mendapati lelaki itu sedang melipat badannya seperti trenggiling di sofa. Matanya terlihat sedikit menghitam di bagian bawahnya, dan Baekhyun menghela nafas iba karena tahu suaminya bekerja dengan keras. Dengan sangat keras. Meskipun Baekhyun tahu Chanyeol sudah ingin mundur dari pekerjaannya, tapi dia tahu bahwa Chanyeol sebenarnya mencintai pekerjaannya juga. Hanya masalah waktu yang membuat lelaki itu ingin pergi ke bidang lain dari rumah sakitnya.
"Dokjun-ah," Baekhyun berjongkok dan mensejajarkan dirinya dengan Dokjun, "bangunkan Papa, hm?" pintanya berbisik.
Wajah jahil Dokjun tiba-tiba muncul. Dan Baekhyun sebenarnya sudah bisa menduga bahwa Dokjun akan membangunkan Chanyeol dengan liar. Maka sebelum itu terjadi, Baekhyun sudah melarangnya.
"No hitting. No screaming. Just wake him up, Little Captain." ucap Baekhyun yang dibalas dengan anggukan dari anak lelakinya.
Anak kecil itu berjalan tenang ke arah sang ayah. Ia berhenti tepat di samping ayahnya yang tertidur pulas. Berkontemplasi sejenak, Dokjun menoleh ke arah Baekhyun dengan wajah yang sedikit memelas. Mungkin ia tidak tega untuk membangunkan Chanyeol yang terlihat lelah itu. Baekhyun mengangguk sembari mengatakan 'It's okay.'; dan Dokjun menepuk lengan Chanyeol perlahan.
"Papa? Papa—"
Setelah berusaha cukup lama, Chanyeol membuka matanya. Ia mengembalikan kesadarannya yang masih abu-abu, sebelum akhirnya tersenyum lebar ketika melihat Dokjun berdiri di sampingnya. Ia segera mendudukkan dirinya dan mengangkat Dokjun ke pangkuannya. Senyumnya terlihat lebih bodoh lagi ketika melihat Baekhyun yang berdiri tidak jauh dari sana.
Baekhyun berjalan dan duduk di samping Chanyeol. Ia mengangkat sebuah paper bag yang sudah ia bawa sedari tadi.
"Aku membawakan baju ganti untukmu. Setelah itu kita pergi ke Olympic. Tapi kalau kau terlalu lelah tidak usah tidak apa-apa. Taehyung tidak mengharapkan kita datang di pertandingan penyisihan lagipula."
Dengan suara serak dan wajah malas, Chanyeol menjawab, "Aku mandi dulu."
"Hard day?" tanya Baekhyun sambil merapikan rambut tebal milik Chanyeol. Ia menyukai rambut Chanyeol yang hitam sekarang—karena Baekhyun merasa bahwa Chanyeol terlihat lebih dewasa lagi.
"Yeah, same old, same old. Mungkin aku akan mengeluhkan banyak hal jika sudah di rumah nanti."
Baekhyun terkekeh, "Aku akan mendengarkan semuanya nanti. Sekarang mandi dulu. Setelah itu kita bisa pergi ke Olympic untuk menjemput Taehyung dan mengajaknya makan."
Chanyeol mengangguk. Ia mencium pipi gemuk Dokjun sebentar sebelum akhirnya menyerahkan anak lelaki itu pada Baekhyun. Ia meraih paper bag itu sebelum akhirnya beranjak pergi. Baekhyun sendiri akhirnya mengambil ponsel miliknya dan menonton video-video dokumenter hewan liar bersama anak lelakinya—karena Dokjun akhir-akhir ini menyukai dokumenter hewan. Sejujurnya Baekhyun tidak tahu mengapa anak lelakinya yang satu ini sangat terobsesi dengan hewan-hewan liar. Sangat normal jika anak kecil menyukai hewan-hewan liar, tapi nampaknya obsesi Dokjun sedikit tidak wajar.
Ketika Dokjun merasa bosan, Baekhyun membiarkan anak lelaki itu berkeliling ruangan tersebut. Sesekali ia bertanya pada Baekhyun apa saja yang sedang ia lihat, dan Baekhyun menanggapinya dengan sabar. Rasanya senang melihat Dokjun bertingkah aktif begitu.
"Mama," Dokjun membawa sebuah bingkai foto dan menyerahkannya pada Baekhyun, "ini foto apa? Aneh sekali." tanyanya polos.
Baekhyun mengerutkan alisnya sebelum mengambil apa yang Dokjun bawa. Ketika ia melihat apa yang sedang ia pegang, ia tersenyum.
"Ini foto adik Dokjun."
"My sister?" tanya Dokjun antusias.
Baekhyun terkekeh; menyadari bahwa ketiga lelaki di rumahnya secara tidak langsung berkata pasti pada jenis kelamin anaknya kelak. Meskipun begitu, Baekhyun mengangguk; mengiyakan apa yang Dokjun katakan tadi.
"Kenapa dia tidak punya wajah, Mama? Is she okay?" tanya Dokjun dengan alis mengerut karena khawatir.
"She is perfectly fine, Junie. Dia masih terlalu kecil untuk memiliki wajah dan badan yang lengkap seperti yang Junie punya."
"Tapi dia akan tumbuh sepertiku?"
Baekhyun mengangguk, "Dan akan lahir sempurna."
Dokjun meraih foto ultrasound tersebut. Ia tersenyum dan memperhatikan foto itu dengan wajah yang ceria.
"She's pretty, Mom." ucapnya yang kemudian mendongak ke arah Baekhyun.
Merasa penasaran, Baekhyun berjalan ke arah di mana bingkai-bingkai foto berada—Dokjun mengambil foto itu dari sana. Senyum Baekhyun terulas ketika melihat foto-foto yang ada di sana. Ia melihat foto mereka saat masih berkencan—dan bersama Taehyung yang masih berusia empat tahun. Baekhyun sangat ingat dengan hari itu. Ketika mereka menghabiskan natal di China, saat Baekhyun melaksanakan pertukaran mahasiswa di sana. Sehun mengambil foto itu ketika malam natal tiba. Dengan Baekhyun yang membawa sebuah cangkir beruap dan Chanyeol yang menggendong Taehyung. Mereka tersenyum ke arah kamera—karena Sehun memanggil mereka—dan Taehyung dengan ceria memperlihatkan deretan gigi-giginya yang rapi.
Di samping foto itu ada foto saat Taehyung menggendong Dokjun yang masih baru saja lahir. Bahkan saat itu Dokjun masih menggunakan selimut rumah sakit—Baekhyun hafal dengan jelas. Anak lelaki itu tersenyum dengan hidung yang memerah. Karena Baekhyun sangat ingat, saat itu Taehyung menangis karena ia takut jika terjadi apa-apa dengan Baekhyun dan adiknya. Walaupun begitu, ia masih memamerkan senyumnya, yang saat itu sedikit tidak sempurna karena gigi depan Taehyung yang baru terlepas.
Hati Baekhyun menghangat, ketika mengetahui bahwa Chanyeol selalu membawa keluarganya bahkan ketika bekerja sekalipun. Terlihat bagaimana lelaki itu menghadapkan foto-foto itu ke arahnya. Baekhyun tahu Chanyeol adalah seorang family man; lelaki yang selalu mementingkan keluarganya daripada apapun yang ia punya. Ia tidak ingin mencontoh keadaan keluarganya dulu—ketika ia masih kecil—dan dia tidak ingin ada kesenjangan di antara mereka. Maka dari itu tidak heran jika Chanyeol ingin melepaskan pekerjaannya dan memilih pekerjaan dengan waktu yang lebih senggang agar bisa menghabiskan harinya bersama keluarga.
"Senyummu terlihat bodoh tapi ya memang seperti itu setiap hari."
Baekhyun mendongak dan mendapati Chanyeol datang dengan handuk di kepala dan paper bag berisi baju kotor. Wajahnya terlihat bosan dan siap mengejek Baekhyun yang saat ini mendelik kesal.
Baekhyun meraih paper bag itu dan meneliti isinya, "Baju yang kemarin?" tanyanya.
"Oh, benar juga," Chanyeol membuka loker yang ada tidak jauh dari meja kerjanya dan melemparkan baju kotor itu ke arah Baekhyun, "nice catch, Nyonya Park!"
Baekhyun hanya bisa mendesis dengan apa yang dilakukan suaminya baru saja. Menyebalkan sungguh, apalagi senyum dengan deretan gigi-giginya yang rapi—dan lesung pipi Chanyeol yang entah bagaimana bisa membuat Baekhyun memaafkan apapun yang diperbuat suaminya itu.
"Jangan menatapku dengan tatapan galak begitu—"
"Bisa tidak berhenti begitu?" ucap Baekhyun yang sudah berjinjit untuk mengeringkan rambut lelaki tersebut.
"Kau akan bersamaku seumur hidup, kau tahu."
"Aku tahu dan aku ingin cepat mati saja rasanya."
Chanyeol mendelikkan matanya. Memberikan raut muka terkejut semaksimal mungkin.
"Jadi aku bisa mencari istri baru?"
Baekhyun yang semula mengira Chanyeol akan merengek dan membujuknya untuk jangan berkata begitu, ternyata malah memberikan pernyataan yang tidak pernah ia kira. Memang, Chanyeol tidak bisa ia prediksi. Dan meskipun Chanyeol mengatakan hal seperti itu, dia tidak akan menganggapnya serius. Lagipula Baekhyun sudah tahu apa saja yang Chanyeol pajang di ruang kerjanya—dan bahkan Baekhyun tahu apa saja yang ada di ponsel suaminya. Jadi dia benar-benar tahu bahwa yang Chanyeol ucapkan hanyalah omong kosong belaka.
"Anakmu ada dua, Tuan Park."
"Tiga sebentar lagi. Atau mungkin akan bertambah beberapa tahun lagi. Hehe—"
Demi Tuhan, ingin rasanya Baekhyun memukul suaminya. Jika tidak ada Dokjun mungkin ia akan melakukannya.
"Ma?"
Suara kecil itu membuat Baekhyun menoleh, "Apa, Junie?"
"Adikku nanti akan ada banyak?" tanyanya dengan wajah berbinar.
Tawa dengan suara bass terdengar keras dari sana. Dan Baekhyun, dia hanya bisa menghela nafas karena sadar harus hidup dengan Chanyeol seumur hidupnya.
.
.
.
Remaja lelaki itu berusaha mengatur nafasnya. Pertandingan baru saja membuat tenaganya sedikit terkuras. Tapi pada akhirnya dia bisa menyingkirkan Seungjin, runner up tahun lalu. Sebenarnya pertandingan hari ini tidak ia harapkan untuk mendapatkan kemenangan. Mengimbangi saja sudah cukup. Bahkan semalam dia sempat bercerita pada ibunya dan meminta maaf jika dia tidak bisa menang hari ini. Karena Seungjin diunggulkan tahun ini—juara tahun kemarin sudah berada di sekolah menengah atas sekarang.
Ia merasa lelah sekarang, namun rasanya sudah sedikit terbayar ketika pelatih beserta kru dari sekolahnya mengucapkan selamat. Karena sejujurnya, jika Seungjin sudah bisa dikalahkan, maka tantangan besarnya sedikit berkurang. Beberapa kali juga Jongdae mengatakan bahwa tendangan di kepala yang diarahkan tadi sangat bagus. Bahkan Jongdae sendiri tidak mengira jika ia bisa melakukannya beberapa kali hingga skor berakhir telak.
Saat ini ia sudah berjalan ke dalam ruang tunggu stadium untuk beristirahat sebentar. Sebelum nanti dia akan menonton Yoonsung yang akan bertanding setengah jam lagi. Sembari menyeka keringat, ia mengecek ponselnya. Ia bisa membaca pesan dari ibunya yang memberikan semangat untuk pertandingan dan tidak berhenti membuatnya tersenyum. His mom is the sweetest, after all.
Tribun stadium masih belum begitu ramai. Lagipula masih babak 32 besar. Jadi bukan hal yang mengherankan jika belum ramai seperti final tiba. Karena jika sudah final, maka seisi stadium akan penuh dengan suporter dari sekolah atau keluarga dari atlet sendiri. Ia tidak membayangkan dirinya untuk masuk final sebenarnya. Setelah ia tahu bagaimana dan siapa saja peserta kompetisi kali ini. Ia juga sudah meminta maaf pada orang tuanya jika tidak bisa memenangkan kompetisi—dan dia siap untuk belajar lebih keras karena dia meninggalkan pelajaran sekolah beberapa kali.
Merasa bosan, ia memilih untuk menenteng barang-barangnya dan keluar untuk menonton pertandingan kakak kelasnya itu. Ia berdiri di sisi bawah stadium sejenak, sembari mencari-cari bangku mana yang nyaman untuk ditempati. Sempat dia melihat segerombolan anak-anak yang satu sekolah dengannya duduk dan menonton pertandingan. Namun dia malas menyapa jadi dia mencari tempat yang lain saja. Sebelum akhirnya, matanya terbelalak ketika melihat seorang anak kecil yang melambaikan tangan padanya. Kedua orang lain yang ada di belakang anak kecil itu sepertinya tidak sadar jika dia menatap ke arah mereka—dan mereka lebih memperhatikan pertandingan yang sedang berlangsung saat ini.
Tasnya terasa berat, namun langkah kakinya sangat ringan sekarang. Dengan cepat dia bergegas ke arah orang-orang itu berada. Senyumnya sudah sangat bodoh karena dia bisa melihat anak kecil tadi berlari ke arahnya—dan membuat dua orang yang lain berekspresi panik.
"Junie!" serunya yang kemudian menggandeng tangan anak kecil itu.
"Hyung, so good!" ucap anak kecil itu dengan wajah ceria.
Mereka berdua berjalan ke arah di mana anak kecil itu semula duduk dan mendapati dua orang dewasa yang tersenyum ke arah mereka. Ia merasa senang, walaupun ia sudah berkata bahwa tidak perlu datang ke pertandingan hari ini.
"My boy did it!"
"Thank you, Ma."
"Tendangan terakhirmu sangat bagus, Taehyung-ah."
Remaja itu tersenyum dan mengangguk, "Kata Jongdae Samchon bahkan aku bermain lebih baik daripada saat latihan atau sparing—"
Sang ayah menimpali, "Kau bisa menang jika bermain seperti tadi seterusnya. Mereka, sebelum kau, dan yang sekarang tidak begitu bagus."
"Setelah ini Yoonsung, Pa."
"Kau pernah menang melawannya atau belum?"
Taehyung mengangguk, "Perbandingannya 60 dan 40. Dia hanya menang dariku sekali lebih banyak."
"Mungkin kalian akan imbang nanti."
Ia terdiam. Sebelum akhirnya menggamit lengan ibunya dan berucap, "Did I really do good?
Baekhyun, sang ibu mengangguk dengan senyuman yang terpasang lebar, "Sangat baik. Sangat amat baik."
Rasanya senang ketika mendengar ucapan seperti itu. Apalagi ketika mereka memberikan dukungan di saat dia tidak meminta sama sekali. That's why he loves his family so much.
Baekhyun, yang melihat anak sulungnya menatap dirinya dengan mata berbinar itu mengerutkan alis. Aneh rasanya.
"Ada apa?"
Anak itu menggelengkan kepalanya, "Senang rasanya Mama dan Papa datang. Meskipun aku tidak tahu."
"Besok kami akan datang lagi. Kau harus bermain dengan baik." ucap Baekhyun.
"Siap, Nyonya Park!"
Mereka bertiga melihat pertandingan setelahnya. Karena si bungsu sudah meringkuk ke arah ayahnya dengan mata yang terpejam. Terkadang mereka bertiga mengagumi kebiasaan Dokjun yang bisa tidur kapan saja dan di mana saja—bahkan di tempat yang bising sekali pun—jika sudah benar-benar mengantuk. Meskipun Baekhyun sempat mengatakan bahwa dulu Taehyung juga mirip seperti itu, namun Taehyung masih bersikukuh jika Dokjun memiliki kebiasaan yang lebih parah darinya.
Setelah selesai melihat Yoonsung, mereka berempat pergi dari sana. Chanyeol sendiri menggendong Dokjun yang sudah tidak sadarkan diri itu. Dan Baekhyun berjalan sembari membawa barang-barang anak sulungnya tersebut. Tidak lupa mereka berpamitan pada Jongdae yang masih ada di venue pertandingan dan menunggu pertandingan terakhir selesai.
Mereka memutuskan untuk makan di rumah saja karena Dokjun sudah terlelap. Sempat Chanyeol melancarkan protes namun keputusan tetap berada di tangan Baekhyun sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan lelaki itu sempat jengkel karena anak sulungnya tidak memihak dirinya sehingga ia merasa dipojokkan saat ini.
"—Taehyung kau tidak bisa diajak bekerja sama." gerutu Chanyeol yang masih berkutat dengan setir mobilnya itu.
"Aku pikir Papa sudah tahu mengapa aku tidak menolak ucapan Mama." jawabnya santai—sembari memainkan ponselnya.
Baekhyun menyahut, "Apa?"
"Ya… ya… aku menghindari Mama yang marah—tapi ide Mama tidak buruk, kok!"
Chanyeol menggerutu lagi, "Cari aman."
"Jadi? Kau menyetujui ide Mama karena itu—"
"Tidak, Ma. Tapi benar kata Mama—kasihan Dokjun karena dia sudah tidur."
Baekhyun memutar kedua bola matanya sebelum berucap lagi, "Tapi kalau misalkan Mama mengatakan kita makan donkatsu—kau akan menyetujuinya, 'kan?"
"Tentu saja—eh, bukan begitu, Ma. Tapi itu memang ide bagus sih."
"Jadi sebenarnya kalian tidak ada yang memihakku, 'kan?"
Taehyung melirik ke arah kaca spion tengah mobil itu. Tatapannya bertemu dengan sang ayah. Dengan cepat ia melemparkan kode pada sang ayah, namun ayahnya malah melemparkan tanggung jawab itu pada Taehyung.
Ia menghela nafas—karena tahu ayahnya sedang menyetir jadi dia yang harus menanggapi ibunya, "Bukannya begitu, Ma... Ini kesempatan langka saja bisa makan di luar rumah berempat—lagipula Dokjun akan bangun kalau sudah tahu soal makanan. Dia 'kan rakus, Ma."
"Kau mengatakan adikmu sendiri rakus?"
Taehyung segera mematikan layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku. Sempat ia melirik ke arah spion tengah, mendapati sisi samping mata ayahnya terlihat mengerut karena menahan tawa.
"Ya tapi kenyataannya Dokjun selalu makan banyak, Ma. Seperti Mama—"
"Park Taehyung."
Ketika nama lengkapnya disebutkan, Taehyung segera menelan ludahnya. Dia tidak berucap lebih. Dia awalnya berniat untuk bercanda, namun kali ini tampaknya timing sedang tidak tepat. Suara Baekhyun sendiri sudah terdengar lebih serius daripada sebelumnya. Jadi mungkin dia sudah jengkel dengan suami dan anak sulungnya sekarang.
"Kita hampir sampai rumah." kata Chanyeol santai—sembari membelokkan mobilnya ke kompleks perumahan mereka.
Mobil lebih hening setelahnya. Chanyeol sendiri tidak berani untuk berbicara banyak. Apalagi ketika Baekhyun baru saja menyebutkan nama lengkap anaknya—kemungkinan besar dia akan mendapatkan amarah yang sebenarnya setelah ini. Dengan pasrah dia memasukkan mobil ke area rumah mereka. Sempat ia melirik ke arah Baekhyun dan mendapati wanita itu mengerutkan alis. Jika sudah begini Chanyeol tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena sudah pasti dia dan Taehyung bersalah setelah terlalu memojokkan Baekhyun yang sedang sensitif itu. Padahal, ucapan Taehyung tadi ada benarnya. Karena Dokjun pasti akan tersadar lagi ketika mencium bau makanan atau mendengar kata makan—entah, anak itu mendapatkan kebiasaan itu dari mana.
Dokjun yang semula tertidur itu akhirnya terbangun ketika Baekhyun membuka pintu belakang mobil mereka. Anak itu terlihat bingung, mungkin dia merasa aura di antara yang lainnya terasa tidak nyaman.
"Mama, di mana?" ucapnya yang kemudian saat ini bersarang di gendongan ibunya. Dia terlihat masih belum sadar dari tidurnya.
"Di rumah, Junie."
Anak kecil itu dengan suara malas dan alis yang masih berkerut merengek, "Donkatsu? Kenapa pulang? Kata Mama kita akan makan donkatsu—"
Mendengar pertanyaan itu Chanyeol berpura-pura membersihkan debu di kap atas mobilnya dan Taehyung meregangkan badannya. Remaja lelaki itu kemudian berdeham.
"Don! Uhuk! Katsu—astaga, tenggorokanku gatal—" ucapnya sembari berpura-pura batuk.
Baekhyun bersumpah melihat Chanyeol dan Taehyung menahan tawanya. Namun kedua lelaki itu berpura-pura sibuk; bahkan dengan sigap dan tiba-tiba Chanyeol mengambilkan air untuk anak sulungnya. Lelaki itu juga menepuk kepala Taehyung perlahan dan tersenyum dengan wajah yang memuakkan.
"Mama, donkatsu…" rengek Dokjun sekali lagi yang membuat rasa kesal Baekhyun berubah menjadi rasa malu—walaupun dia masih ingin menghajar dua lelaki lainnya.
.
.
.
"Papa, kenapa ada di sini?"
Suara itu mengagetkan Chanyeol yang sedang duduk di lantai, ditemani televisi yang menyala, serta bantal, guling, dan selimut yang berserakan. Nafasnya seketika memendek dan matanya terbelalak. Ia menoleh dan mendapati seseorang berdiri dengan rambut yang berantakan berdiri tak jauh darinya.
"Kau mengagetkanku, Tae." ucap Chanyeol yang saat ini berusaha mengatur nafasnya. Ayolah, jam dua pagi tentu saja menjadi wajar jika ia terkejut begitu.
"Sorry, aku penasaran saja kenapa Papa ada di sini." ucapnya sembari melenggang ke dapur.
"Seperti biasa…" gumam Chanyeol.
Taehyung menghentikan langkahnya sejenak, "She is mad right now?"
"Yeah, yeah. Like usually." ucap Chanyeol yang kembali konsentrasi dengan televisinya.
Taehyung mengangguk sebentar. Setelah itu ia lebih memilih untuk menyibukkan dirinya dengan air dan pemanas, serta teh celup yang sudah ia ambil dari kabinet lemari dapur.
"Papa, teh?" tanya Taehyung sambil mengangkat gelas kosong yang ada di tangannya.
Chanyeol menoleh, "Boleh. Tidak perlu pakai gula."
"Kenapa jadi request macam-macam begitu—" gerutu Taehyung.
"Kau mau membuatkannya tidak?" Chanyeol mendesis.
"Iya, Paduka Raja."
Chanyeol tergelak ketika mendengar ucapan Taehyung baru saja. Dia tidak mengira jika anak sulungnya itu akan memiliki sikap yang sama persis seperti dirinya. Dari sikap cuek, cara berpikir yang cenderung terlalu logis, dan cara meluapkan amarah yang sama meledaknya. Untung saja wajah Taehyung cenderung mirip dengan Baekhyun—yang bahkan membuat Chanyeol heran karena anak lelaki itu bukan anak kandungnya—jika saja wajah Taehyung mirip dengan Chanyeol, maka dia akan mendapatkan dirinya sendiri versi medium. Karena sejujurnya dia sudah mendapatkan Chanyeol mini. Dokjun maksudnya.
Tak beberapa lama kemudian Taehyung kembali dengan dua cangkir teh panas. Chanyeol sendiri menerima itu dan kembali memperhatikan televisinya. Dia membiarkan Taehyung duduk di sampingnya dan ikut menonton televisi bersamanya.
"Kenapa Mama mengusir Papa, by the way?" tanya Taehyung sembari menyesap teh panasnya.
"Kau pasti akan menertawakan Papa jika Papa menceritakannya."
Taehyung melirik ayahnya—yang masih menonton televisi itu. Dia sudah bersiap untuk tertawa sebenarnya. Karena dia tahu pasti alasan mengapa ayahnya tidur di luar kamar tidak masuk akal.
"Bagaimana?"
"Tadi… kami mengobrol seperti biasanya. Kau tahu sendiri bukan jika kami pasti mengobrol sebelum tidur—"
"Paduka Raja bisa menceritakan poin pentingnya—sebenarnya sih."
Chanyeol mendelik kesal, "I told her that she is pregnant."
Taehyung mengerutkan alisnya, "Bukannya benar? Mama memang benar-benar hamil—"
"But she thought I said that she is fat or bloated or something—she is insecure, you know."
Taehyung mengangguk, memahami jika Mamanya sedang minder dengan bentuk tubuhnya saat ini, "Kenapa Papa tidak minta maaf saja?"
"I did. Tapi kau tahu sendiri Mama sangat menyeramkan jika sudah marah—"
"Bukan marah sebenarnya. Merajuk."
Chanyeol bergeming; ia menjentikkan jarinya dan menghadap ke arah anak lelakinya dengan ekspresi penuh persetujuan, "Kalau masih marah, masih bisa diatasi. Tapi kalau merajuk—astaga, Taehyung-ah."
Anak lelaki itu menaruh gelas tehnya yang sudah kosong, "She will be okay, though. Mungkin pagi ini Mama justru yang akan meminta maaf—"
Chanyeol mengangguk lagi, "Padahal sebenarnya Papa sedang lelah setengah mati."
"Nanti shift pagi?" Chanyeol mengangguk dan Taehyung menepuk pundak ayahnya itu, "Papa bisa melewatinya. Kurang dari enam bulan lagi, Pa."
"Thank you, Son."
Mereka berdua memang begitu. Lebih bersikap dramatis untuk menyikapi sebuah situasi. Sejujurnya jika dilihat-lihat lagi percakapan mereka sendiri sudah dramatis—apalagi dengan gesture yang berlebihan itu. Beberapa menit setelahnya, mereka berdua masih berbincang dan membicarakan jalannya film yang diputar di layar. Taehyung sendiri sempat mendapatkan nasihat dari ayahnya—karena Taehyung yang selalu bangun dari tidurnya jika gugup menyerangnya—dan ini sudah hari ketiga dia bangun dari tidurnya di dini hari. Padahal babak perempat final akan dilakukan Taehyung siang nanti.
"Tapi Minwoo cukup bagus, Pa—"
"YA! Jangan jadi pecundang begitu. Papa sudah melihat bagaimana Minwoo bertanding. He's good, but you are far way better than him."
"Benarkah?"
"Mama juga mengatakan begitu. Dia hanya mengandalkan kelelahan dari lawannya dan bertahan terus menerus. Kau harus memanfaatkan momen dan—BAM! Berikan tendangan ke kepala seperti kemarin. Kau benar-benar bermain bagus."
Taehyung tertawa dengan tingkah ayahnya yang sangat bersemangat baru saja, "Jongdae Samchon juga mengatakan hal yang sama, Pa."
"See? Insting atlet Papa belum hilang ternyata—"
Belum selesai Chanyeol menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara serak yang memanggilnya, "Chanyeollie—"
Dua lelaki itu menoleh ke salah satu ujung dari ruang tengah tersebut. Mereka berdua yang terkejut sempat saling mendekat dan bahkan Taehyung sudah memeluk pinggang ayahnya karena takut. Mereka pengecut, memang.
Di sudut ruangan itu, Baekhyun berdiri dengan piyamanya yang bermotif anjing corgi. Ia berdiri dengan alis yang berkerut dan bibir yang mengerucut. Sama seperti anak kecil yang baru saja bangun dari tidurnya karena mimpi buruk.
Taehyung yang langsung mengerti situasi itu langsung melepaskan pelukan dan menyikut pinggang ayahnya. Ia mengedipkan mata kanannya dan mengisyaratkan sang ayah untuk segera memberikan respon.
"YA! Cepat ke kamar!" gerutu Chanyeol pada Taehyung dengan berbisik.
"Siap, Paduka Raja." Taehyung berdiri dari tempat duduknya dan mengambil gelas kosong miliknya. Ia bergegas ke dapur dan menaruhnya di sana. Saat dia kembali ke ruang tengah, ia sudah mendapati Mamanya duduk di depan televisi juga.
Taehyung bermaksud untuk cepat ke kamar, walaupun akhirnya ia kembali ke depan televisi untuk menyampaikan pesan pada ayahnya, "Pa, aku belum mencuci gelas dan pemanasnya—tidak ada salahnya Papa mencucinya sebentar." ucapnya sebelum mendapatkan lirikan tajam dari Chanyeol karena ia merusak momen baru saja—dan dia segera melarikan dirinya setelah itu.
Baekhyun sendiri hanya diam, duduk di samping Chanyeol yang saat ini masih menyandarkan diri di kaki sofa ruang tengah mereka. Televisi tetap menyala, walaupun perhatian lelaki itu sudah tidak terpusat di sana. Lelaki itu tertawa kecil karena Baekhyun yang saat ini memilin jari-jemarinya dengan diam—bahkan ekspresi Baekhyun tidak bisa Chanyeol deskripsikan saat ini.
"Kenapa?" tanya Chanyeol.
Baekhyun menggelengkan kepalanya, "Malu rasanya tapi—bisakah kau tidur di kamar sekarang?"
"Kau memintaku tidur di sini tiga jam yang lalu."
"Sekarang tidak lagi."
Chanyeol mencebikkan bibir dan mengangkat alisnya. Kepalanya terangguk—ekspresinya sejujurnya sangat menyebalkan saat ini.
"Kau yakin?"
Baekhyun mengangguk, "Jangan menyebalkan begitu—ekspresimu, astaga."
Lelaki itu terkekeh, "Sejujurnya aku sedang sangat lelah, Baek—tidak, tidak! Jangan menangis! Aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya—kalau aku sangat lelah dan bahkan aku tidak bisa tidur di sini sama sekali. Padahal kau tahu sendiri aku sebenarnya bisa tidur di mana saja. Tapi sungguh, aku terlalu lelah untuk tidur sehingga aku terjaga dan tidak bisa tidur—untung saja Taehyung membuatkanku teh panas—hehe."
"Anak itu tidak bisa tidur lagi?"
Chanyeol mengangguk, "Gugup katanya. Tapi aku sudah meyakinkannya untuk melakukan yang terbaik jadi ya… he will be alright, though."
"Tapi serius, Chan. I'm really sorry…"
"Tidak apa, hormonmu memang berkata begitu, Baek. aku tidak bisa menghalangi itu."
Lelaki itu lebih tergelak lagi ketika mata Baekhyun mulai basah. Sungguh, Baekhyun yang meruntuhkan pertahanannya begini membuatnya sedikit geli. Namun sejujurnya dia sedikit bersyukur karena Baekhyun yang begini adalah Baekhyun yang menghiburnya. Dan jika anak mereka lahir nanti—dan hormon Baekhyun yang kembali normal—Chanyeol bisa mengungkitnya lagi. What a blackmail.
"Aku ada jadwal check up hari ini." gumam Baekhyun yang masih memainkan jari-jemari Chanyeol.
Lelaki itu mengangguk, "Sudah membuat janji dengan Sungjae, 'kan?"
Baekhyun kali ini menganggukkan kepalanya, "Sudah. Jam 11 pagi—jadi Dokjun belum pulang sekolah."
"Aku akan menunggumu di rumah sakit. Jadwal operasiku setelah jam makan siang lagipula."
Baekhyun menghela nafasnya. Ia memilih untuk menumbukkan badannya ke arah Chanyeol dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang lelaki itu.
"Apa yang kau lakukan, Babo?" tanya Chanyeol yang tertawa walaupun menyisir rambut Baekhyun yang tebal itu.
Wanita itu menggeleng, "Sepertinya aku setuju."
"Setuju akan apa?" tanya Chanyeol dengan alis yang mengerut.
"Dia perempuan."
Lelaki itu terkekeh sekali lagi, "Kenapa kau bisa berkata begitu?"
"Mom's instinct, Park."
"Sok tahu."
Baekhyun mendongakkan kepalanya dengan wajah kesal, "Tapi aku merasa aku lebih sensitif dan manja—oh, kau menyukai sifat yang kedua. Oportunis sekali kau malah memanfaatkan hormonku—"
"Karena kurang dari enam bulan lagi aku akan bertemu dengan Baekhyun yang biasanya. Yang bahkan berani menantang sopir taksi berkelahi—"
"Salah sendiri ahjussi itu mabuk dulu—"
Chanyeol menghela nafas, "Tapi bukan berarti harus berkelahi, Baek. Bagaimana jika anak-anak melihat dirimu yang begitu? Hm?"
"Sejujurnya aku yakin Taehyung akan mengambil pom-pom dan bersorak layaknya cheerleaders—"
"Aku setuju kalau yang itu," Chanyeol tertawa sebelum berucap lagi, "Dokjun harus daftar karate."
"Sebentar," Baekhyun menjauhkan badannya dan memejamkan matanya sebentar, "Kau ingin membuat keluarga seperti The Incredibles, begitu?"
"Whoa, ide bagus!"
Baekhyun menghela nafas ketika melihat mata suaminya yang berbinar dan senyum bodoh penuh semangat itu, "Tapi Dokjun memang butuh itu."
Lelaki itu menjentikkan jarinya lagi, "'Kan? Sudah kubilang. Nanti, jika si bungsu lahir, dan dia perempuan, dia bisa memilih apa yang dia mau."
"Balet? Piano? Atau biola? Baiklah, terserah dia."
Chanyeol mengerutkan alisnya, "Oh? Padahal aku ingin mengatakan bahwa dia berhak memilih hapkido atau wushu—"
Terkadang Baekhyun tidak mengerti dengan jalan pikiran dari suaminya. Chanyeol memang bisa menjadi orang yang sangat dewasa, emosional, menyebalkan, atau bahkan jenaka seperti saat ini. Apalagi senyumnya yang bodoh itu—astaga, rasanya Baekhyun ingin menghantamkan tinjunya dan mencari suami baru. Eh, tidak seperti itu juga sebenarnya.
.
.
.
TBC.
"Hoho! Baekhyunie! Long time no see!" seru Sungjae saat Baekhyun—serta Chanyeol yang bermuka masam—datang ke ruangannya.
"Kau baru melihat Baekhyun dua minggu yang lalu." gerutu Chanyeol dengan wajah datar dan bosan.
"Oh, aku tidak tahu jika kau ikut kemari, Hyung."
"Aku sebesar ini kau tidak bisa melihat? Woah, kau—" Chanyeol berseru dan mulai menggulung kemejanya.
Baekhyun segera merentangkan tangannya dan mendesis, "Chan, sudah—"
"Ingin ku hajar, sungguh." gerutu Chanyeol dengan suara lirih.
Sejujurnya, jika ada dokter yang lebih baik dari Sungjae, Chanyeol akan menggantinya. Tapi dia sadar bahwa kemampuan Sungjae lebih baik dari dokter lain maka dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia mempercayai kemampuan Sungjae, namun tidak bisa percaya dengan orangnya walaupun dia sudah berkencan dengan salah satu perawat bernama Sooyoung. Sejujurnya Chanyeol tidak mengerti mengapa Sooyoung mau bersama lelaki seperti Sungjae itu.
Dia menunggu Baekhyun yang melakukan kontrol rutinnya. Ia juga mendengarkan beberapa anjuran dari Sungjae dan sesekali berniat untuk meremas bibir lelaki itu karena terlalu banyak berbicara—tapi Chanyeol tahu dia tidak mungkin melakukan itu. Lagipula Chanyeol hanya kesal, tidak marah ataupun dendam. Mereka baik-baik saja—walaupun ia sering muak dengan tingkah Sungjae yang masih seperti anak kecil itu.
"Kalian ingin anak perempuan atau laki-laki?" tanya Sungjae ketika semua selesai.
"Pria ini ingin anak perempuan sebenarnya." ujar Baekhyun sambil melirik Chanyeol yang duduk di sampingnya.
"Kau juga begitu!" tukas Chanyeol dengan pembelaannya.
"Aku tidak pernah mengatakan itu." jawab Baekhyun yang dibalas dengan wajah masam dari suaminya.
Sungjae terkekeh, "Kalian bisa melihat jenis kelaminnya di jadwal kontrol berikutnya."
"Jangan! Aku ingin tahu jika dia lahir nanti—" seru Chanyeol.
Sungjae melirik jahil, "Tapi aku akan memberikanmu foto ultrasound yang sangat jelas sehingga kau bisa melihatnya sendiri, Hyung. Aku tahu kau bisa membacanya—"
"YA! KAU!"
Baekhyun yang melihat Chanyeol berdiri dan bersungut-sungut itu langsung berdiri juga. Ia segera menarik tangan suaminya keluar dari ruangan itu. Sebenarnya dia sedikit takut karena Chanyeol sepertinya benar-benar emosi untuk kejadian baru saja. Lagipula dia bisa maklum karena Chanyeol yang kurang tidur itu terlihat lelah karena harus berangkat lebih pagi daripada biasanya.
"Jangan kau pedulikan dia." ujar Baekhyun sembari mengusap lengan Chanyeol saat mereka tiba di ruang kerja lelaki bermarga Park itu.
"Dia benar-benar membuatku emosi. Bisa-bisanya begitu—"
Baekhyun terkekeh, "Dia hanya bercanda, Chan. Kau tahu sendiri sifat Sungjae seperti apa."
"Tapi tetap saja aku kesal."
"Aku paham." Baekhyun memeluk Chanyeol sebentar dan menepuk punggung lelaki itu. Such a bro hug.
"Aku masih tidak mengerti mengapa kau dulu bisa hampir berkencan dengannya."
Baekhyun memutar kedua bola matanya, "Dulu, Chan. Sudah sangat dulu."
"Standar-mu—astaga. Standar macam apa hingga hampir berkencan dengan seorang Yook Sungjae?"
"YA!" Baekhyun mengetuk kepala suaminya hingga lelaki itu berjengit, "Jika aku hampir berkencan dengannya dan kemudian aku berkencan denganmu, berarti—"
"Berarti aku sama dengannya? Eww, tidak mau aku disamakan dengan dia!"
Baekhyun menatap Chanyeol dengan wajah kesal. Matanya sudah mendelik dan helaan nafasnya sudah cenderung bosan. Memang dia tidak bisa memahami Park Chanyeol sepenuhnya. Sama sekali tidak bisa, dan dia merasa mendapatkan kejutan setiap harinya.
Chanyeol, yang mendapati Baekhyun menatapnya kesal itu tersenyum, " Aku tidak mau disamakan dengan dia karena hey, kau berkencan denganku berarti kau mengubah standar priamu menjadi lebih baik. Aku dan Yifan juga terlampau jauh—aku lebih tampan dari angry bird itu. Bahkan sepertinya standarmu yang naik dan standar wanitaku yang turun—" Baekhyun mengepalkan tangannya dan siap menghantam Chanyeol saat itu juga—dan Chanyeol segera mengatakan hal lain lagi, "I love you, Bee. You are the only one." ucapnya yang kemudian tersenyum seperti anak kecil dan memamerkan lesung pipinya itu.
HAPPY BIRDDAE UNTUK MA BABY BAEKHYUNNEEEEEE!
SEMOGA CEPAT JALAN YA, NAK! MAMA LELAH GENDONG KAMU TERUS WKWK
Sengaja nih updatenya pas ulang tahun Baekhyun.
Gak deng, udah harusnya dari kemarin kemarin soalnya wkwk.
Ku usahakan update secepatnya kok, Guys. Doakan aku bisa nyempatin waktu wqwq
Eh, tapi aku bakal update FF lain dulu deng.
TEMPO for the next update. Hehe.
SEE YOU NEXT TIME!
