Chapter 2 : Kedudukan

"Ini ruang UKS, kalau yang itu perpustakaan, dan jangan lupakan Lab Bahasa di sebelah sana" ucap Solar sambil menunjuk nunjuk ruangan satu persatu.

Gempa hanya menanggapinya dengan anggukan, padahal dia sendiri sudah tau karena sudah membaca peta sekolahan dengan teliti.

"Ngomong ngomong maksud dari 'kelas' itu apa? Bukankah aku kelas 8F? " Tanya Gempa

"Soal itu ya? " ujar Solar sembari menimbang kata kata apa yang harus ia gunakan kepada anak naif seperti Gempa "Kau mau tau? "

"tentu saja, aku sangat bingung" jawab Gempa

"Jadi begini, di sekolah ini seperti ada sistem kasta, dimana yang kaya berkuasa dan yang miskin hanya diam. Di sini terbagi menjadi 3 kelas. Kelas atas, kelas tengah, dan kelas bawah. Kebanyakan yang datang ke sini adalah kalangan kelas atas. Bahkan kantin saja sampai menyediakan tiga tempat berbeda dengan menu yang berbeda beda. " jelas Solar

"Memang status begitu penting di sini? " Tanya Gempa sedih

"Iya. Sekarang yang mendapatkan posisi siswa kalangan kelas atas pertama adalah Kakak Taufan, dia adik dari Halilintar, ketua perusahaan element. Katanya, siapa yang mengganggu adiknya akan menerima hukuman yang lebih dari yang di lakukan. " ujar Solar

Gempa sedikit tersentak mendengar nama kakak kakaknya di sebutkan seperti itu.

"Kenapa? Jangan jangan kau tidak tau mereka" Kata Solar

"Ya... Aku mengenalnya, tapi-"

"Kau tahu Halilintar pernah sekolah di sini, biar aku tunjukkan" ujar Solar yang langsung menarik lengan Gempa.

Gempa yang di tarik hanya bisa pasrah, walau tidak sehat berlari dengan kondisi fisik seperti ini. Gempa benar benar sudah kelelahan setelah mengelilingi sekolah besar itu. Tiba tiba Solar berhenti, membuat Gempa hampir terjatuh.

"Lihat ini! " seru Solar senang "Ini adalah dinding orang penting di sekolah ini. Lebih tepatnya siswa yang berpengaruh pada sekolah ini! "

Gempa melihat dengan tatapan sayu. Tubuhnya benar benar lelah di paksa lari dengan kecepatan tinggi. Ia melihat salah satu figura di dinding itu. Foto kakaknya—Halilintar. Dan kalau dia melihat ke bawah sedikit, ia dapat melihat Solar dengan gaya yang beda dari yang lain. Sekarang ia tahu kenapa Solar benar benar mengantarnya ke sini.

"jadi maksudmu ke sini hanya untuk memperlihatkan ini? " tanya Gempa lesu

Solar mengangguk kuat yang membuat Gempa menghela nafas panjang.

Di rumah Gempa ~~~

"Kak Hali" sapa Gempa saat Halilintar sampai di rumah

"Ada apa Gempa? " tanyanya dengan senyum tipis

"Saat Gempa sekolah tadi Gempa di beri tahu satu hal yang membuat Gempa bingung" ujar adik bungsunya itu.

"Memangnya apa? " tanya Halilintar sambil mengerutkan keningnya heran. Sejak kapan adiknya tak mengerti pelajaran?

"Katanya di sekolah ada sistem 'kasta'nya. Aku juga di paksa ngasih tau, tapi aku gak mau. Menurut kakak aku harus kasih tau gak? " tanya Gempa dengan wajah bingungnya

Halilintar tersenyum geli "lakukan apa yang menurutmu benar"

"baiklah kalau begitu" ujar Gempa dengan semangat 45

Esoknya di sekolah

"Jadi apa kata mereka Gem? " tanya Solar

"Pertama aku hanya bertanya pada satu kakakku yang paling bijak, dan kedua aku tetap akan merahasiakannya. " jelas Gempa tetap pada pendiriannya.

"Terserah kau deh" ucap Solar cemberut "ngomong ngomong kamu mau gak ikut kelompok aku? Kita kurang satu orang. "

"Kelompok? Kelompok belajar? Boleh" ucap Gempa girang

"Kamu kayak yang gak pernah ikut kelompok aja" ujar Solar terkekeh geli

"pernah sih... Tapi... Jujur aja aku gak suka dengan kelompok Sd, di mana satu mengerjakan dan yang lain hanya diam" jelas Gempa. Matanya meredup.

"Eh? Jangan nangis dong! Nanti aku yang repot" pekik Solar, untung siswa yang lain tidak mendengarnya. "Huh. Kalau begitu pulang sekolah datang ke rumahku yang ada di Griya Winaya Block B2 nomor 1 RT 05 RW 012"

(Author ngasal)

Gempa mengangguk pelan karena telah kehilangan moodnya hari ini. Gempa meletakkan tangannya di meja sebagai bantalan kepalanya.

"Uy. Gem" tegur Solar yang membuat Gempa harus mendongak sedikit "kamu punya penyakit? "

Solar menanyakan hal itu dengan nada serius sedangkan Gempa bertanya tanya.

"Penyakit? " beo Gempa "sepertinya ada"

"penyakit apa? " tanya Solar sampai hampir berdiri

Saat Gempa hendak menjawab tiba tiba guru pelajaran IPA masuk kedalam.

"Ae.. Ae... Kenapa udah bel masuk, kelas belum di siapkan? " tanya Bu Dedah, guru IPA.

"Mereka tidak mau di atur bu! " ucap Adudu "bahkan KM hanya diam saja"

Adudu memutar balikkan fakta, padahal dia yang tidak bisa diam, sedangkan Yaya sudah benar benar lelah mengurus Adudu.

"Ae... Ae... Atuh... Kalian mah... Ya sudah kita mulai belajar aja tentang zat adiktif " ujar Bu Dedah yang langsung di balas anggukan lesu para murid.

Skip~~~

Pulang sekolah adalah hal yang di tunggu tunggu oleh para murid. Mereka semua ingin pulang dan merebahkan diri pada kasur empuk atau hanya bersandar di sofa tepat di hadapan TV yang masih menyala namun malah main HP. Tapi tidak dengan mereka. Mereka semua di beri tugas kelompok yang sulit dan harus di kumpulkan senin depan. Maka dari itu mereka langsung bekerja kelompok di rumah temannya. Sedangkan Gempa izin pulang dulu untuk meminta izin pada sang sulung yang temperamen.

"Solar aku ke rumah dulu ya? Kalau gak ngomong dia pasti marah" ucap Gempa meminta izin. Padahal sebenarnya maksud 'pulang' itu adalah untuk bertemu kakaknya di Kantor. Karena menurut Gempa, pulang adalah di mana saudaranya berada, sweet /plak/

"Baiklah, tapi datang secepatnya" kata Solar dengan nada tak menyenangkan "aku benar benar memohon"

"Ayo Solar! " teriak Yaya yang langsung menarik paksa Solar keluar.

Gempa hanya sweatdrop melihat kedua pasangan itu. Ia buru buru keluar dan menemukan mobil hitam di samping sekolah. Gempa pun menghampirinya.

"Pak Kusma di sini? Ya udahlah aku masuk. " ujar Gempa yang langsung selonong boi masuk ke mobil.

"Mau ke mana Tuan Gempa? " tanya Pak Kusma

"Ke kantor kakak. Aku mau kerkom, jadi harus minta izin dulu" jawab Gempa dengan suara kecil.

"Baiklah" ujar Pak Kusma yang langsung memacu mobil menuju gedung element.

Saat sampai di Kantor ~~

Gempa berjalan menelusuri kantor itu. Ia berjalan menuju lift sambil mencoba mengabaikan tatapan tatapan para pegawai. Saat sampai di lift, Ia menuju lantai tujuh, karena kantor sang kakak berada di lantai tujuh.

Gempa berjalan dengan tenang, hingga tiba tiba sebuah sapaan—atau lebih tepatnya makian—terdengar.

"Oy mata emas" teriak seseorang.

Sontak Gempa menoleh kepada sumber suara.

"Ngapain ke sini? Emang kamu orang penting? " maki Adudu

"Nggak juga. Kamu sendiri? " tanya Gempa masih dengan biasa.

"Asal kau tau aku ke sini untuk membuat perjanjian dengan Halilintar. Dan aku yakin aku akan berhasil, karena setelah ini giliranku. " ujar Adudu sombong.

"Oh. Kalau pergi dulu" kata Gempa yang langsung pergi sebelum dia naik darah

Gempa langsung berjalan menuju meja resepsionis (bener gak sih :v), ia berjalan dan berbicara dengan resepsionis perempuan itu.

"Halo" sapa Gempa

"Ada perlu apa? " tanya sang resepsionis tanpa menengok

"Ketemu Kak Halilintar sekarang bisa? " tanya Gempa dengan sedikit mengecilkan kata kata Kakak

"Ada janji? " tanya sang resepsionis lagi, kali ini sambil menengok

"belum sih, tapi coba tanya pada dulu, pasti akan di izinkan" ucap Gempa

"Baiklah, atas nama siapa? " tannya resepsionis lagi

"Atas nama Gempa" jawab Gempa

"baiklah, selagi menunggu boleh duduk dulu sebelah sana. " kata sang resepsionis menunjuk tempat duduk sebelah Adudu

Gempa berjalan dengan pelan ke arah Adudu yang langsung menatapnya tajam dengan seringai tercetak di wajah pas pasannya.

"Aku gak tau gimana kamu bisa nyogok resepsionis itu. Tapi harus aku katakan kau tidak akan berhasil. Lagi pula kau akan melihatku di terima sebelum giliranmu yang masih jauh. Khekhe" kata Adudu di akhiri tawa jahat yang lucu.

"kita lihat saja" ujar Gempa dengan wajah masam, sepertinya ia sudah mulai naik darah

Tiba tiba sang resepsionis datang dengan senyum. Adudu sudah berdiri dengan sombong, namun...

"Silakan tuan Gempa. Anda sudah di tunggu di ruangan" ucap sang resepsionis yang melunturkan senyum arogan Adudu.

"Hey! Kamu gak salah baca kan? Sudah jelas sekarang giliran saya! " teriak Adudu.

"Maaf Tuan Adudu, Tuan Halilintar ingin bertemu Tuan Gempa dulu" ucap sang resepsionis sembari tersenyum manis. "baiklah ayo"

Gempa berjalan mengikuti sang resepsionis, dan kalau dia tidak salah lihat nametag, nama resepsionis itu adalah Rin.

"Sudah sampai" ujar Rin

"Terima kasih nyonya Rin" Gempa dengan senyuman manis yang membuat Rin terpaku

"hn... Saya kembali bekerja lagi, omong omong anda mirip seseorang" ujar Rin yang langsung kembali ke meja resepsionis.

Gempa masuk kedalam ruangan itu.

"Assalamualaikum, Kak Hali? " salam Gempa

"Masuk aja Gem. " terdengar nada datar dari tengah ruangan "ada perlu apa? "

"Aku hanya ingin izin kerja kelompok. Bolehkan? " tanya Gempa dengan nada kecut

"Tentu saja boleh. Tapi kenapa kamu seperti kesal begitu" tanya Halilintar, ia menaikan satu alisnya.

"Itu... Tidak ada kok" ucap Gempa masih dengan nada yang sama sembari memainkan jari jarinya.

"Ya sudah, kalau begitu pergi. Nanti kamu telat" ujar Halilintar dengan senyum, berharap bisa mengembalikan mood adiknya itu.

"baiklah kalau begitu aku pergi dulu" ucap Gempa yang segera berbalik pergi

Gempa hendak pergi sebelum sang kakak membaliknya paksa dan mencium keningnya. Dan berkata hati hati di jalan. Gempa hanya mengangguk dan segera berbalik. Tanpa mereka sadari adegan perpisahan tadi terjadi setelah pintu sedikit terbuka, membiarkan seseorang melihat adegan tersebut.

"Menarik~~"

TBC

hehe~~~

Ngomong ngomong nulisnya gak bisa pake pembatas ya? Saat di periksa lagi ternyata pembatasnya hilang. Jadi berantakan.

Lalu waktu itu aku sempat ngehapus ffn karena tidak bisa load.