Cita-citanya adalah menjadi pembuat sepatu nomor satu di kota ini. Melampaui para pendahulu sejauh yang ia bisa. Berasal dari panti asuhan tak membuat semangatnya surut. Ia melakukan segala hal untuk meningkatkan peluang itu. Ia bersekolah dengan rajin, mendapatkan beasiswa.

"Perlu kubantu?"

Adalah pertanyaan pertama yang ia dengar. Ketika ia menoleh, seseorang menyambanginya. Melihat ia kesulitan berjinjit demi mengambil sebuah buku tebal di perpustakaan mengenai sejarah sepatu dunia.

"Terima kasih."

Ia membiarkan dirinya dibantu. Tidak ada salahnya menerima kebaikan orang, ia pikir. Lantas ia tersenyum sebagai tanda terima kasih.

"Namaku Nakagawa Gumiya." orang yang membantunya mengenalkan diri tanpa diminta. Merasa perlu melakukan hal yang sama, ia turut menjawabnya.

"Nekomura Iroha."

Sangat terasa aneh bagi Iroha yang tidak pernah melihatnya sebelumnya. Iroha sama sekali tidak mengenalnya. Apakah itu alasan mengapa ia memperkenalkan diri? Tapi, buat apa juga? Belum tentu mereka akan bertemu kembali.

Gumiya cengengesan. "Aku dihukum menjaga perpustakaan hari ini. Aku butuh teman bicara karena seperti yang kau lihat, perpustakaan bukan destinasi yang menarik." jelasnya. Iroha mengangguk mengerti. Ini masih jam istirahat, jadi sepertinya tidak masalah bagi Iroha.

"Apa kau sering ke sini?" tanya Gumiya. "Hukumanku sampai minggu depan, jadi—"

"Ya, setiap hari aku ke sini." balas Iroha. Gumiya bernapas lega. Ia belum mau dicap sebagai penunggu perpustakaan oleh teman-temannya. Cukup Iroha saja yang memegang gelar itu, pikirnya jelek.

Mereka lalu duduk berhadapan dengan pembatas sebuah meja kayu persegi panjang kecokelatan. Iroha mulai membuka buku, membaca dengan serius. Sementara Gumiya tidak tahu harus memulai topik apa. Ia masih memikirkan bagaimana cara cepat keluar dari neraka ini. Ia belum pernah berbicara pada seorang gadis kutu buku, jadi rasanya agak canggung.

"Er, hobimu membaca?"

"Membuat sepatu."

Tapi, kau sedang membaca buku, 'kan?! keluh Gumiya dalam hati. Ada apa dengan jawaban tidak nyambung itu?

Netra Gumiya beralih ada kover buku yang dibaca Iroha. Sejarah tentang sepatu dari seluruh dunia. Apa yang menarik dari hal itu?

"Kau ... ingin jadi pembuat sepatu?"

"Kenapa tidak?"

Gumiya bingung. "Ya, biasanya kan seusiamu itu hobi berdandan, jalan-jalan, ingin jadi artis dan sebagainya. Maksudku, kau serius?"

Selama ini tidak pernah ada yang peduli akan cita-cita Iroha sebagai pembuat sepatu ternama. Teman-teman di panti asuhannya pun tidak ada yang tahu. Pengurus panti juga tidak mempermasalahkan apapun keputusannya, tidak pernah ikut campur.

"Menurutmu aku main-main dengan hal semacam ini? Aku harus banyak membaca buku, dan bersekolah desain usai lulus dari sini."

"Oh, well. Aku bisa membantumu, Nekomura-san. Jika kau segitunya ingin jadi pembuat sepatu." Gumiya terlihat memikirkan sesuatu.

"Orang tuaku punya tempat untuk memproduksi sepatu. Kau bisa bekerja di sana untuk ... pengalamanmu? Membaca buku tidak akan banyak membantu. Kau harus turun ke lapangan."

Iroha terdiam sejenak. "Kau yakin menawariku?"

"Kau mau menolak?" skak Gumiya.

'Kita baru kenal, 'kan?!' jerit Iroha dalam hati.


"Wah, lumayan bagus juga!"

Hari ini sepulang sekolah, Iroha diperkenalkan secara resmi kepada orang tua Gumiya. Jangan berpikiran aneh dulu, hanya sebatas kontrak kerja. Iroha bisa memanfaatkan waktu dengan kerja sambilan di sini, melihat bagaimana para pekerja memproduksi desain sepatu.

"He-hebat, Nakagawa-san." puji Iroha saat keluarga Nakagawa itu mengantarnya keliling pabrik.

"Gumiya, apa dia bawahanmu yang baru?" tanya ayahnya sok tahu.

"Gak lah, ayah jelek!"

"Kalau aku jelek kau juga jelek, wee!"

"Kalian ini ..." ibu Gumiya hanya bisa geleng-geleng kepala. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Iroha yang masih menatap sekitar.

"Bukankah kau dari panti asuhan itu? Sepertinya aku pernah melihatmu." orang tua itu berusaha mengorek kembali ingatannya.

"Ah, iya. Saya berasal dari sana." Iroha jadi merasa tidak enak saat mengatakannya. Apakah keluarga Nakagawa akan mempertimbangkan latar belakang untuk bekerja di sini?

"Oh! Ternyata benar. Soalnya aku kadang lewat sana. Hmm, bagaimana jika saat kau mulai bekerja, kau juga tinggal di sini saja? Maksudku, panti tempatmu tinggal itu lumayan jauh dari sini, 'kan?"

"Eck! Apa yang kau pikirkan, wanita tua?!" Gumiya protes.

"Ah, bakal ada Gumiya, jadi Iroha-san bakal aman, 'kan?" timpal ayah Gumiya. Sementara pemuda itu terlihat benar-benar marah.

"Apa yang kalian pikirkan, hah?! Maksudku, ini terlalu tiba-tiba dan belum tentu juga Nekomura mau menerimanya, benar, Nekomura?" Gumiya menoleh padanya.

"Sejujurnya aku tak keberatan. Tapi kalau kau menolaknya, kupikir juga tidak masalah." jawab Iroha lugas. Gumiya tidak percaya ini. Bukannya dia menolak Iroha atau bagaimana (ini bukan perihal konfesi, sumpah), tapi ... di rumah mereka tidak ada ruang lebih untuk tamu.

"Ah, masalah ruangan, ya! Nak Iroha bisa sekamar sama Gumiya!"

"Apa maksudmu, nenek peot?!" Gumiya ngegas.

"Lah, Iroha-san itu cowok, 'kan?"

Krik.

Iroha berdehem. "Maaf mengecewakan anda semua, tapi saya perempuan." Iroha menunjuk rok yang ia kenakan. Mungkin kedua orang tua Gumiya tak sempat melihat eksistensi rok milik Iroha.

"EEEEHHHH?!"