"Wajahmu kenapa, Sukone-san?"

"Kelilipan kodok."

Dex tertawa renyah menanggapi perkataan teman satu tempat kursusnya itu. Sore ini wajahnya lebih masam daripada hari lain. Mungkin dia sedang ada masalah pribadi.

Pena ditekan, memproyeksikan tinta menjadi sederet huruf dan angka berjejeran. Soal kali ini lebih sulit daripada minggu lalu, Dex harus berusaha keras. Lagipula ini demi nilainya.

Sedikit heran ia melirik Tei, masih cemberut saja. Hampir saja Dex tertawa lepas kalau tidak mengingat dimana ia berada saat ini. Tei membalikkan halaman dengan gestur kekanakan. Betapa mudah sekali ojou-sama ini dibaca tingkahnya. Cukup sebagai penghilang penat.

Hm, masalah klasik remaja? Dex kan akhirnya kepo juga.

Sepulang dari kursus, Dex berbaik hati menraktir si tuan putri di restoran dekat tempat les

Diantar dengan mobil, tentunya. Dex sendiri telah meminta izin kepada supir pribadi Tei untuk ini, guna selanjutnya diteruskan kepada ayah dan ibunya. Tei tidak menolak, karena hari ini agenda terakhirnya sudah selesai kalau bukan karena ajakan Dex. Tetapi masih melihat wajah lesu perempuan itu. Pasti ada apa-apa.

"Sukone-san, wajahmu menggelikan."

"Hei, Dex." panggilnya. "Aku harus bagaimana supaya cintaku diterima?"

"Wah, kau punya orang yang kau suka? Kenapa tidak bilang padaku?"

"Ini aku sudah bilang. Tolong beri aku saran yang masuk akal."

"Maksudnya aku ini makhluk penuh akal-akalan?"

Meski mengenal Tei dari kecil, tapi Dex masih belum mengetahui semua tentang Tei.

Yang ia tahu, Tei memang naksir seseorang yang ... sebenarnya tidak sepadan dengan dirinya. Dan sepengetahuannya pula, Tei sudah selalu ditolak. Walau demikian Tei tetap gigih, ia percaya bahwa ia tidak akan gagal selama berusaha.

Kopi yang di depan mereka pun tak disentuh, rasanya menjadi tak tertarik menyesap minuman satu itu. Mereka berdua larut dalam pikiran masing-masing.

"Sukone-san, bagaimana dengan rencana baru?"

"Kau ada ide?"

"Hm, tapi entah kau setuju atau tidak. Dengarkan aku dulu. Aku tidak akan memaksa kau menggunakan cara ini."

"Katakan semua yang kau pikirkan, Dex."

"Kurasa ... ini tidak gratis?"

"Berapa lembar lagi pr yang belum kau kerjakan?"

"Aku sayang Sukone-san!"


Iroha terusik lagi. Kali ini bukan dengan Gumiya, tapi teman sekelasnya. Berbondong-bondong mendatangi meja hanya untuk melakukan inspeksi tak berdasar.

"Sejak kapan kau jalan dengan Nakagawa? Kau tidak takut?"

"Aku tid—" Iroha berhenti sebentar. Dia teringat kontrak baru kemarin. "Apa urusannya dengan kalian?"

"Kau tidak tahu?" Defoko, si ketua kelas berbicara. "Nakagawa adalah anak paling bermasalah di sini. Tapi, Sukone-san selalu melindunginya. Kupikir mereka yang akan jadian, tapi—aku tak bisa berharap banyak jika kalian memang benar sedang menjalin hubungan."

Entah mengapa, tiba-tiba Iroha merasa dirinya disamakan dengan pelakor. Hell. Tidak. Gumiya yang memaksanya melakukan kontrak menyedihkan ini. Sampai kapan bocah itu mau menghindar dari Tei? Iroha sungguh tidak mengerti isi hati laki-laki. Pengecut sekali.

"Ya, namanya cinta tidak akan ada yang tahu, 'kan?" timpal Moke, teman kelas yang lain.

Iroha menoleh ke arah pemuda yang tak lebih tinggi darinya. Moke juga sama bersinarnya hari ini, sama seperti yang lalu. Jantungnya mendadak berdegup kencang, terbius sesaat tanpa Iroha sedang dihadapkan pada publik, ia segera berkedip untuk mengalihkan perhatian.

"Aku sendiri tidak berharap banyak. Maksudku, dia Nakagawa." yang menyebalkan, imbuh dalam hati. Pulang sekolah nanti Gumiya berjanji akan mengantarkannya ke rumah si hijau lagi. Ayah ibunya akan memberi beberapa tips baru untuk Iroha dalam desain sepatu. Sogokan yang mujarab.

"Kau tidak takut, Nekomura-san?"

"Tidak. Kenapa harus?"

"Yah, bagaimana ya ... "


"Bisakah kau menyingkir dari pintu, Sukone-san?"

"Tidak, Gumiya."

Perseteruan sengit antara Gumiya dan Tei masih saja berlangsung. Seisi kelas tidak ada yang berani protes, atau mereka akan berurusan dengan keluarga besar Tei saat ini juga. Sedikit informasi, keluarga Sukone tidak akan segan terhadap siapapun yang mengusik kehidupan putri tunggal dan calon pewaris masa depan.

Tei mendongak, menatap dongkol kepada Gumiya. "Seharusnya kau tahu sedikit terima kasih, Gumiya. Atau kau lupa cara membalas budi pada seseorang?"

"Aku tidak memintamu."

Kabar buruknya, Gumiya dan Tei itu satu kelas. Dan duduk di bangku yang bersebelahan. Tidak heran jika keduanya rutin menjadi gosip, meski secara diam-diam.

Gumiya pernah beberapa kali masuk BK karena ulahnya seperti berkelahi dengan anak sekolah lain, bahkan berkelahi dengan warga sipil entah karena apa, tetapi Tei pun selalu menyelamatkannya bagai pangeran negeri dongeng hingga Gumiya tak pernah mendapat hukuman berat seperti skorsing.

Perkataan Tei ada benarnya, dia mengorbankan semua untuk pemuda itu, tapi orang yang dicintainya melirik gadis lain? Jelas saja itu menyedihkan. Jadi tak ada satupun yang mencegah Tei melakukan sabotase pintu, mereka semua sama sekali tidak keberatan atas nama keadilan.

"Tei-san, tolong."

"Tidak sebelum kau setuju menjadi kekasihku. Tunggu, itu terlalu dangkal. Calon suamiku." pelaku sabotase tersenyum miring. "sudah kubilang, aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku, Gumiya."

"Kau kekanakan sekali." Gumiya mengerling. "Minggir."

"Password-nya. Cium pipi."

"Tolong jangan menawarkan dirimu seperti itu, Tei-san. Kau ini perempuan terhormat."

"Seharusnya kau bangga bisa membuat perempuan terhormat sepertiku mau melihat keberadaanmu."

Oke, Gumiya sungguh pusing. Seperti yang diketahui bahwa gadis ini sungguh luar biasa keras kepalanya. Entah dia terpengaruh sinetron apa sampai melakukan tindakan bocah seperti ini.

Bisa saja Gumiya menerobos paksa, tapi dia tidak boleh melukai seorang perempuan hanya karena ia tidak suka, 'kan? Gumiya diam, memutar otak. Mencari cara lain agar Tei mau menyingkir dari satu-satunya akses menuju luar.

Akses?

Gumiya tersenyum. "Baiklah jika Tei-san tidak mengijinkanku." ia berbalik, berjalan menuju jendela. Tei terhenyak, ia lari dan menahan tangan Gumiya agar tak melakukan hal konyol.

"Kau itu tolol atau apa?"

"Bukankah Tei-san yang tidak memperbolehkanku melewati pintu? Kalau begitu boleh dong aku lewat jendela?"

"Jangan paksakan keberuntunganmu, Gumiya!" Tei menarik lebih keras hingga Gumiya kembali berhadapan dengannya. Kelas mereka ada di lantai dua, apa Gumiya berniat bunuh diri secara konyol?

"Apa?"

"Tidak akan ada kata selanjutnya."

Tei berjalan menjauh, pergi entah kemana karena memilih keluar kelas dengan langkah tak beraturan. Sepertinya ia berlari.

Gumiya heran kenapa ada makhluk seperti Tei di dunia ini. Ia turut keluar kelas, karena sempat tertunda tujuannya. Hari ini dia akan mengunjungi Iroha lagi, demi kedok yang berharga. Semoga saja Tei tidak lagi betah mengikutinya bagai anak ayam nanti.


Begitu sampai di kelas Iroha, yang Gumiya lihat hanyalah kerumunan massa. Begitu riuh dan memekakkan telinga. Samar-samar ia mendengar suara Iroha. Gumiya berusaha menembus keramaian, tetapi sangat sulit. Hampir tidak ada celah.

"Nakagawa?" seorang pemuda pendek tak sengaja menyebut namanya. Seisi kelas langsung dilanda hening, mengingatkan Gumiya kejadian absurd kemarin. Hei, seburuk itukah namanya di sekolah ini sampai-sampai tidak ada yang berani berbicara? Tapi berkat itu juga ia bisa melihat Iroha lebih jelas, karena mereka perlahan menyingkir dan menyediakan jalan kecil untuk Gumiya.

Oke, sekarang Gumiya paham betapa memalukannya kejadian kemarin bagi Iroha.

Gumiya berdehem sebentar. "Ehm—Nekomura."

Tanpa banyak bicara, Iroha segera bangkit dan menghampiri Gumiya. Tontonan gratis, batin seisi kelas. Iroha tak mengucapkan apapun, hanya melempar tatapan tajam sebelum keduanya pergi bersama entah kemana.


Tei berlari.

Ia menuju kamar mandi yang saat itu tengah sepi. Ia buru-buru memutar keran air di atas wastafel dan membasuh mukanya yang mungkin sudah tidak karuan. Perempuan itu lalu mencoba untuk kembali mengatur pernapasannya.

Sia-sia. Ia tidak merasa tenang sama sekali. Sakit. Begitu sesak.

Tei memberanikan diri mengangkat wajah, menatap parasnya yang menyedihkan terpantul dalam cermin. Matanya masih terlihat sembab, ia lalu membasuhnya lagi. Menyedihkan, Tei. Kau menyedihkan!

Tei sendiri tidak mengerti apa yang ia harapkan dari ini. Yang ia tau, ia hanya ingin Gumiya. Baru kali ini ia merasakan ketertarikan pada seseorang. Tidak seharusnya Gumiya berpaling hanya karena gadis itu. Tidak!

Amarah Tei harus diputus sejenak karena ponselnya kini berbunyi. Melihat nama kontak, Tei segera mengangkatnya. "Ya, ini aku Tei. Apa? Kau sudah mendapat informasinya? Tetap jalankan sesuai rencana. Terima kasih."

Tei mengembuskan napas. Menatap refleksi dirinya sekali lagi. Ia tersenyum kecil, sebelum berubah menjadi lebar.

"Kita lihat apa yang bisa kulakukan padamu, Nekomura Iroha."


"Serius, Sukone-san sampai begitu?"

"Kau mungkin tidak percaya tapi ini benar terjadi. Apa sandiwara kita tidak meyakinkan?"

"Memang tidak meyakinkan. Kupikir, ia takkan tertipu dengan akting rendahan ini."

Kali ini tujuan mereka adalah halaman belakang. Menatap kolam ikan koi, sambil membicarakan beberapa poin menyebalkan dalam kehidupan. Ditemani asrinya rimbun pepohonan, juga cuaca yang terasa begitu nyaman.

Gumiya berceloteh bagaimana frustrasinya ia ketika berusaha mengatasi Tei. Iroha hanya mendengarkan. Meski Tei sering mengganggu Gumiya, tetapi kadang Iroha ingin keberanian seperti perempuan itu. Iroha terlalu takut melangkah, takut bahwa segalanya akan lebih buruk dari saat ini. Dia tidak sekuat Tei dalam mengurus sesuatu bernama penolakan.

"Kenapa kau melamun? Kau sakit?"

"Hanya memikirkan bagaimana aku punya keberanian seperti Sukone-san. Aku terlalu malu menyampaikan perasaanku. Dan tidak ada jaminan bahwa dia juga menyukaiku. Aku tidak berani melangkah lebih jauh dari ini."

Gumiya tidak menyalahkan pikiran Iroha. Ia sendiri juga tahu hal itu. Memang merasa terkadang lebih baik tak melewati batas dan menjaganya agar tetap stagnan seperti ini. Tapi ... sampai kapan? Bahkan orang seperti Tei juga punya batas tolerani terhadap segala sesuatu.

Ia mencuri pandang wajah Iroha yang terlihat sendu. Ia penasaran, siapa pemuda yang berhasil membuatnya jatuh cinta?

"Nekomura, kupikir kau tidak perlu merahasiakan lagi siapa orang yang kau suka. Kau bisa bercerita padaku."

"Hm, akan kupertimbangkan. Tapi bukan sekarang. Mentalku hampir runtuh pagi ini." Iroha tidak ingin menjadi pusat atensi, dia tidak ingin lagi terkena interogasi. Hal itu cukup melelahkan pikirannya. Dia sempat kacau.

"Terserahmu. Hari ini Ayah dan Ibu mengundangmu makan malam. Kau datang?"

"Aku akan datang, tapi aku harus mengabari pihak panti, aku tidak punya ponsel."

"Tidak apa, akan kuantar."

"Kau yakin kakimu tidak akan patah?"

"Kau meragukanku?"

"Tidak tapi—wajahmu terlalu dekat. Tolong mundur."

Gumiya memundurkan diri. Ia terlalu terbawa suasana dan hampir saja melakukan sesuatu tak bermoral di luar dugaan. "Lagipula aku menawarkan layanan antar jemput setiap hari. Khusus untukmu."

Iroha tersenyum. "Terima kasih atas sogokannya."

Tanpa tahu apa yang tengah menanti esok hari.