"Mulai hari ini namamu kurubah jadi Yurio saja huh..."

Pagi-pagi sekali Viktor sudah berwajah ceria dan mengatakan hal paling aneh dan menyebalkan bagi remaja berambut pirang tersebut.

Yuri Plisetsky, remaja berumur 15 tahun tersebut hanya bisa ber-ha menanggapi gagasan konyol si pemilik mansion. "Apa kau ingin makan roti itu dengan matamu Viktor," geramnya "Aku tahu kalau kau gila sejak lahir, tapi bisa kau kendalikan kegilaanmu itu di pagi hari?"

"Ha haha..." Viktor masih memasang wajah riang, di sekeliling pria tersebut masih nampak bunga-bunga imajiner pula meskipun ia sudah di ancam oleh macan mansion tersebut "Karena Yuuri dan Yuri itu beda tipis, merepotkan sekali bukan?" katanya, sekarang seolah mengabaikan ancaman yang sebelumnya.

"Memang aku peduli!" bentak Yuri seraya mengebrak meja makan keras-keras.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Do You Believe in Fate?

Mungkin dia membenciku, begitu pikir Yuuri sesaat setelah ia bertatapan muka dengan penghuni muda mansion yang di tinggalinya.

Mulanya Viktor berniat memperkenalkan dirinya pada Yuri, namun di abaikan oleh remaja tersebut. "Aku sudah tahu, sebelum pulang Nataly bertemu denganku kemarin." Begitu katanya lalu duduk dan mulai memotong roti di hadapannya lalu mulai mengolesinya dengan mentega.

Hening, tak ada yang berbicara lagi. Hanya suara peralatan makan mereka saja yang berbunyi seperlunya. Dirinya, Viktor, dan Yuri menyantap makanan masing-masing, sampai akhirnya Viktor membuka mulutnya.

"Bagaimana kalau mulai hari ini namamu jadi Yurio?"

Kata si pemilik rumah bersemangat. Bunga-bunga imajiner mengelilingi pria berambut perak tersebut, sungguh sesuatu yang memuakan bagi Yuri.

"Ha?" remaja tersebut menatap Viktor tajam "Apa kau ingin makan roti itu dengan matamu?"

Ancaman yang mengerikan!, batin Yuuri ngeri. Mungkin ancaman tersebut terdengar tak masuk akal namun tatapan remaja tersebut membuat ruangan menjadi sesak.

"Ha haha..." Viktor masih bisa tertawa "Yuuri dan Yuri itu mirip, kalau salah panggil kan merepotkan." balasnya seolah mengabaikan ancaman sebelumnya.

"Memang aku peduli!" bentak Yuri seraya memukul meja kasar "Kalau kau mau membuat julukan berikan saja pada pria Jepang itu, aku duluan yang berada di rumah ini!"

"Eeh~ aku ingin memanggil Yuuri dengan Yuuri." rajuk Viktor

"Sudah kubilang aku tidak peduli," ulang Yuri lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi. Matanya yang tajam melirik Yuuri "Meskipun begitu si idiot ini ada benarnya," katanya "Siapa nama lengkapmu?"

Siapa sangka kalau remaja tersebut akan berbicara normal pada Yuuri? "Ka—Katsuki Yuuri!," jawab Yuuri gugup, mulanya dia kira Yuri akan membentaknya juga padahal.

"Katsuki huh," Yuri menyilangkan lengannya "Aku tidak tahu sampai kapan kau tinggal di sini tapi memanggilmu Katsuki itu saja sudah cukup."

"Aku ingin lebih dekat dengan Yuuri~" rengek Viktor

"Bahasa Rusiamu juga bagus lancar malah, apa sebelumnya di Jepang kau sudah belajar?" Yuri jelas-jelas mengabaikan Viktor, dirinya lebih memilih berbicara dengan Yuuri sekarang.

Sementara itu. Mata Yuuri sekarang bersinar-sinar gembira sekali karena diajak berbicara, rupanya dia tidak di benci!

"Kakak kelasku belajar bahasa Rusia dia yang mengajariku. Belajar darinya membuatku semakin tertarik pada Rusia jadi kuputuskan untuk cari sekolah di sini..." jelas Yuuri sedikit sendu di akhir "Sudah kuduga semuanya tidak semudah yang kubayangkan haha..."

"Yuuri terlalu nekat tapi kalau tidak begitu tidak akan bertemu denganku." sambung Viktor santai seraya menunjuk wajahnya sendiri, kelakuannya itu membuat Yuuri tersenyum kembali dan berefek sebaliknya pada Yuri.

"Takdir huh..." gumam Yuri lalu berdiri dari tempatnya "Tuhan atau apapun itu sedang melucu kalau 'Pertemuan seorang Beta dan tuan rumah keluarga Nikiforov' adalah takdir." Begitu katanya sebelum keluar dari ruangan dengan Nataly yang membungkuk untuk menghantarkan kepergiannya.

Yuuri terdiam sedangkan Viktor melanjutkan sarapannya. Si pria Jepang menatap sarapannya seolah makanan-makanan yang berada di hadapannya tersebut sudah bertanya pertanyaan sulit mengenai rumus-rumus kimia yang kurang dimengertinya.

Nikiforov...

Benar juga aku tak pernah bertanya nama keluarga Viktor.

"Jadi...Nama lengkapmu Viktor Nikiforov?" tanyanya berusaha membuka topik. Nampak Viktor yang duduk di sisi kanan meja mengulam senyum tak enak. "Kau belum memberitahuku..." lanjut Yuuri lalu berdiri dari tempatnya "Yaah...Itupun juga karena aku tidak bertanya sih."

Suara gesekan kursi menyadarkan Viktor, dilihatnya Yuuri yang sudah berdiri "Aku juga lupa memberitahumu haha..."

Tawanya terdengar canggung. Hal tersebut sempat membuat Yuuri bertanya-tanya heran namun tak diungkapkannya, semua pertanyaan di kepalanya ditelannya paksa, ia tak ingin membuat Viktor kerepotan lebih dari menampungnya.

"Lalu...Apa rencanamu hari ini?" tanya Yuuri untuk mengganti topik.

Seperti terkena sasaran, Viktor memukul pelan dahinya seperti teringat sesuatu "Benar juga!" serunya lalu segera bangkit berdiri "Kita harus mengurus surat-suratmu," pria itu berseru, dengan cepat ia menangkap tangan Yuuri lalu mengajaknya berlarian keluar rumah "Betapa pikunnya aku..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 02:

Viktor Nikiforov (27 thn) berkewarganegaraan Rusia. Dirinya lahir dan di besarkan di St petersburg, keluarganya adalah salah satu pedagang besar di Rusia. Setelah ayahnya bercerai lalu meninggal, dia yang anak tunggal keluarga Nikiforov lah yang meneruskan usaha keluarga.

Sebagai tambahan; dia adalah seorang Alpha yang telah mengikat janji dengan mate sekali.

Benar, Viktor Nikiforov pernah menikah sekali. Kehidupannya sebagai seorang suami hanya berjalan sampai tiga tahun setelah itu istrinya pulang ke kampung halamannya, dengan kata lain menceraikannya.

Nataly adalah anak yang di pungut ayahnya lalu dipekerjakan sebagai pembantu sementara Yakov adalah gurunya sekaligus teman lama ayahnya, mereka berdua menetap di mansion dari pagi dan sorenya pulang.

Seekor pudel berbulu coklat yang di namainya Maccachin lah yang menemaninya di saat-saat ia sendirian. Setiap malam Viktor berada di ruang utama, entah untuk sekedar untuk membaca buku atau mengerjakan tugas-tugasnya. Macachin selalu menemaninya, duduk diam di samping Viktor.

Tiga tahun telah berlalu. Suatu malam yang tak biasanya terjadi kali itu terjadi dan mulai merubah hidupnya. Wanita yang diketahuinya sebagai mantan istrinya mengirim surat padanya untuk datang kesebuah restoran.

Restoran tersebut dekat dengan sebuah apertemen berlantai enam yang asing baginya. Restoran yang di maksudkan dalam surat adalah restoran biasa, sama sekali tidak sesuai dengan selera tinggi mantan istrinya. Sepasang matanya yang biru itu mencari sosok pirang tapi akhirnya, setelah beberapa saat mencari ia tak menemukannya.

Disaat ia merasa di permainkan dan ingin meninggalkan restoran tersebut, seorang remaja pirang menghampirinya. Mata anak laki-laki itu setajam pisau dan juga sedingin es—dengan tatap seperti itu dia bertanya "Apa kau Nikiforov?"

Begitulah pertemuannya dengan Yuri Plisetsky.

Hari itu adalah hari yang melelahkan bagi Viktor. Setelah pembicaraannya dengan Yuri ia meninggalkan restoran dan menuju kembali ke rumahnya. Ditolehnya apertemen bertingkat enam di seberang jalan sekilas, setelah itu kembali berjalan santai.

Cukup jauh dirinya dengan apertemen tersebut sampai langkahnya kembali berhenti ketika orang-orang berteriak heboh sambil melotot pada satu arah.

Viktor menoleh, matanya juga ikut membelalak ketika melihat kobaran api yang sangat besar. Semuanya terjadi begitu saja, dalam sekejap sang jago merah melahap apartemen tersebut tanpa sisa.

OXO

Pengurusan registrasi lebih lancar dari pada yang dikira. Entah kenapa para petugas percaya dan menurut begitu saja pada semua yang di katakan Viktor. Tanpa banyak waktu yang terbuang keputusan sudah di ketahui dan mereka bisa pulang.

"Yuuri..." panggil Viktor lalu berhenti di depan sebuah toko. Yuuri melihat Viktor polos tak begitu berpikir banyak ketika di panggil "Ada apa Viktor?" tanyanya.

Dari tadi pria Jepang itu bengong, menatap polos jalanan. Kalau dari sisi Viktor, melihat Yuuri bertingkah seperti itu memang manis tapi bisa gawat kalau laki-laki Beta itu berjalan sendirian. "Kalau kau seperti itu kau bisa tersesat." tegur Viktor lalu menggaet tangan Yuuri.

Tingkah Yuuri masih tetap seperti itu. Jalanan yang mereka lewati memang asing bagi Yuuri— Pria Asia berambut hitam eksotis itu melihat-lihat segalanya dengan mata berbinar seperti anak kecil, pipinya yang chubby juga memerah segar—Itu yang di maksud polos oleh Viktor.

Gelagat Yuuri semakin manis. Yuuri meminta Viktor melepaskan tangannya membiarkannya melihat-lihat sekitar toko yang mereka lewati. Jika Yuuri senang Viktor pun juga senang melihatnya. Yang lebih tua trus mengawasi.

"Viktor bisa kita mampir sebentar?" tanya Yuuri penuh harap, tanpa pikir panjang Viktor mengganguk.

Mereka masuk ke sebuah toko buku, toko tersebut adalah toko buku yang paling besar di kota. Jelas saja, di dalam banyak Alpha yang menatap Viktor sinis.

Seperti kata Yuuri sebelumnya. Ketika Alpha bertemu Alpha diantara mereka pasti akan ada naluri untuk saling menjatuhkan—Hal tersebut memang benar adanya, itu bukan sebatas teori yang dipelajari Yuuri.

"Ada apa Viktor?" tanya Yuuri polos, seorang Beta yang sama sekali tak mengerti apapun di dunia nyata. "Wajahmu kaku, apa ada sesuatu?"

"O..Oh.." Viktor menutup sekitar mulutnya, memang benar rahangnya meng-kaku tadi "Tidak ada apa-apa." jawabnya cepat lalu membawa Yuuri menjauh dari tempat tersebut.

Yuuri terlihat kegirangan ketika membuka-buka buku yang Viktor sama sekali tidak paham. "Jadi, apa yang kau cari?" lengan Viktor merangkul pundak Yuuri, menarik pria yang lebih kecil itu mendekat padanya "Kau terlihat senang sekali hari ini Yuuri..."

"Kau terlalu dekat Viktor," protes Yuuri namun tak berusaha menjauhkan diri "Aku sedang mencari jawaban dari masalah kita." lanjutnya cepat sambil menyumbunyikan wajahnya yang tersipu malu.

"Masalah kita?"

"Aku penasaran sebenarnya apa yang kau maksud 'bau wangi' dariku itu," jawab Yuuri "Seorang Alpha memang bisa tertarik pada Beta, juga masih bisa punya anak. Tapi ketertarikan keduanya biasanya diawali dari ketertarikan lawan jenis; laki-laki dan perempuan,"

"Atau...Apa sebenarnya kau Gay,Viktor?"

Rasanya seperti ada petir yang menyambar ujung kepala Viktor. Siapa sangka kalau Yuuri yang polos dan malu-malu itu bisa bertanya hal seperti itu dengan wajah datar!?

Kali ini wajah Viktor yang memerah dia tidak bisa membalas tatapan mata Yuuri yang sekarang fokus padanya itu.

Mulanya Yuuri memandang aneh tapi pada akhirnya juga ia sadar dengan caranya bertanya tersebut. keringat dingin mulai membasahi wajahnya "Ma..Maaf!" ucapnya gugup "Aku tak bermaksud Viktor, sungguh. Dalam bidangku pertanyaan yang seperti tadi itu bukan hal yang aneh...Jadi—"

"Kau sungguh kejam Yuuri," sela Viktor "Apa kau masih berpikir takdir kita adalah kesalahan?"

"Bukan begitu!" Yuuri mengeleng cepat dan menundukkan kepalanya "Aku hanya seorang Beta jadi aku tidak mengerti tentang takdir ataupun jodoh, hanya kalian saja yang bisa merasakan...nya"

Tes...

Setetes air mata jatuh ke atas sepatunya setelah itu diikuti tetesan-tetesan yang lainnya. Berkecambuk rasa takut dan menyesal Yuuri memberanikan dirinya untuk mengadahkan kepalanya.

Di temukannya wajah Viktor yang sedang menangis, ini pertama kalinya dalam hidupnya melihat seorang Alpha—seseorang yang memiliki martabat paling tinggi di antara yang lain—menangis dan terisak.

Siapa peduli jika dia adalah Alpha Beta atau Omega, tapi sekarang Viktor sedang menangis di depannya!

Itu juga membuatnya ikut sedih...

"Begitu..." suara Viktor masih terdengar normal "Apa kau menolakku Yuuri?"

Yuuri tidak bisa menjawabnya, tidak untuk saat ini. Dia tidak berani mengatakan apapun lagi, dia takut jika dirinya akan menyakiti Viktor lagi.

"Oi kalian..."

Suara seorang pria menyadarkan mereka berdua. Viktor yang nampaknya mengenal suara tersebut menoleh dengan cepat "Yakov...Maccachin?"

Pria tua itu bersama dengan seekor anjing pudel besar berwarna coklat.

"Bocah yang disana," pria tersebut melihat Yuuri "Abaikan si bodoh itu dia memang sudah cengeng dari sananya, kau tidak perlu merasa bersalah." begitu katanya sebelum mendekati mereka berdua.

Sementara itu anjing pudel tersebut berlarian menuju Viktor. Kedua matanya yang bulat menatap heran pria Alpha yang tangisannya sudah berhenti tersebut dengan heran. "Sudah cukup mengejeknya Yakov." Viktor protes bersamaan berjongkok dan memeluk anjing tersebut.

"Seandainya saja kau juga memperlakukan nona Yura seperti itu..."

"Ops! Yakov!..."

Nona Yura?

Sempat Yuuri menangkap seutas nama yang asing baginya dan di saat bersamaan Viktor sudah menyela omongan pria tua tersebut. Pria bersurai perak tersebut tersenyum manis namun di waktu yang sama bisa di bilang menakutkan.

Sekarang beberapa pengunjung lain melihat mereka, lebih tepatnya melihat Viktor. Yuuri mulai panik dia sama sekali tak mengerti apa yang sedang terjadi— Kenapa orang-orang melihat Viktor awas, lalu kenapa Viktor bersikap seperti itu pada orang tua yang membahas 'nona Yura'? Sebenarnya siapa perempuan itu?

"Kau menggangu yang lain Vitya, hentikan." Minta pria tua bernama Yakov tersebut, nadanya seperti memerintah.

"Kau tahu apa hubunganku dengan pria Jepang ini bukan, pelatih Yakov?"

Pertanyaan tersebut terdengar seperti ancaman di telinga Yuuri atau memang sebenarnya di maksudkan demikian?

Yang lebih penting lagi...Sebenarnya apa yang dimaksud hubungannya dengan Viktor?

"Aku mengerti..." Yakov mengangguk pelan "Aku tak akan membahasnya untuk sekarang ini. kalau kau benar-benar serius dengannya cepat atau lambat kau harus memberitahu bocah itu."

"Aku tahu itu Yakov..."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Berkat kejadian sebelumnya perjalanan pulang mereka terasa begitu canggung. Yakov meninggalkan Maccachin pada mereka berdua, kalau saja pudel besar itu tidak ikut bersama mereka, Yuuri pasti sudah berusaha kabur dari Viktor.

Bahkan tanpa Yuuri sadari dirinya berusaha menempel pada anjing besar tersebut, berusaha mencari tempat aman.

Dia takut, Viktor yang sebelumnya menakutinya.

Apa ini yang dirasakan seorang Omega ketika Alpha memberi perintah? Kalau seperti itu kenapa Yuuri merasakannya?

Itu tadi bukan Viktor yang biasanya...

Viktor yang dikenalnya itu baik, ramah, pikun, dan juga lambat untuk menyadari perasaan orang lain. Kalau boleh menambahkan Viktor itu juga keras kepala, dia sama sekali tidak terima dengan penjelasan logisnya mengenai Alpha dan Beta.

"Kau menangis...Tadi..." tanpa sadar ia menyuarakan pikirannya. Viktor meliriknya sekilas lalu kembali fokus pada jalanan, ia juga tak bisa mengatakan apapun mengenai kejadian sebelumnya.

"Lalu kau marah pada Yakov...Apa yang kau sembunyikan?"

Benar juga,

Mungkin aku takut karena melihat Viktor yang tidak biasanya...

"Maaf." tiba-tiba saja Viktor meminta maaf. Langkahnya berhenti membiarkan Yuuri selangkah lebih maju darinya.

Hari mulai gelap dan cuaca semakin dingin, angin meniup pelan kedua surai yang berbeda warna tersebut. Permintaan maaf Viktor membuat Yuuri tersenyum masam "Untuk apa kau minta maaf?" tanyanya lalu mengalihkannya pandangannya, melihat lampu jalanan yang sudah menyala "Aku tidak masalah. Dari awal aku juga tidak punya hak untuk menuntut jawabannya bukan?"

"Yuuri..." Viktor memanggilnya lembut setelah itu mengulurkan tangan pucatnya ke pipi pria Jepang yang sudah ingin menangis tersebut "...Sungguh aku minta maaf."

"Aku tidak tahu alasan kenapa kau tidak mau memberitahuku...Bahkan seperti nama belakangmu aku mengetahuinya dari Yuri..." mata Yuuri yang berkaca-kaca memandang Viktor "Kalau kau tertarik padaku," ia menjeda, berpikir bila ada yang salah dengan caranya. "Kau bilang kau tertarik padaku," koreksinya "Lalu kenapa kau menyembunyikannya?"

Viktor diam tak menjawab apapun. Sepasang kakinya mulai kembali melanjutkan langkah mendahului Yuuri yang menyusul kemudian.

Maccachin menonton majikannya dan seorang yang baru di temuinya dengan heran, tapi instingnya memberitahunya untuk tidak mengganggu saat ini.

"Bagaimana denganmu, Yuuri?" akhirnya Viktor bertanya. Pria tersebut tidak menoleh ke belakang hanya terus melangkah, dia tahu yang di ajaknya berbicara masih di belakangnya—Yuuri tidak akan kabur darinya, setidaknya Viktor ingin percaya hal tersebut.

"Kau tahu kalau aku tertarik padamu, tentu. Aku memberitahumu hal itu dan aku cukup serius," terangnya "Lalu...Bagaimana denganmu Yuuri? Apa kau juga tertarik padaku?...Seperti aku tertarik padamu..."

Apa aku tertarik pada Viktor?

Mereka baru saja bertemu. Ketika Viktor berada di dekat Yuuri, wajahnya memang memerah karena malu dan jantungnya berdetak kencang karena gugup. Diakuinya Pria Rusia itu tampan, kepribadiannya juga baik dan menarik. Ia nyaman berada di dekat Viktor.

Jika memang Viktor menyukainya...

Bagaimana Yuuri harus menghadapinya?

Diam. Tak ada jawaban dari pria Jepang tersebut, ia sama sekali tak bisa mengaluarkan sepatah katapun. Bukan tidak mau tapi tidak bisa.

Sebenarnya...

Apa yang kuinginkan?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue

A/N:

Akhirnya Chapter kedua sudah selesai~

Chapter kali ini membahas kehidupan Viktor, entah kenapa saya jadi kesel sendiri sama Viktor haha.../padahalygbuatsendiri/

Yurio masih belum jadi Yurio. Disini Yuri memang saya buat lebih dewasa, terkesan OOC tapi menurut saya Yuri yang seperti ini keren!

Hmm...Saya sudah baca beberapa Review dari; Hikaru Rikou-san, V-san, Lonely Hours-san. Semuanya membahas Beta-Yuuri. (Terima kasih juga buat dukungannya!)

Kenapa Yuuri jadi Beta bukan Omega?

Alpha dan Omega sudah terlalu umum, apalagi saya cukup tidak suka dengan adegan rasis nya. Adegan Omega masturbasi karena heat, di perkosa dan sebagainya itu menurut saya terlalu umum. Tapi bukan berarti saya tidak suka (kebalikannya malah lol), Cuma di sini saya ingin membuat sesuatu yang agak berbeda.

Dan semoga masih bisa mengisi asupan~ (Karena saya sendiri kurang asupan Victuuri)

Yang terakhir Nearo O'nealy-san Reviewnya baru saya baca setelah selesai menulis haha... (Terima kasih buat dukungannya, reviewnya, saya akan tetap semangat nulisnya. Semoga masih menantikan Fanfic ini)

Thank You For Reading

And

Still, Mind To Review?