Apa benar Viktor menyukaiku?
Yuuri duduk di kursi taman dengan pandangan kosong menatap angkasa yang masih gelap. Udara masih sangatlah dingin namun pria Asia tersebut hanya memakai kaos biru berlengan panjang yang tipis, meninggalkan mantel dan syalnya di kamar.
Terlihat pria bersurai hitam tersebut sibuk memikirkan jawaban dari pertanyaannya sendiri. Dia tidak pernah berpikir kalau Viktor sedang berbohong padanya. Hanya saja dia belum bisa mempercayainya—Dia tidak memiliki kepercayaan diri, dia masih heran kenapa dari semua orang Viktor memilih dirinya.
Semakin lama dirinya bengong di sana, tanpa disadarinya matahari semakin beranjak naik. Suhu di sekitarnya juga mulai menghangat, membuatnya semakin betah berada di tempat tersebut.
Taman yang di rawat Yakov adalah kebanggangan Mansion Nikiforov. Semak-semak dan pohon di pangkas dengan rapi, bunga-bunga rumbuh mengikuti musimnya. Yuuri bisa melihat embun pagi yang menetes dari beberapa helai daun, semuanya begitu memanjakan mata.
Di sisi lain, Nataly yang masuk ke dalam Mansion melalui pintu belakang mulai panik ketika melihat tamu tuannya sedang duduk di taman dengan pakaian tipis. Wanita itu segera bergegas mengambil sebuah selimut dan berlarian memberikannya pada Yuuri.
Selimut tebal tersebut diterima Yuuri dengan senyuman canggung, tapi dia menghargai kepedulian pelayan tersebut padanya. Yuuri duduk di sana selama tiga jam penuh, dan dia masih belum menemukan jawabannya.
Sebelum Nataly memanggilnya untuk bergabung dalam sarapan, Yuuri lebih memilih untuk pergi dari Mansion dengan alasan lari pagi. Dia meninggalkan Mansion dengan sedikit perasaan bersalah karena meninggalkan Viktor begitu saja, seolah-olah menghindarinya. Tapi memang saat ini dirinya tidak bisa menghadapi Viktor secara langsung.
Sesuai dugaannya, jalanan di luar masih tidak begitu ramai. Masih belum banyak pejalanan kaki dan toko-toko masih dalam proses membuka bisnisnya.
Tidak banyak yang bisa dilihat pada jam-jam segitu, namun suasana damai tersebut membuat Yuuri semakin tenang.
Tanpa sadar kakinya membawanya ke sebuah pelabuhan kecil. Yuuri yang sedang bersandar di pagar pembatas bisa melihat para pelaut yang sedang membersihkan kapal-kapal. Mereka terlihat bersemangat, saling berteriak satu sama lain dengan aksen mereka yang unik.
Entah kenapa mendengarkan aksen unik dan kasar seperti bajak laut tersebut membuatnya terkekeh geli. Rasanya lucu, dia mulai berpikir kalau misalnya saja dia tidak belajar bahasa Rusia, mungkin saja dia tidak akan mengerti apa yang mereka bicarakan. Dia tidak akan pernah tahu kalau ternyata para pelaut bisa berdebat tentang cara memasak ikan asin di pagi hari.
"Aku lapar" gumamnya
Mungkin karena pikirannya sudah jernih, akhirnya metabolisme tubuhnya kembali normal. Hari sudah semakin siang dan dia melewatkan sarapannya, pantas saja jika perutnya mulai memanggil.
Yuuri tidak mau merepotkan Nataly, maka karna itu dia memutuskan untuk mencari restoran di dekat sana.
Tidak jauh dari pelabuhan tersebut, di seberang kiri pertigaan jalan berdiri sebuah restoran keluarga yang sederhana.
Berlahan pandangan Yuuri terlempar ke sisi kanan pertigaan tersebut. Di seberang restoran tersebut berdiri puing-puing bangunan tinggi, yang merupakan apertemen lamanya.
Bangunan yang pernah dilahap jago merah tersebut tidak pernah di perbaiki. Setahunya, pemilik apartemen tersebut sudah tua dan tidak memiliki sanak saudara, mungkin tidak memiliki biaya lagi. Cepat atau lambat tanah tersebut akan berganti pemilik dan berganti kegunaannya.
Yuuri tersenyum tipis, sudah tidak ada gunanya dia meratapi bangunan tersebut. Dengan langkah ringan akhirnya dia memasuki restoran tersebut dan mengambil meja paling pojok, tempat kesukaannya.
Interior restoran tersebut bertemakan hitam dan coklat. Perabotan dan dindingnya berbahan dasarkan kayu, sementara pondasinya adalah semen hitam yang terpoles rata. Semuanya di tata sedemikian rupa agar pengunjung bisa merasakan suasana di dalam sebuah kapal, ciri khas dari pelaut yang merupakan pelanggan utama restoran tersebut.
Tentu menu andalan restoran ini juga berbahan dasar makanan laut.
"Daftar makanannya"
Seorang pelayan menyodorkan selebaran menu saja Yuuri akan mengulurkan tangannya dan menerimanya namun sang pelayan menarik tangannya kembali.
"Katsuki?"
Suara sang pelayan menjadi sangat familiar di telinga Yuuri. Pria Asia itu mendongak lalu menatap pelayan tersebut dengan pangling "Yurio?"
"Kenapa kau juga memanggilku Yurio!?"
Siapa sangka dia akan bertemu dengan Yuri. Remaja pirang tersebut membanting kedua tangannya ke atas meja sambil melotot pada Yuuri.
"Ma-maaf jadi kebiasaan. Itu karena Viktor selalu memanggilmu Yurio jadi..."
Yuri mendecih lalu memberikan menu yang sudah di atas meja pada Yuuri "Apa pesanan mu?" tanyanya.
"O-oh." Yuuri mulai gugup dan berusaha secepat mungkin untuk memilih pesanannya. Namun kenyataan bahwa Yuri—Yurio berada di restoran dekat apertemen lamanya dan menanyai pesanannya sangat menggangunya.
"Kau...Bekerja di sini?" tanyanya dengan nada ragu-ragu, mungkin saja nanti remaja yang jadi sering di panggilnya Yurio tersebut marah karena pertanyaan tersebut adalah salah satu privasinya.
Yurio bertingkah kebalikan dari yang di bayangkan Yuuri. Remaja tersebut tetap tenang dan menjawabnya dengan deheman, bertanda 'iya'
Yurio masih berumur 15 tahun tapi terkadang auranya membuatnya lebih tua setahun atau dua tahun. Rambut pirang keemasan remaja tersebut terikat ekor kuda yang kecil dan seragam pelayan berwarna hitam dan putih membuatnya jauh lebih dewasa.
"Kenapa?" kelihatannya Yuuri masih belum puas bertanya. Pria Asia itu terlalu penasaran sampai mengabaikan bahaya dari sepasang mata biru yang mulai melotot lagi padanya.
"Kupikir selama ini kau berada di bawah naungan Viktor" tambahnya
Entah kenapa kepolosan Yuuri membuat sang macan jadi menghela nafas lelah. Yurio bersedekap dada sambil menjawab "Aku hanya menumpang tidur di Mansionnya. Tentu saja aku masih harus mencari nafkah untuk kehidupanku sendiri."
Jawaban yang cukup normal. Yuuri tidak tahu apa hubungan Yurio dan Viktor tapi sekarang dia bisa menyimpulkan jika hubungan mereka hanyalah seperti 'ibu asrama' dan 'anak asrama'
"Kupikir kau itu seperti anak angkatnya atau anak simpanannya." Entah sengaja atau tidak sengaja, Yuuri memang sedang mengumbar apa yang di pikirkannya.
Tanda siku-siku sudah saling bermunculan di muka Yurio "Bukannya hari ini kau jadi lebih cerewet tuan Katsuki?" tanyanya berusaha sesarkas mungkin.
Yuuri tertawa renyah. Yang lebih tua di sana mulai tersenyum penuh makna dan yang lebih muda sama sekali tidak bisa menangkap apa maksud senyuman itu. Mereka hening sejenak sampai Yuuri akhirnya memutuskan menu makan siang sekaligus sarapannya. "Secangkir kopi hitam dan Sandwich spesial hari ini."
Roti isi di restoran tersebut cukup unik. Menu tersebut di buat berdasarkan bahan khusus yang di dapatkan koki mereka pagi hari ini, jadi seperti menu kejutan.
Yurio mencatat pesanannya sambil berdehem "Sandwich hari ini cukup mahal."
"Jangan memberitahuku, kalau aku tahu sebelum memakannya kan jadi tidak seru."
"Jadi kau tipe yang menikmati permainan semacam ini heh," Yurio menaikan salah satu alisnya, dia tidak pernah tahu apa yang di pikirkan para pelanggan yang memesan menu tersebut. "Ya sudahlah. Sebentar lagi waktu istirahatku, temui aku di gang belakang."
"Ha? Eh?"
Remaja tersebut meninggalkan pelangannya yang kebinggungan. Siapa sangka kalau Yurio akan mengajaknya bertemu?
"Kira-kira apa yang diinginkannya?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 03:
Seperti yang dikatakan si pelayan—Yurio, Sandwich hari ini lebih mahal dan mewah dari pada biasanya. Yuuri tidak pernah membayangkan kalau ada hari dimana dia akan makan roti isi daging Lobster, perpanduan yang aneh tapi masih saja enak.
Setelah menikmati hidangannya, dia segera bergegas menuju ke pintu belakang. Sebenarnya dia tidak janji tapi kalau dirinya kabur mungkin dia akan jadi santapan macan di Mansion nanti.
Gang di belakang restoran tersebut agak sempit tapi sinar matahari masih bisa menyelip masuk ke dalamnya. Di sebelah pintu belakang restoran tersebut terjejer rapi tiga tong sampah besar dan beberapa kursi kayu. Salah satu kursi tersebut duduklah Yurio yang baru saja menghabiskan makan siangnya. Remaja tersebut membuntal kertas pembungkus berwarna coklat di tangannya lalu melemparnya ke tempat sampah terdekat.
"Yo," sapanya "Kau menikmati Lobster mu?"
"Keantikan juru masak restoran ini tidak berubah haha" balas Yuuri.
Entah kenapa Yuuri merasakan kecanggungan diantara mereka, tapi hanya dia yang merasakannya karena Yurio masih bersikap santai. Remaja tersebut menyandarkan dirinya ke dinding lalu mendongak melihat pria yang jauh lebih dewasa di depannya.
"Kau pasti penasaran kenapa aku memanggilmu ke sini"
Yuuri mengganguk, pernyataan tersebut tepat sasaran. "Kupikir kau tidak terlalu menyukaiku?" dia tidak bermaksud bertanya, tapi nadanya berubah demikian karena dirinya sendiri tidak yakin.
"Meh," Yurio melambaikan tangannya "Kau baru beberapa hari tinggal di Mansion itu. Pada dasarnya kelakuanku memang seperti ini, kenapa juga aku harus membencimu?"
Jawabannya cukup jujur membuat Yuuri tersenyum kegirangan "Syukurlah. Kupikir aku dimusuhi meskipun aku tidak melakukan apapun."
Yurio memutar bola matanya malas "Asalkan Viktor menyukaimu bukannya kau tidak perlu yang lain?"
Mendengarnya, senyuman Yuuri hilang "Apa maksudmu?" kedua alisnya saling bertaut "Viktor ramah pada semua orang. Dia menampungku dan dia juga membiarkanmu tinggal di Mansionnya..." Sejenak temperamennya sempat naik, tapi sekarang dia diam karena dia tidak tahu lagi harus bagaimana dia melanjutkan kalimatnya.
"Kau merasa kau bukan seseorang yang spesial baginya?"
Mungkin di depan sepasang mata remaja tersebut dirinya sudah seperti buku yang terbuka, Yurio tahu jawaban dari pertanyaan yang selalu muncul di benaknya semenjak kemarin.
Yuuri bersandar pada dinding sambil menunduk melihat kedua kakinya sendiri "Aku binggung, Yurio. Aku baru saja mengenal Viktor beberapa hari, seharusnya aku bisa menolaknya—Aku harus menjelaskannya. Hubungan Alpha dan Beta tidak seperti apa yang di rasakannya padaku. Tapi ketika aku berusaha meluruskan segalanya aku malah membuatnya sedih, dan kesedihan Viktor menyakitiku."
"Jangan memanggilku Yurio." meskipun bilang begitu kali ini remaja tersebut tidak memperbesarkan masalah namanya. Itu Karna Yurio memang memanggil Yuuri untuk membahas tentang hal tersebut—Hal mengenai Viktor yang jatuh cinta pada pheromon Yuuri, jadi dia bisa meng-kesampingkan masalah namanya terlebih dahulu.
"Tantu saja kau tidak bisa mempercayai si bodoh itu begitu saja. Aku yakin dia menyembunyikan banyak hal darimu, Katsuki."
"Panggil aku Yuuri saja."
"Aku masih tidak mau namaku jadi Yurio."
"Kau masih keras kepala tentang hal ini huh," Yuuri tersenyum tipis seraya menggosok belakang kepalanya. Pria itu lalu menoleh, saling bertatap mata dengan yang lebih muda "Jadi apa yang kau inginkan dariku?" tanyanya.
"Yakov bilang," Yurio menjeda, dia memutuskan kontak matanya dan mengalihkan pandangannya ke tempat lain "Dia bertemu kalian kemarin dan dengan sengaja dia membahas Yura di depanmu" lanjutnya.
Sepasang manik Yuuri membesar mendengar nama tersebut, siapa sangka dia akan mendengarkan nama perempuan misterius tersebut untuk kedua kalinya. Mungkin Yurio mau berbagi informasi dengannya?
"Nona...Yura?"
Yurio mengangguk pelan "Viktor berusaha menyembunyikannya darimu bukan?"
"Siapa dia?"
"Nama lengkapnya Yura Plisetsky, Alpha. Dia adalah mantan istri Viktor sekaligus kakak perempuan ku," Yurio menjawabnya santai. Remaja tersebut melihat reaksi pria Asia tersebut dengan tatapan bosan, tentu saja dia akan terkejut, begitu pikirnya. "Aku tidak tahu diantara kenyataan bahwa Viktor sudah pernah menikah atau Yura adalah saudaraku yang mana yang lebih membuatmu kaget, tapi Viktor benar-benar tidak menceritakan apapun padamu huh."
"Jujur saja keduanya mengejutkanku," Yuuri tersenyum masam "Tapi kurang lebih aku jadi lebih mengerti bagaimana hubunganmu dengan Viktor."
Terlihat jelas kalau Yuuri kembali murung. Pria Asia itu berusaha menyembunyikannya perasaannya di balik senyuman—Senyuman masam di mata Yurio. Remaja tersebut tidak pernah mengerti apa yang di pikirkan mantan kakak iparnya, namun kali ini perbuatan Viktor cukup membuatnya naik darah dan berakhir ikut campur seperti saat ini.
Kenapa aku harus terlibat? Biarkan saja mereka bersenang-senang untuk sesaat, menikmati ilusi cinta dari 'takdir' mereka.
Mulanya dia berpikir demikian. Tapi melihat Yuuri kebingungan seperti ini juga membuatnya tidak tega—Ini sama seperti masalah kakak perempuannya itu ketika masih bersama dengan Viktor.
"Viktor selalu seperti itu. Membuat seseorang jatuh padanya tapi dia tidak pernah membuka dirinya sendiri," kata Yurio dengan nada berat, lebih mirip seperti menggeram "Ini Viktor yang kita bicarakan. Aku tidak pernah mengerti jalan pikirannya, bahkan Yakov atau Nataly yang sudah bersamanya semenjak dia kecil juga tidak pernah bisa memahaminya."
"Yurio..."
Remaja tersebut duduk di tempatnya, mengeratkan genggaman kedua tangannya seolah menahan kesakitan. Mungkin hubungan Viktor dan Yura tidak pernah berhasil karena sikap Viktor yang selalu berusaha menyembunyikan sesuatu?
Atau karena sesuatu yang lain?
"Katsuki," Yurio memanggil. Alpha muda tersebut memberikannya tatapan lembut yang penuh makna—Antara kasihan atau mungkin sedang mencoba menyampaikan perasaannya saat ini pada pihak lain. "Viktor bukanlah pria yang di idamkan semua orang..."
"Dia bukan seorang pria ramah berhati hangat tapi aku juga tidak bilang kalau dia adalah orang yang jahat."
"Ha? Aku tidak mengerti."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
OXO
Musim dingin beberapa tahun yang lalu.
St. Petersburg di penuhi oleh salju tebal dan di kelilingi dan angin laut semakin kencang. Ombak masih naik turun seolah mengabaikan cuaca yang dingin, mereka masih asyik bergerak ke sana kemari, seperti anak-anak yang sedang bermain kejar-kejaran.
Pada tahun-tahun tersebut kota tersebut masih di penuhi oleh tentara Jerman. Hidup masih belum semudah tahun-tahun berikutnya tapi rakyat yakin cepat atau lambat segalanya akan mulai membaik.
Di daerah selatan, di pinggiran Petersburg terdapat sebuah pelabuhan kecil yang tak ternama. Daerah tersebut lebih sepi dan lebih aman daripada pusat kota, tapi jauh lebih kumuh daripada tempat yang lain.
Saat itu pelabuhan tersebut hanya di pakai oleh 5 orang nelayan, yang hanya akan datang di pertengahan musim panas. Tidak ada yang pernah kesana sampai seorang anak kecil berumur sekitar 7-8 tahun mulai mendatangi tempat tersebut.
Bahkan di cuaca yang dingin anak laki-laki itu masih mengunjunginya hanya untuk merenung di tempat favoritnya sambil melihat ombak.
Anak laki-laki itu berambut perak, pakaiannya yang di kenakannya berkualitas, menunjukan statusnya. Benar, dia adalah Viktor Nikiforov kecil.
Daerah tempat tinggalnya sepi dan dia tidak pernah pergi sekolah. Ayahnya yang selalu sibuk dengan pekerjaannya lebih memilih memanggil seorang Tutor untuk anaknya tersebut. Viktor tidak pernah berteman, Nataly adalah satu-satunya anak seumurannya yang di kenalnya.
Suatu hari di sore hari, di pinggir pantai. Dia menemukan anak anjing berwarna coklat yang dekil. Anak anjing itu mengikutinya sampai di depan rumah dan Viktor kecil tidak tega mengusirnya.
Mulanya ayahnya tidak setuju untuk memeliharanya, karena mereka sudah tidak memiliki pelayan, namun berkat Nataly yang berjanji membantu Viktor untuk merawat anjing tersebut, sang ayah menyetujuinya.
Semenjak memungut anjing—Maccachin Viktor tidak pernah sendirian lagi. Kemanapun anak laki-laki berambut perak tersebut pergi Maccachin akan selalu bersamanya.
Waktu terus berjalan. Anak laki-laki tersebut tumbuh sebagai pemuda tampan. Viktor muda telah siap menjadi ahli waris perusahaan dagang milik keluarga Nikiforov. Banyak kerabat yang menjadi bersimpati padanya karena di waktu itu ayahnya mulai melemah dan jatuh sakit, begitu juga dengan keadaan perusahaan mereka.
Setelah ayahnya meninggal Viktor mendapatkan perusahaan tersebut. Banyak kerabat yang telah meninggalkannya karena perusahaan tersebut sudah hancur total, hanya meninggalkan hutang. Kata-kata terakhir yang di ucapkan ayah Viktor padanya adalah permintaan maaf karena telah membebani anaknya tersebut.
Bisa jadi Viktor akan terus di kejar penagih hutang selama hidupnya.
Yakov yang turut berduka cita menawari Viktor untuk tinggal bersamanya dan menjual Mansion Nikiforov untuk membayar setengah dari hutang perusahaan. Bahkan pria separuh baya tersebut bersedia membantu anak dari temannya itu untuk membayar hutang sisanya.
Viktor diam entah apa yang di pikirkan pemuda itu. Bahkan di saat itu Yakov tidak pernah mengerti apa yang di pikirkan pemuda bersurai perak tersebut.
Hari itu juga turun salju. Viktor menghadap jendela memperhatikan tiap bulir es yang jatuh dan menumpuk di tanah. Tidak lama kemudian dia memberikan jawabannya.
"Terima kasih Yakov," katanya sambil terseyum "Aku masih ingin tinggal di Mansion ini dan aku akan tetap melanjutkan usaha ayahnya. Entah bagaimana caranya aku akan membangun ulang perusahaan Nikiforov."
Viktor menolak tawaran Yakov.
"Orang tuaku, mereka berdua Beta. Sebuah keajaiban aku terlahir sebagai Alpha. Mungkin aku masih bisa membuat keajaiban lain, Yakov."
Setelah itu Viktor bekerja seperti kesurupan. Dia merombak sistem lama ayahnya, menghancurkannya dan membangunnya kembali dari awal. Berkatnya dalam jenjang waktu 5 tahun perusahaan tersebut mulai membaik, mereka menjadi salah satu perusahaan dagang besar di rute perairan.
Tentu Viktor merasa puas dengan pencapaiannya, tapi ruang di dalam hatinya masih ada yang kosong. Maccahin selalu menemaninya, Yakov selalu membimbingnya, Nataly yang semenjak itu menjadi pelayannya selalu ada untuk merawatnya. Namun semua itu masih belum cukup untuknya, tanpa sadar dia masih mencari sesuatu—Dia tidak tahu apa itu, tapi semakin dia mencarinya, dia semakin kesepian.
Usianya beranjak dewasa, dia tumbuh sebagai pria Gentleman. Banyak keluarga yang ingin mendapatkannya, ingin menjodohkannya dengan putri mereka. Viktor tidak pernah tertarik untuk menikah, dia menolak semuanya namun yang lainnya masih bersikeras karena sikapnya yang ramah dan lembut itu selalu membuat siapapun jatuh cinta padanya.
Bahkan Viktor pernah terluka karena para penggemarnya yang memperebutkanya. Semenjak itu dia mulai berpikir jika menjadi pria Alpha itu merepotkan dan terlalu mencolok untuknya.
Yakov sangat mengkhawatirkannya. Suatu hari pria tersebut membawa seorang wanita ke Mansion.
Wanita cantik yang memiliki rambut pirang keemasan. Dia berasal dari keluarga Plisetsky yang merupakan kawan lama ayahnya dalam berbisnis.
Mungkin alasan Yakov mengenalkan wanita bernama Yura itu pada Viktor karena wanita itu juga sama sepertinya. Yura adalah seorang Alpha.
Tidak seperti Nikiforov, keluarga Plisetsky hancur total. Saat itu Yura tinggal di rumah kakeknya bersama dengan Yuri—adik laki-lakinya. Yura melakukan pekerjaan kasar untuk melunasi sisa hutang keluarganya sekaligus menghidupi adiknya yang sedang sekolah.
Setelah mengetahui keadaan Yura, Viktor memutuskan untuk mempersuntingnya. Dia membayar sisa hutang Plisetsky bahkan menyekolahkan Yuri.
Mereka menikah, namun hanya menikah di atas kertas. Viktor memperlakukan Yura seperti wanita terhormat tapi tidak sebagai istri—Yura yang sudah jatuh cinta pada Viktor merasa tidak adil dengan perlakuan tersebut. Dia merasa suaminya itu memperlakukannya sama dengan wanita-wanita di luar sana. Viktor selalu baik pada siapa saja.
Hal itu membuat Yura sedih dan kecewa. Mungkin merasa tidak tahan akhirnya wanita tersebut pulang kembali ke rumah kakeknya—Kehidupan pernikahan mereka hanya bertahan selama 2 tahun.
Lalu entah kenapa setelah 3 tahun berlalu semenjak dirinya meninggalkan keluarga Nikiforov, sekarang namanya kembali muncul karena menitipkan Yuri—adiknya tersebut pada Viktor.
Dalam surat yang dikirimkannya dia meminta mantan suaminya tersebut untuk merawat Yuri sekaligus men-sekolahkannya ke perguruan tinggi. Viktor setuju dengan permintaan tersebut semenjak pernikahan mereka juga tidak diberkati anak.
Namun Yuri menolaknya dengan keras. Remaja itu bilang "Aku tidak butuh kebaikan yang setengah-setengah seperti itu."
To be Continue
A/N:
Saya baru punya waktu untuk menyelesaikan chapter ini, maaf kalau lama.
Saya juga mau numpang iklan. Ada yang tertarik sama harem Prussia gak dari fandom Hetalia di sebelah? Ada satu garapan saya—Fanfiction dengan judul The Sand of Love yang belum selesai. Karena itu rencananya mau saya jadiin proyek besar dan saya tidak memiliki kemampuan untuk mengertjakannya, saya butuh Beta Reader. Monggo para Senpai yang tertarik, tolong PM saya.
Mungkin Fic ini bakalan tamat 2-3 chapter lagi, semoga masih mengikuti. Sekian terima kasih.
