Mansion besar Nikiforov. Sebelum melakukan aktifitasnya para penghuni mansion tersebut berkumpul di ruang makan, menyantap sarapan pagi yang telah disiapkan oleh Nataly, satu-satunya pelayan di sana.

Hening, hanya suara perabotan yang berbunyi seperlunya. Sang tuan rumah—Viktor terlihat menikmati hidangannya. Pria bersurai perak itu belum menyadari dua penghuni lain yang memakan hidangannya dengan lambat, tidak memiliki nafsu makan.

"Apa ada keluhan mengenai sarapan hari ini?" Nataly yang menyadarinya mendekati tempat duduk Yuuri dan Yurio. Wanita berbadan bongsor itu harus sedikit menunduk untuk bisa melihat keduanya yang sedang duduk. "Kalau bahannya ada aku bisa segera membuatkannya." tambahnya lagi yang akhirnya dapat menarik kedua lelaki yang sedang melamun di pagi hari.

"Maaf!" Yuuri tanpa sengaja menaikan suaranya karena terkejut oleh Nataly yang tiba-tiba saja muncul. "Aku hanya kurang tidur," lanjutnya lalu tersenyum simpul. "Kemarin Viktor membiarkanku melihat-lihat perpustakaan dan tanpa sadar aku malah bergadang. Perpustakaan Mansion ini benar-benar hebat, banyak buku yang selama ini ingin kubaca tersedia disini!"

Yuuri mulai banyak berbicara dan bertingkah seperti biasanya, di sisi lain Yurio malah terlihat kesal. Remaja pirang itu terus melotot pada si pria Asia. Nataly menyadari tingkahnya tapi memilih untuk tetap diam dan pergi melanjutkan pekerjaannya. Memang seperti kata Yuuri tidak ada masalah dengan sarapan yang telah disiapkannya tapi mereka berdua mempunyai masalah sendiri, yang pelayan sepertinya tidak bisa ikut campur.

"Pagi-pagi sudah mengoceh tentang buku, dasar kutu buku." Yurio menggerutu. Entah kenapa remaja tersebut terlihat lebih garang daripada biasanya, sampai membuat Viktor tidak menegurnya. "Setelah yang kuceritakan kemarin kau masih lebih mementingkan buku-buku itu. Kelihatannya kalian memang sudah tidak ada harapan huh." ocehnya lalu keluar dari ruangan dan kembali ke arah kamarnya.

"Ada apa dengannya?" tanya Viktor asal. "Padahal hari ini aku belum melakukan apapun yang membuatnya semarah itu."

"...Yaah." Yuuri menghela nafas. Dari apa yang dikatakan remaja tersebut ia tahu apa yang membuatnya semarah itu. Yuuri tidak tahu alasan Viktor baik pada siapa saja, ia juga tidak tahu bagaimana perasaan kakak Yurio terhadap Viktor. Setelah mendengar cerita Yurio, apalagi yang harus dilakukannya? Membahasnya bersama Viktor lalu bertengkar dengan pria baik hati itu?

Yuuri sendiri tidak memahami perasaannya. Ia berhutang budi pada Viktor tapi mereka baru saja bertemu dan menjadi teman. Perkara cinta dan sebagainya semua itu terlalu cepat baginya.

"Viktor..." panggil Yuuri. "Apa hari ini kau punya waktu luang?"

Viktor tersenyum ceria, tidak biasanya Yuuri penasaran terhadap jadwalnya. "Setelah makan siang aku tidak punya pekerjaan apapun tapi sebelumnya aku harus ke pelabuhan untuk memeriksa barang-barang yang harus dikirim," jawabnya. "Aku tidak mengunci perpustakaan kau bisa menghabiskan waktu luangmu disana, setelah aku kembali bagaimana kalau kita makan siang bersama?" tawarnya lalu beranjak dari kursinya.

Yuuri mendongak melihat wajah Viktor yang tersenyum hangat padanya. Senyuman itu membuat wajahnya menghangat, entah kenapa percakapan mereka terdengar seperti suami istri. "Mmm.." saking malunya Yuuri menunduk dan mengangguk kecil sebagai jawabannya.

"Kalau begitu bye honey!" sebelum pergi Viktor mengelus puncak kepala Yuuri lalu mengecupnya singkat. Nataly yang menyaksikan adegan tersebut tertawa kecil, berpikir jika keduanya memang bertingkah seperti pasangan pengantin baru.

OXO

Memasuki musim dingin Saint Petersburg di tutupi oleh salju. Sambil menunggu kepulangan Viktor, Yuuri duduk di dalam perpustakaan sambil diam memandangi jendela. Taman yang di rawat Yakov kini tertutup oleh putihnya salju, hanya warna putih yang terlihat bagaikan halaman kosong di sebuah buku catatan baru.

Di kelilingi oleh rak-rak buku yang tinggi juga tidak membuatnya bersemangat. Karena kelakuan Yurio pagi tadi ia jadi tidak berselera untuk menjelajahi koleksi-koleksi Nikiforov.

Yuuri mengangkat kakinya, memeluk lututnya di atas kursi. Meskipun perapian sedang menyala tubuhnya masih merasa kedinginan. Seraya matanya berkeliling mengamati sekelilingnya, tangannya menjaga agar selimut yang dikenakannya tidak terjatuh.

Kata Yurio di saat muda Viktor sangat menyendiri, waktunya ada hanya untuk bekerja dan berdiam diri di dalam perpustakaan atau pergi ke pinggir pantai. Di saat mudanya Viktor tidak banyak memiliki teman sebaya, hanya Nataly yang selalu mengawasi setiap tindakannya dan membantunya mengerjakan bebagai hal. Kepribadian pria itu dan kehidupannya sehari-hari bagaikan langit dan bumi. Meskipun terlihat ramah dan baik hati namun ia tidak memiliki seseorang untuk mencurahkan perasaan tersebut.

"...Setelah itu ia mengenal nona Yura yang sedang mengalami kesusahan."

Mungkin Yuuri hanya terlalu banyak memikirkannya tapi itu yang sebenarnya diinginkan oleh Yurio.

"Siapapun itu boleh asalkan seseorang yang dapat mengisi kekosongan hatinya."

Tanpa memandang status mereka. Yura yang terlahir sebagai Alpha maupun Yuuri yang terlahir sebagai Beta. Kenyataannya mereka berdua bertemu Viktor disaat mereka berdua mengalami kesusahan.

Yuuri menghela nafas. Pria asia itu menurunkan kakinya dan mulai menginjakan sepasang kakinya diatas tekel yang dingin. Yuuri ingin mengatahuinya, ia ingin mengetahui Viktor lebih lanjut. Tapi mengingat yang sebelumnya Viktor Nikiforov sangatlah tertutup. Selama ini hal-hal mengenainya, tidak ada satupun hal yang didengarnya langsung dari orangnya sendiri.

Meskipun terlihat seperti ini, Katsuki Yuuri bukanlah lelaki yang sabaran. Ia memandang ke arah sebuah pintu, sebuah pintu yang selalu terkunci. Tanpa pikir panjang kakinya mengarah kesana dan tangannya usil untuk menggerakan knop pintu.

Dirinya yang termakan oleh rasa penasaran disadarkan oleh bunyi 'klik' dari pintu tersebut. Viktor lupa menguncinya. Yuuri menoleh ke kanan dan ke kiri, ia masih sendirian di sana. Jantungnya berdebar kencang seolah telah melakukan perbuatan terlarang yang pantas dihukum keras. Dalam hati ia merutuki rasa penasarannya. Kenapa tidak dia bertanya langsung ke Viktor!?

"Sial...Sebenarnya apa yang kupikirkan!?" bisiknya sendiri seraya menahan tangisan pasrahnya. Setelah beberapa menit Yuuri berseteru dengan dirinya sendiri, ia memutuskan untuk masuk.

Ruangan kerja Viktor sangat sederhana. Tidak besar dan tidak semewah perpustakaan keluarganya. Di dalam hanya ada sebuah meja kerja yang dilengkapi oleh sebuah lampu meja yang hampir tertutup oleh tumpukan dokumen.

Perusahaan Nikivorov adalah perusahaan pengiriman barang. Meskipun Yuuri tidak begitu paham ia bisa tahu jika perusahaan Viktor memiliki kerja sama dengan berbagai perusahaan besar, entah itu swasta atau negeri. Logo-logo yang terpampang diatas kertas adalah buktinya.

Semua barang diatas meja tersebut sangatlah berantakan, demi berusaha tidak meninggalkan jejas Yuuri hanya menyentuh dan melihat seperlunya. Sebenarnya tidak ada hal lain di ruangan tersebut selain materi pekerjaan Viktor, alasan pria tersebut sangat sibuk. Meskipun begitu Yuuri merasa nyaman berada di sana dan memutuskan untuk melihat-lihat lebih lama. Ia berjalan memutari sisi lain meja dan menemukan laci yang sedang terbuka.

Yuuri mengambil sebuah album. Tanpa memikirkan konsekuensinya ia membukanya.

Rasanya dunianya telah runtuh. Yuuri tertegun ketika mengetahui album tersebut berisikan foto-foto pernikahan Viktor dan wanita bernama Yura. Meskipun hanya melalui foto buram tak berwarna, ia dapat merasakan jika Viktor pada hari itu bahagia.

Yura sangat mirip dengan Yurio, hanya saja garis-garis feminim tidak dapat membohongi kecantikan wanita tersebut. Rambut pirangnya yang panjang sepunggung dan senyumnya yang lembut menawan, terlebih lagi wanita itu adalah seorang Alpha. Kenapa Viktor bisa meninggalkan wanita sebaik itu?

Yuuri mulai tidak mengerti akan dirinya sendiri. Seharusnya dia memang tidak perlu berharap banyak pada Viktor yang baru di kenalnya beberapa saat, dan seharusnya ia tidak merasa kecewa.

Apakah dia memang mulai menyukai Viktor? Apakah ia mulai berharap kepada Viktor?

Yuuri mengambil nafas dalam-dalam, berusaha tidak meneteskan air matanya. Dengan hati-hati ia mengembalikan album itu ke dalam laci, membiarkannya seperti keadaan semula. Karena emosinya sedang berkecambuk bahkan ia tidak menyadari jika Viktor sudah berada di depan pintu, hendak menegurnya. Namun seseorang menarik pria Russia itu dan membawanya ke tempat lain.

"Nataly apa yang kau lakukan!?" protes Viktor pada pelayannya yang mencegahnya untuk bertemu dengan Yuuri. "Stt.." Wanita pelayan itu mendesis dengan jari telunjuk menyentuh bibirnya. "Justru aku yang mau tanya apa yang ingin kau lakukan, tuan Viktor?" tanya perempuan itu balik.

"Apa maksudmu? Yuuri masuk kedalam ruang kerjaku..."

"Kau tidak mau dia tahu jika kamu masih memikirkan nona Yura?" sela Nataly dengan nada sedikit ketus. "Kau bilang suka pada mereka berdua tapi kenyataannya kau memperlakukan semuanya sama. Sebenarnya siapa yang tidak punya hati disini?"

"Nataly kau..." Viktor mulai marah. Tidak biasanya pelayannya itu banyak berbicara bahkan ikut campur urusan majikannya. "Aku hanya merasa jika Yuuri adalah jodohku." Katanya sedikit berbisik.

"Jadi tuan Viktor menyukai tuan Yuuri, atau tidak?" tanya Nataly lagi, sengaja untuk memojokan Viktor. "Kau menyembunyikan segalanya darinya. Sebenarnya apa tujuanmu tuan Viktor?"

Kali ini Viktor tidak menjawab dan malah memukul tembok di belakang Nataly. Cara berbicaranya sebagai pelayan profesional yang selalu tersenyum ramah itu semakin menyulut emosi majikannya.

Nataly masih terlihat tenang meskipun berhadapan dengan Viktor yang jengkel akan kelakuannya. Wanita pelayan itu malah terlihat senang karena majikannya tersebut bertingkah sesuai dugaannya.

"Anu...Viktor?" suara Yuuri memanggil. Viktor yang tersadar dari amarahnya segera menjauhkan diri dari Nataly. Namun semuanya telah terlambat. Yuuri salah paham. Pria Asia itu memandang Viktor tajam namun masih memasang seutas senyuman tipis yang dipaksakan.

"Kau lupa mengunci ruang kerjamu. Aku tidak tahu kalau disana tempat kerjamu jadi aku seenaknya masuk. Hahaha maaf ya," celoteh Yuuri berusaha senormal mungkin. "Kelihatannya kalian sedang membicarakan sesuatu...Jadi kurasa aku permisi dulu."

"Tu-tunggu Yuuri!" Viktor berusaha mencegahnya namun Yuuri yang setengah berlari lebih cepat. Pria Asia itu keluar dari Mansion hanya dengan mengenakan sebuah jaket tipis dan sepatu boot.

Viktor pergi mengejar Yuuri, meninggalkan Nataly sendirian. Yurio yang kebetulan datang karena mendengar kehebohan menyaksikan semuanya. "Sebenarnya apa yang kau inginkan?" tanya remaja itu yang sangat mengejutkan tidak ikut-ikutan marah dan menyalahkan Nataly.

Nataly tertawa kecil. "Yang dibutuhkan mereka hanyalah dorongan." jawabnya.

Di tengah tumpukan salju Yuuri berjalan cepat, ia tidak peduli meskipun beberapa kali terpeleset. Ia hanya berputar-putar tanpa tujuan mengabaikan tubuhnya yang mengigil kedinginan. Matanya sakit karena menangis di tengah hari bersalju tapi tidak membuatnya berpikir untuk segera kembali ke Mansion.

Wajahnya merah padam. Setelah beberapa menit ia merasa tubuhnya sudah tidak kuat. Yuuri duduk di kursi taman, memeluk kedua lututnya mencari sedikit kehangatan. "Viktor bodoh." gumamnya.

"Yuuri!" suara Viktor terdengar samar-samar. Pria itu terlihat sangat lega ketika menemukan Yuuri. Ia membawa jaket yang lebih tebal beserta sepasang sarung tangan dan topi. "Yuuri ayo pulang." bujuk Viktor seraya menyentuh pundak Yuuri.

Yuuri tidak merespon. "Yuuri kau boleh marah padaku tapi kalau kau seperti ini kau bisa sakit." Viktor terus membujuk. Pria Asia itu tidak menunjukan wajahnya, masih membenamkan kepalanya diantara lututnya. "Yuuri!" Viktor terus memanggil. Dengan sedikit memaksa Viktor menarik tangan Yuuri. "Kumohon Yuuri, yang tadi itu salah paham. Memang aku tadi sedang berbicara dengan Nataly tapi kita tidak seperti yang kau pikirkan. Karena Nataly sudah punya tunangan!"

"Kau tidak perlu repot-repot menjelaskannya padaku." Akhirnya Yuuri membalas tapi masih menolak untuk menujukan wajahnya. "Aku tidak marah aku hanya ingin sendirian."

"Yuuri!" Viktor sudah kehabisan cara. Siapa sangka Yuuri yang ngambek bisa jadi sangat merepotkan? Memang terkadang Yuuri bisa keras kepala tapi sekarang ia jadi tidak rasional. Bagaimana bisa Viktor meninggalkannya di tengah salju dengan pakaian yang minim!?

"Ayolah. Aku akan menemani mu disini selama yang kau mau tapi setidaknya pakai sesuatu yang bisa melindungi badanmu." Viktor masih membujuk.

"...Kau bisa meninggalkannya."

Viktor menghela nafas panjang kelihatannya memang kali ini ia harus menyerah. Setidaknya itu lebih baik daripada meninggalkannya dengan pakaian yang tipis. "Baiklah, tapi jangan terlalu lama diluar. Aku benar-benar mengkhawatirkanmu."

"Viktor," sebelum pria Russia itu beranjak pergi sekali lagi ia dibuat untuk menoleh ke belakang. Yuuri diam beberapa saat membuat harapan Viktor naik, siapa tahu jika pria Asia itu berubah pikiran dan bersedia untuk pulang bersamanya. "Terima kasih. Sebelum makan malam aku pasti kembali." Tapi yang didengarnya malah berbeda dan benar-benar memaksanya untuk pulang sendirian.

To be Continue