Api sedang menyala, membakar tumpukan kayu di tempat perapian. Yuuri duduk di sofa ruang tengah, menyelimuti dirinya dengan selimut tebal dan merendam kedua telapak kakinya di baskom yang berisi air hangat.
Sepatu berhak Nataly memecahkan keheningan. Wanita pelayan itu berjalan kemari menyiapkan segala sesuatu yang dapat mencegah tamu majikannya sakit. Wanita itu melakukan pekerjaannya secara profesional tanpa ada gerakan yang tidak perlu. Sesekali mata biru perempuan itu mencuri pandang, hanya memastikan kondisi mental sang pria Asia yang sudah menghabiskan setengah hari di luar ruangan.
"Yuuri." Viktor memanggil dari kejauhan. Pria tersebut membawa secangkir susu hangat lalu menyodorkannya pada Yuuri ketika dirinya sudah duduk di sebelah pria Asia itu. Yuuri menerimanya sambil mengumamkan kata terima kasih.
"Yuuri maafkan aku." ucap Viktor pasrah tanpa berani melihat sosok Yuuri di sebelahnya. "Untuk apa kau meminta maaf Viktor?" tanya Yuuri. "Karena membiarkanku diluar? Aku yang memintanya."
Nataly berlutut di bawah kaki Yuuri membuat pria Asia yang tidak terbiasa di perlakukan sebagai majikan itu sedikit terjengat kaget. "Tuan Yuuri kakimu lecet kalau dibiarkan bisa melepuh." ujar Nataly dengan lembut. Mendengarnya, daripada Yuuri Viktor lebih panik namun masih tak mengatakan apapun karena takut dengan suasana hati Yuuri—Viktor hanya bisa menatap prihatin kepada kedua telapak kaki Yuuri yang memerah dan tergores oleh luka-luka kecil.
"O-oh mungkin karena terlalu banyak kena dingin," ujar Yuuri sambil menunjukan senyum segan. "Terima kasih Nataly aku bisa mengurusnya sendirian."
"Hahaha kalau dibiarkan saja kau bisa membeku," tambah Nataly diikuti tawa kecilnya yang elegan. "Kalau tuan Yuuri merasa tidak nyaman mungkin tuan Viktor bisa membantumu," tambahnya yang membuat Viktor melotot tak percaya padanya. Kerling mata wanita itu sungguh susah ditebak dan diikuti pula oleh senyum simpulnya. "Hitung-hitung untuk permintaan maaf tuan Viktor dan kuharap kalian bisa berbaikan. Kejadian siang tadi bisa dibilang aku juga bersalah."
"...Tidak perlu sejauh itu." gumam Yuuri segan. Pria Asia itu melirik si tuan rumah yang sedang termenung, terlihat menimbang-nimbang—memperkirakan apa yang dipikirkan pelayannya. Bahkan ketika Yura Plisetsky bertengkar dengannya pelayannya itu tidak pernah ikut main tangan, tapi kenapa sekarang?
Viktor menghela nafas. Sampai sekarang Nataly tidak pernah berubah, perempuan itu selalu pandai berbicara dan mampu meyakinkan seseorang. Seperti saat Viktor menginginkan Maccachin, ayahnya akhirnya mengijinkannya memelihara anjing pudel itu berkat bujukan Nataly. Perempuan Alpha memang mengerikan selalu dapat membuat yang lainnya tercengang.
"Kemarikan." minta Viktor seraya mengulurkan tangannya. Tanpa mengatakan apapun lagi Nataly memberikan botol salep di atas tangan majikannya. "...Yang tadi siang memang benar apa katamu. Kurasa aku akan memikirkannya, Nataly." Viktor membuka penutupnya dan mengoleskan beberapa di jarinya.
"E-eh?" Yuuri tidak dapat memahami. Tentu saja karena kali ini adalah urusan Viktor dan Nataly. Ketika Viktor mengulurkan tangannya mau tidak mau Yuuri yang masih di telan kebingungan hanya bisa menurut dan menunjukan telapak kakinya pada sasaran kemarahannya hari ini.
Tangan Viktor yang besar bekerja dengan lembut, Yuuri yang sedikit malu diperlakukan demikian hanya bisa mengigit bibirnya untuk menahan rasa perih dan geli yang muncul bersamaan setiap kali Viktor mengoleskan salepnya pada bagian luka-lukanya.
Nataly berdiri di samping hanya sebagai penonton. Meskipun jam kerjanya sudah lewat sebagai pelayan setia—yang sudah sekian lama bersama dengan majikannya, ia lebih memilih untuk tetap berjaga jika tuannya membutuhkan dirinya.
Beberapa saat ruangan itu hening, hanya terdengar suara retakan dari kayu bakar di perapian. Karena menurut Yuuri situasi diantara betiga sangatlah canggung ia membuka mulutnya dan bertanya. "Kata Viktor bukannya Nataly sudah punya tunangan?" maksudnya adalah membuka pembicaraan namun kelihatannya ia hanya menambah sesak ruangan tersebut. Dilihatnya Viktor. Pria bersurai perak itu membuang mukanya ke arah lain menghindari tatapan maut Nataly.
"Pasti tuan Viktor mengatakannya demi membersihkan namanya di depanmu, tuan Yuuri."
"Mmm...Jadi itu bohongan?" di saat seperti ini Yuuri tidak bisa sepenuhnya marah kepada Viktor, menurutnya pasti terjadi sesuatu pada hubungan Nataly dan orang yang menjadi tunangannya tersebut. Karena ia yakin tidak mungkin Viktor berbohong untuk masalah seserius ini—Meskipun kebohongan itu sedang menuding seorang pelayan.
"Memang benar salah satu bawahan tuan Viktor melamarku tapi aku belum menerimanya." Jawab Nataly lalu mengambil salep di tangan Viktor. Pengobatannya sudah selesai jadi ia bersiap mengambil ember yang tadinya merendam kaki Yuuri.
"Kenapa?" namun pertanyaan tiba-tiba Yuuri menghentikan wanita tersebut. "Apa kau tidak menyukainya?" pria Asia itu bertanya dengan polos, seolah pertanyaannya tidak akan memberikan efek apapun pada lawannya.
Viktor membuka mulutnya. Ia ingin segera mengalihkan topik pembicaraan. "Karena aku adalah seorang pelayan," namun sebelum mengatakan apapun Nataly mendahuluinya. "Pria yang melamarku adalah orang Inggris, keturunan bangsawan. Apa yang akan dikatakan keluarganya jika pria seperti itu membawa pulang istri sepertiku?"
Yuuri tertegun. Viktor menghela nafas frustasi seraya mengacak surai-surai peraknya dengan jemarinya. Tidak biasanya melihat tuan Nikiforov yang biasanya ceria jadi se frustasi itu. Melihatnya Yuuri tidak tega, kelihatannya ia memang benar-benar salah paham mengenai Viktor—Sebelumnya, di tengah dinginnya salju Viktor adalah lelaki dingin yang menyamar sebagai pangeran di atas kuda putih. Namun Viktor adalah Viktor, pria Russia yang selalu membantu siapa saja, membagikan cintanya kepada siapa saja.
"Tapi Nataly menyukai pria itu?" Yuuri nekat bertanya. Ia tahu pertanyaan tersebut akan memojokan Nataly, akan membuat hati perempuan itu tergores.
Tidak seperti Yuuri yang cengeng Nataly tidak menjatuhkan se tetespun air mata. Wanita itu justru mengangguk mantap menjawab pertanyaan yang paling sensitive di dalam hidupnya. "Perasaan tidak sekekal kerasnya kerikil di pinggir jalan namun manusia menjunjung statusnya sampai di alam kubur. Sebagai kepala keluarga Nikiforov pastinya tuan Viktor sangat mengerti perasaanku."
Viktor menggeleng. "Berhentilah bertingkah seperti pelayan Nataly," ujarnya seraya mengambil tangan Nataly lalu meremasnya pelan. "Aku tidak pernah menganggapmu sebagai pelayanku. Aku selalu melihatku sebagai saudara perempuanku, alangkah baiknya jika kau mau menerima nama Nikiforov. Tapi kau..."
Nataly terkekeh geli. "Daripada saudara kau jadi seperti ayahku."
"Nataly mungkin kita baru saja bertemu," Yuuri beranjak dari duduknya dan berdiri berhadapan dengan Nataly, ia memberikan senyuman terbaiknya. "Seumur hidup aku tidak pernah bertemu dengan seorang perempuan Alpha. Meskipun kau tidak pernah memberitahuku tapi aku yakin jika kau adalah salah satu wanita terbaik di dunia ini dan...Kau pantas mendapatkan kebahagian!"
Meskipun hanya sebentar Yuuri menganggap Nataly sebagai seorang teman. Jika Viktor menganggap pria Inggris itu pantas dan mampu membahagiakan temannya. Yuuri juga akan membantunya, ia juga akan berusaha membujuk Nataly.
"Pfft..." Nataly menahan tawanya seolah telah menonton acara lawak di perpustakaan. Yuuri dan Viktor memandang perempuan itu heran, padahal tidak ada yang lucu dari apa yang mereka katakan. "Padahal kalian sendiri masih belum mendapatkan kebahagian..."
Viktor dan Yuuri saling melirik. Memang bukan tempat mereka untuk menasehati seseorang mengenai kebahagian jika mereka sendiri tidak memahami apa itu kabahagian?
Sampai sekarang Yuuri masih tidak mengerti apa jalan pikiran pria bernama Viktor Nikiforov, seseorang yang ia berhutang budi padanya sekaligus orang yang mulai disukainya.
Jika Katsuki Yuuri bisa/berhak berharap dia ingin jika apa yang dikatakan Viktor ketika mereka pertama kali bertemu—segalanya mengenai takdir pasangan hidup itu adalah benar.
"Sudah malam," Viktor beranjak dari duduknya. "Nataly kau jangan pulang untuk hari ini terlalu berbahaya, lebih baik kau menginap di sini."
"Tapi kamar yang biasa kutempati sedang dipakai tuan Yuuri."
Viktor tersenyum. "Malam ini Yuuri bisa tidur di kamarku," ujarnya seraya menarik tangan Yuuri. Wajah si pria Asia menyala merah. "Tu-tunggu Mansion sebesar ini masa tidak punya kamar yang lain!?" teriak Yuuri panik dan berusaha melawan tarikan Viktor.
"Kita jarang kedatangan tamu jadi kamar yang lainnya benar-benar kotor." Jawab Viktor.
Nataly memandang datar pemandangan Viktor dan Yuuri yang sedang 'bermain' tarik menarik. "...Aku tidak masalah untuk membersihkan kamar yang lain. Toh aku tidak sering tidur di sini." kata Nataly bermaksud untuk membantu Yuuri. Kurang lebih ia paham dengan jalan pikiran tuannya yang ingin kembali akrab dengan si pria Asia itu, tapi memaksanya tidak akan memecahkan apapun bukan?
"Hari ini Nataly sudah lelah bukan?" Viktor kelihatannya benar-benar ingin menarik Yuuri untuk masuk ke dalam ruangan pribadinya. Pria Russia itu mendekap Yuuri dari belakang, menahan kedua tangan lelaki bertubuh lebih kecil darinya itu untuk tidak bergerak. Viktor memasang senyum cerianya seperti biasanya.
"Vi-Viktor aku tidak mau merepotkanmu lebih dari ini jadi lebih baik aku tanya Yurio apakah hari ini aku bisa menumpang di kamarnya atau tidak!"
"Tidak." Suara yang baru muncul, tidak di sangka-sangka. Yurio berdiri di mulut pintu dengan tangan menyilang di depan dada. Pandangan mautnya membuat Yuuri merinding. "Kalau kau tidak mau dikamar Viktor kau bisa tidur di sofa Katsuki. Aku tidak suka berbagi kasur dengan orang lain."
"Kau dengar itu Yuuri?" terbanding terbalik dengan ekpresi Yuuri saat ini, senyum Viktor semakin cerah. Pria Russia itu sudah bisa merasakan kemenangan. "Aku juga tidak bisa membiarkanmu tidur di sofa setelah apa yang terjadi hari ini, kau bisa sakit."
"Abaikan dua orang bodoh itu Nataly dan segera istirahat di kamar." Ujar Yurio ketus lalu beranjak dari tempatnya dan menghilang. "Kalau begitu selama malam tuan Viktor, tuan Yuuri." Nataly mengikuti remaja itu setelah membungkuk, berpamitan.
Seluruh tubuh Yuuri melemas, mengakui kekalahannya. Memang siang tadi ia bertindak egois, mengusir Viktor dan tidak mendengarkan apa yang ingin dikatakan pria Russia itu.
Hanya mereka berdua di ruangan tersebut. Pelukan Viktor mengerat dan disaat bersamaan Yuuri yang sedikit lebih pendek mendongak untuk melihat wajah Viktor. "...Maaf," ucap pria Asia. "Kurasa kau memang kesal dengan yang tadi siang."lanjutnya.
"Apa maksudmu?" Viktor tertawa renyah. Bola mata birunya yang tidak tertutup surai peraknya menatap Yuuri lembut. "Kau memang punya hak marah padaku."
"..." Yuuri memasang senyum malu-malu, wajahnya merah. Bukannya itu bukti jika ia mulai tertarik pada Viktor? Ia mulai memahami dirinya sendiri. Daripada merasa marah itu yang dikatakan orang cemburu.
Yuuri mulai menaruh perasaan kepada Viktor.
Viktor membalas senyuman Yuuri. "Ayo, lebih baik kita cepat beristirahat." Ajaknya seraya mengandeng Yuuri pergi ke kamarnya.
Seperti dugaan Yuuri, kamar sang tuan rumah 2 atau 3 kali lebih besar dari kamar yang ditinggalinya. Interior ruanga tersebut bernuansa merah marun dan emas. Setiap perabotannya berkelas tinggi dan elegan.
Mungkin karena sudah mulai terbiasa dengan setiap kemegahan Mansion Nikiforov Yuuri sama sekali tidak merasa heran ataupun takjub. Ia hanya merasa nyaman seperti rumah sendiri, apalagi ia bisa merasakan eksistensi Viktor yang mengelilingi ruangan tersebut.
Yuuri dapat membayangkan jika Viktor selalu tidur sendirian di kamar besar ini atau biasanya pria Russia itu akan mengajak anjing kesayangannya, Maccachin untuk tidur bersamanya, sungguh menggemaskan.
"Maccahin kemarilah!" rupanya anjing pudel berbulu coklat itu sedang tidur di bawah kasur, ketika Viktor memanggilnya ia segara berlari dan meloncat kepada majikannya itu sambil mengibas-kibaskan ekornya.
"Hahaha Maccahin geli! Hentikan!" Viktor berusaha mendorong peliharaannya, menutupi wajahnya yang sudah penuh air liur karena 'jilatan' sayang Maccahin.
Yuuri tertawa melihat mereka berdua, rasanya semua masalah hari ini tidak pernah terjadi. Ia ikut menubruk Viktor dan memeluk Maccachin. "Hehehe bulumu halus sekali, Maccahin!"
Maccahin menggonggong, seolah membalas pujian Yuuri ia mulai berpindah menjilati pria Asia itu. "Hahaha...Sudah hentikan!" seru Yuuri.
Akhirnya setelah beberapa saat mereka bertiga tidur di atas kasur berukuran King. Maccahin berada di tengah, sementara Viktor dan Yuuri yang berada di kedua sisinya saling tidur berhadapan. Mereka berdua saling bertatapan cukup lama sampai Viktor memecahkan keheningan.
"Yuuri maafkan aku." ujarnya. Hari ini mereka berdua banyak menerima dan memberikan kata maaf. Yuuri bertanya "Untuk apa?" yang berada di sisi kanan membalikan tubuhnya dan membelakangi, merasa sudah cukup dengan kata maaf, lama kelamaan kata tersebut jadi kehilangan artinya.
Viktor juga berbalik, menatap langit-langit. "Aku minta maaf untuk segala-galanya."
Yuuri diam,tidak membalasnya. Ia mulai memejamkan matanya, berusaha untuk tidur. Viktor mengikutinya, mulai memejamkan matanya. "Hari ini sangat melelahkan, selama malam."
To be Continue
