Matahari sudah semakin tinggi. Viktor menggeliat di atas tempat tidur, meraba-raba sampingnya. Kosong. Anjing peliharaannya dan pria Asia yang tidur bersamanya semalam sudah tidak berada di kamarnya lagi.
Biasanya Makkachin selalu membangunkannya namun kelihatannya anjing besar itu lebih tertarik mengikuti Yuuri daripada melaksanakan tugasnya.
Dipandangnya jam weker di sebelah kasurnya. Sudah tiga jam penuh ia terlambat bekerja. Viktor masih tetap santai, bukan kali ini saja ia terlambat untuk berangkat ke kantornya.
Pria Russia itu membuka piyamanya. Khusus semalam saja ia mengenakan pakaian sambil tidur, karena kebiasaannya yang tidur telanjang bisa menakuti Yuuri, pria Asia yang polos itu. kulitnya yang bagai porselen disinari cahaya matahari yang menyelinap masuk melalui celah-celah tirai yang tertiup angin.
Viktor memasang dasinya dan merapikan jasnya. Hari ini ia memakai setelan jas biru Navy dengan dasi berwarna merah marun bergaris, ia keluar kamar sambil membawa Trench Coat berwarna Khaki.
Ia bertemu Nataly di bawah tangga, yang sibuk mengambil perlengkapan bersih-bersih dari gudang penyimpanan. Wanita itu menghentikan aktivitasnya sejenak untuk memberi salam pada majikannya. "Selamat pagi tuan Viktor," ujarnya. "Barusan aku mendapatkan telepon dari tuan Peter yang akan menjemputmu."
"Peter huh," Viktor menyeringai jahil bersamaan dengan kakinya yang sudah mendarat. "Dia memang paling suka menjemputku di saat seperti ini."
"Dia sendiri yang bilang kalau menjemputmu di saat seperti ini adalah kesempatannya untuk bertemu denganku." balas Nataly lalu kembali mengerjakan pekerjaannya. Mungkin wanita itu tidak menyadarinya tapi Viktor mengetahuinya. Wajah tegas wanita itu melembut, sambil tersenyum simpulrona merah muda menghiasi pipinya, terlihat sangat bahagia.
Viktor menghela nafas pendek seraya mengangkat kedua bahunya. "Aku benar-benar tidak mengerti alasanmu menolak lamarannya." sindirnya lalu menuju ke arah ruang makan.
Tidak lama Viktor bertemu dengan Yakov. Pria separuh baya itu membelakanginya, berdiri di tengah jalan. "Yo Yakov," sapanya sambil menepuk pundak pria tua itu. "Kenapa berdiri saja di situ?" tanyanya.
"Viktor?" Yakov menoleh, wajah juteknya tidak pernah berubah. "Aku baru saja sampai bersama dengan Peter."
"Oh dia sudah sampai." balas Viktor asal lalu berniat untuk kembali berjalan. " Tunggu, Viktor." Langkahnya tidak jadi, Yakov memanggilnya. Pria tua itu terlihat gelisah.
"Ada apa Yakov?" Viktor berpaling. Dengan sabar ia menunggu Yakov untuk berbicara.
"...Yura berencana untuk datang ke St Petersburg," akhirnya Yakov menjawab, enggan untuk mengatakannya di depan Viktor. "Sudah lama dia tidak bertemu Yuri begitu katanya padaku kemarin."
Untuk sesaat bola mata yang tidak tertutup poni Viktor melebar. Setelah cukup lama tertegun ia menghela nafas dan mengangguk. "Sebelum Yuri dalam naungan ku anak itu masuk asrama bukan? Tentu mereka sudah lama tidak bertemu."
"Dia mantan istrimu dan kau cukup baik telah mau merawat adik laki-lakinya. Kalau kau merasa keberatan aku bisa menyampaikannya," ujar Yakov penuh pengertian. "Atau kau bisa membuat mereka bertemu tanpa nona Yura harus ke mansion ini."
Viktor memaksakan senyumnya. "Kau mengkhawatirkan Yuuri?" tanyanya. Pasti pria tua itu sudah mendengar jika kemarin mereka berdua bertengkar dan si pria tua itu berusaha menjadi pengertian. "Yura pernah menjadi salah satu anggota keluarga mansion ini dan sekarang adiknya, tidak ada alasan untuk menghalanginya kemari."
Yakov dibuat pusing. Kini pria itu menarik Viktor memaksa yang lebih muda untuk melihat matanya. "Kau ingat apa yang dikatakan Yura sebelum menceraikanmu?" tanyanya tegas namun lembut di saat bersamaan. "Viktor, kau sudah kuangap seperti anak sendiri. Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan nona Yura."
"Yakov...Ini sudah kepribadianku," balas Viktor, menghindari tatapan tajam Yakov. "Jika Yura tidak bisa menerimaku apa adanya—"
"Dan kau tidak bisa menerima dia apa adanya," sela Yakov. "Aku yakin pria Asia itu juga merasakan kegundahaan nona Yura selama ia menjadi pasanganmu."
Viktor kembali merenung dengan kepala tertunduk. "Yakov," panggilnya, kembali membuka mulut setelah beberapa saat. "Untuk saat ini kita tunda dulu pembicaraan ini. Mengenai kedatangan Yura...Aku bisa minta tolong padamu bukan?"
"Kau menyuruhku memutuskannya sendiri?"
"Kau tahu apa yang terbaik, Yakov."
Viktor mengangguk pelan lalu memutar badannya. Yakov yang dibelakanginya hanya bisa menghela nafas panjang, tidak tahu harus mengatakan apa lagi untuk merubah sifat alami Viktor—yang katanya orang bagaikan pangeran berkuda putih, seorang pangeran bagi siapa saja.
OXO
Di meja makan hanya porsi milik Viktor yang tersisa. Ruangan makan masih belum sepi.
Yuuri masih duduk di kursinya sedang asyik mengobrol bersama dengan seorang pria. Pria itu berpakaian rapi seperti keseharian Viktor hanya saja ia menyukai warna yang lebih gelap. Ada pepatah jika dasi yang dikenakan seorang pria menggambarkan kepribadiannya. Pria itu mengenakan dasi berwarna jingga terang bergaris unggu, perbandingan yang kontras dengan setelan jasnya yang berwarna hitam gelap.
Peter Keiser—nama pria itu, orang yang telah jatuh cinta pada Nataly. Rambutnya yang bagaikan dedaunan di musim gugur, sedikit ikal dan berwarna coklat kemerahan. Orangnya ceria dan penuh energi, membuatnya jauh lebih muda daripada Viktor. Ia berbicara dengan suara sedikit lantang nampak asyik sekali berbicara dengan pria Asia yang baru saja ditemuinya.
Viktor membiarkan mereka berdua, masuk ke dalam dan duduk di tempatnya.
Butuh beberapa saat bagi pria asal Inggris bernama Peter itu untuk menyadari kehadiran atasannya. Ia menoleh dan memberikan cengiran khasnya. "Oh tuan Nikiforov mobilmu sudah siap didepan!" serunya memberitahu.
Viktor tertawa renyah, menggantungkan jaketnya di sandaran kursi sebelum duduk. Setiap kali ia berbicara dengan Peter ia jadi merasa sangat tua, pria Inggris itu terlalu bersemangat. Meskipun kenyataannya mereka berdua hanya beda setahun—Peter setahun lebih muda.
"Padahal kau tidak perlu repot-repot menjemputku," ujar Viktor meskipun sudah tahu motif tersembunyi pria tersebut. "Kukira kau sudah trauma datang ke rumahku setelah ditolak tuan putri Mansion ini." godanya, membalas cengiran pria tersebut.
Yuuri diam memperhatikan keduanya. Di saat seperti ini Viktor bisa jadi seorang Idiot. Kenapa juga ia harus menaruh garam di atas luka Peter? Ia mengumpat atas kebodohan Viktor di dalam hati sekaligus merasa was-was dengan reaksi Peter.
"Hahaha!" Peter tertawa nyaring, membuat Yuuri terjengat karena terkejut, sementara Viktor mengabaikannya dan terus menyantap sarapannya yang tertunda. "Aku ini orangnya blak-blakan malah mungkin aku yang sudah melukainya..." lanjutnya sambil memasang senyum yang dipaksakan. "Aku yang terlalu percaya diri, tidak memikirkan perasaannya."
Matanya melembut, kini terlihat sebagai pria dewasa. Kharisma orang itu sangat berbeda dengan Viktor. Jika Viktor adalah pengeran tampan yang disegani dan dicintai banyak orang, Peter adalah seorang pria bijak yang dapat melindungi, bahkan berkorban untuk orang yang disayanginya. Nataly sungguh beruntung mendapatkan hati pria sepertinya.
Sedikit saja, Yuuri merasa iri. "Tuan Peter," panggilnya lembut. "Saranku hanya jangan menyerah. Setelah musim dingin musim semi akan datang dan seterusnya, karena waktu itu selalu berjalan."
"Terima kasih," Peter menyeringai seraya menepuk pundak Yuuri. "Kuharap kau juga bisa cepat kembali ke kampung halamanmu, keluargamu pasti mencemaskanmu!"
Pulang. Saat itu Viktor segera kembali mengingat alasan Yuuri menetap di Mansionnya. Katsuki Yuuri adalah orang asing yang suatu saat nanti harus pulang ke rumahnya sendiri. Mengingatnya kembali membuat mood Viktor memburuk, menyadari jika suatu saat Yuuri harus meninggalkannya membuat hatinya sakit.
Viktor beranjak dari tempatnya, diikuti Peter. "Yuuri aku berangkat dulu," pamit Viktor dengan senyuman tipis yang nampak kesepian. Yuuri mengangguk "Hati-hati di jalan," begitu balasnya. Peter yang sudah cukup lama bekerja di bawah Viktor diam-diam menyeringai. Pria Inggris itu bisa merasakan apa yang sedang terjadi dengan atasannya dan pria Asia yang ditemuinya hari ini.
Viktor berjalan duluan. Sebelum Peter menghilang di belokan ia menoleh pada Yuuri. "Tuan Viktor itu sedikit susah untuk di pahami tapi bukan berarti kau sama sekali tidak bisa memahaminya bukan?" katanya, setelah selesai ia langsung melengos pergi, meninggalkan Yuuri yang kebingungan.
OXO
Kau tidak akan pernah bisa mencintai seseorang!
Itu kata-kata terakhir Yura sebelum meninggalkan Viktor, setelahnya wanita itu tidak pernah lagi muncul di hadapannya. Ia tahu ia telah melakukan kesalahan besar pada Yura, dan ia baru menyadarinya ketika wanita itu telah habis kesabarannya dan mengatakan hal tersebut tepat di depan mukanya.
Saat itu sedang dirayakan pesta ulang tahun seseorang. Sebagai salah satu pengusaha ternama di kota Viktor diundang bersama dengan keluarganya. Seperti biasa kehadiran Viktor adalah sebuah berkat tersendiri bagi para pengagumnya dan hari itu Yura sudah sangat muak dengan situasi tersebut.
Selama menjadi suami-istri keduanya tidak jarang bertengkar. Yura adalah wanita berkelas tinggi, meskipun keluarganya mengalami kebangkrutan ia tetap adalah wanita yang memiliki harga diri. Meskipun merasa tidak terima dengan perlakuan Viktor terhadapnya, tidak pernah sekalipun ia mencaci-maki pria yang telah menolongnya sekaligus suaminya saat itu. Mungkin hanya sedikit sindiran dan teguran saja, dan Viktor selalu membalasnya dengan baik tanpa harus melalui perdebatan panjang—Sebagai gantinya hubungan mereka sangatlah dingin.
Namun pada hari itu, malam itu. Yura berteriak sambil menangis di balkon. Ia sudah tidak tahan katanya, Viktor tidak akan pernah mencintai siapapun katanya. Para tamu, bahkan sang tuan rumah menyaksikannya—pada saat itu nama Nikivorof tercoreng besar. Yakov dan Nataly juga berada di tempat, sungguh terkejut dengan tindakan Yura yang bukan seperti dirinya lagi. Yura Plisetsky yang selalu menjunjung tinggi kehormatan, bagaimana bisa membuat kehebohan di rumah seseorang?
Keesokannya Yura meninggalkan Mansion dan kembali ke rumah kakeknya. Entah kehidupan seperti apa yang dialami wanita itu sampai akhirnya ia mengirimkan surat kepada Viktor untuk merawat adik laki-laki kesayangannya.
"Bukannya tidak bisa mencintai siapa pun tapi kau memang tidak pernah mencintai nona Yura."
Suara Peter menyadarkan Viktor dari lamunannya. Kedua pria itu sedang berada di jalanan pelabuhan mengawasi para kuli yang menaikan barang-barang ke atas kapal pengiriman. Peter adalah seketarisnya, selalu menemaninya kemana-mana di saat bekerja. Kelihatannya ia memang terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai menarik perhatian pria Inggris tersebut.
"Kenapa tiba-tiba membahasnya?" tanya Viktor mencoba sebiasa mungkin. Ia sendiri terkejut, bagaimana bisa Peter menebak isi kepalanya.
"Tadi aku kan memberikan tumpangan pada pak tua Yakov," jawab Peter. "Dia sudah terlalu tua jangan terlalu merepotkannya."
"Dia memberitahumu tentang kedatangan Yura?" tanya Viktor, menaikan salah satu alisnya.
"Kurang lebih," jawab peter asal sambil menuliskan sesuatu pada buku catatannya. "Seperti yang dikatakan Yakov kau bisa menolaknya, tuan Viktor."
"Dia mantan istriku, dan lagi kalau seseorang mendengar perkataanmu barusan..."
"Tapi apa tidak sayang?" sela Peter. "Saat ini kau menginginkan tuan Katsuki bukan? Bayangkan saja jika nona Yura dan dia di satu tempat, hidupmu bisa berakhir, tuan Viktor."
"...Kurasa kau ada benarnya Peter. Setelah kita kembali ke kantor aku akan segera menelpon Yakov."
OXO
Yuuri kembali ke kamar yang dipinjamkan Viktor kepadanya. Kemarin untuk semalam Nataly meniduri tempatnya dan perbedaan ruangan tersebut bisa terlihat jelas. Jendela kamarnya terbuka lebar, membiarkan cahaya matahari masuk menyinari ruangan tersebut, kasurnya tertata rapi, dan ruangan tersebut sangatlah bersih, bahkan buku-buku yang biasanya berserakan di sembarang tempat kini tertumpuk rapi di atas tempat tidur.
Yuuri jadi merasa tidak enak membiarkan seorang wanita merapikan segalanya hanya untuk dirinya, seharusnya kemarin dia sedikit bersih-bersih sebelum Nataly menempati kamar tersebut.
Tidak lama kemudian, ditengah Yuuri terpana dengan perubahan kamarnya, pintu di belakangnya terbuka. Nataly masuk sambil membawa sebuah vas berisikan bunga Lily berwarna putih, sesuatu yang langka dimusim dingin ini.
Bunga Lily tersebut memang sudah dikeringkan namun dengan sebuah cara bunga tersebut masih terangkai indah dan bahkan masih tercium wanginya, meski hanya samar-samar.
Selagi Yuuri sibuk memperhatikan vas yang di bawa Nataly, perempuan itu meletakannya di atas meja di sebelah ranjang. "Ini hadiah dari Tuan Viktor."
"Terima kasih Nataly untuk bunganya dan...telah merapikan kamar ini hehe," Yuuri tersenyum malu-malu. "Oh! Aku juga akan berterima kasih pada Viktor nanti."
"Aku hanya melakukan tugasku," balas Nataly lembut. "Tuan Yuuri memang suka membaca buku huh." komennya setelah melihat-lihat sekelilingnya lalu berhenti di atas tumpukan buku yang ada di atas ranjang.
"Dari awal aku memang mahasiswa jadi rasanya aneh jika tidak melakukan apapun, dan lagi aku harus segera mencari pekerjaan. Aku tidak mau terlalu merepotkan kalian," balas Yuuri dengan wajah masam. "Hanya saja aku masih tidak menemukan pekerjaan yang cocok denganku di sekitar sini."
"Ah ternyata tuan Yuuri memikirkan hal seperti itu," Nataly memegang dagunya nampak sedang berpikir. "Seharusnya Yakov bisa mengenalkanmu dengan seseorang yang tepat."
OXO
Di tengah jam makan siang restoran tempat Yurio bekerja sangatlah ramai. Pria-pria berbadan besar dengan etika kasar memenuhi tempat tersebut. Remaja pirang yang jadinya akrab dipanggil Yurio dibuat kewalahan oleh segala pesanan berporsi jumbo.
Semuanya memanggilnya dengan sebutan mal'chik anak laki-laki dalam bahas Rusia. Di tengah keramaian tersebut, tidak lama kemudian perhatian Yurio sepenuhnya tersedot oleh seseorang yang mengatakan 'permisi' padanya, panggilan yang sangatlah sopan dibandingkan dengan bahasa sehari-hari para pelaut di daerahnya.
Yurio sampai di meja orang tersebut, mengeluarkan catatannya. Orang tersebut mengatakan pesanannya dengan aksen Rusia yang unik namun dapat dipahami oleh Yurio. Dilihat dari manapun orang itu adalah orang asing, ini kedua kalinya ia bertemu dengan orang asing setelah Katsuki Yuuri yang berasal dari Jepang.
Orang itu bersurai hitam, berkulit gelap, postur tubuhnya langsing dan kecil untuk seorang laki-laki. Rasa penasaran Yurio memuncak, remaja pirang itu secara terang-terangan bertanya "Apa kau orang Asia?"
Orang itu tidak terlihat kaget, langsung mengangguk saja. "Iya aku dari Thailand."
"Pasti banyak orang yang penasaran padamu huh."
"Tidak banyak orang asing yang ada di Rusia semenjak dikepung tentara Jerman, apalagi untuk orang Asia."
"Yah tapi kau bukan orang pertama yang kutemui, nasibnya bisa dibilang sangat sial." Kata Yurio lalu hendak meninggalkan meja orang tersebut, dia tidak bisa berlama-lama mengobrol dengan pelanggan. "Tunggu!" tiba-tiba saja pemuda Thailand itu mencegahnya, membuat Yurio kembali menoleh dan mengangkat kedua alisnya.
"Apa kenalanmu itu adalah orang Jepang?"
"Eh?" mulut Yurio terbuka seperti orang bodoh, seolah orang asing itu sudah menebak apa sarapannya hari ini, meskipun baru saja bertemu.
"Aku sedang mencari seseorang bernama Katsuki Yuuri..."
To be Continue
