Beberapa hari kemudian.
Yakov memperkenalkan Yuuri dengan seorang pemilik toko buku yang terletak di pusat kota, dengan jarak 10 menit naik sepeda. Viktor sangat mencemaskannya sampai khusus membelikannya sepeda, tepat di malam ia memberitahu pria Rusia tersebut tentang keinginannya bekerja.
Mulanya keinginannya untuk bekerja ditentang oleh Viktor yang selama ini menanggung kehidupnya, tapi kembali ke kenyataan Yuuri memang tidak bisa selamanya mengandalkan Viktor. Sedikit mengecewakan namun cepat atau lambat Yuuri harus pulang kembali ke asalnya.
Sementara pemuda Thailand yang bertemu dengan Yurio saat itu, sekarang menjadi pelanggan tetap di restoran remaja pirang itu bekerja. Pemuda berkulit gelap itu dipanggil Phichit—nama lengkapnya susah disebutkan bagi orang-orang Rusia, tidak terkecuali Yurio.
Kelihatannya Phichit adalah kenalan Yuuri namun Yurio masih belum yakin untuk membawa pemuda tersebut menemui Yuuri dan hanya membiarkannya datang ke restoran.
"Jadi kau teman lama si Katsuki itu?" tanya Yurio setelah sekian lama mengabaikan cerita Phicit. Mereka ada di belakang restoran, tempat para pekerja beristirahat. Phichit tersenyum, mengiyakan pertanyaan Yurio. "Ayahku bekerja di Jepang dan rumah kami berdekatan," jelasnya.
"Jepang kedatangan cukup banyak orang asing huh."
"Mereka kekurangan orang semenjak usainya perang." Jawab Phicit sambil memainkan botol minuman kosong yang bergelinding di bawah kakinya. Yurio memandang setiap gelagat pemuda itu, tidak mengatakan apapun lagi.
"Apa Yuri tidak pernah ke luar negeri?" tanya Phicit tiba-tiba. "Yuri kelihatannya pintar pasti bisa bahasa Inggris kan?"
Yurio cukup terkejut mendengar pertanyaannya. "Yaah kalau hanya percakapan sehari-hari..." jawabnya ragu. Yura, kakak perempuannya selalu mengutamakan pendidikan, tentu saja ia mendapatkan beberapa pelajaran bahasa di sekolahnya dulu; seperti Inggris dan Jerman. Kini semenjak lulus dari SMP-nya yang berasrama ia sudah tidak melanjutkan pendidikan dan memilih untuk sibuk bekerja, entah apa yang dikatakan kakaknya nanti?
"Yuuri mahir berbahasa Inggris dan Rusia, selain itu kelihatannya ia juga tertarik dengan bahasa Jerman," oceh Phichit terlihat gembira sekali ketika membicarakan Yuuri. "Padahal dia bisa dapat beasiswa di London tapi memilih sekolah di Moscow."
Yurio mengangkat salah satu alisnya. "Setelah itu dia pindah ke St Petersbug?" tanyanya. Ia tidak begitu tahu mengenai latar belakang pria Asia yang tinggal di tempat yang sama dengannya itu, tapi setelah diberitahu ternyata pria kutu buku itu cukup hebat.
Phichit menghela nafas. "Yaah. Setelah aku mencari tahu tentang dirinya ternyata apertemen yang di tinggalinya kebakaran," lanjutnya. "Kau bilang kau mengenalnya, pasti kau tahu tempat tinggalnya sekarang kan Yuri? Aku hanya ingin menolongnya."
Kelihatannya pemuda Thailand itu sudah kehabisan kesabaran, ia langsung bertanya pada Yurio. Remaja pirang itu memang beberapa hari ini selalu bungkam ketika ditanyai tentang keberadaan Yuuri. Kenapa? Alasannya adalah demi Viktor. Tujuan Phichit jauh-jauh sampai ke St Petersbug tanpa perlu ditanyakan lagi pastinya adalah membawa Yuuri kembali ke Jepang, meninggalkan Viktor yang bahkan masih belum memahami perasaan cinta.
Sampai saat ini Yurio juga tidak tahu alasan kenapa Viktor menyebut pertemuannya dengan Yuuri adalah takdir, seolah-olah mereka berdua adalah Alpha dan Omega. Kenyataannya Katsuki Yuuri adalah Beta yang hidup seperti orang pada umumnya—Tidak perlu menjalani kehidupan keras seorang Alpha yang memiliki kemampuan khusus, yang selalu diharapkan oleh masyarakat, atau Omega yang selalu dianggap lemah dan keberadaannya di gunjingkan masyarakat.
Katsuki Yuuri hanyalah laki-laki biasa yang tidak mengenal istilah takdir dan mate. Ia hanya perlu mencari pasangan, menikah dan hidup normal seperti kebanyakan orang.
Tapi Viktor merasa ia telah berjodoh dengan Yuuri, bahkan untuk sebuah dongeng pun tidak ada yang lebih palsu daripada ini.
Sebenarnya apakah Viktor merencanakan sesuatu?
Yurio termenung beberapa saat lalu menoleh pada Phichit. "Sebenarnya aku tinggal bersama dengannya..."
OXO
Hari sudah semakin gelap. Viktor berjalan sendirian di bawah langit berbintang dan diatas jalanan sepi menuju rumahnya. Surai peraknya tertiup angin membuat tubuhnya yang sudah terbalut pakaian tebal mengigil, hidung dan pipinya memerah, kedinginan.
"Viktor!" dari kejauhan terdengar suara familiar, suara Yuuri. Pria Asia itu berlarian kearahnya, melempar senyum lebar. "Yuuri kenapa belum pulang?" tanyanya heran sambil melihat sepeda pemberiannya tidak dinaiki malahan di tuntun.
"Aku melihatmu dari kejauhan dan kurasa lebih baik kita jalan bersama."jawab Yuuri polos. Viktor melempar senyuman lebar seraya merangkul pundak Yuuri. "Akhir-akhir ini kita jarang jalan bareng ya," ujarnya. "Yuuri jahat sekali membuatku kesepian."
Pipi Yuuri mengembung, melotot ke arah Viktor. "Apanya? Bukannya Viktor sendiri yang selalu sibuk? Padahal kau bilang mau mampir ke toko buku!" ocehnya tidak terima yang hanya di balas 'iya iya maaf' oleh Viktor dengan nada asal-asalan.
Mereka berjalan sambil menceritakan pengalaman mereka hari ini, terlihat menikmati waktu mereka. Sementara tidak jauh dari sana Yurio dan Phichit berada di pusat kota, berdiri di depan sebuah toko buku di pinggir jalan—tempat Yuuri bekerja. Toko itu sudah tutup, gelap dan sunyi.
"Kau bisa menemuinya besok siang disini," ujar Yurio datar lalu langsung berjalan meninggalkan tempat. Phichit mengekor di belakang. "Mengenai yang kau ceritakan tadi..."
Phichit membuat remaja pirang di depannya berhenti dan menoleh ke belakang. "Tentang seseorang bernama Viktor yang menolong Yuuri dan mengaku telah merasakan takdir dengan Yuuri."
Yurio diam membiarkan pemuda Thailand itu berbicara. "Kau tahu Yuuri itu Beta," lanjut Phichit. "Mengenai takdir dan sejenisnya..."
"Bukannya dongeng mengenai takdir itu cukup terkenal di kalangan Omega?" Yurio menyeringai, terlihat meremehkan. Wajahnya yang sedari tadi tertutup oleh rambutnya yang panjang kini memperlihatkan salah satu matanya yang menatap tajam Phichit. "Kau yang lebih tahu betapa lucunya jalan pikiran pria bernama Viktor Nikiforov ini."
Untuk sesaat Phichit nampak tercengang, kedua bola matanya yang berwarna gelap itu melebar ketika menatap Yurio yang dapat mengetahui identitas keduanya. Phicit mendegus seraya memalingkan wajahnya, tersenyum canggung. "Karena Alpha sepertimu tidak perlu dongeng semacam itu untuk bertahan hidup huh."
Yurio berpaling dan terus berjalan. "Tanpa melihat identitasku aku memang tidak percaya dengan hal-hal seperti dongeng ataupun legenda." balas Yurio yang berjalan semakin jauh dari Phichit berdiri.
Phichit menghela nafas panjang seraya berkacak pinggang. "Alpha memang sensitif dengan Omega huh bahkan untuk anak seumurannya, padahal aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk bertingkah seperti Beta tapi masih tetap ketahuan ya." Pemuda itu bergumam pada dirinya sendiri.
Phichit Chulanont seorang pemuda yang terlahir di keluarga tingkat menengah dan ditentukan sebagai Omega ketika awal ia memasuki SMP. Dalam sejarah keluarganya tidak pernah seorang anak lahir sebagai Alpha maupun Omega, mereka hanyalah keluarga normal—dengan kata lain Beta.
Semenjak hasil tes kesehatannya mengecapnya sebagai seorang Omega beberapa orang memandangnya dengan sebelah mata. Di daerah tempat tinggalnya ia tidak pernah mempunyai teman seorang Omega namun takdir mempertemukannya dengan Katsuki Yuuri—anak yang lebih tua beberapa tahun dengannya.
Yuuri adalah orang biasa (Beta) namun ia dapat memahami kesulitan seorang Omega. Meskipun pemahaman tersebut dihasilkan oleh teori kedokteran yang dipelajarinya di sekolah, namun Yuuri adalah orang baik.
Seorang Omega selalu hidup lebih sulit daripada yang lainnya, Phichit banyak mengalami kejadian yang mengerikan terutama saat menginjak usia pubernya.
Awal mula memasuki masa Heat atau saat masa Heat yang tak terduga. Seorang wanita Omega pernah mengatakan jika masa Heat seorang Omega ratusan kali lebih menyakitkan daripada saat menstruasi ataupun melahirkan –terutama untuk Omega berjenis kelamin laki-laki, rasa sakitnya bisa menjadi berlipat kali lebih mengerikan.
Namun berkat latar belakang keluarga Phichit, kehidupannya masih terjamin. Ia masih bisa mengantisipasi masalahnya dengan obat penangkal dan bertingkah seperti Beta. Obat penangkal harganya cukup mahal namun dengan pekerjaan ayahnya ia masih bisa menjangkau obat tersebut dan mengkonsumsinya dalam dosis standart. Ia bersyukur ia tidak pernah mengalami hal mengerikan seperti hampir diperkosa—kasus yang sangat lumrah di dunia ini jika kau adalah Omega.
"Alpha yang mengira Yuuri adalah Omega itu orangnya pasti aneh sekali," gumam Phichit seraya menggaruk pipinya yang tidak gatal. "Apalagi bukannya Yuuri aslinya lahir di pulau Hasetsu? Tidak mungkin dia Omega." Pemuda itu berjalan di tengah salju untuk kembali ke penginapannya sambil berpikir bagaimana ia harus bertingkah di depan Yuuri besok, saat mereka berdua bertemu.
OXO
Yurio pulang ke mansion. Karena di tengah perjalanan salju turun, seluruh tubuhnya jadi basah dan dia mulai kedinginan. Seperti biasa hari ini juga pekerjaannya cukup melelahkan, ia berharap ketika ia masuk ia sudah di sambut oleh masakan Nataly, setelah makan ia akan segera beristirahat dikamarnya.
Ia pulang larut malam, yang lainnya pasti sudah berada di kamarnya masing-masing, dan jatah makan malamnya pasti sudah mendingin di atas meja. Semenjak keluarganya bangkrut ia tidak pernah mempermasalahkan makanan yang sudah dingin.
Yurio melepas sepatu bootnya dan menggantungkan mantelnya di pojokan, setelah itu ia segera ke ruang makan. Alisnya mengerut. Dari kejauhan ia mendengar suara Yuuri dan Viktor di ruang makan, tempat yang di tujunya, mereka terdengar sedang bercanda gurau dan...entah apa yang dilakukan mereka dengan perabotan dapur.
Yurio mengintintip, mendapati pasangan tersebut sedang memasak. Viktor sedang memegang panci sementara Yuuri memotong sayuran di sebelahnya. Mereka terlihat sangat bahagia, menikmati momen yang terasa seperti dunia hanya milik berdua. Seketika itu juga, Yurio merasa jijik, siapa juga yang mau jadi obat nyamuk disana? Rasa laparnya menghilang begitu saja.
Remaja itu memutar tubuhnya berniat meninggalkan tempat tersebut dan menuju kamarnya sendiri, ia ingin cepat tidur dan besoknya ia bisa makan sarapan Nataly seperti biasanya. Sayangnya suara langkah kakinya terdengar oleh Viktor, pria itu memanggilnya. "Yurio, akhirnya kau pulang juga."
Yurio menoleh sejenak, tatapannya tajam seolah bisa menusuk tulang. "Aku mau tidur," katanya ketus. Yuuri berlari kearahnya, menahan tangannya. "Yurio belum makan kan? Dari tadi kami menunggumu," ujar pria Asia itu lembut. "Hari ini kita semua pulang telat jadi Viktor memberitahu Nataly agar tidak usah menyiapkan malam," jelasnya.
Sebenarnya Yurio sudah sangat enggan untuk bergabung bersama pasangan tersebut, tapi Yuuri pasti tidak akan melepaskan tangannya begitu saja. Akhirnya remaja itu menurut dan duduk di meja makan, menikmati sup kentang yang baru saja matang. Makanannya enak, cukup standart tidak ada yang aneh. Hanya saja melihat ke kedekatan Viktor dan Yuuri membuatnya galau, lidahnya tidak bisa merasakan apapun.
Besok Phicit akan mendatangi Yuuri, artinya masalah akan menimpa hubungan mereka. Setelah bertemu dengan lelaki Thailand itu sudah tidak ada alasan lagi untuk Yuuri berlama-lama di St Petersburg. Waktu Viktor menipis, pria itu harus segera menentukan perasaannya sendiri.
Yah, apapun yang akan terjadi bukan lah urusan Yuri Plisetski, dia hanya adik mantan istri Viktor, tidak ada ruang baginya untuk ikut campur.
Namun di dalam hatinya yang paling dalam ia mengucapkan 'semoga beruntung' untuk mereka berdua.
To be Continue
