Keseharian Katsuki Yuuri selama tinggal di St Petersburg.
Setiap hari Yuuri bangun jam 6 pagi dan selalu di sambut oleh senyuman hangat Nataly yang sedang menyapu di ruang tengah. Semenjak mendapatkan pekerjaan di toko buku. Ia berangkat bekerja lebih pagi daripada Viktor atau Yuri, membuatnya terpaksa memakan sarapan sendirian.
Makkachin anjing yang pintar. Setiap kali Yuuri selesai menyantap sarapannya dan bersiap untuk keluar rumah, anjing itu selalu menggonggonginya dengan ekor yang berkibas kencang. Bersama Nataly, Makkachin selalu mengantarkannya sampai ke depan gerbang rumah.
Musim dingin di Russia dua kali lebih kejam daripada di Jepang. Setiap pagi salju menumpuk sangat tebal, terkadang bisa sampai ke lututnya. Jalanan sangat licin, angin yang datang dari arah laut bisa membekukan hidung nya, kalau saja ia tidak memakai topi mungkin saja daun telinganya bisa putus. Di saat seperti itu Yuuri tidak bisa menaiki sepedanya.
Di pagi buta petugas pembersih jalanan masih belum bekerja. Tentu, selain dirinya masih banyak orang yang senasib dengannya, semenjak banyak dari para pedagang yang membuka tokonya di jam segini. Jalanan utama nampak lebih hidup daripada daerah pinggiran tempat tinggal keluarga Nikiforov. Hanya dengan melihat para pedagang yang sudah sibuk menyiapkan barang dagangannya bisa membuat Yuuri merasa lebih hangat.
Pemilik toko buku dimana Yuuri bekerja adalah seorang pria raksasa (tinggi dan besar bahkan untuk ukuran orang-orang Russia) yang memiliki kepribadian lembut dan ramah, sangat berbeda dengan penampilannya yang sangar. Yuuri selalu datang lebih cepat daripada si pemilik yang mengaku tidak terbiasa bangun pagi.
Pemandangan si pemilik yang sampai di depan pintu masuk toko dengan hidung yang memerah dan ingus yang membeku sudah menjadi salah satu keseharian Yuuri. Pertama kali melihatnya Yuuri sangatlah terkejut sampai spontan meneriakinya "Yeti!" Yakov dan Viktor yang juga ada di sana waktu itu menertawakannya, sesekali mereka berdua membahasnya hanya untuk menjahilinya.
Bekerja di toko buku tidak jauh berbeda dengan menjadi penjaga perpustakaan. Tidak banyak para pembeli yang langsung membeli buku, malahan banyak dari mereka yang menghabiskan waktu membaca buku-buku teresebut sambil berdiri di tempat. Yuuri juga tidak jauh berbeda dengan mereka, ia banyak menghabiskan jam kerjanya dengan membaca buku-buku yang berhubungan dengan Biologi dan Sosial. Sebelum toko tutup ia merapikan semua buku sesuai lebelnya, sambil menghitung jumlahnya.
Sering Yuuri berpapasan dengan Viktor di tengah perjalanan pulang. Mereka pulang bersama sambil menceritakan pengalaman mereka di hari itu. Yuuri senang berbicara dengan Viktor, ia juga nyaman berada di dekatnya. Bisa bersama dengan lelaki sepertinya merupakan impian setiap gadis, bagai pangeran berkuda putih di dalam donggeng yang indah. Namun di dunia nyata, tidak hanya kaum perempuan saja yang bisa menginginkannya. Viktor adalah Alpha. Siapapun Omega yang bisa mendapatkannya sangatlah beruntung, mau itu dari kaum perempuan ataupun lelaki. Sudah seperti hukum alam bila seorang Alpha menginginkan bersanding di sisi Alpha lain yang setara dengannya, demi nama baik dan status. Namun Alpha yang memiliki Omega yang baik juga dapat menunjukan ke superiorannya, yang terlihat dapat mengendalikan pasangannya.
Beta hanyalah orang awam, tidak ada yang spesial dari mereka. Mereka tidak bisa menjadi sosok elit seperti Alpha, namun bukanlah sosok yang di rendahkan seperti Omega. Di dunia ini dari segi pandang Alpha dan Omega, Beta berada di sisi dunia lain. Artinya Yuuri dan Viktor merupakan dua insan yang tidak berada di satu dunia yang sama.
Ratusan buku, ribuan informasi sudah berada di kepala Yuuri. Pernikahan Alpha dan Alpha lebih baik dilakukan dengan lawan jenis, sementara untuk pernikahan Alpha dan Omega tidak mementingkan jenis kelamin karena telah di pastikan apapun jenis kelaminnya Omega dapat melahirkan dan memelihara anak. Tapi Alpha dan Beta, ini konyol. Apapun yang terjadi hubungan Yuuri dan Viktor tidak akan menghasilkan apapun. Jika hubungan mereka berhasil, hubungan mereka hanya akan menjadi hubungan sesama jenis yang 'umum'
Mau bagaimanapun Viktor bersikap keras kepala terhadap masalah ini, tidak akan merubah kenyataan bila Yuuri adalah Beta. Hari demi hari perasaannya terhadap Viktor semakin jelas, ia menyukai pria Russia itu. Andai saja Viktor mau menerimanya sebagai Beta.
Kesalah pahaman ini menyakiti Yuuri. Oleh sebab itu dia membiarkan kesalah pahaman ini, karena takut Viktor akan meninggalkannya ketika pria itu memahami kenyataannya.
Kecemasan tersebut juga menjadi salah satu keseharian Katsuki Yuuri.
Setiap malam mereka semua makan bersama. Yuri tidak henti-hentinya meneriaki kelakuan bodoh Viktor dan Yuuri yang tidak mau ikut terkena semprotan dari si macan. Ia menyantap makanannya sambil sesekali menertawakan kelakuan mereka berdua.
Hari-hari di St Petersburg sangat berwarna dan penuh akan momen-momen yang berharga. Dan saat Yuuri bertemu dengan seorang lelaki Thailand, ia tahu kalau hari-hari tersebut akan segera berakhir.
OXO
"Phi-Phicit!?"
Yuuri membelalak tak percaya. Seorang pria berkulit gelap sedang berdiri di depan meja kasir sambil tersenyum manis. "Sudah lama tidak bertemu," ucapnya pada Yuuri yang masih benggong.
Kedatangannya memang sangatlah tiba-tiba.
"Phi-Phicit bagaimana bisa kau disini!?" seru Yuuri dengan suara nyaring. Matanya berair hampir menangis, ia gembira sekali bisa bertemu dengan teman lama. "Oh ya ampun. Sudah lama kita tidak bertemu." Yuuri beranjak dari tempatnya lalu memeluk hangat Phicit. "Bagaimana bisa kau tahu aku ada disini?"
"Nah, ceritanya panjang." Phicit menyambut pelukannya. "Kudengar kau mengalami banyak kesulitan di sini."
Yuuri melepaskan pelukannya lalu memberikan senyuman terbaiknya. "Sepertimu, ceritanya panjang." Dengan jawaban ambigu tersebut, Yuuri meninggalkan Phicit duduk sendirian di meja kasir sementara dirinya menyiapkan kopi.
Phicit sabar menunggunya sampai Yuuri menyuguhkan secangkir kopi hitam di depannya.
Phicit mencengkram pegangan cangkirnya, mengangkatnya sampai ke bawah mulutnya. "Kudengar ada seorang Alpha yang mengira kau Omega." Ia tidak segera meminumnya, matanya tidak lepas dari wajah Yuuri yang segara bereaksi pada perkataannya.
Tidak ada jalan lain, Yuuri mengangguk, mengakuinya. "Kurasa aku beruntung karnanya aku bisa tinggal di rumahnya untuk sementara waktu," ujarnya dengan memaksakan senyumnya.
"Dia orangnya pasti agak nyentrik," Phicit sebelum meneguk kopinya.
"Aku tidak tahu apa dia bisa dikatakan nyentrik atau tidak. Tapi dia lelaki yang baik." Yuuri tersenyum, kali ini tulus. "Kau tahu banyak tentangku, pasti kau mendengarkannya dari seseorang."
"Remaja yang tinggal bersamamu, Yuri Plisetsky. Aku sering makan di restoran tempatnya bekerja."
"Ah ternyata dunia ini sempit." Wajah Yuuri berubah menjadi lesu. Ia tidak bermaksud menyembunyikan apapun pada Phicit ataupun menyalahkan Yuri karena memberitahukan kondisinya saat ini pada Phicit. Perasaannya campur aduk, sebuah perasaan yang tidak dapat dijelaskan begitu saja.
Namun Phiscit bisa membacanya bagai buku yang sedang terbuka. Lelaki itu menghela nafas pendek. "Kau pasti tahu apa tujuanku kemari," katanya ringan.
Yuuri mengangguk. "Kurang lebih?" jawabnya tak yakin. Ia melirik wajah Phicit yang terlihat tenang namun tegas. Apapun yang di kiranya saat ini pasti benar, bila temannya ini ingin memintanya pulang ke Jepang. "Tenang saja aku tidak berencana tinggal di sini selamanya."
"Karena itulah lebih baik pulanglah bersama ku. Sebenarnya, aku jauh-jauh datang kemari hanya untuk menjemputmu."
"Kau terlalu baik Phicit." Yuuri membuang wajahnya, dia tidak tahu bagaimana harus menghadapi temannya yang satu ini. "Aku masih belum yakin apakah aku bisa meninggalkan orang itu."
"Maksudmu Viktor Nikiforov?" tanya Phicit yang entah sejak kapan sudah menarik tangan kanan Yuuri. "Dia pria yang baik tapi entah apa yang ada di kepalanya," ujarnya sambil bertatapan mata dengan mata Yuuri.
"Tapi...Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja!" Yuuri menarik tangannya paksa. Tanpa sengaja ia berteriak. Otamatis mereka menjadi tontonan di tempat tersebut. Si pemilik toko yang tadinya duduk anteng di salah satu kursi pendek di balik rak buku, tak jauh dari mereka, kini mendatangi mereka berdua.
Langsung saja Yuuri.meminta maaf sambil membungkukkan badannya, sedangkan Phicit berkacak pinggang sambil membelakangi semua orang. Setelah berbicara dengan si pemilik, akhirnys Yuuri mendapat ijin untuk membicarakan masalah pribadinya di luar toko. Hal ini membuat mereka berdua terjabak di atmosfir yang canggung dan sesak.
"Yuuri aku tidak bermaksud memaksamu untuk pulang." Phicit kembali mengawali pembicaraan, setelah sama-sama bungkam untuk beberapa menit.
"Sebenarnya asal aku tahu kau baik-baik saja itu sudah cukup. Itu juga apa yang dikatakan ayah ibumu," lanjutnya. Phicit mulanya berjalan di depan Yuuri, lalu ia.memutar tubuhnya. Berdiri di hadapan Yuuri. Ia mengumbar senyuman kecil yang kaku, sinar matanya terlihat sedih.
"Phicit aku..." Lidah Yuuri terasa kelu. Ia tidak tahu bagaimana cara untuk merangkai kata-kata yang tepat untuk Phicit. Namun tubuhnya lebih jujur dan spontan. Tangannya mencengkram lengan jaket si lelaki Thailand, memintanya untuk menunggu. Tidak seharusnya pembicaraan ini berakhir seperti ini.
"Kalau kau nyaman di sini dan kau memilih untuk tetap di sini aku juga tidak punya cara untuk mengahalangimu. Asal kau ingat untuk menulis surat itu sudah lebih dari cukup, Yuuri. Kau tidak perlu memaksakan dirimu."
"Bukan Phicit." Yuuri menggelengkan kepala cepat. "Ini terlalu tiba-tiba. Aku tidak bisa memutuskan secepat ini."
Phicit tersenyum lembut. "Kalau begitu dalam seminggu ini, tentukan pilihanmu."
OXO
Setiap mimpi indah atau buruk selalu harus berakhir. Bumi ini selalu berputar, tidak ada satupun makhluk di dunia ini yang berhenti di satu tempat di dalam kehidupannya. Ketika seseorang datang dalam kehidupanmu dan membuat hidupmu lebih berwarna, suatu saat orang itu pasti akan meninggalkanmu dan kehidupan penuh warna itu hanya akan menjadi kenangan.
Yuuri tahu betul hal itu. Dia tidak bisa selamanya menikmati situasi ini. Dia dan Viktor tidak bisa menentukan hubungan mereka. Jangan salahkan Viktor, kalau mau menyalahkan salahkanlah dirinya yang tidak berani meluruskan masalah ini.
"Kudengar ada temanmu yang mengunjungi toko buku."
Suara Viktor menyadarkannya dari lamunan. Dirinya, Viktor, dan Yuri sedang makan malam bersama seperti biasanya.
Yuuri tidak segera menjawab pertanyaan Viktor, dan ia tahu kalau Yuri sedang memperhatikannya. Remaja itu terlihat mencemaskannya, mungkin saja ia menyesal telah mempertemukannya dengan Phicit.
"Oh iya," jawab Yuuri canggung. "Dia teman masa kecilku."
Setelah itu tidak ada yang berbicara. Mereka makan di tengah tekanan otmosfir yang berat. Makanan yang dibuat oleh Nataly dengan susah payah menjadi percuma. Yuuri jadi tidak berselera makan, rasanya hambar.
"Dia mengoceh tentang ingin membawamu pulang, apa kau sudah memberinya jawaban?" tanya Yuri tiba-tiba. Entah apa niat remaja tersebut, membahas hal ini dengan nada yang santai.
"Eh!?" tidak sengaja Yuuri menjatuhkan garpunya. Wajahnya pucat, ia tidak siap membahas hal ini di depan Viktor. Ia tidak berani melihat ke arah si pria bersurai perak itu. "Tu-tunggu aku ambil garpu yang baru dulu!" Ia membuat dirinya sibuk dengan memungut garpu yang jatuh di bawah meja lalu pergi mengambil yang baru, meninggalkan dua lelaki Rusia menetap di meja makan.
"Hmm...Kau cukup tenang bahkan setelah mendengarkan hal ini," ujar Yuri seperti menyindir. "Sebagai orang dewasa kau pasti paham kalau dia tidak bisa selamanya disini."
"Keluarganya sedang menunggunya oleh sebab itu aku tidak bisa mengekangnya, begitu maksudmu?" Viktor meletakan alat makannya. Entah sengaja atau tidak. Namun suara benturan meja dan logam terdengar keras.
Meskipun samar Yuri/Yurio bisa merasakan amarah Viktor. Tapi ini bukan untuk pertama kalinya ia melihat si ramah Viktor marah, ia pernah berada di situasi yang sama saat pria tersebut masih merupakan suami dari kakak perempuannya—dengan kata lain kakak iparnya.
"Setidaknya dengan hubungan kalian saat ini," balas Yuri tenang. "Hubungan ambigu seperti ini tidak bisa berjalan selamanya. Kalian hanya akan saling menyakiti, seperti saat pernikahanmu dengan kak Yura."
Viktor menghela nafas panjang. "Di nasehati bocah sepertimu sama sekali tidak membuatku senang."
"Sebagai orang dewasa pikiranmu terlalu dangkal." Yuri beranjak dari kursinya sambil membawa piring bekasnya. Setelah merenung sejenak, Viktor juga melakukan hal yang sama, dan meninggalkan Yuuri sendirian di dapur. Seperti Yuuri, Viktor masih belum siap membahas hal ini.
Yuuri menatap sedih punggung mereka berdua. Ia merasa bersalah, ia merasa seperti sumber dari ketidak nyamanan di rumah ini. Mungkin dia harus menyerah untuk mempertahankan Viktor dan kembali ke Jepang dengan Phicit.
Perbuatan Yuri pasti juga semata-mata karena mencemaskannya, tidak ingin dirinya bernasib sama dengan Yura.
Itu keputusan terbaik. Rasa sayangnya kepada Viktor masih belum terlampau besar, masih belum terlambat untuk memutuskan hubungan mereka.
"Maaf...Maaf," bisik Yuuri sambil menahan air matanya. Sebelum air matanya jatuh, ia mengusap matanya dengan ujung lengan bajunya yang panjang. "Maaf Viktor aku tidak bisa menjadi seseorang yang bisa menutup lubang di hatimu."
OXO
Viktor Nikiforov, seorang pria rupawan yang berkharisma. Sosoknya sangat indah, seolah dia adalah pangeran berkuda putih yang meloncat keluar dari buku dongeng. Semua itu adalah definisi setiap orang saat pertama kali berpapasan dengan prie tersebut, tidak terkecuali Katsuki Yuuri.
Mereka berdua bagai dua insan yang berasal dari dua dunia yang berbeda. Yuuri seharusnya hanya bisa melihat seseorang seperti Viktor dari kejauhan saja. Namun keberuntungan dengan anehnya berpihak padanya. Viktor menarik tangannya dan mengeluarkannya dari lubang gelap yang dingin.
Mungkin Yuuri sudah kehilangan banyak hal. Ia tidak sanggup melanjutkan kuliahnya, apartemennya terbakar, dan ia tidak bisa pulang kembali ke negaranya. Tapi Viktor menyelamatkannya, dan memberinya tempat tinggal.
Rusia yang besar, Rusia yang dingin, Rusia yang jauh dari kampung halamannya. Siapa sangka bisa menjadi rumah kedua baginya, sampai bisa membuatnya enggan untuk kembali ke Jepang. Semua itu berkat Viktor, semua itu juga 'salah'Viktor pula.
Kebaikan hatinya, menghangatkan Yuuri. Sisi misteriusnya, membuat Yuuri penasaran. Dan yang lebih penting lagi setelah mengetahui bahwa sang pangeran berkuda putih ini diam-diam merasa kesepian dan tidak ada yang bisa memahaminya, Yuuri ingin menjadi seseorang yang mampu untuk memenuhi semua itu.
Apakah itu cinta?
Yuuri belum yakin. Mungkin ketidak yakinannya berdasarkan prasangka Viktor mengenai takdir dalam sosialita dunia Alpha dan Omega. Takdir yang banyak di asumsikan orang sebagai dongeng belaka, terutama di kalangan Omega yang merasakan kepahitan dunia lebih daripada kalangan lain.
Lalu bagaimana ia mendiskripsikan perasaanya terhadap Viktor?
Ini adalah perasaan aneh, rasanya seperti campuran minuman beralkohol tinggi. Sebuah fenomena yang siapapun belum bisa memahaminya. Seperti saat seseorang ingin membeli barang mahal namun tak mampu karena keadaan financial.
Dan ketika membahasnya hanya ada seutas kalimat yang muncul di kepala, yaitu: "Aku ingin bisa menjangkaunya!"
To Be Continue
