Sleeping On The Bike
By
FyRraiy
Disclaimer:
Semua karakter tokoh, kata-kata, dan perilaku tokoh di dalam FF tidak bermaksud menjelek-jelekkan tokoh dari segi manapun! FF ini murni dari pemikiran otak saya. Jadi, jika ada kesamaan mungkin hanya sebuah kebetulan saja!
Warning:
Gaje, Aneh, Typo(s), gk nyambung,
Don't Like! Don't Read!
Don't be a Basher!
Happy Reading~
Hari menjelang petang. Langit bahkan sudah menjingga. Berarti sudah saatnya Jihoon bergegas pulang atau ia akan ketinggalan makan bersama keluarganya. Lagi pula tadi ia tidak mengatakan kalau ia akan pergi ke rumah temanya. Salahkan ibunya yang sedang pergi berbelanja bersama ibunya Soonyoung.
Sebenarnya ia tidak pergi terlalu jauh. Hanya ke rumah Wonwoo-sahabatnya yang hanya berbeda beberapa blok dengan rumahnya. Ya, selain Soonyoung, Jihoon juga punya teman lain. Cuma tetap saja Soonyoung itu beda. Soonyoung itu spesial baginya. Sahabat spesial, mungkin.
Biasanya Jihoon diantar pulang oleh Wonwoo, tapi keadaannya sedang tidak menguntungkan. Wonwoo sedang sakit, Jihoon sedih hampir berminggu-minggu. Dia jadi merasa kehilangan karena lebih dari dua minggu Wonwoo tidak hadir kelas. Jihoon bahkan memaksa Soonyoung terus menemaninya menjenguk Wonwoo tiap pulang sekolah. Jihoon dan Wonwoo itu tidak jauh beda, jadi Jihoon merasa senang bersahabat dengan Wonwoo.
Dan sekarang Jihoon kebingungan bagaimana caranya agar ia bisa kembali ke rumahnya dengan selamat tanpa kehabisan energi.
"Jihoonie!"
Well, sepertinya Jihoon sedang di tempeli dewi keberuntungan. Itu Soonyoung yang sedang melambai dengan satu tangannya. Karena jika tangan satunya juga ikut ia lambaikan dijamin Sooyoung akan tersungkur. Jelasnya, Soonyoung sedang naik sepeda sekarang.
"Soonyoung," Jihoon tersenyum. Tentu saja. Ia akan dapat tumpangan setelah ini.
Soonyoung memberhentikan sepeda pixie miliknya tepat di samping Jihoon. "Baru pulang dari rumah Wonwoo, Ji?" Soonyoung memastikan bahwa Jihoon benar-benar hanya dari rumah Wonwoo dan di angguki ringan oleh Jihoon. "Dan aku butuh tumpangan sekarang,"
Soonyoung terkekeh kecil. "Aku sedang pakai sepeda. Jadi jangan mengeluh, oke?"
Jihoon mengangguk mengiyakan dan duduk di depan Soonyoung dengan posisinya menyamping. Untung modelnya horizontal top tube, jadi Jihoon tidak perlu merosot. "Ayo jalan, Soon."
Sesuai perintah, Soonyoung segera melajukan sepedanya. Biasanya Jihoon memang akan mengeluh soal sakit akibat duduk di atas bahan yang jauh dari kata empuk itu. Tapi masalahnya adalah, kakinya tidak akan pernah sampai menapak tanah jika menggunakan sepeda Soonyoung. Jadi Jihoon pasrah saja. Lagian kalau bersama Soonyoung semuanya akan terasa menyenangkan.
Soonyoung mengayuh sepedanya agak lambat menikmati hembusan angin sore yang cukup dingin. Sepertinya itu berdampak pada si mungil yang doyan tidur ini. Matanya berair akibat menguap terus menerus. Ia meletakkan kepala bersurai dark brown-nya di pundak kiri Soonyoung.
Menikmati harum tubuh Soonyoung yang maskulin menguar di indra penciumannya. Jihoon suka sekali. Biasanya ini adalah pengantar tidur bagi Jihoon. Dan tak terkecuali pun sekarang.
Jihoon lelap. Tak peduli tentang posisinya yang tak nyaman. Setidaknya ada jaminan ia tidak akan jatuh ke aspal yang kasar. Soonyoung pasti akan manjaganya. Jihoon percaya itu.
Soonyoung tersenyum. Memberikan kecupan di pelipis Jihoon dan mengeratkan pegangannya pada pinggang Jihoon.
.
.
END
.
.
OMAKE
Soonyoung sampai di depan gerbang rumahnya. Untung saja penjaga rumahnya peka, ia membantu tuan mudanya menurunkan Jihoon. Lebih tepatnya membantu Soonyoung memegangi sepedanya agar tidak jatuh. Mana sudi Soonyoung kalau Jihoonnya digendong orang lain. Begitulah, Soonyoung selalu menahan kesal tiap kali Jihoonya minta digendong Mingyu. Entah lah, Jihoon yang minta piggy back oleh Mingyu itu memang sudah seperti bayi yang minta digendong ibunya, sudah kebiasaan alami.
Soonyoung menggendong Jihoon ala bridal style ke kamarnya. Lumayan bisa memonopoli Jihoon sebentar. Mereka benar-benar hanya sahabat, tapi Soonyoung mengklaim Lee Jihoon hanya miliknya.
