Hurry Up!
By
FyRraiy
Disclaimer:
Semua karakter tokoh, kata-kata, dan perilaku tokoh di dalam FF tidak bermaksud menjelek-jelekkan tokoh dari segi manapun! FF ini murni dari pemikiran otak saya. Jadi, jika ada kesamaan mungkin hanya sebuah kebetulan saja!
Warning:
Gaje, Aneh, Typo(s), gk nyambung,
Don't Like! Don't Read!
Don't be a Basher!
Jihoon berlari cepat keluar rumahnya. Menutup pintunya kasar, sehingga menimbulkan suara debam yang mengagetkan Nyonya Lee. Sapaan satpam penjaga rumahnya pun ia balas sambil berlari keluar gerbang. Ia tidak peduli. Yang ia pedulikan sekarang adalah membangunkan seorang Kwon Soonyoung si pembenci hari senin. Ya, ditambah ulangan kimia, siapa yang tidak benci.
Jihoon yakin kalau Soonyoung akan bolos sekolah hari ini. Sebenarnya tidak peduli juga sih dia, tapi Jihoon adalah murid teladan yang anti absen saat ulangan. Dan sialnya, hari ini kesiangan. Ayahnya sudah berangkat kerja. Chan sudah berangkat sekolah diantar supir keluarga Lee yang juga biasa mengantarnya. Jadi harapannya saat ini hanya tersisa berangkat bersama Soonyoung. Meskipun Jihoon juga ragu kalau Soonyoung mau berangkat sekolah.
Jihoon membuka asal sepatunya yang tadi juga ia pakai asal. "Eomma, Sonyoung sudah bangun belum?" Jihoon berteriak sambil menaiki tanga menuju kamar Soonyoung kepada Nyonya Kwon yang sedang bersantai sambil menonton tv itu. "Jihoonie, tadi dia bilang tidak mau masuk sekolah. Coba kamu bujuk, siapa tahu ia mau," Nyonya Kwon juga tidak mau kalah berteriak.
Bruk
Itu Jihoon yang menubrukkan dirinya pada Soonyoung. Tapi, ajaibnya Soonyoung tak membuka matanya sedikit pun, bergerak saja tidak. Percayalah itu modus tersembunyi.
"Soonyoung..." ini serius Jihoon sedang merengek.
"Soonyoungie..." ya ampun, manis sekali Jihoon saat ini.
"Soonyoung, ayo bangun,"
Serius, sebenarnya Soonyoung ingin sekali membuka matanya untuk melihat Jihoonya yang merengek. Tapi ia harus melancarkan modus terselubungnya itu, bukan? Lagian kalau berhasil akan lebih menguntungkan.
"Jihoonie, seharunya kau tahu apa yang harus dilakukan..."
Jihoon memberengut. "Ayolah Soon, ini benar-benar bukan waktu yang tepat. Sekarang cepat bangun atau aku siram air,"
"Terserah," dan Soonyoung kembali mencari posisi nyamannya untuk tidur meskipun Jihoon tetap berada di atas tubuhnya. "Lakukan atau berangkat sendiri baby Hoon."
Jihoon mencibir. Tapi tetap saja ia melakukannya. Mendekatkan wajahnya pada Soonyoung.
CUP
Jihoon mengecup pipi Soonyoung, meskipun ujung bibirnya Soonyong juga kena sih.
"Aku sudah menciummu Soon, sekarang bangun,"
"Kau kan tahu, aku benci hari Senin, Hoonie. Beri aku lebih banyak energi,"
Baiklah demi ulangan kimia yang baru diberi tahukan semalam di grup kelas mereka.
CUP
Sampai satu detik pun tidak. Tapi untuk Jihoon yang penting benar-benar di bibir. Tapi sayangnya tidak untuk Soonyoung,
"Ji, serius nanti itu ulangan kimia. Aku benci kimia. Beri aku energi ekstra,"
Jihoon mengerang frustasi. Kalau bukan ulangan, ia tak sudi melakukan ini.
Ia mendekatkan lagi wajahnya. Menutup matanya perlahan. Napas mereka saling bersahutan menerpa permukaan wajah masing-masing. Meskipun sudah sering, tetap saja Jihoon merasa gugup. Wajahnya memerah dan perutnya terasa sepeti tergelitik. Namun sensasinya menyenangkan. Entah, ia juga bingung.
CUP
Sama seperti tadi, Jihoon menyentuhkan pelan bibirnya pada bibir tebal milik Soonyoung. Kali ini ia tak langsung memberikan jarak pada kedua belah bibir itu. Ia menahannya sebentar. Memberikan lumatan halus pada bibir bawah Soonyoung. Menghisapnya lembut namun menggoda.
Jihoon melepasnya, kini memiringkan kepalanya meraup dua belah bibir Soonyoung. Dan kembali melumat juga menghisap bibir atas Soonyoung.
Yeah, Soonyoung tersenyum menang. Ia tak lagi hanya diam menikmati. Tangannya menekan tengkuk Jihoon memperdalam pagutan. Balik menghisap bibir bawah Jihoon. Menggigit pelan bibir bawahnya Jihoon yang sangat manis. Jihoon melenguh tertahan, memberikan akses lidah Soonyoung menjelajahi seluruh mulutnya. Jihoon mengerang keras saat Soonyoung menggelitik langit mulutnya.
"Ekhem... maaf mengganggu acara mesra-mesraan kalian, tapi ini hanya tinggal lima belas menit kalau kalian benar-benar mau berangkat sekolah,"
Dan berakhirlah pagutan nikmat mereka. Jihoon bahkan terbelalak kaget. Memaksa menarik bibirnya yang diemut Soonyoung.
.
.
.
.
End~
.
.
Epilogue
Baiklah, satu masalah sudah beres. Soonyoung sudah bangun. Sekarang yang harus Jihoon lakukan adalah menyiapkan tas sekolah Soonyoung dan seragam sekolahnya. Untung saja Soonyoung satu kelas- bahkan sit mate dari taman kanak-kanak sampai sekolah menengah atas, jadi Jihoon tahu betul hari ini apa saja yang harus Soonyoung bawa.
Sebenarnya otak Soonyoung hampir menyeimbangi Jihoon si peringkat pertama. Yang jadi masalahnya hanya sifat pemalas dan pembangkangnya. Ya, Soonyoung memang termasuk spesies berandal tapi pintar. Peringkat Soonyoung tidak pernah jauh-jauh dari Jihoon, kalau Jihoon satu, Soonyoung pasti dua.
Ya begitulah. Lalu setelah semua buku dan peralatan belajar Soonyoung sudah beres, Jihoon berganti membuka lemari besar ini. Lemari pakaian Soonyoung tepatnya. Mengeluarkan semua yang Soonyoung akan pakai. Mulai dari yang terluar sampai yang Soonyoung kenakan di dalamnya. Benar-benar sudah seperti pasangan suami-istri saja.
"Soonyoung! Cepat keluar! Tas dan pakaianmu sudah kusiapkan, aku tunggu di bawah!" Seperti itulah teriakan Jihoon sebelum dirinya benar-benar turun menemui Ibu Soonyoung di dapur. Dirinya membantu Ibunya Soonyoung
Tepat lima menit setelah Jihoon keluar dari kamar besar Soonyoung, dan kini Soonyoung yang balik meneriakinya.
"Jihoonie, dasiku,"
Jihoon mengangkat satu alisnya. Sejak kapan pula dasi menjadi penting untuk Soonyoung. Lagian tadi dia sudah meletakkan dasi milik Soonyoung di sebelah seragamnya. "Jihoon, pakaikan dasiku." Ucap Soonyoung lengkap saat ia sudah berhasil menemukan yang ia cari.
Tanpa banyak bertanya ia menghampirinya. Sebaiknya lakukan saja jika tidak ingin tambah lama. Mengambil dasi yang dipegang Soonyoung. Memasangnya cepat dan tepat. Tapi Soonyoung lagi-lagi mengganggunya. Menarik pinggangnya mendekat, dan memberinya kecupan-kecupan ringan pada wajah Jihoon.
Jangan tanyakan Nyonya Kwon sedang apa, tentu saja sibuk mengabadikan momen romantis ini. Baiklah, mereka benar-benar perlu menyelesaikan kegiatan itu secepatnya. Lebih tepatnya Jihoon yang harus menghentikannya, mana mau Soonyoung melepas Jihoon begitu saja. Dengan segenap kecepatan yang bisa mereka lakukan, mereka meninggalkan rumah keluarga Kwon itu, tak lupa bekal dan mencium pipi Ibunya Soonyoung. Jiihoon pipi kiri, Soonyoung pipi kanannya. Bahagianya jadi Ibunya Soonyoung kkk~.
Begitulah mereka, memang sahabat. Sahabat yang bisa saling mencium, ciuman panas sekalipun.
.
.
.
.
End
