Dimana ada hujan di sana ada pelangi. Mungkin kalimat cheesy itu adalah penggambaran yang tepat untuk seorang Kim Jongin. Setelah bertahun-tahun berjuang dan juga menderita, akhirnya ia bisa merasakan kebahagiaannya. Setelah mengorbankan delapan tahun nya untuk Oh Sehun pada akhirnya pria itu bisa balik mencintai nya. Tapi benarkah semua berakhir disini? Ia ragu akan hal buruk yang mungkin dapat menimpanya. Dan dia tahu bahwa hal itu akan segera datang setelah Oh Sehun mengatakan perasaan nya.

Xi Luhan

Dan

Keluarga nya.

Seakan seperti habis bermimpi buruk, Kim Jongin bangun dengan keadaan pucat pasih dan tubuh berkeringat. Sehun khawatir melihat istrinya itu. Ia segera memeluk pria itu dengan erat nya. Jongin sangat suka dengan wangi Sehun, ketenangan yang Sehun selalu berikan setiap berada di sampingnya.

"Kau bermimpi buruk sayang?"

"Tidak." Jawabnya terlalu cepat , Sehun tahu bahwa ada hal ganjil di sini. Jongin segera menarik dirinya dari rengkuhan Sehun.

"Jongin aku tahu ada yang tak beres dengan mu. Katakan Jongin!"

"Ku rasa kita harus berpisah Sehun. Kau pantas bersama Luhan , bukan malah bersama dengan makhluk buruk rupa seperti ku."

Sehun terdiam. Bukan karna ia membenarkan perkataan Jongin,tapi ia menyesal karna sudah menyiakan Jongin selama ini.

"Kau tahu Sehun, aku... Aku...a- "

Chup~

"Sudah selesai Oh Jongin?" Sehun memanggilnya dengan marga Oh yang membuat mata Jongin melebar.

"Aku tak mencintai Luhan. Aku mencintai istri ku ,Oh Jongin."

"Jangan kasihan padaku Sehun ,aku rela melepaskan mu."

"Lalu bagaimana jika aku tak ingin Jongin?! Kau tak bisa memaksaku!" Sehun menatap Jongin nyalang.

"Tapi kau mencintai Luhan!?"

"Itu dulu Jongin. apakah salah jika aku berhenti mencintai nya?!"

"Sehun~" Jongin tak tahu mengapa ia menangis , senang atau sedih atas perkataan Sehun.

"Yak...kau menangis?! Kenapa menangis,huh? Apa aku terlalu kasar padamu?" Nada bicara Sehun melembut , ia sedikit merasa bersalah karna terlalu kasar pada Jongin. Padahal istrinya itu tengah hamil dan sedang sangat sensitive.

"Lalu bagaimana dengan Luhan dan orang tua ku?"

"Aku yang akan bicara pada mereka. Kau tenang saja." Sehun segera memeluk sang istri erat. Ia sudah berjanji akan menjaga Jongin dan keluarganya yang kejam itu. Karna Jongin harus bahagia.

Beberapa waktu setelah nya , Luhan beserta orang tuanya datang ke rumah Sehun. Ibu Sehun terkejut saat melihat orang tua Jongin bersama dengan mantan pacar anaknya ,karna ia tak pernah tahu soal orang tua Luhan.

"Selamat malam ibu."

"Luhan ,kau kenal dengan orang tua Jongin?"

"Bisakah kami masuk terlebih dahulu? Aku akan menjelaskan nya di dalam."

"Masuklah." Ibu Sehun segera mendatangi anak dan juga menantunya di kamar mereka.

"Jongin ada orang tuamu di bawah sana. Dan juga , Luhan." Walaupun sudah membayangkan akan keadaan ini , tetap saja Jongin gugup. Dan dilain sisi Sehun bersyukur karna tak perlu kerumah Luhan.

"Apa kabar Sehun?" Itu suara Luhan yang menyambut kedatangan Sehun dan Jongin yang baru saja menduduki sofa ruang tamu.

"Bisakah kau jelas kan apa yang terjadi di sini Junhui?"

"Sebenarnya, Luhan juga anak kami ,Yerim."

"Dia kakak Jongin. Kakak tiri."

"Lalu mengapa kalian kesini? Aku yakin jika ada hal lain yang ingin kalian bicarakan."

"Kau benar. Tentang perjodohan 8 tahun lalu itu, seharusnya Sehun..."

"Biar aku saja yang menjelaskannya. Seharusnya aku lah orang yang di jodohkan dengan Sehun ibu , bukannya Jongin."

"Kau dulu kekasih Sehun ,dan kalian di jodohkan. Tapi mengapa kau menolak nya dulu?"

"Saat itu aku masih muda dan terlalu labil. Aku juga terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Maafkan aku ibu." Luhan menunduk dalam.

"Bisakah kalian bicara langsung pada intinya?! Aku tak punya banyak waktu." Wajah lembut ibu Sehun berubah muram seketika.

"Aku ingin mengambil posisi itu lagi ibu. Aku juga tahu jika Sehun masih sangat mencintai ku sampai sekarang ini."

"Setelah menyia-nyiakan anak ku ,kau dengan seenaknya meminta nya untuk kembali? Kau bodoh atau gila?!"

"Tapi... Sehun mencintai ku ibu. Jangan pisahkan kami!" Luhan mulai menangis tersedu.

"Aku tidak mencintai mu Luhan. Aku mencintai Jongin!"

"Aku tahu kau hanya kecewa atas perilaku ku 8 tahun lalu Sehun. Dan Jongin hanya pelampiasanmu saja."

"Aku tak mungkin mencintai orang seperti mu Luhan. Kau orang yang sangat buruk."

"Yak... Sehun apa Jongin sudah mempengaruhimu?! Sialan kau Jongin!" Luhan segera berdiri dan berjalan mendekati Jongin . Tangan nya sudah terangkat dan siap untuk menampar Jongin ,namun berhasil di tahan oleh Sehun.

"Jongin tidak sepertimu Luhan. Berhenti menuduhnya."

"Jika aku tak bisa memiliki mu , maka Jongin juga tak bisa. Ayah bawa Jongin pulang. Aku tak ingin dia bersama Sehun disini!?" Katakan Luhan gila ,karna ia sudah terlalu terobsesi Dengan Sehun. Mungkin jika ada pisau di dekatnya ia sudah membunuh Jongin saat ini juga.

Tuan Xi pun bangkit dan segera menarik tangan Jongin secara paksa. Sehun berusaha menahannya ,tapi ia tahu Jongin akan kesakitan dan hal itu akan berbahaya untuk bayi nya. Dengan terpaksa ia merelakan Jongin pergi dengan harapan Jongin dan juga bayi mereka akan baik-baik saja. Sementara nyonya Yerim ibu Sehun hanya duduk mematung memandang menantu kesayangan nya di tarik paksa oleh kedua orang yang berstatus sebagai orang tuanya tersebut.

' aku tahu kau kuat sayang ,bertahanlah... aku akan membawa mu pulang secepatnya. '

Jongin dikurung selama berhari-hari di dalam kamarnya. Ia bahkan hanya di beri makan sekali dalam sehari. Nampaknya Luhan benar-benar ingin membunuh nya. Jika tidak hamil Jongin mungkin akan enggan untuk makan. Setidaknya Luhan,ibu beserta ayahnya masih berbaik hati karna belum meracuni makanannya.

Setiap malam Jongin akan menangis karna kasihan pada bayinya. Bayi itu bahkan masih di dalam kandung nya ,namun ia sudah merasakan derita seperti ini.

"Maafkan aku...hiks... aku tak pantas menjadi ibu mu. Saat kau besar nanti jangan jadi seperti ku. Jadilah seperti ibuku. Dia wanita yang kuat dan cantik. Aku juga ,hiks yakin jika ia masih hidup ia akan menjadi nenek yang baik untuk mu. Ah... Ibu ,aku merindukanmu...hiks...hiks... Mengapa kau tak kunjung menjemput ku bu...hiks...aku sudah sangat lelah..."

Cklek

Greb

Jongin dapat merasakan jika seseorang tengah memeluknya erat. Dan itu adalah ayahnya ,Xi Junhui. Namun yang Jongin tak habis fikir adalah sang ayah yang menangis di pundaknya.

"Maafkan aku Jongin. maafkan aku..."

"Maaf karna sudah membenci mu selama ini. Maaf sudah menyakitimu selama ini. Dan maaf karna tak pernah menjadi ayah untuk mu...

Tapi ketahui lah..

Jika aku benar-benar menyayangimu. Aku hanya terlalu benci saat melihat wajah mu ,kau terlalu mirip dengan ibumu. Dan aku akan kembali mengingat kematiannya yang disebabkan oleh kelahiran mu. Jika ia tak melahirkan mu ,ia mungki masih hidup dan berada di sampingku hingga saat ini.

Tapi ia terlalu menyayangimu , sehingga ia rela mempertaruhkan nyawanya untuk mu. Namun aku sadar ,jika ini bukan salah mu. Ini takdir Jongin.

Aku juga sering memukulmu dan membiarkan Luhan dan ibunya menyiksamu. Tapi ketahui lah aku akan menyesali nya saat itu juga.

Maaf kan aku Jongin. Aku bukan ayah yang baik untuk mu. Aku bahkan siap untuk kau pukuli sekarang juga."

Jongin tahu, ada alasan di balik sikap ayahnya. Ayahnya hanya terlalu cinta dengan ibunya ,sehingga ia masih belum bisa menerima keadaan ini. Ia tahu ayahnya selalu menyesali perbuatannya ,karna Jongin tahu setiap malam sang ayah akan datang dan memberikan cream pereda nyeri pada setiap luka di tubuh Jongin. Dan karna itu pula ia tak pernah membenci ayahnya. Jongin membalikkan tubuh nya untuk menghadap sang ayah. ia menghapus air mata sang ayah.

"Jangan menangis...aku sudah memaafkan mu."

"Terima kasih Jongin..."

"Tapi...bisa kah aku memanggil mu ayah? Aku selalu menginginkan hal itu sejak lama." Mata tuan Xi kembali berair. Bahkan untuk memanggil ayah saja ,anak nya harus meminta persetujuannya terlebih dahulu.

"Tentu. Kau anak ku Jongin."

"Ayah... Hiks...aku menyayangimu ,ayah." Lelaki tua itu segera menarik sang anak kedalam pelukan hangatnya.

"Aku juga menyayangimu Jongin."

"Ayah...bisa kah kau tidur dengan ku malam ini. Setidaknya aku ingin merasakan ini untuk terakhir kalinya."

"Em... tidurlah. Aku akan menemani mu."

Jongin mulai menyamankan posisinya di dalam dekapan sang ayah. Jongin merasa bahwa ini adalah moment terbaik dalam hidupnya ,ia rela jika hanya merasakan ini untuk sekali saja.

"Ini adalah moment terbaik dalam hidup ku ,ayah."

Pagi telah tiba. Jongin segera terbangun setelah ia merasakan sinar matahari yang keluar dari celah jendela kamarnya. Dan ia baru ingat jika ia tidur bersama ayahnya semalaman.

"Tidirmu nyenyak sayang?"

"Iya ayah, aku bahkan bermimpi indah."

"Jongin ada satu hal yang ingin ayah tanyakan," bibir nya sedikit keluh saat memanggil dirinya ayah di hadapan Jongin.

"Apa itu?"

"Apa kau mencintai Sehun, sayang?"

"Iya ,aku mencintai Sehun ayah."

"Kalau begitu aku akan membantumu untuk kembali pada Sehun, Jongin."

"A- ayah... benarkah?"

"Iya sayang ,ayah akan membantumu."

"Tapi bagaimana dengan Luhan?"

"Sehun mencintai mu, bukan Luhan. Ku rasa Luhan harus merelakan Sehun bersama mu Jongin. Kau sudah terlalu banyak berkorban untuk keluarga ini. Maka dari itu ,ini adalah saat nya untuk kebahagiaan mu."

Skip

"Ayah kau ingin kemana ,dengan anak haram ini?"

"Jongin itu anak ku ,dan aku ingin pergi kerumah keluarga tuan Oh ,mengantar Jongin pulang."

"Apa maksud mu Junhui?" Sang istri menimpali.

"Jongin harus pulang kerumah suaminya."

"Ayah...apa yang kau lakukan. Kau memilih anak itu dari ku?"

"Aku kira ini sudah cukup Luhan. Kita bisa lihat jika Sehun sudah tidak mencintai mu lagi. Lagi pula Sehun dan Jongin saling mencintai."

"Kau gila ayah?! Kau membela anak haram ini dari pada aku?"

"Dia bukan anak haram...dia anakku. Dan tak ada satu orang pun yang bisa mencegah ku." Tuan Xi dan Jongin segera pergi meninggalkan Luhan dan ibunya.

"Tidak...tidak. ayah...aku a-ku akan bunuh diri jika kau masih bersikeras." Luhan mengambil sebuah pisau dan menaruhnya di perpotongan lehernya.

"Lakukan Luhan. Aku tak perduli. Jongin sudah cukup menderita selama ini ,kematianmu bahkan tak akan sebanding dengan segala hal yang telah di derita nya."

"Tapi ayah...ku mohon...jangan lakukan itu. Hiks...aku sangat mencintai Sehun." Tanpa pikir panjang , Tuan Xi segera menarik Jongin yang menatap iba saudara tirinya itu,dan pergi menuju kediaman Sehun.

"Jongin... Tuan Xi?!"

Sehun terkejut saat melihat sang istri dan ayah mertua nya datang ke kediamannya.

"Sehun...aku ingin menitipkan Jongin padamu. Jangan menyakiti nya seperti ku ,karna ia terlalu mencintai mu. Jika kau menyakiti nya, kau akan berurusan dengan ku." Ini terlalu cepat untuk Sehun. Otaknya masih terlalu sulit untuk memcerna setiap kaliamat yang di keluarkan oleh tuan Xi.

"Kenapa hanya diam saja. Kau tak menginginkan putraku?"

"Bukan itu tuan , tapi aku hanya terlalu terkejut akan perubahan mu. Lalu bagaimana dengan Luhan?"

"Kau mencintai Jongin, bukan nya Luhan. Kurasa aku hanya bertindak adil sebagai ayah. Aku ingin putra ku bahagia. Dan aku yakin jika suatu saat nanti Luhan bisa mendapatkan seseorang yang benar-benar mencintai nya."

"Kalau begitu terima kasih. Aku akan menjaga Jongin sepenuh hati ku tuan." Sehun membungkuk hormat pada ayah mertuannya.

"Kau hutang bercerita padaku sayang..." Bisiknya di telinga Jongin.

Skip time.

Tahun berlalu, kini anak yang di kandung Jongin sudah besar dan menjadi lelaki yang sangat tampan yang sepertinya di turunkan oleh sang ayah , Oh Sehun.

"Howen , kau sudah kerjakan pr mu?" Tanya Jongin setengah berteriak.

"Sudah Mom. Apa Daddy sudah pulang, aku ingin meminjam mobil nya."

"Kenapa tak pakai mobil Mom saja?"

"Aku akan malu Mom. Taeoh pasti tidak akan mau berkencan jika aku menggunakan mobil itu. Mobil Daddy kan lebih bagus."

"Kau ini pasti hanya ingin pamer saja bukan. Mom tau jika Taeoh bukan pria matre seperti itu." Tak lama sang kepala keluarga datang.

"Ada apa sayang?"

"Dad ,bolehkah aku meminjam mobil mu? Aku ingin menjemput Taeoh."

"Ini. Jangan pulang larut."

"Bawa lah kekasihmu itu kemari lain kali. Mom ingin mengenalnya lebih dalam."

"Oke Mom. Aku pergi dulu, bye!"

"Lihatlah...ia begitu mirip dengan Daddy nya."

"Tentu saja. Kau ingin membuat anak yang mirip dengan mu?" Usil Sehun sambil memeluk Jongin dari belakang.

"Kau gila ,aku sudah tua. Tak mungkin bisa memiliki anak lagi."

"Kenapa tak kita coba dulu sayang..."

"YAKKK Oh Sehun!"

Jongin percaya jika ia sudah mampu melihat pelanginya. Walau pun suatu saat pelangi itu akan hilang ,setidaknya ia tak perlu bertemu dengan hujan dan badai lagi. Karna ketika pelangi datang ,itu adalah tanda bagi matahari untuk bersinar.

Dan itu pula yang menandai hari penuh kebahagiaan untuk Jongin.

The end.

Note:

Maaf yah karna seharusnya ff ini di publish sebelum hiatus , tapi aku malah publisnya sekarang

Selamat membaca yah...