"Terima kasih banyak sunbae."
"Tak apa. Bukan kah sudah ku katakan untuk memanggil ku Hyung!" Sehun mengusap rambut Jongin.
"Baiklah...hyung." setelah itu Jongin turun dari mobil mewah Sehun dan melambaikan tangannya. Ia meminta Sehun untuk mengantar nya ke rumah orang tua nya karna ia masih belum bisa bertemu dengan Kris.
Drrt drrt...
Gege is calling
Jongin mengabaikan telpon nya dan segera masuk kedalam rumah. Di sana ada ayah ,ibu dan kakak perempuannya yang tengah berkumpul di ruang keluarga.
"Jongin kau pulang? Dimana Kris?"
Ibu nya ini, selalu saja menanyai keberadaan Kris dan bukannya menyambut anaknya sendiri.
"Tak tahu!?" Jongin segera masuk ke dalam kamarnya lalu membanting pintu. Ponsel nya tak berhenti bergetar karna pesan dan juga telpon dari sang kekasih. Akhirnya Jongin memilih mencabut baterai nya dan pergi mandi karna ia tak sempat mandi saat di rumah sakit tadi.
Skip
Kris khawatir karna saat tiba di apartment ,pagi tadi, ia tidak dapat menemukan Jongin dimana pun. Ia terus saja menghubungi kekasihnya itu namun tak pernah di jawab. Akhirnya Kris memutuskan untuk menghubungi Jung Ah -kakak Jongin.
"Halo noona, apakah Jongin ada di rumah?"
"iya. Dia baru saja tiba tadi." Kris mengerutkan dahinya.
"Baru tiba? Jadi dia tidak tidur di rumah?"
"Eoh? Dia tak bersamamu?"
"Tidak. Baiklah aku akan kesana noona."
Pip
Apa ini? Jadi Jongin tidak pulang ke apartment nya mau pun ke rumah orang tua nya. Lantas kemana saja dia semalaman ini.
Kris segera melajukan mobil nya menuju kediaman keluarga Kim. Saat dia datang ayah ,ibu dan kakak Jongin menyambutnya dengan senyum hangat.
"Dia di kamar. Sedang tidur mungkin." Tanpa berfikir dua kali Kris segera masuk ke kamar sang kekasih.
Krieet
Kris duduk di pinggiran kasur Jongin. Ia mengangkat tangan kanannya untuk menyentuh wajah sang kekasih yang terlihat pucat. Marahnya Kembali meluap saat melihat wajah sang kekasih yang terlihat sangat polos saat ini.
Chup
"Ge~" Jongin terbangun sesaat setelah Kris mencium pucuk kepalanya.
"Eoh...maaf aku membangunkan mu." Sementara Jongin hanya memperlihatkan wajah kecut nya. Masih kesal.
"Kemana kau semalam ? Tak kerumah ku ataupun ke sini."
"Tentu saja aku di rumah sakit. Kau saja yang tak datang!" Jongin membalikkan tubuhnya membelakangi Kris.
"Bukan kah kau sudah pulang kemarin siang?"
"Aku bahkan baru pulang pagi tadi." Kris segera berbaring dan memeluk sang kekasih dari belakang.
"Kemarin aku meminta sekertaris Im untuk memastikan keadaan mu. Tapi ia bilang kau sudah pulang kemarin. Maafkan aku."
Perempuan licik itu. Jongin kesal pada wanita itu. Dia bahkan berani berbohong pada Kris.' Awas saja wanita itu.' Batin Jongin.
"Kalau begitu pecat dia. Aku tak suka dengannya." Jongin berbalik dan melepaskan pelukan Kris.
"Tidak bisa sayang ,sebelum aku dapat penggantinya "
"Kalau begitu carilah... dia sudah berbohong pada mu. Bisa bisa kau benar-benar akan memutuskan ku nanti ."
"Nini... jangan kekanakan seperti ini. Mungkin saja dia salah dengar kemarin." Kris kembali membujuk Jongin.
"Sayang..."
"Bear?"
"Baiklah aku akan menggantinya secepat mungkin."
"Em..."
Chup
"Jangan merajuk seperti itu. Kau sangat menggemas kan"
Chup
Chup
Chup
"Ge ~"
"I love you ,bear."
"Me too ge~" Jongin memeluk Kris.
"Kita pulang oke?"
"Tidak mau. Aku ingin di sini saja."
"Tapi kita tidak bebas disini."
"Kalau begitu pelan-pelan saja ge~ lagi pula aku baru sembuh."
"Baiklah." Kris segera mengambil posisi mengungkung tubuh Jongin dan menciumnya lembut.
Tok tok
"Ayo makan siang dulu...ibu sudah memasak banyak."
"Ge~ sepertinya kita harus menundanya hingga nanti malam."
o
o
o
Keesokan harinya Jongin sudah kembali bekerja walaupun bagian bawahnya terasa perih karna Kris semalam.
"Sudah sehat Jongin?" Sapa Sehun saat berada di lift. Jongin hanya menganggukan kepalanya. Tak lama kemudian bos sekaligus kekasihnya masuk kedalam lift tersebut. Secara otomatis Sehun dan Jongin membungkuk hormat.
"Masih 'sakit' pegawai Kim?" Untuk Sehun itu wajar karna saat Jongin pingsan Kris ada di sana. Tapi untuk Jongin pertanyaan itu sangat lah vulgar. Bagaimana tidak 'sakit' yang di maksud Kris di sini adalah bagian bawahnya.
"Tidak juga tuan. Sudah sedikit lebih baik." Jongin menjawab terbata.
"Tuan Oh bagaimana laporan keuangan bulan ini?"
"Saya sudah menyelesaikannya. Nanti saya akan menyuruh salah satu staff untuk menyerahkan pada anda nanti."
"Oke. Saya tunggu segera."
Setelah itu suasana hening. Ponsel di kantung Jongin bergetar singkat tanda pesan masuk. Ia melihat pesan masuk tersebut.
From : Gege
'Nanti kau saja yang mengantar dokumennya. Aku ingin memastikan 'sesuatu' '
"Ukhuk..."
"Kau tak apa Jong?" Sehun segera memegang bahu Jongin. Sementara Jongin berusaha mati-matian untuk menutupi wajah merahnya karna isi pesan yang di kirimi Kris.
o
Skip
o
Tok tok
"Masuk." Jongin segera masuk dan mengunci pintu seperti perintah Kris. Tapi bukan nya mendekat ia malah berdiam diri di dekat pintu.
"Kemari lah..." Jongin buru-buru menggeleng.
"Ada apa lagi?"
"Aku masih melihat wanita itu di sana." Jongin menatap lantai. Merajuk.
"Bukankah aku bilang segera. Aku masih mencari pengganti yang sesuai Jongin. Aku tidak bisa mempekerjakan orang sembarangan." Kris melangkah mendekati sang kekasih.
"Tapi kau mempekerjakan ku. Aku kan bodoh..." Kris terkekeh dan mengambil alih dokumen yang di bawa Jongin untuk di letakkan di meja nya.
"Kau kan kekasih ku. Toh semua ini akan jadi milikmu nantinya." Jongin memeluk Kris erat.
"Apa bokongmu masih sakit?" Jongin mengangguk.
"Ermhh... ge~" Kris meremat bokong Jongin. Memijitnya pelan.
"Ge...akh..." Kris segera melumat mulut Jongin untuk meredam desahan pria tan itu. Kini tangan Kris menuju kejantanan Jongin. Ia meremat benda mungil itu.
"Ahhh..." Jongin mendesah hingga ciuman mereka terlepas. Namun Kris segera kembali menciumnya dalam.
Tok tok tok
"Tuan Wu. Rapat akan di mulai 15 menit lagi."
"Akh... sial sekali. Aku akan memakanmu malam ini Jongin."
Setelah itu Jongin dan Kris merapihkan pakaian mereka. Kris kembali duduk di kursinya sementara Jongin membuka pintu dan pergi melewati sekertaris centil itu.
'Apa bibir nya memang semerah itu?' Tanya Nayeon dalam hati.
Tapi ia tak perduli dengan pria itu yang ia perduli kan adalah Presdir nya itu.
"Tuan rapat nya akan di mulai 15 menit lagi. Saya sudah menyiapkan dokumen yang anda perlukan." Kris yang pura-pura sibuk pun hanya berdehem sebagai jawaban.
'Tunggu! Apa tuan Kris menggunakan lipstik? Mengapa bibirnya merah seperti itu??!'
"Kau tunggu lah di ruang rapat. Aku akan menyusul."
o
o
o
o
o
o
"Hahh hahh." Jongin merasa seluruh pasokan udaranya kembali setelah Kris menghajarnya habis-habisan selama 5 jam.
"Aku rasa aku tak bisa kerja esok pagi ge~ aku izin yah..."
"Terserah kau saja. Tapi jangan lupa surat izinnya."
"Oke."
"Kalau begitu bagaimana jika 2 ronde lagi." Setelah itu Kris kembali menghajar Jongin hingga pagi hari.
Skip
Kris terlambat masuk kantor hari ini. Bagaimana tidak, dia bahkan baru selesai menghajar Jongin pukul 4 subuh tadi dan baru tidur 30 menit setelahnya sehingga ia hanya mendapat jatah tidur selama 4 jam.
Tapi ia kembali tersenyum saat mengingat kejadian semalam. Itu sangat indah. Dia jadi tak sabar untuk segera menikahi Jongin.
"Tuan Kris. Ini surat izin dari Kim Jongin." Nayeon menyodorkan sebuah surat kepada Kris. Sudah jadi peraturan di perusahaan ini bahwa semua pegawai yang sakit atau pun izin harus menyerahkan suratnya kepada Kris melalui sang sekertaris.
Kris mengambil surat itu dan masuk ke ruangannya. Ia juga bingung kapan Jongin menulis surat ini. Karna setahunya si beruang besar itu masih tertidur pulas saat ia tinggal tadi. Kris membuka surat tersebut namun telinganya memerah saat membaca kalimat demi kalimat yang di tulis oleh Jongin.
Dengan hormat,
Saya, Wu Jongin tidak dapat hadir pada hari ini di karenakan sakit. Kekasih saya terlalu tidak sabaran semalam dan menghajar saya selama berjam-jam. Saya sudah memperingatkan nya untuk bermain pelan. Namun ia malah seenaknya. Ia menghajar saya dengan benda nya yang berukuran besar itu. Lubangku terasa sangat perih. Namun itu nikmat. Saya harap saya bisa menghabiskan malam panas lagi dengan nya.
Terima kasih.
Beruang sialan. Kris akan memastikan mulut pria tan itu akan tersedak dengan miliknya saat di rumah nanti.
o
o
o
o
o
Omake.
Setelah keluar dari lift.
"Hyung, biar aku saja yang menyerahkan dokumen nya pada tuan Wu. Aku juga ingin minta maaf karna kejadian kemarin."
"Baiklah. Sebentar aku ambilkan dokumennya." Setelah beberapa menit Sehun keluar dengan membawa setumpuk dokumen untuk di berikan pada Kris.
Jongin segera menunggu Sehun yang tengah mempersiapkan dokumen nya. Tak lama kemudian Sehun menghampiri nya dan menyerahkan tumpukan dokumen.
"Jangan terlalu lama. Setelah mengantar ini kau akan ikut aku rapat bersama tuan Wu dengan beberapa investor."
"Nde~~ aku ke atas dulu hyung."
Jongin menunggu lift terbuka, dan sial nya dia malah terjebak dengan wanita sialan itu. Sekertaris Im.
"Apa yang kau bawa pegawai Kim?"
"Laporan keuangan."
"Kau ingin memberinya pada Kris oppa?"
'Oppa? Jalang sialan!'
"Iya."
"Berikan saja padaku." Sekretaris Im langsung mengambil alih seluruh dokumen yang Jongin pegang.
"Yak! Kembalikan. Aku yang di tugasi oleh Manager Oh" Jongin kembali merebut dokumen itu.
Tingg
Pintu lift terbuka, dan Jongin segera berjalan mendahului Nayeon, dan memasuki ruangan Kris dengan wajah kesal.
Tbc
note : aku geli sendiri nulis chap ini . tpi gpp lah. ini chap pemanasan sebelum masuk ke inti masalah. kalo responnya bagus aku update chap 3 nya bsok deh...plus klo review nya banyak...bakal ku panjangin chap 3 nya. sekian
