Sudah sebulan berlalu banyak hal yang berubah. Dari pemecatan sekertaris Im hingga sikap Kris padanya.Sekertaris Im sudah di pecat dari perusahaan. Walaupun saat itu Kris harus mendapatkan penolakan keras dari Nayeon, yang bahkan tak berhenti mengamuk karna tidak terima. Setelah seminggu, datanglah sekertaris baru. Namanya Kwon Yuri. Sekertaris baru itu sangat ramah menurut Jongin. Dia juga tidak sombong seperti sekertaris Im. Dia bahkan sering sekali mengajak Jongin makan bersama di kafetaria atau di kafe sebrang . Sementara Kris, entah lah...Laki-laki itu sangat sibuk bahkan terlihat menjauhinya.

"Jonginiee, aku ingin makan di kafe hari ini." Yuri bilang Jongin adalah sahabat nya, karna Jongin sangatlah imut dan juga kulit mereka yang hampir serupa.

"Tapi aku harus menyelesaikan ini. Bisa-bisa Sehun hyung memarahiku jika ini belum selesai."

"Ayolah Jonginiee aku ingin bercerita padamu."

"Baiklah...kau ini!"

"Yak! Aku lebih tua dari mu. Kau harus memanggil ku noona!"

"Aku tak mau. Kau saja lebih pendek dari ku." Jongin segera berlari menghindari cubitan Yuri.

"Kemari kau hitam!!"

"Kau juga hitam noona." Yuri memajukan bibirnya, dan itu sangatlah imut menurut Jongin.

"Ah...imutnya." Jongin berhenti berlari dan mencubit pipi Yuri.

"Jongin..."

"Jadi apa yang mengganggu noona ku ini?"

"Aku akan menceritakan nya saat di kafe nanti."

Skip

"Jadi kau di jodoh kan?"

"Aku sudah menolaknya. Tapi ibuku tetap memaksa." Jongin terkekeh saat wanita yang 2 tahun lebih tua darinya itu kembali memajukan bibir nya.

"Lakukan saja noona. Mungkin dia jodoh mu."

"Tapi aku kan suka dengan orang lain."

"Siapa?" Yuri tersenyum ,lalu menggenggam tangan Jongin.

"Kau."

Ukhuk

Jongin tersedak minumannya. Sementara sang pelaku hanya tersenyum geli menatapnya.

"Jangan bercanda noona!"

"Tidak. Maksudku...jika aku harus menyukai seseorang, seseorang itu pastilah seperti mu."

"Kau yakin?" Yuri menganggukkan kepala nya.

"Memangnya siapa laki-laki yang akan di jodohkan dengan mu?"

"Tuan Wu."

o

o

o

o

o

Jongin pulang ke apartment Kris dengan lesu. Dia bahkan beberapa kali di marahi karna tidak fokus bekerja. Ia masih memikirkan perkataan Yuri tadi. Mulai dari salah mengarsip data, menginput bahkan ia membuat mesin foto kopi kantor rusak.

"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" Ia membuka pintu apartment setelah memasukkan beberapa digit angka.

"Kau baru pulang?" Kris terlihat baru saja selesai mandi dengan bathrobe nya.

"Em..." Jongin mengangguk singkat dan segera melewati Kris untuk masuk ke kamarnya.

'Kenapa dia?' Kris bingung karena ini pertama kalinya ia melihat Jongin seperti itu ,setelah sekertaris Im di pecat.

Cklek

"Keluarlah ge~ aku ingin sendirian."

"Jong-"

"Bukankah kau akan pergi malam ini?" Jongin menatap Kris datar. Kris terkejut. Dari mana Jongin bisa tahu jika malam ini dia harus pergi ?

"Iya ben-"

"Kalau begitu pergilah. Kau mungkin akan terlambat makan malam." Kris kembali terkejut saat Jongin menyebutkan 'makan malam'. Namun Jongin segera mendorongnya keluar dari kamar dan mengunci pintu kamarnya.

'Kenapa kau tak pernah jujur ge~'

Flashback on

"Tuan Wu." Jongin terdiam, mencerna semua kalimat yang di ucapkan Yuri.

"Lalu apakah dia sudah tau?"

"Ya. Semalam aku dan orang tua ku makan malam di rumah nya."

"Dia menolak nya?"

"Tidak tahu. Dia hanya diam semalam, mungkin ia sudah tau tentang hal ini lebih dulu dari ku. Malam ini bahkan kami di paksa untuk pergi makan malam berdua."

Jongin tak tahu harus menjawab apa lagi. Kenapa Kris tak berbicara apapun semalam? Jongin bahkan tak tahu jika Kris makan malam di rumah orang tuanya.

"Lakukan saja. Ku rasa tuan Wu orang yang baik."

"Kau gila?! Dia itu sangat datar dan tidak asik. Aku tak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan pria seperti itu! Walaupun dia benar-benar tampan."

'Pria itu bahkan satu-satunya orang yang paling aku cintai.' Jongin tersenyum berusaha meyakin kan Yuri. Meskipun hal yang ingin ia lakukan saat ini adalah menampar Yuri. Tapi dia tidak bisa, tidak akan pernah bisa.

Flashback off

o

o

o

o

o

Cinta itu bukan lah hal yang harus kau mengerti. Cukup pahami itu,maka ia yang akan menuntunmu kedalam kebahagiaannya. Mencintai bukanlah keadaan dimana ada seorang pria dan wanita. Mencintai bisa dalam keadaan apapun. Bahkan dengan jenis yang sama denganmu.

Kris ingin marah pada ayah dan ibunya. Namun ia bisa apa? Ibunya selalu beranggapan bahwa ia terlalu tertutup. Tak bisa bersosialisasi , hingga tak punya kekasih. Tapi orang tuanya salah, dia mempunyai orang yang sangat ia cintai. Hanya saja, ia akan terdiam saat sang ibu memintanya untuk menunjukan siapa sosok itu. Ia bukan malu, hanya saja...ia tahu, ibunya tak akan pernah mau menerima Jongin.

"Kris kau tak apa?" Lamunannya terhenti begitu sang wanita melambaikan tangan di depan wajahnya.

"Ah...tidak. ku rasa ini sudah larut, aku akan mengantarmu pulang." Ia segera bangkit dari kursinya dan pergi ke parkiran untuk mengantar calon istrinya itu.

"Terima kasih untuk malam ini" mau seberapa besar pun ia membenci Kris, ia masih tau cara sopan santun.

"Jadi apa kau menerima perjodohan ini?" Tanya Yuri malu-malu.

"Tidak."

"Oh... baiklah."

Selanjutnya keadaan di dalam mobil kembali hening. Baik Kris maupun Yuri tak ada yang mengeluarkan suara, masih sibuk dengan pikiran masing-masing.

'Bagaimana aku harus menjelaskan ini pada Jongin?'

"Kris."

"Ya?"

"Kau tahu Kim Jongin? Staff keuangan kita?" Apa lagi ini, astaga Kris baru ingat jika Jongin dekat dengan Yuri. Dan jangan bilang jika-

"Maafkan aku. Aku memberitahunya soal masalah perjodohan ini."

CKITTT

"KAU GILA?!" Yuri sudah memperkirakan ini akan terjadi, tapi dia tak tahu jika reaksinya akan sebesar dan semarah ini.

"Aku...aku sangat stres dengan perjodohan ini. Aku butuh seseorang sebegai tempat cerita."

"Tapi kenapa harus Kim Jongin?!"

"Maaf kan aku. Aku tak tahu jika kau tak begitu menyukainya."

"Turun."

"A-apa mak-"

"Turun sekarang juga!"

Setelah Yuri turun dari mobilnya ia segera menuju ke apartmentnya. Bahkan ia tak perduli dengan ibunya yang sedari tadi mengikutinya dari belakang. Tujuannya kali ini adalah Kim Jongin.

o

o

o

o

o

"Kim Jongin!" Kris mengetuk pintu kamar Jongin tak sabaran.

Tokk tokk

Cklek

Krieet

"Ada apa? Kau sudah ingin jujur padaku?"

"Maafkan aku Nini..."

"Sejak kapan Kris, sejak kapan kau mengetahui perjodohan itu?" Mata bulat itu mulai berkaca-kaca.

"Seminggu yang lalu." Kris merundukan pandangannya, tak mampu menatap pria yang di cintainya itu.

"Jadi itu sebabnya kau menghindari ku akhir-akhir ini."Jongin tersenyum sambil menutup matanya, seolah ia turut bahagia namun tak mampu menerimanya. Yuri teman baiknya, ia pantas untuk Kris. Walau pun ia tahu bahwa ia begitu mencintai pria tinggi ini. Tapi Jongin tak boleh egois, ia tak bisa mengorbankan banyak orang lagi. Ia tak ingin banyak orang yang menderita karna keegoisan nya.

"Kalau begitu...huftt... mari kita akhiri ini tuan Wu."

"Tidak Jongin! Apa yang kau katakan?! Kau gila? Kenapa kita harus mengakhiri ini?! Aku mencintai mu Nini..." Kris jatuh berlutut di depan Jongin. Sementara Jongin terkejut melihat orang yang berada di belakang Kris.

"Aku - tidak, kita seharusnya mengakhiri ini sejak lama Kris. Kita berdua Sama-sama pria. Hubungan kita tidak benar. Ini sudah sejak awal ge~" Kris memeluk pinggang Jongin yang setara dengan tubuhnya sambil terus menggeleng.

"Jangan Jongin...ku mohon, hiks..." tak lama sosok di belakang Kris itu pergi.

"Kau membuatku terlihat sangat jahat Kris ge~."

"Besok aku akan memberitahu ibuku masalah ini. Aku akan menolak soal perjo-"

"Tak perlu ge~ ibumu sudah tahu semuanya." Kris bangkit dan menatap Jongin terkejut.

"Dia mengikutimu kesini. Dan barusan ia pergi..." Jongin menghela nafas panjang , "dan aku tak yakin jika ia akan senang dengan ini semua."

"Aku akan meninggalkan keluarga ku, Nini. Aku tak perduli dengan mereka."

"Kau sudah dewasa ge~ berfikirlah sedikit rasional. Tindakan sangatlah kekanakan. Meninggalkan keluaga mu? Lalu bagaimana jika hubungan kita berakhir nanti nya? Kau mungkin tak akan punya siapa-siapa nantinya."

"Apa kau memang tidak benar-benar menganggap hubungan ini dengan serius Jong?" Tidak ada lagi pandangan menyedihkan, Kris menatap Jongin dengan segala amarahnya.

"Kau bodoh?! Siapa orang yang menganggap serius hubungan sesama jenis hah?! Siapa laki-laki bodoh yang ingin menghabiskan sisa hidup nya dengan seorang laki-laki juga? "

"Bajingan kau!" Semarah apapun Kris, ia tak akan pernah memukul Jongin. Bahkan pada saat ini, walaupun ia benar-benar ingin menampar mulut kurang ajar itu. Tapi dia terlalu mencintai pria itu.

"Aku sudah membereskan barang ku. Aku akan pergi malam ini."

"Pergilah..." Kris meninggal kan Jongin dan pergi ke kamarnya.

o

o

o

o

o

"Kris...Kris..." Kris membuka mata sembabnya. Ia yakin bahwa ia baru saja tidur karena semalaman ia tak hentinya menangis.

Tokk tokk

Tokk tokk

"Kris kau tak apa?" Suara wanita itu terus saja menggema memanggil nya.

Cklek

"Kenapa kau kemari?!"

"Ibumu bilang kau sakit...j-jadi a-"

"Pulanglah!"

BRAKK

"Tapi ibumu-"

"Pergi ku bilang,sialan!" Kris masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Bagaimana pun juga, ia harus tetap ke kantor karena itu sudah menjadi tanggung jawab nya.

Skip

"Jongin tolong input data keuangan bulan ini."

"Baiklah."

"Kau bisa mengambil berkasnya di ruangan tuan Wu." Setelah itu Sehun pergi kembali ke dalam ruangannya.

"Bagaimana ini...aku benar-benar tak bisa bertemu dengan nya."

Setelah berfikir panjang, Jongin akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri untuk menemui Kris. Saat ia keluar dari lift ia melihat Yuri sedang duduk di meja kerjanya.

"Jonginiee..." Yuri datang mengahampirinya. Jongin baru ingat jika disini ada Yuri, ia bisa menyuruh wanita itu untuk mengambilkan berkas yang ada di dalam ruangan Kris.

"Noona, bisa kah aku minta tolong?"

"Apa? Pasti akan ku bantu." Wanita itu tersenyum hingga matanya menyipit.

"Bisakah kau ambilkan aku berkas keuangan yang ada di dalam ruangan tuan Wu?"

"Baiklah. Sebentar." Yuri masuk ke dalam ruangan itu. Namun beberapa menit kemudian dia kembali ke luar tanpa membawa apapun.

"Tuan Wu bilang, kau harus mengambilnya sendiri." Jongin menghela nafas kasar dan masuk ke dalam ruangan itu.

Cklek

"Selamat siang tuan." Jongin segera menundukan badannya hormat. dengan tiba-tiba Kris datang untuk mengunci pintu dan langsung memeluknya.

"Jong- hiks..."

"Tuan, mengapa anda menangis?" Jongin sebenarnya juga sangat ingin menangis saat ini, ia tak pernah melihat Kris dengan keadaan sekacau ini selama mereka bersama.

"Hiks...hiks..."

"K-kenapa kau menangis?" Suaranya mulai bergetar. Beruntunglah ruangan ini kedap suara, hingga ia tak perlu khawatir jika Yuri akan mendengar pembicaraan mereka.

"Kau membuat ku terlihat jahat ge~" Jongin membalas pelukan Kris tak kalah eratnya.

"Jangan pergi...jangan seperti ini, aku tak bisa Jongin..."

"Kita tak boleh egois."

"Kenapa?! Kenapa semua orang bisa sedangkan kita tidak?!" Kris meninggikan suara nya. "Aku tak akan melepaskan mu Nini...meskipun kau membenci ku." Tak lama Kris mendengar suara isakan dari Jongin.

"Kau harus benar-benar menepatinya ge~ jika tidak aku yang akan meninggalkan mu." Setidaknya Kris akan mencoba segala cara untuk mempertahankan Jongin, walau ia harus kehilangan marganya sekalipun. Jongin melonggarkan pelukannya dan mendongak menatap Kris.

"Bagaimana dengan Yuri noona?"

"Ia juga akan menolak perjodohan ini." Kris menangkup pipi Jongin dan mengecupi bibir tebal pria tan itu.

Sedangkan diluar.

"Mengapa lama sekali? Apakah Jongin dimarahi Kris karena aku memberitahunya soal perjodohan itu?"

"Perjodohan apa?" Tiba-tiba seorang laki-laki menghampirinya.

"WOAH! Ah...kau mengagetkan ku." Yuri mengusap dadanya. "Kau mencari Jongin? Dia masih di dalam sana."

"Benarkah? Ini sudah lebih dari setengah jam. Mengapa ia lama sekali di dalam?" Yuri hanya mengangkat bahunya, tak tahu.

"Tapi perjodohan siapa tadi yang kau bicarakan?"

"Oh...itu- em...bagaimana yah?"

"Kali ini siapa orang yang di jodohkan dengan mu?"

"Tu-tuan K-Kris..."

"Ah...kau ini! Bilang pada orang tua mu, aku akan malam makan dirumah mu malam ini." Yuri melebarkan matanya.

"Benarkah? Woah!" Yuri segera memeluk pria itu.

"Seharusnya kau melakukan itu sejak kemarin-kemarin."

"Cih...kau ini. Kita bahkan baru berkencan 2 bulan lalu."

"Kau ingin melamarku?" Laki-laki itu mendorong kening Yuri pelan.

"Aku tidak ingin menikahi wanita cerewet sepertimu." Setelah itu sang pria langsung pergi meninggalkan nya.

"Yak! Kemari kau Oh Sehun!"

o

o

o

o

o

Plakk

"Apa yang kau bicara kan Kris?!"

"Aku ingin menikahi Jongin bu..."

"Kau gila,hah? Mengapa harus menikahi lelaki jika masih banyak perempuan yang menginginkanmu!"

"Tapi aku tak akan pernah menikah dengan orang lain selain Jongin. Bahkan jika kau menendangku dari rumah ini, atau bahkan menghapusku dari daftar keluarga, aku tak perduli."

"KRIS WU!"

"Ayah...aku mohon." Kris sudah berlutut di hadapan kedua orang tuanya, sedangkan Jongin terus merunduk di sudut ruangan.

"Apa Jongin mu itu bisa hamil? Apa dia bisa memberimu keturunan?"

"I-itu.."

Uwek.

Jongin menutup mulutnya ketika mual yang sedari tadi ia tahan malah semakin kuat.

"Jong-"

"Dimana kamar man- uwek..." Kris langsung mengantar Jongin ke kamar mandi. Namun saat di kamar mandi Jongin tidak memuntahkan apapun. Kris pikir Jongin pastilah masuk angin.

"Ah...mengapa aku mual sekali?"

Brakk

Jongin pun jatuh pingsan. Kris segera menggendongnya ke kamar dan menelpon dokter pribadi keluarganya.

Skip

"Bagaimana keadaan nya dokter?" Ibu Kris adalah orang yang pertama kali mengeluarkan suara.

"Dia tak apa. Hal ini sudah biasa terjadi di tri semester awal. Tuan Kim harusnya lebih berhati-hati dan menjaga pola makannya. Aku akan memberikan resep untuk vitaminnya."

"Tri semester? Apa maksudnya?" Ibu Kris kembali bertanya.

"Oh...jadi kalian belum tahu? Tuan Kim tengah hamil sekitar 5 mingguan."

"D-dia bisa hamil?" Ayah Kris mengeluarkan suara.

"Tentu. Hal ini terjadi pada beberapa pria dan kehamilan pada pria juga lebih beresiko pada kesehatannya."

"Pantas saja ibu Jongin menyuruhku untuk selalu memakai pengaman."

Plakk

"Ayah!"

"Terima kasih dokter Wang. Anda bisa pulang sekarang." Tak lama setelah dokter Wang pulang, ayah Kris kembali memukul kepala anak nya.

"Kau- bagaimana bisa..."

"Ibu kau lihat sendiri sekarang. Jadi aku mohon izin kan kami menikah, oke?!" Kris menggenggam kedua tangan sang ibu."Kau ingin cucu mu tak memiliki ayah?"

"Restui saja sayang...kau ingin kehilangan putra mu." Pada akhirnya ibu Kris mengangguk kan kepalanya. "Kalian keluar lah dulu. Aku ingin berbicara pada Jongin."

"Tapi dia masih tidur bu"

"Keluarlah. Aku akan menunggu nya hingga bangun." Setelah itu Kris dan ayah nya keluar dari kamar Kris meninggalkan sang ibu di dalam sana bersama Jongin.

"Terima kasih Jongin. Aku merestui kalian bukan karna kau sedang hamil. Tapi ini semua murni karna perbuatanmu. Kau bahkan rela melepaskan putraku, padahal kau sangat mencintainya. Aku mendengar seluruh ucapanmu kemarin. Aku minta maaf."

"Nyonya Wu." Wanita itu terlalu larut dengan fikirnya. Sehingga Ia tak sadar jika Jongin sudah bangun sedari tadi.

"Maafkan aku nyonya. Aku pasti membuat anda malu. Maaf karena aku mencintai putramu."

"Tidak. Kris selalu menjadi anak yang baik selama ini. Ia selalu patuh pada kami. Aku tak bisa selamanya menjadi egois. Anak ku juga berhak bahagia dengan orang yang di cintainya."

"Terima kasih nyonya." Jongin bangun dan memeluk wanita itu.

"Kau ini...panggi lah aku ibu. Seperti Kris memanggil ibumu. Sebentar lagi aku akan menjadi ibu mertua mu."

"Baiklah, ibu." Tak lama terdengar bunyi ketukan dari luar pintu.

"Ibu, apakah Nini ku sudah sadar?"

"Masuklah. Aku sudah selesai dengan urusanku." Tak lama kemudian Kris masuk dan memeluk Jongin erat.

"Kita harus beritahu ibu mu Nini. Kau hamil!"

"Benarkah?" Kris hanya mengangguk semangat.

"Aku selalu memperingatkan mu untuk selalu memakai pengaman."

"Aku tak tahu jika kau bisa hamil sayang." Kris mengecup kening Jongin pelan. " Kita harus menikah secepatnya,oke?"

"Kkk~ terserah kau saja."

o

o

o

The end.

o

o

o

Note: ending nya maksa banget yak? Aku tau kalian pasti kecewa. Aku udah buat cerita lainnya sih. Tapi gk janji bisa update cepet karna aku takut kalian kecewa kalo jalan ceritanya kecepetan kaya gini. Thanks juga buat yang udah review.sampai ketemu di next story yah.