Preview chap...

Di apartement

Kris memasukkan kode pintu dengan susah payah karena Jongin yang sedari tadi bergerak tidak karuan di punggung nya.

Cklek

Pintu pun berhasil terbuka. Dengan segera Kris membawa Jongin menuju kamarnya. Dia merebahkan pemuda itu diatas kasur lalu membuka sepatu serta kaos kaki yang dikenakan oleh Jongin.

"Kau mau kemana?" Jongin menahan lengan Kris yang hendak keluar dari kamarnya.

"Aku ingin membuatkan teh madu untuk mu."

Jongin boleh saja terlihat mabuk, tapi dia masih sadar 100%. Bahkan dia yang sengaja menyuruh Taehyung untuk memberitahu Kris jika dia sedang mabuk-mabukan di bar agar pria itu datang menjemputnya.

"Ini. Minumlah..." pria keturunan China-Kanada itu memberikan segelas teh madu pada Jongin.

Bagaimana mungkin Jongin bisa merelakan pria ini, Kris sudah terlalu mengenali nya. Sifatnya, tingkah lakunya, hingga kebiasannya sudah di ketahui dengan baik oleh pria itu.

"Jelaskan padaku tentang kejadian kemarin itu!"

"Dia Baekhyun, selingkuhan ku."

"Sudah berapa lama?"

"3 bulan." Jongin berusaha untuk menenangkan dirinya terlebih dahulu. Dia tak boleh emosi saat ini, karena jika dia emosi maka masalah ini tak akan dapat diselesaikan saat ini juga.

"Kau tahu... ini sudah kedua kalinya aku melihat mu selingkuh Yifan ge. Ini sudah cukup membuktikan bahwa kau tidak mencintaiku lagi." Jongin berusaha keras untuk menahan air matanya. Otaknya mengingat jelas perkaraan Kris 4 tahun yang lalu. Jika dia tidak menyukai orang yang cengeng, karena hal itu sangat menyusahkan baginya.

"Beri aku satu kesempatan lagi Jong. Aku tidak akan mengingkarinya kali ini."

"Omong kosong ge."

"Hey lihat aku, Jongin! Aku tahu aku memang salah namun aku akan berusaha untuk memperbaikinya."

Jongin tak akan mungkin menolak setiap kali melihat mata pria itu. Semakin menatapnya membuat Jongin makin terhisap kedalam pesona pria itu.

"Kau mungkin akan kembali melakukannya Yifan ge..."

"Itu memang benar. Tapi Jongin bisakah kita saling membuat perjanjian?"

"Aku mungkin akan mengulangi kesalahan yang sama nantinya. Namun aku berjanji hal ini hanya akan terjadi selama masa pacaran kita saja, aku akan benar berhenti saat kita sudah menikah nanti."

Woah! Boleh kah Jongin bertepuk tangan sekarang? Mengapa si bajingan ini bisa sangat santai mengatakan hal seperti itu? Dan bagaimana mungkin Jongin bisa mengenal nya? Jika Jongin tahu Kris memiliki sifat biadab seperti ini, sudah dapat Jongin pastikan bahwa Jongin akan menolaknya dari dulu.

"Biarkan aku berselingkuh sebanyak yang ku mau untuk saat ini. Dan aku berjanji hanya akan setia padamu saat kita sudah menikah nanti."

"Kalau begitu kita akhiri saja hubungan ini."

Chap 2

"Kau yakin bisa hidup tanpa ku?"

'Tidak. Tentu saja tidak bodoh!' Mengapa Jongin menjadi begitu murahan sekarang? Sudah di selingkuhi berkali-kali, namun masih mengharapkan orang itu.

"Ayolah. Hanya sampai kita menikah. Setelah itu aku hanya akan menjadikanmu satu-satu nya pria yang ada dihatiku." Ucapan dari mulut manis Kris membuat kepala Jongin mengangguk secara tidak sadar.

Chup

"Kau boleh melakukan nya. Tapi aku ingin mereka mengenal mu sebagai Kris Wu, bukannya Wu Yifan. Karena Wu Yifan adalah milik ku." Kris menganggukkan kepalanya, kemudian kembali mencium Jongin dengan lembut.

.

.

.

Perjanjian bodoh itu pada akhirnya hanya dapat menyakiti Jongin. Selama dua bulan ini dia terus saja melihat Kris bersama dengan wanita cantik yang dia ketahui bernama Kim Jeongyeon. Entah mengapa Jongin merasa bahwa Kris lebih mementingkan wanita itu dari nya. Kris bahkan tak segan untuk bercerita tentang kehidupan percintaannya dengan wanita itu, seolah melupakan fakta bahwa perempuan itu hanya selingkuhannya, sedangkan Jongin adalah kekasihnya.

Dan sudah 4 hari pria itu tak mengabari Jongin. Baik melalui pesan maupun telpon. Kris seolah hilang ditelan bumi. Saat Jongin bertanya pada Minjae, sahabat Kris itu bilang bahwa Kris sudah tidak menghubungi nya selama satu minggu. Jongin jadi tidak konsen selama di kantor. Bahkan dia beberapa kali dimarahi oleh ibu-ibu karena melamun saat sedang melayani.

Jongin juga sudah dimarahi oleh kepala cabang perusahaan karena menerima begitu banya komplain dari para nasabah. Namun seakan mendapatkan sebuah lotre, Kris tiba-tiba menelponnya. Jongin pun segera mengangkat telpon tersebut.

'Datang ke rumah ku sekarang.' Seruan singkat Kris membuat Jongin segera membereskan meja kerjanya. Dia tidak peduli dengan tatapan tajam dari sang bos dan melenggang pergi dari sana.

Saat Jongin baru saja tiba, Kris langsung datang dan menerjangnya. Dia mencium Jongin dengan kasar, sambil mencoba untuk membuka seluruh kain yang ada di tubuh Jongin.

"Kau kenapa?" Dengan susah payah Jongin melepaskan ciuman Kris. Namun pemuda itu terkesan tidak peduli dan kembali mencium Jongin.

Brukk

Kris mendorong tubuh Jongin kearas kasur kemudian melucuti pakaiannya sendiri. Dan malam itu pun mereka lewati dengan saling mendesahkan nama satu sama lain. Kecuali Kris.

Ya

Karena Kris mendesahkan nama Jeongyeon.

.

.

.

Mood Jongin benar-benar hancur sekarang. Dia rela berlari dari kantornya hingga ke rumah Kris karena ia begitu merindukan pria itu, tapi Kris malah menidurinya seperti binatang. Bukan sampai situ saja, pria itu bahkan mendesahkan nama selingkuhannya saat mencapai orgasme nya.

Chup

"Terima kasih sayang."

"Hn."

Ya tuhan sekarang Jongin merasa seperti jalang saja. Di tiduri hanya sebagai pelampiasan. Kris tak bisa tidur dengan wanita itu karena Jeongyeon sedang datang bulan, dan dengan seenaknya Kris melampiaskan nafsu bejatnya pada Jongin.

"Kau tak ingin memakai baju?" Jongin mengerutkan dahi saat mendengar penuturan Kris. Untuk apa dia memakai baju? Bukannya dia juga selalu telanjang seperti ini setelah mereka selesai melakukan 'itu'?

"Aku sangat lelah. Lagi pula ini masih jam 4 subuh. Aku akan pulang setelah tidur beberapa jam."

"Tapi Jeongyeon ingin datang satu jam lagi."

"Kau gila?! Di jam 5 subuh? Yang benar saja!" Kris memungut baju Jongin kemudian meletakkannya di samping Jongin yang tengah berbaring tengkurap.

"Kau benar-benar menyuruh ku untuk pulang sekarang?" Lihatlah! Siapa yang jadi selingkuhan sebenarnya? Dia atau si Kim Jeongyeon itu? Kenapa Kris sangat takut jika Jeongyeon mengetahui keberadaan Jongin, toh disini Jeongyeon yang salah.

Jongin pun memakai pakaian nya secepat mungkin, lalu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun untuk Kris.

Jam setengah 5 subuh Jongin berjalan sendirian seperti orang gila. Dan dengan bodohnya dia melupakan tas kerja nya. Tas yang berisi ponsel dan juga dompet miliknya sehingga Jongin terpaksa pulang dengan berjalan kaki.

"Seharusnya aku lembur dan menginap di kantor saja, dari pada mendengarkan perintah pria gila itu dan berakhir dengan menjadi gelandangan seperti ini."

Tanpa Jongin sadari ia mulai menangis. Meskipun mencoba untuk menahannya selama ini, akhirnya dia menangis juga. Dia tak menyalahkan siapapun disini, tidak Kris maupun Jeongyeon. Ini semua salahnya. Seandainya dia lebih memilih untuk berpisah waktu itu, maka keadaanya akan berbeda.

Entah apa yang merasuki Jongin saat ini, tapi dia kembali berlari menuju rumah Kris. Dan dia memutuskan untuk menyelesaikan nya hari ini juga. Jika Kris mencintainya, maka Kris hanya perlu memutuskan Jeongyeon. Namun jika Kris lebih memilih perempuan itu, maka Jongin yang akan mengalah.

Saat memasuki gerbang rumah Kris, Jongin bisa melihat sosok Jeongyeon dan Kris yang tengah berpelukan. Sayup-sayup Jongin dapat mendengar kata-kata rindu yang keluar dari mulut keduanya. Tekat Jongin sudah bulat, ia harus menghampiri Kris sekarang juga.

"Yifan oppa aku merindukan mu~" langkah Jongin terhenti saat itu juga. Saat dia mendengar perempuan itu memanggil kekasihnya dengan nama Yifan. Nama yang seharusnya hanya di ucapkan olehnya.

Bukankah Kris sudah berjanji? Dia sudah berjanji bahwa hanya Jongin lah yang boleh memanggilnya dengan nama itu. Tapi mengapa Kris mengingkari nya.

Flashback on

Jongin sudah berada diruangan Kris lebih dari 2 jam. Pria kanada itu memintanya untuk duduk tenang disofa kantornya, sambil menunggu Kris menyelesaikan pekerjaan nya. Karena bosan, ia pun mengambil tas kerja Kris dan membongkar isinya.

"Ini kartu tanda pengenal mu?" Ujar Jongin setelah berhasil membuka dompet Kris.

"Tapi kau bilang nama aslimu Wu Yifan, kenapa disini tertulis Kris Wu?" Kris mengambil kartu tersebut kemudian kembali menaruhnya ketempat semula.

"Sebenarnya Yifan nama China ku. Dulu nenek ku lebih sering memanggilku dengan nama Yifan dari pada Kris. Selain nenek ku, tidak ada yang memanggilku Yifan."

"Apakah aku boleh memanggilmu dengan nama itu? Aku menyukainya." Kris mengusak rambut Jongin dengan gemas kemudian mengecup pipi Jongin kilat.

"Boleh. Aku akan membuatmu menjadi orang terakhir yang memanggilku dengan nama itu selain nenek ku."

"Kalau begitu, mulai dari detik ini Wu Yifan adalah milik ku. Aku tak masalah berbagi Kris Wu kepada orang lain. Namun aku tidak akan membiarkan orang lain merebut Yifan dari ku."

Flashback off

Tbc

Segini dulu... biar gak bosen hehe ...

Kadang akutuh suka takut kalian bosen sama cerita2 yang ku buat. Makanya aku sering jarang update atau buat cerita baru.

Mind to review??