Jongin terus menangis di sepanjang jalan. Tubuhnya sudah lemas karena tidak makan dengan teratur seminggu terakhir. Kepalanya pun menjadi pusing karena terlalu banyak menangis. Jongin bahkan tidak perduli jika dia menyeberang di sembarang tempat atau tidak. Kalau perlu dia berharap sebuah truck menabraknya saja, agar dia bisa mati saat ini juga.

Ibu dan ayah nya juga tak lagi membutuhkan nya, karena kakaknya sudah dapat membiayai hidup mereka. Mati pun tidak akan membuat orang tuanya sedih. Dan sepertinya doa Jongin terjawab oleh tuhan. Sebuah mobil dengan kecepatan sedang tengah berjalan di depan nya.

Ckiit

"Astaga! Kau tak apa?" Si pengemudi pun turun untuk melihat keadaan Jongin, yang untung nya tidak terluka sedikit pun.

"Tuan dimana rumah mu? Aku akan mengantarmu pulang." Ujar si pengemudi itu lagi.

"Tidak perlu. Apartement ku berada di depan sini." Jongin segera pergi untuk menghindari pria itu. Upaya tabrak larinya ternyata gagal. Mungkin dia bisa minum racun serangga setelah ini.

.

.

.

Saat sampai di apartement Jongin segera mencari racun serangga yang ia beli sebulan lalu. Tapi naas, saat Jongin ingin meminumnya botol itu malah kosong.

"Arghh!" Jongin melempar botol tersebut lalu membuang barang-barang lain yang berada di dekatnya. Dia sudah tak peduli lagi dengan keadaan apartement nya yang sudah seperti kapal pecah itu. Emosinya masih meledak-ledak sekarang. Gerakan nya terhenti saat melihat foto ibu, ayah serta kakak nya di meja nakas.

"Kenapa ibu memiliki anak yang bodoh sepertiku bu? Aku bahkan tak bisa sesukses hyung dimata kalian. Kenapa aku menjadi anak yang tak berguna untuk kalian? Kenapa?!" Jongin mengambil foto itu, kemudian memeluknya erat hingga ia tertidur di atas tumpukan barang-barang nya yang berserakan dilantai.

.

.

.

Kris melihat sebuah tas didekat pintu nya. Sepertinya dia pernah melihat tas itu, namun ia lupa siapa pemiliknya.

"Ah ini milik Jongin! Benar. Pasti tertinggal semalam. Aku akan mengantarnya setelah mengantar Jeongyeon."

Subuh tadi Jeongyeon datang untuk menginap dirumahnya. Wanita itu harus lembur karena belum menyelesaikan laporannya, dan baru bisa pulang setelah pukul 5 subuh tadi. Dia tidak bisa pulang karena jarak rumahnya yang sangat jauh dari kantor, akhirnya dia memilih untuk menginap disini.

"Kau sudah siap?" Kris menegur Jeongyeon yang baru saja keluar dari kamar tamu.

"Iya. Tas milik siapa itu?"

"Tas temanku. Sepertinya tertinggal saat dia kemari." Jeongyeon hanya menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu kita berangkat sekarang."

.

.

.

Jongin terbangun pukul 3 sore. Badannya pegal karena tidur diatas barang-barang yang ia hancurkan semalam. Jongin seolah sadar dengan sikapnya yang seperti orang kehilangan akal semalam. Perlahan dia mulai merapikan barang-barang tersebut. Jika masih utuh, dia akan menyimpannya kembali, namun karena sebagian barang nya rusak dan patah Jongin pun memutuskan untuk membuang semuanya. Toh itu barang-barang yang di belikan oleh Kris.

Cklek

Jongin dikagetkan dengan pintu apartemannya yang tiba-tiba terbuka. Kepalanya mendongak untuk melihat siapa orang yang masuk tersebut.

"Yifan ge... ada apa?" Ujar Jongin basa basi.

"Tas mu tertinggal subuh tadi." Jongin mengambil tas itu kemudian kembali membereskan barang-barang nya.

"Tunggu! Tangan mu kenapa?" Kris menarik lengan Jongin untuk melihat luka-luka kecil yang ada disana.

"Kau belajar memasak?"

"Ya." Kris membawa tubuh Jongin untuk duduk di kursi ruang tamu, lalu pergi untuk mengambil salep di kotak p3k milik Jongin.

"Tak perlu belajar memasak. Aku sudah bilang padamu, jika aku akan menyewa pembantu saat kita menikah nanti."

'Aku bahkan tak yakin jika hal itu akan terjadi.' Tanpa sadar pemuda itu kembali menangis. Kris yang melihat itu pun segera mengusap lelehan air mata yang keluar dari manik Jongin.

"Kenapa menangis?"

"Kris, besok aku akan pergi." Kris bingung saat Jongin memanggilnya dengan sebutan itu, padahal Jongin selalu memanggilnya dengan nama Yifan selama ini.

"Kau mau kemana?"

"Aku ingin kerumah orang tua ku di Incheon."

"Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu?"

"Aku akan mengambil cuti selama satu bulan." Kris terlihat tidak menyukai ide Jongin itu. "Kenapa lama sekali? Kau tidak kasihan dengan ku?"

"Aku hanya pergi selama itu. Kau boleh berkencan dengan siapapun selama aku pergi, aku tidak akan marah. Tapi aku minta padamu, jangan hubungi aku selama satu minggu penuh."

" kenapa aku tidak boleh menghubungimu? Lalu bagaimana jika aku ingin mengetahui kabar mu?"

"Untuk apa menanyai kabarku? Aku akan baik-baik saja, seperti yang kau lihat selama ini. Lagipula kemarin kau juga tidak menghubungiku selama hampir satu minggu bukan? Padahal rumah kita tidak begitu jauh untuk saling mengunjungi." Ujar Jongin mencoba untuk menyindir Kris. Dan Jongin pikir itu cukup berhasil, karena dia dapat melihat raut menyesal dari wajah Kris.

"Apa ini karena ku?" Jongin menggeleng pelan.

"Dari awal ini semua adalah salah ku Kris. Aku yang membuat keputusan ini."

"Lalu kenapa Jongin? Atau jangan-jangan kau selingkuh dari ku?!" Intonasi Kris meninggi karena memikirkan kemungkinan itu.

"Hatiku tidak akan muat untuk menampung pria lain, karena sudah terisi oleh pria tinggi seperimu." Candaan Jongin membuat Kris sedikit bernafas lega.

Grep

"Aku pasti akan sangat merindukan mu Jong."

"Aku juga."

Ini mungkin akan jadi pertemuan terakhir mereka karena Jongin mungkin tak akan pernah kembali kepada Kris.

.

.

.

Rumah keluarga Kim menjadi lebih ramai dari biasanya. Anak bungsu mereka datang lalu membuat beberapa keributan karena adu mulutnya bersama sang ibu.

"Kenapa kau malah cuti hah? Kau seharusnya bisa berkerja lebih keras agar bisa di promosikan seperti rekan kerjamu yang lainnya. Bukan malah cuti seperti ini!"

"Ibu kau ingin aku kembali gila? Kau ingin anak mu masuk rumah sakit jiwa?"

Ibu nya mendadak diam. Perempuan tua itu mengingat dengan jelas kejadian 5 tahun lalu, saat Jongin masih berusia 21 tahun. Perempuan itu pun langsung menggelengkan kepalanya, "Baiklah. Tapi dalam waktu seminggu kau harus sudah kembali ke Seoul oke?"

"Oke boss! Kalau begitu aku akan ke kamar dulu bu. Jangan lupa bangunkan aku saat makan malam nanti." Jongin mengedipkan sebelah matanya kemudian berjalan ke kamar nya.

Keluarga Jongin bukanlah keluarga kaya raya seperti keluarga Kris. Ayah nya seorang pensiunan guru sedangkan ibunya hanyalah ibu rumah tangga biasa. Selama ini hidupnya hanya dibiayai oleh kakak Jongin yang berprofesi sebagai seorang dokter di salah satu rumah sakit di pusat kota.

Rumahnya juga bukanlah sebuah bagunan kaca berlantai dua ataupun berada dikawasan apartement elite. Rumahnya hanyalah sebuah bangunan kayu berlantai satu. Ukurannya bahkan tidak lebih besar dari halaman belakang rumah orang tua Kris.

Kalau boleh jujur, awal pertemuan mereka tidaklah baik. 5 tahun lalu keadaan mental Jongin benar-benar buruk. Ia mengalami ganguan mental akibat penyekapan saat itu.

Jongin disekap oleh beberapa orang pria untuk dijual secara ilegal ke luar negeri. Entah sebagai budak ataupun dijual organnya. Selama hampir satu bulan Jongin dikurung dan disiksa. Keluarga Jongin dengan bantuan para orang tua korban penculikan lainnya dan juga polisi akhir nya bisa membongkar kasus tersebut.

Saat bebas dari tempat itu Jongin berubah menjadi orang yang aneh. Disekap bersama dengan puluhan orang dalam sebuah ruangan kecil yang gelap, membuatnya menjadi sangat paranoid.

Selama berbulan-bulan ia harus dirawat jalan di rumah sakit jiwa. Saat itulah Jongin bertemu dengan Kris Wu. Kebetulan salah satu teman pria itu bekerja dirumah sakit tersebut. Atas saran atau paksaan temannya, Kris pun mendekati Jongin. Awalnya hanya sebagai media penyembuhan untuk Jongin, namun lama kelamaan benih-benih cinta muncul diantara keduanya. Hingga akhrinya mereka memutuskan untuk berpacaran beberapa bulan setelahnya.

Dari informasi yang Jongin dapatkan, Kris memang bukanlah pria yang patuh maupun rajin saat bersekolah dulu. Kata Minjae, Kris lebih sering berganti pacar dari pada mengerjakan tugas yang dosennya berikan. Semua temannya bahkan akan maklum jika dia mengencani 2 wanita dalam satu waktu sekaligus.

Ya. Awalnya pria 189cm itu adalah seorang straight, sebelum bertemu dengan Jongin dia bahkan tak pernah menyukai satu lelaki pun. Makanya saat Jongin melihat Kris berselingkuh dengan Baekhyun ia sangat terkejut. Karena ia pikir Kris hanya menyukai satu pria, yaitu dirinya.

Tbc

sorry for late update. i will post the next Chap tomorrow...