Kalo lupa silahkan baca chap sebelum nya~~
Rencana awalnya untuk bangun saat jam makan malam ternyata gagal total, karena ia tidur jauh lebih lama dari itu. Ibunya bahkan tak henti-hentinya memeriksa apakah anak bungsunya itu masih bernafas atau tidak. Dan setelah tertidur selama 2 hari, akhirnya Jongin pun bangun.
Badannya terhuyung beberapa kali saat berjalan menuju ruang tamu. "Ku kira kau mati, Jong!" Seruan ibunya membuat Jongin melengkungkan bibirnya. "Ibu menginginkan aku mati?"
"Kalau sudah takdir memangnya ibu harus apa?"
"Ibu seharusnya tidak berbicara seperti itu saat kondisi mentalku seperti ini bu. Bagaimana jika aku bunuh diri sekarang juga?" Ibu nya hanya terkikik geli didapur sana. Rumah nya memang tak memiliki banyak sekat didalamnya, sehingga Jongin dan ibunya dapat berkomunikasi dari dapur dan ruang tamu.
"Kau ingin bunuh diri? Kalau begitu ini." Secara tidak terduga ibu Jongin menghampiri pemuda itu dengan membawa sebilah pisau. "Lakukan didepan ibu."
Bibir Jongin semakin tertekuk kebawah, ibunya ini benar-benar sudah tak menyayanginya yah? Bagaimana mungkin ia menyuruh Jongin untuk bunuh diri dihadapannya?
"Ibu jangan menyesal jika hal itu benar-benar terjadi!"
"Hey! Pulanglah ke apartement mu. Kau jadi begitu aneh sejak kemarin."
"Ibu mengusirku?! Baiklah. Jangan cari aku kalau begitu!"
Brakk
Pintu kamar Jongin dibanting oleh sang empunya. Meninggalkan nyonya Kim yang masih tersenyum di ruang tamu. Dia sedikit merasa kasihan dengan putra bungsunya karena sudah menjahili pemuda itu.
"Ibu hanya bercanda Jong. Kau taukan jika ibu benar-benar suka saat kau merajuk seperti itu?" Senyuman nyonya Kim ternyata tidak sesuai dengan perasaan tak enak yang mengganjal hatinya.
"Iya aku tahu bu. Maafkan aku karena terlalu emosional." Ucap Jongin namun tidak menghentikan pergerakannya melipat pakaian. Dia tetap membereskan pakaiannya dan memasukkannya ke dalan koper.
"Ibu juga minta maaf padamu. Ngomong-ngomong, bagaimana kabar hubungan mu dengan Kris?"
"Kami tidak dalam keadaan baik bu. Ada beberapa masalah yang terjadi. Dan aku rasa mustahil untuk dipertahankan."
"Masalah apa? Apakah tak bisa kalian selesaikan secara baik-baik?" Jongin menghampiri ibu nya untuk duduk di pinggir ranjangnya.
"Dia berselingkuh. Tidak hanya sekali tapi berulang kali, dan aku tak bisa menahannya lagi. Ibu tahu bahwa aku sangat mencintai Yifan ge, bukan? Dia salah satu orang yang menjadi alasan ku untuk sembuh selain ibu, ayah dan juga kakak. Aku takut, aku takut tidak dapat bersikap normal lagi saat dia jauh dari ku bu..."
"Kau ingin selalu disakiti atau menderita tanpa nya Jong? Saat ini kau tak bisa terlalu banyak menuntut. Jika Kris sudah berselingkuh hingga berulang kali, maka dia sudah mulai jenuh dengan hubungan yang kalian jalani."
"3 tahun yang lalu, apa ibu ingat? Di saat aku merelakan harga diriku diinjak-injak oleh keluarga besar Wu karena mereka menentang hubungan kami, apa ibu ingat? Semua pengorbanan ku saat itu membuatku tak rela untuk melepaskan nya bu. Yifan ge benar-benar berharga untuk ku."
Ibunya tersenyum sedih saat melihat kepala anaknya tertunduk lemas dihadapannya. Semua orangtua pasti memiliki caranya masing-masing untuk membahagiakan anak mereka. Dan itu pula yang dilakukan oleh keluarga besar Wu. Nyonya Kim ingat saat anaknya pulang dengan pakaian basah karena siraman air yang ia dapatkan saat ibu Kris memergoki keduanya tengah berkencan.
Nyonya Kim juga ingat, waktu Jongin jatuh sakit karena berlutut semalaman di depan pagar beton rumah mewah keluarga Kris agar ia bisa mendapatkan restu dari orangtua Kris. Hingga akhirnya keluarga Kris merestui hubungan mereka. Lalu bagaimana mungkin Jongin bisa dengan mudahnya melepas pria itu? Dia sudah berjuang mati-matian untuk mempertahankan hubungannya dengan pria itu. Tak akan ada yang bisa membuatnya rela melepas Kris, kecuali ia mati.
"Kalau begitu. Tinggalkan Seoul, dan tinggallah bersama ibu dan ayah. Dan kita bisa mulai semuanya dari awal, tanpa Kris."
"Bisakah? Memikirkannya saja sudah membuat ku takut bu... aku, aku tidak bisa hidup tanpa nya bu."
"Kau bisa sayang. Sekarang pergi dan kemasi seluruh barang-barang di apartement mu, lalu berhentilah bekerja. Ibu akan membantu mu lepas dari pria itu. Ibu berjanji..."
"Baiklah. Aku akan kembali Seoul dan mengurus kepindahan ku secepatnya bu."
.
.
.
Namun Jongin berbohong. Ia tak pergi ke Seoul seperti yang ibunya perintahkan. Ia malah ke Jeju setelah sebelumnya ia mendaftarkan diri pada salah satu club pendaki gunung di daerah setempat. Jongin memutuskan untuk mendaki gunung Halla, gunung tertinggi yang ada di Korea Selatan.
Sebelum mulai mendaki ketua tim menyarankan agar para anggota dapat menghubungi keluarga mereka untuk yang terakhir kalinya. Sebenarnya hanya untuk berjaga-jaga karena koneksi jaringan yang mungkin saja memburuk saat berada diatas sana. Jongin pun memutuskan untuk menghubungi sang ibu, sekaligus berpamitan mungkin?
"Hallo ibu?"
'Kenapa kau belum kembali ke rumah,hah?' Jongin hanya tersenyum saat mendengar omelan sang ibu. Dia dapat membayangkan bagaimana wajah masam sang ibu.
"Ibu sebenarnya aku sedang berada di Jeju sekarang. Aku akan mendaki gunung."
'Apa yang kau lakukan huh? Pulanglah...'
"Tidak. Aku sudah mengeluarkan banyak biaya untuk persiapan mendaki bu... lagi pula kami tidak mendaki hingga puncak!"
'Dasar keras kepala! Mengapa kau tak kabari ibu saja sekalian, jadi ibu tidak perlu mencemaskan mu.'
"Aku hanya ingin pamit dengan ibu. Ibu tahu bukan jika aku menyayangi ibu, ayah, dan Seokjin hyung. Aku harap kalian bisa menjaga diri selama aku tidak ada disana." Jongin sedikit tergagap saat mengucapkan kalimat terakhirnya.
'Tentu saja ibu tahu sayang~'
"Kalau begitu aku tutup telponnya. Oh yah, jangan menungguku pulang bu!"
Pip
Setelah mematikan sambungan telponnya, Jongin kembali membuka salah satu ikon pesan di ponselnya. Untuk beberapa detik dia hanya mampu menatap nomer orang itu. Lalu setelah berfikir sejenak, ia pun mulai mengetikkan sesuatu.
To : Yifan ge
'Maafkan aku Yifan ge~
Aku tidak bisa menemuimu lagi.'
Send
"Baiklah, semuanya harap berkumpul! Kita akan memulai pendakian kita. Pastikan semua peralatan kalian memadai dan jangan sampai ada yang tertinggal."
Tbc
See you ~~
