From : Jongin
'Maafkan aku Yifan ge~
Aku tidak bisa menemuimu lagi.'
Kris cukup terkejut dengan isi pesan yang mendadak Jongin kirimkan padanya. Namun ia tak berniat membalas pesan tersebut sama sekali dan kembali memfokuskan dirinya pada Jeongyeon yang duduk dihadapannya.
"Pesan dari siapa?"
"Entahlah, sepertinya pesan salah kirim. Cepat habiskan makanan mu."
.
.
.
Kris menjalankan seminggu pertamanya tanpa Jongin dengan baik. Berkat ketiadaan Jongin ia bebas berkencan dengan Jeongyeon sesuka hatinya. Dia juga tak perlu khawatir jika Jongin cemburu karena Jongin telah mengizinkannya.
Ngomong-ngomong soal Jongin, sejak waktu itu Jongin tidak pernah mengiriminya pesan lagi. Ia jadi ingat jika Jongin melarangnya untuk menghubungi Jongin selama 1 minggu penuh.
'Aku akan mengubunginya nanti.'
Kris bahkan tak merasa penasaran sedikit pun dengan pesan terakhir yang Jongin kirim padanya. Ia tidak terlalu memikirkan pesan Jongin tempo hari, karena ia yakin jika Jongin hanya sedikit marah padanya. Lagipula Jongin tak mungkin memutuskannya hanya karena hal seperti itu.
"Juyeon?"
"Kris? Sedang apa kau disini?"
"Hanya ingin minum sedikit. Lalu kau sendiri?" Pria bernama Juyeon itu mengambil bangku tempat di sebelah Kris. Sebelum menjawab pertanyaan Kris Juyeon terlebih dulu memesan minumannya pada sang bartender.
"Aku hanya ingin melepaskan sedikit penat saja. Oh yah... dimana Jongin? Aku tak melihatnya dari tadi."
"Dia sedang pergi ke rumah orang tuanya." Minuman pesanan Juyeon pun datang. Bartender itu menaruh gelas Juyeon dengan sedikit hentakan.
"Kau harus nasehati orang ini Yeon. Dia benar-benar kembali menjadi bajingan setahun belakangan ini." Gerutuan Taehyung hanya dibalas kekehan dari Kris.
"Kenapa kau sibuk sekali? Lagipula Jongin sudah mengizinkan ku." Kali ini giliran Juyeon dan Taehyung yang terkejut. "Tidak mungkin." Seru Taehyung tak percaya.
"Kami sudah membicarakan masalah inu sebelumnya. Sebelum kami menikah aku ingin sedikit bermain-main dulu, dan itu lebih baik dari pada aku selingkuh saat kami sudah menikah."
"Teori macam apa itu? Aku tahu dari awal kau tidak pernah serius dengan Jongin. Selama ini kau hanya menuruti perkataan Dokter Lee ini untuk menjadi media penyembuhan untuk trauma Jongin." Taehyung kesal? tentu saja. Taehyung bisa merasakan apa yang Jongin tengah rasakan sekarang. Omong kosong jika ia bilang dia tidak apa-apa, karena nyatanya tidak ada orang yang ingin diduakan seperti itu.
"Itu sudah tak penting lagi Kim karena pada akhirnya aku sudah mencintai Jongin."
"Kau yakin? Jika kau mencintai nya, lalu mengapa kau masih bisa berkencan dengan orang lain?" Kali ini giliran dokter Juyeon yang mengintrogasinya. Juyeon adalah dokter yang menangani Jongin 5 tahun lalu, sekaligus teman dari kakak Jongin, Kim Younghoon.
"Jenuh mungkin? Kalian tahu bukan jika hubungan ku dan Jongin adalah hubungan terlama yang pernah aku jalani. Dulu aku bahkan tidak kuat jika harus mengencani seseorang lebih dari 2 bulan."
"Bagaimana jika dia memutusimu? Kau siap?"
"Kenapa tidak? Jika itu sudah keputusannya aku bisa apa? Toh aku juga sudah mencoba untuk memperhankannya selama ini?" Jika boleh Taehyung ingin sekali memukul wajah sok tampan Kris itu, namun ia tak ingin pelanggan bar nya pergi begitu saja setelah melihatnya berlaku kasar pada seorang pelanggan, meskipun itu sahabatnya sendiri.
"Kau lupa kejadian 3 tahun lalu? Kau lupa bagaimana Jongin berusaha mati-matian untuk mendapatkan restu dari kedua orang tua mu yang kolot itu? Dan sekarang, dengan seenaknya kau ingin melepasnya. Kau gila?" Kris terdiam, mencoba meresapi setiap pertanyaan dan pernyataan yang keluar dari mulut Juyeon.
Juyeon benar. Jongin pernah berjuang mati-matian hanya untuk mendapatkan restu dari orang tua Kris yang saat itu menentang hubungan sesama jenis mereka. Ia bahkan ingat saat Jongin harus di rawat selama 6 hari dirumah sakit karena terus berdiri didepan gerbang rumah mewah Kris selama 3 hari penuh. Kris jelas ingat itu. Dan setelah memikirkan semua itu dia merasa sedikit bersalah pada Jongin. Tidak seharusnya ia memperlakukan Jongin seperti itu. Jongin bahkan mempertaruhkan jiwa nya untuk kelangsungan hubungan mereka, tapi lihat apa yang Kris lakukan? Dia bahkan tanpa malu menyelingkuhi Jongin secara terang-terangan.
Kris mengeluarkan ponsel pintarnya dam segera mendial kontak seseorang.
'Nomer yang anda-'
"Mengapa ponselnya tak aktif?"
"Baru sadar hah? Lihat saja apa yang akan kau lakukan saat Jongin benar-benar meninggalkanmu." Taehyung yang masih terlihat kesalpun hanya dapat memberikan kalimat tajam nya pada Kris.
"Jongin tidak mungkin memutuskan ku. Jika ia mau, dia bisa langsung memutuskan ku sejak saat itu."
"Aku tidak bilang jika ia akan memutuskan mu, yang ku maksud menghilang adalah saat dia benar-benar tak akan pernah muncul lagi dihadapanmu."
"Tidak mungkin. Besok aku akan menyusul Jongin ke rumah ibunya."
.
.
.
Younghoon melihat sebuah mobil mewah yang baru saja terparkir di depan rumah orang tua nya. Dan tak lama kemudian, pintu mobil itu terbuka lalu keluarlah sosok Kris dari dalamnya.
"Ada perlu apa kau ke rumah kami?"
"Aku ingin menemui Jongin. Dia ada didalam bukan?" Younghoon menggeleng. "Dia tidak ada didalam."
"Kemana dia?"
"Dia pergi ke Jeju."
"Sudah ku duga, dia pasti pergi berlibur tanpa ku." Niat awal Kris untuk minta maaf lenyap begitu saja ketika ia mendengar ucapan dari Younghoon. Pantas saja Jongin tak ingin Kris menghubungi nya, ternyata pria itu malah asik liburan sendiri.
"Kalau begitu pergilah. Aku rasa kau juga sudah tidak perlu datang untuk menemui adikku lagi mulai detik ini."
"Kenapa kau mengatur-atur hubungan kami?"
"Aku hanya tak ingin adikku lebih menderita lebih dari ini. Kau sudah menyakitinya hingga ia seperti ini."
"Maaf mencelamu Younghoon, tapi adikmu memang tidak normal lagi sebelum kami bertemu." Kris harus bersyukur karena Younghoon masih bisa menahan dirinya untuk tidak membunuhnya sekarang juga karena sudah berani mengatai adiknya 'tidak normal'.
"Kalau begitu pergilah, dan jangan temui Jongin lagi. Akan lebih baik jika dia 'tidak normal', daripada harus bunuh diri karena kau sakiti."
"Hey, aku rasa kau sudah berlebihan. Asal kau tahu, adikmu sendiri yang mengizinkan aku untuk berselingkuh."
"Itu karena dia sangat mencintaimu bodoh! Kau pikir ,hati kakak mana yang tak sakit jika mendengar adiknya ingin bunuh diri karena tak bisa merelakan kekasihnya untuk orang lain?!"
"Hatiku begitu hancur saat ibu bilang bahwa Jongin ingin bunuh diri karena tidak bisa melepaskanmu. Dia begitu mencintaimu hingga dia berani mengorbankan dirinya sendiri untuk kebahagiaanmu. Jika aku tahu kau akan membuatnya sesakit ini, aku pasti akan melarang Juyeon untuk mengenalkan Jongin padamu."
Apakah Kris seburuk itu? Apakah ia sudah terlalu jahat pada Jongin? Dia mungkin bisa menyembuhkan trauma Jongin 5 tahun lalu, tapi lihat apa yang ia torehkan sekarang. Dia bahkan membuat mental Jongin lebih buruk dari sebelumnya. Seharusnya Kris sadar jika Jongin begitu mencintainya. Segarusnya ia juga tahu diri, jika Jongin pasti akan sakit hati saat melihatnya berselingkuh.
"Maafkan aku. Tapi bisakah kau beritahu aku dimana Jongin berada, alu rasa aku harus minta maaf langsung padanya."
"Tak perlu. Sekarang pulanglah... aku tidak ingin melihat wajahmu lagi."
Younghoon pergi tanpa menoleh kepada Kris sedikit pun. Biar saja pria merasa bersalah, karena nyatanya Younghoon tak pedulinsama sekali.
Setelah melacak Jongin dengan pesan terakhir yang pria tan itu kirimkan, Kris akhirnya bisa tahu dimana keberadaan pria itu. Besok ia akan terbang ke Jeju lalu menghampiri Jongin di gunung Halla untuk meminta maaf kepada pria itu, sekaligus melamar pria itu untuk kedua kalinya.
.
.
.
Kris sudah bertekad untuk menikahi Jongin akhir tahun ini. Ia bahkan sudah memutukan semua selingkuhannya untuk membuktikan keseriusannya terhadap Jongin. Saat sedang merapihkan barangnya mata Kris tak sengaja melihat sebuah saluran berita.
'Gempa kembali terjadi di korea. Kini gempa sebesar 7 SR terjadi di pulau Jeju tepatnya di pegunungan Halla-'
Tanpa sadar Kris menjatuhkan ponsel yang ia genggam sedari tadi. Telinganya mendadak tuli seketika setelah mendengar berita buruk itu. Kini pikirannya hanya terpaku kepada satu orang.
Kim Jongin.
.
.
.
Dengan bantuan Juyeon, Kris berhasil mendapatkan alamat rumah sakit tempat para korban gempa di rawat. Di depan ruang ICU dia melihat beberapa orang anggota keluarga para korban yang terlihat begitu khawatir. Ditengah-tengah kerumunan itu ia dapat melihat kedua orang tua Jongin dan juga Younghoon yang berdiri cemas sambil memperhatikan pintu ruang ICU tersebut.
"Nyonya Kim..."
Bukk bukk bukk
"Sekarang aku harus bagaimana, eoh? Hiks... semua ini karena mu! Anakku seperti ini KARENA MU!" Tuan Kim segera menarik sang istri yang sebelumnya berhasil memukuli Kris yang datang mengampiri mereka. Younghoon yang biasanya selalu sabar pun terlihat begitu menahan amarahnya agar tidak meledak sekarang juga.
"Kris pergilah. Jika Jongin membaik, aku akan mengabarimu." Untunglah masih ada tuan Kim yang baik hati pada Kris. Sejujurnya ia juga marah seperti istri dan juga anak sulungnya, namun ia tahu jika ini semua adalah takdir yang tuhan berikan jadi dia mencoba untuk menerimanya. Lagipula ini semua bukan kemauan Kris.
"Tidak. Aku akan menunggu Jongin bersama kalian." Sebelum Younghoon menyanggah para suster terlihat mendorong 2 ranjang untuk di pindahkan ke ruang rawat, namun Younghoon tidak menemukan ranjang adiknya. Itu berarti kondisi sang adik belum juga membaik didalam sana.
Beberapa jam kemudian ranjang-ranjang pasien pun mulai keluar dari ruangan tersebut. Ada yang dipindahkan ke ruang rawat biasa, namun ada pula yang berakhir di kamar mayat. Younghoon hanya berharap jika itu bukanlah adiknya.
Seorang dokter paruh baya pun keluar dan berdiri di depan pintu ICU.
"Siapa disini keluarga dari korban Kim Jongin?" Tuan Kim segera maju untuk menghampiri dokter tersebut.
"Tuan bisa ikut kami kedalam. Ada hal penting yang harus saya sampaikan." Dokter tersebut membawa tuan Kim untuk masuk kedalam ICU.
"Korban kegilangan cukup banyak darah karena timpahan batu yang cukup besar pada kedua kaki nya. Kami bahkan harus melakukan operasi pada syaraf kaki kirinya yang hampir putus. Namun pasien sudah dapat di pindahkan ke ruang rawat biasa."
Disatu sisi tuan Kim merasa bersyukur karena anaknya masih memiliki kesempatan untuk hidup, namun ia juga sedih saat melihat tubuh anaknya yang penuh luka dan juga alat bantu dari rumah sakit. Ia juga sedikit bingung, bagaimana cara ia menjelaskan semua ini pada istrinya. Istrinya pasti akan semakin khawatir.
"Kami akan pindahkan pasien Kim ke kamar rawat terlebih dahulu. Setelah itu kalian bebas untuk menjenguknya." Tuan Kim pun keluar bersama dengan ranjang anaknya. Nyonya Kim yang sedari tadi menunggu pun menghampiri ranjang Jongin yang di dorong oleh lara perawat.
"Jongin akan dipindahkan ke kamar rawat. Kita sudah bisa tenang sekarang." Tuan Kim berusaha untuk menenangkan istrinya itu, ia menatap Kris yang terlihat begitu khawatir pada Jongin.
"Jongin sudah baik-baik saja sekarang. Kau bisa pulang Kris. Datanglah besok jika kau ingin menjenguknya."
"Tidak tuan, aku akan menunggu hingga Jongin sadar."
"Tidak perlu. Kami bertiga sudah cukup untuk menjaga Jongin. Pulang lah, kau benar-benar terlihat lelah." Kris menolak keras gagasan itu. Ia ingin melihat Jongin sadar, ia ingin menjadi orang pertama yang pria itu lihat saat bangun esok nanti.
"Kalau begitu tunggulah diluar. Karena aku tak akan mengijinkan kau masuk." Younghoon menahan tubuh Kris yang akan ikut masuk kedalam ruang inap Jongin. Dia masih belum bisa memaafkan pria itu. Apalagi setelah ia mendengar cerita dari ketua tim pendaki yang mengatakan bahwa Jongin yang hanya diam saat gempa terjadi. Untuk informasi saja, semua kru pendaki selamat dan hanya terluka sedikit saja karena mereka berhasil turun gunung tepat waktu. Dan saat orang sibuk menyelamatkan diri Jongin memilih untuk diam ditempat sehingga ia tertimpa reruntuhan batu.
Younghoon sengaja tidak menceritakan hal ini pada kedua orang tua nya karena ia masih ingin Kris selamat. Karena jika ia menceritakan semuanya, bukan tidak mungkin ibunya akan membunuh Kris saat itu juga.
"Sebaiknya kau turuti kata-kata ayahku. Aku tak ingin Jongin disalahkan oleh keluargamu jika kau kenapa-kenapa." Kris tahu jika Younghoon sengaja menyindirnya, namun ia tidak perduli dan tetap berdiri sambil mengintip Jongin lewat kaca kecil di bagian atas pintu ruang rawat Jongin.
"Seperti kataku sebelumnya, aku akan menunggu disini hingga Jongin sadar."
"Terserah saja." Younghoon pun memilih untuk masuk dan meninggalkan Kris sendiri disana. Saat masuk, ayah nya menjelaskan soal keadaan Jongin seperti penjelasan yang dokter katakan. Younghoon jelas mengerti akan hal tersebut. Luka Jongin memang cukup parah, dan Younghoon sudah dapat memastikan jika Jongin kehilangan banyak darah.
"Semoga saja Jongin bisa sadar secepatnya."
Mungkin sifat penyabar Jongin ditularkan oleh ayah nya. Pria itu bahkan tak menunjukan raut panik sama sekali saat mendengar sang anak tertimpa musibah, atau saat ia tahu jika Kris mengkhianati anaknya, ia bahkan tak marah sama sekali. Sama seperti Jongin, yang bahkan rela menyakiti dirinya sendiri agar dapat merelakan Kris untuk orang lain.
.
.
.
Pagi hari pun datang. Younghoon terbangun dan langsung mengecek keadaan sang adik yang belum juga menunjukan tanda-tanda akan sadar. Karena pekerjaannya sebagai dokter Younghoon tidak bisa berlama-lama disini untuk menjaga Jongin, dan siang ini ia akan kembali ke Seoul untuk bekerja di rumah sakit.
Diluar Younghoon dapat melihat Kris yang masih berdiri seperti semalam. Younghoon bahkan berani bertaruh jika pria itu tidak bergerak satu centi pun sejak semalam. Saat tengah malam ia melihat salah satu teman Kris, Taehyung yang datang untuk membujuk pria itu untuk kembali ke hotelnya, namun ditolak oleh Kris. Dan berakhirlah dengan Taehyung yang ikut-ikutan menunggu Jongin di luar sana. Hanya bedanya pria itu tidur dikursi panjang di depan kamar Jongin, sedangkan Kris tidak. Younghoon sebenatnya kasihan, namun ia kembali teringat dengan kejadian-kejadian yang menimpa Jongin yang dikarenakan oleh pria itu, hingga ia harus menelan rasa kasihannya bulat-bulat.
Tak berselang lama, sebuah lengguhan lirih keluar dari mulut Jongin. Younghoon segera memanggil dokter dan juga suster untuk mengecek keadaan Jongin, tuan Kim bahkan langsung terbangun karena suara bising yang disebabkan oleh langkah terburu-buru dokter dan juga Younghoon.
"Syukurlah, keadaan pasien mulai membaik. Efek biusnya masih belum hilang sepenuhnya sehingga ia belum sepenuhnya sadar, dan jika ia mulai kesakitan kalian bisa menghubungi suster untuk memberikan obat pereda nyeri nantinya." Setelah itu dokter pun keluar dan senyum lebar mengembang disetiap wajah keluarga tersebut.
"Beritahu Kris jika Jongin sudah sadar. Pria itu pasti begitu khawatir pada Jongin."
Krieet
"Apa Jongin baik-baik saja?" Tadi Kris begitu khawatir saat Younghoon memanggil dokter untuk keruangan Jongin, ia bahkan sampai tak sempat bertanya pada Younghoon sebelumnya.
"Ya, dia sudah sadar meskipun belum sepenuhnya. Jadi sekarang kau sudah bisa pulang." Mendengar berita bahagia tersebut, Taehyung langsung terbangun dan berlari mendekati Younghoon.
"Syukurlah Jongin sudah sadar."
"Kalau begitu aku akan pulang. Aku ak-"
Brukk
"Kris?!" / "Kris!"
.
.
.
"Tuan Wu hanya sedang kelelahan dan juga dehidrasi. Dia akan segera sadar sebentar lagi." Taehyung membungkuk pada dokter tersebut, dan setelah dokter itu pergi ia segera berbalik menghada Younghoon yang juga berada disana.
"Maafkan orang bodoh ini. Dan juga, terima kasih karena sudah membantuku untuk membawanya kemari." Taehyung bersyukur karena Younghoon mau membantunya untuk membawa manusia tinggi itu ke ugd setelah pingsan beberapa menit yang lalu.
"Tak apa. Jika ia sudah sadar suruh dia untuk pulang dan beristirahat. Kalau begitu aku pamit dulu." Taehyung membalas bungkukan Younghoon dan beralih menatap sang sahabat.
"Bikin repot saja."
Duakk
"Maaf tuan, anda tidak diperkenankan untuk merusak fasilitas rumah sakit." Taehyung terkisap saat seorang suster menegurnya dengan nada tajam setelah ia berhasil menendang kaki ranjang yang Kris tiduri.
Setelah tersenyum canggung, Taehyung memilih untuk keluar dari ruangan tersebut. Sepertinya dia butuh Aqua.
.
.
.
Setelah sadar sepenuhnya Jongin langsung diomeli oleh sang ibu dengan berbagai macam kata umpatan yang membuat telinga Jongin panas. Sementara itu tuan Kim hanya dapat memberikan senyum maklum nya pada Jongin.
"Sudahlah, kasihan Jongin. Dia kan baru saja sadar." Jongin mengangguk. "Ayah benar, aku kan baru sadar bu..."
"Tapi jika kau tidak sesumbar, kau pasti tidak akan berakhir di rumah sakit Jongin."
"Iya, aku minta maaf. Sekarang bisa biarkan aku istirahat?" Jongin memohon dengan tatapan anak kucing terbuangnya pada sang ibu, dan tentu saja itu tidak berhasil.
"Ibu harus memarahimu dulu."
"Sayang biarkan Jongin istirahat. Kau juga harus makan bukan? Kita biarkan Jongin beristirahat sebentar sambil mengisi energi dikantin rumah sakit, oke?" Tuan Kim segera menyeret tubuh sang istri untuk meninggalkan ruangan anaknya agar Jongin dapat beristirahat dengan tenang.
Setelah kepergian kedua orang tuanya, Jongin mencoba untuk memejamkan matanya, namun suara pintu yang terbuka membuat matanya kembali terbuka.
"Jongin..." suara lemah Kris membuat Jongin menoleh ke arahnya. Dia begitu khawatir saat melihat tubuh Kris yang begitu lemah serta wajah nya yang 2x lebih pucat dari biasanya.
Kris mendudukkan tubuh jangkung nya di pinggir ranjang Jongin. Jongin jadi lebih khawatir saat melihat mata sembab Kris. Ia pun berusaha keras untuk mendudukan tubuhnya, meskipun tubuhnya terasa seperti di remuk saat digerakan.
Greb
"Maafkan aku oke? Semua ini adalah salahku. Karena semua kebodohan ku, kau jadi seperti ini. Aku memang pantas untuk kau benci Jong..."
"Ini bukan salahmu ge~"
"Tidak sayang, ini semua salah ku. Kau bisa membenciku sebanyak yang kau mau. Tapi aku mohon maafkan aku." Jongin menatap geli wajah sembab Kris yang tampak seperti anak berumur 10 tahun, meskipun kenyataannya pria itu sudah berusia 30 tahun.
"Aku tidak mungkin membencimu ge~ aku terlalu mencintai mu."
"Kalau begitu setelah kau keluar dari rumah sakit kita menikah oke?"
"Kau yakin masih mau menikahi ku? Ku dengar syaraf kaki ku sedikit bermasalah, kemungkinan besar aku tidak akan bisa berjalan dengan normal lagi."
"Aku tidak peduli. Mau kau lumpuh sekalipun aku tak peduli."
"Jadi kau menyumpahi ku lumpuh?!"
"Bukan begitu sayang. Maksudku, aku akan menerima bagaimanapun kondisi mu sekarang. Lagipula kita bisa melakukan pengobatan diluar negeri supaya kaki mu bisa berfungsi dengan normal lagi."
Jongin mengusak rambut Kris gemas. Sementara Kris kembali mengeratkan pelukannya pada pinggang Jongin dan menumpukan dagunya pada punda Jongin.
"Apa kau sudah puas berselingkuh? Jika kau menikahiku, aku tak akan mengizinkanmu untuk selingkuh lagi, loh." Ucap Jongin dengan nada main-main. Kris langsung memanyunkan bibirnya yang menurut Jongin benar-benar tidak cocok dengan citra dingin yang selama ini melekat padanya.
"Aku tak akan mungkin berani berselingkuh lagi setelah melihatmu seperti ini. Aku tak ingin melihat mu seperti ini lagi sayang..."
"Kalau begitu minta izinlah pada keluarga ku. Jika mereka setuju, maka aku juga setuju."
"Sepertinya akan susah. Ibumu dan juga Younghoon pasti akan menentangnya."
"Siapa bilang?" Suara interupsi dari ibu Jongin membuat Kria segera menjauhkan pelukannya dari Jongin. Wajah terlihat begitu gugup. Kris bahkan merasa lebih gugup saat menghadapi keluarga Jongin, dibandingkan saat meeting untuk tender senilai jutaan dollar.
"Aku merestui kalian,kok." Kris benar-benar ingin menampar dirinya sendiri untuk memastikan apakah ini nyata atau tidak. Berarti ia hanya perlu mendapatkan restu dari Younghoon lagi.
"Tak perlu khawatir, Younghoon pasti juga akan merestuinya, tapi untuk sekarang kita harus fokus untuk pemulihan Jongin dulu." Kris benar-benar menyukai calon ayah mertuanya ini. Jika sudah menikah nanti, Kris akan memberikan apa saja yang pria paruh baya itu inginkan.
.
.
.
"Aku titip adikku. Awas saja jika kau berani macam-macam padanya."
"Baiklah. Omong-omong aku lebih tua 2 tahun darimu, kau seharusnya memanggilku dengan sebutan 'Hyung'."
"Tetap saja kau adik iparku. Jongin jika si tiang ini memaksa mu untuk melakukan macam-macam, kau bisa adukan dia pada hyung oke?"
"Hyung jangan berlebihan. Kamarmu bahkan hanya berjarak 3 meter dari kamar ku. Jadi jangan berlebihan."
Baiklah, akan ku jelaskan situasi yang terjadi disini. Jadi beberapa jam lalu Kris dan Jongin telah resmi menjadi sepasang suami 'istri' dan malam ini adalah malam pertama mereka, meskipun mereka sudah pernah melakukan itu beberapa kali sebelumnya. Younghoon pun menyuruh mereka untuk bermalam dirumah keluarga Kim untuk seminggu pertama, lalu setelah itu mereka akan menginap dirumah keluarga Wu di minggu berikutnya sebelum akhirnya mereka pindah di rumah milik mereka sendiri. Rumahnya bahkan hanya berjarak 2 block dari rumah orang tua Jongin. Kris sengaja membeli rumah di daerah ini agar Jongin dapat mengunjungi orang tuanya sebanyak yang ia mau.
"Masuk lah hyung." Dengan berat hati Younghoon menuruti perintah Jongin untuk masuk ke dalam kamarnya sementar Kris sudah memberikan senyum setannya pada Younghoon.
"Jangan senang dulu ge. Ingat! Dokter bilang kaki ku masih dalam masa pemulihan, jadi jangan berpikir macam-macam dulu. Kau harus bersabar, oke? Hanya tinggal 3 bulan lagi,kok."
Kris hampir saja lupa dengan keadaan kaki Jongin. Sial! Dia harus menahan diri selama 3 bulan karena proses pemulihan syaraf kaki Jongin.
"Kalau begitu izinkan aku untuk memeluk mu oke?"
"Tidak mau! Aku tahu rencana busukmu Yifan ge..." Jongin masuk kedalam kamar terlebih dahulu dengan menggunakan kruk dia kedua tangannya.
"Tidak Jongin. Aku berjanji tidak akan macam-macam."
"Awas saja jika kau berani macam-macam padaku! Akan ku pastikan kau akan tidur sendiri selama 3 bulan ini." Kris meneguk liurnya susah payah, padahal ia sudah berencana untuk menjahili tubuh Jongin malam ini. Namun berkat ancaman Jongin, nyali nya kembali menciut.
"Kemarilah. Gege akan memelukmu dengan erat, supaya kau tidak kedinginan." Dengan malu-malu Jongin mulai mengikuti jejak Kris untuk berbaring diranjang.
"Selamat tidur, sayang. Pastikan untuk memimpikanku malam ini, oke?"
Chup
Kris mengecup pucuk kepala Jongin lalu memejamkan matanya.
"Selamat tidur juga, ge~"
End
Note: dan berakhir lah cerita ini dengan gak jelas nya...
Btw cerita ini tuh sebenernya tercipta waktu aku dateng ke salah satu acara nikahan kakaknya temenku. Disana dia tuh cerita kalo sebelum nikah dia pernah bilang ke calon suaminya, "udah puas selingkuhnya?" Dan itu buat aku ngerasa kalo lamaran yang romantis itu gak perlu makan malam mewah dan lain-lainnya.
Oke sekian dulu deh.
