Deruan nafas terdengar memenuhi ruang bercat coklat tersebut. Kedua pria itu seakan tak lelah meskipun melakukannya berkali-kali. Hingga akhirnya sebuah desahan keras terdengar dari keduanya.

"Aku lelah..." seru pria yang berada di bawah pria lainnya.

"Baiklah. Kita lakukan esok lagi." Jongin berusaha menulikan pendengarannya setelah pria bermarga Oh itu bergumam pelan.

Jongin sungguh bosan dengan kata-kata Sehun yang selalu mengajaknya bercinta hanya untuk membuat Jongin hamil. Mereka bahkan melakukannya hampir setiap hari, dan itu membuat Jongin lelah secara fisik dan psikis.

Belum lagi orang tua Sehun yang selalu menyuruh mereka untuk memiliki anak secepatnya. Padahal pernikahan mereka baru berusia 4 tahun, teman Jongin bahkan belum memiliki anak setelah 10 tahun pernikahan nya, dan mereka terlihat bahagia-bahagia saja. Mengapa Sehun begitu kolot?

"Oh yah... siang nanti kita pergi ke dokter oke? Siapa tahu ada kemajuan?"

"Hmm..."

Entahlah itu akan menjadi kunjungan mereka untuk yang kesekian kalinya ke rumah sakit dalam bulan ini. Jongin bahkan yakin jika dokter itu sudah bosan melihat mereka berdua.

"Hasilnya masih negatif tuan Oh."

"Benarkah? Padahal kami sering melakukannya , dan kami juga mengikuti saran mu untuk menjaga pola makan kami. Kau yakin jika tidak ada satupun dari kami yang mandul?"

Jongin kembali memutar bola matanya. Seharusnya dokter itu bilang saja jika Jongin mandul, daripada Jongin harus mendengar Sehun mengeluh setiap hari.

"Tidak. Kalian berdua sehat tuan, mungkin ini memang belum waktunya saja." Sehun tentu tidak setuju dengan kalimat itu. Hey, jika mereka berdua sehat mengapa mereka belum juga memiliki keturunan? Pasti ada yang salah pada mereka.

"Kau yakin Jongin tidak mandul?" Dokter muda itu memperbaiki letak kaca matanya seakan sudah bosan menjelaskan pada Sehun tentang hal yang sama pada setiap kunjungan mereka ke rumah sakit ini.

"Begini tuan, kehamilan pada pria memang sedikit sulit daripada wanita normal. Itu sebabnya kemungkinannya sedikit sulit meskipun organ reproduksi tuan Jongin sehat."

"Tapi ini sudah 4 tahun, dan Jongin belum hamil juga." Jongin menarik sisi kemeja Sehun agar pria itu dapat menghentikan omongannya.

"Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu. Terima kasih dokter Lim." Karena Sehun tak kunjung berdiri, Jongin memutuskan untuk menarik tangan pria itu dan membawanya keluar dari ruangan dokter itu.

"Kita bicarakan dirumah saja Sehun." Jongin segera menghentikan Sehun saat ia melihat pria itu mulai membuka mulutnya.

Skip

Ini lah yang membuat Jongin lelah. Ia lelah jika Sehun terus saja mengeluh padanya setelah dari rumah sakit. Sebegitu inginkah dia untuk memiliki anak sehingga ia terus memaksa Jongin? Tapi Jongin bukannya robot penghasil keturunan.

"Sabarlah. Kita tunggu sebentar lagi."

"Kau mungkin bisa bersabar Jong, tapi aku tidak. Umurku sekarang sudah 30 tahun, mau sampai umur berapa aku baru memiliki anak, hah?" Jongin merapalkan beberapa mantra penenang didalam benaknya agar emosinya tak tersulut dengan perkataan Sehun.

"Tapi pria tidak mengalami menopouse Hun."

"Aku tidak ingin menunggu terus-menerus Jongin. Bagaimana jika... jika kau tidak akan hamil hah?"

"Bukan kah aku sudah pernah memberitahumu saat kita berpacaran dulu, jika akan sulit bagiku untuk hamil meskipun aku memiliki rahim seperti wanita Sehun, namun kau sendiri yang bilang 'tak apa' padaku."

"Tapi aku tak mengira akan selama ini Jongin."

"Kalau begitu kenapa kau tak menceraikan ku dan menikah dengan wanita saja?!" Sehun mendongak melihat wajah Jongin yang sudah memerah karena emosinya. Namun bukannya bersimpati, Sehun malah kembali membentak Jongin.

"Jika aku tidak mencintai mu sebesar ini, aku mungkin menceraikan mu dari dulu Jongin." Jongin pikir jarak usianya yang terpaut 4 tahun dari Sehun membuat pikiran Sehun akan lebih dewasa darinya, tapi nyatanya tidak. Sehun lebih kekanakan darinya.

"Lebih baik kita break untuk beberapa saat Sehun. Aku tidak tahan jika terus di tekan seperti ini."

"Kita ini sudah menikah Jong! Break kau bilang?! Ingat hubungan kita bukan sekedar berpacaran bodoh!"

"Break atau bercerai?! Pilih saja."

"Baiklah, kau ingin kita Break? Oke lakukanlah. Tapi jangan marah jika aku tergoda oleh wanita lain." Setelah berucap cukup keras, Sehun memilih untuk pergi dan meninggalkan Jongin di apartement mereka sendirian.

Chanyeol memeperhatikan wajah Jongin dengan seksama. Lalu pandangannya turun ke arah tas besar yang Jongin bawa.

"Aku akan menginap!"

"Tidak!" Chanyeol hampir saja berhasil menutup pintunya jika saja kaki Jongin tidak mengganjalnya. Tangan Jongin mendorong pintu flat pemuda itu sehingga pintu itu terbuka cukup lebar untuk tubuh kurusnya.

"Aku harus menginap disini bodoh!"

"Rumahku bukan tempat penampungan idiot!"

"Dasar pelit!" Dan pada akhirnya Chanyeol pun menyerah dan merelakan rumahnya untuk menjadi tempat singgah pria tan itu.

"Kau tidur di sofa, karena aku yang akan tidur dikamar."

"Jangan seenaknya. Kau yang menumpang, jadi kau lah yang harusnya tidur di sofa." Jongin menatap Chanyeol, menatang.

"Baiklah. Sudah kuputuskan. Kita tidur berdua saja." Dan dengan seenaknya lagi, Jongin membawa tas nya untuk masuk kedalam kamar pria tiang itu. Tanpa berbasa-basi terlebih dahulu, pria itu langsung membawa tubuhnya untuk berbaring di kasur berukuran queen size milik Chanyeol.

"Cuci kakimu Jong! Kau akan mengotori bedcover nya!"

Jongin bingung, Chanyeol ini sebenarnya pria atau jelmaan ibu-ibu sih? Kenapa dia begitu cerewet?

"Tidak mau. Aku ingin tidur dulu, nanti banguni aku saat jam makan malam oke."

"Aku bilang jangan seenaknya gila! Aku tak akan membangunkan mu nanti, lihat saja!"

Rencana Chanyeol gagal total. Karena saat ia memasak makan malam, Jongin terbangun setelah mencium aroma masakannya.

"Selamat makan." Ucap Jongin bersemangat.

"Setelah makan pulanglah."

"Emm... no no! Aku akan tinggal disini untuk beberapa hari."

"Jika kau sedang berkelahi dengan suami gilamu itu jangan libatkan aku!" Chanyeol kira Jongin akan menghentikan aksi makannya setelah mendengar sindirannya, namun sepertinya Jongin tidak peduli.

"Jongin, aku mengusirmu!"

"Usir saja, kau pikir aku peduli?"

"Tapi ini rumahku..."

"Tapi ini rumah ku~~~" Jongin mengikuti perkataan Chanyeol dengan nada menjijikan sehingga membuat Chanyeol kesal bukan main.

"Aku sudah selesai makan, terima kasih karena sudah mau mencucikan piring ku Chan."

Chup~

Jongin segera pergi ke kamar setelah ia berhasil mengecup pipi pria itu. Tak lama kemudia pintu kamar itu kembali terbuka. Jongin membawa satu set selimut beserta bantal ke arah ruang tamu. Chanyeol pikir Jongin akan tidur di sofa, tapi pria itu segera kembali masuk ke kamar. Dan setelahnya Chanyeol dapat mendengar pintu kamar yang dikunci dari dalam.

Cklek

"Kim Jongin sialan!"

Beberapa jam sebelumnya

Setelah perkelahian mereka seminggu yang lalu hubungan keduanya menjadi semakin parah. Sehun yang biasanya pulang sore kini mendadak jarang pulang. Pria itu bahkan tak pernah menyapa atau bahkan memakan masakan yang Jongin sediakan untuknya.

Awalnya Jongin merasa biasa saja, sampai akhirnya ia menemukan kejanggalan pada sikap Sehun. Entah sejak kapan pria itu mulai sering memainkan ponselnya. Jongin bahkan pernah mendengarnya berbicara dengan seseorang melalui telpon, dan wajah Sehun terlihat begitu bahagia.

Jongin jadi teringat perkataan Sehun. Saat pria itu bilang bahwa Jongin tidak boleh menyesal saat Sehun terpikat oleh wanita lain. Jadi, Sehun benar-benar sudah terpikat oleh wanita lain eoh? Ternyata pria pucat itu benar-benar ingin memiliki anak sehingga ia berselingkuh dengan wanita.

"Sehun kita perlu bicara."

"Maaf tapi aku harus kembali ke kantor, ada berkas yang tertinggal." Jongin tahu jika Sehun hanya berbohong padanya untuk menghindari percakapan dengannya.

"Siapa Gyuri itu?" Mata Sehun sempat kehilangan fokus dalam beberapa detik , namun setelahnya ia malah menjawab dengan santainya. "Teman dekatku. Atau lebih tepatnya selingkuhanku? Kan kau sendiri yang menyuruhku untuk mencari wanita untuk ku nikahi."

Jongin benar-benar tercengang dengan perkataan Sehun. Jadi pria itu mengikuti semua sarannya kemarin? Baiklah, jika Sehun ingin bercerai nantinya Jongin rela.

"Sepertinya aku sudah tidak berhak untuk tinggal disini. Kau bisa kirimkan surat cerainya ke rumah Chanyeol jika kau terlalu malas untuk menaruhnya dimeja kerjaku, oke? Kalau begitu aku akan berkemas. Selamat tinggal."

Jongin berjalan pelan menuju kamar mereka. Ia tahu jika Sehun masih berdiri disana, namun ia tidak peduli. Ini semua adalah keputusan yang terbaik untuk keduanya.

"Kau bilang kita hanya break?"

"Kau bilang kau harus pergi untuk mengambil berkas? Pergilah, ku rasa wanita itu sudah menunggumu." Dan Sehun tidak dapat menahan keinginan Jongin untuk kali ini.

Esok paginya Jongin kembali bekerja seperti biasanya. Ngomong-ngomong Jongin bekerja di perusahaan milik Sehun. Meskipun ia akan bercerai dengan pria itu, dia tidak ingin berhenti dari pekerjaannya kecuali Sehun yang memecatnya, karena Jongin juga butuh uang untuk memenuhi kebutuhannya. Lagi pula dia tidak bisa terus menerus menumpang di flat Chanyeol,kan?

Namun posisi Jongin sebagai manager perusahaan membuatnya sedikit tidak di untungkan karena ia harus terus bertemu dengan Sehun. Tapi Jongin harus bersikap profesional. Sejak awal berpacaran pun Jongin dan Sehun selalu bersikap seperti atasan dan bawahan jika berada dikantor.

"Ku dengar presdir akan mengganti sekertarisnya. Padahal Irene sudah bekerja untuk waktu yang lama." Saat melewati pantry Jongin tak sengaja mendengar percakapan antara 2 karyawan bagian HRD yang sama-sama sedang minum kopi didalamnya.

"Kasihan sekali sekertaris Bae. Kalau begitu siapa yang akan menggantikannya?"

"Kalau tidak salah Manager Oh Jongin yang akan menggantikannya." Mata Jongin membola. Dia pasti sudah salah dengar kan?

"Apakah dia kurang puas bemesraan di rumah? Kenapa ia menyuruh suaminya untuk jadi sekertaris pribadinya juga?"

"Entahlah."

Baiklah sepertinya Jongin harus mendengar penjelasan dari Sehun secara langsung.

Tokk tokk tokk

"Masuklah..."

Tanpa menyapa, Jongin berjalan dengan sedikit terburu-buru ke arah meja sang boss.

"Tuan, saya hanya ingin menayakan perihal sekertaris Bae."

"Apa yang kau dengar memang benar. Aku akan memecat sekertaris Bae, dan mulai besok kau lah yang akan menjadi sekertaris pribadi ku."

"Lalu bagaimana dengan posisi saya sebagai manager? Siapa yang akan mengisi nya?"

"Jang Gyuri yang akan menggantikan mu."

Ternyata pria ini mencoba untuk membuat Jongin muak rupanya. Pasti sebenarnya pria itu ingin memecat Jongin, namun karena ia takut gossip perceraian nya menyebar maka ia berencana untuk menyiksa Jongin, hingga Jongin sendirilah yang akan mengundurkan diri.

"Kau sangat licik tuan." Jongin memamerkan senyum paksanya pada Sehun.

"Memangnya kenapa? Aku kan presdir disini, kau sebagai pegawai biasa tidak bisa mengaturku." Balas Sehun sombong.

Sebelum Jongin membalas perkataan pria itu, pintu Sehun kembali terbuka dan menampilkan seorang wanita berparas cantik yang berdiri di ambang pintu.

"Masuklah manager Jang."

'Baiklah. Kau pikir aku akan mengalah padamu lagi? Tentu saja tidak Oh Sehun. Lihat saja, aku akan membuat selingkuhanmu ini yang akan keluar dari perusahaan.'

"Bawakan berkasku!"

"Mana kopi ku?"

"Batalkan rapatnya, aku sudah memiliki janji dengan manager Jang."

"Aku akan makan siang diluar dengan manager Jang, jadi tolong jangan hubungi aku untuk 3 jam kedepan."

Baru sebulan menjabat saja Jongin benar-benar dibuat emosi dengan tingkah Sehun yang dengan seenaknya menyuruh Jongin ini itu. Jongin bahkan harus lembur setiap hari karena harus menangani klien yang protes karena pembatalan kontrak kerja sepihak yang Sehun lakukan.

"Bagaimana sudah lelah?" Beruntung kantor sudah sepi jadi Jongin bisa bebas mengutuk pria ini.

"Ya, terima kasih. Ini semua berkat mu."

"Kalau begitu berhentilah."

"Tidak. Aku tidak akan berhenti dari sini."

"Kenapa? Bukannya Chanyeol cukup kaya untuk menghidupimu?"

"Aku tidak ingin merepotkan nya, maka nya aku masih bekerja disini. Aku butuh uang untuk menyewa sebuah flat yang dekat dengan kantor ini." Sehun menaikan alis kirinya.

"Kau bisa gunakan uang yang selama ini ku berikan padamu. Uangnya pasti akan cukup untuk membeli sebuah apartement di daerah Gangnam."

"Tidak. Aku akan mengembalikan semua uang itu padamu setelah kita sudah resmi bercerai."

"Jadi kau masih ingin bercerai?" Kini giliran Jongin yang bingung.

"Kau sudah semakin dekat dengan manager Jang. Aku tidak punya hak untuk mempertahankan pernikahan kita lagi." Sehun tersenyum getir. Sehun melakukan semuanya agar Jongin cemburu dan mengakhiri masa break mereka. Namun sepertinya Jongin tidak lagi mencintainya.

"Pulang lah... kau bisa lanjutkan pekerjaanmu besok."

"Baiklah." Jongin pun mulai merapihkan berkas yang masih berserakan dimejanya, lalu bergegas untuk pulang.

Namun tepat pada pukul 3 pagi ponsel Jongin kembali berdering. Dan Jongin menemukan nama Sehun disana.

'Maaf saya menelpon karena suami anda mabuk dan tertidur di bar kami.'

Jadi Sehun masih menulis kontaknya sebagai istri?

"Baiklah. Aku akan segera menjemputnya."

Tbc