Jongin mengedarkan pandangannya kearah penjuru bar, namun ia belum bisa menemukan sosok Sehun dimanapun. Ia pun memutuskan untuk menghampiri seorang bartender yang sedang asik meracik minuman.

"Maaf sebelumnya , tapi sekitar 20 menit yang lalu aku menerima sebuah panggilan dari seorang bartender yang bilang jika suami ku sedang mabuk."

"Oh jadi itu anda. Beberapa menit yang lalu dia memang masih disini, tapi seorang wanita datang dan membawanya pulang."

'Wanita? Jangan-jangan...'

"Apakah wanitanya seperti ini?" Jongin menyodorkan ponselnya yang menampilkan foto Gyuri.

"Iya. Ini wanitanya."

"Ah kalau begitu aku permisi dulu."

Sia-sia saja Jongin jauh-jauh kemari, jika pada akhirnya Gyuri lah yang mengantar Sehun pulang. Seharusnya ia tak perlu merasa khawatir pada Sehun, karena ia akan selalu berakhir dengan di kecewakan.

ㅡㅡ

Sehun terbangun saat matahari mulai menerobos celah-celah jendela kaca di sebuah apartement. Matanya menelisik setiap sudut apartement tersebut. Ia merasa begitu asing, namun ia hapal dengan wangi parfume ini.

"Sudah bangun?"

"Gyuri? Bagaimana bisa aku disini?"

"Semalam kau mabuk dan seorang bartender menelpon ku, jadi aku menjemputmu. Karena aku tak tahu dimana rumahmu, aku memutuskan untuk membawamu kemari."

"Benarkah? Kalau begitu terima kasih karena sudah mau menjemputku." Gyuri tersenyum manis.

"Kau ingin sarapan apa?"

"Tidak perlu. Aku akan segera pulang." Sehun buru-buru mengambil dompet, jas serta ponselnya lalu keluar tanpa permisi. Sedangkan Gyuri hanya menatapnya datar.

Saat sampai dikantor Sehun menemukan wajah Jongin yang begitu kusut dengan mata yang terlihat bengkak.

'Padahal aku menyuruhnya pulang lebih awal semalam. Apa dia kembali lembur?'

"Kau lembur semalam?"

"Tidak."

"Lalu kenapa matamu bengkak? Apa jangan-jangan kau habis menangis." Jongin hanya memberikan senyum bisnis andalannya sebagai balasan. Dan Sehun tahu, itu artinya Jongin tidak ingin pembicaraan ini berlanjut.

"Apa jadwalku hari ini?"

"Nanti siang kau harus makan bersama dengan presdir Kang sekaligus penandatanganan kontrak kerja. Lalu malam harinya, kau harus menghadiri jamuan makan malam Tuan Kento."

"Baiklah. Kalau begitu kau harus ikut dengan ku." Jongin menganggukkan kepala patuh.

"Kalau begitu sampai bertemu nanti siang."

ㅡㅡ

Malam harinya Jongin dan juga Sehun datang ke acara jamuan makan malam Tuan Kento, salah satu investor perusahaan nya yang berasal dari Jepang. Keduanya sama-sama memakai jas berwarna abu-abu yang benar-benar tampak serasi. Siapapun pasti akan tahu jika mereka merupakan sepasang kekasih yang begitu serasi. Meskipun kenyataannya mereka akan bercerai.

"Selamat malam semuanya." Sehun menyapa tuan Kento dengan bahasa Jepangnya yang begitu fasih. Mereka semua pun akhirnya memulai jamuan santai itu sambil sesekali membicarakan bisnis dan saham perusahaan.

"Tuan Oh aku dengan anda sudah menikah? Lalu mengapa anda datang dengan seorang sekertaris?" Jongin mengerti apa yang tuan Kento bicarakan, dia pun ikut menatap Sehun, sedikit takut jika Sehun tidak mengakuinya sebagai 'istri'.

"Sebenarnya sekertarisku ini adalah suamiku."

"Benarkah? Pantas saja kalian terlihat serasi." Jongin masih tertegun dengan jawaban Sehun, namun ia segera menetralkan raut wajahnya dan membalas senyum yang tuan Kento berikan padanya.

"Sepertinya kalian masih ingin bermesraan sehingga belum memiliki anak?" Canda tuan Kento yang membuat baik Jongin maupun Sehun sama-sama terdiam.

"Anda benar. Saya memang ingin menunda untuk memiliki anak dulu, karena saya ingin memfokuskan diri untuk karier dan juga Jongin."

Jongin tahu jika Sehun hanya ingin menyelamatkan namanya di depan tuan Kento. Tapi anehnya ekspresi Sehun menunjukan hal yang sebaliknya. Dia terlihat jujur dan tulus.

Skip

"Terima kasih tuan. Lain kali saya akan mengundang anda beserta keluarga untuk jamuan di rumah saya."

"Saya akan merasa sangat terhormat jika anda mengundang saya."

"Kalau begitu kami pamit pulang. Selamat malam." Sehun dan Jongin pun pamit dan memasuki mobil mereka.

"Mengapa mengenalkan ku sebagai pasanganmu padahal sebentar lagi kita akan berpisah?"

"Basa basi saja..."

Baiklah, kini Jongin tahu niat Sehun yang sebenarnya. Wah... dia kira Sehun benar-benar serius dengan perkataannya, ternyata pria itu hanya bermaksud basa basi saja. Sialan! Untung saja Jongin tidak sempat tersentuh karena perlakuan manisnya tadi.

"Aku berhenti disini saja." Sehun pun segera menghentikan mobilnya sesuai dengan titah Jongin.

"Hati-hati."

Jongin berjalan keluar dari mobil mewah tersebut. Kaki nya melangkah menuju sebuah kafe yang cukup terkenal. Setelah melihat mobil Sehun yang sudah menghilang diseberang sana, Jongin pun mempercepat langkahnya untuk masuk kedalam kafe tersebut.

"Kau datang lebih lama dari yang ku kira." Seru seorang wanita paruh baya yang sudah menunggu Jongin sejak 20 menit yang lalu.

"Maaf bu, makan malamnya baru saja berakhir." Jongin masih berdiri di depan wanita itu dengan kepala tertunduk, dia masih terlalu takut karena aura dominan si wanita.

"Kau tak memberitahu Sehun kan?"

"Tidak bu."

"Kalau bagitu duduklah. Aku tidak akan berbasa-basi padamu. Apa kau sudah hamil?"

"Maaf bu."

"Berhenti minta maaf Jong! Yang harus kau lakukan adalah memberikan aku cucu! Bukannya minta maaf! Kau tahu, aku sudah semakin tua Jong aku tak akan hidup selamanya, maka dari itu aku ingin kalian memiliki anak secepatnya."

Jongin sebenarnya tidak ingin memberitahu ibu Sehun tentang rencana perceraian mereka. Tapi sepertinya ini waktu yang tepat untuk mengatakannya. Lagipula ibu Sehun pasti setuju.

"Sebenarnya kami ingin bercerai bu..."

"Kenapa? Apakah kau mandul?"

'Jika dia seumuran denganku, pasti sudah ku jambak wanita ini. Mengapa keluarga ini mengatainya mandul? Bisa saja Sehun yang kurang sehat.'

"Tidak. Aku tahu bagaimana kalian begitu menginginkan keturunan dari kami, maka dari itu aku akan melepaskan Sehun. Aku tak ingin kalian terus kecewa karena menunggu aku untuk hamil."

"Keputusan yang tepat. Kau tahu bagaimana kerasnya usahaku untuk membuat Sehun menceraikanmu dan menyuruhnya untuk menikahi wanita selama ini? Dan untunglah sekarang kau bisa tahu diri. Jongin, kau akan selalu menjadi pasangan yang gagal jika tidak dapat memberikan keturunan."

Perkataan ibu Sehun benar-benar menancap dibenak Jongin. Dari awal wanita itu sudah menentang hubungan mereka, namun setelah Sehun bilang jika Jongin dapat hamil ia langsung merubah pikirannya. Tapi obsesi itu belum juga padam, wanita itu terus mendesak Jongin dan juga Sehun agar segera memberikan cucu untuk mereka. Jongin bahkan baru tahu jika ibu Sehun ternyata memaksa Sehun untuk menceraikannya.

"Kalau begitu saya permisi dulu. Selamat malam."

Jongin merasa sakit hati namun juga merasa lega sekaligus. Hatinya sakit saat mengetahui bahwa perceraiannya begitu dinantikan oleh sang ibu mertua. Namun ia juga lega, karena bisa terbebas dari keluarga penuh obsesi itu.

ㅡㅡ

Sehun tahu jika Jongin pasti masih mencintainya, begitu pula sebaliknya. Tapi dia masih ragu dan juga takut untuk mengajak Jongin kembali bersama. Ia takut Jongin menentangnya.

Sehun jelas cemburu setiap melihat Jongin turun dari mobil Chanyeol setiap pagi hari. Sehun juga dapat melihat raut bahagia Jongin saat berbicara dengan Chanyeol. Entah apa yang mereka bicarakan, namun Sehun merasa cemburu. Dan Sehun rasa ia sudah terlalu lama dia. Hari ini dia akan bersikap lebih vokal dan juga lebih tegas lagi. Jongin harus tahu jika Sehun masih mencintainya.

"Ke ruanganku sekarang."

Jongin mengekori Sehun dengan raut bingungnya. Dia terlalu terkejut saat Sehun tiba-tiba datang ke meja nya dan menyuruhnya untuk masuk ke ruangan nya.

"Ini. Setidaknya jangan tinggal bersama dengan makhluk tiang itu." Sehun melemparkan sebuah kunci apartement yang untungnya mendarat tepat di telapak tangan Jongin.

"Jangan percaya diri dulu, aku tidak memberikannya secara cuma-cuma. Aku akan menganggapnya sebagai hutang. Jadi kau bisa mulai mencicilnya mulai bulan ini."

"Tapi kenapa?" Sehun benar-benar ingin mengecupi wajah polos itu saking gemas nya. Jongin benar-benar tidak peka rupanya.

"Tentu saja aku cemburu bodoh! Kau itu masih berstatus istriku, tapi kau malah tinggal dengan pria lain."

"C-cemburu?" Jongin segera menutup mulutnya dengan telapak tangan kirinya kemudian berkedip berkali-kali.

"Kau pikir kenapa aku belum mendaftarkan perceraian kita selama ini? Aku- aku masih terlalu mencintai mu bodoh!" Wajah Sehun memerah karena malu. Dia bukan tipe orang yang romantis sebenarnya, malah ia tipe orang yang sangat buruk dalam menunjukan rasa cintanya.

"Berhenti bersikap menggemaskan Jong!" Sepertinya Jongin harus mengontrol raut wajahnya mulai detik ini, karena Sehun tidak akan berjanji jika Jongin dapat selamat darinya malam ini.

"Aku ini tampan bodoh!" Jongin menendang tulang kering Sehun, lalu berlari meninggalkan pria itu sendirian didalam sana.

ㅡㅡ

"Aku sudah menelpon jasa pengangkutan untuk memindahkan barang-barang mu dari rumah Chanyeol."

'Tak usah berlebihan! Aku hanya membawa satu tas baju Sehun.'

"Kalau begitu pindahkan sekarang juga."

'Kau gila? Ini masih jam kerja. Aku akan pindah hari minggu nanti.'

"Itu terlalu lama!"

Sehun dapat melihat Jongin yang menjauhkan telpon dari telinganya melalui kaca ruangannya. Jongin bahkan memberikan tatapan mematikannya pada Sehun. (Bayangin ruangannya kaya yang didrama why secretary kim?)

"Kau bisa pulang sekarang juga. Aku akan mengizinkannya."

Tutt tutt

Jongin membanting telpon kantor dan menatap Sehun. Sementara yang ditatap hanya memberikan gidikan bahunya.

"Maaf sekertaris Oh, aku ingin menitipkan ini. Tolong berikan pada presdir Oh. Oke?"

"Berikan saja sendiri. Dia ada didalam sana."

"Tidak mau. Aku sedang tidak mood untuk berurusan dengannya." Jongin hampir saja menjatuhkan rahangnya karena mendengar balasan dari Kyungsoo. Padahal staff HRD itu termasuk karyawan yang terbilang dekat dengan Sehun, namun entah kenapa dia tidak pernah mau berbicara dengan Sehun jika dikantor.

"Masuklah... dia tak akan memarahimu."

"Kau saja yang masuk. Aku malas berbicara padanya."

"Kenapa?"

"Aku alergi dengannya." Jongin mengenal Kyungsoo saat laki-laki bermata belo itu datang kepernikahan mereka 4 tahun lalu. Saat itu Jongin mengenalnya sebagai salah satu teman Sehun sejak jaman kuliah.

"Kalau begitu aku pergi dulu." Setelah Kyungsoo pergi Sehun pun keluar dari ruangan nya.

"Apa yang dia titip kan?"

"Ini berkas perekrutan pegawai baru. Ngomong-ngomong kenapa dia tak ingin berinteraksi denganmu saat dikantor?"

"Oh itu... dia hanya takut jika aku mengejeknya."

"Mana mungkin! Jika hanya karena hal sepele, dia tidak mungkin sampai seperti itu."

"Mungkin saja. Karena aku mengejeknya soal Chanyeol."

Astaga. Jangan bilang-

"Dia suka pada Chanyeol."

"Aku harus bilang pada Chanyeol! Kurasa mereka benar-benar berjodoh." Jongin segera mengetikkan pesan untuk Chanyeol. Dia turut bahagia karena Kyungsoo ternyata juga menyukai sahabat idiotnya itu.

"Ayo kita pergi." Sehun menarik lengan Jongin pelan.

"Kemana?"

"Tentu saja untuk memindahkan barangmu." Jongin mendengus kesal, namun gerakannya malah bertolak belakang, karena ia malah mengikuti langkah Sehun.

ㅡㅡ

Entahlah apa yang terjadi pada Sehun seminggu belakangan ini, namun semenjak Jongin pindah ke apartement yang ia berikan, Sehun jadi sering menginap di tempat nya.

"Kau punya rumah sendiri Hun... pulanglah!"

"Ini juga rumah ku Jongin. Kau kan belum melunasinya." Jongin menarik rambut Sehun hingga pria itu meringis kesakitan.

"Kau menyebalkan Sehun!"

"Akh ampun Jong! Lepaskan!" Jongin semakin mengeratkan genggamannya pada rambut Sehun. Sehun pun memeluk pinggang Jongin dan menggigit bahu Jongin sedikit keras.

"Yak!" Jongin langsung melepaskan jambakannya pada rambut Sehun dan sibuk mengusap bekas gigitan Sehun yang pasti akan membuat bekas merah pada kulit tan nya.

Sehun tersenyum puas saat melihat wajah Jongin yang begitu terlihat kesal padanya. Tak ingin kehilangan momen berharga, Sehun pun mencium Jongin dengan kecepatan kilat.

"Apa yang kau lakukan?!"

"Mencium mu."

"Tapi kita kan-" Jongin menghentikan ucapannya saat Sehun mengeratkan pelukannya pada pinggul Jongin.

"Aku tidak bisa Jong. Aku tidak bisa menceraikanmu. Aku belum bisa hidup tanpamu." Jongin membalas dekapan Sehun tak kalah eratnya

"Kau yakin? Tapi bagaimana dengan anak? Aku tidak yakin dapat memberikanmu anak dalam waktu dekat Hun."

"Tak apa Jong. Sekarang yang terpenting adalah kau Jong, aku sudah tak peduli tentang masalah anak."

"Tapi aku sudah memberitahu ibumu." Sehun menarik pelukkan dan menatap Jongin sedikit emosi. "Hehe..." Jongin hanya dapat menyengir seperti kuda, dan itu berhasil membuat emosi Sehun hilang seketika.

"Aku akan menjelaskan padanya nanti. Yang penting kita bisa kembali bersama."

"Kau yakin tidak ingin memiliki anak?"

"Sebenarnya aku ingin, tapi percuma saja jika aku memiliki anak namun ibunya bukan kau. Aku ingin memiliki anak bersama mu Jong. Karena itu aku melakukan segala cara agar kita dapat segera memiliki anak."

Jongin menyembunyikan wajahnya di dada Sehun. "Wah... siapa yang mengajari mu untuk berbicara seperti itu? Aku tidak tahu kau bisa romantis juga."

"Kau ini!" Sehun mengusak kepala Jongin dan semakin menenggelamkan Jongin didalam pelukannya.

tbc