Terinspirasi dari lagu Spica- You don't Love Me.

Alisku hanya terangkat saat melihat sosok pria yang harusnya berada disampingku saat ini, namun kini ia malah berada diujung lorong sekolah dengan seorang gadis lain. Terlihat dekat dan begitu hangat. Sesekali mereka tersenyum dan menyentuh tangan satu sama lain. Namun sudut bibirku ikut terangkat saat melihat si gadis ,yang aku pun tak tahu masih perawan atau tidak, itu menyentuh wajah Kris .

"Seperti dugaan semua orang, kau memang tidak mencintaiku. Dasar tonggos sialan!"

ㅡㅡ

Hari ini adalah hari jadi kami yang ke 6 bulan. Aku sudah menyiapkan sebuah kejutan kecil untuk pria kelebihan kalsium itu. Tidak banyak, hanya sepotong kue dan juga beberapa lilin.

Aku membawa kue itu ke rumah nya yang kebetulan hanya berbeda satu blok dari rumahku. Meskipun jaraknya terbilang dekat dan dapat di tempuh dalam waktu 15 menit, namun tetap saja ada banyak halangan yang menimpa ku. Dari tak dibolehkan untuk keluar malam hari oleh ibu, sehingga aku memutuskan untuk kabur diam-diam. Lalu kue yang dicomot kecil oleh ayahku, hingga lilin yang patah karena terinjak olehku. Mungkin ini adalah hari tersialku, tapi aku tidak boleh menyerah! Aku harus memberikan kejutan ini pada Kris.

Saat sampai didepan rumah nya, aku melihat adik Kris, Xuanyi, yang baru saja sampai dari supermarket. Adiknya begitu baik, dan dia juga bersekolah di tempat yang sama dengan kami. Gadis itu tersenyum dan mempersilahkan ku untuk masuk.

Setelah memastikan si tiang itu masih didalam kamar, aku dan Xuanyi mulai menata lilin dan menyalakan api. Dan setelah hitungan ke 3, aku pun membuka pintu kamar Kris.

"Kejutan! Selamat hari jadi yang ke 6 bulan." Aku berujar riang. Aku benar-benar berharap jika Kris akan terharu, atau akan menyambutku dengan wajah berserinya. Namun aku salah besar. Karena pria itu malah terlihat sedikit murka.

"Kau terlambat Jongin! Hari jadi kita bahkan sudah lewat dari 24 jam yang lalu. Dan ini! Kenapa hanya ada 4 lilin dan juga sepotong kue? Kau bahkan tak niat sama sekali rupanya."

Heol! Bukankah aku lebih baik darinya? Dia bahkan tak pernah mengucapkan selamat setiap hari jadi kami selama 6 bulan berpacaran. Selalu aku, aku, dan aku. Hanya aku yang berusaha untuk mendekatinya, tapi dia tidak.

"Ge~ aku rasa kau berlebihan. Jongin sudah berusaha semaksimal mungkin, tidak seharusnya kau memarahinya."

"Wu Xuanyi, pergilah. Jangan coba-coba untuk membela teman sekelasmu ini." Bukan hanya Xuanyi yang tersentak, aku juga.

Inilah Kris, dengan segala kesempurnaannya. Hal-hal kecil yang bahkan tidak mengganggu pun akan ia urusi hingga tuntas. Namun aku tak menyukai nya. Itu terdengar aneh dan juga tak normal menurutku.

"Mengapa kau selalu mempersalahkan hal-hal kecil? Itu bukan berpacaran namanya!"

"Memangnya kenapa? Jika kau tak suka dengan gaya ku, silahkan pergi!" Dengan kesal, ku banting kue tersebut dan pergi dari rumah Kris dengan air mata yang menumpuk dipelupuk mata.

Namun sayangnya, saat sampai didepan rumah ku, ayah dan ibuku terlihat begitu menyeramkan.

"Kim Jongin, kau tidur di kandang Monggu!"

ㅡㅡ

Esok harinya aku pergi ke sekolah dengan wajah ditekuk berlipat-lipat. Untung semalam aku tidak benar-benar tidur dikandang Monggu, tapi sebagai gantinya ayah tidak memberiku uang saku selama 3 hari. Dan kabar buruknya, aku sama sekali tidak memiliki tabungan.

Bicara mengenai ayah dan ibu, sebenarnya mereka berdua tahu jika aku berkencan dengan Kris. Namun mereka begitu menentangnya karena ayahku bilang Kris terlihat seperti seorang bajingan yang mungkin saja akan menyakitiku suatu saat nanti. Tapi ayah salah. Karena Kris sudah menyakitiku disaat kami baru saja resmi berpacaran.

Flashback on

Aku sudah tak tahu dimana rasa maluku bersembunyi, karena saat ini, dengan beraninya aku berada disini. Berada di lapangan dengan dikerubungi oleh ratusan siswa dari kelas 1 hingga 3, yang sedang melihatku yang ingin menyatakan cinta.

Katakan aku gila, karena aku sendiripum masih tak paham dengan fungsi otakku saat ini. Bagaimana mungkin, seorang siswa kelas 2 biasa sepertiku, bisa memberanikan diri untuk menembak seorang kakak tingkat paling populer disekolah?

"KRIS WU SUNBAE... AKU KIM JONGIN DARI KELAS 2E, INGIN MENGAJAKMU BERPACARAN! APA KAU MENERIMA NYA?"

Dengan wajah sedatar dinding dan sedingin kutub utara, pria itu menghampiri ku dan mengusap kepalaku pelan.

"Baiklah...aku terima."

Riuh suara para siswa mulai memenuhi lapangan basket, sebagian tak percaya, dan sebagiannya lagi mengumpati keberuntunganku. Namun riuh itu tidak bertahan lama, karena setelahnya mereka berbalik mentertawakanku karena ucapan pria brengsek itu.

"Jangan senang dulu. Aku hanya menerimamu karena aku kasihan padamu. Lagipula aku tidak mungkin menyukai orang jelek sepertimu."

Dan sejak itu aku memantapkan hati untuk membuat Kris benar-benar mencintaiku.

Flashback off

Namun sepertinya itu hanya terjadi didalam drama yang selalu ibuku tonton setiap pagi. Karena nyatanya, setelah 6 bulan berlalu Kris tidak pernah berhenti untuk flirting dengan gadis-gadis lain.

Aku sudah menyerah, jauh sebelum kejadian semalam terjadi.

Banyak faktor yang membuatku benar-benar ingin mengakhiri hubungan kami, namun bodohnya, aku masih berpegang teguh dengan suatu zat kimia yang bernama cinta.

Aku merasa tidak akan mampu jika melihatnya bersama dengan orang lain. Setidaknya meskipun dia tak menyukaiku, tapi aku masih berstatus kekasihnya. Akal sehat ku memang rusak jika terus berhadapan dengan si tonggos asal China ini.

"Tak ke kantin?" Aku membalas tanya Sehun dengan gelengan pelan. "Kenapa?"

Huhh... rupanya anak ini masih penasaran. Padahal aku sengaja tidak menjawab agar dia cepat pergi dan aku bisa tidur dengan tenang.

"Ayah sedang menghukum ku. Sudah sana, pergilah..." usirku tak tahu malu. Biar saja, lagipula Sehun tidak akan marah.

"Ya sudah. Kalau begitu aku pergi dulu." Aku tak mengiraukan perkataan Sehun lagi, dan memilih untuk menelungkupkan kepalaku diantara lipatan tangan untuk tidur.

Skip

Tidurku terganggu saat merasakan sebuah benda lunak yang terlempar dikepalaku.

"Kris?"

Astaga? Kenapa dia bisa datang kemari? Dan, ini...

"Kau memberiku roti?"

"Bukan aku. Tapi Sehun. Tadi dia di panggil oleh pelatih dan menyuruhku untuk memberikannya padamu."

Sial! Seharusnya kau berbohong saja bodoh, setidaknya biarkan aku terkesan sedikit saja.

"Terim-"

"Aku pergi." Setelah sosok itu hilang, aku segera melempar sebungkus roti itu ke arah papan tulis dihadapanku.

"Bajingan!"

ㅡㅡ

Semalam aku menangis seperti orang gila, sampai-sampai ayah ingin menyeretku ke rumah sakit jiwa karena takut aku ketularan virus gila anjing tetangga. Lagipula bagaimana mungkin aku terjangkit virus anjing? Dasar ayah.

Aku benar-benar tak sanggup lagi jika terus disakiti seperti ini. Hubungan ini tidak pernah berkembang sedikitpun. Dan aku juga sudah lelah untuk mendekati sosok Kris yang semakin lama, semakin jauh dari ku.

"Sebaiknya, kita putus saja. Aku akan mundur..."

Pria tinggi itu hanya mengangguk dan berucap, "Seharusnya kau lakukan itu dari dulu."

Kris benar. Keputusan bodohku ini tidak saja menyakitiku, tapi juga membebani Kris. Dia seharusnya berkencan dengan gadis yang ia sukai, dan bukannya pria aneh sepertiku. Dan aku juga baru sadar jika Kris benar-benar baik karena tidak memutuskanku dari dulu, padahal aku begitu mengganggunya.

"Kalau begitu kita bisa berteman." Kris menjulurkan tangannya ke arah ku. Namun aku tak menggubrisnya sama sekali, padahal itu akan menjadi skinship kami yang pertama, karena sebelumnya kami tidak pernah bersentuhan sama sekali.

"Aku tak bisa menjadi temanmu."

"Kenapa? Kau sakit hati?" Dan aku mengangguk dengan tidak tahu malunya. "Seharusnya kau menolakku saat itu, dan bukannya membiarkan satu sekolah tahu jika kau menerimaku karena rasa kasihanmu."

"Benarkah? Tapi maaf sebelumnya , aku tidak akan minta maaf karena hal itu."

"Aku tahu. Kalau begitu selamat tinggal..."

"Apa maksudmu?"

"Apa kau pikir aku mampu berada dilingkungan yang sama dengan orang yang aku cintai? Kau mungkin menganggap perasaanku hal yang sepele. Tapi aku tidak. Aku serius pada mu, dan seterusnya akan seperti itu. Jadi, jika aku tidak bisa memiliki mu, maka aku harus belajar hidup tanpa mu."

End

Note: jadi akhirnya! Setelah ngetik selama sejam, akhirnya ff amburadul ini pun jadi.

Ffn sepi sekali yah... tapi aku yakin masih ada orang2 yang baca ffku diluaran sana. meskipun kalian gak komen aku sudah senang karena kalian mau mampir kelapakku.