No edit2... so maaf kalo banyak typo

Memikirkan pembicaraan terakhir kami membuatku merasa sedikit bersalah pada Jongin. Ingat, Sedikit. Apa yang ku lakukan tidak semuanya salah. Apakah salah jika aku menginginkan kekasih yang sempurna? Semua orang pasti juga menginginkannya.

Aku memang tidak pernah menyukai Jongin sejak dulu, tapi meskipun begitu aku ingin dia menjadi sosok yang sempurna agar bisa bersanding dengan pantas dengan ku.

Dengan ragu aku mulai mendekati pintu yang bertuliskan '2E' di atasnya. Sekolah sudah berakhir sejak 2 menit lalu, dan aku bergegas kemari untuk menemui anak itu. Ya, mungkin aku harus minta maaf.

"Permisi, apakah Kim Jongin sudah pulang?" Siswi yang ku ajak bicara malah memekik tertahan, yah mungkin karena terlalu senang karena aku mengajaknya berbicara.

"Jongin sudah pindah sekolah mulai hari ini."

Jadi dia benar-benar serius untuk menjauhi ku? Dasar bodoh! Seharusnya dia tidak cepat emosi seperti itu. Bagaimana mungkin ia mengorbankan sekolahnya hanya karena pria seperti ku?

"Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu."

Aku melihat pagar bercat coklat itu dengan ragu. Batin dan juga otakku sedang bertarung hebat. Apakah aku harus masuk atau tidak?

"Ku rasa lainkali saja." Saat aku memutar tubuhku untuk kembali ke mobil ku, aku melihat sosok lelaki paruh baya yang menatap ku dengan pandangan menyela nya.

"Mau apa kau didepan rumahku?"

"Aku benar bukan? Kau memang pemuda brengsek yang akan menyakiti putraku." Aku memang takut untuk menanggapi perkataan orang itu, namun aku tidak takut untuk menatap matanya.

"Pergilah, Jongin sudah ku kirim ke tempat neneknya. Jadi kau tidak perlu lagi mencari-carinya."

Tanpa rasa sopan santun sedikitpun, aku langsung masuk ke dalam mobilku, tak perduli dengan ayah Jongin yang berdecak kesal.

Flashback on

Untuk pertama kalinya aku mengunjungi rumah Jongin setelah berkecan selama 4 bulan. Hari ini aku berencana untuk mengajak Jongin untuk pergi ke bioskop, sekaligus untuk merayakan hari jadi kami.

Namun saat aku baru sampai di depan gerbang, seorang pria berumur langsung menahan ku.

"Siapa kau?"

"Aku Kris, kekasih Jongin."

"Hah... dari wajah dan nama mu saja, aku sudah dapat memastikan jika kau itu pemuda nakal dan pemberontak. Pergilah, aku tak akan mengijinkan Jongin untuk pergi kencan dengan mu."

Jika dibukan orang tua Jongin sudah ku pastikan pria tua ini akan masuk kedalam peti matinya malam ini juga. Mungkin tebakan nya tidak salah, tapi setidaknya dia bisa mengatakannya dengan kata-kata yang lebih halus bukan?

Dan sejak itulah aku memutuskan untuk tidak berkunjung ke rumah Jongin. Niat awalku untuk mendekatinya pun ikut menguap saat itu juga.

"Maaf tuan, tapi aku juga tidak sudi jadi menantumu."

Flashback off

Menurut kabar burung (desas desus yang beredar) Jongin pindah ke daerah Gimpo dan tinggal bersama neneknya. Dan setelah berperang batin selama satu bulan lebih, aku pun memutuskan untuk mendatangi Jongin saat liburan musim panas kali ini. Kebetulan orang tuaku dan juga Xuanyi sedang pulang ke China, sehingga aku bebas melakukan apapun sekarang

Setelah berkendara selama 3 jam, aku pun akhirnya sampai didepan kediaman nenek Kim. Rumahnya terlihat sederhana dengan ornamen kayu yang mendominasi, namun masih terlihat begitu luas dan juga nyaman.

Saking asiknya melihat-lihat, aku sampai tidak menyadari adanya seorang wanita lansia yang berdiri di depanku.

"Mau cari siapa?"

"Selamat siang, aku ingin menemui Jongin. Apakah dia ada didalam?" Nenek itu tersenyum simpul lalu mengajakku untuk masuk bersamanya.

"Jongin masih disekolah. Hari ini dia harus mengurus keperluan pentas seni sekolah. Tunggulah, sebentar lagi dia pasti pulang."

"Terima kasih." Pantas saja Jongin memiliki hati seperti malaikat, ternyata itu turunan dari Nenek nya. Lagipula tidak mungkin Jongin menuruni sifat tuan Kim, kan?

"Aku pul- mau apa kau kesini?!"

"Menemuimu." Secara tiba-tiba Jongin menarik lenganku dan menyeretku untuk beranjak dari rumah itu.

"Hey Jongin, siapa yang mengajarimu untuk tidak sopan pada tamu? Biarkan Kris disini dulu."

Aku memberikan senyum licik pada Jongin sehingga pria itu mencubit pahaku dengan kesal.

"Emm... nek, bisakah aku menginap beberapa hari disini? Kebetulan aku masih rindu dengan Jongin." Jongin memberikan gesture mau muntah nya saat mendengar kata-kata chessy dariku.

"Boleh. Tidurlah di kamar Jongin, nanti nenek akan bawakan selimut tambahan untuk mu."

"Tak perlu nek, Kris harus pulang sekarang!"

"Jongin! Sudah sana, pergi mandi. Apa kau tak malu jika pacarmu melihatmu jorok seperti ini?"

"Siapa yang kekasihku? Si tonggos ini? Tidak!" Tunggu! Jadi selama ini Jongin mengataiku tonggos?

"Sepertinya kau masih belum bisa membedakan antara tonggos dan tidak Jong. Baiklah, aku akan memberitahu mu soal apa yang bisa dilakukan gigi tonggos ini nanti malam." Pipi Jongin bersemu, sepertinya dia berpikir hal yang sama dengan ku.

"Nek... Kris melecehkan ku!"

ㅡㅡ

Malam hari pun tiba. Meskipun sempat menolak berkali-kali, tapi Jongin akhirnya mengalah dan mengijinkan aku untuk tidur seranjang dengannya.

Hening

Tentu saja hening, suasana diantara kami masihlah begitu kaku karena kejadian waktu itu. Namun sepertinya ini waktu yang tepat untuk minta maaf.

"Maafkan aku."

"Eung?"

"Maaf karena sudah membuatmu malu 8 bulan yang lalu, dan juga, maaf karena terlalu menekanmu selama ini." Jongin mulai memiringkan tubuh nya seperti yang aku lakukan, hingga mata kami saling bertaut satu sama lain.

"Kau jatuh cinta padaku?" Aku menggeleng pelan sehingga membuat wajah Jongin terlihat sedikit murung. "Lebih tepatnya belum. Karena aku belum mencobanya."

"Tapi kenapa? Kenapa kau datang tiba-tiba? Padahal aku mulai mencari pria lain disini."

"Jangan berani-berani untuk melirik pria lain selain aku. Sebenarnya aku ingin menjelaskan sesuatu padamu. 4 bulan yang lalu aku sempat datang ke rumahmu."

"Benarkah?"

"Iya. Awalnya aku ingin mengajakmu untuk berkencan, namun ayah mu menghadangku. Dia bilang aku terlalu brengsek untuk anaknya. Dan sejak saat itu aku tak ingin mendekatimu lagi." Jongin mempoutkan bibirnya. Dia terlihat begitu menyesal akan perilaku ayah nya padaku.

"Tapi sekarang aku tak akan memikirkan perkataan ayahmu lagi. Karena aku ingin mencoba untuk mendekatimu lagi."

Jongin tersenyum malu-malu dan beringsut memelukku. Namun bukannya membalas, aku malah menjauhkan tubuh itu dan hal itu langsung membuat Jongin menatapku heran.

"Tadi kau mengataiku tonggos bukan? Sekarang aku ingin kau merasakannya sendiri. Apakah ini tonggos atau tidak." Tanpa aba-aba aku langsung bangkit dan mencium Jongin yang masih berbaring dibawahku.

2 tahun kemudian.

Hari ini begitu penting untuk ku. Hari dimana akhirnya kami bisa terikat dihadapan tuhan dan juga negara. Aku bahkan tak berhenti menggosok kedua telapak tanganku yang lembab saking gugup nya. Tak lama pintu ruangan yang ku tempati terbuka. Dan disana aku melihat sosok tuan Kim yang berjalan pelan menghampiri ku.

"Kau gugup?"

"Tentu saja."

"Ingat! Saat ini aku mungkin memberikan putraku padamu, tapi jika suatu saat kau kembali menyakitinya, aku akan kembali merebutnya, dan jangan harap ada kesempatan ke tiga untuk mu." Aku tersenyum untuk menanggapi ucapan pria berumur 57 tahun tersebut. Aku ingat saat itu, saat aku minta ijin padanya untuk menikahi Jongin tepat dihari kelulusan Jongin, dan aku langsung mendapatkan sebuah hantaman keras di rahang kananku. Namun berbeda dengan sikap anarkisnya, pria itu malah menerima lamaranku. Dasar tsundere!

"Bersiaplah sebentar lagi pemberkatannya akan dimulai." Sebelum ia benar-benar pergi, aku langsung memeluknya. "Terima kasih karena sudah memberikan putramu padaku."

Masih dengan nada angkuhnya pria tua itu berkata, "Aku hanya meminjamkannya sebentar. Dia tetap anakku, dan mau sampai kapanpun dia akan terus menjadi milik ku."

Dan sejam setelahnya aku dan Jongin telah resmi menjadi pasangan hidup di hadapan tuhan.

"Maaf yah, karena ayah kita tidak jadi bulan madu..."

"Tidak apa. Lagipula kita masih harus kuliah setelah ini."

"Kalau begitu malam pertama nya juga tidak jadi kan?"

"Kalau itu tidak bisa. Lagipula aku harus memberitahumu soal fungsi gigi ku ini di tempat lainnya." Muka Jongin kembali bersemu.

"Ayah Kris berbicara jorok lagi!"

End

Note: aku tau ini sangat sangat sangaaaaat mainstream sekale, pasaran dan gampang di tebak. Tapi anggap aja sogokan karena hutang ff ku yang lainnya.

Dan juga thx buat PeriRumah dan lightdarklord88 yang udah review... see you next story. Btw sequel antasy bakal aku update besok atau lusa...

Bye!!!