Sekuel Antasy
Jongin tersadar dari tidur panjang nya. Badan nya bahkan terasa begitu pegal karena tidur terlalu lama. Mata nya memperhatikan keadaan di sekitar nya. Ia baru sadar jika ia berada di tempat iblis itu.
Jongin merubah posisi nya menjadi duduk. Ia dapat melihat jika kamar yang ia tempati sangatlah besar dan nyaman, tapi masalah nya hanya satu, tempat ini begitu dingin. Entahlah... padahal Jongin tidak melihat adanya pendingin ruangan. Cuaca di luar pun terlihat tidak bersalju.
Cklek
Mata nya beralih pada sosok pria yang baru saja muncul dari pintu. Jongin terkejut saat melihat siapa sosok pria itu.
"Chanyeol?"
"Emm..."
"Jadi selama ini- kau- kau..." Jongin tak mampu melanjutkan kata-katanya karena terlalu terkejut. Pantas saja aura Chanyeol begitu suram dan dingin selama ini. Ternyata pria itu adalah seorang iblis.
"Baiklah. Sudah cukup adegan terkejutnya, dan sepertinya kau harus bersiap karena hukuman mu akan di lakukan hari ini."
"Hukuman?" Heol... Jongin seperti nya mulai menyesali keputusannya untuk bertukar jiwa. Tapi ngomong-ngomong bagaimana keadaan Sehun sekarang? Apakah dia dan Luhan sudah bahagia?
"Jangan melamun. Cepat bersiap!" Jongin mendengus sebal. "Aku tak membawa pakaian ku!"
"Sudah ku sediakan di lemari. Lihat saja sendiri. Aku tunggu di bawah, jangan lama-lama." Chanyeol keluar dengan sedikit membanting pintu. Jongin akhirnya memutuskan untuk bersiap-siap seperti perintah Chanyeol. Ia masuk ke dalam sebuah ruangan yang terlihat seperti kamar mandi, lalu mandi.
"Untunglah airnya tidak sedingin yang ku pikir."
Skip
Setelah mandi dan berpakaian, Jongin segera turun untuk menemui Chanyeol. Ia dapat melihat Chanyeol yang tengah duduk di meja makan, pria itu terlihat seperti sedang menunggunya. Hal itu dapat Jongin buktikan dengan melihat Chanyeol yang hanya terdiam tanpa menyentuh makanan nya.
"Segera duduk dan makanlah sarapan mu." Tanpa melihat Jongin Chanyeol segera menyantap makanan yang ada di depannya. Makanannya terlihat normal, sandwich dan juga kopi, sedangkan susu untuk Jongin.
"Apakah aku boleh memakannya?" Tanya Jongin pada Chanyeol, namun pria itu tidak menghiraukannya sama sekali.
"Baiklah aku tak akan memakannya."
"Makan!"
"Aku kan manusia, sedangkan kau iblis. Bagaimana jika daging sandwich ini terbuat dari otak manusia?" Chanyeol menaruh pisau dan garpunya lalu menatap Jongin dingin.
"Pertama, aku bukan iblis. Kedua, aku tidak memakan bagian tubuh manusia, karena manusia itu menjijikan. Dan terakhir, berhentilah bicara sebelum aku memenggal kepala mu."
Glup
Jongin menelan liurnya dengan susah payah. Mata nya seakan terkunci pada tatapan dingin pria itu. Dalam hati ia bertanya, 'jika bukan iblis, lalu makhluk jenis apa Chanyeol itu?'
"Sekarang, makan lah."
"B-baiklah..." perlahan Jongin mulai memotong sandwich itu dan memakan nya. Rasa nya seperti sandwich biasa dan cukup nikmat.
"Tapi kenapa kau memberikan aku susu? Sedangkan kau minum Kopi?"
"Kau masih kecil."
"Aku kira kita seumuran, dan aku tidak kecil." Ujar nya bersungut-sungut.
"Kau masih kecil. Dan cepat habiskan makanan mu, kita harus segera berangkat." Chanyeol menghabiskan kopi nya, sedangkan Jongin meminum susu nya dengan wajah kesal.
"Sudah selesai bukan? Ayo pergi."
.
.
.
Hal yang dapat Jongin simpulkan adalah bahwa Chanyeol adalah seorang jin. Dan menurut penjelasan pria itu, Jin dan manusia sebenarnya hidup di bumi yang sama, namun di dimensi yang berbeda. Itu sebabnya lingkungan mereka serupa meskipun dunia jin lebih dingin karena hanya memiliki satu musim. Seperti kutub utara jika di dunia manusia.
"Kapan kita sampai?" Tanya Jongin. Jujur saja, Jongin dan Chanyeol sudah berkendara cukup lama namun mereka tak kunjung sampai di tempat yang Chanyeol maksud.
"Sebentar lagi."
'Ia mengatakan hal yang sama 2 jam yang lalu...' batin Jongin.
Akhirnya laju mobil pun mulai memelan, Chanyeol pun sepertinya sudah memarkirkan mobil nya.
"Turun." Jongin pun mematuhi nya. Setelah turun ia segera mengekori Chanyeol yang berjalan di depannya. Dan terkutuklah kaki panjang milik pria itu, karena Jongin jadi kesusahan saat mengikutinya.
"Cepat!"
"Kau yang terlalu cepat! Aku bahkan sudah berlari kecil."
"Pendek." Jongin akan membalas perkataan pria itu sebelum Chanyeol secara tiba-tiba berhenti.
"Chanyeol, kenapa kita kemari?"
"Ini hukuman mu."
"Maksudmu... kau ingin aku melakukan apa di tempat ini?"
"Budak. Kau harus jadi budak di sini." Mata Jongin membulat. Ia tak tahu harus berkata apa-apa lagi.
"Tapi... kenapa?"
"Ini adalah bayaran atas penukaran jiwa mu dan Luhan."
"Lalu harus berapa lama aku menjadi budak disini?"
"Selama nya."
"Lalu bagaimana jika aku meninggal?"
"Kau tidak akan pernah mati, Karena disini kau hanya akan mati jika seseorang memenggal kepala mu." Rahang Jongin kembali terbuka. Mata nya bahkan seakan-akan ingin keluar dari tempatnya.
"Baiklah. Ini sedikit menakutkan." Sebenarnya Chanyeol hanya berbohong pada Jongin. Tak ada makhluk yang abadi, hanya malaikat dan iblis lah yang memiliki kemampuan itu. Sementara jin dan manusia akan mati sesuai takdir dari Yang Maha Kuasa.
"Kau akan menemani ku bukan? Aku sedikit canggung dengan orang yang tak ku kenal."
"Tentu saja. Ini rumah ku."
"Apa?!" Apa Chanyeol bercanda? Bagaimana mungkin rumah besar bak Istana ini adalah milik nya. Lalu, apakah Jongin akan menjadi budak nya juga?
"Tuan muda, anda sudah di tunggu oleh Tuan besar di ruangannya." Chanyeol hanya menganggukan kepalanya dan mulai berjalan tanpa menghiraukan Jongin yang masih di landa kebingungan.
"Beritahu dia apa saja yang harus ia urus selama disini. Dan kau, jangan lupa dengan kewajibanmu." Pria itu sangat berwibawa. Dari pandangan Jongin, pria yang mirip dengan Chanyeol itu terlihat sangat tampan di usianya yang sudah tidak muda lagi.
"Pergilah. Dan temui aku setelah kau selesai memberitahu nya." Chanyeol membungkuk lalu pergi dari ruangan itu di sertai dengan Jongin yang masih tetap mengekori nya.
"Ini Lucas. Dia adalah orang kepercayaan di rumah ini. Dan dia pula yang akan menjelaskan apa saja yang boleh kau lakukan dan tidak, selama disini. Sedangkan aku akan menerangkan tugas apa yang akan kau lakukan." Pria tinggi itu mulai menjelaskan tugas-tugas yang harus Jongin lakukan di rumah ini. Dari membersihkan kamar hingga membantu para pembantu yang lain untuk menyiapkan makanan.
"Baiklah sekarang aku akan memberitahu mu hal yang harus kau patuhi selama disini. Jangan pernah masuk kedalam ruangan Tuan besar Park dan jangan pernah pergi keluar tanpa izin. Paham?"
"Paham. Lalu aku tidur dimana?"
"Kau tidur di rumah mu. Tidak ada yang menginap di sini. Kita akan mulai bekerja pada pukul 4 pagi dan pulang setelah jam makan malam."
"Aku tak punya rumah." Ujar Jongin lemas.
"Kau tinggal dengan ku. Di rumah yang sebelumnya kau tempati." Oke. Jongin benar-benar bingung sekarang. Jika Chanyeol pemilik rumah ini, mengapa ia memiliki rumah besar lainnya?
"Tak ada pertanyaan lainnya! Sekarang kau ikutlah bersama Lucas untuk memulai pekerjaan mu. Aku akan menemui mu setelah pekerjaan mu berakhir." Chanyeol pun segera pergi dari sana, dan kembali masuk ke ruangan sang Ayah.
"Baiklah Jongin, silahkan ikut aku."
.
.
.
"...bagus bukan? Sehun. Sehun! Kau mendengarkan ku?!" Luhan menggoyangkan lengan pemuda di sampingnya itu karena tak mendapatkan respon sedari tadi, padahal ia sudah berbicara semenjak 15 menit yang lalu.
"Aku- mendengarkan mu."
"Kau tidak Sehun. Apa yang kau pikirkan hah?"
"Aku... memikirkan kejadian kemarin malam." Luhan sedikit mengeraskan rahangnya. "Kau tak suka jika aku kembali?"
"Bukan seperti itu. Tapi aku bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi."
"Sebenarnya aku tak ingin membicarakan ini. Tapi aku pikir kau perlu tahu Sehun. Sahabat mu itu sudah melakukan hal yang gila. Dia bekerja sama dengan iblis untuk mencelakaiku.
Kau ingat? Setahun yang lalu. Saat seharusnya ia tertabrak dengan mobil, namun mobil itu malah berbalik ke arahku."
"Tapi itu tak mungkin. Jongin tak mung-" Luhan sudah jengah mendengar nama pria perusak itu. Kuping nya terasa panas dan kepalanya jadi begitu sakit setiap Sehun menyebutkan nama Jongin.
"Dia melakukan perjanjian dengan iblis itu Sehun. Agar aku bisa menjauh darimu. Aku hiks... aku bahkan di siksa oleh mereka hiks..." melihat Luhan yang menangis itu pun membuat Sehun tersentuh dan langsung memeluknya.
"Maafkan aku. Aku hanya masih terkejut mengetahui keadaan sebenarnya." Sehun masih dapat mendengar isakkan Luhan di dada nya, meskipun ia tak tahu bahwa pria cantik itu sudah bersorak bahagia di dalam hati nya.
'Kau pantas mendapatkan itu Kim !'
.
.
.
Minggu-minggu pertama di lewati Jongin dengan baik. Meski di awal ia sering kali melakukan kesalahan. Salahkan setiap ruang yang begitu besar sehingga Jongin menjadi mudah lelah. Apalagi saat membersihkan 2 kamar utama milik Tuan besar dan juga milik Chanyeol. Di dalam nya terdapat begitu banyak barang-barang antik yang harus di bersihkan setiap harinya, sehingga Jongin harus memberikan tenaga ekstra setiap saat.
"Chanyeol bahkan tak menempati kamar ini, untuk apa aku bersusah payah untuk membersihkannya?!" Monolog Jongin.
Berbicara soal Chanyeol, sampai sekarang pun Jongin belum mengenal laki-laki itu. Chanyeol sangat misterius, meskipun mereka tinggal di rumah yang sama Jongin sama sekali belum pernah melihat pria itu melakukan aktivitas yang normal.
Setiap Jongin melihatnya pria itu pasti menjadi orang yang pertama kali membangunkan nya, setelah itu mereka makan dan berangkat bersama. Dan segera saat sampai, Chanyeol pun segera pergi ke ruang kerja Tuan besar dan kembali menemui Jongin saat jam kerja berakhir.
"Barang-barang ini terlihat mahal. Kira-kira berapa harganya jika di dunia manusia?" Jongin kembali melanjutkan monolog nya. Tanganya kembali mengusap setiap barang antik yang terpajang di sebuah lemari kaca besar.
"Haah...bagaimana mungkin aku menjadi budak selamanya?" Memikirkan nya saja membuat Jongin ingin menangis. Kenapa hidupnya bisa sesial ini?
"Kau sudah selesai? Jika sudah cepatlah turun. Tuan Besar akan pergi." Tanpa banyak bicara Jongin segera mengikuti Lucas keluar.
Saat sampai di ruang tamu lantai pertama, Jongin melihat Tuan besar dengan beberapa kopernya di ambang pintu. Lucas pun sekarang berada di depan pria tua itu.
"Lucas, selama aku pergi kau lah yang akan bertanggung jawab atas semua hal di rumah ini, termasuk Chanyeol. Aku ingin kau memastikan bahwa ia menjalankan kewajibannya."
"Ya Tuan." Tuan besar mengangguk kecil. Kini matanya menatap Chanyeol yang berada di sampingnya.
"Tinggal lah di rumah ini selagi aku pergi." Chanyeol hanya dapat mengangguk patuh. Menolak juga tak ada gunanya jika sang ayah sudah bertitah tak ada yang bisa menolaknya.
"Baiklah aku pergi dulu." Semua orang sontak membungkuk ke arah Tuan besar kecuali 2 pengawal yang berada di sebelah nya.
Tuan besar melangkah ke luar rumah dan memasuki mobil mewahnya bersama dengan 2 pengawal dan satu orang supirnya.
Setelah mobil tersebut menjauhi kediaman mewah itu Lucas segera menyuruh semua pembantu untuk kembali melakukan pekerjaan nya.
skip
Jongin sudah selesai melakukan tugasnya dan bersiap untuk pulang. Namun ia teringat jika Chanyeol harus tinggal di rumah ini hingga Tuan besar kembali.
"Mulai hari ini tinggal lah di rumah ini." Jongin terlonjak kaget setelah mendengar seruan datar seseorang daru arah belakangnya.
"Kau mengagetkan ku!" Jongin reflek memukul dada pemuda itu. Chanyeol hanya menatap bekas pukulan itu, sementara Jongin baru sadar akan apa yang telah ia lakukan pada pria itu.
"M-maafkan aku."
"Kau tidur di kamar itu. Pakaian mu sudah ada di dalam nya." Jongin tak terkejut jika Chanyeol melakukan hal tersebut, dia kan jin. Dia pasti memiliki kemampuan magis seperti memindahkan barang, membaca pikiran, dan sebagainya.
"Baiklah kalau begitu aku akan masuk dan tidur." Jongin berlari kecil ke arah kamar yang letaknya tepat di sebelah kamar Chanyeol.
.
.
.
Sudah sebulan sejak kepergian Jongin dari kehidupan Sehun. Tak banyak yang berubah selama Jongin pergi, hanya saja status Sehun dan Luhan berubah menjadi bertunangan.
Ya. Hari ini mereka mengadakan sebuah pesta pertunangan secara besar-besaran. Awalnya Sehun sempat menolak karena ia masih berduka karena kepergian Jongin yang mendadak pada malam itu. Namun Luhan juga bersikeras agar pestanya di buat semeriah mungkin sekaligus untuk menyambut kedatangannya kembali.
"Ini hari pertunangan mu. Kenapa kau malah murung?" Kris menghampiri Sehun yang sedang duduk di salah satu kursi setelah penyematan cincin tadi.
"Aku hanya sedang memikirkan Jongin." Kris tertawa sarkas. Ia berpikir bahwa sudah sangat terlambat jika Sehun menyesal. Lalu kemana saja dia saat Jongin selalu ada untuk nya? Apakah Sehun tak sadar dengan perasaan Jongin padanya?
"Kau terlambat, Hun. Aku mungkin tak tahu kemana perginya Jongin, tapi aku yakin jika ia pergi untuk menjemput kebahagiaan nya yang selama ini selalu ia tepis jauh-jauh, hanya untuk selalu berada di dekatmu." Sehun menatap sendu cincin di jari manis nya. Ia merasa menjadi sahabat yang gagal untuk Jongin. Sehun teringat akan kejadian selama satu tahun terakhir ini. Bagaimana ia menyalahkan Jongin atas semua hal yang Luhan alami. Bagaimana ia mengacuhkan pria itu meski Jongin sudah berusaha untuk selalu menghiburnya. Sehun benar-benar menyesal.
"Sekarang pikirkan bagaimana kehidupanmu untuk kedepannya. Jongin selalu ingin kau berbahagia, dan sekarang kau harus mewujudkan nya meski Jongin tak bisa melihatnya lagi." Sehun menitikkan air mata yang sudah ia tahan sejak tadi. Dia mungkin tak terisak, tapi Kris tahu bahwa Sehun benar-benar sudah menyesali seluruh perbuatannya.
.
.
.
Jongin tak tahu bahwa Tuan besar akan pergi selama ini. Sudah terhitung lebih dari satu bulan semenjak kepergian pria berumur itu. Di tambah dengan sikap Chanyeol yang semakin dingin membuat Jongin semakin merasa kesepian. Jika bisa Jongin lebih memilih untuk bunuh diri dari pada terjebak di dunia jin ini.
Jongin dan para pembantu lainnya sedang berada di dapur. Semenjak Tuan besar pergi, mereka tak memasak banyak makanan. Jongin sempat bertanya-tanya bagaimana jenis makanan yang dimasak di dunia jin. Dan ternyata makanan nya tak jauh berbeda dengan yang ada di dunia. Kata Lucas, bumi manusia dan jin hanya di batasi oleh sebuah dinding tipis, sehingga semua aktifitas dan keadaannya tak terlalu berbeda kecuali cuaca dan kemampuan magis yang mereka miliki.
Setelah selesai memotong berbagai jenis sayur, Jongin tak juga meletakkan pisau yang ada di genggamannya. "Bagaimana jika pisau ini menggores jari ku? Apakah masih sakit?" Gumam Jongin. Lagipula Chanyeol pernah bilang jika disini semua orang akan hidup kekal kecuali kepalanya di penggal.
Srett
"Aakh..." jari telunjuk Jongin mengeluarkan cukup banyak darah. Posisi nya yang tengah berada di sudut pun membuat Jongin tak di perhatikan oleh yang lainnya. Namun saat Jongin ingin menghentikan pendarahan nya, seorang pria tiba-tiba datang-
Dan memasukkan jari Jongin kedalam mulut nya.
"Chanyeol..." panggil nya lirih. Namun Chanyeol tak menghiraukan Jongin dan tetap menghisap jari milik pria tan itu.
Setelah beberapa detik Chanyeol pun menjauhkan jari Jongin dari mulutnya. Tangan nya merogoh saku celana denim yang ia kenakan untuk mengambil sesuatu. Jongin tak tahu jika Chanyeol sudah mempersiapkan nya atau belum, namun ia bisa melihat jika sesuatu yang Chanyeol ambil dari sakunya itu adalah pembalut luka. Dengan segera ia menutupi luka Jongin yang terlihat cukup dalam itu.
"Terim-"
"Kau bodoh?! Kenapa bisa ceroboh seperti ini?!" Belum sempat Jongin mengucapkan rasa terima kasihnya, Chanyeol langsung memarahi nya.
"Aku tak ceroboh!"
"Baiklah, aku percaya." Ujar nya sarkas.
Tapi Jongin melihat sesuatu yang ganjal pada Chanyeol. Pria itu terlihat begitu berkeringat dan nafasnya sedikit tersengal. Tanpa sadar Jongin membawa telapak tangan nya untuk menyentuh kening Chanyeol.
"Kau sakit?"
"Tidak."
"Kenapa kau berkeringat sebanyak ini?" Tangan Jongin kembali mengusap kening Chanyeol.
"Ekhm... maafkan aku. Tapi kalian harus kembali melaksanakan kewajiban kalian." Jongin segera menarik tangannya dari kening Chanyeol saat Lucas datang untuk menginterupsi kegiatan mereka.
"Maafkan aku." Jongin segera menghampiri pembantu lainnya. Sementara Chanyeol sudah di beri tatapan ganas dari Lucas.
"Kau mengganggu ku sialan!"
"Hukuman mu belum berakhir bodoh!"
"Kau berani mengatai kakak mu bodoh?!" Lucas hanya menjulurkan lidahnya dan balas dengan jitakkan pelan dari Chanyeol.
"Aww! Kembali ke ruangan mu atau akan ku adukan kau pada Ayah."
"Kau tak berani melakukan nya. Kau saja tak berani memanggil nya Ayah saat dia ada."
"Biar saja. Sana pergi lah...ku rasa iblis itu sudah menunggumu."
"Ya sudah. Jangan lupa awasi Jongin. Jangan sampai dia terluka lagi." Balas nya. Lucas hanya memberikan wajah mengejek nya yang selalu ia sembunyi kan di hadapan semua orang.
"Kalau kau suka sebaiknya perlakukan dia dengan baik. Bukannya bersikap tsundere seperti itu. Kau tak kasihan melihatnya kesepian seperti itu?"
Bukannya membalas perkataan sang adik, Chanyeol malah pergi meninggalkan tempat itu. "Selalu seperti itu!"
.
.
.
"Jongin!"
"Ya? Ada hal lain yang harus kulakukan?" Lucas tersenyum miring saat memikirkan rencana jahatnya. Bukan jahat dalam artian sebenarnya, dia yakin jika suatu saat sang kakak akan mengucapkan terima kasih padanya, karena sudah memikirkan rencana yang begitu briliant seperti ini.
"Antar ini untuk tuan muda." Lucas menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang pada Jongin. Jongin yang tidak tahu apapun hanya mengangguk mematuhi perintah dari orang kepercayaan Tuan besar itu.
"Jangan ketuk pintu kamarnya. Kau bisa langsung masuk. Tuan muda sangat tak suka jika pintu kamar nya di ketuk." Alasan yang bodoh memang, tapi salahkan Jongin yang terlalu polos sehingga pemuda itu malah mempercayai nya.
Jongin akhirnya menuju kamar Chanyeol yang berada tepat di samping kamarnya. Tangannya menyentuh handle pintu yang ternyata memang tidak terkunci itu.
Cklek
Jongin di suguhkan sebuah pemandangan yang begitu mengejutkan. Pemandangan dimana Chanyeol sedang meringkuk di kaki ranjang dengan posisi membelakanginya. Badan pria itu di penuhi dengan luka memar. Jongin bahkan bisa mendengar rintihan dari mulut Chanyeol.
Tap
Tap
"Chanyeol..." Jongin menyentuh pundak pemuda itu, sontak Chanyeol menghentikan rintihannya dan menjaukan tangan Jongin dari pundaknya.
"Kenapa kau kemari?" Ujarnya dengan nada marah.
"Lucas yang menyuruhku untuk mengantarkan ini." Jongin menyodorkan kotak tersebut pada Chanyeol.
"Pergilah Jongin."
"Kau terluka Chan."
"Jongin ku bilang pergi!" Bukannya pergi Jongin malah membuka kotak yang Lucas berikan, mungkin saja kotak itu adalah kotak p3k.
"Pergi Jongin!" Chanyeol sudah tidak bisa menahan rintihannya. Sungguh luka di tubuhnya terasa begitu menyakitkan. Untunglah feeling Jongin benar soal kotak itu. Dengan tergesa Jongin mengeluarkan sebuah obat yang ia yakini sebagai ramuan untuk penyembuh.
"Aku akan mengusap kan ramuan ini." Perlahan rintihan Chanyeol mulai terhenti, dan yang membuat Jongin terkejut adalah karena luka di tubuh Chanyeol mulai menutup bahkan bekasnya mulai tak terlihat dengan ajaibnya.
"Sekarang pergilah Jongin. Kita bicarakan masalah ini besok pagi."
Esok hari nya aura Chanyeol terlihat lebih dingin dari biasanya. Jongin sedikit merasa ketakutan karena perbuatan lancang nya semalam, sedangkan Lucas hanya memasang wajah tak bersalahnya.
"Jadi bisa jelaskan kenapa kau masuk ke dalam kamarku semalam?"
"Aku hanya melakukan perintah dari Lucas saja." Kini giliran Lucas yang di beri tatapan menusuk dari Chanyeol.
"Aku sibuk kemarin, jadi aku menyuruh Jongin untuk menggantikan tugasku." Chanyeol semakin memincingkan matanya, tak percaya. "Hey jangan mentang-mentang kau kakak ku aku akan takut." Lucas segera menutup mulutnya, karena dia malah tak sengaja membeberkan rahasia yang sebenarnya ia sembunyikan selama 20 tahun ini.
"Kalian- astaga, pantas saja!"
"Ku mohon. Jangan beritahu siapa-siapa Jongin. Aku janji akan mengurangi intensitas bekerja mu, asal kau menutup mulutmu." Pria bermata belo itu menggosokan kedua telapak tangannya memohon agar Jongin tak membeberkan hal itu.
"Baiklah. Masalah itu bisa di atur, tetapi kalian harus tetap di hukum karena kejadian semalam." Chanyeol mengembalikan topik yang awalnya mereka bahas.
"Kalian akan tinggal di apartement ku selama ayah tak ada di rumah. Dan kau Lucas, boleh kembali ke rumah ini setelah ayah kembali." Chanyeol menghilangkan sebutan 'tuan besar' dari nama ayah nya, toh Jongin sudah tau jika mereka semua sedarah jadi tak ada yang perlu di tutupi lagi.
"Ta-"
"Baiklah. Kami setuju." Lucas segera memotong kalimat Jongin. Ia tahu jika Jongin akan mengucapkan sebuah kalimat bodoh yang nantinya akan membuat sang kakak menjadi semakin kesal, maka dari itu dia segera menyetujui ucapan Chanyeol.
"Kalau begitu kembali ke tempat kalian. Sebentar lagi para pembantu yang lain akan datang." Pria dingin itu pergi bergegas ke kamar nya, menyisahkan 2 orang yang masih terdiam di tempat nya.
"Aku akan jelaskan pada mu. Tapi tidak disini... ayo ikut aku!"
Tbc
note: buat yang nanyain sequel antasy...bisa baca ini yah. tapi ini masih pt.1 nya. pt.2 bakal ku upload lain waktu tergantung feedback nya.
makasih...
