Teman Tapi… Cinta Mati

.

NCT Mark x GS!Haechan Fanfiction

(Markhyuck rasa lokal)

© Rusa Aneh

.

.

Siang itu sangat panas, namun tidak melunturkan semangat anak-anak kelas 10 untuk bermain sepak tutup botol di tengah lapangan. Mark yang memang terbiasa bermain sepak bola dengan anak-anak komplek pun beberapa kali berhasil menciptakan gol.

Ia melakukan beberapa selebrasi kecil hingga matanya menangkap sosok Haechan. Gadis itu duduk disana bersama cewek-cewek lain yang mengelu-elukan namanya. Namun wajah Haechan menghadap ke arah lain, yaitu membelakanginya. Mark merasa kecewa, tetapi tetap melanjutkan permainan.

"Mark, kamu bau keringet ih jorok!"

Setelah selesai bermain di lapangan, Haechan dan Mark berjalan beriringan di koridor menuju kelas mereka. Iya, setelah tiga tahun sekelas di SMP, mereka sekelas lagi di SMA. Satu bangku pula.

"Ini mah bau-bau sehat, Chan. Ahahahaha." Mark malah makin menempelkan tubuhnya pada Haechan. "Jangan deket-deket Mark!" Gadis itu menjerit dan mencubit perut Mark. Cubitan Haechan sama sekali tidak terasa pada perut Mark yang berbentuk otot-otot itu.

Sejak liburan sehabis Ujian Nasional, Mark banyak berubah. Tingginya sudah mengalahi Haechan. Badannya yang dulu kurus kering dan agak bungkuk berubah menjadi tegap dan lebih berisi. Dadanya menjadi lebih bidang, lengannya yang dulu hanya tulang berbalut kulit dan diisi sedikit daging kini menonjolkan otot-otot. Rahangnya kini lebih tajam. Rambutnya yang dulu selalu klimis kini bermodel acak-acakan seperti oppa-oppa boyben Korea. Badannya yang dulu berbau khas anak laki-laki SMP baru puber kini berbau parfum boyish. Kalau kata orang-orang sih, Mark adalah definisi dari puberty goals.

Makanya, Mark di SMA tiba-tiba menjadi populer di kalangan cewek-cewek. Bahkan sampai membuat Haechan pusing.

Pernah suatu hari, seorang cewek cantik bernama Herin datang menghampirinya dengan senyum lebar dan wajah yang berseri-seri.

"Donghyuck, bantuin aku dong buat deket sama Mark…"

Herin ini manis banget deh, asli. Apalagi lesungnya ituloh! Ugh, bikin gemas! Tapi Haechan menyayangkan sosok semanis Herin harus berakhir naksir dengan cowok sesongong Mark.

"Ngapain juga aku bantuin? Usaha sendiri lah!" ujar Haechan dengan gayanya yang memang terkenal cuek. Tetapi mendengar penolakan tersebut tidak membuat Herin gentar. "Pleasee~ kamu kan deket banget sama Mark, jadi tolong bantuin dong… Ya? Ya?"

Haechan memutar bola matanya. Ia tidak suka sesuatu yang ribet. Jadi ia pun menyanggupi permintaan Herin tersebut. Lagipula, siapa sih yang bisa menolak tatapan memelas itu?

"Yaudah deh…"

"Yes! Thankyou Donghyuck!"

Saat di kantin, Haechan berjalan bersama Herin. Mereka berdua menghampiri Mark yang tengah membeli bakso. Setelah mereka cukup dekat dengan Mark, Haechan mendorong tubuh Herin. Alhasil, tubuh Herin menabrak punggung Mark.

"Woy! Liat-liat dong anj– hah?"

Niatnya sih Mark ingin mengumpat, tetapi tidak jadi saat melihat pelaku penabrakan tersebut adalah seorang cewek. Ia memandang heran ke arah Herin yang tengah tersenyum-senyum malu.

Lalu pandangannya beralih pada Haechan yang berdiri tidak jauh dari sana. Gadis itu menyunggingkan sebuah seringaian, dan tangan yang melipat di depan dada.

"Noh, si Herin minta dikenalin. Kalian berdua kenalan sana. Udah ya, bye~"

"Eh! Chan! Heh!"

Namun Haechan pura-pura tidak mendengar dan melenggang pergi begitu saja. Mark kesal dengan perilaku Haechan. Apa maksudnya? Dia lagi main jodoh-jodohan?

Kini Mark melirik ke arah Herin yang menunduk malu sambil melilit-lilit ujung rambutnya dengan jari telunjuk. Kalau diperhatikan baik-baik, wajah gadis itu sudah semerah tomat.

"Eh, kita duduk dulu aja yuk?" ajak Mark. Herin menjawab ajakan tersebut dengan anggukan pelan. Mereka berdua berjalan menjauhi stand bakso dan mencari tempat duduk.

Diam-diam kepala Mark celingak-celinguk mencari sosok Haechan. Dan tidak sengaja melihat Haechan tengah berduaan dengan seorang kakak kelas. Kalian masih ingat tidak dengan kakak kelas yang mendekati Haechan waktu SMP dulu? Haechan dan Mark masuk di SMA yang sama dengan kakak kelas itu. Itulah dia orangnya yang kini tengah berduaan dengan Haechan di kantin.

Dengan sengaja Mark memilih tempat duduk yang ada di belakang Haechan. Agar ia bisa melihat dua orang itu dengan jelas. Sedangkan Herin menyusulnya duduk berseberangan dengan Mark. Gadis itu sama sekali tidak Mark gubris. Perhatiannya fokus kepada sepasang manusia disana.

Beberapa saat kemudian, mata Mark terbelalak kaget saat kakak kelas itu memberikan Haechan sebuket kecil bunga. Lalu Haechan tersenyum malu-malu dan mengulurkan tangannya untuk mengambil bunga tersebut.

Perasaannya benar-benar dongkol. Apa-apaan itu? Haechan kan gak suka bunga! Kenapa diterima?! Protes Mark di dalam hati.

Tanpa sadar ia menusuk-nusuk baksonya dengan sadis. Herin memberikan tatapan khawatir kepada Mark.

"Mark? Mark!"

Merasa namanya dipanggil, Mark menyentakkan kepalanya. "Kamu mikirin apa sih dari tadi? Kok sampai digituin baksonya?"

Ia melirik ke dalam mangkuknya. Kini dia dapat melihat keadaan baksonya yang sangat tragis. Mark menatap Herin dengan tatapan malas.

"Gua cabut ya Rin. Gak napsu makan!"

"Eh! Mark! Eh aduh! Kenapa sih?!" pekik Herin frustasi.

Semakin hari kakak kelas itu semakin menjadi. Bahkan kabarnya mereka sudah jadian. Mark tidak tahu lagi harus bagaimana. Soalnya baru pertama kali ini ada yang mendekati Haechan sampai benar-benar pacaran. Untuk memastikannya, Mark memutuskan untuk bertanya langsung pada yang bersangkutan.

"Kamu jadian sama kakak kelas itu?" tanya Mark di tengah-tengah pelajaran sejarah.

Haechan melirik Mark, lalu menjawab dengan ketus. "Kepo banget sih!"

Helaan nafas terdengar dari Mark. Dia tahu sih, ini waktu yang tidak tepat untuk bertanya. Mencari ribut di saat pelajaran sejarah sama dengan mencari mati. Tetapi Mark sudah sangat penasaran.

"Ah pasti bener kan udah jadian? Pasti si Woojin Woojin itu nembak kamu pake cara cheesy?" Mark menyikut pelan lengan Haechan sehingga ia mendapatkan pelototan dari gadis tersebut.

"Apa sih? sok tau!" desis Haechan galak.

"Ngaku deh! Aku tuh tau ya gaya kamu gimana."

"Emang gimana?" bisik Haechan.

Kini gadis itu menaruh pulpen Mario Brossnya di meja dan memfokuskan diri pada Mark. Mark menyunggingkan senyum lebar, semakin bersemangat menggoda Haechan.

"Kamu tuh awal-awal sok jual mahal. Sikapnya dingin, jutek, tapi pas dikasih yang cheesy-cheesy gitu langsung meleleh. Ngaku?!"

"Apaan sih!"

"Pasti kak Woojin nembaknya pake bunga, terus berlutut gitu kan? sambil bilang—"

Omongan Mark terputus kala netranya bersinggungan dengan netra milik Haechan.

"Sambil bilang apa, Mark?"

Mark menelan ludahnya. Ia melihat Haechan tengah menunggunya dengan tatapan penuh antisipasi. Lalu dengan satu tarikan nafas, Mark berbisik pelan,

"Dia bilang, Haechan… would you be my girlfriend?"

Dalam beberapa saat keheningan melanda mereka berdua. Mark masih menatap Haechan dengan tatapan yang sangat serius. Sedangkan Haechan masih mencerna guyonan Mark di dalam kepalanya.

"AHAHAHAAHAHA ngaco kamu! Kan … sotoy baget sih!"

Haechan mendorong pelan bahu Mark. Laki-laki itu memberikan cengiran lebar untuk menyembunyikan bunyi degub jantungnya.

"Daritadi saya perhatikan kalian ngobrol terus, ya?"

Sebuah suara menginterupsi kedua teman sebangku itu. Mark mengusap tengkuknya, terlihat menyesal, sedangkan Haechan hanya memberikan guru mereka cengiran lebar.

"Donghyuck! Mark! Keluar dari kelas saya, sekarang!"

Akhirnya mereka berdua mendapat hukuman berdiri di koridor kelas, sambil mengangkat satu kaki, dan menjewer kedua telinga mereka masing-masing.

"Kamu sih… kita jadi dihukum kan!" Haechan menyenggol tubuh Mark. Membuat laki-laki itu hampir terjatuh.

"Enak aja! Kalo kamu ketawanya gak kayak nenek lampir, kita gak bakal disuruh keluar."

Mark menurunkan kakinya, kini gantian ia yang menyenggol Haechan hingga tubuh gadis itu terlempar ke samping.

"Santai aja dong nyenggolnya!"

"Yeee kamu yang nyenggol duluan kok!"

"Ngeselin banget ya lo!"

Mark menjulurkan lidahnya dan menarik ujung matanya dengan jari telunjuk membuat wajah mengejek.

"Muka lo jelek banget!"

"Muka lo tuh yang jelek!"

Mereka berdua saling senggol. Tawa mereka meledak-ledak meramaikan koridor yang sepi.

"Mark! Donghyuck!" pekik guru sejarah mereka dari ambang pintu kelas. Mata beliau melotot dengan wajah horror. Dengan sigap, mereka berdua kembali pada posisi semula.

"Sudah dihukum, masih berani ribut lagi. Mau hukumannya ditambah?"

Keduanya menggeleng secara serempak. Guru sejarah mereka memicingkan kedua matanya. Seperti hendak menguliti keduanya hidup-hidup.

"Awas ya kalian!" Ancamnya, sebelum masuk kembali ke dalam kelas.

Mereka berdua saling tatap. Beberapa saat kemudian tubuh keduanya berguncang-guncang akibat menahan tawa.

"Tapi emang bener sih, kak Woojin nembaknya pake bunga, terus dia nyanyiin aku lagu. Aku gak suka bunga, tapi dia bikin aku melting. Ahahaha."

Hati Mark terasa getir kala ia melihat senyum lembut Haechan, yang terbentuk ketika gadis itu membicarakan Woojin.

"Gak mau tau, pokoknya PJ."

"Iye.. Iye.."

"PJ gua yang paling mahal pokoknya!" Cengiran Mark semakin lebar.

Haechan mendengus kesal. Ia mendorong bahu Mark main-main. "Dasar Magadir! Manusia Gak Tau Diri!"

Mendengar tawa Haechan, melihat senyum yang tersungging di bibirnya, mata yang berkilat senang, dan wajahnya yang menunjukkan bahagia, Mark ingin memberikan sesuatu yang lebih serius untuk gadis tersebut.

Ia ingin mencintai Haechan dengan cara yang berbeda. Berbeda dengan cara yang ditunjukkan Woojin atau laki-laki lain lain yang mencintai Haechan.

Katakanlah ia berlebihan, tetapi Haechan pantas mendapatkan cinta yang tulus, cinta yang serius dan penuh pembuktian, cinta yang penuh pengorbanan, cinta yang penuh pengabdian untuknya. Bahkan Mark berani bilang jika Haechan layak mendapatkan seluruh alam semesta ini dan seisinya.

Tetapi untuk saat ini Haechan tidak perlu tahu akan perasaannya itu. Saat ini Mark belum punya apa-apa untuk bisa dia buktikan pada Haechan. Tetapi suatu saat nanti, Mark akan datang memberikan cinta yang cukup untuknya.

Awal-awal Haechan dan Woojin jadian, Mark sering terbakar api cemburu. Semua itu menuntunnya untuk melakukan tindakan ceroboh, yaitu mengambil keputusan untuk berpacaran dengan Herin.

"Apa? Kamu serius kan Mark?"

Bisa dilihat wajah Herin yang merekah senang saat diajaknya jadian. Berbeda dengan Mark yang berwajah datar. Seolah ajakannya barusan bukanlah apa-apa.

"Iya serius. Kenapa? Apa lo gak mau?" tanya Mark.

"Eh-eh! Kata siapa? Aku mau kok!"

Gadis itu bergelayut manja di lengan Mark. "Makasih ya, Mark!" ujarnya dengan nada bahagia.

Percayalah, Mark sudah memakai berbagai cara supaya dia bisa mengalihkan rasa cemburunya pada Haechan. Bahkan sedikit banyak ia berharap kalau-kalau Haechan cemburu padanya ketika tahu dia jadian dengan Herin.

"Ciee~ unyu banget sih kalian~" goda Haechan dengan suara yang diimut-imutkan. Mark menjulurkan lidahnya pada gadis yang ada di balik jendela mobil Woojin.

"Gila sih yang baru jadian lengket banget. Ahahahaha."

Dengan sepenuh hati, Mark mencoba menahan diri untuk tidak memutar bola matanya.

"Yaelah, ini bocah kayak gak nyadar kalo pacaran gimana," dengus Mark. Sedangkan Haechan memberikannya sebuah cengiran.

"Mark, anterin Herin pulang ya. Pastiin anak orang sampai rumah dengan selamat sentosa."

Haechan menyunggingkan sebuah senyum. Ia menjulurkan tangannya untuk mencubit pipi Mark.

"Uuuu~ Marky aku udah gedee~"

"Sakit, bego," cemberut Mark.

Mark menepis pelan tangan Haechan. Gadis itu terkikik geli karena berhasil menggoda sahabatnya. "Yaudah deh, duluan ya! bye!" seru Haechan ke arah Mark dan Herin, kemudian menaikkan kaca mobilnya.

Di dalam hatinya, Mark mengerang frustasi. Kok bisa sih Haechan malah senyum senang begitu melihat Herin bergelayut manja di lengannya? Memikirkan hal tersebut menjadikan suasana hati Mark memburuk.

"Lo pulang sendiri ya Rin," ujar Mark setelah mobil yang ditumpangi Woojin dan Haechan melaju meninggalkan mereka. "Loh? Emangnya kenapa?" tanya Herin bingung.

Kali ini Mark tidak menahan diri untuk memutar bola matanya. Ia mendengus, "Gua ada urusan. Udah lah lo pulang sendiri aja. Kan biasanya juga pulang sendiri."

Herin mengernyitkan dahi. Pipi gadis itu menggembung, menunjukkan ekspresi kesal. Kalau saja Mark tidak cinta mati pada Haechan, mungkin ia akan luluh pada Herin. Sayangnya, hati Mark sudah fully booked by Haechan.

Akhirnya Herin pasrah saja saat Mark melepaskan lengannya. Mark bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal atau mengatakan hati-hati untuknya. Laki-laki itu asal saja berjalan meninggalkan Herin ke arah yang berlawanan. Herin menatap punggung Mark sedih, namun akhirnya gadis itu memilih untuk tidak mengejar Mark, dan berjalan pulang dengan kepala menunduk.

Mark berjalan tanpa melihat sekeliling. Kakinya menendangi batu-batu kecil yang ia temui di jalan. Dia menjadi kepikiran, kalau dia yang punya mobil, apakah Haechan lebih memilih pulang-pergi dengannya?

Ah, sebuah ide merasuki kepala Mark. Dia harus mecobanya.

Malamnya, Mark sekeluarga berkumpul di meja makan untuk makan malam. Mark sudah memikirkan ini sejak tadi dan membulatkan tekad untuk berbicara kepada kedua orang tuanya.

"Bun, Pah, Mark kan udah sering ya pergi-pulang sekolah sendiri. Pas SD-SMP jalan kaki terus pas SMA naik trans. Kayaknya lebih efisien deh kalo Mark pakai kendaraan pribadi?"

Mark melirik kedua orang tuanya dengan lirikan harap-harap cemas. Beberapa detik berlalu, namun kedua orang tuanya masih saja diam menikmati makan malam mereka. Mark takut dia salah bicara dan berakhir membuat marah kedua orang tuanya. Namun ia merasa lega saat sang bunda membuka suara.

"Iya, Mark masih punya itu kan, sepeda gunung yang udah jarang dipake? Pake aja buat ke sekolah."

Mark menarik nafas, mencoba sabar. "Bukan gitu maksud Mark, bun. Kan sekolah jauh masa naik sepeda pancal?"

Bunda Mark memicingkan mata, menatap anak sulungnya penuh selidik. "Ah, bunda tau nih. Jangan-jangan kamu minta dibeliin mobil?"

Mendengar tuduhan sang bunda, Mark hanya mampu memberikan cengiran lebar. Sang adik yang duduk di sebelahnya pun sampai tersedak makanannya.

"Gila lo Mark! minta dibeliin mobil?! Baru juga kelas 10 udah gayaan banget!"

Jisung menatap Mark dengan mata melotot. Kemudian bocah SMP itu menoleh kepada kedua orang tuanya.

"Bun, Pah, gak usah diturutin. Liat aja ntar kalo udah kelas 11 dia mintanya jet pribadi!"

Sang papa hanya geleng-geleng kepala melihat kedua anak laki-lakinya yang tengah adu tatap itu. Beliau meletakkan alat makannya di meja, kemudian berdeham agar semua anggota keluarganya memberikan atensi.

"Kalau Mark memang mau mobil, kenapa gak nabung dari uang jajan sendiri?"

Mendengar usulan sang papa, Mark hanya bisa menganga lebar. "Hah? Pake uang jajan Mark, pah? Ya Tuhan… bisa-bisa hidup Mark di sekolah jauh dari kata sejahtera, pah!"

"Udah ah gak usah ngaco. Pokoknya kalo Mark mau beli mobil, ya pake uang sendiri. Gimana pun caranya. Titik!"

Kalau sang bunda sudah memberikan ultimatum, bahkan sang papa pun tidak bisa menolongnya. Padahal Mark tadi bisa saja nego-nego sedikit dengan sang papa. Gagal sudah Mark memiliki mobil untuk mengantar-jemput Haechan.

Percakapan Mark tadi malam dengan orang tuanya dia ceritakan pada Haechan. Gadis itu tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Mark, mengasihaninya. Haechan menyeka air mata yang menggenang di ujung matanya.

"Yaampun Mark… lagian kamu tuh ya! emang kenapa sih? Herin ngeluh kepanasan makanya kamu minta beliin mobil?"

Bukan! Alasan aku mau punya mobil ya biar bisa anter-jemput kamu. Tentu saja Mark tidak menyuarakan isi pikirannya.

"Ya kalo kamu mau beli mobil, kerja lah Mark. Kayak aku," ujar Haechan. Mark membelalakkan matanya kaget. "Jadi artis, gitu?" tanyanya dengan nada tidak percaya. Haechan tertawa, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ya terserah kamu. Passion kamu apa? Ya kamu jadiin buat menghasilkan duit. Aku kan sukanya nyanyi sama akting, makanya jadi artis."

Sebuah senyum cerah menghiasi wajah ganteng Mark. "Widih, ada apaan nih?" tanya Haechan takjub melihat perubahan pada air muka Mark. "Dapet pencerahan. Thanks to you."

/

Dari sekian banyak laki-laki yang mendekati Haechan, baru Woojin yang berhasil meluluhkan hati gadis itu. Woojin adalah anak populer. Dia pemain bass dan merupakan ketua ekskul band. Woojin berparas tampan dengan alisnya yang tebal senyum lebar yang mampu melelehkan hati para gadis. Belum lagi sifatnya yang ramah dan easy going, membuat Woojin memiliki banyak teman.

Meski begitu Mark tidak suka dengannya. Aura kenegatifan Mark akan keberadaan Woojin menjadikan hubungan keduanya tidak terlalu akrab dan baik. Misalnya seperti sekarang ini. Woojin lewat di hadapan Mark. Bukannya menyapa, tetapi pemuda itu malah menaikkan dagunya dan melenggang lewat dengan wajah songong. Mark menatap Woojin dengan tatapan tajam. Setelahnya, Mark membuang ludahnya.

"Marky!"

Tubuhnya sedikit oleng saat Herin menubrukkan dirinya. Gadis itu melingkarkan lengannya pada lengan Mark dan tersenyum lebar.

"Apaan sih Rin?" tanya Mark masih sensi karena Woojin tadi. Herin mengernyitkan dahinya. "Galak amat sih?" kata gadis itu.

Tak lama kemudian ia melihat Haechan berjalan di koridor. Gadis itu tengah sibuk dengan ponselnya. Mark melepaskan pegangan Herin pada lengannya, kemudian buru-buru pergi menghampiri Haechan.

"Mark! Yah, Mark kok pergi sih?!" tetapi Mark tidak menggubris rengekan Herin di belakangnya.

"Kalo jalan itu jangan sambil main hp."

Haechan mendangakkan kepalanya, kemudian tersenyum saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya. Mark melirik ke arah ponsel Haechan. Ingin tahu apa yang sedang gadis itu lakukan dengan ponselnya.

"Sorry, lagi bantuin anak-anak OSIS promosiin pensi di instagram," ujar Haechan. mereka berdua pun jalan beriringan di koridor. "Pensi?" tanya Mark. Haechan menganggukkan kepalanya.

Mark banyak dengar dari kakak kelasnya jika acara pentas seni adalah acara yang paling ditunggu-tunggu. Biasanya mereka akan mendatangkan artis-artis hits. Dan bagi siapa yang ikut berpartisipasi di acara itu, sudah pasti menjadi anak famous.

"Kak Woojin ini juga dari kemaren rempong banget—"

"Woojin? Kenapa emangnya dia?" potong Mark cepat.

"Eh? Dia kan ikutan pensi, tapi band nya kurang anggota."

Mata Mark berkilat mendengar perkataan Haechan. "Sini, ikut aku." Tanpa sempat bertanya-tanya, tangan Haechan sudah ditarik duluan oleh Mark. Gadis itu juga pasrah saja, tidak melayangkan protes, dan mengikuti kemana Mark akan membawanya.

"Nah, ini dia." Mark berhenti sejenak di depan mading sekolah, kemudian ia mencabut sebuah brosur yang ditempel dengan pin. "Woojin bassist kan?" tanyanya sambil melambai-lambaikan brosur di depan wajah Haechan.

Gadis itu memicingkan mata untuk dapat melihat isi brosur lebih jelas. "Iya, kenapa emangnya?" tanya Haechan. "Aku mau daftar."

Di sepanjang jalan menuju ruang ekskul band, Mark tersenyum-senyum sendiri. Haechan yang berjalan di sampingnya hanya bisa mengernyitkan dahi. Bingung atas sikap sahabatnya itu. tetapi ia diam saja dan mengantarkan Mark menuju ruang ekskul band.

"Emangnya lo bisa main apa?"

Tanya Woojin sadis, dengan alis dinaikkan sebelah, dan kedua tangan yang terlipat di depan dada. Haechan yang tadinya ada di sebelah Mark kini berjalan ke arah Woojin. Melihat hal itu membuat emosi di dalam dirinya membara.

"Gua bisa main gitar," ujar Mark. Woojin mengamatinya dari ujung kaki hingga kepala, kemudian menatap matanya dengan tatapan remeh. "Oh ya?" laki-laki itu menyunggingkan sebuah seringaian. "Sori aja ya, band kita buka band abal-abal. Kalo lo gak bagus ya gak bisa join."

Secara tidak langsung Woojin menantang Mark, dan dia siap menerima tantangan itu. Maka ketika Changbin, seorang drummer, memberikannya sebuah gitar listrik, Mark menerimanya dengan mantap.

Wajah songong yang tadi Mark berikan berubah menjadi serius. Mark melirik sekilas ke arah Haechan, kemudian menyeringai. Tangannya memetik kunci pertama, lalu ia memainkan Sugar We're Going Down oleh Fall Out Boy dengan mempesona. Tanpa sadar, Haechan menahan nafasnya saat Mark mulai memetik senar gitarnya.

"Wow, selamat ya Mark!"

Haechan tersenyum lebar. Gadis itu berjinjit , lalu memeluk lehernya erat. Beberapa detik Mark dibuat salah tingkah. Namun akhirnya tubuh Mark menjadi rileks dan ia membalas pelukan gadis itu.

"Woojin itu picky banget. Tapi kamu berhasil! Yaampun gue bangga banget!"

Mereka berdua melepaskan pelukannya. Wajah Haechan mengarah ke arah lain. Gadis itu berdeham, kemudian, kalau Mark tidak salah dengar, tertawa salah tingkah.

"Sebentar lagi bel. Yuk, ah, balik ke kelas." Haechan menarik tangannya. Mark diam saja dan mengikuti langkah Haechan dari belakang.

Tangannya memegang dada kirinya. Walaupun hanya sebentar, tetapi jantung Mark berdetak tidak karuan.

Yang paling Mark tidak suka adalah, ketika Haechan membicarakan hubungannya dengan Herin.

"Kamu tuh kenapa sih, Mark? Kemarin batalin janji kencan sama Herin gitu aja? Padahal kan itu perayaan tiga bulanan kalian?"

Haechan menyedot milkshakenya. Kemudian jari telunjuknya menuding wajah Mark. Rahang bawahnya bergerak-gerak kesal, dan matanya menyipit tajam.

"Bukannya apa ya, tapi kalo emang gak suka ya putusin. Kalo kayak gini aku yang kena imbasnya. Dia curhat mulu ke aku kan jadinya…"

"Gilak pusing banget gue!" Haechan mendengus.

Mark mengerutkan keningnya, dan menunjukkan ekspresi tidak suka. "Loh, kok dia malah curhat ke kamu sih? Emang kalian deket?" tanyanya pada Haechan.

Gadis itu mengendikkan bahu dan menggelengkan kepala sebagai jawaban. "Enggak. Dia deketin aku soalnya aku deket sama kamu. Tauk ah! Pokoknya kamu selesaiin urusan kamu sama Herin."

Setelah mendengar keluhan Haechan tersebut, keesokan harinya, Mark langsung mencari Herin. Mark bahkan sampai mendatangi ke kelasnya. Kalau Mark pikir-pikir, ini baru pertama kalinya dia menghampiri Herin duluan. Karena biasanya Herin yang akan menunggunya di depan kelas.

"Mark? Kamu mau jemput aku ke kantin?" sebuah senyum mengembang di wajah manis gadis itu. Buru-buru Mark menggeleng, kemudian menarik pergelangan tangan Herin untuk menjauhi kelasnya.

"Gua mau tanya, lo ngomong apa aja ke Echan?" tanya Mark langsung pada intinya. Herin kebingungan dengan pertanyaan tersebut. Ditambah wajah Mark yang datar membuatnya sedikit takut. "E-eh, nggak macem-macem kok! Cuma curhat tentang kamu ke dia."

"Mulai sekarang gak usah curhat-curhat lagi ke Echan."

Merasa tingkah Mark menjadi aneh, Herin mengernyitkan dahi dan menatapnya bingung. "Kenapa? Aku kan cuma curhat ke dia. Lagian kan dia deket banget sama kam –"

"Lo bisa gak sih, gak bikin susah orang?"

Tanpa sadar Mark bertanya dengan nada ketus. Ia melihat sekeliling dan lega saat situasi di sekitarnya sepi. Kini dia kembali menghadap ke arah Herin yang wajahnya memerah menahan kesal.

"Iya maaf. Aku gak tau harus curhat sama siapa kalo bukan ke Haechan. setelah ini aku gak curhat lagi ke dia."

Seharian itu Mark tidak melihat Haechan. Seusai latihan basket bersama Jeno, Mark pulang dengan menaiki sepeda gunungnya.

"Bro, yakin nih gak mau numpang?" tanya Jeno dari balik kursi kemudinya. Di sebelahnya ada Jaemin yang mengernyitkan dahinya. "Mark, gak usah nebeng Jeno. Nanti bisa ganggu!" ujar Jaemin.

Jeno melirik ke arah gadis yang ada di kursi penumpang itu dengan tatapan kesal. "Ye, apaan sih lo. Gua kasih tumpangan juga karena gua ngerasa bersalah udah ngenain bola basket ke kepala lo."

Mark hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah dua temannya itu. Jeno kembali kepada Mark. "Bro, jadi gimana?" tanya Jeno lagi.

Ia menggeleng dan mengacungkan jempolnya. Menolak tawaran tumpangan dari Jeno yang pulang dengan mengendarai mobil.

"Aman aja mah gua," jawab Mark.

Jeno pun mengangguk, kemudian membunyikan klaksonnya sebelum melajukan mobilnya meninggalkan Mark.

Semenjak pembicaraannya dengan kedua orang tuanya di meja makan malam itu, Mark bertekad untuk menjadikan sepeda pancal sebagai kendaraannya pulang-pergi sekolah. Anggapannya, hal ini merupakan salah satu perjuangannya untuk mendapatkan mobil.

Sesampainya ia di rumah, hari sudah sore. Mark merasakan tubuhnya pegal-pegal, akhirnya memutuskan untuk pergi mandi dan langsung tidur. Ia sudah jauh mengarungi alam mimpi, hingga dering ponselnya memaksanya bangun dari tidur pulas. Dikuceknya kedua matanya dan ia melihat ke arah jam dinding. Jam 11 malam.

Ia mengambil ponsel yang diletakkan di meja sebelah kasurnya. Echan. Melihat siapa yang menelpon, Mark buru-buru mengangkatnya.

"Iya, kenapa Chan?"

"…"

"Hah? Oke, tunggu ya."

Disinilah Mark sekarang. Masih dalam keadaan mengantuk, ia membayar ojeknya. Lalu segera memasuki lokasi syuting tempat Haechan berada.

"Oh my god, Mark! You're my savior!"

Mark tersenyum dan menyambut pelukan hangat Haechan. Pelukan Haechan mampu menghilangkan kantuk dan lelahnya setelah naik ojek dari rumah ke lokasi syuting di larut malam begini.

"Maaf banget deh harus nelpon kamu jam segini buat bawain baju aku. Aku lupa bawa! Tadi aja udah kena omelan, untung aja ada kamu."

Gadis itu merengut dan mengambil alih baju yang dipegang Mark. Mark hanya dapat menggumamkan kata "Kebiasaan," sambil mengusak lembut surai Haechan. Gadis itu pun menarik Mark untuk masuk lebih dalam ke gedung tempat penyutingan berlangsung.

"Emang Woojin dimana sampai aku yang harus kamu maintain tolong?" tanya Mark, meski sebenarnya dia tidak keberatan jika dialah orang yang Haechan mintai tolong. "Gak tau tuh. Pacarnya lagi butuh aja ngilang. Anyway thanks banget ya! kalo kamu mau balik juga gak papa kok," ujar Haechan sambil menunjukkan senyum manisnya. Gadis itu memberikan baju yang tadi dibawakan Mark kepada managernya.

"Kamu disini sampai jam berapa?"

Haechan melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Ia tersenyum karena Haechan masih memakai jam pemberian Mark di hari ulang tahun Haechan yang ke 14 tahun.

"Oh, kayaknya masih lama deh."

"Yaudah aku tungguin."

"Gak papa nih?" tanya Haechan khawatir.

"Iya gak papa."

Sekali lagi Haechan memberikan pelukan singkat pada Mark sebelum gadis itu melepaskannya untuk bersiap-siap melanjutkan kegiatan syutingnya.

Sedari tadi Mark menguap lebar seraya menahan kepalanya agar tidak jatuh ke depan. Jujur saja, Mark sangat lelah. Tadi dia keasyikan main basket dengan Jeno sampai tubuhnya pegal-pegal semua. Namun dia harus tahan demi menunggui Haechan menyelesaikan kegiatannya malam ini.

Oleh karena itu, keesokan harinya Mark tidak fokus. Kepalanya pusing akibat kurang tidur. Semalam Mark pulang setengah satu karena syuting Haechan baru selesai jam segitu. Bagi Mark, Haechan sangat hebat karena bisa menjalani rutinitas yang seperti itu.

"Heh! Masih molor aja!"

Pagi-pagi bukannya ketenangan yang ia dapatkan, melainkan keributan. Apalagi pelakunya adalah Haechan, yang seenak jidat menggebrak mejanya saat kepalanya lagi tiduran disitu. Mark mengangkat kepala dan menyesalinya. Ia melihat Haechan, dan di belakangnya ada Woojin. Tentu saja ada Woojin disana untuk mengantar Haechan sampai ke kelas.

Memangnya Haechan itu anak TK apa? sampai diantar ke kelasnya segala, dumel Mark dalam hati.

"Baby, aku balik dulu ya." Woojin mengusak kepala Haechan. Tatapan yang diberikan pemuda itu pada Haechan membuat Mark cemburu. "Oke, hati-hati ya."

Hati-hati? Cuma balik ke kelas aja perlu diucapin hati-hati.

Mata Mark melotot saat Woojin mendekat pada Haechan dan mencium kening gadis itu. Sebelum Haechan sempat menolehkan kepalanya untuk melihat ke arah Mark, ia terlebih dahulu membuang muka.

"Yah, malah tidur lagi si kebo."

"Berisik. Gara-gara kamu nih aku tidurnya malem banget."

Suaranya tenggelam karena Mark menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangannya. Ia tidak mau Haechan melihat wajahnya yang dipenuhi kerutan marah, sedih, dan kecewa.

Tanpa Mark ketahui, Haechan menatap ke arah Mark dengan tatapan sulit. Gadis itu menghela nafas tanpa suara, kemudian meletakkan tasnya di kursi. Haechan berjalan keluar kelas dan meninggalkan Mark di dalam. Ia butuh udara untuk menghilangkan rasa sesak yang ia tidak ketahui alasannya.

Ada hal lain tentang Woojin yang Mark benci, yaitu cara dia memperlakukan Haechan. Cowok itu memperlakukan Haechan dengan sangat royal dan romantis. Bikin yang lain iri hati, termasuk Mark.

"Hah apaan? Lo mau ngajakin Haechan dinner di resto? AHAHAHAHAH bro, dia ini ya cewek yang cocoknya diajakin makan di warung batagor mang Udin!"

Sore itu mereka berdiri di depan gerbang. Mark dan Woojin sehabis latihan band. Tentu saja ada Haechan karena gadis itu menunggui Woojin selesai latihan dan mereka pulang bersama.

"Yaelah sirik banget sih! Bilang aja kamu gak bisa ngajakin cewek kamu dinner romantis kayak kak Woojin, kan?"

Deg!

Jantung Mark berdentam-dentam nyeri mendengar perkataan Haechan. Ia tahu bahwa gadis itu hanya bermaksud bercanda.

Woojin mengernyitkan dahinya heran, kemudian ia menoleh pada Haechan. "Kamu gak papa kan kalo aku ajak dinner formal gitu?"

Dengan cepat Haechan menjawab, "Gak papa dong! Aku ini cewek fleksibel. Diajakin makan kaki lima, sok. Diajakin makan di resto-resto highclass juga sok atuh!"

Melihat kemesraan dua sejoli di hadapannya ini, hati Mark menjadi remuk. Namun semua itu ia sembunyikan dengan menyunggingkan senyum menyebalkan yang biasanya digunakan untuk mengolok-olok Haechan.

"Jangan dipesenin lobster! Ntar Echan susah makannya. Soalnya dia gak pernah makan begituan, hahahaha!"

"Kurang ajar banget lo Mark!"

Gadis itu mengepalkan tinjunya, bersiap untuk menyerang Mark. Namun Mark sudah lebih dulu berlari menghindari. Berakhir dengan mereka yang saling kejar-kejaran mengelilingi Woojin.

/

"Sukses ya Mark."

Haechan dan Mark berada di backstage acara pentas seni yang diselenggarakan oleh sekolah. Mereka berdua berpelukan singkat. Haechan menepuk pundak Mark dan tersenyum manis. Memberikan Mark asupan energi dari senyuman itu.

"Thanks."

Woojin memanggilnya, dan Mark pun berkumpul bersama anggota bandnya yang lain. Mark sedikit gugup karena sebelumnya ia tidak pernah tampil di depan banyak orang.

"Lo siap Mark?" tanya Woojin. Mark mengangguk mengiyakan.

Saat mereka berada di panggung, Mark dengan mudah menemukan sosok Haechan di antara padatnya para penonton. Gadis itu melambaikan tangannya dan ikut bersorak saat MC menyebut nama band mereka.

Mata Haechan bertemu dengan milik Mark. Pemuda itu tersenyum lebar dan semakin bersemangat memetik senar gitarnya. Namun hal itu hanya bertahan sebentar. Pandangan mata Haechan beralih ke arah lain, menuju Woojin. Ia melihat senyum lembut terukir di wajah Haechan dan bagaimana wajahnya melunak saat tatapannya tertuju pada Woojin.

Haechan tidak lagi melihat ke arahnya sampai penampilan mereka usai.

"Kamu keren banget Mark!"

Herin menyambutnya dengan senyum lebar. Mark melepaskan tali gitarnya dari lehernya. Kemudian menyandarkan instrument tersebut ke dinding. "Hm, thanks." Hanya itu jawaban Mark. Bahkan ia tidak berhenti sejenak untuk Herin. Ia membiarkan gadis itu mengikuti kemana langkahnya pergi.

"Gimana kalau abis ini kita makan-makan buat ngerayain penampilan perdana kamu?"

Namun gadis itu tetap kukuh dalam mendapatkan atensi darinya. Mark mempercepat langkahnya, dan dengan gesit menghindari orang-orang yang lalu lalang di lapangan sekolah mereka.

"Mark! Jangan cepet-cepet jalannya!"

Ia tidak mengindahkan Herin. Sebuah tangan menahan lengannya dan menariknya. Ia berbalik dan memperlihatkan wajah bingung. Di hadapannya berdiri Herin dengan nafas tidak beraturan akibat kewalahan menyusulnya.

"Kamu kenapa sih?" tanyanya dengan lirih.

Kenapa? Ulang Mark dalam hati. Hati gua sakit banget ngelihat Haechan natap Woojin dengan sebegitu sayangnya.

"Gua gak bisa kayak gini terus sama lo, Rin."

Mark memejamkan matanya dan menghembuskan nafas berat. "Gua gak bisa bohong dan nyakitin lo terus-terusan."

"Gua sebenernya gak suka sama lo, Rin."

Mata Herin berair. Pegangannya pada lengan Mark melemah dan Mark dapat merasakan bahwa gadis itu bergetar menahan tangis. Perasaan bersalah menjalari tubuhnya. Ia tidak bermaksud untuk menyakiti gadis di hadapannya ini.

"Lo jarang banget mau pulang bareng. Lo juga sering banget batalin janji kencan. Bahkan lo bales chat gue seminggu kemudian. Gue tuh pacaran sama lo, tapi kayak gak pacaran. Malah kayak orang gak kenal." Herin menghela nafas. Gadis itu menatap tepat di kedua mata Mark.

"Ternyata bener, lo emang gak suka sama gue."Bibirnya menyunggingkan senyum sedih.

Satu bulir air mata menetes dari mata kanan Herin. Tidak lama, tetes-tetes berikutnya menyusul. Gadis itu terisak, dan yang bisa Mark lakukan adalah dengan menariknya ke dalam pelukannya. Ia mengusap lengan Herin lembut, berharap bisa mengusap pergi rasa sakitnya.

Andaikan dia bisa menghilangkan perasaannya pada Haechan, mungkin dia tidak harus menyakiti Herin seperti ini.

Kenaikan kelas tahun ini membuat Mark khawatir karena mereka masuk ke penjurusan. IPA atau IPS, semua itu ditentukan berdasarkan nilai rapot di kelas 10. Mark menelusuri daftar nama anak-anak jurusan IPA dan mendapati namanya berada di daftar nama siswa kelas IPA-2.

Ia mengernyit saat jarinya sudah sampai di nama terakhir kelas IPA-4, kelas IPA yang paling terakhir. Kemudian ia beralih ke daftar nama-nama anak jurusan IPS dan menemukan nama Haechan disana. Segera Mark berlari menuju ruang Tata Usaha. Berharap dia belum terlambat untuk pindah ke jurusan IPS.

"Kamu gila ya?!"

Pekikan Haechan di seberang telpon cukup membuat telinga kanannya berdenging. Kemudian Mark memindahkan ponselnya di telinga sebelah kiri.

"Mark, semua orang pengen banget masuk kelas IPA, dan kamu mampu buat masuk kesana, tapi kamu malah nyia-nyiain. Maksudmu itu apa?" Mark mendengar adanya nada kekecewaan pada suara di seberang sana.

"Santai aja, lagian aku juga gak minat banget di IPA."

Selama beberapa menit, keduanya hanya diam. Sampai Mark mengira jika sambungan telpon mereka terputus. Tetapi ia masih dapat mendengar nafas milik Haechan di sebelah sana.

"Jangan bohong sama aku, Mark. Aku yang paling tahu seberapa pengennya kamu masuk FTSL ITB. Itu kan jurusan IPA."

Nafasnya tercekat mendengar kalimat tersebut. Dengan gumaman pelan, Mark menjawab, "Masih ada SBMPTN, Echan."

Suara Helaan nafas terdengar dari ujung sana. "Terserah kamu. Pokoknya aku gak bisa ajarin kalau kamu gak ngerti Sosiologi." Mark nyengir lebar dan mengangguk, meski Haechan tidak dapat melihatnya.

"Udah dulu ya. bye…" Pamit Haechan dengan suara kecil. Kemudian sambungan telepon mereka terputus.

Hari pertama masuk sebagai siswa kelas 11 tidak seceria yang Mark harapkan. Haechan masuk ke kelas dengan wajah cemberut, meski ia tetap mendudukkan dirinya di bangku kosong sebelah Mark.

"Selamat pagi cantik," sapa Mark dengan senyum jahil. "Berisik, Mark." Mark terkikik geli saat mendapat respon jutek dari Haechan.

Tatapan Haechan menelisik wajah Mark. Sepertinya apa yang dicarinya tidak ia temukan. Sebab Mark menarik lebar sudut-sudut bibirnya. Haechan tidak menemukan adanya penyesalan disana.

"Jangan bosen sama gua ya, chairmate."

Haechan menyikut lengannya keras. "Males banget dih gue harus sekelas sama makhluk semenyebalkan ini lagi." Keduanya pun tertawa di dalam kelas yang masih sepi itu.

Hubungan Haechan dan Woojin tidak selalu menyenangkan. Apalagi saat mereka mulai melewati masa 8 bulan berpacaran.

Saat ini Haechan bersandar di pundak Mark. Tangannya bergetar memegangi ponselnya. Mark melingkarkan lengannya pada tubuh Haechan dan membawa tubuh itu lebih rapat. Jari-jari Haechan dengan cepat mengetikkan huruf-huruf untuk menyusun kalimat.

"Jangan mudah percaya, Chan. Itu cuma screenshoot. Lo gak tau isi chatnya Woojin yang sebenernya, kan?"

"Tapi ini Jaemin yang kasih tau gue, Mark. Dia temen gue yang paling terpercaya."

"Jangan menuduh tanpa bukti, Haechan."

Mark mengambil ponsel Haechan dari tangannya. Kemudian mematikan benda persegi itu. Haechan memeluk Mark dari samping dan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Mark.

"Gue gak mau percaya, Mark…"

Haechan berkata dengan sangat lirih, namun Mark dapat mendengarnya.

"Gua tau, Haechan. Semua bakal baik-baik aja."

Ia menyisir lembut surai panjang Haechan, kemudian mencium puncak kepala gadis itu. Beberapa saat kemudian, Mark merasakan basah pada lehernya, dan ia mendengar suara isak tangis.

"Mark! Berhenti, Mark!"

Tinjunya berhenti di udara, sedangkan tangan satunya masih mencengkram kuat kerah Woojin. Jika Haechan tidak menghentikannya, mungkin ia sudah melayangkan satu tinju lagi pada paras tampan pemuda itu.

"Sialan!" desis Mark. Kemudian ia melepaskan Woojin. Laki-laki itu dibantu berdiri oleh Changbin. Untuk sesaat, Mark dan Woojin beradu tatap tajam.

"Mark udah…" Suara Haechan bergetar karena takut. Gadis itu memeluk lengannya dan menyandarkan kepalanya pada pundak Mark. Ia memejamkan matanya sambil berharap bisa meredakan emosi dalam diri Mark.

"Mulai sekarang lo jauhin Haechan. Enyah lo dari kehidupannya, dasar brengsek!"

"Lo gak pantes buat Haechan." Mark membuang ludahnya tepat di sebelah sepatu Woojin.

Sepulang sekolah Mark mendatangi rumah Haechan dan menengok keadaan gadis itu di kamarnya. Keadaan Haechan sangat berantakan. Mata merah dan sembab, serta ujung hidung yang juga memerah. Hati Mark sakit melihat keadaan Haechan seperti ini.

Laki-laki itu pun langsung merengkuh tubuhnya karena hanya pelukan lah yang mampu ia berikan untuk saat ini. Setelahnya, Mark melonggarkan pelukannya agar ia bisa melihat wajah Haechan. Diusapnya bekas air mata pada wajah gadis itu menggunakan ibu jarinya.

Senyuman di wajah Mark pun menular pada Haechan sehingga gadis itu ikut tersenyum. Walau hanya berupa senyum tipis.

"Cuci muka, terus ganti baju. Pakai sweater ya, soalnya agak dingin," perintah Mark.

Haechan mengangguk dan menurutinya. Ia bergegas menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Mark keluar dari kamar Haechan. Membiarkan gadis itu untuk bersiap-siap dan menunggunya di ruang tamu.

Tidak lama kemudian, Haechan sudah siap menggunakan sweater seperti yang Mark minta. Mereka berdua saling tatap, lalu tersenyum lebar.

"Mah, Echan keluar dulu ya."

"Hati-hati ya sayang."

Ibu Haechan mengusap lembut kepalanya. Kemudian pandangannya beralih pada Mark. "Mark hati-hati juga ya bawa kendaraannya."

Mark menyalimi ibu Haechan, kemudian mengangguk. ia memberikan wanita itu sebuah senyum menjanjikan.

"Sudah pasti, tante. Saya juga gak mau Haechan kenapa-napa. Kalau gitu saya bawa Haechannya dulu ya tante."

Sesampainya mereka di teras rumah, Haechan dibuat terkejut. Mark yang berdiri di sebelahnya menyengir lebar saat menlihat reaksi Haechan.

"Tadaaa~"

"Yaampun! Ini kamu belinya kapan?"

Mata Haechan membulat lucu. Ia berjalan mendekati vespa berwarna kuning mustard yang terparkir di halaman rumahnya. Mark terkekeh geli melihat reaksi sahabatnya itu.

"Mark!" pekik Haechan kesal saat Mark tidak kunjung menjawabnya.

"Ahahaha baru kemarin. Hasil dari naik sepeda pancal PP (Pulang-Pergi), gak jajan di kantin, sama ngeband di acara orang. Selama setahun nabung masih belum cukup buat beli mobil, jadi ya buat beli vespa dulu aja. Tapi lumayan kan?"

"Gila! ini lucu banget! Cantik banget!"

"Mumpung kamu lagi galau dan butuh hiburan, jadi ayo kita jalan-jalan pake vespa ini."

Haechan menatap ke arahnya dan Mark bersumpah ia dapat melihat bintang-bintang berpijar di mata gadis itu.

"Tunggu apa lagi? Yuk, cuss!"

Mereka berdua punya beberapa spot nongkrong. Tetapi khusus hari ini, Haechan yang memutuskan. Ia memilih warung nasi goreng Arema yang juga menjual ayam bakar dan sate jeroan.

Biasanya jika mereka makan disini, Haechan akan memesan nasi goreng satu porsi, satu potong ayam bakar, dan Mark memesan setengah porsi nasi goreng. Minuman mereka sama, yaitu jeruk manis hangat.

"Udah lama ya gak makan disini," ujar Haechan saat mereka sedang menunggu pesanan datang. Yaiyalah, lo kan sibuk sama Woojin, balas Mark dalam hati. Tetapi sebagai respon atas kalimat Haechan barusan, Mark hanya menganggukkan kepala.

Pesanan mereka datang dan Haechan langsung melahap satu porsi besar nasi gorengnya. Mark menatap Haechan yang duduk di seberangnya dengan pandangan khawatir.

"Gue itu orangnya carefree."

"Tapi bukan berarti gue gak bisa stress."

Mark mengernyitkan dahinya seraya menyuapkan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya.

"Kalo gue stress, atau lagi sedih banget, biasanya gue makan banyak. Nah porsi nasi goreng arema ini banyak banget, jadinya kalo gue lagi stress ya kesini."

Haechan tersenyum, lalu ia menyuapkan nasi gorengnya.

"Jadi sekarang lo lagi stress nih?" Haechan menggelengkan kepalanya. "Nggak, gue cuma mau nunjukin tempat ini ke lo. Soalnya nasi gorengnya juga enak banget."

Sekelebat ingatan akan percakapannya dengan Haechan mengenai arti tempat ini bagi gadis itu membuat Mark bertambah khawatir.

Apa iya, Haechan sesayang itu dengan Woojin?

Setelah mengisi perut, mereka berpindah tempat. Akhirnya mereka berhenti di pinggir jalan. Duduk di atas pembatas jalan sambil mengamati kendaraan yang melintas di depan mereka.

"Aku itu bodoh banget ya?" mulai Haechan. "Selama ini aku percaya aja sama dia."

"Sebenernya aku udah curiga, tapi aku gak ada waktu buat mikirin kayak gituan."

Mereka duduk bersebelahan. Haechan menggeser tubuhnya menjadi menempel di sisi Mark.

"Aku pikir dia jadi distant itu karena dia peduli dan ngertiin kalo aku sibuk. Ternyata dia main belakang. Hahaha…"

"Gak ada waktu, katanya. Emang usahaku selama ini buat nyediain waktu di tengah-tengah jadwal sibukku itu gak keliatan ya di mata dia?"

Sebuah helaan nafas keluar dari bibir Mark. Haechan menolehkan kepalanya, dan menunggu pemuda itu untuk bersuara. Tetapi Mark tidak menjawab apa-apa. Wajah Haechan meredup, lalu ia kembali mengalihkan kepalanya ke depan.

"Janji, habis ini aku gak bahas tentang Woojin. Habis ini gak ada nangis-nangisan lagi."

Ia melirik ke arah Mark lagi. Awalnya senyum terbentuk di wajah mereka. Perlahan senyum itu bertambah lebar, dan berubah menjadi tawa.

Gemas, Mark mencubit kedua pipi Haechan. Gadis itu memekik sakit, sambil tangannya terjulur untuk menjambak surai hitam Mark. Pemuda itu mengaduh sakit sekaligus tertawa.

Akhirnya Haechan melepaskan jambakannya pada rambut Mark. Namun pemuda itu belum berhenti tertawa. Haechan menatap tajam pada Mark. Lama-lama merasa kesal juga dengan ketidakjelasan Mark.

"Udah?" tanya Haechan ketus.

Mark menyeka air matanya, kemudian menarik nafas panjang. "Udah kok udah…"

Mereka berdua terdiam. Haechan sibuk memperhatikan kendaraan yang lewat di depan mereka. Mark melirik ke arah Haechan.

"Chan, inget ya, lo gak cocok sama cowok brengsek. Jadi jangan nyesel atau sedih karena putusin Woojin."

Gadis itu menolehkan kepalanya dan tersenyum takjub. "Wow, tumben banget lo baik sama gue?"

Mark hanya mengendikkan bahunya. "Terpaksa, biar lo gak sedih. Biar lo berhenti nangis. Abisnya wajah nangis lo tuh bikin sakit mata."

"Maksud lo, gue jelek banget gitu?!" Haechan menyikut rusuk Mark, tetapi gadis itu memberikan Mark senyum lebar.

Mark mengangguk. Pemuda itu memandang Haechan penuh dengan ketulusan. Haechan dibuat terhenyak, tetapi kemudian ia bisa menguasai dirinya.

Gadis itu berdeham, kemudian berdiri. "Ayok ah, aku pengen naik vespamu lagi," ujar Haechan.

Ditariknya tangan Mark agar pemuda itu mau bangun dari posisi duduknya saat ini. "Nagih nih?" goda Mark.

Gadis itu mengangguk antusias, kemudian memakai helmnya. Mark mengambil helmnya dan memakaikannya ke kepala.

Malam itu mereka lalui dengan berkeliling kota dan menghabiskan bensin.

Setelah kejadian itu, Mark keluar dari band Woojin. Mark berhasil menaikkan levelnya. Dari yang seorang gitaris band sekolahan, menjadi gitaris band anak kuliahan, yang lebih serius.

Beberapa waktu lalu ia menghubungi Johnny, tetangganya dulu, dan mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan keahliannya di hadapan Johnny dan teman-temannya. Setelahnya Mark berhasil diterima dan menjadi anggota resmi band bentukan Johnny tersebut.

"My bro! akhirnya ngeband bareng lagi ya?" Mark menjabat tangan Johnny. "Hai Haechan, makin cantik aja nih?" sapa Johnny seraya tersenyum pada Haechan. Gadis itu mengangguk sopan dan membalas senyuman Johnny.

"Kak Johnny, gimana kabarnya jadi anak kuliahan?"

"Ya gini gini aja sih jadi anak kuliahan. Ahahahaha."

Seorang pemuda berpakaian rapi dengan rambut yang di keataskan muncul. Kedatangannya menarik atensi semua orang yang ada di studio tersebut.

"Eh tumben banget Jaehyun?" tanya Johnny.

Ia menghampiri pemuda tampan tersebut, kemudian mereka berdua berpelukan singkat. Pemuda yang bernama Jaehyun itu kemudian menyapa satu per satu mereka yang ada disana, hingga matanya berhenti pada Mark.

"Anak baru ya?" Mark hanya mengangguk. "Gua Jaehyun, ceritanya sih gua manajernya mereka." Mark menjabat tangan Jaehyun dengan antusias. Kemudian Jaehyun melirik ke arah Haechan yang berdiri di samping Mark.

"Lee Donghyuck?"

Haechan yang tengah makan choki-choki dan sibuk scrolling media sosialnya pun mendongak. Mark dapat melihat mulut Haechan terbuka dan matanya yang tidak berkedip saat melihat Jaehyun.

"Eh? Iya?"

"Gua Jung Jaehyun, salam kenal ya."

Jaehyun menjabat tangan Haechan lebih lama daripada dengan yang lainnya. Haechan tersenyum malu, lalu mengalihkan wajahnya. Mendadak studio itu menjadi riuh oleh sorak dan siulan. Mark terdiam mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.

"Hati-hati Chan, Jaehyun itu player kelas kakap."

"Yokski, hati-hati aja Chan!"

Haechan melotot ke arah Johnny dan Yuta. Menyuruh dua anak kuliahan itu diam dan berhenti menyorakinya dengan Jaehyun.

Selama sesi latihan hari itu, Mark tidak banyak berbicara. Matanya terus menatap ke arah Jaehyun yang asyik mengobrol dengan Haechan.

"Jaehyun itu ternyata ketua BEM fakultas. Gila, ada ya cowok sesempurna dia? Udah pinter, ganteng, kalo senyum manis banget kelihatan lesung pipinya, jago main basket, suaranya juga bagus banget, ketua BEM fakultas lagi. Ah, idaman banget."

Haechan menghela nafas. Matanya menerawang langit sambil tersenyum-senyum sendiri.

"Iya, tapi jadi dia kasian juga. Masa ceweknya tengil, bawel, kalo tidur masih suka ngiler, masih suka nonton spongebob kalo pagi sampai kadang telat ke sekolah. Aduh kasian banget deh pokoknya jadi Jaehyun."

Mark mendapatkan tatapan tajam dari Haechan. "Heh enak aja ya! aku tuh cewek yang beda dari yang lain. Spesial pake telor." Haechan menampar lengan atas Mark sehingga laki-laki itu mengaduh kesakitan dan mengusap-usap lengannya.

Setelah Haechan dan Jaehyun bertemu di beberapa kali sesi latihan, serta beberapa kali bertemu di luar sesi latihan, akhirnya mereka berdua jadian. Haechan sangat membangga-banggakan Jaehyun. Wajar saja, Jaehyun adalah definisi dari kesempurnaan.

Hari ini Mark latihan basket seperti biasanya. Hanya saja pelatihnya menjadi lebih galak karena sebentar lagi mereka akan menghadapi pertandingan antar SMA tingkat kota.

"Mark, kita semua bergantung sama lo. Jadi lo harus serius."

Kepala Mark mengangguk mendengar nasihat dari Winwin, kapten tim basket mereka. Ia mengelap keringat di dahinya menggunakan ujung kausnya sehingga menuai jeritan dari gadis-gadis yang tengah menonton sesi latihan hari itu.

Priiit!

"Oke, istirahat dulu!" teriak sang pelatih.

Mark berjalan menuju bangku di pinggir lapangan. Jaemin segera berdiri saat Jeno menghampirinya dan menyerahkan sebuah botol minuman pada pemuda itu.

"Alah taik, kerjaan lo berdua mesra-mesraan mulu di depan gua."

Jaemin tertawa mendengar komentar sirik dari Mark. Jeno pun hanya memberikan ekspresi mengejek pada Mark.

"Mark," panggil seseorang. Mark menolehkan kepalanya dan tersenyum saat melihat Mina. "Hai sayang," sapanya. Gadis itu menyodorkan botol minuman serta handuk pada Mark.

Mata Mark melirik ke arah koridor dan tidak sengaja bersitatap dengan mata Haechan. Gadis itu tengah berjalan bersama Jaehyun. Pastinya Jaehyun datang menjemputnya di sekolah dan hendak mengantarkannya pulang. Pemandangan itu sudah biasa ia dapatkan semenjak Haechan jadian dengan Jaehyun.

"Tadi ngata-ngatain orang. Sendirinya gak sadar apa kalo juga kayak gitu?" protes Jeno. "Ciee Mark gak jomblo lagi," goda Jaemin. Kedua sejoli itu tersenyum lebar pada dirinya dan Mina.

Mark mengalihkan pandangannya kembali pada Mina dan mengambil botol minuman serta handuk dari genggaman gadis itu. Ia mencondongkan tubuhnya untuk mengecup pipi Mina. Sorakan dan siulan ia dapatkan dari teman-teman basketnya, serta jeritan gadis-gadis yang ada di lapangan. Mark menyengir lebar pada Mina yang pipinya bersemu merah.

Malamnya, Mark berbaring di atas kasur. Ia melihat-lihat instastory milik teman-temannya dan menarik nafas getir saat sampai di instastory milik Haechan. Di dalam instastory tersebut terdapat foto Haechan yang diambil dari belakang. Gadis itu berdiri di atas trotoar, dengan Jaehyun berada di sebelahnya, menatap Haechan dengan penuh kasih, dan tangan keduanya yang saling menggengam.

Segera ia pencet tombol power ponselnya dan melemparkan benda persegi itu ke samping. Mark memejamkan matanya hanya untuk mendapati bayangan Jaehyun dan Haechan berputar di kepalanya. Ia memijit kepalanya, kemudian menjambak surai hitamnya frustasi. Helaan nafasnya kasar.

Mark lelah. Ia lelah mencintai Haechan. Ia ingin berhenti.


A/N : Kalian ngiranya ini ngegantung ya? nggak kok, ini multichapter ehehehe. Akhir-akhir ini aku suka bikin yang ringan-ringan, jadiiii ff ini yang terbentuk/?

jadi, gimana? semoga kalian menikmati ya.

mucho love,

rusa