Teman Tapi… Cinta Mati

.

NCT Mark x GS!Haechan Fanfiction

(Markhyuck rasa lokal)

© Rusa Aneh

.

.

"Kamu kok gak bilang kalo jadian sama Mina?"

Mark tersedak es jeruk saat Haechan menepuk punggungnya tanpa pemberitahuan. "Assalamualaikum dulu kek, asal tepok aja." Haechan memberikan Mark cengiran lebar. Mark menggeleng-gelengkan kepala, lalu menaruh gelas es jeruknya di atas meja kantin. "Baru juga jadian, seminggu ada kali ya?" ujar Mark seraya mengernyitkan dahinya.

"Cie cepet amat dapet yang baru. Double date yuk?"

"Hah?!" mata Mark melotot kaget. Tidak menyangka apa yang dikatakan Haechan tadi. "Iya, double date. Kamu sama Mina, aku sama kak Jaehyun. Ya? ya? lagian kita udah lama gak hangout bareng Maaark~" Haechan merengek di telinga Mark. Tubuhnya bergelayut pada Mark, membuat laki-laki itu susah payah menelan ludah. "Iya dah iya. Ntar aku kasih tau Mina."

Haechan memberikan Mark sebuah senyum manis. Jujur, Mark merindukan Haechan. akhir-akhir ini mereka jarang menghabiskan waktu bersama. Mark sibuk dengan basket dan bandnya, sedangkan Haechan sibuk dengan kegiatan syuting dan Jaehyun. Memikirkan hal itu membuat Mark tersenyum masam.

"Kalo gitu aku duluan ya. Batagornya ditungguin Nana." Mark menganggukkan kepalanya. Haechan bangkit dan mengambil pesanan batagornya. Sedangkan Mark hanya dapat melihat sosok Haechan yang meninggalkan kantin.

.

Seperti biasa, setiap sepulang sekolah Mark akan mengantarkan Mina sampai gerbang. Kemudian menunggu sampai gadis itu dijemput oleh supirnya.

"Mina, hari Sabtu lowong gak?" tanya Mark. Senyum menawan tak lepas dari wajahnya. Jurus andalan yang dimiliki Mark yang terbukti ampuh untuk meluluhkan hati para gadis. Mina mengangguk pelan, kemudian tersenyum malu-malu. "Iya, lowong kok."

Senyum Mark melebar. "Gimana kalo Sabtu ini kita… double date? bareng Echan sama pacarnya." Mina menatap Mark dengan tatapan bertanya. "Eh, maksud aku Donghyuck," ujar Mark membenarkan sebutannya terhadap Haechan. "Iya aku tau kok. Oke deh kalo gitu. Aku juga pengen banget dikenalin ke Donghyuck." Mina memberikan Mark sebuah senyuman manis. "Nanti aku yang jemput kamu," ujar Mark bertepatan dengan datangnya supir Mina.

.

.

Sesuai hari yang dijanjikan, hari Sabtu malam, Mark dan Mina menuju tempat yang ia dan Haechan rencanakan. Sesampainya disana, Haechan dan Jaehyun sudah sampai duluan. Mereka sedang asyik tertawa sampai tidak menyadari kedatangan mereka. Hal itu membuat Mark cemburu, tetapi ia tidak bisa berlama-lama memikirkan Haechan dan Jaehyun karena Mina menggenggam tangannya erat.

"Hai, nunggu lama ya?" sapa Mina dengan senyum lebar. Baik Haechan maupun Jaehyun mendongakkan kepala mereka. Haechan berdiri untuk menyambut Mina. Genggaman tangan mereka terlepas saat Mina menghampiri Haechan, kemudian mereka berdua berpelukan hangat. Tanpa sadar, Mark menghela nafas lega. Ia beralih pada Jaehyun kemudian bersalaman dengannya.

Setelah mereka semua duduk, seorang pelayan menghampiri meja mereka. Percakapan antara Haechan dan Mina terpotong. Jaehyun menyilakan kedua wanita itu untuk melihat-lihat buku menu duluan.

"Uhm, Mas, saya pesan–"

"Satu chicken double crispy, satu tenderloin, minumnya mix berries sama strawberry milkshake."

Haechan tampak terkesiap. Mark memberikan sebuah tawa kecil. "Bener kan aku?" tanyanya yang ditujukan pada Haechan. Gadis itu menganggukkan kepala. Sebuah senyum lebar terbentuk di wajahnya. "Hafal aja lo."

"Jelas lah, gua tau semua makanan kesukaan lu. Kalo gua sebutin satu-satu yang ada kita gak makan-makan. Banyak banget soalnya," ujar Mark dengan nada mengejek. Haechan mengerutkan hidungnya, hendak memprotes. "Emang kenapa kalo gue suka makan? Lagian setiap kali lo gue ajakin mau-mau aja tuh!" Mark tertawa melihat ekspresi menggemaskan yang ditunjukkan oleh Haechan. "Gua mah terpaksa, abis lu serem parah kalo gak diturutin maunya."

"Ehem, kayaknya kalian ngobrol seru banget ya? tapi gua sama Mina belum pesen makanan." Haechan tersadarkan, kemudian ia memberikan buku menunya pada Jaehyun. Laki-laki yang lebih tua itu melihat-lihat buku menu dengan wajah ditekuk. Sungguh keliatan sekali jika ia sedang kesal. Mark sebenarnya kesal juga karena obrolannya dengan Haechan harus diinterupsi. Namun ia mengalihkan pandangannya pada Mina yang sedari tadi diam saja sambil membolak-balik buku menu.

"Kamu mau pesen ap–" tetapi Mina sudah menyebutkan pesanannya. Mark bungkam. Ia tidak mengerti, kenapa Jaehyun dan Mina sama-sama memiliki raut wajah yang tidak mengenakkan?

.

.

Selama menunggu pesanan mereka datang, Haechan menyelamatkan suasana diantara mereka yang hampir mati. Dimulai dari Haechan yang menanyai Mina tentang Mark, kemudian terus berlanjut sampai yang dibicarakan hanyalah tentang Mark dan Mina. Entah mengapa hal itu membuat perut Mark terasa mual.

"Lo kalo tau ya, Mark dulu tuh alay parah! Heran banget gue, sekarang dia banyak yang naksir. Padahal mah kalo liat mirror selfienya dia di kamar mandi, seratus persen pada bubar jalan, Ahahahaha!"

"Iya terus aja permaluin gua, Chan. Terusin…!"

"Ahahahaha… lo inget gak sih Mark? Pas dulu kita lagi makan soto terus tiba-tiba ada bola melayang ke mangkok soto lo?" Haechan menuding wajah Mark dengan antusias. Matanya berbinar saat menatap mata Mark. "Iya, terus tuh soto muncrat semua ke gua. Seragam putih gua bercak-bercak warna kuning dah." Mereka berdua tertawa keras.

"Lo dijewer gak sama Bunda?"

"Iyalah! Apalagi si cunguk Icung malah manas-manasin Bunda."

Mina menyela mereka berdua, "Icung siapa?" tanyanya. "Oh, itu adeknya Mark yang sekarang kelas 9 SMP. Namanya Jisung tapi panggilannya di rumah Icung."

"Kok aku gak tau kalo Mark punya adek?" Mina memberikan Mark sebuah tatapan yang memojokkan. Namun berhasil ia tepis dengan canggung. "Ahaha… dia gak penting. Kalo kenal dia nanti kamu pusing."

Mark mengabaikan tatapan yang diberikan Mina, kemudian ia melanjutkan obrolannya dengan Haechan. "Eh, eh, inget gak pas lu masuk kamar mandi ternyata di dalem ada Bu Sri? Pintunya gak kekunci terus Bu Sri teriak melengking sambil banting pintu panik?" Haechan menyeka air matanya yang keluar akibat terlalu keras tertawa. "Iya, terus yang disalahin malah gue. Dia bolak-balik bilang udah ngunci pintu terus nyalahin gue kok bisa buka pintu yang dikunci. Lah gue dorong pintunya pake satu jari udah kebuka anjir, Hahahaha parah! Dia ngomel terus ngata-ngatain gue banyak alesan lah. Gak jelas banget!"

"Oh ya? terus kamu gimana?" tanya Jaehyun. Baik Mark maupun Haechan menghentikan tawa mereka. Mark melirik ke arah Haechan dan memperhatikan gadis itu menarik sudut bibirnya membentuk senyuman. "Ya untungnya aku gak diajarin beliau. Gara-gara itu setiap ketemu di koridor, beliau buang muka."

"Btw Chan, kita udah jarang makan soto disana," ujar Mark menarik perhatian Haechan kembali padanya. Haechan tampak menyadari sesuatu. "Iya ya, gue kangen banget soto itu, terus gue kangen bakso urat garuda."

Mark terkekeh pelan. "Nasgor nggak? Setengah porsi pake ayam bakar paha atas sama jeroan?" mata Haechan berbinar terang mendengar nama makanan kesukaannya itu disebut. "Iya! Kangen, gue kangen sama semuanya!"

"Kalian biasanya nongkrong di tempat-tempat kayak gitu?" tanya Mina. Haechan menghadapkan tubuhnya ke arah Mina, kemudian menjawab dengan antusias. "Iya, kita gak suka tempat-tempat jaim. Sukanya tempat yang kena banyak angin, hehehe."

"Tempat kayak gitu kan jorok? Gak bersih. Kalo aku disuruh makan di tempat kayak gitu, gak bakalan mau."

Mark menangkap perubahan ekspresi pada wajah Haechan. Meski omongan Mina barusan parah dan menyinggung perasaan Haechan, namun Mark berharap dalam hati, jika Haechan masih bisa menahan kata-kata yang nantinya akan keluar dari mulutnya.

Haechan menyunggingkan sebuah senyum. "Wah sayang banget banget kalo gitu,"

Mark sudah bisa menghembuskan nafas lega

"Padahal Mark sukanya sama cewek yang bisa diajakin nongkrong dimana aja," Haechan menyunggingkan sebuah seringai tipis.

Ternyata Mark terlalu cepat berasumsi.

Sekali lagi situasi dapat diselamatkan dengan datangnya pesanan mereka. Tatapan Mark tertuju pada Haechan. Ekspresi wajah Haechan yang menyala saat makanan tersaji di hadapannya, saat ia menyuapkan satu suapan, kemudian matanya memejam meresapi rasa yang ada di mulutnya sambil bergumam puas, adalah favorit Mark. Tanpa sadar sebuah senyum kecil terbentuk di wajahnya.

"Mark, gak makan?" tanya Mina menyadarkannya. Tatapan mata Mina sedikit memicing curiga, tetapi Mark menepisnya dengan senyum manis. "Iya, masih panas soalnya," ujar Mark beralasan. Mina hanya mengangguk kemudian mengambil minumannya.

Gadis itu mengerutkan dahi. Awalnya Mark pikir ada yang salah, sampai akhirnya ia bertanya. "Kenapa?" Mina merengut sebal, kemudian gadis itu memanggil seorang pelayan yang kebetulan lewat.

"Mas, ini gimana sih? Saya kan pesennya sparkling water?" Mark menatap panik ke arah Mina. "Tapi mbak, itu emang sparkling water," jawab pelayan laki-laki tersebut. "Masnya bisa lihat gak sih? Ini mah gak ada bedanya sama air biasa, gak ada sparkling-sparklingnya. Bisa lihat gak?" Mina menggoyang-goyangkan botol minuman itu di depan wajah sang pelayan. Sedangkan pelayan tersebut membungkukkan badannya berkali-kali seraya meminta maaf. Kemudian segera mengambil alih botol tersebut untuk diganti sesuai dengan permintaan Mina.

"Heran deh aku, image dan harga sama sekali nggak sebanding sama servisnya," dumel Mina. Mark menelan ludah, dan memilih tidak merespon.

Tak lama kemudian pelayan tadi datang lagi dengan membawa nampan berisi sparkling water pesanan Mina. "Apa-apaan sih? Matanya pada picek semua ya? Saya minta sparkling water! Ini mah gak beda sama air mineral biasa!" bentak Mina. Ia menghentakkan kakinya kesal kemudian beranjak berdiri. "Mark, aku mau pulang. Bete banget!"

Mark yang tidak habis pikir dengan kelakuan Mina, hanya menggelengkan kepala dan mengacuhkannya. "Yaudah pulang sana. Hati-hati." Mata Mina membulat tidak percaya. "Ayo pulang, Mark!" gadis itu menarik lengan Mark, namun Mark menepisnya. "Aku laper. Masih mau makan. Kalo emang mau pulang, yaudah tungguin sampe aku selesai makan."

Mina geregetan akan tingkah Mark. "Iiiiihhh!" jeritnya tertahan. Namun gadis itu memilih untuk duduk kembali dengan muka ditekuk dan tangan yang terlipat di depan dada. "Mbak, ini sparkling waternya–"

"Sini!" Mina mengambil alih botol dari pelayan itu dengan kasar. Kemudian ia mengusir pergi pelayan tersebut.

Baik Haechan maupun Jaehyun yang melihat kejadian barusan saling berpandangan heran. Sedangkan Mark, walau berwajah datar tidak menunjukkan ekspresi apapun, tetapi kulitnya memerah karena menanggung malu.

.

.

Setelah kejadian memalukan tersebut, Mark putus dengan Mina. Haechan dan Mark tengah berada di ruang tamu rumah Mark. Mereka berdua tengah menonton film yang dibintangi oleh Haechan saat Mark menceritakan tentang putusnya dia dan Mina.

"Gila, malu banget aku. Kelakuan dia kayak anak-anak di depan kamu sama Jaehyun." Mark menyandarkan kepalanya di bahu Haechan seraya memainkan jari-jari gadis itu. Tatapannya terpaku pada adegan dimana Haechan tengah menampar pemain utama pria. "Santai aja kali. Kak Jaehyun juga gak komentar apa-apa."

Pintu depan terbuka, menampilkan sosok Jisung yang tengah menjinjing sepatunya. Mereka berdua menoleh pada Jisung. "Heh darimana lu?" tanya Mark dari sofa ruang tamu. Jisung membalikkan tubuhnya dengan wajah kaget. "Anjir, kaget gua!" ujar Jisung seraya mengelus-elus dadanya. "Alah alay lu." Mark kembali menyandarkan kepalanya di bahu Haechan.

"Hai Icung~" sapa Haechan dengan suara manisnya, dan hal itu menuai geraman dari Mark. "Hai kak Echan, udah lama gak liat. Sibuk sama pacarnya ya?" goda Jisung dengan senyum jahil. "Apaan sih Cung, bilang aja kangen sama kak Echan," ujar Haechan seraya mengedipkan sebelah matanya, balik menggoda Jisung.

Bocah SMP itu tertawa lalu mengibaskan tangannya. "Ah kalo Icung mah aman aja kak Echan. Tapi… itu tuh yang lagi sandaran di kak Echan–"

"Lanjutin bacot gua gampar lu," potong Mark cepat.

Jisung menjulurkan lidahnya yang ditujukan untuk sang kakak. Kemudian tanpa menunggu Mark bangkit dari sofa, bocah laki-laki itu sudah naik menuju kamarnya. "Heran gua punya adek kok tengil banget."

Mark kembali membenarkan posisinya di sofa, namun ia tidak lagi menyandarkan kepalanya di bahu Haechan, dan Haechan tidak berkomentar apa-apa soal itu.

.

.

"Markonah!"

Satu-satunya orang yang berani kurang ajar memanggilnya dengan sebutan Markonah hanyalah gadis pemilik senyum lebar, yang mengklaim dirinya sepersaudarian Haechan, half othernya Haechan, soulmatenya Haechan, ya tak lain tak bukan adalah Na Jaemin.

Gadis itu memberikan Mark senyum megawattnya kemudian disusul dengan tepokan keras di lengan atas Mark. "Kasih tau dong, Echan kenapa putus sama Jaehyun?"

Hanya satu yang Mark suka dari Jaemin, ketidakbasa-basiannya.

"Hah? Lu bilang apa barusan?" ujar Mark seraya mengkorek isi telinganya. Jaemin mengernyit jijik, kemudian ia menepis tangan Mark dari telinganya. "Lah jadi lu gak tau? Astaganaga! salah dah gue! salah dah!" ujar Jaemin seraya menepuk-nepuk mulutnya. "Udah telat, sekarang lu yang kasih tau gua. Tadi lu bilang Haechan putus?"

Mark menyeringai lebar membuat Jaemin bergidik ngeri.

.

.

Beruntungnya sosok Haechan mudah ditemukan. Ini berkat waktu bertahun-tahun yang dia habiskan untuk mempelajari sosok gadis tersebut. Haechan tengah duduk di depan grand piano. Jari-jarinya menempel di atas tuts, namun tidak ada nada yang dibunyikan.

"Sometimes people forget that I, too, can be insecure."

Mark mendudukkan dirinya di sebelah Haechan. Matanya terpaku pada jari-jarinya yang berada di atas tuts. Kemudian Haechan mulai menekan tuts-tuts tersebut hingga membentuk sebuah lagu.

Mungkin Mark adalah seseorang yang pintar berbicara di khalayak umum. Pintar menarik simpati orang-orang untuk menerima pemikirannya. Ia juga orang yang cukup menghibur dengan tingkah-tingkah konyolnya. Namun saat ini, ia tidak mampu berbicara, mengeluarkan kata-kata penghiburan di dalam pikirannya, tidak juga bisa bertingkah konyol. Tetapi ia bersedia memberikan keberadaannya, untuk selalu berada di sisi Haechan, melewati segala senang maupun sedihnya, ada di setiap jatuh cinta dan patah hatinya.

.

.

"Bundaaa! Jeans Icung yang sobek-sobek dimana?" teriak Jisung dari tangga. Mark menolehkan kepalanya dan memberikan tatapan tajam pada Jisung. "Ada di ruang setrika sayang! Cari pelan-pelan," balas teriak sang bunda dari dapur. Sumpah ya, antara tangga menuju kamar Jisung dan dapur itu jaraknya jauh.

Kurang lebih beginilah keadaan rumah Mark di saat akhir pekan, dimana semua anggota keluarga tengah berkumpul. Mark menyumpal telinganya dengan jari telunjuk. Ia melirik sang papa yang sama sekali tidak terusik membaca korannya di ruang tamu. Padahal jarak antara ruang tv, tempat Mark berada, dengan ruang tamu tidak terlalu jauh, apalagi teriakan bunda–Jisung bisa mencapai satu blok.

"Bundaaa! Icung bawa apa aja nih?!" teriak Jisung tak berapa lama kemudian. Mark merasa cukup dengan teriak-teriakan Jisung pagi itu, akhirnya menegur. "Cung, datengin bunda napa di dapur. Gausah teriak-teriak. Kuping gua sakit!" Jisung merengut, tetapi menuruti perkataan Mark. Bocah laki-laki itu berlari kecil menuju dapur, tempat sang bunda berada.

Liburan semester telah tiba. Sejak tadi pagi rumah Mark sudah heboh oleh Bunda–Jisung yang tengah mempersiapkan barang bawaan mereka. Sore nanti mereka sekeluarga akan berangkat ke rumah satu-satunya nenek yang masih Mark miliki, dan menghabiskan liburan disana. Yang berarti bagi Mark, tidak ada Haechan selama liburan.

Di rumah nenek, sinyal susah di dapat. Kadang kencang, kadang tidak ada sama sekali. Mark menghela nafas memikirkan nasibnya tanpa kabar dari Haechan. tolong dimaklumi sikap lebay Mark ini. Soalnya dia setiap hari bertemu Haechan di sekolah, bahkan sering main ke rumahnya atau sebaliknya. Jadi liburan dua minggu tanpa Haechan…. memikirkannya saja sudah terasa berat.

Malam itu saat Mark baru sampai di rumah nenek, ia langsung menuju kamar yang biasa ia gunakan saat menginap di rumah nenek. Jisung langsung molor duluan setelah bocah itu selesai berganti pakaian dengan celana pendek dan kaus. Mark merebahkan diri di kasur.

Meski matanya sudah berat, tetapi dirinya belum bisa terlelap. Akhirnya Mark mengambil ponselnya dan memutuskan untuk menelpon Haechan menggunakan fitur FreeCall. Satu, dua, tiga nada tunggu, tak kunjung diangkat. Barulah yang ke lima, suara gemerisik terdengar dari seberang sana. Sepertinya Haechan tengah memposisikan dirinya di atas kasur.

"Hai Mark," sapa Haechan.

Mendengar suara itu membuat Mark mendesah lega. Tanpa sadar sebuah senyum merambah di wajahnya. Ia membenarkan posisi tidurnya agar mudah untuk menempelkan ponsel di telinga.

"Kok kamu belum tidur Chan?" tanya Mark.

Ini aneh. Kenapa pula Mark menanyakan hal tersebut pada Haechan?

"Baru kelar syuting hari ini. Beruntung banget bisa kelar lebih cepet."

"Eh iya, gimana kabar oma? Baik?"

Iya, hubungan Haechan dan Mark memang sedekat itu sampai Haechan mengenal baik nenek Mark. Pernah dua kali Haechan diajak mengunjungi neneknya.

"Iya, puji Tuhan oma baik." Mark berganti posisi lagi.

"Salamin ke oma ya. Jadi kangen teh melati racikannya oma, ehehehe."

Andaikan, andaikan saja ia dan Haechan adalah segala hal yang Mark mimpikan selama ini, mungking keluarganya tidak akan keberatan membawa Haechan mengunjungi neneknya setiap liburan.

"Oke, besok pagi aku salamin."

Mereka berdua mengobrol tentang macam-macam. Kebanyakan sih Mark yang berbicara, sedangkan Haechan menjawab seadanya. Sampai Mark menyadari bahwa semakin lama suara Haechan semakin kecil.

Mereka berdua terdiam. Hanya terdengar deru nafas di sambungan telpon tersebut. Mark melepas ponselnya dari telinga. Melihat apakah sambungan telpon itu masih berjalan, dan melihat detiknya masih bertambah. Ia menempelkan ponselnya kembali ke telinga.

"Echan?"

"Hm?"

Mark tersenyum membayangkan sosok Haechan yang tengah menahan kantuk.

"Ada yang mau aku bilang…"

Tidak ada respon, hening… Mark menelan ludahnya. Menyiapkan mental akan apa yang hendak dikatakannya. Karena ini sangat penting.

"Aku s–"

Mark menggelengkan kepalanya dan memejamkan matanya erat.

"Ada yang mau aku omongin, tapi aku mau ngomong secara langsung."

Tidak ada respon dari seberang sana. Pastinya Haechan sudah tertidur dengan telpon yang masih tersambung. Mark tersenyum kecil seraya membisikkan, "Dasar, kebiasaan…"

"Good night, Echanku."

TBC

.

.

.


Hai! lama banget saya updatenya ya... kemarin saya sibuk sama UAS dan segala tugas remedialnya, terus saya masih ada simulasi UN huhuhuhu T_T

tapi semoga saya bisa kelarin ini cerita. karena sejujurnya makin susah aja saya lanjutin ff ini maupun ff lainnya :(

terima kasih untuk kalian yang meninggalkan jejak!

mucho love,

rusa