PERHATIAN!
Ff ini mengandung unsur dewasa, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.
NO CO-PAST
NO-REPOST
NO-PLAGIAT
There always be a place for the good person. So, don't steal people's effort , be honest dear..
Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.
Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.
…
..
.
Park Shita
Present
…
..
.
"Ven una Vez, encontraras tu amor.
Ven dos veces, obtendras tu amor.
Y la tercera ber seras etemo."
…
..
.
Memories Of Seville
Chapter 2
…
..
.
Tubuh jangkungnya ia banting diatas ranjang. Helaan nafas panjang terdengar dalam ruang apartemen tersebut. Ini baru hari pertama dan Chanyeol merasa bahwa semuanya akan berjalan sangat rumit.
Ia mengenal Baekhyun bertahun-tahun bahkan Chanyeol merasa bahwa dirinya jauh lebih tahu ketimbang Baekhyun sendiri. Dan ia pun tahu seberapa keras kepalanya Baekhyun. Dulu Baekhyun bisa saja menuruti Chanyeol karena mereka sepasang kekasih dan harus saling mengerti satu sama lain, tapi kini mereka tidak terikat hubungan apapun dan perceraian mereka pun berakhir dengan tidak baik, jadi Chanyeol rasa kali ini tidak akan mudah untuk menakhlukan Baekhyun.
Ponselnya berdering dan Chanyeol mengangkatnya dengan malas.
"Hm?"
"Bagaimana? Apa kau berhasil?" tanya Yoora dengan antusias di seberang sana. Meskipun mereka terpaut usia cukup jauh dan berbeda jenis kelamin namun sejak mereka kecil hubungan keduanya sangatlah baik.
Yoora sangat menyayangi Chanyeol dan selalu ada disetiap keputusan yang Chanyeol ambil, dan begitu pula dengan Chanyeol yang sangat menyayangi dan menghormati sang kakak. Jadi orang pertama yang akan mendengar semua keluh kesahnya adalah kakak perempuannya itu.
"Aku rasa ini akan sangat berat. Kau tahu sendiri bahwa Baekhyun sangat keras kepala." Bukannya nada perihatin yang Chanyeol dapatkan melainkan suara tawa sang kakak.
"Itu makanya aku bilang dulu jika kalian itu benar-benar cocok, sama-sama keras kepala. Kau dan Baekhyun itu seperti batu, keras dan kaku." Chanyeol menghela nafas karena ucapan kakaknya memang benar, tapi selama bertahun-tahun menjalin hubungan dengan Baekhyun mereka tidak pernah terlibat pertengkaran berat kecuali masalah yang membuat keduanya berpisah itu.
"Chanyeol, sebagai seorang kakak aku ingin mengatakan padamu bahwa kau tidak bisa menyerah begitu saja. Baekhyun memang keras kepala bahkan sebelum kalian bertemu, tapi bukankah kau pernah sekali bisa menakhlukan hatinya? Lalu kenapa tidak untuk kedua kalinya? Baekhyun itu sebenarnya berhati lembut, aku mengenalnya dengan baik, dia sangat baik dan aku yakin dia tidak akan setega itu padamu, meskipun…yah.. secara tidak langsung kau pernah menyakitinya."
"Aku tidak pernah menyakitinya, itu hanya sebuah kesalah pahaman."
"Ya, apapun itu. Intinya kau hanya perlu menunjukan kesungguhan hatimu." Chanyeol menghela nafas lagi, helaan nafas dalam dan panjang yang menyiratkan betapa lelah dirinya.
"Apalagi saat ini dia telah memiliki kekasih."
"Hah? Kekasih?"
"Hm. Namanya Kevin." Lagi suara tawa keras yang Chanyeol dengar alih-alih suara penuh keprihatinan.
"Kevin? Itu bagus berarti kau harus lebih berusaha untuk mendapatkan hatinya. Takhlukan dia Chanyeol! Bawa dia kembali!" ucap Yoora penuh semangat. Chanyeol lagi menghela nafas sebelum akhirnya bedeham sebagai balasan lalu kemudian mematikan panggilannya.
Ia menatap kearah jendela di gedung seberang dan kamar itu dalam keadaan gelap, jadi Chanyeol yakin jika Baekhyun belum kembali dari waktu berduanya bersama sang kekasih. Karena itu Chanyeol mengambil laptopnya dan mengecek beberapa pekerjaan yang setidaknya bisa ia lakukan dari tempatnya sekarang.
…
..
.
Di lain tempat, sebuah kamar apartemen telah diubah menjadi bioskop mini dimana semangkuk besar pop corn dan minuman telah tertata rapi di depan meja. Film belum diputar karena menunggu personil yang belum datang, tapi atmosfer pesta sudah mulai terasa.
Baekhyun mendudukan dirinya di karpet sambil memilih jenis film yang akan mereka tonton nantinya, sementara dua orang pria lainnya sibuk di dapur untuk menyiapkan cemilan lainnya.
"Baby Baek!" teriak salah seorang pria yang berada di dapur. Wajahnya terlihat kebarat-baratan, dengan rambut coklat bergelombang yang disisir kebelakang.
"Hm?"
"Kau mau bir?" tanya sosok itu dengan bahasa korea namun beraksen amerika sambil mengangkat sebotol bir ditangannya.
"Tidak, kau tahu kan aku tidak minum itu." Sosok itu mengangguk paham seolah ia lupa jika Baekhyun memang tidak terlalu menyukai alkohol.
"Oh My God Vernon, haruskah kau bertanya pertanyaan yang sama berkali-kali?" Sosok lain bertanya. Berbeda halnya dengan sosok bernama Vernon, sosok lain itu terlihat berwajah sangat asia namun terdengar kaku saat berbahasa Korea, namanya Bobby.
"Sorry, we are late!" Pintu terbuka dan menampilkan dua orang perempuan dengan pakaian hangat mereka.
" No English here, Jung Soojung!" ucap Bobby kesal pada wanita bergaun merah.
"Oh maafkan aku Tuan, tapi kau baru saja menggunakan bahasa Inggris, dasar bodoh! Dan panggil aku Krystal berhenti memanggil nama kecilku! " gerutu gadis itu sambil berjalan kearah sofa. Sementara gadis satunya hanya menggeleng pelan dan segera bergabung bersama teman-temannya di dapur.
"Kenapa kau bisa datang bersamanya?" tanya Bobby sambil menunjuk Krystal dengan dagunya pada gadis berambut pirang itu.
"Aku menjemputnya, untung aku ingat jika tidak dia pasti sudah lupa dan memilih mengincar pata pria kaya di restaurant itu."
"Yak, aku mendengarnya Lalisa! Jangan mencoba menjadi musuhku seperti mereka!" Yang lainnya tertawa mendengar kekesalan Krystal.
"Oh dan kalian tahu aku menemukan satu, dia sangat tampan dan sepertinya dia benar-benar kaya, aku melihat rolex seharga sebuah mobil mewah melingkar ditangannya, dan dia juga berasal dari korea, namanya…ah…namanya… sial! Kenapa aku selalu melupakan nama seseorang sih!" gerutunya sambil memukul kepalanya kesal.
"Berarti aku harus bersyukur karena kau tidak melupakan namaku." Ucap Bobby yang tiba-tiba muncul sambil mendudukan dirinya disamping Krystal.
"Namamu mudah diingat, babo (bodoh)…bobby…hahahah.." Krystal tertawa keras dan Bobby hanya memutar bola matanya malas.
"Kita menonton ini saja!" ucap Baekhyun sambil mengangkat sebuah disk di tangannya.
"Apa? Yang benar saja! Aku bosan menonton itu." Ucap Krystal yang disetujui oleh Bobby.
"Eih, film ini bagus, kalian bisa belajar hangul dari sini."
"Benarkah? Jika begitu ayo kita tonton itu!" ucap Vernon sambil berjalan dari dapur dengan beberapa botol bir ditangannya.
Ketika film diputar kelima manusia itu duduk ditempat nyaman mereka. Krystal dan Bobby duduk di bagian atas, Baekhyun duduk di karpet sambil bersandar di kaki sofa bersama dengan Vernon sementara Lisa berbaring diatas paha Baekhyun.
Kelima sekawan itu nampak begitu serius mendengarkan dan membaca setiap teks yang ada di depan mereka, seperti bagaimana tiap minggu mereka berlalu seperti itu selama bertahun-tahun.
…
..
.
Chanyeol menguap dan melirik kearah jam di tangannya. Sudah enam jam lamanya ia terhanyut dalam pekerjaannya dan memang selalu seperti itu, dia akan lupa waktu ketika dihadapkan dengan pekerjaan.
Merasa bahwa ia telah membuang waktu beristirahatnya cukup banyak, ia memutuskan untuk mengakhiri pekerjaannya dan menurunkan laptop diatas pahanya. Ia bangkit sambil meregangkan otot tubuhnya, lalu berjalan menuju tirai jendela untuk menutupnya.
Tangannya terhenti sambil memperhatikan kamar Baekhyun yang masih dalam keadaan gelap, Chanyeol menerka kemana perginya sosok itu padahal waktu telah menunjukan pukul 1 dini hari.
Ketika hendak berbalik ia melihat lampu kamar Baekhyun menyala dan dua sosok berjalan masuk. Sosok lelaki yang ia lihat bersama Baekhyun tadi kini tengah merangkul tubuh Baekhyun yang sepertinya dalam keadaan mengantuk atau mabuk, Chanyeol mengernyit dalam dan semakin yakin jika sosok itu memiliki hubungan yang spesial dengan Baekhyun.
Tak lama lampu kamar Baekhyun padam membuat Chanyeol mengernyit dalam karena tidak bisa melihat apa yang terjadi selanjutnya diantara dua sosok itu. Ia tahu dirinya tidak berhak akan itu, namun ia seperti memiliki sebuah rasa penasaran yang besar tentang keduanya.
…
..
.
Pagi harinya Chanyeol terbangun dan segera membersihkan diri, sekarang saatnya untuk datang ke café dimana Baekhyun biasanya duduk dan menghabiskan paginya dengan secangkir double esspreso.
Tapi saat tiba disana ia mendapati Baekhyun tidak seorang diri melainkan bersama tiga orang lainnya salah satunya adalah sosok yang selalu bersama dengan Baekhyun. Chanyeol mengambil duduk setelah memesan kopinya, lalu memperhatikan keempat sosok yang nampak tidak menyadari kehadirannya.
Tak lama sosok lain datang yang begitu familiar di ingatan Chanyeol, wanita yang ia temui di restaurant kini berjalan kemeja Baekhyun dan duduk disana. Kelimanya nampak begitu akrab bahkan saling melempar canda.
Chanyeol menemukan sebuah ide lalu bangkit dengan membawa cangkir kopi miliknya. Dengan penuh percaya diri dia bangkit dan berjalan menuju meja Baekhyun dan teman-temannya.
"Krystal sshi? Ingat aku?" Krystal menoleh terkejut dan seketika wajahnya menampakan kesenangan sementara Vernon, Lisa dan Bobby sama-sama bingung hanya menyisakan Baekhyun yang menatap Chanyeol tidak suka.
"Oh tentu, Tuan…hmm… Park?" ucap Krystal tidak yakin namun memberikan tempat kosong disofa disampingnya, membuat Chanyeol segera berhadapan dengan Baekhyun, Vernon dan Bobby.
"Hei, kenalkan aku Park Chanyeol. Boleh aku bergabung?" ucap Chanyeol ramah namun sesekali matanya akan menatap kearah Baekhyun yang nampak kesal. Chanyeol tahu bahwa kehadirannya sangat tidak diharapkan, namun entah mengapa ia ingin memperjuangkan sesuatu disini.
"Aku Bobby." Ucap Bobby sambil menjabat tangan Chanyeol.
"Aku Vernon."
"Baekhyun." Saat mengatakannya Baekhyun hanya memasang wajah malas bahkan menarik tangannya dengan cepat membuat Chanyeol tersenyum kecil.
"Aku Lisa…Lalisa." Ucap Lisa yang duduk disamping Krystal tepat dihadapan Bobby.
"Kalian sepertinya bukan orang Spanyol? Apa kalian dari Korea?" tanya Chanyeol.
"Wajahku memang sangat asia, tapi percayalah bahwa aku ini lahir dan besar di Kanada." Ucap Bobby bersahabat merasa kehadiran Chanyeol bukanlah masalah.
"Oh pantas saja bahasa Koreamu terdengar bercampur-campur, tapi itu keren. Swag!" ucap Chanyeol dengan gaya konyol membuat semua menatapnya penuh heran. Merasa bahwa candaannya sama sekali tidak lucu, Chanyeol memilih berdeham dan mengganti topik.
"Lalu kau?" tunjuk Chanyeol pada Vernon yang sejak tadi nampak melirik Baekhyun bahkan meletakkan tangannya diatas sandaran sofa dibelakang Baekhyun, seolah sedang merangkul tubuh itu.
"Oh aku? Aku dari Amerika, tapi aku mencoba belajar bahasa Korea karena aku menyukainya." Ucap sosok itu ramah.
"Kalau aku, aku berasal dari Thailand." Ucap Lalisa tanpa ditanya membuat Chanyeol mengangguk.
"Itu sangat bagus untuk belajar bahasa dari negara lain. Tapi kenapa kalian terlihat sangat muda untukku, apa kalian?"
"Ya, kami semua berkuliah disini. Kebetulan kami satu universitas, jadi yah kami menjadi akrab." Sahut Bobby.
"Oh ya? Kalian masih kuliah? Pantas kalian terlihat begitu muda." tanya Chanyeol sambil menekankan kata kuliah dan menatap kearah Baekhyun membuat sosok itu mendengus sambil membuang arah pandangnya.
"Tapi Baekhyun tidak, dia adalah guru bahasa Korea kami." Ucap Vernon sambil melingkarkan tangannya di pundak Baekhyun, merasa Baekhyun menjadi lebih pendiam dari biasanya. Melihat wajah tidak minat Baekhyun membuat Krystal segera mencari topik lain.
"Oh ya, Chanyeol sshi, apa kau ingat penyanyi kemarin? Dialah orangnya." Tunjuk Krystal.
"Bacon, Chanyeol sshi ini sangat menyukai tipe suaramu." Chanyeol tertawa sambil mengibaskan tangannya.
"Sebenarnya tidak sebanyak itu, tipe suaranya bukan kesukaanku." Baekhyun menoleh dan menatap tajam kearah Chanyeol membuat yang lain merasakan ketidaksukaan Baekhyun.
"Hahaha.. aku juga tidak terlalu menyukai suaranya. Kau tidak sendiri Tuan Park." kini Bobby mencoba mencairkan suasana namun malah membuat suasana hati Baekhyun semakin buruk.
"Oh ya, nanti kau jadi kan mengantarkanku memilih gitar?" ucap Bobby pada Vernon dan sosok itu mengangguk patuh.
"Kau suka bermain gitar?" tanya Chanyeol membuat perhatian Bobby teralihkan dan ia segera mengangguk.
"Wah kita sama. Aku pemain gitar saat duduk dibangku sekolah dulu." Ucap Chanyeol bangga.
"Pamer." Lirih Baekhyun namun mampu didengar oleh Chanyeol.
"Benarkah? Jadi kau tahu tipe gitar seperti apa yang bagus?" Chanyeol mengangguk.
"Butuh bantuan?"
"Apa tidak merepotkan?" Chanyeol menggeleng.
"Tidak untuk teman baru." Bobby mengangguk senang lalu melakukan high five dengan Chanyeol.
Setelahnya mereka kembali bercakap-cakap. Chanyeol tipikal seseorang yang mampu membaur dengan cepat, ia bisa menyesuaikan diri dengan berbagai kegemaran teman-teman Baekhyun. Ia mengerti fashion dan mengenalkan merk-merk terkenal yang membuat Krystal semakin tergiur bahkan Chanyeol menjanjikan gadis itu untuk ikut menghadiri sebuah fashion show suatu hari nanti.
Lisa sangat suka kuliner membuat Chanyeol dengan mudah merekomendasikan berbagai macam restaurant mahal yang pernah ia datangi bersama koleganya, sementara Vernon yang cukup pendiam nyatanya sangat menyukai bidang otomotif membuat Chanyeol yang memang menyukai hal itu dengan mudah mencari topik dengan sosok itu.
Yoora benar, terkadang hal yang dilakukan secara spontan akan memberikan hasil yang baik daripada penuh dengan pertimbangan. Dalam kurang dari sehari ia telah mampu menguasai teman-teman Baekhyun.
Saat pukul sepuluh pembicaraan itu harus dihentikan karena keempat mahasiswa itu harus kembali ke kampus mereka sementara Baekhyun harus kembali ke toko.
"Biar aku antar!" ucap Vernon sambil memberikan jaket milik Baekhyun. Melihat itu Chanyeol segera bangkit.
"Biar aku saja, kau bukankah harus segera ke kampus?" ucap Chanyeol sambil menarik Baekhyun untuk berada disampingnya. Merasa tarikan Chanyeol terlalu cepat dan tiba-tiba membuat Baekhyun kesal dan menghempaskan tangan Chanyeol.
"Aku bisa kembali sendiri. Kalian segeralah berangkat! Jangan melewatkan satu mata kulih pun, terutama kalian!" tunjuk Baekhyun pada Bobby dan Krystal yang hanya dibalas cengiran oleh keduanya.
Keenam orang itu berjalan keluar dan berpisah arah. Chanyeol mengikuti langkah Baekhyun menuju ke tokonya membuat Baekhyun berjalan dengan cepat meningalkan Chanyeol.
"Aku rasa bocah itu memiliki ketertarikan padamu!" ucap Chanyeol yang dengan mudah menyamai langkahnya dengan Baekhyun.
"Jangan menjadi sok tahu, lagipula itu haknya dan juga bukan urusanmu." Ucap Baekhyun masih merasa kesal.
"Aku tidak tahu kau jadi suka bergaul bersama bocah-bocah seperti itu."
"Lebih baik bergaul dengan mereka daripada harus terlibat dengan banyak orang dewasa kantoran yang membosankan." Sahut Baekhyun masih ketus. Chanyeol tersenyum melihat wajah kesal Baekhyun namun bukannya menyerah ia malah semakin suka menggoda sosok itu.
"Oh ya ada yang lupa aku katakan kemarin, ternyata kau cocok dengan warna rambut ini, kau terlihat lebih cantik." Baekhyun mengernyit namun tetap melangkah bahkan segera menyebrang ketika lampu berganti membuat Chanyeol dengan cepat mengikuti langkah yang lebih kecil.
"Jika tahu kau secantik ini, maka aku akan membiarkanmu untuk mengecat rambut dulu." Baekhyun menghentikan langkahnya ketika sudah sampai di depan tokonya lalu berbalik dan menatap Chanyeol dalam.
"Aku tidak mengerti denganmu Park, setelah kau menghilang bertahun-tahun sekarang kau muncul disini dengan sikap anehmu."
"Bukan aku yang menghilang Baek, tapi kau. Kau pergi tanpa mengucapkan apapun, bahkan untuk sekedar memberitahuku dimana kau berada." Baekhyun terdiam lalu ia berdecih pelan sambil membuang arah pandangnya kesegala arah. Merasa konyol akan ucapan Chanyeol.
"Aku melakukannya karena aku ingin melupakanmu, menghapusmu dari ingatanku!" ucapan Baekhyun nyatanya membuat jantung Chanyeol seolah tertancap sesuatu tak kasat mata.
"Lalu apa kau berhasil? Apa kau berhasil menghapusku dari ingatanmu?" Baekhyun lagi dibuat bungkam oleh pertanyaan Chanyeol, ia membuang kembali tatapannya dan wajahnya kini sudah memerah, ia sedang menahan emosinya.
"Pergilah Park! Disini bukan tempatmu! Aku tak akan kembali, terlalu banyak kenangan buruk disana, aku… tak ingin kembali." Chanyeol lagi dibuat terketuk oleh untain kalmiat Baekhyun, membuat rasa menyesalnya muncul begitu saja setelah selama ini ia merasa bahwa perceraian mereka disebabkan oleh Baekhyun.
Baekhyun mengeluarkan kunci dari saku jaketnya dan membuka pintu kaca toko bunganya, namun Chanyeol menahan tangan putih dan berjemari lentik itu membuat Baekhyun menundukan kepalanya dalam atas kekeraskepalaan mantan suaminya.
"Bagaimana kabar nenek?" tubuh Baekhyun menegang namun kemudian ia mengangkat wajahnya dan tersenyum kearah Chanyeol.
"Nenek bahagia di Seoul." Namun Chanyeol tahu senyuman itu seolah dipaksakan.
"Apa kau tidak merindukan nenek? Kau meninggalkannya seorang diri disana?" Baekhyun terkekeh pelan lalu menampik pelan tangan Chanyeol.
"Kau benar-benar sibuk ya Park? Heuh, karena itu aku tak ingin menganggu waktumu." Baekhyun menghela nafas panjang lalu kembali menatap Chanyeol tepat ke dalam matanya.
"Telepon tunanganmu itu! Sekarang!" ucap Baekhyun. Seolah tersihir Chanyeol segera mengeluarkan ponselnya lalu menelpon sang kekasih.
Tutt…Tut…Tut.
"Halo? Oppa?"
"Ada yang_" ucapan Chanyeol terputus karena Baekhyun merampas ponselnya dengan cepat.
"Oppa? Ada apa? Oppa?" Baekhyun mengernyit mendengar suara gadis diseberang sana, ia tidak menyangka jika Chanyeol pada akhirnya kembali menjadi seorang pria normal, ia ingin bahagia untuk itu namun sebuah goresan seolah melukai harga dirinya.
"Halo, apa ini kekasih Chanyeol, aku Byun Baekhyun mantan suaminya. Sebelumnya aku ingin mengucapkan selamat untuk kalian, dan Chanyeol sudah mengatakan tentang syarat yang kau ajukan….." Chanyeol menatap Baekhyun dalam, memperhatikan bagaimana bibir tipis itu bergerak cepat mengeluarkan setiap kata dan bagaimana bulu mata itu berkedip menyentuh pipi putihnya. Baekhyun nampak lebih berisi ketimbang terakhir mereka bertemu , seolah Baekhyun kembali menjadi sosok periang seperti saat mereka sekolah dulu.
"…aku merestui kalian, tapi maaf aku tidak bisa kembali ke Seoul untuk menghadiri pesta pernikahan kalian_"
"Bisa berikan ponsel ini pada oppa?"
"_apa?" Baekhyun merasa terkejut karena ucapannya dipotong, dengan kesal ia memberikan ponsel itu pada Chanyeol. Ia tidak menyangka jika sosok pendamping hidup Chanyeol yang baru adalah sosok yang begitu angkuh bahkan ucapan panjang lebarnya seolah tidak berarti apapun.
Chanyeol kembali mendekatkan ponselnya ketelinga namun matanya masih tetap terpaku pada Baekhyun yang nampak kesal dan cemberut.
Tak ingin mendengar obrolan Chanyeol dengan kekasihnya Baekhyun memilih untuk masuk ke dalam toko meninggalkan Chanyeol.
"Oh..baiklah… kalau begitu aku tutup." Ucap Chanyeol segera menyimpan ponselnya dan masuk menyusul Baekhyun.
"Baek!"
"Apa katanya?" tanya Baekhyun tanpa melihat Chanyeol dan sibuk dengan jejeran pot bunga di depannya.
"Dia bilang tetap ingin kehadiranmu disana." Baekhyun menggeram kesal namun tak lama suara pintu terbuka dan tiga orang gadis remaja masuk kesana.
"Hola chicas guapas te puedo ayudar? (Halo gadis-gadis cantik, ada yang bisa kubantu?"
"Estoy buscando flores_ ( Aku mencari bunga_)" salah satu gadis itu terdiam sambil menatap kearah Chanyeol.
"Wow, el es tan guapo es un modelo? ( Wow, dia sangat tampan apa dia seorang model?)" Baekhyun memutar bola matanya malas, sementara Chanyeol hanya tersenyum ramah dengan wajah keheranan.
"English?" tanya gadis lainnya dengan ragu namun Chanyeol mengangguk.
"Aa~ she said that you are very handsome, are you an model?" Chanyeol terbahak keras membuat Baekhyun muak.
"No… I'm not. But thanks. Anyway, do you need something?" Gadis-gadis itu mengangguk lalu melihat sekitar.
"I need uhm… something for my…uhmm…boyfriend…"
"Oh, a present? Okay right there!" ucap Chanyeol sambil membawa ketiga gadis itu pada sebuah sudut dimana ada beberapa bunga yang sudah dipetik dan diletakan di dalam pot-pot berisi air.
Chanyeol memang tidak mendalami ilmu bunga seperti Baekhyun, namun sejak dulu Baekhyun selalu mengajarinya tentang bahasa bunga membuat Chanyeol secara tidak langsung mengerti mengenai bunga dan artinya.
Meski baru dua kali memasuki toko itu namun Chanyeol dengan cepat mampu mengenali dan mengetahui dimana letak bunga-bunga yang seharusnya dijual, ia memang sosok yang dengan cepat belajar. Melihat Chanyeol mampu menguasai pembelinya membuat Baekhyun membuang wajahnya dan mengambil pekerjaan lain, ia hanya tak ingin bertengkar di depan pembelinya.
"Baek, berapa harga bunga ini?" Baekhyun melirik sebuket bunga ditangan Chanyeol.
" 76 Euro." Ucap Baekhyun. Chanyeol mengangguk dan segera menyampaikan hal itu pada pembeli pertamanya.
"Thank you for coming girls." Ucap Chanyeol sambil melambaikan tangan pada ketiga gadis yang telah meninggalkan tempat itu.
"Ini." Chanyeol menyerahkan beberapa lembar pecahan pada Baekhyun dan dengan segera Baekhyun menerimanya lalu memasukannya ke dalam kotak diatas meja kasirnya.
"Aku ahli bukan?" Baekhyun tak menjawab dan segera mengambil penyemprot bunga. Chanyeol tersenyum melihat bagaimana Baekhyun kesal dengan kehadirannya.
"Oh ya bukankah kau sudah memiliki Kevin, lalu kenapa tidak menolak bocah itu?" Baekhyun sibuk menyemprotkan air ke kelopak-kelopak bunganya namun ia masih mampu mendengar pertanyaan Chanyeol.
"Bukan urusanmu, Park. Lagipula apa yang kau lakukan disini? Pergilah!" Chanyeol mendekat dan berdiri disamping Baekhyun.
"Kau tidak lihat aku bahkan mampu menarik pelanggan hanya dengan berdiri saja, bukankah seharusnya kau senang?" Baekhyun membalik tubuhnya lalu menyemprot kesal kearah dada Chanyeol.
"Mereka hanya tertipu oleh wajah bodohmu, minggir!" Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol lalu berpindah untuk menyemprot pot lain.
Pintu kembali terbuka dan keduanya menoleh, seorang pria tua bertubuh gemuk berjalan masuk.
"Pria ini lagi." Kesal Baekhyun sambil meletakkan penyemprot bunganya lalu berjalan menghampiri pria tua itu.
"Oh, my Baekhyong." Ucap si pria sambil menarik Baekhyun ke dalam pelukannya dan memeluknya dengan erat, lalu memegang kedua pipi Baekhyun dan mengecup dengan kuat kedua daging empuk itu.
"Muuaachh…muaachh… Mi hermoso hombre, como estas querido? ( Pria cantikku, bagaimana kabarmu sayang?" melihat itu Chanyeol segera mendekat dan berdiri dibelakang Baekhyun sambil menatap tajam pada pria yang dengan seenaknya mencium Baekhyun, menurutnya itu sebuah pelecehan.
"Oh, who is he?"
"I'm his ex_"
"Oh, he is just my old friend from Korea, quieres comprar algo? ( Dia hanya teman lamaku dari Korea, ingin membeli sesuatu?)" Pria itu mengalihkan tatapannya ke Baekhyun lalu menggeleng.
"Solo quiero preguntar que proxima semana estas apareciendo? (Aku hanya ingin bertanya apa minggu depan kau tampil?"
"Por supuesto hasta luego senor Alejandro. ( Tentu, sampai bertemu minggu depan Tuan Alejendro.)" Pria itu mengangguk lalu kembali menarik Baekhyun kedalam sebuah pelukan bahkan pelukannya begitu erat dan sangat intim membuat Baekhyun merasa sesak. Melihat itu dengan cepat Chanyeol menarik tubuh Baekhyun dan merangkul pundaknya, sebuah insting untuk melindungi yang lebih pendek dari predator.
"Adios. ( Selamat tinggal)."akhirnya pria tua itu pergi. Baekhyun melambaikan tangan dan segera menepis tangan Chanyeol dipundaknya lalu kembali pada kegiatan awalnya.
"Apa kau tidak sadar bahwa pria itu tengah melecehkanmu?"
"Dia hanya salah satu pendengar setiaku di tempatku bekerja, jangan berpikir yang aneh-aneh!"
"Itu terlihat jelas Byun! Apa kau tidak bisa menyadari jika pria itu sedang memanfaatkanmu, dia pasti menjadikanmu fantasi seksnya."
Cisssh…
Baekhyun menyemprotkan air ke wajah Chanyeol membuat wajah pria itu basah dan terlihat semakin menggoda. Baekhyun membalik tubuhnya dan Chanyeol mengusap wajahnya namun emosinya masih memuncak mengingat kejadian beberapa menit lalu.
"Park, pergilah! Percuma kau membuang-buang waktu disini, aku tak akan kembali." Ucap Baekhyun lagi sambil kembali pada deretan bunga di depannya. Chanyeol menatap Baekhyun dengan rahang yang mengeras, dirinya sedang terbawa emosi sekarang.
Satu tarikan tangan membuat tubuh Baekhyun berbalik kearahnya, gerakan yang lebih pendek terkunci bahkan Chanyeol menatap dalam kearah mata Baekhyun.
"Kau tentu mengenalku dengan baik, aku tak akan menyerah. Aku akan membawamu ke Korea. Lagipula kau tidak bisa tinggal ditempat dimana banyak orang-orang memanfaatkanmu." Baekhyun menggeram emosi dan mendorong tubuh Chanyeol.
"Tempat ini jauh lebih baik daripada neraka yang kau ciptakan untukku, Park." Chanyeol bungkam oleh ucapan Baekhyun, namun ia tidak ingin kalah, ia harus menang melawan Baekhyun, begitulah bagaimana mereka hidup selama ini.
"Kau yang menganggap dunia kita neraka, Baek. Padahal aku sudah berusaha untuk membahagiakanmu."
"Membahagiakanku? Hahaha.. kau memang pimpinan yang hebat tapi kau suami yang payah. Pekerjaan adalah dewamu sementara aku hanyalah tempat berlabuhmu saat kau lelah."
"Bukankah memang seperti itu tugas seorang istri? Menjadi tempat dimana saat sang suami lelah, seharusnya kau menyambutku dengan pelukan bukan malah merajuk dan mendiamiku?" Mata Baekhyun berkaca-kaca karena menahan emosinya.
"Aku melakukannya, aku sudah melakukannya untuk bertahun-tahun lamanya, tapi aku sadar bahwa aku bukanlah sebuah tempat singgah."
"Aku bahkan memenuhi semua keinginanmu, aku memberikan segalanya."
"Ya, tapi kau tidak memberikanku perhatian, kau tidak sepenuhnya menaruh perhatian kepadaku, kepada kami, kau sibuk dengan pekerjaanmu siang dan malam, aku muak Chanyeol, aku muak….karena itu aku memilih menyerah." Baekhyun menundukan wajahnya dan terisak membuat Chanyeol tersadar dan merasa bersalah.
"Aku bukan pengecut Chanyeol, aku hanya lelah dengan semuanya. Aku mencoba bertahan bertahun-tahun, tapi pada akhirnya aku merasa bahwa aku tak sanggup lagi. Kau berubah semenjak mengambil alih penuh perusahaan, kau menjadi seseorang yang tak dapat aku kenali. Diwaktu yang sama aku kehilangannya, aku terpuruk dan aku ingin mengakhiri semuanya."
"Maafkan aku!" ucap Chanyeol pelan, jemarinya ingin menyentuh tubuh Baekhyun, namun yang lebih pendek melangkah mundur.
"Kisah kita sudah berakhir Chanyeol, kita semula adalah dua orang asing yang dipertemukan dalam sebuah kebetulan, dan sekarang kita akan kembali seperti itu. Pergilah! Aku telah menghapus semua kenangan kita, biarkan aku bahagia dengan caraku sendiri!" Chanyeol terdiam, ingin rasanya ia menghapus air mata Baekhyun dengan tangannya, ingin rasanya ia memeluk tubuh ringkih itu lagi dan mengucapkan kata-kata penguat untuknya namun saat ini dirinya bukanlah siapa-siapa, Baekhyun benar bahwa mereka adalah dua orang asing.
"Katakan pada kekasihmu bahwa aku merestui kalian, aku bahagia untuk kalian. Setidaknya sekarang kau memiliki seseorang yang akan mengingatkanmu untuk makan disaat kau sibuk dengan pekerjaanmu, jangan sakiti dia, jangan ulangi kesalahanmu yang lama!" Baekhyun menghapus air matanya dengan cepat sambil menatap kearah Chanyeol dengan sebuah senyuman.
"Pergilah Chanyeol! Sebagai seorang teman, aku turut bahagia untukmu." Ucap Baekhyun sambil menepuk pundak Chanyeol lalu kemudian berbalik dan kembali pada kegiatan semulanya.
"Baby Baek aku_" ucapan Vernon terhenti di depan pintu masuk mendapati Baekhyun dan Chanyeol dalam keadaan aneh.
"Apa aku menganggu?" Baekhyun menghela nafas lalu sekali lagi menarik nafas panjang dan berbalik.
"Kau sudah pulang? Kenapa cepat sekali?" tanya Baekhyun, Vernon menyadari ada yang janggal dengan wajah Baekhyun namun ia tak ingin mencampuri urusan pria itu. Ia melirik Chanyeol yang terdiam ditempat sambil menatap pada lantai toko.
"Karena aku merindukanmu." Sebuah pelukan Vernon layangkan pada tubuh Baekhyun, sebuah pelukan sayang layaknya seorang adik pada kakaknya. Chanyeol tersadar lalu segera menghampiri dua orang lainnya.
"Oh hai, aku harus pergi semoga harimu menyenangkan." Ucap Chanyeol lalu berlalu meninggalkan keduanya. Tatapan Vernon mengikuti kepergian Chanyeol membuatnya sejenak mengernyit heran namun tepukan Baekhyun membuat ia tersadar dan segera mengalihkan pada topik lain.
Sementara Chanyeol memilih untuk kembali ke apartemennya. Sesampainya di dalam kamar, Chanyeol memilih duduk di sofa putih miliknya sambil menatap keluar jendela dimana lagi-lagi jendela kamar Baekhyun sebagai pemandangannya.
Chanyeol mencoba menyelami pikirannya dan kembali pada masa-masa pernikahan mereka. Ia akui bahwa ia memang telah melewatkan banyak hal ketika dirinya mulai disibukkan dengan banyak pekerjaan, tujuan Chanyeol tidak lain adalah ingin membahagiakan Baekhyun, namun nyatanya hal itulah yang menjadi alasan utama perceraian mereka.
Chanyeol terdiam sejenak, ia sedang menimang akan langkah selanjutnya yang harus ia ambil. Akankah ia memilih mundur dan kembali ke Korea atau tetap bertahan untuk mendapatkan restu dari Baekhyun.
Sepanjang sisa harinya ia habiskan untuk duduk disana dan merenungkan semua hal yang membuat dirinya terperosok pada sebuah kebimbangan.
…
..
.
Seperti biasa Baekhyun akan mendatangi café Locca dan memesan secangkir kopi disana. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan tentang kejadian siang sebelumnya bersama Chanyeol.
Baekhyun tidak menyangka setelah bertahun-tahun lamanya, sosok itu kembali muncul dan memunculkan kembali luka lamanya, harapan Baekhyun hanya satu kali ini yaitu Chanyeol kembali ke Korea dan ia bisa menjalani hidupnya dengan baik.
"Bacon!" Baekhyun tersenyum atas panggilan Krystal dan berjalan dengan sedikit semangat ke arah meja yang diduduki oleh Krystal dan Lisa, namun saat melihat ada satu sosok lain yang bukan temannya membuat suasana hati Baekhyun seketika buruk.
"Morning." Ucap Chanyeol sambil tersenyum dan segera bangkit, membiarkan Baekhyun untuk duduk di sisi yang lebih dalam yang dekat dengan dinding. Krystal dan Lisa yang duduk bersebrangan dengan keduanya hanya tersenyum hingga kemudian Krystal bangkit.
"Satu Double Esspreso kan? Tunggu!" ucap gadis itu dan segera bangkit. Baekhyun menghela nafas sambil melirik Lisa yang sibuk dengan ponselnya tanpa memperdulikan kehadiran Chanyeol disampingnya.
"Hola!" ucap Bobby dengan suara cukup lantang yang datang bersamaan dengan Vernon. Chanyeol segera merapatkan tubuhnya agar tempat duduk itu bisa diduduki oleh mereka bertiga yang mana hal itu membuat tubuh Baekhyun terjepit oleh tubuh Chanyeol dan dinding.
Baekhyun menggeram kesal namun ia mencoba menahan emosinya apalagi setelah kopinya datang dan aroma pekat itu membuat perasaannya jadi lebih tenang. Saat ini posisi duduk mereka adalah Lisa di dekat dinding, Krystal ditengah lalu Vernon di paling sisi sementara di sisi berlawanan adalah Bobby yang berhadapan dengan Vernon, Chanyeol lalu terakhir Baekhyun.
Bobby adalah tipikal yang sedikit heboh ketika bercerita, jadi ia akan sedikit memperagakan apa yang ia ceritakan membuat tubuh Chanyeol terdorong kesamping yang secara otomatis segera menghimpit tubuh Baekhyun.
Merasa Baekhyun terganggu oleh sikuannya, Chanyeol memutuskan meletakkan tangannya dibelakang tubuh Baekhyun. Ketika merasakan sesuatu menyelip diantara pinggang dan pahanya, Baekhyun menoleh kesamping dan menemukan tangan Chanyeol berada disana.
"Jauhkan tanganmu, Park!" bisik Baekhyun tak ingin terdengar oleh yang lainnya. Chanyeol menoleh dan nyatanya hal itu membuat wajah keduanya berada sangat dekat karena posisi tubuh Baekhyun yang sedikit miring untuk berbisik. Jarak yang begitu dekat membuat Baekhyun terkejut , dengan cepat menarik wajahnya kebelakang dan berbalik, membuat keningnya nyaris saja membentur dinding jika saja Chanyeol tidak dengan cepat meletakkan jemarinya dikening Baekhyun.
"Nyaris saja!" ucap Lisa yang nampak terkejut atas kejadian di depannya. Baekhyun menepis tangan Chanyeol lalu semakin memojokkan tubuhnya ke dinding.
"Baby Baek, apa kau merasa sempit? Kau bisa menukar tempat denganku." Ucap Vernon yang menyadari ketidaknyaman Baekhyun. Baekhyun yang tidak menyangka bahwa ketidaknyamanannya disadari membulatkan matanya kebingungan.
Melihat wajah lega Baekhyun akan pertanyaan Vernon membuat Chanyeol sedikit kecewa dan tanpa aba-aba ingin bangkit namun ucapan Baekhyun setelahnya membuat ia sedikit terkejut.
"Tidak aku baik-baik saja, hanya merasa sedikit kedinginan." Vernon segera melepas jaketnya dan hendak memberikannya pada Baekhyun, namun seperti naluri Chanyeol meniup kedua tangannya kemudian menggosokannya sebentar lalu menempelkannya pada pipi Baekhyun.
"Lebih baik?" seketika semua dibuat bungkam oleh tindakan Chanyeol.
"Oh..wow… aku seperti melihat cuplikan drama korea di depan mata." Ucap Lisa mencoba mencairkan suasana meskipun masih merasa begitu takjub akan ke lembutan Chanyeol. Baekhyun yang tersadar segera menurunkan tangan Chanyeol dari wajahnya dan barulah Chanyeol menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Ia membalik tubuhnya untuk menatap para remaja didepannya sambil tersenyum canggung.
"Kalian tahu? Kalian terlihat seperti pasangan yang sudah menjalin hubungan bertahun-tahun lamanya." Ucapan spontan Krystal membuat Baekhyun gugup sementara Chanyeol hanya terkekeh dan menanggapi dengan santai.
"Tidak, ini karena aku biasa melakukan itu pada kekasihku."
"Oh jadi kau sudah memiliki kekasih?" tanya Krystal seperti tidak terima. Chanyeol tersenyum kikuk sambil mengangguk pelan.
"Usianya aku rasa lebih kecil dari kalian."
"Apa?" tidak hanya keempat remaja itu yang berseru, Baekhyun pun nampak begitu terkejut akan ucapan Chanyeol. Chanyeol kembali tersenyum kali ini sedikit lebih lebar dan ketika menoleh ia mendapati wajah terkejut Baekhyun.
"Kenapa?" tanya Chanyeol tanpa suara, Baekhyun berdecih lalu menatap Chanyeol dan mengucapkan sesuatu tanpa suara "Pe-do-fil!" Chanyeol memutar bola matanya malas lalu mencoba mencari topik lain dan mencairkan suasana yang sempat menegang.
"Oh ya, acara besok jadi_"
"Bobby!" Baekhyun berseru memotong ucapan Bobby membuat lelaki itu kebingungan. "Bukankah sudah saatnya kau ke kampus?"
"Memang ada apa besok?" tanya Chanyeol bingung.
"Oh kami akan mengadakan_"
"Bobby!" Bobby menggeram kesal karena ucapannya terus dipotong oleh Baekhyun.
"Astaga Baek, ini baru pukul 08.00, kelasku dimulai 30 menit lagi."
"Tapi kau bisa terlambat, dan kalian juga." Seketika tiga remaja lainnya menatap bingung akan sikap berlebihan Baekhyun. Vernon yang mengerti akan situasi segera bangkit.
"Baiklah, ayo kita berangkat!" yang lain mengikuti dengan malas, hingga Krystal menghentikan gerakannya.
"Chanyeol sshi, nanti sore jadi kan?" tanya gadis itu sambil tersenyum penuh harap, Chanyeol mengangguk lembut sambil tersenyum.
"Aku boleh ikut?" tanya Lisa.
"Tentu, kenapa tidak? " Lisa berseru senang sambil dengan semangat memakai jaketnya.
"Memangnya apa yang akan kalian lakukan?" tanya Baekhyun penasaran.
"Kalian berangkatlah, nanti terlambat." Bukannya menjawab, Chanyeol malah menghiraukan pertanyaan Baekhyun membuat yang lebih kecil menggeram kesal, dia tahu Chanyeol baru saja membalas dendam atas perbuatannya tadi.
Setelah keempat remaja itu pergi, Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol agar memberikan jarak untuk keduanya.
"Aku tidak menyangka kau memacari anak kecil, seleramu berubah jauh ya." Ucap Baekhyun meskipun terselip sebuah ledekan disana.
"Seleraku tidak berubah, bukankah kau dan anak kecil sama saja?" Baekhyun menutup matanya kesal, namun tetap mencoba mengaduk kopinya yang mulai dingin.
"Kenapa membawa-bawaku, jangan bilang kau tidak bisa move on dariku." Ledek Baekhyun lagi, namun suara kekehan Chanyeol membuat yang lebih kecil menoleh bingung.
"Ya, bisa dibilang begitu setelah semua yang kita lalui. Lagipula siapa yang bisa melupakan sosok sepertimu? Tapi hidup bukan tentang berjalan ditempat Baek, karena itu aku mencoba untuk membuka lembaran baru." Baekhyun terdiam mendengar penuturan Chanyeol, hatinya seolah merasa bersalah namun ia mencoba untuk tidak terpengaruh.
"Ya kau benar Park. Aku telah mencoba melakukan hal yang sama beberapa tahun lalu. Membuka lembaran baru dan itu tanpamu." Balas Baekhyun membuat senyuman Chanyeol seketika lenyap.
"Apa kau sudah benar-benar melupakanku?" sejenak Baekhyun terdiam akan pertanyaan Chanyeol, namun di detik berikutnya ia mengangguk mantap sambil tersenyum.
"Tentu, itu tidak terlalu sulit karena aku telah memiliki_"
"Kevin, iya kan?"
"Hm?" Baekhyun nampak terkejut akan ucapan tiba-tiba Chanyeol, namun kemudian ia mengangguk pelan.
"Ya, Kevin salah satunya."
"Oh ya, kapan-kapan kenalkan aku pada kekasihmu itu, aku ingin tahu apa seleramu masih tetap bagus atau malah semakin buruk." Baekhyun tertawa lalu meminum kopinya.
"Seleraku selalu buruk sejak dulu." Chanyeol menggeram seolah dirinya tidak terima dengan ucapan Baekhyun yang tentu menjatuhkan harga dirinya, namun kemudian ia tersenyum dan mengusak rambut Baekhyun.
"Ya akupun sama, aku rasa selera kita sama-sama buruk." Ucap yang lebih tinggi. Senyuman samar terpatri di wajah keduanya. Meski bertahun-tahun lamanya tidak bertemu, nyatanya tidak ada yang berbeda dari mereka. Keduanya masihlah sama-sama keras kepala, dan tanpa sadar masih tetap saling mengagumi satu sama lain.
Apa kaca yang hancur bisa dibentuk kembali?
Apa kertas yang diremas bisa dikencangkan lagi?
Apa perasaan yang hilang bisa ditemukan kembali?
Tidak ada yang tahu kemana takdir membawa keduanya.
…
..
.
TBC
…
..
.
Hola!
Maaf ya aku agak ngaret untuk sebuah cemilan wkwkwk, alasannya udah aku cantumin di The red eyes jadi gak aku jelasin disini lagi heheheh..
Mau ucapin makasi nih buat semua yang udah baca dan ngereview chapter satu, duh bener-bener diluar dugaan ya respon kalian hehehe...
Oke gak mau panjang-panjang, cuma mau ucapin makasi sebanyak-banyaknya dan sampai jumpa di chapter selanjutnya...
Selalu jaga kesehatan dan salam Chanbaek is real ya...
