PERHATIAN!

Ff ini mengandung unsur dewasa, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.


NO CO-PAST

NO-REPOST

NO-PLAGIAT


There always be a place for the good person. So, don't steal people's effort , be honest is better...

Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.

Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.

..

.

Park Shita

Present

..

.

Pagi harinya ketika terbangun Baekhyun tidak mendapati siapapun di atas ranjang, untuk itu dengan mata masih mengantuk ia melihat sekitar dan berjalan dengan malas menuju keluar kamar.

Langkah terseretnya ia bawa menuju kamar teman-temannya dan kamar itu pun dalam keadaan kosong, ia mengernyitkan keningnya dalam lalu bertanya pada salah satu pelayan yang sedang membersihkan karpet merah di koridor.

"Dimana teman-temanku dan paman?" tanyanya dengan suara yang masih serak.

"Mereka sedang sarapan, tuan." Sahut sang pelayan tak berani menatap kearah mata Baekhyun. Baekhyun mengangguk lalu dengan malas dan kesal berjalan menuju ke lantai bawah. Saat menginjakan kaki di anak tangga pertama, ia mengerutkan bibirnya melihat tiga orang itu sedang sarapan sambil bercakap-cakap.

"Oh, hai Baekhyunie." Ucap Chanyeol ketika menyadari kehadiran Baekhyun. Sosok lelaki itu berdiri diujung tangga teratas dengan piyama beruang birunya yang seolah menelan tubuh kecilnya.

"Ayo Baek, kita sarapan!" panggil Seulgi yang sedang menjilat selai yang tertinggal di garpunya. Dengan malas Baekhyun berjalan menuruni anak tangga dan mengambil duduk didepan kedua teman-temannya. Mata sipit itu setia menatap dengan kesal karena merasa tidak dibangunkan dan ditinggal sarapan.

"Anda mau selai apa?" tanya salah satu pelayan namun Baekhyun tidak menjawab.

"Coklat?" Mata Baekhyun beralih kearah Chanyeol dengan bibir yang masih mengerucut.

"Paman kan tahu aku suka stroberi kenapa memberikanku rasa coklat?" Chanyeol terkekeh pelan sambil memberikan isyarat pada pelayan untuk segera menyiapkan sarapan untuk sang tuan muda.

"Siapa tahu kau sudah mengubah kesukaanmu itu."

"Tidak akan." Ucapnya ketus sambil mengambil roti yang telah diolesi selai oleh pelayannya dan memakannya dengan wajah kesal.

"Apa tidurmu nyenyak?" tanya Seulgi namun Baekhyun beralih melirik Chanyeol dengan tatapan kesal karena merasa terabaikan apalagi melihat Chanyeol yang membantu Lisa menggunakan peralatan makannya dengan benar.

"Jika ada yang bertanya, kau harus menjawabnya. Itu dinamakan sopan santun." Ucap Chanyeol tanpa melihat kearah Baekhyun, namun di akhir kalimatnya matanya ia bawa pada sosok kecil yang masih merengut dalam itu.

"Aku tidur dengan nyenyak, Nona Seulgi." Sahut Baekhyun sambil menatap Seulgi, namun di dalam hatinya ia masih merasa kesal dengan sikap pamannya.

"Usai sarapan kami berencana berenang di kolam Paman, apa boleh?" ucapan Lisa membuat Baekhyun menoleh cepat pada sosok yang sudah nampak akrab dengan Chanyeol itu.

"Tentu, anggap ini seperti rumah kalian sendiri. Jangan sungkan!" Seulgi dan Lisa berseru senang sambil melakukan 'high five' jarak jauh.

"Paman tidak ikut?" tanya Seulgi yang mendapat tatapan tidak terima dari Baekhyun, entah mengapa suasana hatinya sudah buruk sejak tadi pagi.

"Hm, sepertinya aku harus absen kali ini. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan, mungkin lain kali." Meski merasa kecewa namun kedua remaja itu mengangguk cepat tak ingin terlihat terlalu mengharapkan si tuan besar.

Setelah usai sarapan, ketiga remaja itu bangkit dari meja makan dan bergegas untuk mengganti pakaian mereka. Lisa dan Seulgi memang sudah menyiapkan segalanya ketika tahu fasilitas apa saja yang dimiliki oleh Baekhyun.

"Jangan lupa untuk melakukan pemanasan sebelum masuk ke dalam air!" ucap Chanyeol sambil menahan tangan Baekhyun yang hendak berlari ke kamarnya mengikuti dua gadis lainnya, namun bukannya menjawab Baekhyun malah menghempaskan tangan itu dan tak lupa memberikan ekspresi kesalnya pada sang paman.

Chanyeol mengernyit sejenak, namun kemudian memilih melepaskan tangan Baekhyun, mengerti bahwa remaja itu dalam suasana hati yang buruk.

"Apa itu berarti tidak ada sarapan untukku?" goda Chanyeol ketika Baekhyun menaikki anak tangga, langkah kaki pendek itu terhenti dan ia sempat menoleh kebelakang namun masih memberikan tatapan kesal.

"Tidak ada sarapan untuk orang menyebalkan seperti paman." Ucapnya sebelum akhirnya berlari menaikki anak tangga dengan semangat.

"Rudolf!" panggil Chanyeol dan kepala pelayan itu segera mendekat.

"Awasi dia, jangan biarkan ia melakukan sesuatu yang nakal!" Pria paruh baya itu mengangguk mematuhi ucapan sang atasan.

"Aku ada diruang kerjaku, jika membutuhkanku cari saja aku disana!" Rudolf mengangguk sambil memberikan hormat ketika Chanyeol bangkit dan melangkah menuju ruang kerjanya di lantai dua.

Sudah sejam lamanya suara pekikan khas anak remaja terdengar di kolam renang yang terletak dihalaman belakang mansion Park, sebuah kolam renang berukuran besar yang langsung menghadap taman labirin dan rumah kaca mansion tersebut.

Para pelayan berjejer disisi kolam siap dengan segala perlengkapan yang mungkin diperlukan tuan muda mereka beserta teman-teman gadisnya. Dengan hanya mengenakan celana renang pendek berwarna biru muda, Baekhyun berulang kali meluncur dari perosotan panjang miliknya. Sementara Lisa dan Seulgi sibuk mengambil gambar yang nantinya akan mereka posting ke akun sosial media masing-masing.

Lisa dengan bikini berwarna orange berbaring diatas pelampung angsa merah sambil satu tangannya membawa segelas minuman dingin, begitu pula Seulgi yang terlihat menarik dengan bikini biru muda berendanya.

"Tuan muda, sebaiknya kita istirahat dulu!" ucap Rudolf sambil menawarkan sehelai handuk namun Baekhyun menolak dan kembali menceburkan diri lalu berenang-renang kecil.

"Mr. Rudolf bisa aku minta minum lagi? Ini sangat enak!" Seulgi segera berjalan keluar dari kolam renang sambil menghampiri sang kepala pelayan. Rudolf mengangguk dan dengan senang hati mengantarkan Seulgi menuju salah satu meja, sementara Lisa sibuk berjemur diatas pelampungnya.

Baekhyun masih asyik meluncur dan berenang dengan gaya punggung semakin menjauh, hingga tanpa ia sadari ia telah berenang dibagian terdalam kolam itu. Tak ada seorang pun yang menyadari karena mereka sibuk melayani dua tuan puteri yang lain bahkan Baekhyun sendiri pun tanpa sadar telah berenang cukup jauh.

Hingga kepalanya terpentuk sisian kolam barulah ia tersadar, saat ia mencoba menurunkan kakinya ia merasa panik karena tidak dapat berpijak, ketika ia akan kembali berenang ke sisian terdangkal kakinya mendadak kram dan tubuhnya mendadak tak dapat ia gerakan.

Baekhyun mencoba berenang kepermukaan namun tubuhnya semakin tersedot ke dasar kolam, hingga ia merasakan bahwa paru-parunya telah penuh terisi air kolam.

Di ruang kerjanya Chanyeol sedang sibuk mengecek beberapa laporan dari cabang perusahaannya, hingga tubuhnya ia putar untuk melihat ke jendela yang tepat menghadap ke kolam renang.

Ia tersenyum ketika melihat Lisa dan Seulgi yang nampak menikmati waktu mereka, namun keningnya mengernyit saat tidak melihat Baekhyun dimana pun. Matanya masih menyapu halaman disekitar kolam hingga matanya menangkap sesuatu bayangan di dasar kolam pada bagian terujung.

Tanpa pikir panjang Chanyeol berlari keluar dengan cepat, ketika sampai di pintu belakang ia berteriak memanggil nama yang lebih kecil membuat pelayan dan yang lainnya terkejut. Di detik berikutnya Chanyeol melompat lengkap dengan pakaiannya. Dengan kemampuan terbatasnya ia menyelam ke dasar untuk menarik tubuh tak sadarkan diri Baekhyun menuju kepermukaan.

Saat kepalanya menyembul di permukaan, para pelayan sudah berdiri disisian kolam dengan wajah khawatir. Chanyeol segera menaikkan tubuh Baekhyun, dan mencoba memberikan nafas buatan, ia berikan CPR pada yang lebih muda hingga akhirnya Baekhyun terbatuk dan air-air itu keluar dari mulutnya.

Ketika tersadar Baekhyun merengek dan segera memeluk Chanyeol, seorang pelayan mendekat dan memberikan handuk pada keduanya namun Chanyeol memilih memakaikan seluruhnya pada Baekhyun yang pastinya kedinginan,

"Paman~" rengeknya sambil memeluk Chanyeol ketakutan. Chanyeol memeluk Baekhyun erat sambil merasakan lega yang begitu besar, ketika Baekhyun tersadar sesuatu ia menjauhkan tubuhnya dan matanya membulat melihat kulit Chanyeol yang terbakar.

"Paman!" Baekhyun memekik terkejut, begitu juga dengan yang lainnya yang sama terkejutnya, namun tanpa bicara Chanyeol bangkit dan membawa tubuh Baekhyun dalam gendongannya.

Seperti bayi koala Baekhyun menempel pada dada Chanyeol, sementara kedua kakinya melingkar di pinggang sang paman.

"Kalian bisa melanjutkan acara kalian lagi, biar aku yang mengurus Baekhyun!" ucap Chanyeol sambil tersenyum ramah meskipun kecemasan tak hilang dari wajah Lisa dan Seulgi.

"Maafkan aku Tuan, seharusnya aku mengawasi tuan muda dengan baik." Chanyeol tersenyum sambil menggeleng pelan pada kepala pelayannya yang setia.

"Tidak masalah, kau bisa kembali mengawasi dua remaja itu! Biar aku sendiri yang menangangi bocah yang ini." Rudolf mengangguk lalu meminta ketiga pelayan lainnya untuk mengikutinya dan memberikan waktu sendiri untuk Chanyeol dan Baekhyun.

"Kau pasti tidak menuruti ucapanku kan?" ucap Chanyeol ketika mereka berjalan menaikki anak tangga. Baekhyun mengangguk manja di ceruk leher Chanyeol, merasa menyesal karena telah mengabaikan perintah pamannya.

"Maafkan aku, paman! Lalu bagaimana dengan luka paman?" tanya Baekhyun sambil melirik bagian terbakar ditangan Chanyeol. Beruntung pria itu mengenakan celana panjang sehingga tidak seluruh tubuhnya terbakar. Efek cahaya matahari memang membuat ruam kemerahan disekujur tubuhnya yang terpapar namun yang terparah adalah luka bakar di lengan pria itu.

"Ini akan segera sembuh, jangan cemas!" Chanyeol mencoba menenangkan keponakannya karena tahu betul bahwa remaja itu sangat cepat menyalahkan dirinya sendiri.

"Tapi itu sangat parah, bagaimana kalau sampai berbekas?" Chanyeol terkekeh pelan sambil mengecup belakang telinga Baekhyun.

"Tidak akan, aku bisa menyembuhkannya. Aku hanya lupa memakai krim penangkal sinar matahariku tadi, karena aku pikir seharian ini aku tak akan keluar rumah, tapi sepertinya tuan muda kita ini mampu mengacaukanku." Baekhyun tidak menjawab, tapi memeluk leher Chanyeol semakin erat dan membisikan kata maaf berulang kali.

Mereka tiba di dalam ruang kamar Chanyeol dan pria itu segera mendudukan Baekhyun diatas ranjangnya. Sebuah pakaian hangat ia keluarkan dari dalam lemari dan meminta Baekhyun memakainya.

Tapi diluar dugaan sosok itu malah mengambil pakaian Chanyeol namun segera berlari ke kamar mandi untuk melepaskan celana renangnya membuat Chanyeol terkekeh pelan sambil menggeleng kecil. Keponakannya benar-benar sudah beranjak dewasa.

Baekhyun keluar dengan pakaian kebesaran Chanyeol dan segera berbaring diatas ranjang sambil memperhatikan Chanyeol yang keluar dari ruangan lain yang tersembunyi dari kamarnya dengan sebotol cairan pekat dan pakaian keringnya.

Chanyeol duduk diatas sofanya dan mencoba menteskan obat itu diatas permukaan kulitnya, ketika Chanyeol meringis karena rasa perihnya yang begitu parah Baekhyun dengan takut segera mendekat sambil menatap bagaimana obat itu bekerja untuk menutup luka di kulit pamannya.

"Nah, sudah sembuh kan!" ucap Chanyeol sambil memperlihatkan kulitnya yang sudah kembali normal meski masih meninggalkan sedikit ruam kemerahan. Baekhyun mendekat dan berdiri disamping Chanyeol dengan wajah simpati, sebelum akhirnya ia teringat sesuatu dan segera meraih pundak Chanyeol dan duduk diatas pangkuan sang paman membuat Chanyeol terkejut sesaat.

"Baek_"

"Paman, belum sarapan kan? Maaf karena tadi pagi aku mengabaikan paman, ya!" ucapnya dengan nada yang lucu. Sejak kecil Baekhyun memang selalu bertingkah manja dan sangat menggemaskan membuat siapapun tidak akan tega untuk memarahinya apalagi menyakitinya. Dan kelebihan itu yang selalu Baekhyun manfaatkan untuk mendapatkan apapun dari sang paman.

"Baiklah, tapi sebaiknya kita_" Baekhyun menahan tangan Chanyeol yang hendak menurunkan tubuhnya, malah lingkaran tangannya semakin ia eratkan di leher sang paman.

"Jika dalam posisi ini rasa sakitnya akan lebih berkurang." Ucap Baekhyun cepat, namun Chanyeol tahu ada sebuah kebohongan dibalik wajah memerah itu. Chanyeol tak ingin mengungkit apapun disaat perutnya memang terasa lapar, jadi dengan perlahan ia menurunkan bagian kerah baju kaos Baekhyun, lalu mulai menancapkan taringnya disana.

Baekhyun tidak memberikan suara kesakitan seperti biasanya, namun sebagai gantinya bibirnya ia gigit cukup kuat sambil matanya ia pejamkan dan jemarinya menyusuri surai gelap Chanyeol.

Chanyeol menghentikan isapannya sejenak ketika mulai merasakan kejanggalan lagi di tubuh Baekhyun, ia hendak menyudahi sarapannya dan mendorong tubuh Baekhyun menjauh namun lagi remasan pada rambutnya semakin mengeras dan juga dorongan sensual Baekhyun berikan pada kepalanya.

Chanyeol tahu ada yang salah dengan Baekhyun, dan ia pun tahu bahwa tidak seharusnya ia meladeni sikap aneh Baekhyun, namun ada satu sisi di dalam dirinya yang menginginkan hal itu juga, hingga sesuatu mengeras lainnya milik Baekhyun mulai ia rasakan diatas pahanya barulah ia benar-benar mengakhiri isapan itu dan segera menutupi luka Baekhyun dengan jilatannya.

"Paman_" Chanyeol tahu Baekhyun sedang menahan malu karena saat ini remaja itu malah menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Chanyeol. Tak ingin mempermalukan sang keponakan, Chanyeol memilih mengelus punggung Baekhyun pelan berusaha membuat tubuh itu lebih rileks.

"Kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol ingin memastikan kondisi Baekhyun, namun sosok kecil itu hanya menggeleng masih berusaha menyembunyikan wajahnya.

"Paman, apa itu aneh bila kita ingin selalu bersama seseorang yang kita sayangi?" Chanyeol mengerti arah pembicaraan keponakannya namun tak ingin membuat Baekhyun semakin bingung dengan jati dirinya. Chanyeol pun paham bahwa remaja seusia Baekhyun sedang dalam fase pencarian jati diri dan Chanyeol tak ingin membuatnya tersesat.

"Tidak sayang, itu hal yang wajar. Ada apa? Tidakkah kau ingin berbagi?" Baekhyun terdiam mencoba menimang tawaran sang paman, hingga akhirnya ia menyakinkan dirinya.

"Akhir-akhir ini aku selalu ingin berada di dekat paman, ada suatu yang membuatku begitu takut kehilangan paman." Akhirnya wajah itu berhenti bersembunyi diceruk yang lebih tua, dan kini saling bertatapan.

"Maksudku, seperti aku merasa begitu bahagia setiap aku berada disisimu." Chanyeol tersenyum dan mengusak rambut basah Baekhyun.

"Sejak kau kecil hingga sekarang akulah yang selalu berada disampingmu, itu hal yang wajar ketika kau merasa bahwa hanya aku yang kau milikki." Baekhyun terdiam menerima elusan dari pamannya, namun disisi lain di sudut hatinya seolah membantah ucapan itu. Baginya itu lebih daripada sebuah kasih sayang, Baekhyun tidak mengerti dan tidak pula berani mengambil kesimpulan tapi ia yakin perasaan itu telah berkembang menjadi sesuatu yang lain.

"Begitukah?" Chanyeol mengangguk pelan sambil memperhatikan wajah kebingungan Baekhyun, namun senyuman lebar dari yang kecil membuat ia akhirnya merasa lega. Baekhyun bangkit dan berdiri di depan sang paman sambil kedua tangan ia bawa menutupi bagian selangkangannya.

"Kalau begitu aku akan kembali menemani Lisa dan Seulgi karena sehabis makan siang mereka akan pulang." Chanyeol mengangguk lagi.

"Paman tidak ikut makan siang?" Chanyeol menggeleng pelan sambil menunjukan senyuman maafnya.

"Aku mengerti paman sibuk." Ucap Baekhyun hendak membalikkan tubuhnya, namun sebelum itu ia merendahkan tubuhnya untuk memberikan sebuah kecupan singkat dibibir Chanyeol.

"Aku mencintaimu, paman." Ucap Baekhyun sambil berlari meninggalkan kamar sang paman menyisakan Chanyeol yang terkejut di tempatnya. Sepertinya ia harus memberikan sedikit jarak diantara keduanya, sebelum sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.

..

.

Berjam-jam lamanya Chanyeol habiskan untuk berada di ruang kerjanya, separuhnya untuk mengerjakan tugas namun sisanya untuk memikirkan cara yang bisa ia gunakan untuk membuat dirinya dan Baekhyun sedikit berjarak, tapi ia sangat menyakini dirinya tidak akan mampu menahan rengekan Baekhyun yang tentu akan melemahkannya.

Suara ketukan pintu terdengar dan tak lama kepala menyembul dari sela pintu sambil menunjukan wajah tersenyumnya. Chanyeol tersenyum kecil dan sosok itu melangkah memasuki ruangan dengan senang.

Piyama tidur berwarna kuning terang dengan gambar pisang disetiap sudutnya begitu menggemaskan membalut tubuh Baekhyun. Satu tangannya ia bawa untuk menggosok matanya yang sedikit mengantuk.

"Ini sudah lewat waktu tidurmu." Ucap Chanyeol sambil melirik jam yang menunjukan pukul 08.30. Baekhyun berjalan dengan mata sedikit mengantuk lalu tanpa aba-aba mengambil duduk diatas pangkuan Chanyeol.

"Paman tidak selesai-selesai mengerjakan ini, aku bosan di kamar sendiri." Chanyeol membalik sedikit pundak Baekhyun agar bisa melihat wajah keponakannya.

"Bukankah kau memang tidur sendiri sejak usia 7 tahun?" Baekhyun menoleh hingga wajah mereka saling menatap.

"Tapi malam ini aku ingin menginap di kamar paman, aku menunggu sejak tadi hingga ketiduran tapi paman tidak kunjung datang, apa mengerjakan semua ini lebih penting dari tidur?" Chanyeol terkekeh pelan sambil memperbaiki posisi duduk Baekhyun yang membelakanginya dan menatap kearah dokumen-dokumennya dengan bibir dikelupas keluar.

"Kau tahu kan sebenarnya vampire itu tidak memiliki jam tidur yang teratur, mereka tidur kapanpun ketika mereka merasa lelah."

"Lalu apa paman tidak lelah?" tanya Baekhyun dengan kening mengernyit dalam. Jari telunjuk Chanyeol ia bawa untuk menyentuh kerutan itu membuat Baekhyun menatapnya dalam.

"Berhenti mengerutkan kening terlalu sering nanti kau cepat tua, katanya tidak ingin bertambah tua!" Akhirnya permukaan kening itu kembali datar dan senyuman yang Baekhyun berikan sebagai gantinya.

Baekhyun mengubah posisi duduknya menjadi menyamping dan menyandarkan kepalanya pada dada sang paman sambil menarik satu tangan Chanyeol sebagai bantal gulingnya.

"Paman benarkah jika para vampire itu tidak bertambah tua?"

"Lebih dari itu, mereka abadi."

"Lalu bagaimana paman bisa menjadi vampire?" Chanyeol terkekeh sambil mengelus pundak Baekhyun lembut.

"Itu adalah takdirku, Baek. Tak ada yang bisa menjelaskan kenapa." Baekhyun menghela nafas kemudian kembali memikirkan pertanyaan yang lain.

"Aku sempat membaca beberapa buku kuno mengenai vampire dan disana dikatakan bahwa vampir bisa mengubah seorang manusia untuk menjadi vampire juga, apa itu benar?" Chanyeol mengangguk membenarkan karena hal itu memang benar adanya. Jika seseorang digigit namun darahnya tidak dihisap melainkan darah sang vampire yang disalurkan ke tubuhnya, maka manusia itu akan berubah menjadi seorang vampire juga.

"Lalu bisakah paman membuatku menjadi seorang vampire juga?" Chanyeol terdiam dan keterdiaman itu membuat Baekhyun mendongak.

"Agar kita bisa hidup bersama,Ti-tidakkah paman ingin?" tanya Baekhyun ragu. Tatapan Chanyeol beralih menatap mata bening Baekhyun dan banyak pertimbangan di dalam benaknya, ada beberapa alasan yang membuat Chanyeol tak ingin membuat Baekhyun menjadi salah satu kaumnya.

"Itu dinamakan Vetice, dan aku hanya akan melakukannya jika aku ingin menjadikannya pasangan hidupku." Jantung Baekhyun seolah berhenti, kekecewaan menyelimutinya dan rasanya seperti ingin menangis dengan sangat keras.

"_Tapi itu beresiko besar, karena sosok itu akan selalu dalam bahaya, aku tak ingin membahayakan siapapun."

"Kenapa harus takut ketika ada sosok seperti paman yang melindungi? Jika itu aku, maka aku akan dengan suka rela melakukannya, karena aku percaya bahwa paman bisa melindungiku." Chanyeol tersenyum kecil sambil mengelus pipi Baekhyun lembut.

"Ada banyak hal yang belum kau ketahui, Baek! Dunia ini tidak seindah yang terlihat, ada banyak kekejaman yang masih belum menampakkan dirinya." Baekhyun segera memeluk Chanyeol dengan erat, seolah ketakutan juga menyerangnya.

"Boleh aku bertanya sesuatu?"

"Tentu, kau sudah bertanya sejak tadi."

"Apa paman pernah melakukan Vetice pada seseorang?" Chanyeol terdiam sejenak seolah mengingat kembali pada masa lalunya ribuan tahun lalu dan anggukan ia berikan pada Baekhyun.

"Ya, dulu sekali. Ada seorang wanita yang berhasil mendapatkan hatiku." Dan berakhirnya ucapan itu membuat tanpa sadar setetes air mata mengalir melewati pipi putih Baekhyun. Ada sebuah perasaan sakit yang ia rasakan saat mendengarnya, dan ketika itu Baekhyun tersadar bahwa ada perasaan yang salah di dalam dirinya.

"Paman?"

"Uhm?"

"Apa paman lapar?" setelah mengusap dengan cepat air matanya Baekhyun bangkit, mencoba mensejajarkan tubuhnya dengan Chanyeol lalu memalingkan wajahnya sembari satu tangannya menurunkan kerah piyamanya.

Chanyeol tersenyum dan segera menancapkan taringnya, namun ketika isapan pertama ia berikan sesuatu terasa berbeda. Tidak banyak yang tahu jika kondisi hati seseorang mempengaruhi rasa darah mereka, dan saat ini Chanyeol tahu bahwa Baekhyun-nya sedang bersedih.

Darah Baekhyun biasanya terasa begitu menyegarkan dan manis, namun saat ini rasanya sedikit asin dan pahit membuat selera makan Chanyeol hilang seketika. Untuk itu ia kembali memasukan taringnya dan segera menjilat leher Baekhyun.

"Sudah? Kenapa cepat?" tanya Baekhyun mencoba tersenyum namun Chanyeol tahu wajah itu sedang menyembunyikan sesuatu.

"Sepertinya aku masih kenyang, baiklah ayo sekarang kita tidur!" Baekhyun bangkit dan berjalan di depan Chanyeol. Mereka berdua keluar dari ruang kerja yang lebih tua dan berjalan menuju kamar Chanyeol namun bukannya masuk ke dalam kamarnya seperti biasa, Baekhyun memilih untuk melangkah menuju kamarnya.

"Tidak jadi menginap?" tanya Chanyeol , Baekhyun menggeleng tanpa menoleh dan terus melangkah menuju kamarnya.

"Aku berubah pikiran." Dan satu hembusan nafas Chanyeol berikan sebagai penutup pertemuannya dengan Baekhyun malam itu.

..

.

Tiga hari lamanya Chanyeol berada diluar kota untuk urusan lain dan selama itu pula ia hanya minum darah yang Rudolf dapatkan dari rumah sakit dan tentu saja rasanya jauh berbeda dengan darah milik segar milik Baekhyun.

Setelah malam percakapan mereka beberapa hari yang lalu, esok siangnya ia harus segera berangkat ke kota lain untuk mengurus beberapa masalah yang cukup genting. Lalu hari ini adalah hari dimana ia kembali ke rumahnya dan bertemu dengan sang keponakan.

Saat berada diluar kota, Chanyeol sudah mendengar dari Rudolf bahwa sang tuan muda itu masih merajuk bahkan sering melewatkan makan siangnya dan mengunci diri di dalam kamar.

Chanyeol sangat yakin itu semua karena percakapan mereka beberapa hari lalu yang masih membuat suasana hati Baekhyun buruk, untuk itu ketika kembali ia membawa sekotak besar coklat dan sekotak es krim stroberi jumbo sebagai hadiah.

Namun saat memasuki kamar yang lebih muda, ia hanya mendapati Baekhyun berbaring diatas ranjangnya sambil mendengarkan lagu melalui earphone nya dengan mata tertutup. Sedikit ingin memberikan kejutan, ia menarik benda itu dari telinga Baekhyun membuat mata bulat sabit itu terbuka.

"Surprise!" Baekhyun tersenyum kecil hendak kembali melanjutkan kegiatannya namun Chanyeol menahannya dan segera memberikan hadiah yang ia simpan dibalik tubuhnya. Baekhyun tersenyum lebih lebar dan mengambil salah satu coklat itu lalu duduk diatas ranjangnya.

"Aku boleh makan semuanya?" Chanyeol mengangguk dan Baekhyun segera memakannya, melupakan fakta bahwa ia sedang dalam suasana hati yang buruk saat tersenyum sambil mengelus rambut Baekhyun lalu ia teringat sesuatu.

"Baek, soal percakapan kita beberapa hari lalu." Baekhyun mendongak sambil menatap bingung, meskipun sedikit rasa kecewa masih nampak diwajahnya.

"Wanita itu meninggal ditangan musuhku." Seketika tubuh Baekhyun mematung sambil menatap Chanyeol terkejut. Chanyeol tidak mengerti mengapa ia harus menjelaskan hal itu pada Baekhyun, namun ada suatu dorongan yang membuat ia harus mengatakan yang sebenarnya.

"Itu mengapa aku berkata bahwa menjadikan seseorang sebagai pasangan hidupku adalah hal yang buruk, aku tak ingin kehilangan orang yang aku sayangi, seperti aku menyayangimu karena saat ini hanya kau satu-satunya yang kumilikki. Aku bukannya tak ingin menjadikanmu vampire sepertiku, tapi ada alasan lain yang membuatku_"

"Aku mengerti." Ucap Baekhyun sambil melahap es krim di sendoknya.

"Paman tidak usah menjelaskan itu, aku sudah mengerti." Ucap Baekhyun sambil tersenyum dan kali ini Chanyeol yakin bahwa senyuman itu adalah senyuman yang murni bukan senyum kepalsuan lagi.

"Paman tidak mau melakukannya karena paman menyayangiku kan? Aku paham." Lagi Baekhyun berucap. Kini sendok es krim itu ia letakkan kembali, lalu tubuhnya bangkit dan duduk diatas pangkuan Chanyeol. Tangan kurus itu kembali melingkar di leher sang paman sambil wajah itu tersenyum lembut.

"Paman pasti lapar kan? Jadi saatnya paman mengisi tenaga, tapi mungkin rasanya sedikit manis karena aku baru saja makan coklat dan es krim." Chanyeol tersenyum dan menatap Baekhyun yang membuka satu per satu kancing bajunya lalu menurunkan bagian lehernya menampakan kulit seputih porselen itu.

"Selamat makan!" ucap Baekhyun sambil menarik pelan kepala Chanyeol. Pria itu tak menolak karena ia memang merasa sangat lapar. Seperti dugaannya rasa darah Baekhyun begitu nikmat dan memang terasa sedikit lebih manis dari biasanya, tapi tubuh Chanyeol terasa begitu segar. Seolah seluruh tenaganya pulih kembali.

Ketika acara makan mereka usai, Baekhyun tidak segera turun dari atas pangkuan Chanyeol ia malah menarik kepala Chanyeol dan menyatukan kening keduanya.

"Paman, berjanjilah tak akan pernah meninggalkanku!" Chanyeol tersenyum dan melepas cengkraman Baekhyun di rambutnya.

"Aku berjanji, sayang!" Baekhyun tersenyum lalu meraih sekotak kecil coklat dan memasukannya ke dalam bibirnya, mengunyahnya pelan dan diluar dugaan ia menarik wajah Chanyeol lalu menyatukan bibir keduanya kemudian mendorong coklat itu masuk ke dalam mulut Chanyeol.

Ketika Chanyeol hendak memuntahkannya, Baekhyun menutup mulut Chanyeol dengan kedua tangannya.

"Jangan dimuntahkan, telan! Supaya aku bisa berbagi kenikmatan dari rasa coklat yang paman berikan!" dengan sedikit kernyitan Chanyeol mengunyahnya lalu menelannya cepat. Baekhyun tersenyum sambil menunggu reaksi yang lebih tua.

"Enak kan?" Chanyeol mengangguk ragu, tapi kemudian tersenyum.

"Tapi lebih enak darahmu." Baekhyun terkekeh lalu turun dari atas pangkuan Chanyeol dan kembali memakan es krim dan coklatnya. Chanyeol menatap sosok itu dalam, terlalu bingung dengan hal yang harus ia lakukan setelah ini. Ia hanya terlalu menyayangi Baekhyun.

..

.

Baekhyun sedang memeriksa isi kotak makanannya ketika Lisa dan Seulgi muncul dengan rasa penasaran diikuti oleh Samuel yang nampak tidak terlalu berminat. Baekhyun kembali menutup kotak makanannya lalu menatap dua gadis yang duduk di depannya.

"Bagaimana keadaan paman Chanyeol? Apa sudah membaik?" Baekhyun memutar bola matanya malas lagi-lagi soal kejadian di kolam renang yang sudah terjadi beberapa hari lalu, bahkan Baekhyun pun sudah menjelaskan bahwa pamannya baik-baik saja.

"Demi Tuhan! Haruskah aku menjawab pertanyaan itu setiap hari?" kesal Baekhyun karena acara makan siangnya terganggu. Lisa tersenyum lebar sambil menusuk-nusuk lengan Baekhyun manja.

"Kami hanya khawatir, kami merasa sungkan dengan paman Chanyeol." Baekhyun menghela nafas pelan mencoba memaklumi sifat teman-temannya yang genit.

"Kalian tidak usah khawatir, itu bukan sakit yang parah. Pamanku memang memiliki sebuah penyakit langka dimana dirinya tidak bisa terkena paparan matahari terlalu lama tanpa menggunakan krim penangkalnya." Ucap Baekhyun lagi, Samuel yang ikut mendengarkan meskipun tangannya sibuk bermain ponsel menoleh.

"Seperti vampire?" Baekhyun tercekat, namun kemudian terkekeh pelan.

"Ya, kurang lebih seperti itu. Itu kelainan genetik dari kakekku." Mereka akhirnya mengangguk dan Baekhyun menghela nafas lega. Jemarinya kembali hendak membuka bekal makan siangnya ketika kedua teman barunya menatap kearah bekal Baekhyun dengan rasa ingin tahu yang besar.

Baekhyun memang selalu membawa bekal makanan atasan permintaan Chanyeol kepada Rudolf karena Chanyeol tak ingin Baekhyun makan sembarangan meskipun di kantin sekolahnya selalu tersaji makanan mahal dan sehat.

Untuk itu setiap harinya Baekhyun akan membawa satu set bekal makan siang dan itu bukan sekedar bekal makan siang biasa, melainkan makanan ekslusif yang selalu membuat teman-temannya berdecak kagum atas kekayaan Baekhyun.

Tidak hanya cita rasanya yang sangat enak, tapi juga jumlah gizinya selalu diperhatikan, bahkan setiap harinya Baekhyun selalu membawa bekal yang berbeda-beda terkadang itu makanan khas negara lain yang selalu membuat ketiga teman-temannya dengan begitu penasaran ingin mencoba, seperti saat ini contohnya.

"Kalian mau?" ketiganya mengangguk dan Baekhyun dengan senang hati berbagi kepada teman-teman barunya. Meskipun sikapnya terkadang angkuh dan keras kepala namun Baekhyun termasuk sosok yang baik, ramah dan tidak perhitungan.

"Oh ya Baekhyun, apa kami perlu menjenguk pamanmu_"

"Tidak! Itu tidak perlu lagipula paman sedang berada di luar kota." Ucapnya dengan cepat mencoba mengarang alasan, asalkan teman-temannya tidak lagi datang berkunjung dan merebut perhatian pamannya.

Yah, dia memang tidak perhitungan asalkan itu tidak berkaitan dengan sang paman.

..

.

Chanyeol sedang duduk tenang di perpustakan pribadinya sambil membaca beberapa buku sebelum sesuatu mengusik ketenangannya, sebuah aroma asing yang membuat keningnya berkerut dalam.

Ia melepas kaca mata bacanya, meletakkan kembali bukunya lalu mencoba bangkit. Tubuh tingginya berdiri ditengah ruangan sambil coba menangkap petunjuk yang diberikan, dan seketika mata itu terbuka dan menyala merah, lalu dalam hitungan detik Chanyeol telah menghilang dari dalam ruangan tergantikan oleh seekor kelelawar yang terbang menyelinap melalui jendela ruang perpustakaannya.

Hewan itu terbang melintasi langit yang gelap, tidak seperti kelelawar pada umumnya kecepatan terbang hewan ini lebih cepat namun kepakan sayapnya begitu halus seolah menyatu dengan udara.

Cukup jauh melintasi hutan, hingga akhirnya ia tiba di atas sebuah bukit di dekat hutan pinus yang cukup gelap. Saat hendak mendarat hewan itu perlahan berubah menjadi sosok Chanyeol namun tidak lagi dengan pakaian santainya melainkan jubah vampirnya yang berwarna serba hitam, kecuali pada bagian kerah dan pergelangan tangannya yang berwarna emas.

Kali ini Chanyeol tidak sendiri, dihadapannya berdirilah sosok berjubah hitam yang sedang membelakanginya. Tinggi sosok itu setara dengannya, dengan kedua pundak yang sama tegapnya berdiri sedikit angkuh menatap ke sisi berlawanan.

Chanyeol melangkah mendekat dengan sebuah seringaian kecil hingga langkah itu terhenti beberapa meter dari sosok di depannya.

"Aku pikir kau dan bangsamu telah binasa." Ucap Chanyeol dingin, sebuah sapaan yang terdengar cukup kasar untuk pertemuan pertama setelah berabad-abad lamanya.

"Lama tidak bertemu, tidakkah kau ingin menyapaku dengan sedikit lebih baik, Steigherwards?" sosok itu berbalik dengan sebuah senyuman yang terlihat begitu manis namun tersirat sebuah kebusukan dibaliknya. Chanyeol menatap sosok itu dengan angkuh bahkan satu sudut bibirnya terangkat meremehkan.

"Aku bahkan tidak lupa bagaimana kau berbalik melawanku, Remencse." Sosok itu terkekeh pelan mengingat bagaimana kekejiannya.

"Hahaha…itu hanya masa lalu, aku pikir kau sudah lupa. Ngomong-ngomong namaku saat ini adalah_"

"Aku tidak perlu tahu, yang aku ingin tahu adalah apa yang kau lakukan di daerahku?"

"Oh seharusnya aku ingat bahwa tuan bangsawan kita ini memiliki toritorial yang sangat luas ya, dan oh aku juga baru tahu bahwa kau memiliki nama baru, siapa? Hmm.. Oh, Park Chanyeol. Nama yang bagus, seleramu memang selalu baik." Chanyeol menyeringai pelan.

"Itu bukanlah nama baruku, itu namaku sejak aku dilahirkan hanya saja aku tak pernah membiarkan orang tahu."

"Oh, jadi tuan bangsawan kita ini adalah keturunan asia?" Chanyeol terkekeh lagi merasa konyol dengan sosok di depannya.

"Kau tidak perlu tahu terlalu banyak, sebaiknya kau pergi darisini atau aku akan membawa ini pada persidangan." Sosok itu mengeluarkan ekspresi seolah takut dengan ucapan Chanyeol, meskipun Chanyeol tahu bahwa sosok di depannya sedang bersandiwara.

"Baiklah, aku tidak akan mencampuri urusanmu. Aku datang kemari hanya ingin menyapa teman lama. Setelah cukup lama aku tertidur akhirnya aku memiliki kesempatan untuk melihat dunia lagi, meskipun terlalu banyak yang berubah di bumi ini." Sosok itu lagi-lagi terkekeh dan Chanyeol merasa begitu muak.

"Oh ya aku dengar kau tidak lagi memangsa manusia, lalu apa kau hidup hanya dari darah yang didonorkan para manusia itu? Bukankah itu sebuah penghinaan bagi seorang bangsawan sepertimu? Aku merasa taringku tidak akan berfungsi lagi jika aku harus minum melalui sedotan." Chanyeol masih bergeming dan menatap sosok di depannya dengan waspada.

"Itulah bagaimana kau harus beradaptasi jika ingin tetap bertahan hidup." Lagi sosok itu tertawa, bahkan kini lebih keras dari sebelumnya.

"Baiklah kalau begitu aku pergi, senang bertemu denganmu. Dan titip salamku untuk pelayan setiamu itu dan juga…." Ucapannya terhenti sambil mencoba menebak ekspresi wajah Chanyeol.

"….bocah manusia yang kau rawat itu." Seketika seringaian Chanyeol lenyap untuk beberapa detik sebelum dengan cepat ia kembali terkekeh pelan.

"Baiklah akan aku sampaikan." Sosok itu mengangguk lalu segera mengubah wujudnya menjadi kelelawar dan melesat pergi meninggalkan Chanyeol. Sementara Chanyeol hanya terdiam sejenak sebelum akhirnya berbalik dan kembali mengubah wujudnya menjadi kelelawar lalu terbang ke angkasa, kembali ke kediamannya.

Ia kembali menembus dimensi waktu, sehingga langit tak lagi berwarna gelap karena perbedaan waktu melainkan tetap terang seperti bagaimana Chanyeol meninggalkanya.

Ketika sampai di ruang kerjanya, Chanyeol mengernyit dalam memikirkan percakapan sebelumnya dengan sosok yang ia kenal sangat licik itu. Namanya Scaser, dia adalah salah satu anak buah Chanyeol yang pada akhirnya berkhianat dan salah satu yang berperan atas kematian kekasihnya, untuk itu Chanyeol begitu membenci sosok itu.

Chanyeol tak menyangka sosok itu kembali lagi, setelah sebelumnya tewas terbakar bersama yang lainnya dalam sebuah pembantaian dari orang-orang kiriman Chanyeol. Dan parahnya sosok itu kini telah mengetahui tentang Baekhyun, untuk itu Chanyeol harus menyiapkan rencana baru untuk menjaga Baekhyun dari tangan-tangan orang yang ingin menyakitinya.

"Paman?" suara nyaring itu terdengar dari pintu ruang kerjanya yang terbuka dan Baekhyun muncul dengan seragam sekolahnya yang terlihat begitu manis.

Wajah ceria itu membuatnya sadar bahwa ia memiliki tanggung jawab besar atas bocah laki-laki itu. Baekhyun bukan sekedar pemasok makanan baginya, melainkan harta terindah yang Tuhan kirimkan untuknya. Apapun akan ia lakukan untuk menyelamatkan Baekhyun dari tangan-tangan jahat yang ingin menyakitinya.

...

..

.

TBC

...

..

.

Helo gengs, aku kembaliiii..yeeeeeeaaaahh...

Aku mohon maaf buat keterlambatan ff ini karena aku ada sedikit masalah pribadi yang gak bisa aku uraiin disini hehehe.. tenang ini bukan tentang kesehatanku kok seperti yang kalian pikirin waktu aku buat pengumuman di snapgram beberapa waktu lalu. Astungkara aku masih diberi kesehatan, masalah kemarin itu berhubungan dengan pekerjaan aku yang jadinya heboh karena melibatkan organisasi profesiku melawan perusahaanku wkwkwkw...Yah untungnya semua sudah berlalu, karena itu aku bisa ngelanjutin tunggakanku.

Aku mau ucapin makasi juga buat yang udah baca dan review di chapter 1 hehehe...

Dan mohon maaf buat Uncle Mark ku karena aku harus pake namanya disini, 'Steigherwards'. entah kenapa aku pikir nama itu keren aja wkwkwkw..

Oke akhir kata aku ucapin makasi lagi dan lagi buat yang udah baca chapter dua, masukan dan saran kalian amat sangat mendukung hehehe..

Selalu jaga kesehatan ya dan salam Chanbaek is real...

...

..

.