Chapter 2

Hujan seketika turun , menelan suara kedua anak manusia yang sedang saling menatap satu sama lain.

" Hentikan kak, tolong " Ucap Sakura lirih

Sang adik hanya menatap sendu kearah mata yang selama ini mampu menggoyahkan hati kecilnya , menerawang jauh kedalam onyx milik sang kakak berusaha mendapatkan secerca harapan untuk kembali menjalani kehidupan normal bersama Sasuke .

Namun, tetap saja sakura tidak mampu menahan perasaan tabu yang telah ia miliki selama ini . Diraihnya jemari sang kakak dari pinggang rampingnya , mencoba menautkan meskipun jemarinya sendiri tidak cukup menggenggam sepenuhnya jemari sang kakak .

" Besok kau akan menjadi milik orang lain , tolong jangan buat aku merasa bersalah " Isak Sakura tanpa bisa menahan air mata dipelupuk matanya

" ..."

Tak ada jawaban , pemilik rambut raven tersebut menatap jemari mereka berua yang saling bertautan . Di dalam lubuk hatinya ia sadar akan perbuatannya yang akan menyakiti sang adik ,namun bertunangan dengan gadis lain juga bukan solusi untuk menyingkirkan perasaannya .

"Nii-san " Sakura mergumam pilu,

Hancur , hanya itu yang ada di pikiran Sasuke ..

SASUKE POV

" Besok kau akan menjadi milik orang lain"

Nyyyuuuttt ...

Hanya kalimat simpel yang terucap dari bibir gadis kecilku , namun cukup membuat perasaanku tercubit , sakit !hancur! tatapan itu , isakannya , Tuhan jujur aku tak sanggup mendengarnya . Dia yang sedari kecil aku mencoba untuk bahagiakan , namun akhirnya aku sendiri yang membuat dia terluka . Seandainya perasaan bodoh ini muncul, dan seandainya aku tidak memaksa Sakura pada malam itu , pasti aku dan dirinya tidak akan merasakan hal sesakit ini.

Bibirku terkunci , lidah terasa ngilu hanya untuk sekedar mengucapkan maaf. Maaf Sakura , maafkan aku .

PERTUNANGAN SASUKE

Mansion milik keluargaku sudah ramai akan tamu yang hadir , entah ekpresi seperti apayang harus aku pasang , hari ini terlalu menyakitkan untuk dia . Ya, Sakura sedang di tahan di kamarnya untuk tidak menghadiri pertunanganku , entah apa yang ayah rencanakan sehingga mengurung gadisku , oh tidak maksudku adikku untuk tidak menghadiri pertunaganku . Ibu mengatakan jika ia tak ingin membuat Sakura lebih sakit ,, namun aku yakin itu semua hanya alasan ayah untuk memisahkan kami berdua .

Sebut saja aku bodoh, karena membenci ayahku demi adik perempuanku . Kuedarkan pandanganku keseluruh penjuru ruangan , ah ternyata Tou-san sedang berbincang dengan calon mertua ku . Cihh.. aku mendecih kesal karena pertunangan ini hanyalah sepihak tanpa persetujuanku .

Kulirik jam dipergelangan kiri tanganku , yosh masih ada 1 jam sebelum acara dimulai , kupercepat langkah menuju kamar Sakura , berharap menemukan sosok merah muda yang sangat aku rindukan

" Maaf tuan , anda tidak diperbolehkan masuk : Ucap maid yang sedang berjada dikamar Sakura

" Tidak , hanya saja aku mendapatkan amanah dari chef di dapur untuk memberikan ini kepada kalian " ku sodorkan satu gelas kopi yang tersedia di nampan dengan beberapa camilan di sana

" Oh tuan muda , anda sangat baik " Ucap maid dengan tubuh yang bisa dikatakan gendut

" Sekarang izinkan aku masuk , aku ingin memberikan sesuatu kepada Sakura " Pintaku

" Tapii tuan ?" ucap mai tersebut terbata

" Atau jatah camilanmu akan dipotong selamanya " Ucap ku sarkas

Oh maaf kan aku bibi, aku hanya ingin bertemu dengan adikku . Maaf sudah mengancammu , aku tertawa puas dalam hati saat melihat maid dihadapanku mulai membukakan pintu . Aroma cherry mulai menyeruak kedalam indera penciumanku , sungguh aromanya memabukan .

Namun, tak kudapati Sakura di kamarnya . Pikiranku kacau , berbagai spekulasi bermunculan hingga ada sebuah tepukan kecil di pundakku yang menyadarkan pemikiran burukku.

" Ada apa? " Ucap nya sambil tersenyum , aku menoleh menuju sumber suara dan ku temukan Sakura dengan ekspresi yang kebingungan . Ku kembangkan senyumku kearahnya, kuusap pelan pucuk kepala seperti kucing kesayanganku .

" Tunggu? Mana gaunmu ? Tanpa make up sedikitpun ? " Aku mendekatkan kepalaku mengamatinya dengan seksama

" Maaf , kau pasti sudah paham larangan ayah " langkah kecilnya berlalu meninggalkanku yang masih dengan posisi yang sama , sepertinya aku diabaikan

Punggungnya berlalu ,menuju kursi kayu di dekat balkon yang di sana sudah tersedia beberapa snack dan laptop yang tengah menampilkan gambar senyum cerianya .

" Kau marah ? " Ucapku spontan

Tanpa beralih dari layar laptop dan aktivitas mengetiknya adikku menjawab pertanyaan ku singkat " Tidak "

" Kau pikir kakakmu ini orang lain yang tidak paham akan kebiasaanmu itu , kau terlihat jelas Sakura " ucapanku sedikit menyindir , seolah hanya aku yang paham akan semua kehidupannya

" Pergilah , Hinata-san pasti sudah menunggu "

Langkah lebarku mendekat menghampirinya , mendengar nama perempuan itu di sebut cukup membuatku kesal . Ck, mengapa harus seperti ini . Tepat di hadapannya aku berlutut menyamai posisi wajahnya sedangkan sakura tetap pada posisinya, duduk dengan laptop dipangkuannya .

" Kenapa kau tidak mencoba mencegah pertunganku ? ' tanyaku serius

" aku tak sebodoh itu " ucap sakura datar

" Ck, tatap lawanmu saat bicara saku ! sudah berapa kali aku bilang ? "

oke sekarang aku membentaknya , dan raut muka itu tetaplah datar tanpa mampu menatap mataku . Dan kondisi seperti inilah yang membuat aku sedikit kesal dengan makhluk seperti sakura. Sayup-sayup aku mendengar helaan nafas panjang dari gadis di depanku , sepertinya dia kesal .

" Apa maumu ? " ucapnya dingin kali ini menatap tajam ke arahku

" Kau ! sadarlah Sakura aku tidak ingin bersama perempuan itu , tolong bantu aku untuk pergi dari sini " aku rasa ini adalah kalimat terfrustasi ku

" Kak, tolong jangan bodoh ! apa jadinya jika kita melarikan diri ! Apa kau tidak mengenal ayah ? emosi sakura meluap. Intonasi suara mulai meninggi , tangannya menggguncang bahui kokoh milikku, dan mata emeraldnya menatap sendu kearah mataku.

"akan kemana kita pergi dan akan dimana kita tinggal , bagaimana dengan kehidupan kita , ayah bisa melakukan apa saja termasuk mencabut jabatanmu Nii-chan ." Tubuhnya beringsu , kedua tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya , isak tangis mulai terdengar . Ucapannya berlanjut

" Dan aku ? aku yakin ayah tidak akan memaafkan ku , kau tahu ayah sangat menyayangimu dan dalam hal ini akulah yang selalu di salahkan oleh ayah .Cukup kak ! aku lelah dituduh ayah telah menggoda mu , dan yang menjadi pertanyaanku sekarang apakah aku ini benar putrinya ?

Terdapat nada keputusasaan di sana , air mata terus mengalir membasahi pipi putihnya , tanganku bergetar menghapus air mata miliknya. Sungguh ini bukan maksudku membuat Sakura menangis lagi , sungguh saat ini aku merasa egois , aku belum bisa memahami ketakutan sakura .

Kurengkuh tubuh ringkihnya kepelukanku, memberikan kenyamanan di sana . Dan untuk kesekian kalinya hubungan ini tidak ada penyelesaiannya .

" karena hubungan kita memang selayaknya tidak pernah ada " Ucapnya terdengar frustasi

" Saku. Akk-" gumamku

" Sasu-chan , ayo semuanya sudah menunggu mu " Suara khas seorang Uchiha Mikoto terdengar , terlihat di sampingnya berdiri seorang wanita cantik dengan rambut indigo yang mengenakan gaun berwarna gold lengkap dengan mahkota kecil menambahkan kesan dewasa.

" Pergilah " Senyum lebarnya ia kembangkan dengan penuh makna, entahlah apa makna dari senyumannya itu

" Kau tidak ikut sayang ? " tanya Kaa-san kepada Sakura

" Tidak Kaa-san " senyumannya memudar , dan kepalanya kembali tertunduk

" Ayolah, ayahmu pasti mengizinkan " Bujuk Ibu

"Tidak ! kau tetap di sini " suara baritone yang sering terngiang ditelingaku tiba" menerobos pendengaranku , ya dia Ayahku.

to be continue

Origialitas cerita : Brenanata

Semua tokoh d iatas hanyalah milik bapak Mashashi