Chapter 5
Sebuah mobil mewah dengan warna biru metalik terlihat terparkir di halaman apartemen sederhana, seorang tuan muda yang di besarkan dari keluarga terpandang membuka pintu mobil dan melihat sekeliling apartemen dihadapannya. Apartemen itu sederhana namun sangat nyaman, tidak mewah namun udara di sini sangat nyaman.
Laki-laki dengan jas hitam itu mulai melangkahkan kaki menuju kantor penjagaan. Hanya menunjukan kartu nama dengan hormat semua security membungkukkan badannya mempersilakan sang tuan muda masuk.
"Terimakasih." Ucap lelaki itu
Dipojok kiri ia menemukan lift yang nantinya akan membawanya ke kamar 051, selama di dalam lift laki-laki itu hanya bergumam, berbicara sendiri tanpa ada suara menyiapkan suatu kalimat untuk ia ucapkan nanti.
Ia menekan tombol bel yang ada di dekat pintu kamar 051, tempampanglah seorang gadis dengan celemek dan bando pink yang sedang berkutat dengan apartemen kecilnya.
"kakak." Ucapnya kaget
"Apa kabar?." lelaki itu tersenyum
Belum dipersilakan untuk masuk namun dia sudah menerobos masuk dan duduk di sofa warna warni milik gadis itu. Pemilik apartemen hanya menghela nafasnya kasar, tidak menyangka jika ia akan bertemu dengan kakak tertuanya, Itachi Uchiha.
Sakura membereskan celemek dan menyudahi kegiatan bersih-bersihnya, ia menatap kakaknya sekilas sebelum memulai percakapan,
"Ada perlu apa? Tidak biasanya kakak ke sini mendadak. " ucap sakura
"Hanya rindu adikku," pungkas Itachi
''Silakan di minum.'' Sakura menyodorkan secangkir kopi panas lengkap dengan waffle di sampingnya
''Bagaimana perasaanmu ?''
''Seperti yang kau lihat, aku sehat dan berangkat kuliah setiap hari'' sakura berucap asal
''Ku dengar kau akan ke Australia?''
"Jika aku memenuhi syarat"
"Selamat, aku turut senang dan berusahalah.'' Itachi mengusap kepala adiknya
"Rambutmu?" Itachi menggantungkan kalimatnya
"Ah, ini hanya wig kak, aku pikir sayang sekali untuk kehilangan rambut merah mudaku, aku hanya memakai kacamata besar ini dan menguncir dua rambutku ketika dikampus." Pungkas sakura
"Kau sedang menyamar atau sedang apa ?'' Itachi berdecih
Sakura yang mendengar kalimat dari sang kakak hanya terdiam, ia bisa merasakan jika kakaknya sebenarnya sangat perduli dengan keadaannya yang sekarang ini. Alih-alih mencegah sang ayah, membantah sang ayah saja ia sangat takut, bahkan istri yang sekarang bersamanya adalah hasil pernikahan karena dijodohkan untung saja Itachi dan istirinya bisa saling mencintai.
''Aku harus membayar semua dosaku bukan ?'' Sakura menatap langit-langit apartemennya
''Benar, kau sudah berdosa gadis kecil. Ha ha ha'' Itachi tertawa, dan sakura ikut menertawakan ucapan sang kakak
"Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri, aku merasa bersalah dengan ayah dan ibu, mencintai kakak sendiri merupakan salah satu kebodohan dan jika sekarang ayah melakukan ini untukku ya mau tidak mau aku harus melakukannya, termasuk menyembunyikan marga dan mengubah penampilanku." Jelas sakura final
"maafkan aku Saku," jeda Itachi
"Tak apa, em bagaimana kabarnya?" sakura membuka topik baru
"Dia terus mencarimu, sepertinya dia cinta mati kepadamu', ha ha ha'' Itachi menyesap kopi pahitnya
"Begitukan? Pernikahannya?"
"4 bulan lagi, kau dijinkan untuk datang?" tanya sang kakak
"tidak." sakura tertawa
.
.
.
"Bagaimana filmnya?." Ucap itachi
"Sangat mengesankan, aku harap Alita akan bahagia nantinya."
Gadis berambut merah apel itu sudah selesai menonton film dengan sang kakak, setelah percakapan berat dia apartemennya beberapa jam yang lalu mereka memutuskan untuk pergi menonton film yang sedang booming akhir-akhir ini.
"Tuan Itachi" ucap seorang sekertaris itach yang sedang berjalan menghampirinya
"Ada apa Sasori, berhenti memanggilku tuan muda !'' ucap itachi
''Ah, sekarang tidak sedang di kantor, maaf lupa brader, itu siapa?" ucap Sasori menunjuk sakura yang sedang menggandeng lengan Itachi
''Adiknya Sara,'' pungkas itachi
''Oh, sakura apa kabar ? lama sekali tidak bertemu adik kecil, dia untukku ya'' Sasori menggoda Itachi
Sedangkan yang sedang digoda sebenarnya berada dihadapannya,menertawakan Sasori dalam hati dan ingat jika ia terlalu pintar untuk menutupi wajah -sakuranya-, padahal sakura hanya mengenakan kacamata dan menguncir dua rambutnya, menggunakan softlense dan make up yang lebih tebal dibanding biasanya.
''Tidak, sayang sekali jika adik perempuanku satu-satunya harus mendapatkan kau.''Itachi terkekeh
"Ah, pelit sekali, oh ya nona siapa namamu?" Sasori menjabat tangan sakura sepihak
"Em, nama ? Etto, aku …" Sakura gelagapan
"Kayla." Sanggah Itachi
Sakura membelalakan matanya, Kayla? Darimana kakaknya mendapatkan nama seperti itu?
Setelah berbincang cukup lama, Sakura dan Itachi kembali ke apartemen milik Sakura. Rencananya hari ini sangat sukses mengingat ia memang berniat untuk menyenangkan adik perempuannya. Tas penuh belanjaan sang adik senantiasa di bawa oleh anak tertua dari keluarga Uchiha.
Tak lama setelah itu, Itachi berpamitan untuk pulang karena Sara memintanya untuk ditemani belanja kebutuhan bulanan. Maklum mereka sudah menikah dan akan segara dikaruniai seorang anak, kehidupan Itachi akan disibukan mengurus anak, istri dan adiknya tentunya setelah anaknya lahir di dunia.
Tanpa Sakura sadari, ada sebuah amplop merah yang berada di meja apartemen miliknya, amplop itu terabaikan setelah sekian jam dan baru dibuka sakura pada keesokan harinya ketika ia bersiap untuk kuliah. Ini hari senin dan Sakura tidak menyukai hari ini, pelajaran begitu membosankan tiadak ada praktik hanya teori teori saja. Jurusan kedokteran memang cukup membuat sakura frustasi, jika itu praktik Sakura akan senang menerima, jika itu teori sakura akan tidur. Berterimakasihlah kepada keluarga Uchiha sejak kecil ia sudah mendapat bimbingan belajar hingga ia sekarang tumbuh menjadi anak yang cerdas.
"Berkas apa ini?" Sakura membuka berkas itu perlahan
Sebuah tulisan yang tidak Sakura sangka tertulis di dalam amplop merah itu, sebuah kalimat ancaman untuk menjauhi sang paman dan melupakan niatnya ke Australia. Ia melipat kembali surat itu dan membuangnya ke dalam tong sampah, tentu saja ia tidak tinggal diam, gadis itu kemudian menghubungi Kakashi menceritakan segalanya tentang isi surat kaleng itu.
"Apakah ada yang tidak menyukaimu di kelas?" ucap Kakashi
"Entahlah paman, mereka tidak ada yang tau bahwa aku uchiha Sakura, untuk apa mereka membenciku ? " sakura menghela nafas pelan
"Kau itu jenius, pasti banyak yang tidak menyukaimu,"Jelas Kakashi
"Ngomong-omong bagaimana ujianku ? lolos untuk ke Australis?" Sakura mengganti topik
"Lolos, semuanya sudah paman urus, namun ada satu masalah"
''Apa ?
''Pihak universitas menginginkan identitas lengkapmu, yang artinya harus ada ayah ibu dan segala macam tentangmu"
"Apakah aku terancam batal ke sana?." Sakura mulai frustasi
"Akan aku usahakan Princess,ngomong omong mau jadi anak paman?'' tawak Kakashi
Sakura membulatkan matanya tidak percaya, bagaimana bisa pamannya menawarkan sesuatu hal yang sangat tidak lucu tersebut. Kakashi yang antusias akan jawaban Sakura hanya terkekeh geli melihat sakura yang sedang bingung.
"Lebih baik paman diskusikan saja dengan ayah" ucapnya
"Sepertinya tuan Fugaku akan setuju"
"Diskusikan dulu, jangan mengambil langkah sendiri aku tidak mau paman salah langkah dan dihujat ayah, jika paman meminta saran ayah dan ayah yang memutuskan meskipun itu hal yang salah, maka paman tidak akan disalahkan karena itu keputusan ayah" jelas Sakura
"Menghawatirkanku?" Kakashi tersenyum
"Berisik paman dasar" Sakura masih dalam mode Tsunderenya
Setelah perdebatan Panjang akhirnya sakura keluar dari ruang rektor, dan kembali ke kelasnya. Hari ini pelajaran guru Kurenai, namun Sakura tidak memiliki semangat untuk itu. Pikirannya kembali terlempar kepada Sasuke, semenjak ia mengganti nomor dan suma ID sosial medianya sama sekali gadis itu tidak mengontak sang kakak.
Rindu, satu kata itu yang sekarang tepat menggambarkan kondisi Sakura saat ini. Ia begitu merindukan sang Kakak, ia mencoba untuk menghapus perasaan itu meskipun hati kecilnya menolak untuk melupakan.
Yang ia harapkan sekarang adalah ketenangan, hatinya mulai gundah memikirkan sang kakak, urusannya ke Australia dan siapa pengirim surat kaleng itu. Sakura mengangkat tangannya,
''Miss bolehkah saya ijin, saya sedang tidak enak badan" Sakura memberanikan diri
Semua mahasiswa menoleh kearah sumber suaras, benar aja sakura sekarang dalam keadaan tidak baik-baik saja, meskipun make up yang digunakan sudah ON namun tetap saja wajah orang sakit itu gampang dibedakan.
"Badan kamu panas, silakan pulang saja nona'' Kurenai memberikan kelonggaran kepada sakura
"Terimakasih''
Cukup lega rasanya jika dosen yang tergolong galak tersebut memberika ijin untuk pulang, entah mengapa tiba-tiba menjadi sangat pusing, taxi yang baru saja iya tumpangi mengantarkan dengan selamat sampai apartemen, Sakura tidak menghiraukan sapaan dari security di depan yang menyapanya, ia fokus terhadap rasa dingin yang kini menyelimuti tubuhnya.
Tanpa basa basi ia segera meminum paracetamol untuk meredakan panas tubuhnya, ia memang demam suhu tubuhnya panas namu yang dirasakan sakura adalah rasa dingin.
SASUKE POV
Akhirnya rapatku selesai dengan baik, perusahaan Sabaku corp mau menandatangi kontrak untuk bekerjasama dengan Uchiha corp. Namun, entah mengapa perasaanku sangat tidak nyaman, tidak tenang rasanya. Aku melirik kertas yang lalu seminggu Hinata berikan kepadaku, membaca sebuah alamat yang tidak jauh dari kota ini, kemudian aku mengambil kunci mobil dan melesat menuju alamat tersebut.
"apartemen yang sederhana namun nyaman"
Aku mengamati situasi sekitarnya, menelisik satu persatu kondisi dilingkungan sakura tinggal. aku mendecih pelan saat menyadari jika apartemen yang ditinggali sakura merupakan salah satu asset usaha dari keluarga uchiha.
"Masih banyak apartemen yang ayah punya, kenapa menempatkan dia di apartemen paling sederhana"
Sangat tidak mungkin jika aku masuk kedalam apartemen ini dengan pakaian seperti ini, pasti penjaga di depan akan memblokir akses masukku ke sana. Lantas aku menari cara agar bisa masuk ke sana secara normal tanpa melukai satpam di sana.
"Untuk hari ini aku mempelajari situasinya terlebih dahulu, untuk selanjutnya aku akan menemuimu Sakura. "
Aku kembali ke rumah lebih awal, dan ku temukan kedua orang tuaku yang sudah berada di rumah, lengkap dengan Itachi dan Sara di sana. Ibu tersenyum menyambutku, ayah masih setia dengan remote TV ditangannya, sedangkan pasangan suami istir itu sedang asyik memilih pakaian untuk calon bayinya nanti.
''Yo, adikku sudah pulang'' Ucap kakaku itahi
''Sasu, bagaimana rapatnya ? lancar ?'' ucap ibuku
''Jangan terlalu malas, kau harus bisa melebihi ayah dan kakakmu'' dan ya itu suara ayahku
Sedangkan Nee-san hanya tersenyum lembut ke arahku, aku membatin bagaimana mereka berdua bisa bahagia dan saling jatuh cinta melalui perjodohan. Berbicara soal perjodohan, aku teringat akan pesan Hinata untuk berbicara kepada ayah.
"Ayah, aku ingin bicara" ucap Sasuke final
"Sakura? Jangan membahasnya"
Belum sempat aku membuka pembicaraan, ayahku sudah menuduhku membicarakan sakura dan entah mengapa aku langsung tersulut emosi dan mengurungkan niatku untuk berbicara kepada ayah.
"Kau egois" ucapku sambil berlalu meninggalkan ruang keluarga.
Kurebahkan tubuhku diatas Kasur dengan ukuran queensize, ini merupakan kamar sakura hanya berbaring di atas kasurnya aku sudah mampu mencium aroma khas miliknya. Kamar yang tidak pernah diubah penataan semenjak dia pergi, dan masih dengan parfum ruangan yang sama yaitu aroma strawberry. Aku sengaja meminta maid untuk tidak mengganti parfum ruanga ini.
Perlahan mataku menjadi berat, sepertinya aku mengantuk sekali. Mataku terpejam dan aku terbawa ke dunia mimpi, berharap bertemu dengan adikku namun malah kejadiannya sebaliknya ingatan lama kembali berputar dalam mimpiku.
4 tahun yang lalu
Aku pada saat itu masih berumur 20 tahun sedangkan sakura 16 tahun, awal mula dari kekhilafan kami berdua dimulai. Perasaanku pada sakura sudah tumbuh di aku berumur 18tahun, pada saat itu sakura masih duduk dibangku sekolah menengah pertama. Selama 2 tahun aku memendam perasaanku sendiri, tidak memberitahu siapaun dan mencoba untuk melupakan bahkan membuang perasaan tabu ini.
Semenjak aku melihat sakura tumbuh menjadi lebih dewasa entah mengapa aku selalu merasakan debaran aneh yang muncul setiap aku melakukan skinship dengan sakura. Wajar saja jika seorang kakak beradik melakukan skinship, namun sepertinya aku mulai tidak normal.
Saat sakura terlelap dalam mmpinya, aku diam diam pergi ke kamarnya dan memperhatikan gadis itu, begitu cantik dan sangat menawan batinku kala itu. Hingga puncak perasaanku meledak ketika aku melihat sakura Bersama dengan seorang teman laki-lakinya, anak laki-laki mencoba untuk mencium sakura dihalaman belakang rumahku.
"Apa yang kau lakukan kepada adikku brengsek" ucapku lantang kala itu
"Ma- ma- maaf.''laki-laki itu lari dan meninggalkan sakura yang masih mematung ketakutan
"APA YANG KAU LAKUKAN DENGANNYA ?.'' aku kehilangan kendali dan membentaknya begitu keras
Sakura semakin takut melihat aku yang begitu marah, pelupuk matanya sudah hampir menangis kemudian aku membawanya ke rumah secara paksa.
"Nii-chan, aku tidak melakukan apa apa dengan Teika, lepaskan aku" ucapnya pelan
"Sasuke-NIi, sakit lepaskan" sakura tetap merintih
Aku tidak perduli, yang aku pikirkan sekarang adalah bagaimana membuat adikku jera dengan kelakuannya. Bisa dibilang aku super protektif terhadapnya, seperti, jangan main dengan laki-laki manapun, jangan pacaran, sekolah dengan baik, jangan pulang sendirian, tidak ada kencan dengan laki-laki selain keluarga, dan harus mendapatkan maksimal peringkat 5.
Aturan itu aku yang menciptakan, hal itu semata-mata untuk menyibukan sakura dengan kegiatan belajarnya untuk meraih nilai bagus dan supaya ia tidak berani bermain dengan laki-laki. Cukup egois memang, biar saja toh sakura selama ini belum pernah protes dan selalu menurut kepadaku, namun hari ini berbeda ia sudah membuatku marah.
"Sekarang jawab, apa yang kau kakukan dengannya" ucapnya
"Tidak, Nii-sania hanya ingin membantuku mengambil semut dibelakang telingaku" ucapnya lantang penuh keberanian
Heeehh, ternyata adikku pemberani juga setelah hampir menangis.
"Alasan, kau pikir aku percaya?" ucapku tak mau kalah
"Aku berbicara jujur, aku tidak menipumu'' ucapnya
Aku masih memojokan sakura di dinding kamarku, mengunci pergerakannya, tubuh kami sangat dekat hingga sakura memalingkan wajahnya kesamping, kedua tanganku menahan tangan sakura tidak memberikan ceah untuk dia kabur dari kungkunganku.
Aku mencari kebenaran dari mimik wajahnya, dan sepertinya ia tidak berbohong, aku sengaja memancing emosinya lagi,karena ketika sakura marah akan menambah kecantikannya,
"Jangan melakukan skinship dengan pria lain, bahkan sampai berani berciuman" aku mengintimidasinya
"AKU MENGERTI, SEKARANG LEPASKAN AKU" ucapnya lantang
''Kiss'' perintahku
Sakura mendekatkan bibirnya dan mencium pipiku,
" .aa bukan disitu,"
Aku mencondongkan kepalaku menyamakan dengan wajah Sakura, ia begitu bingung dan salah tingkah ketika aku menatapnya lekat.
"Eh, sasu—"
CUP ….
Dengan tanpa berdosa aku berhasil mengecup bibir adikku, sedikit menarik tengkuk milik sakura untuk memperdalam ciuman kami, tidak ada penolakan dan pemberontakan dari gadis dalam dekapanku, sepeti mendapatkan lampu hijau aku sedikit melumat bibir sakura dan memberika gigitan kecil.
Sakura kehilangan nafas, aku melepaskan ciuman kami dan membiarkan sakura mendapatkan oksigennya. Dia menatapku tak percaya, tubuhnya meremang dan lemas dengan sigap aku menangkapnya dan mendudukan di sofa kamarku.
"Jangan mengecewakan kakak lagi, atau hukumanmu lebih dari itu" aku mengecup keningnaya pelan
"Kenapa?" Ucapnya
"Pokoknya kakak tidak suka melihat kamu Bersama laki-laki, aku khwatir jika kau dipermainkan mereka sakura, kakak takut kamu sakit hati." Terangku kepadanya kala itu
Setelah kejadian ciuman sebagai hukuman,
Entah siapa yang memulai, kami semakin sering melakukannya, bahkan ciuman dibibir sudah menjadi rutinitas kami, aku meyakinkannya jika ciuman antar saudara itu sah-sah saja dan wajar. Padahal pada faktanya itu merupakan sebuah kesalahan. Yak karena Sakura selalu menurutiku sepertinya ia tidak keberatan.
Hingga pada akhirnya, aku mendapatkan pengakuan dari Sakura pada malam hari Ulangtahunya yang ke 16 tahun.
"Nii-san" ucapnya
"Ya?"
"Kisseu" ucapnya
Permintaan seperti ini bukan menjadi hal yang aneh bagi kami berdua, sepertinya racun incest ku sudah menular ke Sakura. Tanpa aba aba kami berciuman hingga 10menit lamanya, saling memberikan kenyaman dan menyalurkan perasaan masing-masing.
"Kenapa kau selalu suka menciumku" ucapnya lucu
"Kau manis saying" ucapku
"di sini rasanya mau meledak" ucapnya sambil menunjuk arah jantungnya berada
"Saku" ucapku pelan
"iya?"
"Kakak cinta kamu, kamu mau pacaran sama kakak?"
"Apa boleh? Kita kan saudara"
"Aku tidak perduli, aku mencintaimu, dadaku sesak setiap melihatmu dengan laki-laki lain, dan jantungku seperti akan meledak sama sepertimu"
"Sepertinya aku menyukai kakak juga"
Sakura memelukku, menyembunyikan wajah maunya diceruk leher milikku, entah ini dinamakan sebuah pengakuan atau penerimaan yang jelas aku sangat bahagia.
Hingga pada akhirnya suatu ketika, kami ketahuan … pada saat itu….. dan detik itu….. kami dipisahkan
" Sakuuraa .." suara baritone milik anak kedua fugaku dan Mikoto mulai menggema diruang tengah , pria itu nampak sedang kebingungan mencari keberadaan sang adik yang sedari tadi melarikan diri dari hadapannya .
" Hn, Nii-chan janji tidak akan menjahilimu lagi " ucap Sasuke frustasi
Begitulah Sasuke, selalu memberikan Sakura hukuman jika sang adik tercintanya membangkang atau melanggar peraturan yang telah mereka sepakati. Berputar-putar dari ruang keluarga, halaman dan dapur bahkan kamar Sakura, Sasuke belum menemukan keberadaan sang adik.
Sudah 20 menit ia mecari keberadaan sang adik, ia menggeram frustasi menyisir rambut raven miliknya ke belakang. Sasuke hanya ingin memberikan sedikit hukuman untuk sang adik karena sudah berani pulang dengan teman laki-laki di kampusnya, bukannya apa – apa hanya saja Sasuke merasa sedikit kesal.
" Kau kenapa Nak?" Suara lembut Uchiha Mikoto menyapa tilinga Sasuke
" Tak apa Kaa-san " Ucap Sasuke singkat
Namun sang ibu tidak mudah percaya begitu saja, karena mimik wajah Sasuke hanya terlihat seperti ini jika menyangkut dengan adiknya, Ya Uchiha Sakura.
" Kalian itu sudah dewasa, kau sudah 24 tahun dan Sakura sudah 21 tahun bisakah kalian bersikap lebih dewasa sedikit, setiap hari kaa-san heran melihat kalian yang masih bermain hide and seek setiap hari " Wanita paruh baya menasehati putera keduanya
" Hn , Kaa-san " Sasuke berlalu meninggalkan sang ibu , Mikoto hanya menghela nafas kenapa putranya yang kedua sangat mirip denga suamiya " Irit kalimat" . Dan Mikoto paham jika Sasuke hanya akan berbicara panjang lebar jika bersama adiknya.
Satu hal yang membuat Mikoto mengganjal adalah kedekatan diantara keduanya, hingga akhirnya kekhawatiran Mikoto benar adanya . Ia medapati mereka berdua sedang berciuman di dalam kamar Sasuke setelah Sasuke bingung mencari Sakura.
" Akhirnya aku menemukanmu " Sasuke tidak menyangka jika adiknya akan bersembunyi di ruang piala miliknya, dan gadis itu tertidur dalam posisi meringkuk . Sasuke menghembuskan nafasnya kasar
" Sebegitu menakutkannkah aku sehingga kau bersembunyi hingga ketiduran " Sasuke mengakat tubuh ringkih adiknya ,membawanya ke atas kasur king size miliknya , ia suka mengamati adiknya yang sedang tertidur dan ia tak akan melewatkan moment berharga ini .
Lengan kokohnya perlahan bergerak, jemarinya menyentuh lembut pipi chubby milik Sakura , senyuman langka milik Sasuke berkembang di sana . Ya, hanya pada adiknya dia bisa bersikap seperti orang gila , gila karena telah mencintai adiknya
" Onii-chan " Sakura sedikit terlonjak mendapati siapa yang ada di sampingnya
" Tampaknya aku menganggu tidur nyenyakmu princess " ucap Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya
" Nii-san, maafkan aku " Sakura sedikit bergetar menatap tatapan kakaknya yang seketika berubah menjadi mengintimidasi
" Hukumanmu sayang " ucap Sasuke tepat di telinga Sakura, dan itu membuat sang adik sedikit bergidik ngeri mendapati kakaknya dengan sifatnya yang sekarang .
Sasuke dapat berubah menjadi mengerikan jika mereka sedang berdua bersama sang adik, ujung bibirnya terangkat keatas seolah telah menyiapkan hukuman untuk Sakura. " Mati kau, kakakmu sangat marah Sakura " gumamnya dalam hati
Dan .. CUPP
Bibir yang lebih tua mulai mencapai bibir milik yang lebih muda, menyalurkan sedikit kekesalan yang telah ia dapatkan sekitar 2 jam yang lalu. Sakura sedikit memberontak karena kakaknya terlalu kasar saat menciumnya, namun nihil Sasuke semakin gencar menikmati bibir ranum sang adik . Hingga pada akhirnya sang ibu mengetahui apa yang tlah mereka perbuat .
" SASUKE ..SAKURA .. APA YANG KALIAN LAKUKAN?" Ucap Mikoto berteriak
" Kaa-san ? " Ucap mereka kompak, Sakura sontak menundukan kepalanya
" Sasuke, jelaskan semua ini " Mikoto tidak bisa menahan emosinya
Perempuan yang melahirkan kedua insan yang tengah bercumbu dihadapannya terkulai lemas, tubuhnya ambruk menyentuh lantai dingin yang sekarang tidak terasa dingin karena emosi yang tangah meluap. Sasuke mendekati sang ibu, mencoba membantu sang ibu berdiri , sedangkan Sakura mematung di tempat, menatap kosong lantai berwarna navy milik sang kakak.
" Kaa-san , aku bisa.."
" Hentikan, apa yang kau lakukan SASUKE ! " Sang ibu mulai menangis
" Ada apa ini ? " Sang kepala keluarga menyusul mendengar teriakan sang istri.
Sakura yang mendengar teriaan sang ayah memunduk semakin dalam, air matanya jatuh , ia terlalu takut untuk berhadpan dengan sang ayah , berbeda dengan Sasuke , kakaknya malah berdiri menghadap sang ayah .
" Maaf ayah " ucap Sasuke sopan
" apa maksudnya? " fugaku kebingungan menatap ketiga orang yang sedang berkutat dengan pemikirannya sendiri-sendiri
" Mereka! mereka berciuman!" Mikoto bergetar
" APA?" Fugaku menatap geram kearah sang putra yang ia banggakan selama ini
" Ayah aku bisa jel— PLAAKKK " Sebuah tampara telak mendarat di pipi putih milik Sasuke, Sakura yang melihat adega di depannya hanya menatap sendu sang kakak. Ini semua salahnya, jika saja Sakura mengabaikan perasaan sang kakak mungkin hal ini tidak akan terjadi, namun jatuh cinta tidak ada yang salah, hanya saja kepada siapa kita jatuh cinta itulah yang sekarang menjadi masalah.
Pukulan fugaku siap untuk mengenai pipi merahnya untuk kedua kalinya, hingga tangan Sakura berhasil menyingkirkan tangan kekar sang ayah.
" Ayah jangann " Ucap Sakura menatap sang ayah penuh dengan kesedihan,
SAKURAAA…
Aku terbangun dari mimpi buruk itu, mengusap wajahku gusar ….
Sakura apa kau baik baik saja ..
TO BE CONTINUE
Hujat saya..hujat ajaa..hampir 2 tahun menghilang
Maafkan karena sempat menunda lama cerita ini.
Terimakasih buat yang sudah membaca kembali, jika lupa jalan ceritanya bisa di baca ulang dari chapter 1 biar makin makin bapernya..
Kritik dan saran tetep ditunggu
Jangan lupa VOTE dan FOLLOW cerita ini
-BRENDA-
