CHAPTER 6
H-2 AUSTRALIA
Seorang gadis dengan surai pink sebahu terlihat sedang susah payah mengatur wig yang tengah ia kenakan, ia berniat untuk menggerai rambutnya hari ini, tanpa kuncir dua seperti biasa ia mencoba mengubah penampilannya, jangan lupakan softlens yang sudah ia kenakan membuat matanya menjadi lebih besar seperti boneka. Berterimakasihlah kepada make up yang mampu mengubah seorang Sakura Uchiha menjadi Sakura Hatake.
Setelah melalui perdebatan dan pertimbangan panjang, Fugaku menerima tawaran dari Kakakshi untuk memberikan marga Hatake kepada Sakura. Sakura yang awalnya lega sekaligus sedikit kecewa mengapa ayahnya rela memberikan marga lain pada nama putrinya. Orang lain yang tidak memahami situasi dan kondisi berfikir jika Sakura Uchiha sedang pergi ke luar negeri untuk belajar di sana selama beberapa tahun, tapi faktanya sakura masih di sini masih dalam satu provinsi dengan sang keluarganya.
"Jadi mulai sekarang aku adalah anak paman Kakashi?" ucapnya pada pantulan cermin
"Antara ayah yang masih memikirkan kuliahku dan prestasiku atau mungkin ayah memang sudah tidak menginginkanku untuk menjadi puterinya." Gadis itu tiba tiba saja menjadi tidak bersemangat
Setelah berdialog dengan cermin akhirnya Sakura mengunjungi sebuah Café di dekar apartemennya, ia sudah memiliki janji dengan seseorang untuk bertemu sebelum ia bertandang ke negara seberang.
Meja dengan nomor 10 sudah terlihat ada seseorang yang tengah menunggu, orang tersebut tersenyum simpul ketika bertemu dengan Sakura.
"Sayang, apa kabarmu? Maafkan aku yang hanya jarang mengunjungimu, kau begitu kurus" Sesal wanita paruh baya tersebut
"Tidak apa-apa ibu, aku sudah besar dan aku baik-baik saja, lihat pipiku semakin berisi." Sakura menghibur sang ibu
"Bagaimana? Australia sudah menunggumu!" seru sang ibu antusias
"Iya bu, aku sangat senang. Meskipun hanya beberapa bulan di sana aku merasa sangat bersyukur."
"Anakku memang hebat." Ucapnya sambal mengelus pucuk kepala sakura
"Ayah bagaimana?" Sakura mengalihkan topik
"Ayahmu sehat, kau tau aku sudah memintanya untuk membuatmu kembali ke rumah dan menyudahi drama tidak masuk akal ini, enak saja anak perempuanku menyandang marga lain." Mikoto terlihat kesal mengingat perbuatan suaminya
"Sudahlah, ini hukumanku bu, ibu tidak perlu khawatir." Ucapnya menenangkan
"Tapi bukankah itu jahat, kau seolah di kirim keluar negeri padahal kau masih di sini dengan identitas lain, bahkan penampilanmu berubah." Mikoto mulai terisak
"Aku baik, ibu jangan menangis, aku tidak bias melihat ibu menangis." Pungkas Sakura
"Ibu berjanji akan membuatmu bahagian nanti, percayalah"
"ibu sudah membahagiakanku"
Mereka lantas berpelukan, hari itu rencana ingin meminta restu kepasa kedua orang tuanya namun yang datang hanyalah Mikoto, dan berakhir dengan membuat mereka mengibahkan Fugaku.
Bagaimana bisa seorang ayah hanya memberatkan kasih sayangnya kepada satu anak saja, Sasuke dianggap memiliki potensi besar, bahkan Itachi hanya dipercayai untuk mengurus kantor cabang. Padahal jika dilihat lebih lanjut, Itachi adalah anak pertama dan seharusnya ia yang menjalankan perusahaan utama, namun Itachi tidak keberatan karena ia menyadari jika Sasuke lebih mampu melaksanakan semuanya.
.
.
Fugaku sedang berada dalam kondisi penuh amarah, hari ini sasuke datang meminta pernikahannya dengan Hinata untuk dibatalkan. Ditambah lagi Hinata datang bersama orang tuanya yang juga memohon pembatalan pernikahannya dibatalkan.
Hal ini cukup membuat Fugaku menjadi naik darah dan sempat memukul sudut bibir Sasuke, sang empu yang terkena pukulan hanya tersenyum kecut memaklumi kebiasaan sang ayah yang memah suka memukul jika anaknya mempunyai salah.
Beberapa saat yang lalu, Sasuke menemui orang tua Hinata membicarakan pernikahan mereka.
"Tanpa mengurangi rasa hormat, saya memohon kepada Paman untuk mebatalkan pernikahan kami." Sasuke membungkukan badannya, kemudian kembali duduk
"Papa, aku mohon aku mencintai Naruto." Hinata memohon dengan mantap
"Bagaimana bias kalian melakukan ini terhadap kami!" Hiashi marah menatap kedua anak muda dihadapannya tidak percaya
"Apa yang sedang kau rencanakan Sasuke?" ucap Hiashi menuduh Sasuke
"Aku yang menginginkan ini, dan Sasuke juga mencintai wanita lain." Ucap Hinata
"Paman jangan khawatir, untuk bantuan perusahaan dan kerjasama aku tidak akan membatalkannya asal paman mampu berkerjasama dengan jujur. Mohon maaf sebelumnya saya sudah menyelidiki perusahaan Hyuga corp. Saya akan membatu paman jika paman bisa bekerja dengan baik tanpa melakukan penipuan lagi." Ucap sasuke final
Hiasi yang merasa terpojokan atas pernyatan dari Sasuke lantas hanya menatap kedua anak dihadapannya dengan serius. Apa yang akan dikatakan rekan kerjanya jika pernikahan yang sudah di rencakan menjadi batal, betapa mealunya keluarga Hyuga dan keluarga Uchiha.
"Paman? Bagaimana?" ucapnya
"Ayahmu, lantas bagaimana dengan dia!" Hiasi memegang kepalanya
"Kita hadapi bersama, yakinlah semua akan baik-baik saja" ucap Hitana
Entah keberanian darimana Hinata dan Sasuke mampu memojokan kedua orang tuanya, Hinata membantu Sasuke berdiri, sedangkan Hiashi menenangkan Fugaku yang cukup kaget.
"Terima saja ayah, lagipula kita tidak akan rugi jika berkerja sama dengan Hyuga corp karena mereka memiliki artis-artis dengan potensi yang baik, mereka sedang membutuhkan uang karena artis utama mereka mengundurkan diri, jika kita menyatu dengan Hyuga cabang entertainment milik kita bisa semakin melebar, dan kedua perusahaan akan memiliki keuntungan besar." Sasuke menjelaskan strategi rencana kedepannya
"Kerjasama ini tidak akan merugikan salah satu pihak, jika kita bekerja dengan baik maka keuntungan akan semakin baik." Ucap Hinata
Fugaku memikirkan kalimat Hinata dan Sasuke penuh pertimbangan, hingga pada akhirmya ia pun mengiyakan permintan keduanya. Cukup lega bagi Hinata karena Sasuke dan dirinya tidak dibunuh oleh Fugaku.
"Kalian berdua boleh pergi, dan kau Sasuke tetap di sini." Pungkas Fugaku
Hinata dan Hishi pergi meningalkan ruangan pimpinan tertinggi Uchiha Corp. Meninggalkan anak dan ayah yang memiliki egoistic yang tinggi dalam satu ruangan, mungkin jika aura mereka terlihat semuanta sudah menjadi hitam.
"Apa rencanamu sebenarnya?" Fugaku menuntut
"Hinata punya pacar yah, dan aku tidak bisa menikah dengannya hanya karena kerjasama ini"
"Jangan coba-coba kembali kepada Sakura"
"mengancamku?" Sasuke menyeringai
"Jangan macam-macam Sasuke." Pungkas Fugaku emosi
"Ayah tega membiarkan Sakura sendirian, di mana dia?"
"Luar negeri"
"Pembohong" Sasuke berlalu pergi, berjalan keluar dan membanting pintu ruangan Fugaku.
SASUKE POV
Bagaimana bisa ayah berbohong soal keberadaan Sakura, jika memang Sakura tinggal di tempat itu aku akan ke sana sekarang juga. Ia menyalakan mobilnya bersiap menuju apartemen Sakura, namun handphone miliknya bergetar memampangkan nama Itachi di sana.
Line
Kakak -Dimana kau?
Menuju surga. Ada apa?
Kakak – Temui aku di tempat biasa.
OKE.
.
.
Ah sial, mengapa si tua itu harus menggangguku, mau tidak mau aku harus menemuinya. Aku mulai mengendarai mobil melalui jalanan padat untuk menemukan sebuah Café favorit kami bertiga, ya dengan sakura tentunya (dahulu).
Aku menepikan mobil, memarkir dengan rapi kemudian berjalan menuju café yang telah diucapkan si kriput tadi. Aku masuk melalui pintu belakang karena kakaku mengajak duduk di sofa bagian belakang.
"Kenapa lama sekali dia."
"Ada apa aku sudah sampai." Sasuke tetap dengan wajah datarnya
"Mau minum apa?" tawar Itcahi
"Americano." Ucap sasuke singkat
Kemudian Itachi memanggil pelayan untuk memesan makanan dan minuman kesukaan mereka.
"Kenapa pesan banyak kak?" Aku kaget ketika Itchi memesan beberapa makanan
"Kau itu harus makan, kau itu perlu nutrisi untuk berpikir normal." Itachi berucap asal
"Langsung saja ada apa?" ucapku kesal
"Apa kau tidak mengenali seseorang di sini selain aku?." Sesuai yang diharapkan ia selalu memberiku teka teki busuk.
Aku mengedarkan pandanganku keseluruh penjuru café, mulai dari bagian lesehan, kursi kayu dan sofa yang ada di sekelilingku.
"Lebih cermat Sasu-chan."
"Diam, sebentar."
Aku mulai curiga denga perempuan paruh baya yang sedang mengobrol dengan wanita berambut merah apel, dan itu sepertinya adalah ibuku.
"Kak, itu- itu –itu di sana!" Aku menunjuk arah perempuan itu
"Itu ibu kan?" aku berucap pelan
"Benar." Itachi memberika jempol kepadaku dengan senyum khasnya
"Kaa-s….."
"Jangan dipanggil bodoh." Pungkas Itachi membekap mulutku
Aku mendengar penjelasan Itachi hingga selesai, ternyata ada maksud seorang kakak yang baik mengajak adiknya makan di sini pada hari kerja yang dimana biasanya Itachi sangat sibuk.
Sasuke memandang punggung Mikoto, dan ia penasaran dengan gadis berambut merah dengan kacata besar yang bertengger di hidungnya.
"Tapi, ibu bersama siapa?" Ucapku penasaran
"Adik kita." Itachi dengan polos menyebutkan jika itu adalah Sakura
"Hah?"
Aku menganga kabet, bagaimana bisa sakura sekarang menjadi seperti itu, dia menjadi lebih dewasa dengan riasan yang bisa dikatakan cukup membuat pangkling, dan kacamata itu serta rambut panjang merah apel yang ia gerai membuat penampilannya sangat beda.
'Kau merindukannya bukan? Silakan kau lihat dia dari jauh, jangn mencoba untuk menemuinya sekarang, aku dengar sakura akan ke Australia untuk pertukaran pelajar." Itachi menjelaskan
"Dia meninggalkan jepang? Berapa lama? Kapan?" Aku sungguh penasaran
" Hanya 3 bulan, ia berangkat lusa."
"Sasu, jangan membuat keluarga kecewa, dia adikmu. Jika kau bisa berjanji kepada ayah untuk menghentikan niatmu kepada Sakura, ayah pasti sudah meminta Sakura kembali ke rumah." Itachi menasehati
Bukannya aku tidak perduli, aku sangat perduli dan tidak ingin membuat dia menderita. Namun, entahlah perasaan tidak rela melepaskannya selalu menyelimutiku, aku merasa jika kami memang ditakdirkan bersama, entah bagaimana jalan ceritanya nanti.
"Entahlah kak, tapi aku lega melihat dia baik-baik saja," aku mengusap rambutku kasar
Itachi menatapku penuh tatapan tidak percaya, aku paham dia kakak laki-lakiku ini sangat menyayangi kami berdua dan tidak ingin membuat kami berdua saling terluka dan melukai, namun kakaku tidak punya kekuatan yang cukup untuk menentang bahkan memberikan masukan kepada Ayah.
"Kak"
"Hm?"
"Terimakasih."
"Apa kau sudah tau dimana ia tinggal?"
"Hinata memberitahuku"
"Aku setiap seminggu sekali sering berkunjung, maaf aku tidak memberitahumu" Itachi menyesal
"Tak apa, Sakura mungkin juga belum mau menemuiku"
Di Café itu, aku dan kakaku saling membicarakan adik kami yang sedang duduk lurus diseberang kami, jika dilihat secara seksama memang dia sakura, dan betapa pintanya adikku selama ini bersembunyi dariku demi menuruti kemauan Ayah.
Mengingat sakura akan pergi ke Australia, aku sedikit cemas bagaimana nantinya dia di sana, mengapa ia berambisi untuk ke Australia ini cukup membuatku bangga jika Sakura sudah memiliki mimpi dan dapat bertanggung jawab dengan dirinya sendiri.
"Kak"
"Ada apa?"
"Sepertinya aku memiliki sebuah permintaan." Ucapku sedikit menyeringai
Itachi yang melihat ekspresiku seperti itu tiba-tiba menjadi takut, dan bergidik ngeri kearahku. Sepertinya pertemuan kita akan segera dimulai Sakura, tunggu aku.
BERSAMBUNG
Gimana? Sedikit doing?
Hahah… ini masih lanjut kok tenang aja.
Janji deh habis ini agak panjang yaaa..
Kritik dan saran tetep ditunggu
Jangan lupa VOTE dan FOLLOW cerita ini
