Chapter 7
Australia begitu dingin sekarang, Sakura masih setia memakai coat coklat dan syal merah yang senada dengan rambutnya. Warna merahnya mencolok membuat gadis itu sesekali menjadi pusat perhatian karena wajah asia nya. Pagi tadi ia sudah mengunjungi kampus yang akan menajadi tempat ia belajar selama beberapa bulan di sini, cuacanya sedang bersahabt meskipun dingin tp langit tampak cerah dan indah. Gadis jepang itu tertarik dengan sebuah toko boneka di sudut pertigaan jalan, ia bergegas memasuki toko untuk mendapatkan sesuatu yang menarik.
"Wow, kawaii." Ucapnya
Sebuah boneka berwarna pink sudah ada dalam dekapannya, bentuk beruang yang pas dalam pelukannya.
"How much.?" Ucap sakura pada penjaga toko
"Just 20$ miss."
"Ok, this." Sakura menyerahkan uangnya
Ia tersenyum telah mendapatkan bineka yang ia inginkan, meskipun di sini sendiri paling tidak ia mempunyai teman untuk mengobrol, walaupun itu hanyalah sebuah boneka dan gadis itu memberikan nama kepada benda mati itu dengan sebutan MAX.
"Sakura." Teriak seorang pria paruh baya yang sedang melambaikan tangan kepadanya
"Paman." Teriak Sakura tidak kalah lantang
Sakura berlari setelah Traffic light berwarna merah, dengan senyum lebar ia menyambut orang yang selama ini sudah menjaganya. Mereka berdua mencari sebuah café terdekat untuk mencari makanan yang sekiranya cocok dengan selera mereka.
Di ujung jalan ada sebuah kedai ramen yang menarik atensi Sakura, gadis itu berseru kagum ketika memasuki kedai ramen kecil tersebut. Ia tidak menyangka jika di sini juga menjajakan makanan jepang.
"One Spicy ramen level 5 and one chicken ramen level 1, and then give me lemon tea , emm one cup of coffe too." Kakashi dengan sigap memesan makanan
"Oke, wait a minute sir." Ucap pelayan sambil tersenyum ramah
"Apakah aku tidak salah dengar? Level 1? Paman apakah aku masih anak-anak?" Sakura protes
"Aku tidak mau mengurusi administrasi rumah sakit di negara orang. " Kakashi berucap santai
Pasalnya Sakura sudah tidak boleh makan makanan pedas, lambungya akan membengkak ketika ia makan makanan pedas terlalu sering dan berimbas radang pada kenggorokan dan iritasi pada saluran pendernaannya.
"Dispepsiku sudah tidak pernah kembali." Gadis itu mengerucutkan bibirnya
"No Sakura, menurutlah pada pamanmu yang tampan ini." Kakashi percaya diri
Tak lama kemudian, pesanan mereka datang tampilan ramen tersebut tidak jauh berbeda dengan ramen dijepang hanya saja jika di Jepang kuning telur akan terasa lembek namun di sini kuning telur matang dengan sempurna.
Acara makan siang Bersama Kakashi menjadi pengalaman pertama sakura makan di luar negeri, porsi yang besar adalah kesukaan sakura, ia mampu menghabiskan satu mangkok jumbo untuk dirinya sendiri.
Kakashi yang melihat gadis di depannya hanya tersenyum lega, ia berhasil menjaga Sakura dari ia kecil hingga sebesar sekarang. Namun rasa gelisah menyelimutinya sekarang, ia tidak bisa tenang karena meninggalkan kampusnya sekrang ini, bagaimana jika public tahu hubungannya dengan salah satu mahasiswa bukanlah hanya sebatas rector dan mahasiswa.
"Saku."
"Ya paman? Mau memberikan ramenmu untukku ? " Sakura berbinar
Sebuah sumpit mendarat pelan di kepala sakura,
"Anak nakal, berjanjiah padauk jika disini tidak makan pedas dan asam." Titah Kakashi
"Iya, iya, ada apa?"
"Sebaiknya aku pulang ke jepang malam ini, bagaimana jika identitas aseli kita terbongkar di sini." Ucap Kakashi khawatir
"Anggap saja rektor yang mengantar mahasiswanya pertukaran pelajar." Sakura santai
"Jangan lupakan aku adalah penjagamu dan kau adalah anak Uchiha."
"Aku kan sekarang anakmu paman." Sakura tertawa
"jika kau terlalu lama bersamaku, aku yakin orang yang mencoba membubuhmu akan mencari identitas aselimu detik itu juga."
"Yasudah aku ganti nama menjadi Rebbeca Hatake saja."
"Sakura ini serius."
Sakura yang merasa pamannya sangat kebingungan, kemudian menenangkannya memastikan jika ia akan baik-baik saja, gadis itu juga mengucapkan apabila tidak akan ada yang tau identitas sebenarnya selama ia disini.
Tadi malam, Kakashi mendapatkan telfon dari Itachi jika musuh dari perusahaan Uchiha sedang mencari keberadaan Sakura yang dikabarkan pergi keluar negeri beberapa bulan yang lalu, berterimakasihlah kepada Fugaku yang meberikan hukuman seperti ini, jadi selain Sasuke musuh ayahnya juga akan sulit menemukannya.
"Paman percaya padaku "
Kakashi yang begitu khawatir sekarang sudah bisa tenang karena sakura meyakinkannya dengan berbagai hal.
"Aku bisa bela diri, dan aku tidaklah gadis yang polos paham paham itu."
"Baiklah, segera kabari aku jika kau ada masalah, aku pastikan dua minggu 1x aku akan mengunjungimu."
"Baiklah."
"Mengapa hidupku seperti ini, harus bersembunyi seperti buronan, menyebalkan" gadis itu menggerutu dalam hati
.
.
Hari pertama kuliah membuat Sakura sedikit kesulitan untuk mencari teman di sana, bagaimana tidak anak kedokteran di sini sangat serius sekali saat belajar dan ketika pelajaran usai mereka langsung bergegas pulang. Sakura keluar dari kelas dengan langkah gontai, dia melihat ke depan mengedarkan pandangannya melihat kerumunan di depan sana.
BRAAAKK….
Lengan sakura ditabrak oleh seorang laki-laki yang memiliki punggung yang lebar, keseimbangan sakura goyah dan gadis itu tersungkur kedepan lengkap denga nisi tas yang berceceran.
"Oh, sorry I don't see you, are you okay?" ucap laki-laki itu sambil membantu sakura membereskan buku dan kertas yang tercecer
"That's hurt? Oh or we must go to clinic now?" laki-laki itu panik melihat luka lecet di lutut sakura
Terdapat kerikil kecil yang menghantam lutuu sakura sehingga ia berdarah, laki-laki yang melihat itu kemudian dengan sigap memberikan buku milik sakura dan menggendong gadis itu ala bridal style. Sakura yang mendapatkan perlakuan dadakan seperti ini mulai berontak.
"What are you doing, let me down." Sakura berontak
"No, why yo can move with this?." Dia menunjuk luka melalui matanya
"This so embarrassing." Sakura menutup mukanya dengan buku yang ia bawa
Sesampainya di ruang kesehatan, sakura mendapat pengobatan dari seorang perawat yang ada di sana. Perawat itu tertawa kecil ketika melihat tersangka yang membuat lutu sakura lecet sedang mondar-mandir panik.
"Calm down boys, your friend is okay, she just get a little injury, is not a big problem." Jelas perawat tersebut
Laki-laki itu mengucapkan terimakasih dan mulai masuk kedalam ruang sakura diperbab lututnya.
"Oh, I'm really sorry girl, still hurt?"
"It's okay, don't worry to much I'm a wonder woman." Sakura bercanda
Laki-laki yang mendengar penuturan sakura tertawa, mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya dengan sopan.
"Daniel, 21 years old,Los Angle and South korea." Ucapnya
"Hah? LA and Korea? What do you mean?" sakura bingung tapi meraih uluran tangan Daniel
"a half-bred, my mom from korea and daddy from LA."
Sakura mengangguk paham,
"Sakura, 20 years old, Japan."
"Okay, nice to meet you, our country so really close anyway."
"Nice to meet you to Daniel."
"Oke sekarang berbicaralah dengan Bahasa jepang saja aku menguasai Bahasa jepang"
(anggap aja bahasa Indonesia versi jepang . LOL)
"Eh,? Sungguh?"
"Ayo aku antar pulang." Daniel mengantar sakura menuju apartemen gadis itu,
Untuk pertama kalinya Daniel bisa mengobrol nyaman dengan teman yang bersebalahan negaranya, bisanya ia akan berteman dengan bule bule karena penduduk korea dan jepang di sini sangatlah sedikit. Sesampai di depan apartemen,
"Apa kau pindah ke sini ? " Daniel membuka percakapan
"Hanya tiga bulan, aku mengikuti program pertukaran pelajar." Jelas sakura
"Sangat di sayangkan, padahal aku baru saja menemukan teman baru. "
"Tiga bulan itu lama Daniel, apa kau mau mampir ?" tawar sakura
"Kau gadis pemberani memang, apa kau tidak takut kepadaku ?"
"untuk apa ? kau baik. Sepetinya."
Mereka berdua tertawa, ingin rasanya Daniel mampir namun ia memiliki jadwal untuk bermain basket, jadi ia mengurungkan niat dan berpamitan kepada sakura.
Yang dilakukan Sakura selama diapartemen hanyalah tidur, bermain ponsel dan makan. Kuliah hari ini hanya 3 jam sedangkan hari esok kuliah libur. Gadis itu membaca novel kesukaannya hingga pada akhirnya rasa kantuk mulai menyerang membawa sakura ke dalam mimpi yang nyaman.
.
.
JEPANG
Seorang CEO dari sub perusahaan Uchiha terlihat sedang memaki seseorang yang tidak lain adalah adiknya. Itachi sedari tadi sudah memperingatkan Sasuke untuk membatalkan niatnya menemui Sakura, namun adiknya bersikeras untuk berngkat menyusulnya ke Australia, padahal itachi sudah mengirimkan suruhannya untuk menjaga sakura diam-diam, tapi Sasuke tidak bisa percaya kepada orang suruhan sang kakak.
"Fokuslah pada pekerjaanmu, biar orang-orangku yang melindungi sakura, aku yakin kepada mereka."
"Bagimana aku bisa fokus sedangkan Sakura sedang dalam masa pencarian oleh musuh ayah.?" Sasuke emosi
"Tenang Sasuke, jika kau muncul dihadapan sakura dan bersamanya di sana, bukankah musuh ayah akan lebih mudah mengenali Sakura?" Itachi meyakinkan
"Pengusaha mana yang tidak mengenali seorang anak Uchiha bernama Sasuke?" ledek Itcahi
"Kak aku mohon, sekali saja, "
Itachi frustasi, mengapa ia memiliki adik yang keras seperti ini. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi kerja sedangkan Sasuke memegang pinggiran bibirnya yang terluka akibat pukulan sang kakak.
"Pergilah, tapi hanya seminggu waktumu di sana, jangan terlalu sering menemui Sakura. "
Laki-laki yang lebih muda mengembangkan senyumnya, tidak habis pikir mengapa sang kakak tiba-tiba mengijinkannya pergi.
"Kau bawa semua pekerjaanmu ke kantorku nanti sore, selama kau tidak ada aku akan mengerjakan perkerjaanmu, tapi ingat ini tidak gratis."
"Kau mau apa kak?" sasuke tersenyum licik
"Yang kau parkir."
"Baik, kau urusi ayah, ibu dan pekerjaanku maka kau akan mendapatkannya. "
Itachi tersenyum melihat tekad yang begitu kuat, ia yakin jika Sakura akan aman jika dalam pengawan Sasuke untuk beberapa hari.
Disisi lain, laki-laki yang sudah mendapatkan ijin untuk pergi menemui sang adik mulau mempersiapkan segala keperluannya. Sasuke berangkat menggunakan jet pribadi milik keluarganya dan tanpa sepengetahuan ayahnya, dengan niat dan segala keberanian Sasuke akan mengambil resiko apapun untuk bertemu dengan gadis yang sudah menemani hari-harinya, sangat di sayangkan jika gadis itu dilepas.
AUSTRALIA
Libur kuliah bukan berarti membuat sakura menjadi malas malasan, ia sedari pagi sudah melakukan jogging dan menyiram bunga di atap apartemen, banyak bunga yang ditanam di sini membuat ia betah dan merindukan suasuana di jepang.
Sedah hampir seminggu Sakura di sini, namu ia masih bingung untuk menemukan tempat nyaman untuk sekedar menikmati makan siang. Selama seminggu setiap malam sakura memakan ramen di kedai yang pernah ia kunjungi saat Bersama Kakashi.
Dering HP membuyarkan lamunan sakura,
"Moshi-moshi."
"Hai sayang, bagaimana kabarmu?"
"Itachi-Nii, hai kemana saja kakak sampai aku berangkat ke sini kakak tidak mengantarku?" celetuk sakura
"Maaf, kakak sibuk sayang, kirim alamat apartemenmu kakak punya hadian untukmu."
"Apa ini semacam suap untuk minta maaf.?"
"hehehehe."
Sakura mengirim alamat lengkap apartemennya, kakak tertuanya memang tidak bisa jika membiarkan sakura kecewa padanya, selalu memberikan hadiah dikala ia merasa bersalah. Sungguh sakura heran dengan sikap kakaknya yang sangat takut ketika ia marah.
Mendengar suara itachi, tiba-tiba ia teringat akan Sasuke, laki-laki yang sudah ia tinggalkan hampir 5 bulan ini. Sakura belum mendengar soal pernikahan Sasuke yang batal, karena hanya pihak internal saja yang mengetahuinya dan itachi tidak mmeberitahunya.
Rasa sakit itu kembali muncul ketika ia mengingat satu nama -SASUKE-, mengapa ia harus mencintai kakaknya sendiri, mengapa sasuke harus menjadi kakaknya, andai saja jika ia bukan dari bagian Uchiha. Jika saat itu sasuke tidak menggodanya dan akhirnya menciumnya mungkin hari ini ia akan tetap berada di sisi laki-laki itu, terkadang sakura berfikir apakah tuhan memang akan mengutuk hubungan mereka jika hubungan terlarang ini akan berlanjut.
Lelah dengan acara merenungnya, ia kembali ke kamar menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri, sebelumnya ia memilih untuk mandi terlebih dahulu, keringat ini mebuat sakura bau. Selesai dengan ritual mandinya Sakura mengenakan bathrobe, rambut pinknya ia bungkus dengan handuk karena basah. Kemudian ia menuju dapur untuk memasak, aroma bawang putih dan merica mendominasi ruangan itu, ia membuat sepiring omurice.
Tap- tap- tap
Suara pantofel menggema diruangan itu, sakura mematikan kompor, tubuhnya tiba-tiba menengang, suara derap kaki berbunyi nyaring berirama dengan degup jantung yang berdetak cepat, sakura tidak berani berbalik, penciumannya masih berfungsi normal, wangi yang tidak asing menguar mengalahkan aroma merica, langkah teratur semakin mendekat.
Menggigit bibir bawah, Gadis bersurai merah muda membeku sesaat kedua lengan kekar memeluknya dari belakang, mencoba berfikir jernih jika hal ini buka sebuah halusinasi, tangan itu terasa amat nyata.
"Sakura." Ucap seseorang pemilik suara barithone
Pertahanan sakura runtuh begitu saja, ia berbalik memeluk kakaknya erat menumpahkan segala kegelisahan dan beban yang selama ini ia rasakan, air mata tidak berhenti mengalir, rindu yang ia pendam meluap. Sakura kesulitan bernapas, bibirnya seolah terkunci, otaknya masih belum bisa menerima jika ini nyata, ia sungguh merindukan sang kakak.
"Tenanglah." Mengusap punggung adiknya lembut
Semua perasaan kecewa, marah dan kesal sirna begitu saja ketika ia sudah melihat wajah sakura dihadapannya, semua keegoisan dan pertanyaan runtuh hilang begitu saja. Direngkuhnya tubuh yang lebih kecil mengecup kepala yang muda berkali-kali.
Sasuke merapatkan tubuh mereka, enggan melepas pelukan sang adik, menyesap aroma yang selama ini sudah ia rindukan dalam dalam seolah ia akan mati besok jika tidak mencium aroma itu.
" I found you."
.
.
Lelah menagis, kemudian diam sejenak saat ini mereka sedang berpelukan diatas sofa, sang adik menatap kakaknya penuh pertanyaan menyusuri rambut raven mengelusnya lembut. Sejak dulu, rambut Sasuke sudah menjadi favorit Sakura.
"Berat badanmu kemana?" Sakura membuat lingkaran abstrak pada pundak sang kakak
"Kamu juga semakin kecil, enteng sekali."
Mengangkat tangan sakura dari kepalanya, menyatukan genggaman keduanya. Rindu tersampaikan, menutup galian luka yang mereka ciptakan sendiri. Andai mereka bukan sedarah pasti mereka sudah bahagia.
"Bagaimana kau kakak bisa menemukanku?"
"Dimanapun, sejauh apapun kau pergi, aku pasti menemukanmu,"
Yang mendapat pernyataan seketika membeku, ucapan Sasuke lebih mengerikan ketimbang saat fugaku marah. Dingin, pernuh intimidasi dan selalu percaya diri.
Kepala Sasuke mendekat, tanganya yang bebas meraih tengkuk sang adik, mengikis jarak diantara keduanya, Sakura yang paham betul apa yang akan terjadi selanjutnya mencoba mengalihkan pandangannya, menghindari ciuman yang akan diciptakan orang yang sekarang sudah setengah menindihnya.
"Kenapa?"
"Tidak boleh."
Seolah menulikan pendengarannya, Sasuke melanjutkan aksinya menyatukan bibir keduanya, mengunci tengkuk sakura agar ciuman tidak lepas. Korban dibawahnya terasa kaku, tidak bisa mengimbangi permainan sang dominan. Sakura kehabisan nafas, diberikan ruang 5 detik untuk dirinya bernafas sebelum sasuke kembali membawanya ke langit tinggi.
Emmphh
"Hentikan." Sakura mendorong pelakunya hingga tersungkur dari atas sofa
Gadis itu mengatur nafasnya, merapikan kaus big size nya yang sudah kumal akibat ulah sang kakak. Sakura masih memiliki akal sehat untuk "itu", namun sepertinya Sasuke tidak memperdulikan akal sehatnya.
"Maaf." Sasuke bangkit,
Membuka benda dua pintu, mengambil sebotol minuman dingin dari dalamnya, dan tanpa ijin dari sang pemilik apartemen. Dalam 30 detik minuman itu tandas, mengalir kedalam tenggorokan untuk menetralkan panas tubuhnya.
"Sudah makan.?" Sakura mengalihkan pembicaraan
"Belum."
"Makan bersamaku?" ucapnya sambil menuntaskan masakannya yang sempat tertunda
Kali ini ia menambahkan daging panggang dan sayur mayur sebagai pendamping omuricenya, Sasuke tersenyum singkat menyaksikan adik yang ia banggakan mampu tumbuh dengan baik. Sudah tidak manja, dan bisa mandiri seperti wanita dewasa.
Dengan cekatan, semua hidangan sudah tersedia di meja. Hari ini sakura mengeluarkan semua isi kulkas mengingat yang lebih tua mempunyai porsi makan yang sangat banyak. Tidak butuh waktu lama bagi sasuke dan sakura menuntaskan kegiatan mengisi perut.
"Enak." Sasuke antusias
"Benarkah?"
"Eum, darimana kau belajar?"
"Kursus 2 minggu." Jelas Sakura
Sasuke meletakan sendok dan garpunya, menautkan jemari dengan dagu berada diatasnya.
"Saku." Sasuke serius
"Ikut kakak ke Paris."
"tidak."
"Mengapa?."
"Ibu nanti khawatir, saku bahagia di sini saku bisa mandiri dan di sini sangat nyaman." Ucap sang adik ceria
"Tapi,Aku …"
Kali ini sakura yang meletakan garpu dan sendoknya, meraih tangan sasuke, mengenggam erat.
"Kak, tolong jangan membenci ayah, ayah sudah melakukan banyak untukku dan jangan membenci ibu dalam hal ini ibu yang paling terluka."
Sasuke menghembuskan nafasnya kasar, ia harus menahan semua keegoisannya untuk beberapa hari ke depan, ia tidak ingin mebuat Sakura marah kepadanya.
"Sudahlah habiskan makananmu." Putus sasuke final, melepaskan genggaman sakura.
Gadis itu mengunyah makanannya dalam diam, Hujan diluar menjadi saksi bisu kekalutan mereka berdua, tidak ada interaksi antara saudara yang sudah 5 bulan terpisah. Sakura bergelut dengan pemikirannya takut jika Sasuke bertindak nekat, sedangkan sasuke sedang memikirkan cara untuk membawa sakura untuk ikut dengannya.
Meraih kembali jemari gembul gadisnya kemudian mengeupnya singkat, orang yang diperlakukan seperti itu hanya bisa diam dan menatap si tertua dengan heran. Mendadak, dan sangat kilat, hanya kecupan sekilas dan Sasuke beranjak dari meja makan. Menatap langit malam Adelaide, meskipun tak ada bintang sekalipun.
.
.
BERSAMBUNG
Gimana? Udh lumayan panjang?
Kritik dan saran tetep ditunggu
Jangan lupa VOTE dan FOLLOW cerita ini
Sayang kalian semauanyaaa
