CHAPTER 8

Langit masih mendung, padahal waktu sudah menunjukan pukul 7 pagi, Sakura bergegas untuk segera mempersiapkan dirinya untuk pergi ke kampus. Selama tiga hari ini sakura selalu diantar oleh Sasuke, jangan bertanya Sasuke mendapatkan mobil dari mana yang jelas apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Sasuke, membuat adiknya jatuh cinta saja bisa.

"Sakura cepatlah."

"Iya, kak sebentar lagi."

Ketika kedua orang di dalam apartemen sedang sibuk membenahi diri mereka masing-masing, terdengar suara bel dari luar apartemen.

"Paket." Teriak orang tersebut

"Ya tunggu sebentar."

Sakura membuka pengganjal dan membuka pintu bercat putih tersebut.

"Daniel?" Sakura kicep

Matilah ia sekarang, mengapa penghantar paket mendadak menjadi manusia super ganteng seperti yang ia lihat sekarang.

"Yo, Sakura-chan."

"Apa yang kau lakukan?" Sakura kaget

"Siapa sayang.?" Suara barithone dibelakang sakura menginterupsi pendengaran Daniel

"kau tinggal dengan seseorang.?" Daniel mendongak mencari keberadaan seseorang di apartemen temannya itu

"Siapa dia, masuklah?" titah Sasuke

Orang yang dibicakan datang, sakura mempersilakan Daniel masuk

"Ini tadi ada paket di depan kamarmu, tapi sepertinya kau tidak mengetahuinya kebetulan aku ingin ke sini lantas sekalian aku berteriak, maaf mengganggu." Jelas Daniel

"Apa keperluanmu.?" Sasuke berucap dingin

"Oh, sebelumnya kenalkan saya Daniel Patrickson, saya kakak tingkat sakura di kampus."

Tangan Daniel terulur, namun tidak bersambut. Suasana mendadak menjadi mencekam, Sasuke yang tidak menyuai siapapun laki-laki yang dekat dengan sang adik, dan Daniel yang peka juga merasa heran dengan sikap kakak temannya.

Sakura memecah keheningan,

"Aku akan berangkat." Ucap sakura canggung

"Ayo sekalian bersamaku." Daniel menawarkan diri karena memang tujuan awalnya yaitu menjemput Sakura

"Tid—"

"Tak apa nii-chan aku bersama Daniel saja." Sakura memberikan kode kepada sasuke untuk menyetujuinya

"Tidak, kau akan kakak antar."

Dering telfon mengehentikan langkah sasuke.

"Nah, itu ada telfon, jadi aku bersama Daniel saja, bye kakak."

Sakura menarik Daniel untuk keluar dari apartemennya, menuju parkiran dan berangkat bersama teman yang baru ia kenal beberpa hari yang lalu. Di dalam mobil sedikit canggung, namun bukan Daniel namanya jika ia tidak mampu mengubah suasana.

"Itu tadi kakakmu.?" Daniel membuka suara

"Iya, kakak keduaku dari jepang, Sasuke."

"Sepertinya dia galak."

"Kau takut niel.?" Sakura tertawa

"Tidak, untuk apa aku takut, sama sama makan nasi." Daniel tertawa

"Sakura, rambutmu dan kakakmu sangat kontras, dia Navy dan kau Merah." Imbuh Daniel

"Bukan kah keren, dan kau sendiri coklat agak blonde."

Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan untuk Sakura, ternyata diaustralia tidak semembosankan yang ia pikirkan. Daniel seperti vitamin yang tiba-tiba menyegarkan pikirannya, mereka juga berjanji akan makan siang setelah selesai kelas.

Sejenak melupakan masalahnya dengan Sasuke, Sakura menuju ruang kelas dengan semangat. Beberapa teman bulenya menyapa, dan mengajak sakura untuk berinteraksi. Tanpa sakura sadari jika perasaan bebas ini sudah lama tidak sakura dapatkan.

Dosen masuk untuk memberikan pertanyaan dan kemudian keluar memberikan tugas yang banyak untuk para mahasiswa. Sakura hanya terdiam di dalam kelas dan mengerjakan soal dengan cekatan, ia tidak ingin menghamburkan waktu untuk melamun atau bahkan melakukan ghibah di kelas.

"Sakura." Daniel mendekati sakura di meja tempat ia sedang membereskan kertas dan pulpen

"Daniel?" yang dipanggil seketika berbalik dan mendapati temannya sudah berada di sampingnya

"Makan?" tawarnya

"Oke."

Disisi lain, ada yang tengah kebakaran jenggot menunggu kabar dari sang adik. Ponsel yang ia genggam sedari tadi tidak bergetar sama sekali. Ia tertalu gengsi untuk menelfon duluan setelah insiden tadi pagi, biarlah adiknya merasa bersalah dan memohon maaf kepadanya. Namun, apakah Sakura masih perduli akan perasaan sang Kakak?

.

.

"Sudah hanya itu.?" Tatap sasuke penuh selidik

"Aku lelah, sudahlah." Sakura masuk ke kamarnya meninggalkan sang kakak yang tengah jengah melihat kelakuannya saat ini.

"Aku berbicara kepadamu Sakura, sejak kapan kau mulai membantahku?" teriak sasuke dari luar kamar sakura

Tidak ada jawaban

Hening

Cukup lama Sasuke menyandarkan badannya di pintu putih itu, namu empunya belum mau membuka ruangan miliknya.

"Saku,-"

"Kak,-"

Helaan nafas terdengar kasar dari keduanya

"Kau duluan." Sasuke berucap

Langkah kaki mendekat seirama dengan dada sasuke yang naik turun, pintu putih berecit menampilkan gadis yang sudah mengenakan pakaian rumahan dan kembali dengan rambut senada permen kapas.

Sasuke berdiri, memandang kebawah melihat adiknya yang bisa dikatakan tidak dalam kondisi baik.

"Maaf," ucap sakura

Onyx itu menatap lurus, tidak mengalihkan atensinya dari Sakura drama apa lagi yang akan di perankan oleh sang adik untuk menolak cintanya.

Ah tidak, dia tidak menolak hanya tidak bisa menerima kenyataan jika kami adalah saudara.

"Sudahlah," Pria itu mendekatkan tubuhnya, merengkuh yang kecil kedalam pelukannya,

Pundak yang muda bergetar, entah sejak bertemu dengan kakaknya ia banyak menumpahkan air matanya. Mengelus punggung dengan sayang, Sasuke perlahan turut mengeluarkan cairan beningnya, tanpa sepengetahuan sakura.

"Pulanglah, biarkan aku memulai hidup baru di sini." Isak Sakura dalam dekapan Sasuke

"Tanpa aku.?"

"Heum." Tangan mungil itu membalas pelukan sang kakak, mengeratkan pada punggung yang lebih tua

"Tidak, jangan menyuruhku pergi karena aku tidak ada tanggung jawab menjaga persaaan siapapun." Bisik Sasuke tepat di telinga kiri Sakura,

Tubuh kecil itu menegang, pelukannya mengendur, menjauhkan kepalanya dari dada bidang sang kakak. Menatap Sasuke intens, menggali sebuah kebenaran di sana.

"Apa maksudmu?"

"Kami batal menikah." Sasuke berucap santai kemudian secepat kilat mencium pucuk hidung sakura

"HAH.?"

Terkejut? Sebenarnya tidak terlalu, karena ia hafal dengan sikap kakaknya yang merupakan pemberontak dalam keluarga, namun bukankah itu tindakan yang terlalu berani?

"Kau berhutang cerita padaku tuan." Sakura tersenyum miring,

"Kau juga berhutang cerita tentang pria itu padaku nona." Senyum sasuke penuh kemenangan

"Sial." Sakura mengumpat

CUP –

"jangan mengumpat, bibirmu menjadi pahit jika mengumpat." Ucap sesuke setelah membungkam bibir sakura

.

.

Penjelasan gamblang dari sasuke membuat sakura bungkam, gadis itu mungkin perlu menyelami hati pria 23tahun itu. Setelah bercerita dan mendapatkan dongeng dari Sakura, Sasuke keluar entah siapa yang ingin ia temui, rekan bisnis katanya

Gadis itu meringkuk di dalam slimut tebalnya, maniknya mengikuti perputaran jam dinding di depannya, nafasnya teratur meskipun banyak risau di hatinya. Risau jika perasaan tabu itu akan muncul kembali.

"Jangan sampai." Ucapnya pelan

Tangannya terulur, meraih ponsel yang sedari tadi ia biarkan. Satu pesan masuk, dari Daniel, dan gadis itu tidak bisa untuk tidak sudah saatnya ia mencoba untuk berteman dengan laki-laki selain kedua kakaknya.

.

.

LINE

(Meoow,-) Dnl

(Kau suka kucing.?)

Read

(Sangat, bisa menemaniku hari minggu nanti.?)

(Kemana)

Read

(Membeli kado untuk keponakan)

(Atur saja waktunya, aku free)

Read

(Terimakasih saku, see you soon)

.

Sakura tersenyum, sedikit lega Daniel melanjutkan pertemanan tidak sengaja itu. Di sisi lain, entah setan dari mana yang menguasai dirinya yang sebagain, ia merasa bersalah kepada Sasuke, bukankah ia berarti menghianatinya? Sasuke sudah kembali menjadi miliknya, Sakura menggeleng cepat menepis semua hal yang berkaitan dengan sang kakak, bodo amat ucapnya.

lanjut masih ada kok