-Kilas masa lalu-

PERHATIAN!

Ini alurnya mundur, menceritakan sebelum cerita ini di ceritakan.

Baca aja :D

.

.

Manik emerald menatap pintu apartemen di depannya, langkahnya terhenti mengurungkan niat untuk masuk berbalik menuju parkiran VIP. Badannya sudah penuh dengan butiran salju, dingin dan sesak ia rasakan bersamaan.

Ia melirik jam tangan, masih pukul 5 sore tentunya sang pemilik ruangan ini belum pulang. Cuaca sangat dingin, namun gadis itu tetap keukeuh untuk menunggunya di parkiran bawah dimana mobil orang tersebut biasa terparkir.

"belum ada." Ucapnya lirih

Benar saja, mobilnya belum ada, dan entah mengapa ia bisa buru-buru untuk menemuinya. Pipi yang semula memerah menjadi pucat karena udara yang sangat dingin.

"Saku.." ucap seorang laki-laki yang turun dari mobil di ikuti dua orang dibelakangnya

Gadis itu tersenyum, kemudian membungkukan badannya 90 derajat ketika kedua orang dibelakang laki-laki itu turut menghampirinya.

Sasuke memberikan isyarat untuk meninggalkan mereka berdua, dan kedua rekan kerjanya langsung menaiki lift menuju apartemen Sasuke.

"Sakura." Suara rendah pria itu menyapa pendengaran Sakura

"Apa kabar?" gadis itu tetap dalam posisinya, berdiri membawa kotak kecil berwarna merah

Menggaruk lehernya canggung, menampilkan senyum tipis di hadapan perempuan yang sudah pucat itu. "Aku baik."

"Apa kakak majaga pola tidur dengan baik?"

Benar, pria yang ia tunggu sedari tadi adalah kakaknya, prianya, kekasihnya.

"Selalu sakura."

"Kalau kau tidur dengan cukup, apa arti kantung matamu yang sudah seperti balon itu?"

Sasuke tersenyum, mengelus kepala sang adik penuh sayang. Sakura tidak bisa menahan senyumnya, sudah lama sekali ia tidak diperlakukan dengan baik oleh sang kakak.

"Maaf, kakak berencana menemuimu tapi kakak masih sibuk, dan maaf untuk -" Sesalnya

"Mengabaikan pesan dan telfonku selama dua minggu.?" Sakura mengejek

"Maaf." Sasuke menyesal, namun perempuan dihadapannya masih setia tersenyum mengejek dihadapannya.

Sasuke melepas coat miliknya, memasangkan dengan apik ke tubuh kedinginan Sakura, menuntun adiknya untuk duduk di tepi parkiran melihat salju turun.

"Indah." Ucap sasuke

Gadis di sampingnya mengangguk setuju, sesekali meremat kotak merah yang ia bawa.

"Ada apa kau jauh-jauh menghampiriku ke sini.? Sendirian dan tanpa supir.?" Sasuke menyelidik

Ludah sakura merosot kasar, tenggorokannya tercekat, hanya helaan nafas yang mampu keluar.

"Kak." Gadis itu memberanikan diri

"Apa ada yang salah?" Sasuke menaikan sebelah alisnya, merasa ada yang tidak beres terhadap adiknya

"Aku berfikir jika kita harus berhenti." Sakura lega kalimat itu mampu terucap

"Maksud-"

"Aku sudah tidak sanggup bermain drama ini kak." Sakura menundukan kepalanya, helaian rambutnya sempurna menutupi wajahnya

Yang lebih tua menatapnya heran, tidak percaya. Ia paham adiknya bukan orang yang mudah menyerah dengan keadaan mereka, menjalahi hal yang di mata masyarakat melanggar norma selama beberapa tahun bukanlah perkara mudah, dan Sakura mampu mengatasinya. Hati sasuke sedikit tercubit berharap gadisnya hanya memberikan sebuah prank.

"Kenapa tiba-tiba.? Kau marah ?"

Yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya.

"Kesibukanku mengganggumu.?" Ucapnya lagi

"Ya"

Sasuke tersenyum miring, bangkit dari posisinya, kemudian berjongkok dihadapan adik kecilnya, ah bukan sekarang gadis kecilnya. Jawaban palsu dari Sakura tidak bisa menipunya begitu saja. Meskipun begitu, Sasuke masih penasaran mengapa semuanya menjadi runyam.

"Jangan berbohong." Suara barithone itu meninggi

Sakura mendongak menatap pria yang sudah berada dihadapannya takut, tidak ada yang menyeramkan selain sasuke marah.

"Aku Lelah." Manik itu mulai memanas,

Air mata berkumpul dipelupuk, siap untuk jatuh. Jika membahas lelah, jujur sasuke juga lelah, lelah dengan segala hal yang tidak normal dalam dirinya, ia bisa mendapatkan segalanya kecuali satu, cinta yang normal. Cinta yang Sasuke kembangkan sekarang bukanlah cinta yang normal, melibatkan sang adik dan membawanya jatuh ke kubangan penuh dosa.

"Jangan mengatakan hal yang tidak aku suka sakura, dan juga ka—"

"aku kembalikan" Saskura memotong kalimat kakaknya

Mata Sasuke melebar, kotak dibalut kain merah itu merupakan impian mereka setelah sakura sudah selesai menempuh studinya. Mata Sasuke menatap tajam pada manik yang terus mengarah ke bawah.

"Lihat aku, dan katakan kau tidak menginginkanku." Sasuke meremat pundak sakura pelan, korbannya hanya diam tetap dengan posisi datar.

"Kau ketahuan oleh ibu?" pertanyaan lagi

"Tidak."

"lalu mengapa kau ingin kita berakhir?"

Memijat kepala, pusing, itu yang sakura rasakan menatap sakura, menuntut dan menakutkan

"Kau bosan ?"

"Hentikan." Sakura berucap parau

Sasuke tersenyum, sesungguhnya pria itu paham jika adiknya hanya sedang dalam titik terendahnya, bingung dan bimbang, beberapa minggu ini memang Sasuke sering bahkan selalu mengabaikan sakura.

Gadis itu mengambil kalung yang bersembunyi di dalam bajunya, menarik pelan, membuka liontin berbentuk hati. Gambar mereka berdua terpampang, begitu mirip untuk ukuran saudara.

"Apa aku harus menjelaskan semuanya?" Ucap sakura

Senyuman sasuke pudar, ketika Sakura menunjukan liontin yang sudah lama tidak mereka kenakan, di dalamnya tertulis "BroSist always -Sasusaku-" lengkap dengan foto keduanya.

Tidak ada jawaban dari yang lebih tua, bagaimanapun liontin itu mengatakan semuanya. Tubuhnya mati rasa, menatap pahit kenyataan yang menghantam mereka berdua. Ia sadar akan posisinya, hanya seorang kakak, anak kedua dari keluarga Uchiha, kakak dari Uchiha sakura, yang tak sepatutunya melanggar takdir itu.

Membuang muka, Sasuke tersenyum kembali mengumpulkan keberanian menenangkan sang adik yang masih duduk memandangnya dengan mata penuh airmata.

"Kita sudah mendobrak pintu sejauh ini saku." Ucapnya lembut

Tangan yang lebih besar meraih pipi gembul yang lebih muda, menghapus air mata di sana.

"aku tau."

Adiknya bukan gadis yang gampang menumpahkan air matanya, ia tahu itu. Entah melihat dia menangis sedikit memberikan luka dihati sasuke.

"aku tau, tapi aku sadar betul akan posisiku, aku hanya adikmu."

"kemari"

Sasuke berdiri, menarik tangan Sakura, mendekapnya lembut. Membiarkan yang lebih muda menangis di dalam pelukannya.

"Jangan kau kembalikan kotak ini, atau aku akan menikahimu sekarang."

Yang menangis semakin menangis, yang tersenyum semakin tersenyum. Lengan besar yang memeluknya memberikan rasa nyaman tersendiri, menyuntikan sebuah rasa candu yang membuat sakura betah berada di sana, sudah beberapa minggu ini ia kehilangan lengan besar yang selalu memeluknya hangat.

Kepala yang muda bergerak nyaman di dada bidang itu, membahasahi kemeja sang kakak yang btadi pagi baru keluar dari laundry. Sasuke mengusap kepala gadisnya, memberikan efek tenang, sesekali mengecup pucuk kepalanya.

"Puas menangis sayang?"

"Diamlah," masih menenggelamkan kepalanya pada pelukan Sasuke

"Bukankah aku sudah bilang, berhenti menghawatirkan hal seperi ini, kau tahu aku juga takut, bahkan aku juga lelah, cobalah lihat perjuanganku selama ini untuk mempertahankanmu, sebut saja aku gila karena mencintai adiku sendiri, cobalah memahami kondisinya Sakura."

Seolah membalas Sakura, Sasuke tidak memberi ruang untuk gadis itu berbicara.

"Aku berusaha menepis semuanya tapi aku tidak bisa, aku takut ayah mengetahuinya dan posisiku terancam tapi aku tetap berusaha berjalan di sampingmu, aku takut semua impianku runtuh dengan berdarnya kabar seorang anak Uchiha yang saling mencintai namun aku menepis kekhawatiran itu dan tetap berjalan di sampingmu"

"Apapun yang membuatmu ragu, aku akan berusaha meyakinkan, apa yang membuatmu ingin lari dari hubungan kita, aku akan kembali menarikmu dengan gravitasiku."

"Apa kau bisa melihatku dengan yang lain, atau haruskah aku menerima perjodohan yang kemarin diusulkan ayah?" Sasuke bertanya

Sakura hanya menggelengkan kepalanya, mengeratkan pelukannya seolah pria dihadapnya akan lenyap dalam sekejap. Sasuke tersenyum lega, gadisnya telah kembali.

Sasuke menepuk punggung sakura pelan,

"Jangan menghawatirkan apapun, kita hadapi Bersama, dan ingat jangan coba-coba kabur dariku lagi." Kepala sakura mendapatkan hukuman

"Akan aku coba lebih memahami semua ini." Sakura tersenyum,

Onyx dan emerald bertemu, berbicara, meyakinkan, dan tersenyum setelahnya.