CHAPTER 9
Setelah selesai dari sesi mengantar Daniel ke rumah keponakannya, aku dan teman yang katanya sekarang merangkap menjadi sahabatku sudah berjalan menuju sebuah taman kecil di sudut kota. Jangan mengkhawatirkan kakakku karena ia sudah pulang 5 jam yang lalu melalui, tentu aku yang mengantarkan ke bandara dan sama sekali tidak bercerita tentang kepergianku dengan Daniel. Aku masih waras, aku tidak ingin kakaku marah dan batal pulang ke Jepang.
"Bagaimana? Enak kan ? ini sosis bakar terenak di Adelaide." Ucap Daniel semangat
Aku menatap laki-laki disampingku, sangat bebas, tidak ada beban, dan bahagia, itu yang aku dapatkan dari memandang Daniel pada malam itu seolah kehidupannya sangat enteng, tapi siapa yang tahu keadaan yang sebenarnya. Ya! Aku penasaran
"Saku?"
"eh?"
"Aku tampan ya?" ia tersenyum menampilkan gigi kelincinya yang lucu,
Mata Daniel memiliki eye smile yang cantik, sangat bertolak belakang dengan badannya yang besar dengan bahu yang lebar namun wajah laki-laki sangat bocah.
"Tampan gundulmu."
Gelak tawa kami turut meramaikan suasana di kota itu, berteman dengannya belum genap satu bulan namun sudah membuatku nyaman berada di kota kecil di bagian selatan Australia ini.
"Ternyata menyenangkan," ucapku
"Apanya.?" Ucap Daniel dengan sosis yang masih dimulutnya
"Telan makananmu."
Sungguh ini manusia seperti bocah sekali, makanan belepotan kemana-mana, apakah anak ini punya bakat untuk komedi atau apa lah itu.
Adelaide sangat indah malam ini, bintang mulai muncul awan mendung mulai bergerak pergi, langkah kami lurus menyusuri trotoar, dijalan pulang saling melempar senyum dan candaan yang tidak bermutu. Aku seperti mendapatkan sesosok orang yang berharga, yang tidak ingin aku lenyapkan dari dunia ini, tidak membuatku takur meskipun baru beberapa minggu kenal, dan Niel adalah orang yang sangat sopan.
Mungkin aku terlalu banyak memujinya, namun itulah kenyataan. Daniel, terimakasih sudah menjadi pelengkap di kehidupanku untuk beberapa bulan kedepan, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika nanti aku terpisah denganmu saat kepulanganku.
"Tadi keponakanmu sepertinya menyukainya." Ucapku
"Ya, kau memang hebat memilihkan boneka untuknya."
"Ah, tidak, perempuan memang menyukai semua jenis boneka." Terangku gambling
"Kau juga suka?"
"Tentu."
Candaan satu persatu dilontarkan Daniel dari bibirnya, dan satu persatu pula gelak tawa lolos dari bibirku. Hingga tidak terasa sudah sampai di depan apartemen tempatku menetap semetara disini.
"See ya." Daniel melambaikan tangan
"See ya niel, hati-hati." Aku membalas lambaiannya
"Saku?"
Langkah ku terhenti, fokusku kembali kebelakang, menoleh kepada Daniel.
"Ada apa?"
Laki-laki itu mendekat, mengulurkan tangan besarnya, mengusap pelan pucuk kepalaku, wajahnya kini sejajar dengan wajahku dengan susah payah aku menelan saliva yang sudah mengganjal ditenggorokan karena grogi,
"Oyasumi." Ucapnya , eyesmile melengkung, gigi kelinci terpampang.
Apakah aku bermimpi?
"i- iya.. Oyasuminasai." Masih dengan canggung
Aku dengan cepat berbalik menuju pintu, Daniel dari belakang sepertinya masih mengamatiku, dan jendela atas aku bisa melihatnya dia mulai berjalan meninggalkan apartemen.
Mandi dan ritual lainnya sudah aku lakukan, kini sudah bersih dan bersiap untuk tidur. Aku mengambil Ponsel yang sedari tadi berada di slig bag, dan lihat ada 10 panggilan tidak terjawab dan 155 pesan dari aplikasi chat berwarna hijau yang sebentar lagi pasti akan bertambah.
Uchiha Sasuke,
Line
(Aku sudah sampai)
(apa kau sudah kembali)
(aku baru sampai dan aku suda merindukanmu)
(Saku)
Satu panggilan tidak terjawab
(Sakura kau dimana?)
5 panggilan tidak terjawab
dan berbagai kalimat pesan lainnya,
aku tersentak dan merutuki betapa bodohnya aku bisa melupakan kakakku. Dengan cepat aku kembali mematikan ponselku, aku tidak perduli jika kakak marah atau akan jadi apa aku nanti, namun aku malam ini hanya ingin istirahat. Menyebalkan memang berurusan dengan dia, dan yah sekarang aku sudah menganggap dia menyebalkan bukan.
Pandanganku kabur, kepalaku pusing, kupandangi atap kamarku, terlalu silau memang, raku maraih remote di nakas mengatur lampu dalam posisi off. Gelap, namun dalam remang-remang aku bisa melihat ada yang baru dalam kamarku, bintang plastic dari fosfor menyala terang, senyumku mengembang, sangat indah batinku.
"Siapa yang memasangnya?"
Aku memandangi seisi ruangan, ternyata bukan hanya atap, di dinding terdapat tulisan – Sakura – yang dapat menyala dalam gelap. Sungguh aku sangat menyukainya.
"Apakah kakak.?" Batinku dalam hati
Ternyata si menyebalkan itu bisa berbuat hal hal manis semacam ini. Aku berbaring terlentang, menarik slimut hingga leher, mengucapkan selamat tidur untuk kakak dan Daniel.
"Selamat malam Kak, selamat malam Niel."
Petualangan di dunia mimpi akan dimulai..
.
.
NORMAL POV
"Aku menemukannya tuan." Ucap seseorang diseberang telepon
"Bagus, awasi terus pergerakannya."
"sepertinya jalan cerita ini akan semakin menarik." Balas laki-laki berambut ungu
"Apa maksudmu?"
"hm"
"jelaskan apa maksudmu?"
"lihat saja nanti, dan kau cukup awasi dia jangan sampai biarkan dia terluka."
"Heh? Apa aku tidak salah dengar? Dia musuhmu!"
"diamlah."
Ttutt..tutt…
Suara panggilan terputus begitu saja, terlihat laki-laki muda berambut merah sedang menyeruput cerutunya.
"Aku menemukanmu." Ucapnya dengan smirk andalannya
HAYO SIAPA DIA?
Sengaja sedikit dulu, nanti yang panjang di chapter berikutnya ya biar nyambung.
Sebagai gantinya ada bonus charpter judulnya ticket ..
