Ticket
Special Chapter..
Alur cerita berada pada saat SasuSaku masing anget.
Selamat membaca.
.
.
Netra itu mengerjap, menampilkan Onyx berbalut kelopak mata tanpa lipatan, terkesan tajam. Silau lampu membuatnya terusik, kemudian bangun menyeimbangkan tubuhnya.
Cukup tidak berbentuk, ia menatap cermin sendu.
Kejadian kemarin malam mampu memporak porandakan hati dan pikirannya. Berbohong bukan kepandaiannya, apalagi mengarang cerita.
"Bagaimana sekarang?"
Ia mengusap wajahnya kasar, pria itu gusar, perasaan yang tidak menentu menghantui dirinya.
"Pekerjaan dan Sakura keduanya sangat penting." Gumamnya pelan
Semalam sang adik tengah marah besar, melanggar janji karena pekerjaan sudah sering ia lakukan akhir-akhir ini, dan ia tidak ingin membuat bidadarinya marah lagi.
"Pembohong memang." Ucap Sakura semalam
"Tapi Saku, pekerjaan ini sangat penting dan kakak harus segera menyelesaikannya agar nanti bisa segera berlibur denganmu." Jelas yang lebih tua
Mengingat itu kepalanya berdenyut, wanita itu rumit. Masalahnya waktu Sasuke untuk memilih pilihan sulit itu hanya tersisa 2 jam.
Pintu kamar Sasuke terbuka, sang pemilik kamar menoleh, masih dengan muka kusutnya. Sakura berdiri di sana, baru bangun tidur juga masih mengenakan penutup mata yang tergantung di lehernya.
"Segera berangkat bekerja dan selesaikan urusanmu, jangan pedulikan tiket itu."
BLAMM..
Pintu tertutup begitu saja, Sasuke berjengit kaget, menyeramkan batinnya.
Tiket yang didapatkan dari sakura melakukan cooking competition menjadi hangus, tiket yang sudah Sakura dapatkan dari hasil usahanya menjadi sia-sia karena jadwal sialan sang kakak.
Gadis itu jujur hanya kesal, tidak bermaksud menghalangi pekerjaan Sasuke, namun sepertinya rasa kelas mendominasi segalanya.
Sasuke berjalan menyusul Sakura, rumah masih sepi diliriknya jam dinding ternyata masih jam 3 pagi. Sakura bangun sepagi ini untuk apa? Memarahi kakaknya saja?
Diraihnya kenop pintu, membuka perlahan tidak berniat membuat adiknya tambah marah. Ia menghampiri Sakura yang berbaring menyamping menghadap jendela, mata nya terpejam namun sepertinya ia hanya berpura-pura tidur.
"Kenapa kau belum tidur?" Sasuke turut masuk kedalam selimut, mendekap gadisnya dari belakang
Tidak ada jawaban
"Kau marah pada kakak?" sasuke menyelipkan anak rambut yang menutup wajah sakura
Sasuke gemas, pipi adiknya gembul saat disentuh terasa lembut dan empuk, ingin ia menggigitnya sekarang.
"Maaf, Saku jangan marah."
Sasuke mendekatkan wajahnya, menenggelamkan diceruk leher Sakura menyesap aroma peach kesukaannya. Tangan besar itu diselipkan ke bawah kepala yang lebih muda, memberikan kenyamanan di sana, sedangkan tangan lain merengkuh tubuh mungil dalam pelukannya.
"Masih tidak mau bicara?" gumam sasuke masih dengan posisi seperti itu
Sasuke merasakan cairan hangat mengalir mengenai tangannya, menautkan alis bingung, apakah adiknya menangis?
Ia mendongak, tangan yang tadi memdekap menuju wajah sakura menyeka mata gadis cantik itu.
"Hey, ada apa? Jangan menangis." panik
Dalam satu kali paksaan, sasuke berhasil mengubah posisi sakura menjadi menghadapnya. Benar saja jika sakura sedang menangis tanpa suara, matanya terpejam menolak melihat ekspresi sang kakak.
Sasuke mendekap hangat, mengelus pundak sakura menenangkan, sesekali mengecup kening gadis itu.
"Padahal kakak sudah mengosongkan jadwal kuliah, tetapi kantor memutuhkan kakak, maaf pasti kamu kesal karena kakak mengingkari lagi." Penyesalan datang
"Aku hargai usahamu sayang, tanpa kamu berbuat sejauh itu, asal gadisku selalu berada sisampingku itu sudah menunjukan semuanya." Terdengar begitu intens dan sangat tulus
Sasuke merasakan rematan pada piyamanya, dan pria itu semakin mengeratkan dekapannya menikmati setiap detik kebersamaan mereka.
"Maaf." Sakura membuka suara
Gadis itu sedikit memberi celah, mendongak ke atas menatap sang kakak. Rahang tegas, tatapan tajam, menenggelamkan sakura pada kubangan penuh dosa yang ia gali bersama sang kakak.
Sasuke tersenyum, membuat sakura tidak bisa menahan kekaguman atas ciptaan Tuhan. Tangan yang lebih kecil terulur menyusuri rahang tegas itu, memberikan sensasi geli atas empunya.
Cukup lama, mereka hanya menatap berbicara lewat mata masing-masing.
"Maaf" kalimat itu terucap lagi
Jari telunjuk milik sang tertua mendarat si bibir yang lebih muda,
"Stt…" Sasuke menggeleng, mencium adiknya singkat di bibir yang sudah bergetar menahan tangis
"Aku masih seperti anak kecil, aku hanya – "
"Sudah sakura." Sasuke mengisyaratkan untuk berhenti
"Aku hanya kecewa, aku kesal " Jelas Sakura
Sasuke merapatkan tubuh mereka, mengecup berkali-kali ujung kepala Sakura, nyaman batin sakura kala itu. Tangan mungilnya perlahan mendekap sasuke, membuatnya tersenyum.
Dua tiket ke Indonesia hilang begitu saja, padahal cukup komplit dengan segala fasilitas tambahan yang ditawarkan dari panitian kontes yang ia menangkan. Ia hanya ingin menunjukan kepada sang kakak jika ia juga begitu sangat memprioritaskan hubungan aneh mereka dengan cara mengikuti kontes memasak dengan hadian yang besar, sehingga mereka bisa berlibur seperti pasangan lainnya.
"Aku mengerti, jadi bagaimana aku menebus janji yang sudah aku batalkan?" ucapnya
"Tetap seperti ini."
"Heum? Tidak mau pergi?" Sasuke bingung
"Tidak usah direncanakan." Ucap Saskura, mengusapkan keningnya ke dada sasuke.
"Baiklah."
Cukup lama berpelukan seperti bayi, Sasuke cukup dibuat tenang dengan kondisi sakura sekarang. Tidak ada resah lagi, tidak ada rasa bersalah yang menggangunya saat bekerja nanti.
"Saku?"
"hm?"
"Tidak." Sasuke melepaskan pelukannya, mengubah posisinya mengahadap langit langit
Sakura heran, ada apa lagi, baru 10 menit mereka akur.
"Kak," Sakura bangkit,menindih tangan kiri kakaknya dengan kepalanya
Membuat lingkaran abstrak pada abs milik Sasuke, sudah lama rasanya mereka tidak bercengkerama diatas ranjang seperti ini. Sasuke memejamkan matanya, menikmati permainan sang adik.
"Ada masalah.?" Sakura memberikan pertanyaan lagi
"Tidak sayang, semuanya baik."
"Lalu, apa yang ingin kau katakana tadi.?" Sakura mengeucutkan bibirnya
"Hanya berharap bisa seperti ini selamanya." Sasuke jujur
"Bukankah kakak yang bilang untuk tidak memikirkan kemungkina-kemungkinan yang tidak baik.?"
"Heum, tapi kakak kepikiran."
"Apa yang kau takutkan?" Sakura menatap wajah Sasuke
"Kau pergi."
Sakura menahan tertawa, bagaimana bisa kakaknya menjadi mellow seperti ini. Seperti bukan sasuke saja.
"Iya aku akan pergi jauh meninggalkan kakak di sini sendirian." Sakura berucap pelan namun tegas
Pupil Sasuke membesar, matanya melebar, berbalik menindih Sakura. Korban dalam kungkungan tersangka hanya tertawa, menatap ekspresi panic yang menyenangkan.
"Pergi saja, aku akan selalu bisa menemukanmu." Smirk
Sakura bergidik ngeri, smirk yang selalu membuat sakura lebih baik lari daripada harus berurusan dengan manusia gila satu ini.
"Aku pergi jauh." Sakura menjulurkan lidahnya
"Coba"
"Baiklah." Sakura menyingkirkan tubuh kakaknya, mencoba bangun namun gagal
Sasuke mendorongnya kembali, memberikan ciuman, lumatan dan gigitan kecil pada bbir nakal sakura,
Kedua insan masih terikat darah terhanyut dalam ciuman panas itu, Sakura sudah mahir karena Sasuke mengajarinya langsung. Tanpa keduanya sadari, masing-masing dari mereka mengulum senyum.
"Aku mencintaimu."
"Akupun juga."
Menautkan kedua benda kenyal itu kembali, saling memberi rasa satu sama lain, sang dominan memimpin permainan, hingga berakhir dengan bercak diseluruh bagian tubuh atas Sakura.
Tenang saja, mereka belum pernah melakukan "itu" karena Sasuke sangat ingin menjaga sakura.
