Finger Crossed

Disclaimer : Naruto belong to ©Masashi Kishimoto

Storyline by Yukirin Shuu

Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke, and Othercast

Warning! AU/ShounenAi/Yaoi/OOC/Typo

I don't take any profit toward this creation

Please enjoy and read carefully

.

.


Chapter 2

Salju pertama sebagai saksi kedatangan mantan temanmu yang kini menjadi sosok musuh yang tak ingin kau jumpai. Perjalanan panjang bersama dua kawan lamamu terpaksa berhenti untuk meladeni sekelompok orang yang meminta pertanggungjawaban darimu.

Salah satu dari mereka melepas tudungnya, menunjukkan wajah pucat yang selama ini sangat setia pada sang pemuka agama.

Sai.

Kau tidak terkejut saat mengetahui itu, mungkin tebakanmu sebelumnya benar. Pemuda yang seumuran denganmu itu akan menjadi lawan yang tangguh untuk kau hadapi. Sudah sepuluh tahun ia mengabdikan hidupnya untuk gereja, lebih tepatnya pada pemuka agama busuk itu. Mungkin sebutan anjing pelayan lebih tepat untuk Sai menurutmu.

"Kau tak jauh berbeda dengan pecundang yang lari dari kenyataan hidup, Uzumaki Naruto."

"Tidak semudah itu kau bersembunyi dari Fireflies. Apa kau sempat meremehkan kami, Half-blood?"

Manik birumu melirik sinis sesaat menuruni sanggurdi kuda. Orang itu memang gemar memancing emosi orang lain. Bahkan senyum palsunya sudah terlalu membuatmu muak selama bekerja sama dengannya.

"Penjilat sepertimu tidak pernah memahami sesuatu dengan baik, benar begitu?" Sahutmu sedikit mengulas senyum tipis, memandang lurus pada mata hitam yang terlihat tak berjiwa beberapa meter dihadapanmu. Kau bisa melihat jelas Sai menggeram kesal mendengar ucapanmu.

"Dia bahkan terlihat seperti vampire dibanding pemburu makhluk itu." Gumam Sakura yang masih terdengar olehmu. Kau bahkan berharap Sai mendengar apa yang barusan Sakura ucap dan melihat reaksinya. Tanpa kau sempat berkedip, orang-orang berjubah putih itu melesat lari kearahmu. Kau mengarahkan crossbow yang kau genggam keatas, seolah tanda sebagai kau menyerah.

Salah satu wanita yang menjadi anak buah Sai sedikit mengernyit saat melihat gelagat musuh yang tidak biasa, begitu juga dengan Sai sendiri. Namun mereka tidak berniat menghentikan larinya barang sedikitpun.

"Sepertinya mereka tidak menangkap maksudmu, Naruto." Sahut Shikamaru datar.

Kau menghembuskan nafas pelan, menatap lurus langit putih yang menghujanimu dengan benda kecil yang dingin mengenai wajah. Mungkin menyerah bukan teman baikmu.

Tapi, apakah boleh?

Seketika kau langsung mengarahkan crossbow milikmu tepat pada sosok yang sudah berada dihadapanmu. Jemarimu menarik pelatuk yang langsung melesat jauh, mengarahkan anak panah besi tersebut untuk menembus tubuh Sai, namun gerak pemuda itu tak kalah cepat untuk menghindar. Bersamaan dengan itu, Shikamaru mengarahkan moncong revolver-nya pada hama pengganggu yang mengekori pemuda berkulit pucat itu. Menembakkan timah panas yang mengepulkan uap saat keluar ke setiap orang berjubah putih yang satu per satu tumbang karenanya.

Berbeda dengan pria nanas itu yang terkesan santai menghadapi musuh di depan mata tanpa beranjak dari tempatnya, Sakura pergi melesat jauh kearah wanita yang juga berlari kearahnya. Saat dirasanya wanita bersurai pirang pucat itu mendapatkan mangsanya, jemari putihnya mengarahkan Glock 20 tepat di depan manik hijau Sakura.

"Kena kau."

Alih-alih melumpuhkan lawan dengan desingan peluru yang melesat masuk ke dada, sosok Sakura seolah hilang dari hadapan wanita bersurai pirang pucat tersebut.

"Shion! Dibawahmu!"

Seakan waktu berjalan dengan lambat saat mendengar teriakan Sai, wanita bernama Shion tersebut menoleh ke bawah pandangannya.

"Kau yang kena, jalang!"

Tangan putih Sakura mengepal kuat, mengarahkan buku-buku jarinya yang terlihat keras dan kuat pada dagu wanita bersuara pirang tersebut, membuatnya terpental jauh dan mengerang keras. Belum sempat Sakura membalikkan tubuhnya, seseorang terlebih dahulu mengancam lehernya dengan pisau yang sangat menantang tajamnya.

Glup.

Bulir keringat mengalir samar di dahi Sakura. Wanita itu berusaha tersenyum kecut saat keadaannya berada diujung tanduk.

"Kau cukup tidak berguna diantara dua teman laki-lakimu itu."

.

Kaki jenjangmu terus berlari, mengabaikan dinginnya salju yang menusuk tulang. Bersamaan dirimu, sosok Sai seakan bagai Hyena yang terus memantau, siap menembakmu dengan senapan laras panjangnya yang mengarah padamu lewat sela bebatangan kanopi dalam pandangannya. Tanpa membuang waktu, kau menembakan grapple hook pada batang kanopi kearah dimana Sai berlari mengiringi. Benda itu menarikmu dengan cepat, membuat tubuhmu mendekati beberapa meter moncong senapan yang siap ditembak Sai. Seperti biasa, tindakan bodohmu akan selalu terlihat fatal. Peluru berkaliber 50 melesat tepat di depan mata biru jernih kepunyaanmu.

Detik jarum seakan tertahan oleh sesuatu yang berat, membuatnya tidak mampu menjalankan waktu. Gerakanmu yang malah mendekati kematian memang terkesan menyepelekan hidup, membuat Sai menyorot tajam dan menggeram kearahmu.

"Mati kau, pecundang!"

Hal selanjutnya adalah sesuatu yang mengejutkan darimu terjadi. Sai membelalakan matanya. Peluru yang merangkap sebagai malaikat mautmu pecah, menjadi percikan kecil yang tajam, dan hilang tertiup angin beku. Mata birumu seolah menjadi boomerang penghancur timah panas itu, mengarahkan tekanan yang kuat pada peluru hingga membuatnya hancur. Salah satu kemampuanmu yang selalu berhasil mengelabui musuh.

"Brengsek!"

Teriakan Sai yang langsung menarik pelatuknya kembali tanpa ragu membuatmu tak sempat menghindar. Satu peluru lolos mengenai pundakmu. Hanya luka lecet, tidak lebih. Kau menarik garis bibirmu, mengagumi kemampuan menembak Sai yang intens dan cermat sejak dulu, saat kalian masih berteman.

Ya, dulu.

"Daripada aku yang terlebih dahulu membunuhmu, kenapa kau tidak meminta ampun pada Tuhan bersama jemaat penipu itu, Sai!"

"Kau tidak pantas bicara seperti itu! Aku akan menyeretmu ke gereja, mengikatmu di altar, dan menghukum atas dosa sesatmu dihadapan Tuhan dan orang suci seperti kami! Camkan itu!"

"Menjijikan." Kau bergumam sesaat Sai menyelesaikan kalimatnya. Entahlah, orang suci mana yang bertindak kotor seperti itu, huh? Rasanya baru pertama kali dirimu mendengar hal menggelikan seperti itu dari mulut Sai, si penjilat.

Lelaki bersurai hitam tersebut berlari menuju kearahmu, hendak mengeluarkan sesuatu yang tersimpan dibalik jubah putihnya.

Sebuah pisau belati melayang menuju kearahmu yang tengah berlari. Kau melirik melewati ekor matamu, menyumpah serapahi pada situasi yang tiba-tiba menyudutimu. Sial, pintar sekali orang itu memutarbalikkan keadaan, batinmu jengkel.

Namun, sesuatu yang cepat bagai kilat membuat belati tersebut terlempar jauh. Sai yang melihatnya mendecih saat upayanya gagal begitu saja. Kau yang menyadari hal tersebut segera membalikkan tubuhmu. Sosok hitam menghalangi pandanganmu untuk melihat Sai.

"Beraninya menghalangiku, bajingan!" Teriak Sai bersamaan dirinya mengarahkan senapan laras panjangnya dan menembaki semua yang ada dihadapannya. Kau yang merasa terancam dengan cepat mengarahkan moncong crossbow pada pohon kanopi yang menjulang tinggi untuk menghindar, namun misimu gagal saat telapak tangan pucat memerangkap wajahmu yang membuat sekujur tubuhmu menegang, lalu gelap, tak sadarkan diri.

"Enyahlah, makhluk terkutuk!"

Sai dikejutkan oleh pelurunya yang seketika hangus, tak mencapai pada sosok hitam yang ia yakini sebagai musuh. Sosok hitam tersebut mengibaskan jubahnya, lenyap begitu saja tanpa jejak membawa Naruto entah kemana.

Lagi-lagi ia gagal. Hanya sedikit lagi pelurunya menghancurkan mata biru itu, jika saja, jika saja-

"ARGGHH SIALAN!"

Jika saja Uzumaki Naruto bukan seorang Half-Blood.

.

Kau melihat Sakura menyambutmu di depan pintu, begitu juga Shikamaru yang memandangmu malas. Saat kakimu berjalan mendekat kearah mereka, Sakura mengajakmu masuk ke flat-house tuanya yang memberi banyak kenangan bersamamu, juga pemuda nanas itu. Meja makan sederhana yang selama ini menjadi saksi antara dirimu dan dua orang teman lamamu itu tertata rapih bersama beberapa hidangan yang mengundang perut lapar.

"Naruto, kemana kau pergi!?"

Kau mengangkat kepalamu saat mendengar teriakan Sakura. Kau mengernyit bingung saat Sakura mengacak-acak rambutnya, menangis tidak karuan. Shikamaru berusaha untuk menenangkan wanita bersurai merah muda itu walaupun terlihat sia-sia.

"Dia hilang! Dia hilang!"

"Hentikan ucapanmu itu! Kita pasti menemukannya!"

Tes. Tes. Tes.

Helai bulu mata yang lebat terangkat, menampilkan iris mata sejernih langit musim panas yang tersimpan dibalik kelopak mata. Kau berusaha memfokuskan perhatianmu yang buram. Otakmu mencoba untuk mengingat-ingat apa yang telah terjadi saat perjalananmu bersama dua teman lamamu itu terganggu oleh Fireflies.

Kau mengangkat kepalamu, mengedarkan pandanganmu pada sekeliling ruangan yang begitu asing untukmu. Begitu sunyi, dingin. Ruangan serba putih yang di dominasi sedikit perabotan serba hitam. Hanya dua warna itu yang menyambutmu. Sampai matamu berhenti tepat pada sosok di depanmu. Duduk tenang pada single sofa seraya membaca buku.

"Bagaimana perasaanmu?"

Cukup membuatmu terkejut saat suara bariton menyapa indera pendengaranmu. Dia menyadariku, batinmu.

Iris onyx yang selalu membuat siapapun yang menatapnya merasa tersedot memandangmu lurus, angkuh bak penguasa.

"Sangat baik."

Suaramu sedikit tercekat saat menyadari kedua pergelangan tangan dan kakimu terikat borgol yang menyatu dengan kaki kursi. Sialan, umpatmu dalam hati. Matamu tak sengaja menangkap kilatan crossbow milikmu yang terletak di sebuah nakas meja tak jauh darimu.

"Jawabanmu tidak menunjukkan apa yang terlihat, Uzumaki Naruto." Sahut pria raven tersebut seraya menutup buku yang dibacanya. Mata elangnya tak teralihkan pada apapun, kecuali pada dirimu. Menikmati objek kuning yang berada dihadapannya. Kau mendengus kesal. Kedua alismu menukik tajam memperhatikan kakimu yang berusaha lepas dari lingkaran borgol itu. Lalu, kepalamu terangkat, membalas pandang pada Uchiha Sasuke.

"Apa aku pernah ada urusan denganmu!?" Sahutmu dengan nada suara meninggi. Bisa-bisa kau naik darah jika terus berada di tempat seperti ini. Sasuke beranjak dari kursinya, berjalan menuju nakas meja yang terletak senjata andalanmu disana. Urat di keningmu bermunculan saat pertanyaanmu terabaikan begitu saja.

"Brengsek! Kenapa kau diam, hah!?"

Jemari tangan pucat tersebut menyentuh crossbow. Manik hitamnya tak sengaja menangkap sebuah huruf yang terukir pada lapisan besinya.

Namikaze.

Sebuah marga yang sebanding dengan Uchiha. Marga yang menjadikan pemuda pirang tersebut sebagai sosok percampuran.

"Apa aku butuh alasan?"

Pria raven itu membalikkan tubuhnya, memandangmu tajam seraya berjalan mendekat kearahmu. Kau merutuki dirimu sendiri saat merasakan hawa mematikan yang menguar tiba-tiba datang, membuat perasaanmu sedikit lengah. Kau mencoba memandang sinis pada vampire yang telah menculikmu saat di tengah pertarungan dengan Sai.

Seketika sensasi dingin menyapa wajahmu. Tangan pucat itu mencengkram rahangmu dengan erat, cukup membuatmu merasa sakit saat ini. Manik birumu bertemu mata elang dengan jarak pandang yang sangat dekat. Seolah menyedot dirimu pada gelap yang tak berujung, sedangkan tanpa kau ketahui, Sasuke merasa terbuai akan jernihnya biru yang di saat bersamaan juga berbahaya.

"Alasan apapun itu, kau seharusnya tidak pernah lahir di dunia."

Raut wajahmu tidak berubah, namun binar putus asa pada mata birumu tidak akan pernah bisa membohongi diri sendiri.

Termasuk Uchiha Sasuke.

Kau melepas kungkungan dingin yang menyelimuti rahangmu dengan kasar. Sasuke menjauhkan dirinya, memandangmu sebentar, lalu pergi berlalu meninggalkan dirimu seorang. Bisa kau tangkap suara deritan daun pintu yang menutup.

Kau menggertakan gigi. Kalimat itu cukup menyakitkan hati. Pikiranmu mulai berkelana jauh, memunculkan sebuah perasaan yang membuatmu tidak nyaman. Padahal kau sudah berjuang sejauh ini dengan waktu yang sangat lama untuk menghilangkan perasaan sesak itu. Namun, Uchiha Sasuke dengan mudahnya membuka luka lama yang selama ini telah kau tutup.

"Apa aku seburuk itu, Sakura, Shikamaru?"

Kau mendengar suara gemuruh dari luar ruangan. Sepertinya akan ada badai salju.

Bagaimana keadaan Sakura dan Shikamaru? Apa mereka baik-baik saja? Dimana mereka sekarang?

Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di benakmu saat terlintas wajah dua teman lamamu itu. Kau takut, cemas, gelisah jika sesuatu terjadi pada mereka berdua. Hal yang pasti adalah mereka saat ini kebingungan mencari keberadaanmu.

Di lain tempat, sosok pria raven berjalan angkuh. Ada perasaan asing selama tiga ratus tahun hidupnya yang membuatnya merasa aneh, tidak biasa.

Tentang binar biru yang terlihat berbeda, alasan kenapa dirinya menculik sang Half-blood. Langkahnya terhenti saat sosok lain muncul dari pilar. Sosok yang memiliki wajah yang identik, hanya saja adanya kerutan pada wajah yang membedakan keduanya.

"Ingat, dia hanya sebagai umpan untuk para Namikaze. Jangan bertindak lebih!"

Sosok itu berlalu pergi, meninggalkan Sasuke yang berdiri mematung seorang diri. Tidak ada perubahan apapun pada mimik wajahnya. Mungkin pria itu juga tidak memperdulikan ucapan seseorang yang menjadi tangan kanan kepala Uchiha itu?

Entahlah, tidak ada yang tahu selain Uchiha Sasuke sendiri.

.

Kau terbangun saat merasakan sesuatu yang tertangkap oleh indera pendengaranmu. Masih dalam posisi yang sama, terikat dengan borgol yang membatasi pergerakan kakimu, dan juga leher.

Tunggu, borgol tanganmu terlepas?

"Tidak semudah itu kau melarikan diri hanya karena tanganmu bebas."

Kau menoleh kearah pria yang duduk menyamping di dekatmu. Kau bisa merasakan tatapan dingin yang menjadi ciri khas dirinya. Seorang pelayan wanita datang seraya mendorong trolley berisi hidangan makan malam. Dengan penuh tata krama meletakkan beberapa piring sajian yang terisi makanan kelas atas. Jujur perutmu memang sudah berteriak meminta makan, tapi tiba-tiba kau kembali mengingat Sakura, dan Shikmaru.

Apa mereka sudah makan?

"Tidurmu sudah terlalu nyenyak. Makan makananmu!"

Beriringan pelayan wanita itu keluar ruangan, suara bariton kembali menyapamu. Namun, tak kau hiraukan. Makanan itu pasti lezat, sangat malah. Tapi, kenapa tanganmu sangat sulit untuk menggapai batang sendok yang tertata rapih itu?

Sasuke memperhatikan setiap pergerakanmu. Mata elangnya tak pernah lolos untuk memandang dirimu. Jujur sebenarnya kau merasa amat risih diperlakukan seperti itu. Apa dia takut sanderanya kabur? Pengecut, batinmu dongkol.

"Usahamu sia-sia jika menjadikanku sebagai umpan untuk Namikaze memunculkan batang hidungnya."

Kau berbicara datar, menatap potongan daging yang tertusuk oleh garpu, lalu mulai menyantapnya. Kau tidak mendapat respon apapun dari pria raven tersebut, tidak aneh. Hanya saja tiba-tiba di otakmu terbesit sebuah alasan yang bodoh jika mengingat dirimu bahkan tidak pernah bertemu dengan Namikaze.

Bahkan seseorang yang menjadi ayahmu.

Pikiranmu kembali pada cara bagaimana kau bisa lepas dari tempat ini, lalu pergi mencari Sakura dan Shikamaru. Satu-satunya tempat jika kedua orang itu selamat dari kejaran Fireflies adalah Laksevag. Kau harus kesana secepat mungkin jika tidak ingin jejakmu kembali terendus.

Berpindah pada keadaan Shikamaru dan Sakura, saat musuh yang mereka hadapi tiba-tiba lengah mendapati Sai yang tak sadarkan diri, tanpa berpikir panjang Shikamaru melempar dua bola bom asap untuk melarikan diri. Bersama Sakura menunggang kuda dengan cepat, kondisi wanita itu tidak bisa dikatakan baik jika melihat pendarahan pada tangan, dan luka gores pada pelipisnya.

"Dimana Naruto?" Tanya Sakura parau karena pandangannya yang memburam.

"Seseorang membawanya. Hipotesaku hanya dua, Uchiha atau Namikaze jika mengingat keadaan si muka mayat itu jatuh tak sadarkan diri."

Yeah, sangat tidak mungkin jika Fireflies menculiknya di tengah pertarungan sengit bersama anjing pelayan Danzo.

Tiba-tiba saja Shikamaru mengingat percakapannya bersama pemuda pirang itu saat sebelum perjalanan. Pemuda nanas itu meraih kantung jerami yang tergantung pada pelana, menggali apa yang ada di dalamnya, dan mendapatkan sebuah gulungan kertas yang terlihat usang. Ia membukanya. Kegiatannya itu tak luput dari pandangan Sakura yang duduk dibelakangnya.

"Shikamaru, jika terjadi sesuatu padaku atau kita saat perjalanan nanti, pergilah ke Laksevag sesuai peta yang kusimpan di pelana kudamu."

"Jika pun ucapanku benar adanya, pastinya keadaan kita bertiga akan baik-baik saja. Aku jamin itu."

Shikamaru mendesah kesal saat keadaan yang terjadi sesuai dengan perkataan orang bodoh itu.

"Kita harus pergi ke Laksevag, lalu meyelamatkan Naruto." Tegas Shikamaru seraya memandang lurus ke depan. Pemuda nanas itu memacu tunggangan kudanya dengan cepat, melawan angin beku yang menusuk tulang.

"Aku harap dia baik-baik saja. Semoga." Sahut Sakura membayangkan wajah seseorang yang dimatanya selalu bertindak ceroboh, tapi ia selalu menyayanginya.

"Kita harus percaya padanya."

.

Setelah berjam-jam lamanya menunggang kuda menuju Laksevag, pemandangan atap rumah penduduk menyambut kedua orang berbeda gender itu dari hutan. Wilayah itu terlihat tertutupi oleh lapisan-lapisan salju yang menebal, begitu juga air laut yang membeku.

Shikamaru menuruni dirinya, sedangkan Sakura tetap berada di atas kuda. Luka lecetnya pada pelipis terlihat mengering dari sebelumnya, dan pendarahan pada tangannya telah ia ikat menggunakan kain.

Saat menapaki jalanan setapak menuju kota, beberapa orang juga terlihat melintas melawan arah seraya membawa pedati. Mereka rata-rata orang yang terlihat berumur atau lanjut usia.

Memasuki kota, mereka disambut oleh jajaran pedagang yang padat melakukan transaksi bersama pembeli. Lalu, toko-toko dengan bangunan tua yang terlihat mengelupas pada bagian catnya.

"Sepertinya kita butuh persediaan makanan dan air, bukan begitu?" Sahutan Sakura dibalas anggukan kepala dari Shikamaru. Tak menghabiskan waktu banyak, kuda sudah terpenuhi oleh beberapa kantung jerami berisi makanan setelah sebelumnya mereka berhenti di beberapa tempat.

Saat Shikamaru hendak berjalan menggiring kuda, seseorang tak sengaja menabrak pundaknya cukup keras.

"Hey!"

"Ah! Maafkan aku! Maafkan aku!"

Seorang wanita yang sedikit pendek darinya membungkukkan tubuhnya beberapa kali. Surai pirangnya yang panjang menutupi sebagian wajah putihnya. Terlihat aneh, namun tidak membohongi wajah cantiknya.

"Apa kalian pendatang baru?"

Pertanyaan wanita asing itu dibalas oleh tatapan saling pandang Shikamaru dengan Sakura.

"Ya, kami pendatang baru." Ujar Sakura tanpa mengalihkan perhatiannya pada wanita blonde tersebut.

"Perkenalkan, namaku Ino."

Shikamaru mau tak mau membalas jabatan tangan wanita tersebut yang menggantung di udara.

"Shikamaru. Dia Sakura."

Shikamaru terkejut saat merasakan telapak tangan tersebut bak batu es tak mencair, dingin. Pemuda nanas itu tanpa berniat berlama-lama langsung melepasnya. Tentunya Sakura menyadari hal aneh itu di matanya.

"A-ah, baiklah kalau begitu. Selamat menikmati harimu!"

Sepeninggal wanita bernama Ino itu, Shikamaru kembali melanjutkan giringan kudanya.

"Ada apa?" Tanya Sakura penasaran saat merasakan kejanggalan.

"Dia vampire."

Jawaban datar Shikamaru membuat Sakura berdeham pelan membersihkan kerongkongannya. Cukup terkejut hal pertama yang ditemui adalah makhluk penghisap darah.

Keduanya kembali hening. Sakura sibuk memperhatikan setiap lalu lalang orang di saat salju tebal turun. Pakaian yang berlapis-lapis menutupi hampir setiap orang yang beraktivitas di luar ruangan. Tawaan sekelompok pria paruh baya menyita perhatiannya. Belum lagi seorang anak kecil yang merengek meminta sesuatu pada ibunya. Cukup membuat wanita bersurai merah muda itu tersenyum tipis.

"Bagaimana?" Tanya Sakura sesaat setelah mengalihkan perhatiannya pada Shikamaru yang tengah membaca alamat dari peta di tangannya.

"Tinggal melewati tiga blok bangunan tua itu." Sahut Shikamaru tanpa ekspresi. Mata kuacinya masih dengan cermat membaca apa yang tertuang pada peta lusuh itu.

Setelah beberapa menit, mereka berhenti tepat di depan bangunan sederhana dengan halaman yang cukup besar. Sakura berdecak kagum saat melihat lahan kosong yang tertutup salju itu. Pasti akan sangat bagus untuk bercocok tanam nanti, pikirnya takjub.

"Pintar juga dia memilih rumah." Ujar Shikamaru terkesan sinis dibalik pujiannya.

Pemuda nanas itu membuka pagar kayu yang rendah, disusul Sakura memasuki halaman. Ia mengikatkan tali kudanya pada tiang penopang atap, sedangkan Sakura berusaha mencari kunci untuk memasuki rumah. Wanita itu menghampiri kain tebal yang tertutup salju di depan pintu yang ia yakini sebagai alas lantai. Tangannya yang dilapisi sarung tangan terus mengeruk, memindahkan tumpukan salju tersebut, lalu mengangkat alas lantai tersebut yang menyembunyikan sebuah kunci.

"Dapat!" Gumamnya riang.

Tanpa menunggu lebih lama, Sakura memasukkannya pada lubang kunci, memutarnya beberapa kali hingga mendengar suara 'krek'.

Dibanding flat-house milik peninggalan orang tuanya, ruangan baru ini cukup memadai menurut Sakura. Ia tidak menyangkalnya. Perapian yang terletak di sudut ruangan bersama dua buah single sofa yang terlihat nyaman, dan satu meja rendah. Dapur yang dibatasi oleh sekat pemisah ruang tamu, serta dua kamar pribadi dan satu kamar tamu yang masing-masing mempunyai kamar bilas.

"Dengan begini akan lebih mudah membagi tugas membersihkan rumah." Sahut Sakura yang dibalas gumaman 'membosankan' dari Shikamaru.

"Nah, ayo kita pikirkan rencana penyelamatan Naruto!"

"Heh, itu kalimatku!"

.

"Ino!"

Merasa suara yang sangat dikenalnya memanggil dirinya, wanita bersurai pirang tersebut langsung menghentikan langkahnya. Ino membalikkan tubuhnya dan melihat sosok pria yang menatapnya tajam mendekatinya.

"Darimana saja kau?"

Suara berat yang keluar dari pria bersurai jingga kemerahan itu membuat Ino tersenyum salah tingkah ditempat. Wanita itu menunjukkan sebuah kantung kertas yang berisi susunan tangkai bunga, cukup menjawab pertanyaan dari pria bermata tajam itu.

"Kenapa tidak menyuruh pelayan? Minato memanggilmu." Ucapan Kyuubi justru membuat Ino mematung di tempat. Dengan tergesa-gesa ia langsung meninggalkan Kyuubi bersama kantung bunga miliknya begitu saja.

"Dasar wanita itu!"

Lain cerita jika itu sudah menyangkut pamannya. Tidak. Lebih tepatnya kepala Namikaze yang sudah memanggilnya. Pasti ada sesuatu, batin Ino mulai menebak-nebak apa yang akan dibicarakannya.

Baru saja ia sampai di pekarangan kawasan mansion Namikaze, berjalan tanpa menggunakan kuda atau pendamping pelayan. Mengunjungi hiruk pikuk pasar untuk datang ke toko bunga yang digemarinya, lalu bertemu dengan pendatang baru yang sepertinya sepasang kekasih? Atau teman, entahlah.

Dan langsung mendapat panggilan saat kembali, menggagalkan rencana merangkai bunganya yang akan ia lakukan. Oh!

Ino berdiri tepat dihadapan pintu berukiran rumit yang tingginya lima kali lipat dari tinggi dirinya. Saat mendapat izin masuk, pintu terbuka dari dalam oleh pria bermasker, Hatake Kakashi.

"Ino, kudengar ada penduduk baru di kota."

Suara yang terdengar tanpa basa-basi langsung menyambut wanita bersurai pirang itu setelah masuk. Dilihatnya Namikaze Minato duduk tenang pada sofa ruangan miliknya. Kepalanya sibuk menekuri objek bacanya yang berada di genggaman tangan.

"Y-ya, benar. Aku bertemu dengan mereka saat selesai dari toko bunga." Respon Ino menanggapi perkataan Minato.

"Oh ya? Mereka? Kupikir hanya satu orang." Kali ini Minato mengangkat kepalanya, memandang langsung pada manik aquamarine dihadapannya. Ino yang mendapati hal itu tersenyum kikuk seraya mengalihkan perhatian.

"Seorang pemuda dan wanita. Sepertinya mereka sepasang kekasih atau teman."

Minato hanya bergumam pelan menanggapi seraya berpikir.

"Selidiki mereka."

.

Semenjak tiga puluh menit yang lalu, ruangan ini hanya ada dirimu, seorang diri bersama dentingan jarum jam peti panjang. Posisimu masih sama. Duduk terikat borgol di tengah ruangan. Belum ada tanda-tanda kedatangan seseorang ke dalam ruangan. Apa kau mengharapkan hal itu?

Kau mencoba untuk berdiri. Sulit memang untuk berjalan dengan kursi yang menempel pada bagian belakang tubuhmu. Tujuanmu adalah crossbow. Sedikit lagi, sedikit lagi tubuhmu mencapai gagang senjata itu yang terayun di tepi nakas meja. Jemarimu dengan sekuat tenaga melawan cengkraman borgol yang menahan kulit tanganmu, menimbulkan rasa sakit.

"Dapat!"

Kau tersenyum kecil saat tangkai crossbow sudah berada di genggamanmu. Sedikit lagi, kau akan mengarahkan moncong senjata itu pada rantai yang mengikatmu dengan kaki kursi, lalu kabur dari ruangan-

BRAKK

menjijikan ini. Kau terkejut, nyaris terjungkal ke belakang jika saja tubuhmu tidak memiliki reflek yang bagus. Kau membelalakan mata saat melihat sosok itu berjalan angkuh kearahmu. Seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen, mungkin itulah kondisi yang menggambarkanmu saat ini.

Pria raven itu dengan gerak cepat yang bahkan tak tertangkap oleh matamu merebut senjata milikmu, melemparnya begitu saja menabrak dinding hingga menyebabkan patahan kecil yang putus pada sayapnya.

Kau teriak tertahan melihat hal yang lebih menyeramkan dari mayat-mayat yang pernah kau bunuh. Senjata itu, perhiasanmu yang paling berharga selama kau hidup.

"Kau merusaknya, KAU MERUSAKNYA!"

Kau meraung keras. Manik birumu memandang keji pada sorot hitam yang menatapmu dingin, tajam. Uchiha Sasuke, vampire brengsek yang selalu menjadi penghalang rencanamu, hidupmu.

Suara kekehan yang mencekam menghampiri indera pendengaranmu. Entah kenapa bulu kudukmu berdiri seketika. Kau berusaha mengumpulkan kekuatanmu, berusaha menyeret kursi sialan ini untuk mendekat kearah senjatamu yang tidak bisa dibilang baik-baik saja.

Kau membayangkan kembali betapa kencang dan kuatnya lemparan itu hingga mampu merusak crossbow besi dan berat itu.

"Berani sekali kau berpikir untuk melarikan diri!"

Kau masih bergeming, tidak memperdulikan apa yang Uchiha Sasuke ucapkan.

"Darah manusiamu itulah yang membuat perilakumu tidak rasional, kotor!"

Sampai kalimat kedua yang terucap dari bibir pria stoic itu, kau sudah tidak bisa menahan dirimu lagi. Rantai yang menghubungkan borgol pada kaki kursi lepas, menimbulkan patahan rantai yang membala di atas lantai. Yeah, energimu terasa memuncak saat mendengar kalimat yang begitu memukul hati dan lama-lama memuakkan.

Kau berlari kearah Sasuke, menerjang pria raven itu hingga jatuh dengan posisi dirimu yang menduduki perutnya. Kau melayangkan beberapa pukulan pada pipi pucat nan dingin itu.

Tidak ada respon, diam bak mayat hidup, sedangkan dirimu terengah-engah, memandang nanar pada objek yang baru saja kau pukuli beberapa kali.

Sampai sebuah tetes air mata lolos dari manik birumu, jatuh menuruni pipi pucat yang langsung menoleh kearahmu. Tapi kau langsung bangkit, tidak memperdulikan air mata yang menjadi kelemahanmu diketahui oleh musuh. Kau berjalan cepat meraih crossbow milikmu yang teronggok setengah hancur, menarik jubahmu yang tersampir pada kursi, dan berlari cepat menghilang dibalik deritan daun pintu, meninggalkan sosok jangkung yang masih terlentang diam tanpa bergerak.

"Berbahaya."

Uchiha Sasuke. Pria bangsawan yang menyandang sebuah marga Uchiha dibelakang namanya. Sebuah marga yang terkenal akan keangkuhan orang-orangnya, arogansi yang kuat, serta agresivitas yang mengalir di dalamnya.

Hari ini dimana ketika mata hitamnya terpaku, seolah tersedot pada sesuatu yang menerangkan hingga dirinya tidak mampu untuk melihat. Tidak pernah merasakan suatu rasa selain dingin nan suram, hingga benda cair yang jatuh di wajahnya seolah mencairkan es yang tidak akan pernah mencair.

Perasaan tidak berlaku pada dirinya. Ia makhluk abadi, dan tak akan pernah merasakan sebuah ancaman baik dimana pun itu.

Namun, anomali menghampiri dirinya. Sesuatu yang aneh, tidak biasa, dan ia akan selalu menganggap itu adalah hal yang rendah.

Tapi kenapa bibirnya tidak bisa menyangkal?

Sesuatu apa yang telah menahannya untuk tidak berpikir seperti itu?

Ia terkekeh pelan. Menertawakan bagaimana dirinya yang telah jatuh, dan akan sulit melepasnya.

Ia bangkit berdiri, memandang kursi yang sebelumnya mengikat objek tahanannya. Mata elangnya menangkap sesuatu yang menariknya untuk mengambilnya yang tergeletak diatas kursi tersebut.

Sebuah liontin berbentuk prisma memancarkan kilat birunya. Tak perlu berpikir siapa pemilik dari benda yang digenggamnya. Ia tersenyum sinis. Telapak tangannya mengepal, meremukkan benda yang bernilai tersebut seketika, menjadikan serbuk kecil bagai pasir yang berjatuhan ke lantai.

"Lihat, bagaimana caramu melarikan diri dari kastil ini."

Langkah kakimu terus berlari, tidak sedikitpun kau berniat memperlambatnya, membawamu ke setiap koridor yang luas dan panjang bagai labirin, tidak berujung. Perasaan khawatir mulai menyelimuti relung hatimu. Apa mereka menggunakan sihir?, batinmu saat tidak menemukan barang satupun sebuah pintu keluar. Kau mengerang saat kembali menemukan lorong panjang yang terlihat tidak pasti, suram.

Kaki jenjangmu menghentikan derap langkah. Berdiri seorang diri bersama hamparan kaca yang melapisi keberadaan dirimu sebagai pemisah dengan pemandangan hutan malam bersalju. Manik birumu menyorot pada sinar bulan yang memantulkan cahaya, menunjukkan seluruh bagian bulatnya secara utuh pada malam.

Kau menyadarinya. Hal yang sangat tabu untuk diingat oleh umat manusia jika sudah melihat bulan purnama sempurna. Pasti orang-orang gereja itu sudah terpampang berdiri di setiap sudut bangunan yang sudah kau bakar itu bersama sang pemuka agama Danzo. Entah sudah seperti apa bangunan yang kau bakar itu terlihat untuk terakhir kalinya. Mungkin Fireflies telah merombaknya kembali. Kau kembali menebak orang-orang berjubah putih itu sudah sigap membawa obor api, sebagai tanda penolakan dan perlawanan pada vampire yang mungkin akan berdatangan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Aliran darah segar dari urat nadi, apalagi selain benda merah pekat itu?

Sekat-sekat kaca itu seolah terhantam oleh sesuatu yang berat nan besar, pecah hancur menciptakan serpihan kaca yang amat banyak dan kecil berterbangan di udara, lalu jatuh menimbulkan suara pecah mengenai lantai. Kau tidak bereaksi, terlalu tiba-tiba untuk mengalami dan mencerna peristiwa yang begitu membingungkan, mengejutkan.

Kembali kau dikejutkan oleh banyak hal. Perasaan yang membuat degup jantungmu terasa tertohok, merambat ke seluruh inci tubuhmu. Tiba-tiba saja kakimu melayang, lalu tertarik oleh gravitasi kuat yang seolah sudah diatur sebagai rantai kokoh di belakang punggungmu. Kau tertarik mundur, melewatkan setiap lorong koridor yang kini terlihat mundur, melawan arah bak kertas film yang memggulir cepat, tak terarah. Terlalu cepat, hingga kau tak sempat melihat dan berpikir.

Sampai kau kembali pada ruangan sebelumnya yang memuakkan, disana masih ada sosok Uchiha Sasuke yang berdiri angkuh, menantang. Tarikan gravitasi itu membawamu masuk pada peti mati yang siap dikremasi.

Kau tersentak tidur dalam peti, terselimuti oleh kain putih. Seolah sesuatu menahan tubuhmu untuk bergerak, mencoba melakukan perlawanan. Pandanganmu terlihat kabur, menyusul gelap yang mulai merambat menutupi arah pandang matamu. Bersamaan dengan gelap, sosok jangkung mendekatimu, mengeliminasi jarak pandangnya pada wajahmu.

Adalah hal yang membuat Uchiha Sasuke tersenyum penuh kemenangan ketika kemampuan dominasinya mampu melemahkan musuh. Ya, untuk pertama kali. Selama tiga ratus tahun hidupnya, bibir pucat miliknya menarik garis keatas, melukiskan sebuah gurat senyum pada targetnya.

Sang Half-blood.

Suara tawaan kecil menyapa ruangan tersebut. Suara yang begitu berat, namun suram, terkesan sinis. Tak perlu bertanya siapa orang itu.

"Naif sekali. Setelah bercengkrama dengan gereja, kini kau bersembunyi dibalik peti musuh."

Jemari pucatnya menelusuri lekuk wajahmu yang tengah diam, tak sadarkan diri. Pergerakannya berhenti pada dua daging kenyal yang menyita perhatiannya.

"Namikaze pasti akan datang mencarimu. Setelah itu, akan kubuat takluk kau di kedua kakiku, Half-blood."

Angin malam berhembus kencang, membuat kaca jendela yang tertutup terbuka paksa melawan arus bersama juntaian tirai yang bergantung terbang tertiup angin. Dingin mulai menyapa ruangan, namun tidak bereaksi pada pria raven tersebut. Mata elang yang sebelumnya menunjukkan hitam kelamnya, kini memudar menjadikan merahnya darah, memandang sinar rembulan yang lurus menyampaikan cahayanya.

Lalu, manik matanya kembali berpusat pada pemuda bersurai pirang yang tengah pingsan bak mayat, begitu kaku. Tanpa berpikir panjang ia menutupnya, menghilangkan pemandangan yang memanjakan matanya sebagai seorang vampire dibalik peti mati tersebut.

Langkah kakinya yang panjang berderap menimbulkan suara gesekan sepatu dengan marmer, meninggalkan derit pintu yang tertutup.

.

PRANG

Wanita bersurai merah muda itu terkejut saat menyadari dirinya melakukan kesalahan. Mungkin karena terlalu kelelahan mengingat ia langsung merapihkan barang di rumah baru itu. Belum lagi Sakura memiliki luka pada tangannya yang saat ini sudah terasa lebih baik, namun tetap saja mengkhawatirkan. Perjalanan yang panjang, melawan kelompok orang gereja dan segala tetek bengeknya membuat istirahatnya terabaikan begitu saja.

Dengan cermat Sakura mengambil serpihan cangkir tersebut yang berceceran, lalu membuangnya. Wanita itu mendesah pelan, mengusap wajahnya dengan penuh penghayatan. Banyak yang dipikirkannya hari ini, dan semua itu mengenai pemuda pirang temannya.

Sakura menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga, duduk di kursi dapur seorang diri. Shikamaru saat ini sedang sibuk memotong kayu untuk persediaan perapiannya di halaman rumah. Tidak mungkin Sakura memotong kegiatannya hanya untuk sekedar berbicara, membantu pun hanya menambah beban pekerjaan pria rusa itu.

Ia dan Shikamaru memang sudah menetapkan waktunya untuk mencari Naruto. Esok lusa adalah hari yang tepat. Mereka butuh satu hari untuk mengistirahatkan tubuh, dan mengumpulkan persediaan senjata jenis apapun itu, serta makanan. Besok, pemuda nanas itu yang akan mencarikannya senjata yang cocok.

Sakura bangkit dari duduknya. Wanita itu berniat membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Manik emeraldnya sekilas melirik seseorang yang berdiri membelakanginya di halaman rumah, lalu wanita itu melenggang pergi.

Mereka sama-sama terkejut, gelisah, panik, dan banyak perasaan bercampur aduk yang memenuhi hati sejak hari ini, dan kedepannya. Sakura hanya ingin berkumpul bersama, di meja makan dengan celotehan ria yang memenuhi ruangan. Tiada kehangatan yang bisa menyaingi hal tersebut.

Keesokan harinya, Sakura terbangun seperti biasa. Hanya saja wanita itu telat beberapa menit dari jam bangunnya. Mungkin karena efek kelelahan. Setelah melakukan ritual paginya, wanita itu membuka pintu kamarnya, berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan seraya menggelung helai rambutnya. Tidak sengaja Shikamaru berjalan melewatinya dengan pakaian yang siap untuk pergi berjelajah.

"Mau kemana?"

Sakura mengernyit heran. Sepertinya pemuda nanas itu bangun lebih awal dari biasanya.

"Pasar yang kemarin."

Sakura ber-oh ria mendengar jawaban singkat itu. Namun, saat Shikamaru hendak melanjutkan langkahnya, ia kembali mencegahnya.

"Sudah sarapan?" Tanya Sakura sambil memandang lekat Shikamaru.

"Selembar roti dan susu. Aku juga membuat lebih di meja." Sahut Shikamaru seraya melirik kearah dapur. Pria rusa itu langsung bergegas tanpa membuang waktu untuk pergi.

Sakura tersenyum kecil saat mendapati jawaban yang membuat paginya terasa ringan. Wanita itu mendengus pelan melihat dua helai roti dioles selai kacang dan segelas susu. Sesuatu apa yang merasuki Shikamaru?, pikir Sakura pagi itu.

Wanita itu mengambil posisi duduknya, meraih selembar roti yang harum itu. Saat manik matanya melirik sisa helai roti yang masih tergeletak di piring, ia tersenyum kecut.

"Pasti kau meledeknya habis-habisan melihat Shikamaru di luar sifatnya seperti ini, benar 'kan Naruto?"

Berpindah pada sosok pemuda bermata kuaci itu, dirinya memacu kudanya dengan kecepatan rendah. Hanya butuh sepuluh menit untuk sampai pada hiruk pikuknya keadaan pasar di pagi hari. Matanya tidak sulit untuk menemukan tempat yang terlihat paling kusam diantara bangunan lain.

Sebuah toko yang menjual berbagai peralatan militer sederhana, namun cukup ampuh. Kemarin Shikamaru tak sengaja menangkap tempat tersebut yang terlihat sepi pengunjung, mungkin hanya ada beberapa orang. Selain senjata, barang-barang antik juga terpajang rapih di etalase toko tersebut. Mungkin untuk dijual serta, atau sebagai barang koleksi.

Shikamaru menghentikan pacuan kudanya, turun dari sanggurdi, dan mengikat tali kuda pada kayu yang tertanam di depan toko. Pemuda nanas itu melangkahkan kakinya untuk memasuki tempat yang ditujunya, sesekali mata kuacinya memperhatikan setiap detail orang dan tempat tersebut.

Sekitar menghabiskan waktu satu jam lebih, Shikamaru dengan raut bosannya keluar dari tempat tersebut. Mulai dari ocehan sang penjual yang menurutnya merusak telinga, dan dirinya harus dengan cermat memikirkan apa yang dibutuhkannya nanti. Ia lalui semua itu. Sebelah tangannya membawa karung goni yang terisi penuh dengan apa yang dibelinya.

Sesaat dirinya keluar bersamaan tertutupnya pintu toko, bahunya tak sengaja menabrak seseorang yang tingginya lebih sedikit diatasnya. Sontak Shikamaru menoleh kearah sosok tersebut. Cukup terkejut saat yang di dapatinya adalah sepasang mata beriris ruby menyorotnya tajam. Shikamaru mengernyit heran melihat orang tersebut langsung melenggang pergi begitu saja.

"Apa orang-orang disini gemar menabrak pundak orang lain?" Gumam Shikamaru, lebih kepada dirinya sendiri.

"Kau berbicara dengan siapa?"

Lagi-lagi Shikamaru dikejutkan oleh suara perempuan yang terdengar familiar di telinganya. Ia menoleh, dan mendapati sosok wanita bersurai pirang berdiri di dekatnya seraya tersenyum. Ah, wanita yang bernama Ino itu 'kah?

"Oh, hey." Ujar Shikamaru, terkesan tak acuh memang.

"Sedang apa?"

Pertanyaan Ino kembali membuat Shikamaru menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Cukup menghambat urusannya memang, tapi apa boleh buat?

"Membeli beberapa kebutuhan untuk berlatih." Sahut Shikamaru sekenanya.

Pemuda nanas itu melangkahkan kakinya menuju tempat dimana kudanya berada, mengikatkan karung goni yang ia bawa pada pelana kuda. Hal tersebut tak luput dari Ino yang mengikutinya seraya memperhatikan.

"Boleh aku berkunjung malam ini? Kau tahu, sebagai pendatang baru, dan kita berteman. Aku ingin memberi masakan buatanku."

Shikamaru menegakkan tubuhnya. Mata kuacinya melirik wanita bersurai pirang tersebut yang terus memandanginya dengan binar harap. Diam-diam pemuda nanas itu menghembuskan napasnya berat. Sedikit tak rela, Shikamaru mengiyakan permintaan orang baru tersebut dengan gumaman miliknya. Tentu saja hal itu membuat Ino menyunggingkan senyum manis seraya mengucapkan terima kasih berkali-kali, hingga wanita itu pergi dari hadapannya. Jika sudah seperti ini, ia harus segera membuat strategi bersama Sakura agar rencananya tidak terendus orang asing sebagai penduduk baru.

Malam harinya, suara ketukan pintu membuat Sakura menoleh, dan melenggang pergi untuk melihat siapa gerangan. Sebenarnya wanita itu sudah dapat menebaknya mengingat perkataan Shikamaru saat setelah pria rusa itu datang membawa perlengkapan senjata. Dilihatnya wanita berkulit pucat berdiri tepat dibalik pintu seraya memeluk keranjang makanan sesaat setelah Sakura membukanya.

"Hai!"

Sakura yang diberi sapaan akrab dari Ino membalasnya dengan senyum kaku. Ia melambai tangannya sekilas sebagai respon yang menurutnya wajar pada Ino. Jujur wanita itu cukup shock saat mendengar ucapan Shikamaru jika malam ini akan kedatangan tamu. Terlebih jika mengingat orang yang akan bertamu tidak biasa.

Seorang vampire wanita maksudnya.

Sakura membuka daun pintu lebih lebar, disusul oleh Ino yang berjalan mengekorinya, menuju ruang tamu. Ino duduk pada single sofa yang tidak jauh dari perapian seraya mengamati setiap sudut ruangan.

"Rumah yang bagus." Puji Ino tanpa sadar.

"A-ah, terima kasih!" Sahut Sakura sambil tersenyum senang mendengar ucapan wanita baru itu. Mungkin tidak seperti apa yang ia bayangkan terhadap keseluruhan vampire itu seperti apa. Firasatnya mengatakan jika Ino berada di pihak aman.

Entahlah.

"Oh yeah, aku membawa kue kering untuk kalian. Baru saja tadi sore aku membuatnya, dan ada insiden kecil di dapur." Kata Ino seraya mengutipkan kedua jarinya.

"Kuharap kalian menyukainya!" Sambung Ino disusul suara tawaan yang terkikik. Sakura yang melihatnya ikut tertawa kecil.

"Oh! Kau ingin teh atau cokelat panas?" Tanya Sakura saat mengingat apa yang harus pertama kali ia lakukan jika kedatangan seorang tamu.

"Maaf, kami hanya punya dua itu." Ujar Sakura kembali dengan raut wajah sedikit tidak enak, sedangkan Ino hanya menanggapinya dengan wajah ramah.

"Tak masalah. Aku pilih teh." Sahut Ino dengan senang hati.

Tak menghabiskan waktu banyak, Sakura kembali bersama nampan berisi cerek dan beberapa cangkir. Ia menuangkannya dengan pelan, menyambutnya dengan kepulan uap panas. Ino mengucapkan terima kasih setelah Sakura menyelesaikan tugasnya.

"Aku tidak melihat batang hidung kekasihmu." Ujar Ino menelusuri setiap sudut ruangan seraya menyeruput tehnya. Hal itu membuat Sakura terkejut saat menangkap apa? Kekasih? Maksudnya Shikamaru yang Ino ucapkan. Tapi barusan telinganya tidak salah dengar 'kan?

Sakura tertawa hambar, terkesan memaksa. Wanita itu menggaruk kulit pipinya yang tidak gatal, seraya memandang Ino maklum.

"Shikamaru bukan kekasih. Kami teman kecil. Sebenarnya kami bertiga, hanya saja ada insiden yang membuat kami terpisah sementara." Entah kenapa nada Sakura di akhir kalimat terasa sendu. Manik emerald miliknya memandang pada jilatan api yang menghangatkan tubuhnya. Matanya memang melihat kearah sana, namun pikirannya berkelana jauh. Sakura akui jika dirinya sangat merindukan orang bodoh itu.

Semua yang ada di depannya tak luput dari perhatian Ino. Cerita Sakura malah membuat Ino terpancing untuk lebih menggali semua informasi dari orang baru itu. Namun, seorang pemuda yang berjalan melewatinya mengalihkan pikirannya.

"Oh, kau datang."

Shikamaru memang sedang sibuk berkutat dengan pemikirannya di kamar. Jika saja Sakura tadi tidak ke kamarnya untuk menyusul ke ruang tamu, pria nanas itu mungkin sudah bergelung di balik selimut mengistirahatkan tubuhnya.

Ino balas menyapanya. Dilihatnya Shikamaru ikut menyusul duduk seraya menyandarkan punggungnya pada sofa. Pemuda itu menguap ringan, lalu meraih cangkir teh yang terpampang manis di depannya. Hal itu membuat Sakura memandang sinis melihat gelagat Shikamaru yang tidak menunjukkan etika menurutnya. Ino tersenyum maklum saat menyadari komunikasi batin yang terjadi pada Sakura dan Shikamaru. Bukan apa-apa, hanya saja Sakura khawatir mengingat siapa yang bertamu malam ini. Mungkin saja kepala nanas akan dengan mudah lepas dari lehernya.

"Oh ya, kau bilang tadi bertiga? Kemana dia?"

Pertanyaan Ino membuat Sakura mati rasa di tempat, sedangkan Shikamaru yang mengerti kemana arah pembicaraannya memandang Sakura penuh arti. Wanita bersurai merah muda itu berdeham pelan, duduk tak jauh dari Ino seraya menyelipkan anak rambutnya.

"Namanya Naruto. Pemuda bodoh yang selalu merepotkan, dan ceroboh."

Sakura menatap setia pada perapian yang terlihat lebih layak dibanding saat di flatnya dulu. Namun, suara itu bukan berasal darinya. Entah sesuatu apa yang membuat Shikamaru buka mulut mengenai teman pirangnya itu. Kemungkinannya ada dua. Sahabat rusanya itu tidak mungkin asal bicara jika tidak merencanakan sesuatu dengan matang di baliknya atau strategi umpan pancingnya sekarang memang sedang ia luncurkan. Apapun itu, Sakura hanya berharap tidak terjadi apa-apa di rumah ini.

"Owh.. Aku yakin kalian merindukannya." Respon Ino membuat Shikamaru memandangnya intens.

Wanita bersurai pirang pucat itu tersenyum tipis seraya mengedikkan ringan bahunya. Ino hanya berusaha mencairkan suasana yang di rasanya sedikit tegang saat merasa tatapan Shikamaru mengarah kepadanya. Okay, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres, batin Ino.

"Kau tahu, biasanya teman yang kau sebut seperti itu akan sangat dirindukan." Sahut Ino kembali, membuat Sakura menolehkan kepalanya.

"Kau benar. Pada intinya, itulah yang aku rasakan saat ini. Mulutku sudah gatal ingin mengomelinya jika dia datang nanti."

Cukup lama mereka menghabiskan waktu bersama, diselingi dengan suara tertawa khas wanita, walaupun tidak luput dengan Shikamaru yang terkadang membuat keadaan kembali canggung.

Jarum jam hampir menunjuk ke angka dua belas. Ino pamit undur diri dengan Sakura yang mengantarnya hingga pagar rumah, sedangkan Shikamaru, mata kaucinya masih memantau di balik tirai rumah.

"Apa kau akan berkunjung lagi?" Pertanyaan Sakura yang terkesan berharap membuat Ino menopang dagunya, terlihat berpikir.

"Saat waktu luang, tentu saja dengan senang hati aku datang berkunjung kembali." Respon Ino membuat Sakura tersenyum senang.

Berbeda pada saat pertama kali bertatap muka, Sakura lebih terlihat bersahabat pada Ino. Wanita itu memiliki banyak persamaan dalam hal selera kewanitaan dengan Sakura. Mungkin untuk saat ini, Sakura menerima keberadaan vampire wanita itu sebagai teman.

Kedepannya, ia tidak tahu.

Sakura kembali memasuki rumah saat setelah tugas mengantar tamu selesai. Ia mengunci pintu, dan menatap lurus Shikamaru yang berdiri tidak jauh dekat tirai.

"Kenapa kau memberitahunya?"

Pertanyaan Sakura hanya dibalas tatapan datar dari Shikamaru, dan pemuda itu melengos pergi begitu saja. Wanita itu mendesis kesal seraya mengikuti kemana Shikamaru pergi.

"Aku punya firasat jika dia tahu sesuatu." Ujar Shikamaru membuat Sakura memandangnya skeptis.

"Untuk apa dia menghampiriku, memberi kita kue kering, mengunjungi tetangga baru hingga larut malam seperti ini jika di balik semua itu ada rencana yang telah dia pikirkan, huh?"

Dan kalimat Shikamaru yang cukup tidak biasa malam ini langsung membuat Sakura diam seribu bahasa.

.

Kepulan asap yang berasal dari pipa tembakau meninggalkan jejak pada ruangan. Pemiliknya ialah seorang pria bersurai kuning yang tengah sibuk berkutat dengan bacaannya. Begitu hening, sunyi. Suasana yang cukup mencekam, namun bagi dirinya adalah hal yang sangat menyenangkan. Mungkin terasa tidak wajar bagi kebanyakan orang yang hanya menghabiskan waktu seorang diri di ruangan hingga larut malam dibanding menidurkan diri di ranjang.

Tapi dirinya bukan golongan kebanyakan orang itu.

Perhatiannya teralihkan oleh ketukan pintu sebelum akhirnya memerintahkan untuk masuk pada gerangan tersebut. Dilihatnya Hatake Kakashi datang membawa sesuatu yang menyita pandangannya.

"Aku menemukannya terikat dengan seekor gagak di paviliun." Ujar Kakashi memberikan gulungan kertas yang terikat dengan apik.

Minato mengernyit. Ia menerimanya, dan langsung melepas talinya dengan cekatan. Manik birunya menelusuri setiap untai kata yang tertulis rapih di kertas.

Dear Namikaze,

Sudah terlalu lama kalian mengurung diri di dalam kastil. Aku sangat yakin kalian sudah mendengar berita tentang Raja. Cukup mengejutkan melihat kalian tidak memberi respon sedikit pun. Tapi ada satu hal yang harus kalian tahu, terutama dirimu, Minato. Sesuatu yang berharga milikmu tersimpan aman dibalik peti kami, jangan khawatir. Datanglah ke tempat kami jika kau masih menginginkannya.

Sudut matanya menajam. Tak perlu berpikir keras untuk mencari tahu siapa pengirim pesan tersebut. Minato bangkit dari kursinya, berjalan menuju sekat kaca yang membatasi dirinya dengan pemandangan kanopi malam yang terlihat beku.

Minato tahu siapa yang dimaksudnya. Selama ini ia selalu memperhatikan lewat mata gandanya yang tersebar, tentang seluk beluk organisasi yang dibentuk gereja, pemuka agama yang bersekutu dengan Raja, dan keluarga Uzumaki yang merawat anak berdarah campuran.

Minato rindu. Sebagai ayah memang dirinya tidak bisa dikatakan dengan baik. Predikat paling buruk lebih pantas menurutnya. Ia ingin melihat Narutonya, anak yang memiliki darah dirinya yang mengalir. Namun, sesuatu menahannya.

Minato tidak bisa begitu saja hidup bebas penuh kasih sayang bersama sang anak. Kebersamaannya sangat mudah terancam, dan akan ada yang di korbankan. Sama ketika dirinya hidup bersama Kushina. Wanita manusia yang berhasil memikat dirinya jatuh sangat dalam. Minato tersenyum kecut saat mengingat masa lalu nan kelam kembali berputar di benaknya. Hidupnya yang sudah berlangsung lama, berabad-abad lamanya, dapat begitu keluar dari skenario yang sama sekali tak tertulis di dalamnya, berakhir tidak sesuai harapan.

"Kakashi, kumpulkan semua orang ke ruanganku."

Perintah Minato tidak membuat Kakashi balik bertanya. Pria bermasker itu hilang bersamaan dirinya menutup pintu, kembali membuat Minato seorang diri.

Yeah, hidupnya hanya seorang diri.

Belum sempat seorang pelayan tua hendak membuka pintu mobil, dirinya terkejut karena sang nona telah menghentak pintunya, membuat pelayan tua tersebut tersentak kaget.

Ino melangkah tergesa-gesa, mencoba untuk mengangkat gaun yang dikenakannya agar tidak mengganggu langkahnya. Tangannya langsung meraih knop pintu yang diketahuinya sebagai ruangan sang pimpinan, dan membukanya. Tidak ada sambutan yang menyapa, hanya pandangan tajam nan menusuk yang ditujukan kearahnya dari banyak penghuni. Hal itu cukup membuat Ino berjalan salah tingkah mendekat.

Formasi lengkap sudah terpenuhi. Dilihatnya Kyuubi duduk seraya menopang kakinya ke atas meja. Iris ruby miliknya menatap ke arah lain, menunjukkan ketidakramahan. Lalu Deidara, pria berwajah androgini yang duduk di atas meja tengah memandang malas kearah Ino, dan Hotaru yang berdiri tak jauh dari sudut ruangan.

"Besok malam, tepat bulan purnama, Namikaze akan menginvasi kastil Uchiha."

Kalimat pernyataan yang terlontar dari Minato membuat keadaan menjadi tegang. Belum lagi suara dentuman meja yang berasal dari Kyuubi membuat pria itu menjadi pusat perhatian.

"Sekali pun itu menginvasi, bertatap muka dengan mereka pun aku tidak sudi."

Kyuubi beranjak dari duduknya, hendak pergi dari ruangan yang lama-lama terasa memuakkan baginya. Namun, ucapan Minato kembali membuatnya mengurungkan niatnya untuk pergi.

"Uzumaki Naruto ada di tangan Uchiha."

.

Laksevag pagi memang damai nan tentram. Warga memulai kegiatannya dengan keluar rumah untuk mengeruk tumpukan salju baik di teras rumah maupun atap. Shikamaru membantu Sakura menaiki sanggurdi kuda. Dilihatnya semua persiapan telah tersimpan dengan baik. Langkah selanjutnya adalah memulai perjalanan dengan mengikuti arus peta yang mengarah pada wilayah Arstad, sebuah kota tetangga yang didiami oleh kebanyakan vampire bangsawan.

Salah satunya Uchiha, penguasa Arstad.

Ada sepintas perasaan gentar yang menghampiri Sakura. Ia hanya seorang manusia biasa yang mendapat pelatihan dasar bela diri saat di gereja, dan itu sangat tidak cukup untuk dijadikan alat perlawanan.

Mungkin para Uchiha akan menertawakan dirinya.

"Ada apa?" Tanya Shikamaru saat melihat gelagat aneh dari Sakura.

Wanita itu menoleh, memandang lama Shikamaru yang juga menatapnya seraya menyusul menaiki kuda.

"Aku takut." Ujar Sakura seraya tersenyum tipis, namun tersirat kekhawatiran.

Shikamaru mengalihkan perhatiannya, lalu menghembuskan napas.

"Aku juga."

Jawaban Shikamaru tidak sesuai dengan ekspetasi Sakura. Wanita itu sangat mengharapkan suara yang penuh dengan keyakinan nan ambisi, namun ternyata tidak. Sakura menundukkan kepalanya, memandang lekat pada telapak tangannya yang membeku, tidak terbalut sarung tangan. Perhatiannya lalu beralih saat mendengar kuda meringkik terpacu oleh Shikamaru, lalu diikuti oleh wanita bersurai merah muda tersebut.

Kedua orang berbeda gender tersebut seperti biasa harus melewati hiruk pikuk pasar yang masih lenggang dengan persiapan-persiapan pemiliknya. Namun, sesuatu membuat Shikamaru memperlambat laju kudanya. Sebuah kereta kuda terlihat cepat melaju dari arah belakang, membuat Shikamaru mengarahkan kudanya ke pinggiran, begitu juga Sakura.

Yang membuatnya semakin heran ialah kereta kuda tersebut berhenti tepat di dekatnya. Shikamaru hanya mengangkat sebelah alisnya melihat seseorang membuka pintu kereta.

"Hai!"

Sakura yang melihat wanita yang tidak asing itu terpekik.

"Ino!?"

"Apa yang kau inginkan?" Pertanyaan Shikamaru berbeda dengan respon Sakura yang terlihat bersahabat, membuat Ino tidak heran mendapatinya.

"Butuh waktu dua hari untuk kalian menuju Arstad. Uchiha menyimpan Naruto dalam petinya. Kalian bisa mati sia-sia jika tidak memiliki rencana matang dan bertindak bodoh dengan menginjak ranjau mereka."

Seluruh kalimat pernyataan yang terlontar dari Ino membuat Sakura, juga Shikamaru mati rasa, tapi tak berlangsung lama dengan Shikamaru yang langsung mencengkram lengan Ino, menatap tajam pada manik aqumarine dihadapannya.

"Siapa kau!?"

Shikamaru mendesis mengancam, semakin memperkuat cengkramannya pada lengan wanita vampire tersebut yang tidak menunjukkan sedikit pun perubahan mimik wajahnya.

Selanjutnya adalah hal yang membuat Shikamaru tersentak kaget. Ino menyentak cengkraman Shikamaru dengan mudah, namun cukup membuat Shikamaru goyah. Wanita bersurai pirang pucat itu membalikkan tubuhnya, hendak kembali pada kereta kuda. Wajahnya menoleh melalui ekor bahunya, memandang dingin pada kedua orang berbeda gender di dekatnya.

"Aku keluarganya."

Kereta kuda dihadapannya kembali terpacu dengan cepat, meninggalkan kedua insan yang memandang kepergiannya dengan tatapan tanpa bisa diartikan.

.

To be continued.


Author Note :

Apakah saya harus membuat fetish pada Sasuke disini?

Mohon maaf jika cerita author terkesan labil or maksa, lol. Sampai ketemu di next chapter!