Finger Crossed

Disclaimer : Naruto belong to ©Masashi Kishimoto

Storyline by Yukirin Shuu

Uzumaki Naruto, Uchiha Sasuke, and Othercast

Warning! AU/ShounenAi/Yaoi/OOC/Typo

I don't take any profit toward this creation

Please enjoy and read carefully

.

.


Chapter 3

Harum geranium memenuhi seluruh penjuru ruangan yang di dominasi putih dan sentuhan cokelat tua pada sisi-sisi yang menjadikannya fasad. Suasana cukup tenang, dengan suhu ruangan yang menghangatkan tubuh di dalamnya. Deret kursi yang mengisi ruangan sebagai saksi jemaat melantunkan doa tersusun apik, jauh berbeda dengan keadaan saat sosok pengacau datang bersama seonggok kepala.

Tidak ada ribut yang menjadikan bising pemanas telinga. Terlalu mencekam untuk di katakan damai, namun sangat enggan untuk dikatakan jahat. Sosok berperawakan tinggi duduk pada salah satu deret kursi paling depan, menghadap pada tempat di mana Tuhan yang mereka puja tengah di salib.

Gemuruh angin malam menelusup masuk saat pintu menderit membuka celah. Sosok baru datang, berjalan bersamaan pintu kembali tertutup. Langkahnya terhenti dengan posisi yang tak jauh darinya yang tengah duduk, memanjakan benda pipih berkilat tajam, namun indah.

"Regu sayap kanan yang diketuai Sai gagal mengeksekusi Uzumaki Naruto dan temannya. Apa langkah selanjutnya, Yahiko?"

Pertanyaan yang lebih tepat di dengar sebagai pernyataan dari sosok baru tersebut tidak membuat Yahiko mengalihkan perhatiannya. Jemarinya tetap bergerak untuk menggosok setiap inci bagian pedang bermata dua yang berada digenggamannya bak pemilik yang mengangungkan.

Pria bersurai oranye tersebut menegakkan tubuhnya, memandang lurus pada kaca patri yang menggambarkan bentuk burung gereja. Dirinya bangkit, melangkah pelan menuju altar yang berdiri tegak di tengah sana, seolah menjadikannya sebagai perantara Tuhan dan manusia.

"Sasori, aku mencintai tenang, berusaha untuk menjauhi segala hal yang berbau kematian."

Pemuda bersurai merah yang diketahui sebagai Sasori masih setia mengamati perilaku sang tuan. Menurutnya, tidak mudah menebak jalan pikiran apa yang akan diluncurkan Yahiko untuk menghadapi badai, sangat spekulatif.

"Namun, jika seseorang menghancurkan tenangku, memusnahkannya adalah jalan satu-satunya, benar begitu?"

Yahiko menolehkan kepala melalui ekor bahunya, menatap datar pada pemuda bermarga Akasuna yang berdiri tak jauh darinya. Sasori tidak memberi respon apapun, namun pandangannya sudah mengartikan apa yang diharapkan Yahiko.

"Beberapa hari ke depan, makhluk berdarah campuran itu akan ada pada genggaman Fireflies. Buat dia menyesal karena berkhianat, dan siksa secara perlahan hingga mati."

Sasori memandang lurus, mencoba merasakan sensasi dingin yang berbahaya saat suara Yahiko menyapa inderanya bersamaan dia berjalan, meninggalkan Sasori seorang diri. Derit pintu terbuka, dan menutup menghasilkan suara dentuman yang cukup membuat keadaan menjadi tegang yang disukai Sasori. Pria bersurai merah itu menarik garis bibirnya, tersenyum bak psikopat yang mencintai segala karya seninya.

.

Hentakan kaki kuda yang bergesek pada tanah yang tertutup salju saling menyahut sepanjang perjalanan. Ialah Shikamaru yang memimpin kemana arah yang akan ditujunya, disusul oleh Sakura yang berada di belakangnya.

Salju kian lama semakin tebal, membuat arah pandang menjadi sulit terjangkau. Mereka telah menghabiskan satu hari perjalanan, menghadapi segala macam tantangan walaupun terasa sulit. Sulur akar pohon yang menyamar tertutup salju, keadaan tanah yang curam, dan kabut tebal yang dapat membawanya masuk terperosok jurang, mungkin itu beberapa hal yang sudah mereka tekuni dengan hati-hati.

Tinggal satu hari lagi, jika mereka sanggup melewati banyak hambatan dalam perjalanan, mungkin menara tinggi nan suram itu sudah terlihat di dekat pegunungan. Sakura menajamkan perhatiannya, masih dengan objek Shikamaru yang membelakanginya berjarak satu meter di depannya.

Pikirannya sempat melayang mengingat kejadian sebelumnya, saat dimana mereka masih di Laksevag, dan bertemu Ino. Ucapannya membuat Sakura sempat tidak berpikir rasional, sulit untuk mengeluarkan sepatah kata. Otaknya mengingat ucapan pepatah yang mengatakan dunia ini terlalu sempit, dan wanita itu tengah mengalaminya. Sejak awal di Laksevag ia dan Shikamaru telah bertatapan muka secara langsung. Tidak, mengobrol lebih dalam dengan mereka lebih tepatnya.

Ya, mereka. Orang-orang Namikaze yang kebetulan Ino memiliki marga tersebut di belakang namanya. Apa ini hanya sebuah kebetulan, atau memang telah direncanakan?

Otak Sakura kembali memutar saat dimana rumor beredar di lingkungan gereja ketika dirinya masih tinggal disana. Bangsawan penghisap darah tersebar di seluruh penjuru dunia dengan berbagai macam marga. Salah satu marga yang jarang orang temui ialah Namikaze. Mereka tertutup, hanya sedikit orang yang pernah melihat secara langsung fisiknya. Namikaze sulit di cari oleh para pemburu vampire, sekali pun mereka ahli dalam bidangnya. Setidaknya itu yang pernah Sakura dengar.

Langit semakin lama semakin merendahkan intensitas cahayanya, membuatnya kembali bertemu dengan sang rembulan. Pada malam hari, negara ini harus siap menghadapi ganasnya badai salju yang sering menjumpai pemukiman penduduk. Sakura terkadang memikirkan banyak hal mengenai pemberhentiannya untuk bermalam. Apakah keadaan sudah aman?, batinnya gelisah.

Tak jauh dari perjalanan mereka yang di dampingi deretan pepohonan konifer di kedua sisi, perhatian Shikamaru terhenti pada bangunan yang berdiri di tengah hutan konifer seorang. Sakura yang menyadari pacuan Shikamaru melambat, mengikuti arah pandang pria nanas tersebut.

"Apa rumah itu berpenghuni?" Tanya Sakura tidak yakin.

"Entahlah, kita tidak akan tahu jika tidak mengunjunginya."

Bersamaan dengan ucapan Shikamaru, ia kembali memacu kudanya disusul oleh Sakura. Dilihatnya bangunan sederhana dengan cerobong rumah yang mengeluarkan asap putih. Sepertinya berasal dari perapian.

Shikamaru turun dari kuda, dan mengikatkan tali kuda pada tiang yang tertanam di depan bangunan, berinisiatif untuk mengetuk pintu yang terlihat sedikit mengelupas. Setelah beberapa ketukan ia lakukan, derap langkah yang berasal dari dalam membuat Shikamaru menegakkan tubuhnya untuk memberi ruang dengan jarak pintu.

Sosok wanita tua menyapa penglihatannya. Garis bibirnya tersenyum ramah pada dua orang yang berbeda gender dihadapannya, mau tak mau Sakura membalas senyum.

"Maaf mengganggu malammu, apa disini ada penginapan?"

Pertanyaan Shikamaru membuat ekspresi wanita tua yang belum diketahui namanya tersebut menjadi heran, lalu tertawa khas orang tua.

"Masuklah, aku tidak membuka penginapan. Kebetulan rumahku memang berada di tengah hutan."

Shikamaru dan Sakura saling memandang satu sama lain saat mendengar jawaban wanita tua tersebut. Mereka akhirnya memasuki bangunan sederhana tersebut yang langsung disambut dengan harum jahe. Sakura tiba-tiba meringis. Wanita itu berpikir, bagaimana bisa seorang wanita renta tinggal di tempat yang menurutnya rawan seperti ini. Lagipula, dirinya tidak melihat penghuni lain di rumah itu selain wanita tua yang menyambutnya.

"Namaku Chiyo." Sahut wanita tersebut yang tengah menuangkan cairan gelap yang terlihat mengepul dari cerek miliknya.

"Aku Sakura, dan dia Shikamaru." Ujar Sakura berusaha memperkenalkan diri dengan baik, sedangkan Shikamaru sedikit membungkukkan tubuhnya saat Chiyo melihatnya sekilas.

"Aku punya satu kamar tamu. Apa kalian sepasang kekasih?"

"Tidak."

Pertanyaan Chiyo langsung cepat dibalas oleh Sakura. Wanita itu sudah terlalu bosan dengan serentetan pertanyaan yang dilontarkan terhadap dirinya jika melakukan perjalanan bersama Shikamaru, atau Naruto. Hampir saja manik emerald miliknya memutar malas, jika tidak mengingat wanita yang lebih tua tengah berbicara.

"Baiklah, mungkin Shikamaru bisa tidur di sofa malam ini. Apa kau ingin?"

"Tidak masalah." Sahut Shikamaru tanpa basa-basi.

Mereka menghabiskan waktu bersama dengan duduk pada sofa yang menghadap perapian. Chiyo memberikan dua mug berukuran besar berisi cokelat panas yang mengepul, dan beberapa kue jahe yang tertata rapi di atas piring. Suasana rumah cukup hangat, di dominasi oleh tumbuhan pachira yang merambat di sisi ruangan sehingga menambah kesan alami yang menyegarkan pikiran.

"Apa kau tinggal sendiri?"

Pertanyaan Sakura yang memecah keheningan membuat Chiyo memandangnya dengan kedua alis terangkat, lalu tersenyum tipis.

"Ya, cucuku meninggal tiga tahun lalu."

Jawaban Chiyo membuat Sakura terkejut, dan memandang tidak nyaman pada wanita tua tersebut.

"Maaf, aku tidak bermaksud." Ujar Sakura dengan nada penuh penyesalan seraya menundukkan kepala.

"Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong, darimana asal kalian?"

Pertanyaan Chiyo kembali membuat Sakura mengangkat kepalanya, lalu mengalihkan perhatiannya pada Shikamaru yang tengah memandang lurus wanita renta tersebut.

"Laksevag."

"Ah, kota damai nan indah dengan lautnya 'kah? sudah lama aku tidak melihatnya." Ucap Chiyo disusul tawaan khas orang tua, sedangkan Sakura tertawa ramah menanggapinya.

"Dulu, aku dan cucuku selalu mengunjungi Laksevag setiap akhir tahun. Entahlah, Sasori senang sekali melihat parade yang penuh sesak orang-orang itu."

Berbeda dengan Chiyo yang tersenyum sendu saat mengakhiri sepenggal cerita namun penuh kenangan, Shikamaru, begitu juga dengan Sakura merasakan suatu kejanggalan. Mereka kembali berpandangan satu sama lain dalam diam, mencoba untuk membaca apa yang ada di pikiran masing-masing.

"Sasori?"

"Ya, dia cucuku yang telah meninggal."

.

Arstad, Uchiha's Castle

Dinding kokoh menjulang tinggi dengan ornamen-ornamen bercorak rumit menghiasi setiap sudutnya, membatasi bangunan bak istana tak berpenghuni tersebut dengan lingkungan sekitarnya. Keadaan cukup dingin, suram, layaknya warisan leluhur yang terbengkalai, namun sebenarnya menyimpan segala bentuk gladiator di dalamnya.

Sosok pucat berjubah hitam seolah muncul dari portal tak kasat mata, menapaki tanah yang berlapis salju dengan perlahan. Tangannya menarik penutup kepala yang dikenakannya, menampilkan surai rambut berwarna kuning yang terikat. Sebagian wajahnya tertutupi oleh helai rambut miliknya. Manik birunya memandang lurus pada bangunan tua nan kokoh yang berdiri menantangnya. Aura tiada kehidupan menyeruak keluar dari dalam, memberitahu jika itu bukan untuk golongan lemah seperti manusia.

Sosok tersebut mengangkat kedua tangannya, merentangkan dengan lebar, memandang kastil musuh seakan seluruhnya berada pada genggamannya.

"Kasihku hanya untuk ledakan, un."

Suara dentuman keras yang memekak telinga terdengar beruntun di setiap sisi kastil, menciptakan kerusakan yang besar akibat ledakan yang telah direncanakan. Beberapa dinding runtuh, menimbulkan asap yang menghalangi pandangan menguar di udara.

"Tak kusangka Namikaze bertindak sejauh ini."

Sebuah suara yang menyapa membuat sosok Deidara mengalihkan perhatiannya. Mata birunya memicing melihat bayangan yang terhalang kabut asap yang semakin memudar, menampilkan sosok jangkung bersurai hitam yang berjalan tenang penuh keangkuhan. Deidara hanya memandang datar tanpa minat, namun sesuatu yang melesat kearahnya sedikit membuatnya terkejut.

Sebuah belati yang terlapis perak tepat berada di depan matanya, hendak merusak kornea mata bermanik birunya hingga hancur tak tersisa, jika saja seseorang tidak segera menangkisnya hingga terpental jauh.

"Langkahi mayatku, Itachi."

Suara lain yang menggagalkan lemparan belatinya membuat Itachi menyeringai senang. Akhirnya, orang-orang Namikaze yang bersembunyi dibalik tempurungnya itu menunjukkan batang hidungnya juga.

"Kau tidak akan pernah menjadi mayat, Kyuubi." Sahut Itachi tajam terkesan dingin.

Kyuubi tersenyum meremehkan. Jika artinya seperti itu, tangan kotor Uchiha tidak akan pernah bisa membinasakan Namikaze.

"Huh, sudah kuduga." Sahut seseorang yang mulai menampakkan dirinya dari pintu utama.

Kyuubi mendecak kesal saat melihat sosok Uchiha yang lain keluar. Dirinya menyumpah serapahi penguasa Arstad yang penuh keangkuhan tersebut dengan kasar.

"Memuakkan saja." Desis pria bersurai oranye tersebut.

Uchiha Sasuke, sosok yang diketahui baru saja menampakkan batang hidungnya memandang rendah pada setiap makhluk yang datang dengan membawa kebisingan. Pria raven tersebut hendak membalikkan tubuhnya untuk kembali ke tempat tujuannya, jika saja sosok wanita yang telah berdiri di sampingnya tidak menghambat urusannya.

"Dimana, Naruto?"

Suara Ino membuat mata elang dihadapannya memicing sinis. Manik aqumarine tersebut seolah membawa dirinya memasuki sebuah ruang tak berujung, putih menyilaukan, terlalu suci untuk dirinya yang penuh dengan kebengisan. Sasuke memandang ke sekelilingnya dengan penuh waspada. Ini tidak nyata, dan dia tahu itu.

Ini ilusi.

"Dimana, Naruto?"

Kembali Sasuke mendengar suara asing yang ia ketahui berasal dari wanita Namikaze tersebut. Namun, ruang putih tersebut retak, hancur menciptakan kepingan-kepingan kaca yang pecah. Pria raven itu berhasil menggenggam lengan putih Ino yang menggantung di udara tepat di depan wajahnya. Hal itu membuat wanita tersebut memandang intens pada lawannya.

"Lancang sekali kau." Desis Sasuke seraya menyentak lengan Ino hingga membuat wanita itu jatuh tersungkur.

Iris onyx miliknya memandang dingin pada manik aquamarine yang balas menatapnya angkuh, hingga dirinya kembali melanjutkan langkahnya.

Kembali langkah Sasuke tertunda saat melihat sosok yang ditunggu-tunggu Namikaze hadir, Uchiha Fugaku.

"Jaga perilakumu dengan wanita."

Sasuke melenggang pergi begitu saja, mengabaikan teguran Fugaku yang ditujukan kearahnya.

Uchiha Sasuke tidak peduli. Kini yang hanya menjadi fokusnya adalah isi peti itu. Yeah, ia merasa terancam saat wanita bermarga Namikaze tersebut menyebut sebuah nama yang membuatnya tidak dapat berpikir rasional. Sebuah nama sederhana, namun telah menariknya jatuh, dan akan berbahaya jika semakin dalam. Sasuke menertawakan refleksi dirinya. Sungguh kesalahan besar mendapati sang Half-Blood yang mengeluarkan air mata obsesi miliknya.

Berpindah pada keadaan semula, tempat dimana para Namikaze telah berkumpul, berdiri tangguh dengan jubah hitam khasnya. Corak yang membentuk sang mentari menjadikannya sebagai simbol keberadaan Namikaze pada punggung.

Hingga seseorang bertudung datang dengan langkahnya yang tenang, bak seorang Raja yang penuh dengan kasih sayang. Tangannya menyibak tudung, menampilkan surai pirangnya dengan wajah yang tegas. Manik biru miliknya memandang lurus pada Uchiha Fugaku.

"Kau berhutang budi pada Uchiha karena telah menghancurkan kastil." Ujar Fugaku dingin, penuh dengan aura mematikan, tidak bersahabat.

"Maaf, hanya saja Deidara memang gemar meledakkan sesuatu." Sahut Minato seraya tersenyum ramah.

Fugaku tidak memberi respon apapun selain tatapan tajamnya yang menusuk. Pria tersebut mendengus pelan, lalu membalikkan tubuhnya.

"Ikuti aku."

Karena bagi Fugaku, etika dan tata krama adalah hal yang paling utama di atas segalanya.

Minato yang mendapati hal tersebut berjalan mengikutinya, disusul oleh Namikaze lainnya yang berperan dalam misi itu. Langkah Fugaku membawa mereka masuk ke sebuah ruang berarsitektur khas baroque, di dominasi oleh putih dengan sedikit sentuhan beige. Tiada kehidupan, terlalu hampa untuk dibandingkan dengan makhluk yang mendiaminya.

Mereka duduk pada kursi yang saling berhadapan, mengelilingi sebuah meja berbahan cipolin yang melingkar luas, menciptakan jarak yang lebar bagi setiap deret kursi. Keadaan hening, belum ada seorang pun yang berniat membuka percakapan.

Terlalu cepat melihat pergerakan Kyuubi yang menghantam keras meja dihadapannya hingga menciptakan retak yang merambat ke arah dimana Fugaku berada. Minato yang melihat hal tersebut menyentuh bahu Kyuubi, memandangnya tajam penuh arti, namun Kyuubi terlihat mengacuhkannya.

"Apa yang kau inginkan?" Ujar Minato mengalihkan pandangannya pada Fugaku tanpa basa-basi.

Menurutnya ini cukup menghabiskan waktu, jika saja bukan menyangkut sang buah hati.

Ya, Narutonya, buah hatinya yang bertahun-tahun tidak ia temui karena alasan klise, namun masuk akal. Kali ini Minato telah bertekad untuk membawa Naruto kembali bersamanya, hidup bersamanya, sebagai keluarga yang memberikan kasih, dan memperbaiki kesalahannya yang menyandang predikat sebagai ayah terburuk.

"Bekerja samalah denganku."

Ino melirik intens pada sang paman yang bergeming, mencoba untuk membaca pikirannya, namun gagal. Selama hidupnya, hanya Minato lah yang menurutnya sulit untuk ditebak jalan pikirnya. Tidak ada yang mengetahuinya, selain dirinya sendiri yang berakhir dengan jawaban tak terduga. Ada perasaan gelisah pada Ino saat melihat Minato tak kunjung merespon, sedangkan Kyuubi, pria beringas itu tak sengaja berpandangan langsung dengan Ino. Manik ruby miliknya mengatakan dengan jelas jika dirinya ingin menghilang dari tempat tersebut.

"Jika itu membuatku bertemu kembali dengan Naruto."

Ino menahan napas, pikirannya sederhana. Mengapa Uchiha, sang penguasa Arstad meminta persekutuan dengan Namikaze yang bahkan hubungan masa lalu mereka sangat tidak bisa dikatakan baik?

Bukan, bukan maksud Ino meremehkan kekuatan keluarganya, dan itu tidak akan mungkin. Hanya saja, ini terlalu tiba-tiba.

"Fireflies. Mereka akan memulai aksinya, menghancurkan perjanjian kuno yang membuat dua kaum hidup berdampingan, menghasut dunia untuk mengibarkan bendera perang melawan vampire."

Suara lain menjawab semua pertanyaan yang ada di benak Ino. Uchiha Itachi, berdiri tegak tak jauh dari mereka, melangkah mendekat, dan duduk berhadapan langsung dengan salah satu Namikaze yang memandangnya beringas, penuh kebencian.

"Uzumaki Naruto, sangat mengesankan telah memenggal kepalanya, dan Shimura Danzo."

Pernyataan Fugaku tidak membuat Minato merasa tersanjung. Hatinya semakin tidak rela saat mengetahui sang buah hati telah melakukan hal yang sangat ekstrem menurutnya. Membunuh adalah suatu hal yang tak bisa dihindari, namun kesucian dan kepolosan sang anak telah terenggut. Belum lagi, selama ini buah hatinya telah membunuh beribu-ribu makhluk penghisap darah yang dianggap mengancam kestabilan negara yang diusung oleh gereja, menjadi sebuah hunter handal.

Minato tersenyum miris.

Sesuatu yang berukuran besar dan panjang jatuh, menghancurkan meja yang terkelilingi oleh para penghuni disana, menciptakan asap debu yang berterbangan di udara. Hal tersebut sontak membuat Minato bangkit dari duduknya, memandang intens terhadap benda yang di depannya.

Sebuah peti.

Sosok hitam melesat cepat mendekati peti. Manik onyx miliknya memandang beringas pada benda tersebut. Jemari pucatnya hendak membuka tepian peti, namun bersamaan itu sebuah tangan yang berasal dari dalam langsung menodong pistol tepat kearahnya, dan menembak.

Adalah hal yang membuat Uchiha Sasuke tersentak, merasa tersaingi saat timah panas tersebut mampu menembus tubuhnya. Mata elangnya memberi tatapan yang tak bisa diartikan melihat manik biru yang menyorot penuh dendam. Sesuatu membuat Sasuke merasa terusik. Tidak. Sesuatu yang lebih mengarah mengenai tepat pada pendiriannya, dan itu berasal dari orang berdarah campuran dihadapannya, sanderanya.

Tanpa menyia-nyiakan waktu, sosok pemuda dengan tiga garis di wajahnya itu menumpukan tangannya pada tepian peti, melompat keluar, dan berlari bak kilat menyambar. Sasuke yang melihat hal itu langsung melesat cepat menyusul kemana arah perginya sang target, meninggalkan semua penghuni yang melihat pertikaian antara dua orang tersebut dengan diam.

Tepukan tangan membuat pandangan beberapa orang disana teralihkan. Dilihatnya Itachi memandang salut pada arah kepergian dua sosok yang sempat mengganggu pertemuan penuh ketegangan tersebut.

"Tak kusangka, seorang Uchiha mudah goyah begitu saja dengan sebuah peluru." Ujar Itachi terkesan sinis.

"Jaga mulutmu, Itachi." Sahut Fugaku dingin.

Kyuubi yang mengalami hal tak terduga mengumpat pelan seraya membalikkan tubuh, mengibaskan jubahnya, dan hilang bak ditelan bumi. Ino yang melihat keadaan semakin runyam berniat untuk menghampiri Minato yang berdiri tak jauh darinya.

"Paman." Ujarnya pelan.

Minato hanya membalasnya dengan senyum tipis, namun terlihat jelas gurat hampa menghampiri wajah tegasnya.

Entahlah, hanya saja hampa yang menghampirinya kali ini sangat berbeda sebagai dirinya yang merupakan makhluk abadi.

"Tak apa. Naruto pasti akan kembali, bersama kita."

Kata-kata Minato memang tak ayal membuat Ino merasa positif, seolah apa yang dikatakannya akan selalu baik-baik saja. Di sisi lain hati, tetap saja perasaan gundah masih menyelimuti Ino. Wanita itu melihat bagaimana paras sosok pemuda yang selama ini keberadaannya disimpan rapat oleh Minato.

Sang Half-Blood yang begitu menyilaukan.

Pemuda itu sangat kuat, Ino tahu itu. Pemuda yang selama ini memiliki darah Namikaze, menjadikannya sebagai seorang sepupu dengan diri Ino.

"Apapun yang menyangkut darah dagingku, perang ini akan membuatku merengkuhnya, pulang bersama di bawah atap yang sama, dan tinggal untuk selamanya."

Raut wajah Ino melunak, memandang penuh makna pada Minato yang menunjukkan kilat ambisi. Sulut api sepertinya telah menggerakkan hatinya untuk mengambil tindakan, tak perlu berlama-lama lagi.

"Paman."

.

Second pov.

"Hosh... Hosh..."

Kaki-kaki berlari saling menyahut, berusaha secepat mungkin menghindari kejaran musuh, atau mengejar target yang semakin terlihat empuk untuk dilenyapkan?

Kau terus berlari, melawan semua arus angin bercampur salju yang membekukan tubuh. Jubah putihmu terkoyak sebagian akibat kondisi hutan yang tidak bersahabat, meninggalkan ranting dan sulur pohonnya yang menghalangi. Matamu menyipit tajam saat merasa kabut tebal menyapa pandangan.

Tak ada niatan untuk sedikit pun kau memperlambat laju larimu. Langkahmu semakin tak gentar, menunjukkan respon berontak khas dirimu. Namun, sesuatu membuatmu tak sengaja menginjak sulur pohon yang melambai kuat hingga tubuhmu tersungkur. Kau mengutuk diri, mengumpati setiap kecerobohan yang tinggal dalam dirimu.

Kau berusaha bangkit, menopang tubuhmu dengan kedua lengan yang menahan, mencoba untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Persetan dengan apa yang terjadi. Pembicaraan kaum vampire itu membuatmu muak. Perang? Jujur, kau sudah lelah dengan semua itu. Tak ada yang lebih indah selain hidup tenang bersama orang-orang tersayang. Soal Namikaze? Oh entahlah, kau masih belum memikirkan hal itu. Minato sangat mencintai dirimu yang merupakan darah dagingnya, kau tahu itu. Walaupun selama hidupmu baru tadi itu kau bertemu pandang dengan mata biru yang sama dengan milikmu, tak menutup kemungkinan perasaan ragu bergelayut di hatimu.

Apakah perasaannya hanya sementara kepadamu, dan akan hilang begitu saja karena kaum vampire yang hidup selama beberapa dekade tak terhitung? Entahlah, tak ada yang tahu.

Kau bisa merasakan sosok lain berada tak jauh dibelakangmu. Si brengsek Uchiha Sasuke. Kau membuang napas kasar seraya bangkit menegakkan tubuh. Sepertinya kau butuh sesuatu yang instan untuk mencapai kota Laksevag dalam waktu singkat, mengingat orang-orang memberi julukan rubah licik terhadapmu?

"Apa yang kau inginkan?"

Sasuke memandang intens, berusaha untuk meresapi setiap kata yang kau lontarkan. Dirinya masih bergeming setia, mengunci pandangan terhadap apa yang akan kau lakukan. Cukup membuatmu tidak nyaman.

"Kau."

Kau tertawa meremehkan mendengar jawaban itu.

"Jangan bercanda." Sahutmu memandang rendah pada onyx didepanmu.

"Nyawamu, tubuhmu, dan harga dirimu. Apa semua itu kau anggap lelucon?"

Kau mendengus kesal. Kenapa mendengar suara yang berucap seperti itu seolah kau memang akan dipermainkan, atau sudah?

Kau naif, memang. Kau tahu itu. Kau tahu betul seberapa labilnya saat menentukan pilihan antara keinginan dan kebutuhan. Terkadang otakmu berpikir kenapa tidak keduanya saja kau pilih? Serakah memang, namun apa daya. Hidup pilihan, dan kau akan terus dikejar saat tidak menemukan titik terang.

"Dengar Sasuke, tugasku sebagai umpan Namikaze telah tuntas. Aku tidak ada hubungan apapun lagi denganmu, dan jika kau menginginkan semua yang kau ucap tentang diriku, semua itu sia-sia. Aku punya hak untuk kehidupanku bersama teman-temanku, dan satu lagi, kau bukan temanku."

Kau bisa melihat Sasuke tertawa kecil setelah mendengar kalimatmu. Terselip binar geli pada iris onyx miliknya, dan oh! Barusan tadi kau mengatakan nama kecil Sasuke?

Ada perasaan asing yang menggelitik pria raven itu saat mendengarnya.

Namun, semua itu tak lama sampai kau membeku saat merasakan tekanan yang seolah mendorong tubuhmu kebelakang dengan kuat jika saja kau tidak punya kekuatan bertahan. Ini gravitasi. Sasuke yang melakukannya, tanpa lolos pandanganmu pria raven itu mengeluarkan kemampuan khas klannya.

"Kau memang bukan temanku, Naruto."

Kau menyipit tajam, menyadari jika fokus mata elang dihadapanmu itu tidak kepadamu. Kau menangkap sesuatu pada tatapan Sasuke, dan langsung membalikkan tubuh. Mata pedang tepat menantang di depan mata birumu. Kau terkejut, suaramu tertahan tak mampu berucap. Sosok asing menyapa indera penglihatanmu. Pria bersurai merah dengan tinggi yang tidak jauh berbeda denganmu, berjubah putih yang sangat kau kenali.

Sasori, sang manipulatif Fireflies.

"Hey, jaga pandanganmu."

Hunusan pedang membelah jaringan kulit lehermu, membuat cairan merah pekat meluruh akibat terpotongnya pusat saraf seluruh tubuh. Namun, semua itu tergantikan oleh kedua telapak tanganmu yang menahan runcingnya pedang. Kau menggertakkan gigi, mengerahkan seluruh tenaga untuk menahan benda tipis mematikan itu yang siap mengambil nyawa. Darah segar mengalir keluar, menghiasi besi terasah tajam itu dengan indah, lalu menetes jatuh mengenai permukaan tanah tertutup salju. Kau meringis saat pedang tersebut semakin mendorong kearahmu. Salah satu kakimu melangkah mundur, mencoba untuk mempertahankan kedudukan.

Suara petir mengalihkan perhatianmu, begitu juga dengan mata musuh yang dihadiahi hunusan aliran listrik yang mengkilat menembus tubuh. Kekuatan pedang itu melemah, jatuh ke tanah menyisakan sisa-sisa darah segar yang berasal dari telapak tanganmu. Namun, sesuatu yang lebih mengejutkan kembali menyapa. Tubuh Sasori merosot jatuh, menyisakan replika tubuh dirinya yang terbuat dari boneka kayu.

Khas dirinya.

"Dia menipu lagi." Bisik dirimu, kalut.

Sedangkan Uchiha Sasuke masih bergeming. Pria raven itu tidak tahu apa yang membuat tubuhnya bergerak, terlebih ia merasa terusik saat melihat targetnya lengah seperti tadi. Tunggu, bukankah lebih bagus jika Half-Blood cepat mati? Tanpa perlu mengotori tangannya ia rasa.

Sialan.

"Makhluk terkutuk, tidak tahu diri. Penyesalan akan datang kepadamu, vampire. Perang akan mulai, perang akan mulai, wahai pengkhianat. Kau tidak akan lepas, tidak akan, Naruto."

Angin dingin berhembus kencang, menerbangkan helai rambut dua orang yang berbeda golongan. Suara itu, kau tahu siapa. Sasori mengumandangkan pernyataan yang kali ini membuat tubuhmu meremang. Entah itu karena dinginnya cuaca, atau suara yang hilang bersamaan hembusan angin. Kau mengabaikan rasa sakit yang menyiksa pada telapak tanganmu. Pikiranmu melayang. Firasat tak mengenakan menghampiri hatimu. Kau harus pergi menemui kedua temanmu itu. Posisinya pasti terancam mengingat mereka pernah bekerja untuk Fireflies.

Kau menoleh saat menyadari Sasuke memperhatikan kondisi tanganmu. Dengan cepat kau mengibaskan jubahmu menutupi seluruh tubuh.

"Aku,"

Suaramu yang tersendat membuat Sasuke memandangmu curiga. Perasaan tak menentu itu datang di saat yang sangat buruk menurutmu. Selain dari rasa perih yang timbul akibat pedang tajam itu, perasaan campur aduk tentang semua yang ada dipikiranmu menjadi satu, sedikit membuatmu terheran dengan diri sendiri.

"Mungkin ini hanya untukku jika urusan kita telah selesai. Namun, jika seandainya kita bertemu kembali, aku tidak akan sungkan meladeni permainanmu, Uchiha Sasuke."

Kau membalikkan tubuh, pergi berlari melawan arus, membuat pakaian yang melekat di tubuhmu berkibar. Uchiha Sasuke tersenyum samar. Tidak sejengkal pun berusaha untuk mengalihkan perhatian atau meninggalkan tempat. Matanya hanya terpaku pada satu titik yang semakin menjauh keberadaannya, hilang oleh kabut putih. Kali ini Sasuke meloloskannya. Yeah, untuk kali ini, dirinya rela membiarkan sang rubah pergi meninggalkan.

Karena untuk mengikat mangsa yang indah adalah melepasnya terlebih dahulu.

.

"Paman Teuchi!"

Teriakan yang melengking tinggi dari remaja perempuan membuat sang objek yang dituju berbalik. Dilihatnya Ayame berlari tergesa-gesa kearahnya membawa tumpukan sayur mayur yang baru panen dari kebun.

"Kau melupakan gizi pokok makanan yang dibutuhkan tubuh." Sahut Ayame seraya menyodorkan keranjang sayuran.

"Buahahah! Bodohnya aku!"

Ayame yang melihat tingkah konyol orang tua di depannya hanya mendengus geli.

"Baiklah, hati-hati paman!"

Sepeninggal sosok Teuchi yang berpakaian tebal mendorong pedati, Ayame kembali memasuki paviliun rumah yang berada di seberangnya. Seperti biasa, tidak ada yang berubah. Mereka memenuhi kebutuhan hidup dengan mengandalkan pasokan sayur dari perkebunan, dan sedikit gandum yang mereka tanam. Tidak mudah, namun hidup terus berjalan, bukan?

Teuchi terus melakukan perjalanan, dengan mengelilingi tempat-tempat dipinggiran kota, lalu kembali pulang dengan membawa lembar-lembar uang. Pekerjaan biasa kesehariannya, namun mengeluarkan tenaga yang tidak sedikit. Salju cukup menebal, menghalangi pandangan jika tidak melihat secara cermat. Kaki rentanya menempuh beberapa mil dari tempat tinggalnya. Melelahkan memang.

Teuchi memicingkan matanya saat melihat seseorang yang berlawanan arah darinya terlihat aneh. Oh maksudnya, apakah kondisinya bisa dibilang baik melihat langkah kakinya yang begitu oleng, jubah yang terlihat kusam, dan apa itu?

Tetesan darah yang menciptakan jejak sepanjang ia berjalan? Ya Tuhan.

Teuchi mempercepat langkahnya mendorong pedati. Namun, sosok asing tersebut tiba-tiba tersungkur jatuh, sontak membuat Teuchi terkejut dan panik bersamaan. Pria tua itu berupaya menghampiri sosok yang dilihatnya lemah tak bertenaga dihadapannya. Teuchi mencoba untuk mengguncang tubuhnya pelan, namun tidak ada respon. Teuchi masih merasakan napasnya saat mengarahkan jemarinya tepat di lubang hidung sosok tak dikenalnya itu. Walaupun sangat lemah, tapi beruntunglah masih bernyawa.

Pria tua itu menolehkan kepalanya ke sekeliling. Masih dalam lingkungan hutan dan menuju pusat kota harus menempuh dengan waktu yang masih lama. Sekarang pun hanya ada dirinya seorang dan sosok asing yang terkapar tak berdaya yang ia temui.

"Baiklah, kali ini aku akan menyelamatkannya. Jika pun dia orang jahat, aku akan menusuknya terlebih dahulu saat dirinya bangun."

Teuchi memutuskan untuk mengangkat tubuh ringkih tersebut yang berpakaian tebal, lalu memindahkannya pada pedati yang dibawanya. Ia menempatkannya dengan sebaik mungkin, dan menutupinya dengan berbagai macam keranjang serta kantung jerami berisi sayuran segar. Tanpa berpikir panjang, Teuchi kembali melanjutkan perjalanannya.

.

"Chiyo! Chiyo!"

Sahutan panjang nan ciri khas membuat wanita tua yang tengah merajut syal merah miliknya menoleh lambat, lalu berniat untuk menunda pekerjaannya dengan bangkit menuju pintu. Dilihatnya seorang pria yang sangat dikenalnya telah berdiri tak jauh dari rumahnya bersama pedati andalannya.

"Hey! Apa kabarmu?" Ujar Chiyo berjalan mendekat seraya merapatkan mantel yang membalutnya.

"Hahaha! Kau bisa lihat betapa sehatnya aku." Balas Teuchi seperti biasa tak kalah saing, membuat Chiyo terkekeh pelan.

"Yeah, kau tampak gemuk Teuchi."

Chiyo menerima beberapa keranjang bertumpuk berbagai macam jenis sayur, dan kacang. Matanya tak sengaja menangkap sesuatu yang terlihat ganjil pada pedati milik sang teman. Entahlah, mungkin hanya perlengkapan milik Teuchi untuk perjalanan.

"Boleh aku bantu?"

Pertanyaan seseorang membuat Chiyo mengalihkan perhatiannya, begitu juga Teuchi yang bergumam heran. Dilihatnya pemuda bersurai nanas telah berdiri tegak di samping Chiyo. Cukup membuat wanita tua itu terkejut karena tidak merasakan hawa kehadirannya. Tanpa menghabiskan waktu, Shikamaru langsung mengambil beberapa keranjang dan kantung dari Chiyo yang terlihat kerepotan.

Srak.

Perhatian ketiganya beralih pada pedati yang tak jauh berdiri dari mereka. Sebuah tangan terlihat menggapai tepian benda kepunyaan Teuchi tersebut. Hal tersebut sukses membuat Chiyo menjatuhkan bawaannya, membungkam mulutnya karena terkejut, sedangkan Teuchi bersikap waspada.

Berbanding terbalik dengan Shikamaru. Pria nanas itu masih bergeming, namun perhatiannya kian menajam, memandang curiga dengan apa yang sebenarnya ada pada pedati tersebut.

"Shikamaru! Berbahaya! Jangan mendekat!"

Bagai angin lalu perkataan Chiyo untuk Shikamaru. Tanpa sedikit pun merasa takut atau ragu, dirinya mendekati pedati yang terlihat lapuk dimakan usia. Namun, niat untuk membunuh siapapun yang berada di pedati itu sirna begitu saja saat melihat rupa sang empu.

Mata kuacinya mengedip beberapa kali, memastikan bahwa pandangannya tidak salah lihat. Dengan cekatan tangannya menyibak jubah yang menutupinya, dan well, tebakannya tidak salah.

Shikamaru langsung mengangkatnya ala bridal dengan hati-hati. Pria nanas itu meringis dalam hati saat melihat keadaan orang yang selama ini dicarinya tidak bisa dikatakan dengan baik. Wajah pucat yang membeku, pakaian lusuh, dan darah yang mengering menghiasi beberapa bagian tubuhnya.

"Oh, shit!" Umpat Shikamaru, cemas tak karuan.

Lelaki itu langsung membawanya dengan cepat memasuki rumah. Hal itu mau tak mau membuat Chiyo dan Teuchi mengikutinya.

Shikamaru menidurkan pemuda pirang itu pada sofa ruang tamu, tak jauh dari perapian. Dirinya melucuti sepasang sepatu yang masih melekat pada Naruto, disusul dengan melepas jubah dan lembar pakaiannya yang sangat dingin, dan sedikit ternodai salju.

"Oh, ayolah! Ayolah! Kau masih hidup, Naruto!" Sahut Shikamaru seraya mengguncang tubuh dihadapannya.

Chiyo yang melihat hal tersebut berinisiatif untuk pergi ke dapur. Entahlah, siapa pun orang asing itu, sepertinya ia membutuhkan bantuan mengingat Shikamaru bertindak tidak biasa saat menemukannya.

"Shikamaru, ada ap- OH TUHAN!"

Suara pecahan cangkir teh menyusul keterkejutan Sakura. Wanita itu menutup mulutnya, membelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sakura berlari tergesa mendekati sofa, menyejajarkan dirinya pada kaki sofa untuk melihat lebih jelas.

"Naruto! Naruto!"

Seiring tepukan tangan Sakura pada pipi bergaris yang dingin itu, gerak kelopak matanya terlihat bergerak pelan. Tak lama, biru langit khas musim panas menampilkan diri, memandang tidak fokus pada objek yang dilihatnya.

"Ya Tuhan! Syukurlah, syukurlah!"

Wanita bersurai merah muda itu menangis haru, menyusul dirinya untuk mendekap pemuda pirang dihadapannya. Sakura merasakan bagaimana dingin yang merayap pada tubuh sahabatnya itu. Rasanya menyakitkan melihat Naruto yang berbeda. Shikamaru tersenyum sendu. Entahlah, sepertinya hari ini Tuhan memberkatinya. Instingnya selama ini tidak pernah mengkhianati. Saat melihat tangan itu, ia tak perlu berpikir berulang kali untuk menebak siapa orang itu, walaupun kewaspadaan harus tetap terjaga. Shikamaru yang melihat Chiyo datang dengan mug gelas berukuran besar ditangan memberi ruang untuknya.

"Minumlah."

Sakura melepaskan pelukannya, membantu Naruto memposisikan dirinya saat mendengar suara Chiyo. Wanita tua itu dengan lembut mengarahkan mug berisi teh hangat pada bibir yang membeku itu, seraya mengelus punggung pemuda dihadapannya.

Wajah Naruto kian lama memerah, menunjukkan jika suhu tubuhnya semakin hangat. Matanya terpejam tak lama, lalu kembali melihat.

"Apa yang mereka lakukan kepadamu!?" Tanya Sakura memandang dengan raut khawatir seraya menangkup wajah pemuda pirang itu.

"Tenang Sakura, Naruto butuh menyesuaikan diri." Ujar Shikamaru berusaha membuat keadaan menjadi tenang.

"Uchiha menculikku."

Dua kata yang meluncur pelan namun terdengar dingin membuat dua orang itu tak mampu berkata-kata. Manik biru tersebut memandang lurus pada perapian, mencoba untuk menerima panas ke dalam tubuh. Shikamaru mendengus pelan. Dirinya tidak terkejut untuk mendengar hal itu. Namun, tetap saja. Pasti bangsawan vampire itu selalu menggunakan cara kotor terhadap mangsanya, tidak salah lagi.

Terdengar suara deritan pintu yang menutup. Tepat beberapa menit lalu Chiyo mengantarkan teman pria tuanya itu berpamitan.

"Fireflies menyatakan perang."

"Huh!?"

"Kau tahu, Uchiha menjadikanku umpan untuk Namikaze. Licik memang, dan aku melarikan diri tepat dimana dua klan itu tengah berunding di Asrtad. Lalu, Uchiha Sasuke mengejarku, kami sempat beradu mulut, dan Sasori datang hampir membunuhku jika saja Uchiha sialan itu tidak mengeluarkan kemampuan khasnya. Jujur aku benci mengakuinya."

"Lalu? Dia meloloskanmu?"

Naruto hanya mengedikkan bahunya pelan.

"Kupikir dia akan menagih janjiku." Sahut Naruto datar, terdengar enggan membahas.

Keadaan kembali hening. Tidak ada yang berniat kembali untuk membuka mulut. Ketiganya larut dalam pikiran masing-masing. Chiyo, wanita tua itu duduk di kursi goyangnya, kembali menekuni rajutan syal merah miliknya. Sejujurnya Chiyo cukup tersentak saat tak sengaja mendengar pembicaraan orang baru di rumahnya itu. Jika tidak salah, apa tadi dia menyebut Sasori?

Entahlah, mengingat banyak nama yang digunakan oleh orang-orang diluar sana.

"Kalian menginap disini?"

Mendengar pertanyaan Naruto, baik Shikamaru maupun Sakura keduanya saling berpandangan, lalu mengangguk bersamaan. Naruto yang melihatnya menghela napas pelan.

"Apa kalian tidak merepotkan wanita itu?" Sahut Naruto kembali, kali ini terdengar membisik pelan.

"Kau tahu, kami mencarimu, langit semakin gelap dan butuh tempat bermalam, lalu melihat sebuah rumah di tengah hutan. Jadi, yeah.." Respon Sakura ala kadarnya dengan suara kecil.

Keduanya kembali diam. Shikamaru terlihat memikirkan sesuatu dalam benaknya. Tentunya itu tentang cerita Naruto. Mengenai perang, Uchiha bak iblis yang tengah mempersiapkan pasukannya, belum lagi keadaan dirinya dan dua temannya itu kedepan nanti. Oh, kali ini ia hanya bisa berharap penuh pada Tuhan.

"Kapan kita kembali?"

"Tergantung keadaanmu." Balas Sakura cepat.

"Siang ini." Ujar Naruto pendek, membuat Sakura mengerutkan keningnya.

"Hey, hey, apa kau yakin?" Sahut Shikamaru terdengar tidak biasa.

Bukan apa-apa, hanya saja ia khawatir dengan keadaan teman pirangnya itu yang baru ditemukan. Kejadian yang tak pernah ia sangka, aneh, dan kebetulan. Namun, terjadi pada dirinya. Menemukan orang yang selama ini dicari-carinya di sebuah pedati pria tua? Oh, mustahil sekali, tapi ia bersyukur.

"Aku baik-baik saja. Beruntung orang tua itu membawaku. Jika tidak, mungkin aku sudah mati kedinginan." Ucap Naruto diiringi tawa kecil.

"Jadi, bersiaplah. Kita akan kembali ke Laksevag."

.

Shikamaru mengikat beberapa perlengkapan di pelana kuda seperti biasa. Ia mendengus pelan, lalu berjalan memasuki rumah yang dihuninya semalaman bersama Sakura. Dilihatnya Naruto dan Sakura tengah asyik mengobrol dengan wanita tua dihadapannya. Pria nanas itu berjalan mendekat, menyusul duduk disamping Naruto.

"Jadi kalian akan segera pergi 'kah." Ujar Chiyo terselip nada tak rela saat mendengarnya.

Sakura memandang Naruto, juga Shikamaru secara bergantian, lalu beralih pada Chiyo seraya tersenyum tidak enak. Entahlah, dirinya juga merasa tak rela untuk meninggalkan Chiyo seorang diri. Walaupun ia baru pertama kali bertemu wanita tua itu, hatinya merasa telah akrab. Chiyo mengingatkan Sakura terhadap mendiang ibunya.

Oh, tiba-tiba saja Sakura merasa sedih.

Sakura mengelus punggung tangan yang terlihat keriput itu, memandang wajah renta yang memiliki banyak kerutan. Sakura tersenyum tipis.

"Terima kasih karena telah membantu kami, nek." Ujar Sakura penuh kasih, sedangkan Chiyo membalasnya dengan anggukan kepala.

"Apapun itu. Selama aku bisa membantu, pasti akan kulakukan." Balas Chiyo khas orang tua.

Sakura memeluk Chiyo dengan erat, penuh penghayatan. Seakan darinya takut untuk kehilangan. Setelah beberapa menit, Sakura melepasnya dengan senyum hangat. Lalu, Shikamaru. Cukup membuat Sakura termangu melihat pria nanas itu mendekap Chiyo mengikutinya.

"Kuharap kita bisa bertemu lagi." Ucap Shikamaru sesaat setelah melepas dekapannya.

Hal itu hanya dibalas senyuman tipis dari Chiyo sebagai respon. Sedangkan Naruto, pria itu masih bergeming memperhatikan interaksi orang-orang dihadapannya.

Setelah Sakura dan Shikamaru bangkit hendak menyelesaikan persiapannya, Naruto tidak kunjung mengikuti keduanya. Chiyo tak sengaja bertemu pandang dengan manik biru dihadapannya. Wanita renta itu hanya tersenyum ramah. Melihat itu, Naruto tertegun, lalu menghampiri Chiyo dengan perlahan.

"Aku punya sesuatu untukmu." Sahut Naruto seraya merogoh sesuatu dari balik jubahnya.

Chiyo memandang heran saat melihat tangan Naruto menyodorkan sebuah kantung lusuh dan sedikit ternoda kearahnya.

"Hadiah dariku. Terima kasih telah membantu temanku untuk tinggal disini."

Chiyo meraihnya, hendak melepas tali yang mengikat kantung itu. Kedua matanya membola, terlalu terkejut untuk melihat kepingan emas yang ada didalamnya. Apa ini sungguhan?

"Terima kasih banyak, nak. Terima kasih. Semoga Tuhan selalu melindungimu, dan teman-temanmu."

Naruto mengangguk pelan, lalu beranjak pergi menuju Sakura, dan Shikamaru yang terlihat mengamati interaksinya dengan Chiyo diambang pintu. Mereka memandang teduh pada manik biru tersebut. Ketiganya saling memandang, saling meyakinkan. Tak selang beberapa menit, Naruto melangkahkan kakinya keluar rumah, diikuti Sakura, dan Shikamaru yang menutup daun pintu perlahan.

Tubuhnya langsung diterpa angin beku. Butir salju yang tak kalah dinginnya membuat tubuhnya meremang. Dilihatnya dua buah kuda berdiri terikat disamping rumah.

"Jadi, pilih bersamaku atau Shikamaru?" Tanya Naruto tiba-tiba seraya mendekat kearah kuda berwarna cokelat untuk mengelusnya.

Naruto tersenyum saat melihat kuda tersebut mendekat kearahnya. Cukup membuat Sakura terdiam lama saat mendengar suara Naruto.

"Mungkin melepas rindu denganmu bukan hal yang buruk."

Naruto tertawa geli, dan langsung mendapat pukulan dari Sakura di lengannya. Jujur sebenarnya wanita itu enggan mengakui rasanya. Hanya saja, ucapan dan hatinya sering berjalan tidak seirama. Terkadang Sakura merasa kesal dengan dirinya. Terlalu labil, dan naif diumurnya yang hampir di penghujung dua puluh tahun.

Naruto menjulurkan tangannya pada Sakura, membantunya untuk menaiki kuda terlebih dahulu. Lalu, disusul olehnya yang mengemudikan tali kuda.

Salju tidak setebal seperti semalam. Cukup mempermudah perjalanan menuju perbatasan dari hutan cemara. Shikamaru mengeratkan mantelnya. Ia sedikit mendahului laju kudanya, berniat untuk memandu arah jalan yang akan dituju.

Shikamaru menghela napas. Tidak, ia merasa bersyukur saat mengingat perjalanan pulang akan lebih cepat. Naruto telah kembali. Tuhan menjawab pertanyaannya selama dua hari belakangan ini. Diam-diam Shikamaru tersenyum samar. Hatinya hanya berharap kebaikan-kebaikan apa yang akan Tuhan beri pada dirinya dan kedua temannya itu.

.

Laksevag

Riuh tepuk tangan saling menyahuti pertunjukan tari tradisional yang diadakan setiap akhir pekan. Masyarakat memenuhi jalanan dengan beragam kegiatan untuk meramaikan festival budaya pada malam hari. Pria dan wanita saling bercengkrama, berdansa mengikuti alunan biola dan harmonika yang mengiringi setiap gerak.

Naruto memperlambat pacu kudanya. Manik birunya menelusuri sebuah kota yang akan ia tinggali kedepannya, bersama dua teman lama. Sudah lama ia tak mengunjungi tempat ini, mengingat terakhir kali dirinya hanya singgah sementara untuk membeli kebutuhan pokok dan berlatih.

Naruto hendak menuruni sanggurdi, lalu berjalan seraya menuntun kuda dengan Sakura yang masih duduk di punggung kuda. Shikamaru pun melakukan hal yang sama.

Sesuatu mengalihkan perhatian Naruto. Dilihatnya seorang anak kecil berdiri didekatnya seraya mengadahkan tangan mungilnya yang penuh dengan permen. Naruto mengangkat sebelah alisnya, sedikit heran dan ada perasaan curiga merayapi hatinya. Walaupun anak-anak, tetap saja akan berbahaya jika jatuh dalam perangkap.

"Ini, permen!" Sahut anak tersebut semakin mendekatkan tangannya pada Naruto, berniat untuk memberikannya.

Sedangkan respon yang Naruto berikan tidak cukup membuat antusias. Pemuda pirang itu bergeming, mencoba untuk mengabaikan dengan mengalihkan perhatian. Sukses membuat anak kecil tersebut menekuk garis bibirnya keatas, memandang sedih.

"Hey, jangan kasar! Terimalah, dia hanya bocah." Ujar Sakura melihat interaksi keduanya yang dapat membuat mata sakit.

Naruto mendengus, lalu kembali menatap bocah laki-laki tersebut yang dibalas senyum sumringah. Cukup membuat Naruto salah tingkah, dan mau tak mau ia mengambil beberapa biji permen yang berada di tangan mungil itu.

"T-terima kasih."

Dan entah kenapa suara yang selalu berteriak lantang pada musuh terdengar terbata-bata hanya kepada seorang anak kecil.

"Tentu! Sampai jumpa!"

Sepeninggal anak kecil yang memiliki rambut hitam pekat itu, Naruto kembali mengamati bungkus permen yang terlihat mahal? Oh entahlah, kelihatannya seperti itu.

"Dia anak yang tampan." Ujar Sakura mengalihkan perhatian Naruto.

Pemuda pirang itu hanya memutar kedua bola matanya, lalu menoleh kearah dimana bocah tersebut lari. Namun, sesuatu yang mengejutkan membuat bola mata Naruto melebar. Sosok yang sangat ia kenal berdiri tak jauh memandang dirinya. Pandangannya hilang saat orang-orang berlalu lalang menghalanginya, dan kembali tidak menemukan apa yang tadi ia lihat sebelumnya.

Apa mungkin karena kelelahan? Jadinya, ia melihat apa yang tidak seharusnya dilihat. Sosok itu, ia tak salah lagi melihatnya. Mata onyx itu, Uchiha Sasuke!

"Hey, kau melamun! Ayo pulang!" Suara Shikamaru menyadarkan Naruto.

Tanpa berpikir panjang, dan berusaha menghilangkan pikiran-pikiran yang tidak seharusnya ada, Naruto kembali melanjutkan tuntunan kudanya menuju rumah yang akan ditinggali.

Selama perjalanannya, Naruto tak pernah absen menghembuskan napas, cukup membuat Sakura mengernyit heran.

"Kau kenapa?" Tanya Sakura merasa tak habis pikir melihat teman pirangnya yang terlihat tak bersemangat.

Wanita itu hendak memasukkan kunci kedalam lubang pintu dan memutarnya beberapa kali. Naruto tak merespon pertanyaan itu. Ia hanya tengah berharap jika kedepannya akan baik-baik saja. Namun, sepertinya akan menjadi sebuah angan-angan saha mengingat semua yang telah terjadi selama ini.

"Huaa.. Aku mengantuk." Ujar Naruto langsung menjatuhkan diri pada sofa yang terlihat nyaman di matanya.

Shikamaru yang melihat Naruto yang dengan mudahnya telah masuk ke alam mimpi menggumamkan kata andalannya seperti biasa.

Dilihatnya wajah tan dengan tiga garis halus di masing-masing pipinya, terlelap damai tanpa perlu mengeluarkan mimik tegang. Begitu tenang, dan manis.

"Okay, setelah dia yang melamun, giliranmu yang melamun. Ayo, bantu aku mengangkut barang!"

Dan dengan sedikit enggan, Shikamaru langsung melesat keluar rumah untuk mengambil barang yang masih tergantung pada pelana kuda.

Tidak ada yang spesial, Naruto lebih banyak beristirahat malam ini. Dirinya kembali terjaga saat waktu makan malam telah tiba dengan suara keras Sakura yang mengisi gendang telinganya.

Mereka menghabiskan tiga puluh menit di meja makan bersama obrolan ringan yang menyelimuti ketiganya. Cukup membuat Naruto mengembalikan tawanya yang sudah lama mereka dengar, dan Shikamaru yang sesekali tersenyum tipis.

Malam semakin larut. Shikamaru tengah membilas semua peralatan makan di dapur, bersama Sakura yang menemani dirinya dengan secangkir kopi. Sedangkan Naruto, ia tengah sibuk berkutat dengan buku yang tak sengaja ditemukannya di sudut ruangan. Entahlah, catatan ilmu pengetahuan yang terlihat kuno, dan hey! Sejak kapan Naruto gemar membaca?

Ia langsung melempar benda itu ke sembarang arah, lalu mendengus kesal. Kini matanya hanya memandang langit-langit ruangan, lalu beralih pada perapian yang saat ini menghangatkan tubuhnya.

Matanya hendak menutup, namun sebuah suara mengurungkan niatnya. Suara itu berasal dari luar pintu. Seseorang mengetuknya dengan perlahan. Naruto hendak bangkit untuk melihat kearah lubang pintu, namun Sakura langsung mendahuluinya, membuat dirinya kembali terduduk di sofa, mengamati dengan cermat tentang apa yang akan terjadi. Entahlah, cukup mengherankan untuk bertamu dengan waktu selarut ini.

Sakura melirik kearah lubang pintu. Seseorang, namun wajahnya tertutup oleh fedora yang dikenakannya, berdiri seorang diri dibalik pintu. Entahlah, walaupun rasa curiga dan takut bercampur menjadi satu, namun hatinya bersuara untuk membukanya. Shit, membuatku sulit saja, batin Sakura mengerang.

Dengan segenap tenaga, Sakura memutar knop pintu, dan menariknya. Manik emeraldnya terkejut saat mendapati sosok asing yang tersenyum ramah pada dirinya, dan wait! Kenapa wajahnya mirip sekali dengan teman pirangnya itu?

"Boleh aku masuk?"

Suara khas seorang pria, namun terdengar merdu di telinga Sakura, cukup membuat wanita itu bergerak kikuk, salah tingkah mendapatinya.

"A-ah iya, silahkan."

Wanita itu membuka pintunya lebih lebar, langsung disusul oleh pria tersebut yang memasuki ruangan.

"Rumah yang bagus." Sahutnya ringan seraya melepas fedoranya.

"T-terima kasih!"

Pria tersebut dengan penuh kesantunan melepas coat hitam yang melekat pada tubuhnya, hendak menggantungnya pada hanger yang tersedia, namun Sakura langsung mengambilnya untuk dilakukan.

"Oh, terima kasih." Ujar Minato terkesan.

"Dengan senang hati. Jika aku boleh tahu, apa kau mencari sesuatu?"

Pertanyaan Sakura membuat pria yang terlihat muda tersebut memandangnya dengan kedipan mata beberapa kali.

"Ah, benar. Aku Namikaze Minato. Apa Naruto ada disini?"

Pembukaan sederhana, namun membentuk banyak pertanyaan di benak Sakura. Hal yang paling penting adalah, siapa pria ini, dan ada urusan apa dengan sahabat pirangnya itu?

"Dia, anakku."

Seolah dapat membaca apa yang Sakura pikirkan, wanita itu hanya diam termangu mendengar dua kata itu, lamban untuk mencerna kedalam otaknya.

Dan kedua orang itu langsung mengalihkan perhatiannya kearah Naruto yang terlihat berdiri mematung tak jauh dari mereka.

.

To be continued.


Author's Note :

Hai, ketemu lagi dengan karya saya yang satu ini. Bagaimana? Seru 'kah? Atau sebaliknya ? Hehehe~

Doakan author semoga fic-nya buruan kelar. Jujur, saya kadang suka cape batin karena terlalu banyak hal2 yang terpikir di otak. Banyak hal, entah itu sekolah saya, hobi, perasaan2 saya. Agak curhat dikit, tapi it's fine! Ehe~

Review kalian sangat sangat dinantikan.

Jangan lupa ya reviewnya! Hehe~

Salam hangat,

Author