Destiny

Story by A.P. Walove

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Chapter 2

Hari ini sudah lewat tiga minggu setelah kejadian hampir jatuh dari tangga yang dialami Hinata. Sejak saat itu pula entah mengapa Hinata merasa menjadi sangat sering bertemu tanpa sengaja dengan senpainya dari keluarga Uchiha itu. Entah terjebak dalam antrean yang sama saat ingin makan siang di kafetaria kampus, sama – sama menikmati suasana hening di perpustakaan di universitasnya, dan yang paling sering adalah Hinata sering melihat Sasuke duduk dengan tenang sambil membaca buku ataupun mendengarkan musik di bangku taman yang menghubungkan gedung Fakultas Seni dan Desain dengan Fakultas Teknik yang memang paling jarang dipillih mahasiswa untuk dikunjungi daripada tempat lain di kampus. Mungkin mahasiswa lain lebih senang mengunjungi kafetaria daripada taman ini. Hanya ada beberapa mahasiswa yang menjadikan taman ini tempat favorit mereka untuk membaca buku, mengobrol, mencari suasana yang tenang untuk mengerjakan tugas kuliah, ataupun hanya sekedar menghabiskan waktu jeda antar mata kuliah.

Lain dengan Sasuke yang memilih bangku taman sebagai spot favoritnya, Hinata lebih suka duduk beralaskan rumput hijau di bawah pohon maple yang rindang. Jarak antara pohon maple dengan bangku yang sering diduduki Sasuke berjarak sekitar sepuluh meter dengan posisi bangku tersebut membelakangi tempat biasanya Hinata berada. Oleh karena itu Hinata dapat mengamati senpainya tersebut tanpa takut dipergoki. Tunggu... maksudnya Hinata kadang tanpa sengaja melihat ke arah Sasuke saat ia tengah memberikan jeda atas kegiatannya seperti saat ini, saat Hinata merasakan lehernya sudah kaku karena dari tadi menunduk untuk membaca novel terjemahan dari penulis favoritnya.

Hinata sedikit heran, walaupun ini musim semi di mana sinar matahari tidak terlalu menyengat, tapi kenapa Sasuke tidak memilih tempat yang lebih teduh dibandingkan bangku taman yang jelas – jelas tidak ada atap pelindungnya itu? Apa mungkin ia ingin sedikit menggelapkan kulitanya, yang Hinata akui sangat putih dan mulus untuk ukuran laki – laki. Bahkan mungkin kulit Hinata sendiri kalah mulus.

Saat sedang tenggelam dalam pikirannya dan sepenuhnya memusatkan pandangannya pada Sasuke, Hinata sangat terkejut saat menyadari objek yang diamatinya tiba – tiba bangkit dari posisinya semula dan... berjalan ke arahnya! Setiap langkah yang Sasuke ambil untuk mendekat ke arahnya membuat jantung Hinata serasa ingin lompat dari rongganya. Ia langsung menundukkan kepalanya berpura – pura seolah – olah menyibukkan diri kembali pada novelnya.

Deg!

Deg!

Deg!

"Apa dia sadar kalau aku sering melihatnya? Bagaimana ini?!" Ia hanya menunduk sambil berdoa agar tidak terjadi sesuatu padanya.

Setelah lewat beberapa detik dan merasa janggal karena tidak kunjung terjadi sesuatu, Hinata pun memberanikan diri membuka matanya. Dia hanya bisa melongo saat tidak lagi merasakan keberadaan seniornya yang tadi jelas – jelas berjalan ke arahnya. Setelah celingukan mencari keberadaan Sasuke, Ia langsung mengelus dadanya lega karena ternyata Sasuke tidak berniat menghampirinya. Seketika Hinata merasa dungu saat menyadari Sasuke hanya sekedar melewatinya, karena memang gedung Fakultas Teknik, yang notabene-nya adalah gedung tempat Uchiha Sasuke kuliah, berada di belakangnya.

"Bodohnya akuuuuuu." Rutuknya pada dirinya sendiri.

Di sisi lain, Sasuke yang baru saja memasuki gedung Fakultas Teknik heran dengan tingkah perempuan – yang Sasuke merasa pernah melihatnya - yang baru saja dilewatinya.

"Dasar aneh." Pikirnya. Lalu melanjutkan langkahnya menuju kelas.

...

Sepulang kuliah, Hinata bersama Tenten memutuskan untuk pergi ke toko buku. Sebenarnya hanya Hinata yang ingin pergi karena harus membeli buku referensi tentang Desain Interior. Sedangkan Tenten yang memang sudah mendapatkan buku tersebut dari seniornya memaksa menemani Hinata dengan alasan ingin membeli novel bergenre misteri dari penulis favoritnya.

Setelah mendapatkan buku incarannya, Hinata memutuskan untuk menghampiri Tenten yang berada di bagian lain dari toko dimana rak – rak berisi novel berada. Saat hampir sampai di lokasi tujuan, tiba – tiba Hinata dikejutkan dengan adanya rombongan senior yang paling dihindarinya. Yap! "Trio Gen Super" ditambah Yamanaka Ino. Hinata panik berusaha untuk tidak menarik perhatian dan dengan cepat berbalik arah. Namun sayang Dewi Fortuna sedang tidak berpihak padanya. Salah satu senpainya terlanjur menyadari keberadaannya dan spontan memanggilnya.

"Hey, Kau adiknya Neji yang waktu itu kan?" Suara Uzumaki Naruto yang memang agak keras seketika membuat tubuh Hinata mematung.

"Astaga." Batin Hinata memelas. Dengan gerakan kaku ia membalikkan badan menghadap para senpainya sambil tersenyum kaku.

"Oh, H-hai, Senpai." Sapa Hinata gugup sambil menundukkan kepala.

"Wah, kebetulan sekali kita bertemu lagi. Omong – omong siapa namamu?"

"P-perkenalkan, nama Saya H-Hinata, Hyuuga Hinata." Hinata berusaha agar senyumnya terlihat sealami mungkin.

"Haha tidak perlu seformal itu. Oh iya kita belum sempat berkenalan, namaku Uzumaki Naruto, yang berambut permen karet ini Haruno Sakura, kalau yang kurus ini Yamanaka Ino, dan yang mukanya menyebalkan ini Uchiha Sasuke." Cara perkenalan yang sangat menyebalkan dari Naruto dengan otomatis mengundang tatapan tajam dari ketiga sahabatnya. Dan bukan Uzumaki Naruto namanya jika tidak tersenyum meringis tanpa rasa bersalah.

"Siapa yang tidak kenal kalian." Tentu saja Hinata hanya berani membatin.

"Hai, salam kenal, ya." Sapa Sakura ramah sambil tersenyum. Disusul dengan Ino yang tersenyum ramah. Lain hal dengan Sasuke yang hanya menganggukkan kepala dengan tetap memasang muka datar andalannya.

"S-salam kenal, senpai." Balas Hinata sembari sedikit membungkukkan badan.

"Kenapa Kau sopan sekali. Berbeda sekali dengan Neji, hehe." Ucap Naruto dengan polosnya yang langsung mendapatkan injakan kaki maut dari Sakura.

"Sudahlah, Hinata-chan, jangan dengarkan anak bodoh ini." Ucap Sakura tanpa peduli pada temannya yang kesakitan.

"Oii, Teme, Kau ingat kan pernah menolong Hin-"

"Sudahlah, Dobe. Kau cerewet sekali. Kau sudah dapat bukumu, kan? Cepat bayar dan kita pulang." Potong Sasuke sebelum Naruto bicara lebih banyak.

"Ah, Kau ini. Baiklah. Kalau begitu kita pamit dulu ya, Hinata-chan. Sampai ketemu lagi. Dan titip salam untuk Neji."

"H-ha'i, Senpai." Sambil agak menundukkan badannya, Hinata melihat senior-seniornya berlalu.

Entah kenapa Ia agak sedih melihat sikap Sasuke yang begitu tak acuh saat Naruto berusaha bercerita tentangnya. Bahkan saat Naruto berbicara banyak dengannya pun Sasuke terlihat tidak peduli. Ia terus – menerus memasang ekspresi datarnya dan terlihat ingin segera mengakhiri pembicaraan Naruto mungkin memang seperti itu sifat Uchiha Sasuke. Kalaupun memang ia tidak peduli dengan Hinata, tidak masalah, kan?

Setelah ingat dengan tujuan awalnya, Hinata buru-buru menghampiri Tenten. Ia ingin segera mengajak Tenten pulang. Entah kenapa mood-nya tiba-tiba memburuk.

...

Karena kalah main games dengan Hanabi semalam, sesuai perjanjian, hukumannya adalah membelikan makanan apapun yang diminta Hanabi. Dan makanan yang dipilih Hanabi adalah ramen, dan sialnya, tempat terdekat dijualnya ramen tersebut dari rumahnya adalah super market yang jaraknya sekitar lima kilometer. Sebenarnya keluarga Hyuuga memiliki supir pribadi namun Hinata memilih naik bus karena jujur, ia tidak suka membuat orang lain menunggu. Nyonya Hyuuga alias ibunya lah yang paling sering meminta bantuan Kotetsu-san – supir keluarnganya untuk mengantarkanya yang sering mengunjungi panti asuhan yang didirikan oleh keluarganya.

Hinata menelusuri rak – rak tinggi tempat berbagai merek ramen instan dipajang, dan akhirnya menemukan ramen yang diinginkan Hanabi. Setelah memasukkan beberapa ramen ke dalam keranjang, Hinata berpindah tempat di mana sayur dan buah berada. Ia ingin sekalian membeli buah saat ingat stok buah di rumahnya hampir habis. Hinata sedang banyak mengonsumsi buah karena ia sedang menjalani program diet. Ia merasa badannya semakin berisi setelah liburan musim dingin kemarin.

Hinata berjalan pelan sambil memindai buah mana yang akan Ia beli. Ia agak menepikan tubuhnya saat ada pegawai super market yang membawa tumpukan box buah dengan troli. Mungkin untuk mengisi stok buah yang hampir ludes terbeli. Saat pegawai tersebut telah berlalu dari tempat Hinata berdiri, Hinata melihat seorang wanita yang mungkin berusia sekitar empat puluhan tahun yang sepertinya tidak menyadari kalau pegawai tadi lewat. Sang pegawai menyadari keberadaan wanita tadi di waktu yang sedikit terlambat. Dengan panik Ia membelokkan trolinya agar tidak menabrak wanita tadi yang akibatnya tumpukan box buah yang lumayan tinggi tadi oleng.

"OBA-SAN, AWAS!" teriak Hinata yang dengan cepat meraih tangan wanita tadi dan langsung menariknya. Akibatnya lengan Hinata sendiri terkena box yang jatuh dan untungnya hanya tergores.

Seluruh pengunjung supermarket di sekitar mereka ikut terkejut dan lega saat melihat wanita paruh baya itu tidak tertimpa box berisi buah. Hinata dan wanita tadi berusaha mengatur nafas karena kejadian yang cukup mengejutkan tadi. Pegawai pembawa box buah tadi berusaha meminta maaf dan dengan penuh pengertian wanita itu memberinya maaf karena ia berpikir mungkin pegawai tersebut terlalu lelah bekerja.

"Astaga, Nak. Aku sangat berterimakasih. Kalau tidak ada Kau mungkin kepalaku yang terkena box tadi." Ucap wanita itu tulus.

"Senang bisa membantu Bibi." Balas Hinata dengan senyum manisnya.

"Ya Tuhan! Tanganmu berdarah, Nak!" Wanita itu panik kala menyadari lengan sebelah kanan Hinata sedikit berdarah.

"Tidak apa-apa, Oba-san, hanya tergores sedi-"

"Tidak! Kita harus mengobatinya. Bibi akan membelikanmu plester." Ujar sang wanita paruh baya seraya menarik tangan Hinata. Dan Hinata pun hanya pasrah.

...

Setelah selesai membersihkan dan menempelkan plester pada luka Hinata. Mereka berdua memutuskan – yang sebenarnya adalah paksaan dari wanita yang lebih tua – untuk mempir ke Cafe. Hinata memesan Cinnamon Roll dan juga Caramel Latte sedangkan bibi tadi lebih memilih Espresso serta satu Croissant.

"Obasan, sekali lagi terima kasih. Seharusnya Anda tidak perlu membayar belanjaan Saya." Hinata yang sedari kecil dididik untuk tidak mudah menerima sesuatu dari orang lain selagi ia bisa mendapatkannya sendiri merasa tidak enak.

"Sudahlah, Nak. Anggap saja itu bentuk terimakasihku atas pertolonganmu tadi." Sambil tersenyum ia menepuk pundak Hinata seolah meyakinkan.

"Baiklah, Obasan. Terimakasih banyak." Akhirnya Hinata hanya bisa pasrah.

"Oh iya, Bibi sampai lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan nama Bibi Mikoto." Agak lucu memang, padahal mereka sudah banyak bercakap tapi malah lupa memperkenalkan diri.

"Perkenalkan, nama Saya Hinata, Hyuuga Hinata." Hinata mengakhiri perkenalan singkatnya dengan menundukkan kepala sekali.

"Tunggu... Kau dari keluarga Hyuuga?" Tanya Mikoto agak terkejut.

"I-iya, benar, Obasan." Hinata menjadi sedikit gugup melihat reaksi Mikoto.

"Kau kenal Hiashi, Nak?"

"B-beliau ayah Saya, Bi. Kalau boleh tahu, sebenarnya ada apa?" tanya Hinata dengan halus.

"Astaga, kenapa dunia sempit sekali. Hiashi itu temanku waktu kuliah. Kami dulu juga ikut salah satu organisasi di kampus. Omong – omong apakah rambutnya masih panjang? Hahaha." Mikoto berasa mengenang masa – masa kuliahnya yang menyenangkan.

"Masih, Obasan. Bahkan sangat halus." Hinata berusaha menanggapi candaan Mikoto.

"Wah, wah, ternyata Kau bisa bercanda juga, Hinata-chan." Ujar Mikoto sedikit gemas karena menurutnya Hinata sangat imut.

Mereka melanjutkan obrolan yang didominasi oleh Mikoto yang bercerita tentang masa kuliahnya sampai hobby-nya membuat aneka kue. Ia juga bercerita bahwa Ia memiliki dua orang anak laki – laki yang ternyata salah satunya berada di satu universitas dengan Hinata.

Karena terlalu larut dalam obrolan, mereka sampai tidak sadar bahwa hari sudah beranjak sore. Mikoto pun pamit dengan alasan harus menyiapkan makan malam untuk keluarganya. Hinata juga sadar bahwa Hanabi pasti sedang kesal karena menunggunya.

Saat tahu bahwa Hinata tidak membawa kendaraan, Mikoto menawari – yang lagi-lagi sedikit memaksa – Hinata untuk pulang bersamanya karena kebetulan juga rumah mereka satu arah. Dan lagi-lagi, entah takdir atau apa, rumah mereka hanya berjarak dua blok saja.

"Terimakasih, Obasan telah mengantar Saya." Ucap Hinata saat mobil milik Mikoto yang dikendari oleh supir pribadinya telah sampai di depan gerbang keluarga Hyuuga.

"Iya, sama-sama, Sayang. Hinata-chan, apakah Bibi boleh minta nomor handphone-mu? Bibi ingin mengundangmu makan malam di rumah Bibi lain waktu. Kita juga bisa memasak kue bersama-sama."

"Boleh, Obasan." Lantas Hinata menyebutkan deretan angka yang membentuk nomor handphone-nya. Setelah berpamitan, Ia lantas keluar dari mobil.

"Baiklah, Hinata-chan. Tolong sampaikan salam Bibi untuk Ayah dan Ibumu, ya." Ujar Mikoto dari dalam mobil.

"Baik, akan Saya sampaikan,"

Mobil Mikoto pun melaju meninggalkan Hinata.

...

Setelah sampai di dalam rumah, Hinata melihat Ayahnya yang sedang menonton televisi. Karena takut akan lupa, Ia berniat akan menyampaikan salam dari Bibi Mikoto.

"Ayah, tadi saat Aku ke supermarket Aku bertemu dengan Bibi yang bernama Mikoto. Bibi bilang beliau teman Ayah waktu kuliah. Ia menitipkan salam untuk Ayah." Ucap Hinata setelah menghampiri Ayahnya.

"Mikoto? Maksudmu Uchiha Mikoto?" tanggapan dari Hiashi sontak menimbulkan reaksi terkejut dari Hinata. Tanpa sadar Ia menjatuhkan belanjaannya.

"U-u-uchiha?"

"Oneechan, ramenku!" omel Hanabi yang baru saja turun dari lantai dua saat melihat ramen kesukaannya jatuh ke lantai.

"M-maksud Ayah keluarga Uchiha yang terkenal itu?" Hinata masih ingin memastikan. Ia tidak memedulikan Hanabi yang memungut ramennya sambil terus mengomel.

"Iya, dia isteri Uchiha Fugaku." Jawab Hiashi santai. Ia agak heran dengan reaksi putrinya ini.

Confirmed. Bibi Mikoto adalah isteri dari Uchiha Fugaku, dan Uchiha Fugaku adalah ayah dari UCHIHA SASUKE!

Oh God! Ada apa dengan dunia ini? Ia hanya bisa berharap Bibi Mikoto hanya basa-basi saat mengatakan akan mengundangnya makan malam tadi.

..

.

To Be Continued

A.N :

Terimakasih sudah membaca ^^

Terimakasih juga yang udah review, fav dan follow cerita ini ^^

Oh iya, karena ada salah satu review yg bilang kalo ratenya nggak cocok kalo K (padahal sebenernya K+ lho hehe), dan aku jadi mikir untuk jaga2(wkwk) lebih baik emang ratenya T aja. Jadi sekarang ratenya kuubah ya jadi T.

Keep support me by giving your review and also fav and follow my strory. Thank u