Disclaimer : Naruto hanya milik Masashi Kishimoto. Harry Potter hanya milik J.K Rowling
Warning : FemNaru, semi-canon, typos.
Pairing : Slight ShikaTema, SasuFemnaru, other friendship bonds.
A/N : Hello, selamat datang di fanfic crossoverku yang pertama. Temanya sebenernya cukup mainstream, yaitu tentang batas dua dunia dan misi menjaga hogwarts. Aku sendiri sudah baca cukup banyak crossover HP/Naruto dengan tema itu dan aku dapat inspirasi dari sana juga, khususnya fanfic karya FangReon yang berjudul Worth a Shot. Dikarenakan terinspirasi, maka ada beberapa aspek yang hampir sama. jadi untuk yang sudah baca karya itu, semoga kalian bisa memaklumi karena selain sebagian besar ide dan konfliknya berasal dari kepalaku sendiri.
terus, untuk mengingatkan, setting ff ini adalah post 4th shinobi war di dunia naruto, dan masa order phoenix di dunia HP. karena ini adalah crossover pertamaku, tolong dimaklumi--lagi--kalau pertemuan mereka nanti rada kurang sreg atau apalah xD saya di sini masih belajar nulis, senpai. belajar nulis sambil senang-senang juga. semoga kalian bisa terhibur dengan fanfic ini. oh, ya, buat yang nggak suka FemNaru sebaiknya minggir saja, terima kasih.
Selamat Membaca!
ooOoo
Duduk melingkari sebuah meja berbentuk U, lima orang yang merupakan para pemimpin desa ninja tengah membicarakan masalah baru yang muncul pasca perang terakhir mereka dua tahun yang lalu--perang terbesar dunia shinobi yang berhasil menyatukan desa-desa ninja dan menjadi awal era baru menuju kedamaian. Pembangunan besar-besaran sedang diupayakan oleh kelima desa besar tersebut.
Kerjasama antar desa semakin membaik. Mereka bekerja sama hampir di segala bidang, dari bidang militer hingga ekonomi. Selama dua tahun terakhir, kelima desa sepakat untuk mempertahankan kekuatan militer Aliansi Shinobi. Mereka sering mengirimkan skuad yang berisi ninja dari berbagai desa untuk menjalankan misi khusus penangkapan nukenin pelarian perang.
Aliansi Shinobi juga menjadikan pertemuan Kage menjadi acara rutin tiap tahunnya dengan pertemuan para representatif tiap tiga bulan sekali. Pertemuan para representatif--misalnya Shikamaru dari Konoha dan Temari dari Suna--dimaksudkan agar transparansi antar desa tetap terjaga. Setiap desa diwajibkan melaporkan segala aktivitas di luar desa yang menyangkut kelima desa itu dengan maksud agar tidak terjadi kesalahpahaman dan munculnya benih konflik yang baru.
Tatanan politik pasca perang kini menjadi sedikit lebih kompleks karena desa tidak lagi bisa mengambil keputusan sendiri tanpa pertimbangan desa lain jika sudah menyangkut penanganan masalah di luar batas desa yang bersangkutan. Desa shinobi kini sudah lebih terkoordinasi dan tentunya lebih maju dibandingkan periode sebelumnya. Mereka tengah berjalan menuju pembaharuan untuk mencapai dunia damai yang sebisa mungkin mencegah mereka untuk menumpahkan darah yang tidak perlu.
Meskipun begitu, masalah demi masalah masih saja berdatangan. Kebanyakan masalah ini berasal dari para ninja pelarian yang mencoba mendirikan organisasi kriminal baru setelah terinspirasi oleh Akatsuki. Sejauh ini, skuad dari Aliansi Shinobi plus bantuan suka rela dari Uchiha Sasuke berhasil menumpas para kriminal. Tidak ada masalah yang terlalu mengancam pembangunan yang sedang berlangsung. Setidaknya, semua itu sebelum Hatake Kakashi--sang Rokudaime Hokage--membawa masalah baru di meja bundar pertemuan kali ini.
Berita yang dibawa Hokage terdengar tidak terlalu mengenakan dilihat dari ekspresi masam para Kage lain--minus Kazekage, tentu saja. Dia punya ekspresi default yang menjaga wajahnya tetap datar--dan beberapa tangan kanan Kage. Mereka mengerutkan dahi, membaca sebuah perkamen yang diperlihatkan Hokage secara bergantian, sebelum melanjutkan diskusi masalah baru tersebut.
Masalah baru yang tidak pernah mereka sangka akan muncul. Masalah baru yang membuat mereka harus membuka buku sejarah shinobi yang pastinya sudah usang dimakan usia dan berada di tumpukan terakhir rak perpustakaan desa. Apa yang dibawa Kakashi tampak tidak dapat dipercaya. Tapi, setelah berperang melawan monster pohon raksasa, masalah baru ini mau tidak mau terdengar normal.
Raikage, yang dikenal memiliki temperamen buruk, sedikit merileks setelah mengingat keanehan jūbi di perang terakhir mereka. Hadirnya sebuah surat dari dunia lain terdengar lebih normal dibandingkan dengan makhluk sialan itu. Ia berhasil menekan kemarahannya dan bersender pada punggung kursi ketika memutuskan untuk berujar, "Jadi, apa yang akan kau lakukan, Kakashi?"
Mei Terumi adalah orang terakhir yang membaca surat dari perkamen itu. Ia menegakan kepalanya.
"Apakah 'orang dari luar perbatasan' ini tidak mengada-ada? Barrier yang membatasi Dunia Utama dengan Dataran Tersembunyi sama kunonya seperti Rikudō Sennin. Tidak banyak orang yang percaya adanya pembatas itu," ungkapnya.
"Aku belum yakin dengan keputusan yang selanjutnya. Orang ini adalah orang asing. Kita tidak tahu bahaya yang berada di luar sana," balas Kakashi pada Raikage. Ia kini mengalihkan pandangannya pada Mizukage dan menaikkan sebelah alisnya. "Banyak tidaknya orang yang percaya bukanlah tolak ukur yang tepat untuk membuktikan eksistensi sesuatu atau seseorang. Dulu, Rikudō Sennin hanyalah mitos. Tapi, di perang terakhir, aku sendiri melihatnya secara langsung. Tidak ada yang tidak mungkin."
"Menurut cerita rakyat, Rikudō Sennin sendiri yang menciptakan penghalang itu," ungkap seorang pria sepuh dengan postur tubuh kecil. Ia mengusap janggut putihnya. "Ia tidak mau dua dunia ini saling berinteraksi dan menyebabkan konflik yang lebih rumit. Menurutku, orang dari luar batas sepertinya memiliki kemampuan yang sama seperti kita, tapi bentuknya berbeda."
Kakashi mengangguk. "Surat yang dibawa oleh burung hantu itu terbakar sendiri setelah aku selesai membacanya. Kalau ingatanku menumpul, aku takkan mampu menyalin isinya."
Di seberang Kakashi, Gaara melipat kedua tangannya di depan dada. Ia ingat dengan peringatan dini Kakashi kepadanya mengenai portal aneh di ujung perbatasan selatan Negara Angin dengan laut lepas. Menurut Hokage, portal itu hampir sama seperti kekuatan portal antar dimensi yang dihasilkan oleh kekuatan Rinnegan. Kakashi menyuruh Gaara untuk mengecek keberadaan portal itu lebih lanjut. Sejauh ini, tidak ada yang bisa Gaara lakukan selain menjadikan tempat itu sebagai tempat terlarang. Portal yang ia temukan masih menjadi misteri, Kakashi pun hanya memintanya untuk berhati-hati dan tidak menyebarkan fakta ini pada desa lain agar tidak menyebabkan kecemasan.
Tapi, kedatangan surat itu sepertinya mengharuskannya angkat bicara. Gaara menatap Kakashi. Mereka berbicara non-verbal sebelum kemudian mendapatkan kesalingpahaman.
"Barrier itu benar-benar ada," ujar Gaara mengawali. Beberapa pasang mata langsung terpatri padanya. Ia pun berbicara dengan tenang. "Yondaime Kazekage pernah mengatakan bahwa perbatasan selatan Negara Angin seperti dikelilingi oleh daya magnet yang kuat. Beberapa bulan lalu, aku juga mendapatkan laporan dari... beberapa kenalan, bahwa ada sebuah portal asing di sana, portal yang kemungkinan menghubungkan satu dunia dengan dunia lain."
Raikage mencondongkan tubuhnya ke depan meja. Ia menatap Gaara tajam dan penuh kalkulasi, sebelum kemudian menyentak, "Kenapa kau tidak segera membicarakannya dengan kami?!"
Gaara menutup matanya sekilas dan membukanya dengan ekspresi tenang yang sama.
"Portal ini masih berada di dalam wilayahku, Raikage," tegasnya yang secara spontan langsung membuat A merengut. Tapi, ia tampak menerima pembelaan Gaara. "Portal ini, bentuknya berupa pusaran angin yang curam, membentuk spiral ke satu titik. Kekuatan anginnya bisa menghisap segala sesuatu yang berada dalam jangkauannya. Aku menjadikan area itu sebagai area berbahaya yang tidak boleh dikunjungi tanpa izinku. Sejauh ini, belum ada orang ataupun barang yang terhisap ke sana karena wilayah itu hanya dikelilingi padang pasir seperti halnya wilayah Suna yang lain meskipun berada di sebuah gua."
Kakashi sudah mengetahui informasi ini dari awal. Ia sama sekali tidak terkejut. Tapi, ia tetap menganggukan kepalanya agar para Kage yang lain tidak curiga. Transparansi antar desa yang ditegakkan pasca perang keempat shinobi membuat orang-orang mudah tersinggung kalau mereka ketinggalan informasi ataupun kalau mereka merasa adanya informasi yang disembunyikan. Keadaan tersebut sangatlah merepotkan. Ia sendiri tidak ingin memberitahu Gaara. Tapi, adanya portal yang bertempat di wilayah Kazekage membuatnya memutuskan yang demikian.
Pengetahuannya mengenai portal asing ini ia dapatkan dari Sasuke yang telah melakukan perjalanan 'penebusan dosa' selama satu setengah tahun. Ia telah berkeliling di tiap desa ninja dan meminjamkan kekuatannya untuk menyelesaikan masalah-masalah di desa yang ia kunjungi. Sasuke melindungi Konoha dari bayang-bayang dan menghabisi musuh sebelum mereka sempat menginjakan kaki di Negara Api. Selama perjalanannya, ia selalu mengirimkan laporan pada Kakashi. Salah satu laporan terakhirnya adalah tentang keberadaan portal ini.
Membicarakan portal tentunya membuat mereka langsung mendarat pada kesimpulan yang sama. Sasuke dan Kakashi sama-sama mencurigai portal itu sebagai salah satu peninggalan Ōtsutsuki Kaguya. Tapi, setelah ditelusuri lebih jauh, Sasuke mengatakan bahwa portal itu tidak sama seperti portal Kaguya yang berasal dari kekuatan Rinnegan. Bentuk portalnya berbeda dan lebih menyerupai rangkaian segel rumit. Sejauh ini, tidak ada yang bisa mereka lakukan selain mencegah orang lain menemukan portal itu. Ia memberitahu Kazekage, sementara Sasuke meneruskan penelusurannya di perbatasan desa lain.
Beberapa laporan lain yang ia dapatkan dari Sasuke adalah adanya energi asing yang meliputi perbatasan tiap desa dengan laut lepas. Energi itu bervariasi, tergantung desa apa yang ia tempati, seperti halnya Suna yang diliputi energi magnet. Sasuke menginformasikan bahwa perbatasan Kumo dengan laut lepas juga seperti diliputi oleh energi petir yang kuat. Energi itu hanya bisa dilihat oleh Rinnegan. Bentuknya semacam kabut tipis berwarna kebiruan yang tampak dialiri listrik. Sasuke serta-merta mampu merasakannya karena afinitas chakranya yang merupakan energi petir.
Informasi-informasi itu membuat Kakashi menyimpulkan bahwa Dataraan Tersembunyi--yang merupakan desa para ninja--diliputi oleh barrier kuno seperti cerita yang berkembang dari tiap generasi ke generasi yang lain. Kesimpulannya masih berupa hipotesis belaka. Ia tidak terlalu memikirkannya karena keadaan tersebut memang tidak terlalu mengancam. Hingga kemudian surat asing yang dibawa oleh seekor burung hantu mendarat di meja kantornya, membuatnya semakin yakin bahwa deduksinya mengenai barrier adalah benar.
"Menurutku, keberadaan portal ini merupakan akibat dari barrier yang melemah atau bahkan bocor," ujar Kakashi setelah beberapa saat. Ia mengusap dagunya, memikirkan beberapa kemungkinan yang ada. "Orang yang bernama Albus Percival Wulfric Brian Dumbledore ini mengetahui fakta tentang barrier itu. Dia mengatakan tentang kultur ninja yang berbeda dengan kultur dunia sihir tempatnya tinggal. Menurutnya, kultur kita jauh lebih tradisional meskipun ia menganggap kekuatan kita lebih unggul. Itulah mengapa dia menginginkan bantuan dari kita dengan menyewa ninja untuk... well, sekolahnya."
Mizukage mengerutkan alis. Ia meminum teh yang disediakan oleh Konoha selaku tuan rumah pertemuan kali ini, sebelum angkat bicara.
"Bukankah itu berbahaya? Mereka sudah mengetahui kita dan kemampuan yang kita miliki sementara kita tidak mengetahui apa pun mengenai mereka."
"Portal itu bisa jadi merupakan jalan ke dunia luar sana. Kita harus menutupnya," timpal Tsuchikage, suaranya terdengar berat. "Kita tidak bisa membiarkan mereka mencampuri kita dan menyebabkan konflik di sini. Kita baru saja mencapai era baru!"
"Onoki, menutup portal tidaklah semudah yang kau pikirkan," tandas Raikage masam. Dia menatap para rekan Kagenya dengan skeptis. "Orang bernama Albus ini mengatakan bahwa kemampuan kita lebih unggul darinya. Kita tak perlu cemas pada mereka."
Gaara yang sejak tadi menyimak pembicaraan itu pun mau tak mau menyetujui perkataan Raikage. Dunia luar takkan meminta bantuan mereka kalau mereka pikir para ninja tidak mampu membantu mereka. Yang perlu dicemaskan adalah orang mereka sendiri. Orang mereka yang kemungkinan menyelinap ke dunia sana dan menciptakan keributan.
Oh, prediksi itu terdengar buruk.
Untungnya, bukan hanya Gaara yang berpikiran demikian. Tsuchikage sepertinya sudah menangkap maksud Raikage. Matanya menajam. Dengan geram, ia berkata "Para bedabah itu! Hah, kenapa kau membiarkan Orochimaru hidup, Hokage?!"
"Tsuchikage, dengan segala hormat, Orochimaru tetap kita pertahankan karena kemampuannya yang menguntungkan. Kita sudah membicarakan ini," timpal Kakashi dengan sabar. Ia mengembalikan perhatiannya pada keempat Kage, mulai menyatukan satu informasi dengan informasi yang lain.
"Kesimpulannya, masalah kita saat ini adalah adanya portal yang terbuka, portal yang kemungkinan menghubungkan dunia kita dengan dunia lain. Portal ini sudah diamankan oleh Kazekage. Tapi, ia baru mengamankannya satu bulan yang lalu. Kita tidak tahu sejak kapan portal ini terbuka. Kemungkinannya adalah sejak perang berakhir.
Kekuatan perang yang melibatkan bijū tidaklah kecil sehingga kemungkinan besar mempengaruhi barrier. Dengan waktu yang sudah berlangsung lama, aku juga memperkirakan bahwa ada para ninja pelarian yang pergi melalui portal, sebagian dari mereka merupakan bekas eksperimen Orochimaru. Untuk mengatasi masalah ini yang harus kita lakukan adalah mengirim orang ke sana untuk menangkap para kriminal dan memperbaiki barrier yang rusak."
Suara Kakashi seolah bergema di ruangan pertemuan itu. Semilir angin menelusup melalui celah jendela yang terbuka. Di luar sana langit terlihat sangat biru tanpa awan yang menutupinya. Pemandangan tersebut sangatlah damai, menunjukan era baru dunia ninja yang sedang berada dalam masa pembangunan.
Gaara memutuskan untuk menimpali pernyataan Hokage. Ia sudah menelusuri portal jauh lebih dalam dari siapa pun. Jika ditanya siapa yang paling mengetahui karakteristik portal asing tersebut, maka dialah orangnya.
"Portal itu sangat tidak stabil," ungkap Gaara, kembali mendapatkan perhatian rekan-rekan Kage. "Kemunculannya sangat sporadis, kita tidak bisa menentukannya. Selain itu, kita tidak tahu di mana kita akan tiba di dataran sana. Apakah di sebuah perairan seperti laut atau tebing yang curam. Terdapat banyak kemungkinan yang tidak aman."
Mizukage menyetujui pernyataan sang Kage muda. Melemparkan para ninja begitu saja ke tempat asing yang berbeda dengan dunia mereka sendiri sangatlah riskan. Kemampuan untuk bertahan hidup mungkin memang cukup tinggi, tapi mereka tak bisa melupakan fakta bahwa di luar sana juga terdapat para ninja kriminal yang akan menodai nama dunia shinobi. Kemungkinan bahwa para kriminal membuat masalah dan menyeret mereka semua sehingga berkonflik dengan orang-orang di luar perbatasan adalah masalah yang tidak bisa diremehkan begitu saja.
Belum lagi dengan mereka yang harus melacak keberadaan mereka sebelum menangkapnya.
Oh, jangan lupa dengan cara memperbaiki barrier itu.
Mereka baru saja mengetahui sedikit fakta tentang barrier. Tapi, mereka sama sekali tidak punya ide bagaimana memperbaiki barrier tersebut.
"Kalau begitu, kita butuh jalan lain untuk sampai ke sana," ujar Mizukage. "Jalan lain yang lebih terjamin keamanannya. Kita juga butuh orang yang pandai melacak sekaligus orang yang mampu memperbaiki barrier."
Perkataan Mei Terumi telah menyuarakan isi pikiran Kakashi. Bedanya, Kakashi sudah mengetahui jawaban dari pernyataan itu. Bukan benar-benar jawaban, sih. Tapi, ia punya gambaran siapa kandidat yang bisa mengatasi masalah ini.
Memikirkannya membuat Kakashi menahan diri untuk tidak tersenyum masam. Ia tidak suka membebani mereka. Ia tidak suka menyerahkan segala yang berbahaya pada mereka. Kakashi tidak ingin kehilangan orang-orang terdekatnya lagi. Ia tidak ingin melibatkan mereka. Tapi, ia tahu apa yang harus diprioritaskan sekarang. Selain itu, cepat atau lambat mereka juga akan mengetahuinya dan akan memohon-mohon padanya untuk memberi izin agar bisa menyelesaikan masalah ini. Kakashi begitu paham watak mereka. Sialnya, ia juga terlalu mempercayai mereka untuk membereskan masalah dunia ninja ini.
"Klien yang bernama Albus telah menawarkan transportasi khusus untuk sampai ke sana. Ia juga telah memastikan keamanannya dengan mengatakan bahwa mereka akan sampai di tempat tujuan untuk langsung menemuinya," kata Kakashi.
Para Kage menatapnya dengan penuh kalkulasi. Mereka tampaknya mengerti ke mana arah pembicaraan ini. Yang pertama bereaksi adalah Raikage.
"Kau akan menawarkan bantuan padanya?!" sentak pria berotot itu. Matanya berkilat tidak percaya. "Tidakkah kau tahu bahwa dia orang asing, Hokage?!"
Mengangguk sesopan mungkin, Kakashi menampilkan senyum khasnya. "Maa, tenangkan dirimu Raikage. Aku punya insting yang cukup kuat bahwa dia orang yang dapat diajak kerja sama."
"Insting?" tanya Raikage menahan kesal.
Tsuchikage berdecak. Ia meminum teh yang disediakan untuknya sebelum kemudian berujar, "Kau ingat insiden meteor beberapa bulan lalu, Raikage? Kakashi memiliki insting yang kuat."
Perkataan tersebut cukup berhasil mendinginkan kepala Raikage yang mendidih. Ia kembali angkat bicara.
"Elaborasi penjelasanmu, Hokage."
"Tadi pagi aku mendapatkan surat yang dapat berbicara," kalimat ini berhasil membuat para Kage melebarkan matanya--minus Kazegake yang hanya mengerjap. Balik memandang mereka dengan tatapan yang menyatakan bahwa ia tidak ingin membahas masalah 'surat berbicara' ini lebih jauh, Kakashi melanjutkan perkataannya.
"Albus Dumbledore tampaknya mengetahui kultur skeptis kita yang cenderung sulit percaya pada orang lain. Untuk itu, ia memohon padaku untuk mempercayainya dikarenakan kondisi tertentu yang tengah melanda dunia sihir. Ia menginformasikan padaku tentang dunia sihir yang sedang tidak stabil karena ancaman masa lalu yang kembali bangkit.
Mereka berada di ambang peperangan dengan dirinya berada di pihak yang melawan musuh yang merupakan penyihir gelap. Kalkulasiku untuk menerima permintaannya adalah tentang kemungkinan bahwa para ninja pelarian kita bergabung dengan penyihir gelap yang dimaksud Albus ini. Dengan keadaan ini, menurutmu aku masih harus menahan diri untuk tidak ikut campur?"
Keheningan meliputi penjuru ruangan tersebut. Beberapa tangan kanan para Kage--misalnya Shikamaru--yang duduk tidak jauh dari tempat para Kage berada mau tidak mau ikut terkejut dengan ucapan Hokage. Nada suara Kakashi terdengar pahit. Mereka semua memahaminya karena mereka merasakan yang demikian juga. Perang adalah masa lalu. Perang adalah bencana. Tidak ada yang ingin jatuh ke lubang itu lagi.
Barrier yang memisahkan dua dunia telah melemah dan bahkan bocor. Sebuah portal terbuka dari sana, memungkinkan adanya interaksi antara kedua belah pihak. Jika pihak di seberang sana mengalami peperangan, dunia ninja di sini kemungkinan besar bisa ikut terseret. Terlebih, beberapa orang dari dunia mereka diprediksikan sudah ada yang berada di sana, ikut mencampuri masalah itu.
Kemungkinan bahwa para ninja pelarian kabur ke dunia di luar batas memang masih memerlukan investigasi lanjut. Tapi, tanpa adanya para nukenin di sana pun mereka masih harus ke sana untuk menutup barrier.
Jawaban atas masalah ini sudah sangat jelas.
"Bagaimana cara kita memperbaiki barrier dan menutup portal?" tanya Tsuchikage. Ia menatap Gaara dengan penuh pertimbangan. "Bentuk apa yang kau temukan dari portal itu, Kazekage?"
"Shukaku mengatakan bahwa ia melihat pola segel diantara spiral angin itu," balas Gaara. Ia mengusap perutnya, teringat oleh segel bijū yang telah diperbaiki oleh teman baiknya sehingga Shukaku tidak lagi menganggu waktu tidurnya. "Aku tidak bisa melihatnya. Tapi, Shukaku, yang memiliki kemampuan segel bisa melihatnya dengan jelas. Segel itu sangat rumit dan sulit dilihat oleh mata telanjang. Bahkan oleh ahli segel sekalipun."
Ahli segel.
Semua orang di ruangan itu mengetahui siapa yang dibicarakan Gaara.
Kakashi mengambil alih pembicaraan.
"Apakah kalian bersedia menyerahkan masalah ini kepada kami ninja Konoha?" tatapan tajam Tsuchikage dan Raikage membuat Kakashi menghela napas pelan. "Semua ini atas dasar Konoha yang mendapatkan akses ke sana. Aku juga mempunyai orang yang kemungkinan besar bisa menangani barrier."
Mizukage menyadari beban yang ditanggung Kakashi. Ia menahan seringaian sebelum kemudian memutuskan untuk bertanya, "Berapa banyak orang yang kau butuhkan?"
Kakashi menyenderkan punggungnya pada senderan kursi. Ia menatap langit-langit ruangan, seolah tengah membayangkan orang-orang yang bisa ia kirimkan untuk misi.
"Tim Pelacak yang berisi tiga orang. Tim Segel dua orang. Tim Penjaga Hogwarts lima orang, bisa dirangkap dengan tim segel. Yang terakhir Tim... Duta Ninja? Koordinasi? Entah, yang jelas aku akan butuh dua orang yang pandai diplomasi untuk melihat kultur yang ada di sana kalau ternyata para nukenin membuat masalah dan memicu konflik yang tidak menguntungkan kita."
Raikage menggebrak meja dengan gelas. Suara itu terdengar cukup nyaring dan membahayakan.
"Dua belas orang dari Konoha?" serunya tidak percaya. "Memangnya aliansi ini untuk apa?!"
"Sebenarnya hanya sepuluh orang saja. Tim Segel akan dirangkap dengan Tim Penjaga Hogwarts," timpal Kakashi polos.
Raikage sudah kelihatan ingin meledak. Gaara segera menengahi.
"Tim diplomasi, aku mengusulkan Temari. Dia pintar berkata-kata," ujarnya sambil mengarahkan pandangan pada Temari di seberang ruangan. Perempuan itu melebarkan matanya dan memandang Gaara tajam. Pandangan itu hanya membuat Gaara menambahkan, "Dan sepertinya Konoha harus mengirim Shikamaru sebagai Tim Diplomasi. Mereka berdua telah bekerjasama cukup lama dan sama-sama mempunyai skill diplomasi yang handal."
Kakashi menolehkan kepalanya, mendapati Temari yang wajahnya semerah tomat dan Shikamaru yang duduk dengan tidak nyaman. Tatapan matanya seolah menyerukan kata tolong dengan tangan memberi gestur mengangkat kertas-kertas yang dipegangnya.
Merepotkan. Aku masih punya setumpuk dokumen yang harus dikerjakan.
Begitulah arti tatapan itu.
Kakashi kembali menoleh pada para rekan Kagenya. Ia menyetujui usulan Gaara.
Di belakang sana Shikamaru menghela napas pasrah sementara Temari tampak seperti ingin mengibaskan kipas jumbonya pada sang adik.
"Aku ingin mengusulkan Kurotsuchi. Kebetulan dia sedang menjalani pelatihan Kage. Aku ingin melihat kenerjanya di luar komandanku," usul Tsuchikage sambil mengerling pada seorang perempuan berambut hitam pendek yang duduk di samping Temari. Wajah bosannya langsung menjadi awas begitu mendengar suara sang kakek menyebut namanya.
"Jiji--"
"Kau perlu pengalaman untuk menjadi suksesorku, Kuro-chan."
Matanya oniksnya berkilat tidak setuju ketika Kakashi menyetujui usulan Tsuchikage. Di belakang sana, Temari menepuk bahu sang kunoichi Iwagakure sambil mengomentari sesuatu mengenai para Kage yang diktator.
Tidak ada yang menggubrisnya, tentu saja.
Menawarkan Raikage untuk ikut mengirimkan adiknya--Killer Bee--dalam misi yang cukup berat ini, Kakashi menahan senyum miringnya ketika Raikage menolaknya mentah-mentah. Ia selalu tahu seberapa besar rasa protektif sang pemimpin Kumo terhadap adiknya. Keberadaan dunia asing terdengar mengancam di telinga A, Kakashi sudah memprediksikan bahwa rekan Kagenya ini takkan suka jika harus menerjunkan adiknya di situasi berbahaya.
Kini giliran Mizukage yang mendapat tawaran. Namun, wanita itu tampak tidak tertarik. Ia mengibaskan tangannya pada Kakashi dan memintanya untuk mengirimkan para ninja Konoha saja. Desanya masih butuh banyak sumber daya manusia untuk pembangunan, katanya. Kakashi sangat percaya, sebab dari kelima desa ninja, Kirigakure memang yang paling parah. Ia memaklumi Mizukage yang butuh usaha ekstra untuk melakukan pembaharuan. Citra desa berdarah Kirigakure memang sulit untuk diubah begitu saja.
Mendapatkan persetujuan para Kage, Kakashi pun menutup pertemuan kedua mereka sejak Perang Besar Shinobi Keempat itu. Mereka keluar dari ruang rapat untuk kembali ke penginapan sementara Kakashi kembali ke ruang kerjanya.
Shikamaru mengikuti Kakashi. Ia menaruh dokumen-dokumen menyangkut Aliansi Shinobi di meja sang Hokage, kemudian berujar, "Rokudaime-sama, apakah kau yakin akan melibatkanku? Pekerjaanku di sini masih banyak. Semua paperwork akan jatuh ke tanganmu kalau aku pergi."
Kakashi hanya menyenderkan punggungnya di kursi putar. Ia menutup matanya, merasakan kepalanya yang berdenyut familiar tiap kali selesai membahas permasalahan yang seakan tidak ada habisnya.
"Aku sudah mengakalinya, Shikamaru. Kau akan tetap membantuku dari sana." Shikamaru menahan umpatan ketika mendengarnya. "Sekarang, bisa kau panggilkan Naruto dan Sasuke ke sini? Sasuke sedang ada di desa, kau bisa mencarinya. Tolong panggilkan Sai juga, ada beberapa prosedur ANBU yang ingin kubicarakan bersamanya dan dua murid merepotkan itu."
Shikamaru mengangguk dan keluar dari kantor Hokage dengan gumaman 'merepotkan'. Di dalam kantor Hokage, Kakashi menatap salinan surat yang dikirimkan oleh Albus Dumbledore, membacanya ulang sebelum meringis sambil berharap semoga dua murid merepotkannya tidak menambah beban pikiran sang klien. Dua anak itu sedang tidak akur sejak setahun yang lalu. Entah masalah apa terjadi, meskipun mereka kelihatan baik-baik saja. Tapi, Kakashi tahu mereka sedang ada masalah. Ia juga sudah tahu apa yang harus ia lakukan untuk mencegah mereka saling melumpuhkan satu sama lain di akhir nanti.
Kakashi harus melibatkan Sakura. Sebab, Naruto dan Sasuke takkan stabil tanpa adanya penengah berkepala dingin di antara mereka. ]
TBC
